• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Resmi Statistik Provinsi Sulawesi Selatan No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 1  Perekonomian Sulawesi Selatan yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional

Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2014 mencapai Rp. 49.352,1 milyar, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp. 16.532,4 milyar.

 Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan IV-2013 (q-to-q) menunjukkan kenaikan PDRB atas dasar harga konstan 2000 sebesar 2,32 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor Pertanian yang bertumbuh sebesar 12,93 persen dan sektor lainnya meliputi sektor Industri pengolahan; sektor Listrik, gas dan air bersih; dan sektor Perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh kurang dari 2 persen. Pertumbuhan sektor Pertanian yang sangat tinggi adalah digerakkan pertumbuhan sub-sektor Tanaman bahan makanan yang tumbuh hingga 32,60 persen.

PDRB Sulsel pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2013 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 8,03 persen. Pertumbuhan ini didorong kinerja keseluruhan sektor ekonomi yang bertumbuh positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 11,23 persen; sektor Pertanian sebesar 10,98 persen dan terendah sektor Pertambangan dan penggalian sebesar 1,54.

 Hingga triwulan I-2014 struktur perekonomian Sulawesi Selatan masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor Pertanian berkontribusi sebesar 24,66 persen, sektor Perdagangan, hotel dan restoran berkontribusi sebesar 18,15 persen, dan sektor Jasa-jasa berkontribusi sebesar 17,17 persen terhadap agregat nilai PDRB Sulsel.

 Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2013 (y-on-y) didorong oleh kenaikan seluruh komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi pada komponen konsumsi LNPRT yaitu 14,66 persen. Sedangkan pertumbuhan terendah pada komponen impor yaitu -9,32 persen.

 Pada triwulan I-2014 dibandingkan dengan triwulan IV-2013, pengeluaran konsumsi rumah tangga secara riil meningkat sebesar 0,89 persen, pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 7,51 persen, sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah turun sebesar 6,93 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto turun 5,89 persen. Ekspor barang dan jasa juga turun sebesar 1,26 persen dan impor barang dan jasa turun sebesar 11,21 persen.

 Pada triwulan I-2014 komponen

p

engeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen yang memiliki porsi terbesar pada PDRB Sulawesi Selatan, yakni 47,60 persen, turun sekitar 0,59 poin dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (48,18 persen). Sedangkan komponen pengeluaran konsumsi LNPRT memiliki porsi terkecil yaitu hanya 0,98 persen.

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN

No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014

P

ERTUMBUHAN

E

KONOMI

S

ULAWESI

S

ELATAN

T

RIWULAN

I-2014

(2)

I. Nilai PDRB Menurut Lapangan Usaha Triwulan I-2013, Triwulan IV 2013, dan Triwulan I 2014

Nilai PDRB Sulsel atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2013 telah mencapai Rp. 42.886,1 milyar, meningkat menjadi Rp. 47.524,9 milyar pada triwulan IV-2013 hingga mencapai 49.352,1 milyar pada triwulan I-2014. Kondisi yang sama terjadi pula pada agregat nilai PDRB atas harga konstan triwulan I-2013 adalah sebesar Rp. 15.303,5 milyar kemudian meningkat menjadi Rp. 16.157,2 milyar pada triwulan IV-2013 hingga mencapai Rp. 16.532,4 milyar pada triwulan I-2014.

Berdasarkan harga berlaku diperoleh sektor yang menunjukkan nilai tambah bruto yang terbesar pada triwulan I-2014 adalah sektor Pertanian sebesar Rp. 12.171,8 milyar selanjutnya diikuti secara berurutan sektor Perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp. 8.955,6 milyar, sektor Jasa-jasa sebesar Rp. 8.471,6 milyar sementara nilai tambah terendah terjadi pada sektor Listrik, gas, dan air sebesar Rp. 459,7 milyar.

Selanjutnya PDRB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan bahwa sektor Pertanian masih menjadi kontributor terbesar dalam pembentukan agregat nilai PDRB pada triwulan ini dengan nilai sebesar 4.251,8 milyar, kemundian disusul secara berurutan oleh sektor sektor Perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 3.029,2 milyar, sektor Industri pengolahan sebesar Rp. 2.232,5 milyar, sektor Pengangkutan dan komunikasi sebesar 1.642,0 milyar, sektor Jasa-jasa sebesar 1.594,2 milyar dan terendah pada sektor sektor Listrik, gas, dan air sebesar 184,2 milyar.

