C. Kali Jagir
2. Kawasan budidaya
a. Kws budidaya wilayah darat
Kws pemerintahan Kws pemerintahan pusat dan provinsi
UP VI Tunjungan: sekitar Tugu Pahlawan,
Indrapura
Kws pemerintahan daerah UP VI Tunjungan: sekitar Yos Sudarso, Taman Surya
Kws pemerintahan
kecamatan/kelurahan
Kantor Camat/Kantor Lurah
Kws perumahan Real estate: perusahaan berkewajiban menyediakan prasarana lingkungan, utilitas umum, fasos, seluas 40% luas keseluruhan lahan perumahan
Real estate baru: bagian timur dan barat kota
Pembangunan intensif: rus un terpadu peningkatan kualitas lingkungan, pembenahan sarana prasarana
program terpadu fisik-sos-ekonomi masyarakat melalui pembenahan lingkungan, peremajaan kawasan, perbaikan Kws perumahan baru, kws padat hunian
kampung
2. Kawasan budidaya
peningkatan kualitas lingkungan, pembenahan sarana prasarana
program terpadu fisik-sos-ekonomi masyarakat melalui pembenahan lingkungan, peremajaan kawasan, perbaikan kampung
Kws fasilitas umum Fas.pendidikan
Fas.kesehatan
Sarana prasarana kebersihan
dan penanganan sampah
TPU
Fas.peribadatan
Ruang serba guna, gedung pertemuan, fasilitas kesenian dan budaya
Fas.olahraga
Kws perdagangan
dan jasa
kws komersial dan jasa berskala nasional, regional, kota kws Basuki Rahmat, Embong Malang, Blauran, Praban, Bubutan, Pahlawan, Ps Turi, Kapas Krampung, Tunjungan kws Perak Barat, Perak Timur, Jembatan Merah, Kembang Jepun Kws perdagangan dan jasa
skala kota dan lingkungan
Tersebar di tiap UP, pada pusat pertumbuhan Kws perdagangan terpadu
harus menyiapkan prasarana lingkungan, utilitas umum, area perdagangan informasl, fasos, dengan luas 40% luas lahan. Kws industri dan pergudangan perusahaan pembangunan kws industri harus menyediakan 40% lahannya untuk prasarana lingkungan, utilitas umum, bangunan perumahan, fasos harus disertai upaya
terpadu dalam mencegah dan mengatasi UP I Rungkut: sekitar SIER, Kalirungkut, Kedungbaruk UP X Wiyung: Karangpilang UP XI Tambak Osowilangun: Margomulyo, Tambak Osowilangun
pencemaran lingkungan
2. Kawasan budidaya
Kws pariwisata Wisata bahari/pantai: memperhatikan kelestarian lingkungan dan ekosistem pantai/pesisir
UP III Tambak Wedi
Wisata satwa: upaya pelestarian satwa dan lingkungan alam
UP VII Wonokromo
Wisata budaya dan religi UP V Tanjung Perak: kws masjid Ampel UP VI Tunjungan: kws THR,Monkasel UP VII Wonokromo: Museum Empu Tantular UP IX Ahmad Yani: kws Masjid Al Akbar Wisata kota lama dan cagar
budaya UP V Tanjung Perak: kws Jembatan Merah, Kembang Jepun UP VI Tunjungan: sekitar Tugu Pahlawan, Tunjungan, Pemuda
Kws khusus Kws militer UP V Tanjung
Perak: pangkalan armatim UP VII Wonokromo, UP VIII Satelit: kws Hayam Wuruk, Makodam V Brawijaya UP X Wiyung: kws Karangpilang Kws industri strategis UP V Tanjung
Perak: kws Ujung
Kws pelabuhan UP V Tanjung
Perak: kws
pelabuhan Tanjung Perak, pelabuhan terminal peti kemas b. kws budidaya wilayah laut Kws pengembangan pantai Hanya diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan daya tarik investasi dan nilai ekonomi tinggi
Tidak boleh untuk industri polutif
Zona I, II, III. Reklamasi hanya boleh dilakukan pada zona I dan III.
ikan budidaya dan panangkapan ikan.
Tambak Wedi
Zona IV: sekitar perairan
2. Kawasan budidaya
Gunung Anyar dan pantai timur kota. Kws pariwisata laut Untuk pengembangan
pariwisata berbasis laut: wisata bahari, wisata penelitian
Zona III: sekitar Jembatan Suramadu dan Pantai Kenjeran. Zona IV: kws
perairan pantai timur untuk penelitian pelestarian sumberdaya hayati dan rehabilitasi pesisir/laut Kws alur pelayaran
dan jaringan utilitas
Untuk alur pelayaran kapal angkutan barang,
penumpang, penangkapan ikan, penyeberangan antar pulau, armada militer, jaringan utilitas kota.
Zona I, II, III, IV, terutama pada
kedalaman sedang dan dalam
Zona III untuk jaringan utilitas yang melintasi perairan laut.
8.3.2 Ruang Terbuka Hijau
8.3.2.1 Rencana ruang terbuka hijau kota Surabaya
Rencana pengembangan kawasan ruang terbuka hijau di Kota Surabaya adalah dengan meningkatkan kuantitas dan kualitasnya yang diwujudkan dalam bentuk pertamanan kota, hutan wisata, taman lingkungan, tempat rekreasi kota, lapangan olah raga, pemakaman, jalur hijau dan ruang-ruang hijau atau taman di pekarangan bangunan rumah tinggal maupun non rumah tinggal.
Tabel. 8.35 Rencana Tata Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya
No. Jenis Rencana
1 Pertamanan Kota Selain dengan mempertahankan dan meningkatkan kualitas taman kota yang telah ada, seperti Taman Tugu Pahlawan, Taman Surya, Taman Mayangkara dan Taman Bungkul, juga diupayakan penyediaan taman kota yang baru pada kawasan baru yang akan berkembang, terutama di kawasan Surabaya barat dan Timur.
2 Hutan Wisata Hutan wisata dibuat dan dikembangkan pada kawasan Waru Gunung, guna melindungi dan meningkatkan kualitas dan fungsi fisik lingkungan sebagai kawasan resapan air juga untuk memberikan alternatif tempat wisata.
3 Taman Lingkungan Taman lingkungan dikembangkan pada setiap kawasan kota untuk memberikan kenyamanan lingkungan.
4 Tempat rekreasi kota
Ruang terbuka hijau yang selama ini berupa tempat rekreasi, seperti Kebun Binatang di Surabaya dan Jurang Kuping di Benowo tetap
No. Jenis Rencana
dikembangkan terutama dengan meningkatkan kualitas lingkungan hijaunya yang juga berfungsi sebagai paru-paru kota.
5 Lapangan Olahraga
Keberadaan lapangan olahraga seperti lapangan sepakbola di Tambaksari, Jl. Bogowonto, Jl.Hayam Wuruk; lapangan hockey di Darmawangsa dan beberapa padang Golf di kawasan Surabaya barat dimantapkan fungsinya selain sebagai tempat berolahraga juga sebagai fungsi ekologis; pembangunan lapangan olahraga baru yang akan dilakukan harus diorientasikan pula pada upaya-upaya perlindungan dan peningkatan kualitas fisik lingkungan setempat. 6 Tanah
Pemakaman
Upaya yang dilakukan adalah dengan mempertahankan fungsi religi dan ekologis pada tanah pemakaman bagi masyarakat dapat direncanakan penyediaannya pada kawasan yang secara fisik memungkinkan.
7 Jalur Hijau Jalur hijau pada sepanjang jaringan jalan, sepanjang sisi rel kereta api, sungai dan saluran serta pada sepanjang tepi pantai timur Surabaya ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya selain untuk fungsi ekologis juga untuk memperkaya estetika koridor-koridor kota.
8.3.2.2 Peraturan dan Program Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya
Selain menyiapkan inovasi baru sebelum peluncuran kegiatan yang mengerahkan seluruh warga kota, Pemerintah Kota juga menyiapkan perangkat lunak yang menunjang kegiatan penghijauan misalnya Peraturan Daerah nomor 7 tahun 2002 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau, instruksi Walikota nomor 11 tahun 2005 tentang satu jiwa satu pohon yang lebih dikenal dengan sebutan Saji sapo. Diberlakukannya Peraturan Daerah maupun Instruksi Walikota tersebut ternyata benar-benar efektif dalam memacu peningkatan luasan ruang terbuka hijau dan jumlah pohon yang tertanam di kota ini.
Untuk mewujudkan pengelolaan ruang terbuka hijau yang memperhatikan keseimbangan lingkungan,
1. Setiap rumah tinggal diwajibkan untuk menanami pohon pelindung, perdu, semak hias, penutup tanah / rumput dalam jumlah yang cukup. Bagi pengembang perumahan, berkewajiban mewujudkan pertamanan / penghijauan pada lokasi jalur hijau.
2. Sedangkan untuk bangunan kantor, hotel, industri / pabrik, bangunan perdagangan dan bangunan umum diwajibkan menanam 1 – 3 pohon pelindung, perdu dan semak hias serta penutup tanah / rumput dalam jumlah yang cukup.