Tabel 1

PDRB menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 (milyar rupiah)

No Lapangan Usaha

Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Triw I-2013 Triw IV-2013 Triw I- 2014 Triw I- 2013 Triw IV-2013 Triw I- 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Pertanian 10.241,9 10.600,0 12.171,8 3.831,1 3.764,9 4.251,8

2 Pertambangan dan Penggalian 2.670,4 2.639,8 2.644,7 1,123,2 1.153,4 1.140,5

3 Industri Pengolahan 5.314,5 5.796,5 5.911,3 2.108,3 2.198,8 2.232,5

4 Listrik.Gas dan Air 390,4 441,2 459,7 169,2 181,4 184,2

5 Konstruksi 2.406,2 2.967,6 2.807,9 913,0 1.057,8 985,9

6 Perdagangan. Hotel dan Restoran 7.777,6 8.750,0 8.955,6 2.797,4 3.021,8 3.029,2

;7 Pengangkutan dan Komunikasi 3.422,9 3.955,3 3.959,1 1.544,2 1.662,8 1.642,0

8 Keuangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan 3.272,2 3.944,6 3.970,4 1.323,4 1.480,5 1.472,1

9 Jasa-jasa 7.390,1 8.429,9 8.471,6 1.493,9 1.635,9 1.594,2

PDRB 42.886,1 47.524,9 49.352,1 15.303,7 16.157,2 16.532,4 PDRB TANPA MIGAS 42.828,7 47.446,5 49.276,6 15.280,5 16.127,3 16.504,0

(3)

Berita Resmi Statistik Provinsi Sulawesi Selatan No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 3

II. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2014

Perekonomian Sulsel pada triwulan I-2014 dibanding dengan triwulan sebelumnya (q-to-q) menunjukkan kenaikan agregat atas dasar harga konstan 2000 atau mencatat pertumbuhan sebesar 2,32 persen. Capaian kinerja ekonomi tersebut didorong oleh pertumbuhan pada sektor Pertanian sebesar 12,93 persen; sektor Listrik, gas dan air sebesar 1,54 persen; sektor Industri pengolahan sebesar 1,53 persen dan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang tumbuh 0,24 persen. Sedangkan sektor-sektor lainnya yang mengalami penurunan adalah sektor Konstruksi (minus 6,80 persen), sektor Jasa-jasa (minus 2,54 persen), sektor Pengangkutan dan Komunikasi (minus 1,25 persen), sektor Pertambangan dan Penggalian (minus 1,12 persen), sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar (minus 0,57) persen.

Pesatnya kinerja sektor Pertanian pada triwulan I-2014 dengan capaian pertumbuhan yang relatif tinggi yaitu sebesar 12,93 persen, disebabkan kenaikan produksi komoditi yang tercakup subkelompok padi palawija sehingga mendorong kenaikan sub-sektor Tanaman Bahan Makanan sebesar sebesar 32,60 persen. Selain subsektor tanaman bahan makanan kenaikan juga dialami subsektor Perikanan sebesar 1,13 persen dan subsector Kehutanan sebesar 0,36 persen . Sementara subsektor tanaman Perkebunan dan subsektor Peternakan masing-maing bertumbuh negatif (kontraksi) sebesar 2,72 persen dan 1,97 persen.

Selanjutnya pendorong utama pertumbuhan sektor Industri Pengolahan (q-to-q) sebesar 1,53 persen yaitu meningkatnya kapasitas produksi subsektor industri makanan, minuman dan tembakau; subsektor tekstil, barang dari kulit dan alas kaki serta subsektor kertas dan barang cetakan untuk memenuhi permintaan konsumen selama kampanye Pemilihan Umum Calon Legislatif 2014.