3. Seluruh jalan di wilayah kota diusahakan ditanami dengan pohon penghijauan, sesuai yang dihimbaukan oleh Pemerintah Kota melalui sosialisasi kepada setiap pemilik kavling rumah tinggal, pengembang perumahan, bangunan kantor, hotel, industri, pabrik, bangunan perdagangan dan bangunan umum.
4. Lahan terbuka yang ada di kota wajib ditanami pohon pelindung minimal 1 batang sesuai dengan ketentuan yang tertuang di dalam Perda nomor 7 tahun 2002 pasal 6.
5. Untuk kawasan lain yang belum diatur pada pasal tersebut diatas ditentukan sebagai berikut :
Tabel 8.36 Prosentase Kawasan Terbuka Hijau
No. Kawasan Persentase
Luas Area
1 Kawasan Hijau Pertamanan 90 %
2 Kawasan Hijau Hutan Kota 90 – 100 %
3 Kawasan Hijau Rekreasi Kota 60 %
4 kawasan hijau permakaman vegetasi penutup tanah/ rumput
lebih dominan daripada tanaman pelindung
5 Kawasan Hijau Pertanian 80 – 90 %
6 Kawasan hijau jalur hijau dalam bentuk hijau tepi pantai, tepi sungai, tepi / tengah jalan, sepanjang rel kereta api, dibawah penghantar listrik tegangan tinggi
90 %
8.3.3 Sanitasi Lingkungan
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk kota pada beberapa tahun terakhir ini, menyebabkan terjadinya peningkatan volume air limbah domestik yang dihasilkan oleh warga kota. Pertambahan volume air limbah ini bila tidak diikuti dengan prasarana dan sarana yang memadai sudah pasti lambat laun akan menimbulkan dampak negatif terhadap kota itu sendiri. Penyebab permasalahan sanitasi ini meliputi :
a. Belum dimilikinya sistem penanganan sanitasi yang baik;
b. Belum adanya manajemen sanitasi yang maksimal dari masing-masing pemukiman; c. Kesadaran masyarakat yang belum optimal;
d. Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah dan masyarakat; e. Belum optimalnya pengaturan hukum yang mengatur sanitasi.
Rencana Induk Surabaya Sewerage and Sanitation Development Programme (Surabaya SSDP) telah tersusun pada tahun 1997, sebagai dokumen SSDP 1997. Kajian SSDP 1997 menetapkan jumlah penduduk pada tahun 1995 sebesar 2.6 juta jiwa, dan memprediksi jumlah penduduk menjadi 2.97 juta jiwa pada tahun 2010 dan 3.4 juta jiwa pada tahun 2020. Pada tahun 2008 ini, jumlah penduduk kota Surabaya sebesar 2.875.890 jiwa (laporan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2008), yang artinya terbukti adanya pertambahan jumlah penduduk. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, pada umumnya disertai dengan perkembangan sosial ekonomi pada semua sektor pembangunan kota. Yang selanjutnya meningkatkan satuan volume pembuangan air limbah. Resultante pertambahan jumlah penduduk dan kemudahan perolehan air minum adalah peningkatan kuantitas (Q) air limbah domestik.
Dari berbagai pengalaman perkembangan sosial ekonomi di banyak kota besar mengindikasikan adanya penurunan kualitas (C) air limbah. Indikatornya adalah penurunan rasio BOD/COD, yang menunjukkan kualitas air menjadi sulit diasimilasi lingkungan, atau meningkatkan beban lingkungan. Dengan asumsi yang sama, maka kota Surabaya menghadapi peningkatan beban (dari qc menjadi QC) air limbah domestik secara makro.
Pertambahan jumlah penduduk pada luas kota yang tetap dengan sendirinya meningkatkan kepadatan penduduk secara makro. Pertambahan jumlah penduduk disertai dengan penyebaran permukiman, yang telah menjangkau pada seluruh bagian kota. Dengan demikian, secara mikro, kepadatan penduduk kota Surabaya adalah meningkat dan menyebar pada seluruh bagian kota. Konsekuensinya adalah terdapat penyebaran spasial (dari A menjadi a) peningkatan beban (QC) air limbah domestik.
8.3.3.1 Pemutakhiran Rencana Induk Sistem Sanitasi 2008 8.3.3.1.1 Cakupan Wilayah On Site Dan Off Site
Berdasarkan studi Surabaya SSDP 1997 dan observasi on the spot pada saat pekerjaan yang dilaksanakan pada tahun 2008 ini menunjukkan masyarakat menggunakan sistem sanitasi setempat. Termasuk dalam sanitasi setempat terdiri atas :
1. Sistem pembuangan air limbah di dalam area rumah secara individual.
2. Sistem pembuangan air limbah kolektif dalam suatu fasilitas umum (misalnya MCK).