Tabel 2

Laju Pertumbuhan PDRB menurut Lapangan Usaha (persen)

No. Lapangan Usaha Terhadap Triwulan Triwulan I-2014 IV-2013 (q-to-q) Triwulan I-2014 Terhadap Triwulan I-2013 (y-on-y) Sumber Pertumbuhan q to q y-on-y (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Pertanian 12,93 10,98 3,01 2,75

2. Pertambangan dan Penggalian -1,12 1,54 -0,08 0,11

3. Industri Pengolahan 1,53 5,89 0,21 0,81

4. Listrik, Gas dan Air 1,54 8,87 0,02 0,10

5. Konstruksi -6,80 7,98 -0,44 0,48

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 0,24 8,28 0,05 1,51

7. Pengangkutan dan Komunikasi -1,25 6,34 -0,13 0,64

8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan -0,57 11,23 -0,05 0,97

9. Jasa-jasa -2,54 6,72 -0,26 0,66

PDRB 2,32 8,03 2,32 8,03 PDRB TANPA MIGAS 2,34 8,01 2,34 8,01

(4)

Berdasarkan perbandingan PDRB triwulan berjalan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y-on-y) diperoleh nilai agregat PDRB triwulan I-2014 dibandingkan dengan triwulan I-2013 bertumbuh sebesar 8,03 persen. Keseluruhan sektor menunjukkan pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 11,23 persen diikuti secara berurutan sektor Pertanian sebesar 10,98 persen; sektor Listrik, gas dan air bersih sebesar 8,87 persen; sektor Perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 8,28 persen, sektor Konstruksi sebesar 7,98 persen; sektor Jasa-jasa sebesar 6,72 persen, Pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,34 persen; sektor Industri pengolahan sebesar 5,89 persen dan terendah sektor Pertambangan dan penggalian sebesar 1,54 persen.

Bila diamati sumber pertumbuhan menurut (q-to-q) perekonomian Sulawesi Selatan triwulan I-2014 dipacu kinerja positif sektor Pertanian sebesar 3,01 persen; sektor Industri pengolahan sebesar 0,21 persen; sektor Perdagangan, restoran dan hotel sebesar 0,05 dan sektor Listrik, gas dan air bersih sebesar 0,02 persen. Sedangkan sektor lainnya mengalami kinerja negatif yaitu sektor Kontruksi sebesar 0,44 persen; sektor Jasa-jasa sebesar 0,26 persen dan terendah sektor Pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,05 persen.

Menurut sumber pertumbuhan (y-on-y) diperoleh keseluruhan sektor mengalami kinerja positif dengan kinerja tertinggi pada sektor Pertanian sebesar 2,75 persen; diikuti sektor Perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,51 persen dan terendah pada sektor Listrik, gas dan air bersih sebesar 0,10 persen.

III. Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Triwulan I 2014

Hingga saat ini, ada empat sektor yang memberikan andil melebihi 10 persen terhadap pembentukan agregat nilai PDRB triwulan I 2014 meliputi sektor Pertanian yaitu sebesar 24,66 persen; sektor Perdagangan, hotel, dan restoran 18,15 persen, sektor Jasa-jasa 17,17 persen dan sektot Industri pengolahan sebesar 11,98 persen.

Tabel 3

Struktur PDRB menurut Lapangan Usaha Tahun 2012-2014, Triwulan I-2013, Triwulan IV-2013 dan Triwulan I-2014

(persen)

No. Lapangan Usaha 2012 2013 Triw I-2014 Triw I Triw IV

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Pertanian 24,78 23,88 22,30 24,66

2. Pertambangan dan Penggalian 5,61 6,23 5,55 5,36

3. Industri Pengolahan 12,14 12,39 12,20 11,98

4. Listrik,Gas dan Air 0,90 0,91 0,93 0,93

5. Konstruksi 5,67 5,61 6,24 5,69

6. Perdagangan, Hotel dan Restorani 17,98 18,14 18,41 18,15

7. Pengangkutan dan Komunikasi 8,12 7,98 8,32 8,02

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 7,38 7,63 8,30 8,04

9. Jasa-jasa 17,41 17,23 17,74 17,17

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 PDRB TANPA MIGAS 99,82 99,85 99,82 99,83

(5)

Berita Resmi Statistik Provinsi Sulawesi Selatan No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 5 Pada tabel 3 terlihat adanya pergeseran peranan sektor pada triwulan I-2014 terhadap triwulan IV-2013 (q-to-q) yaitu pergeseran positif dialami sektor Pertanian sebesar 2,36 persen sedangkan sektor lainnya mengalami pergeseran negatif. Selanjutnya bila triwulan I-2004 dibanding triwulan I-2013 (y-on-y) diperoleh pergeseran andil positif terjadi pada sektor Pertanian sebesar 0,78 persen; sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 0,42 persen dan terendah pada sektor Perdagangan, hotel dan restoran sebesar 0,01 persen. Sementara pergeseran andil negatif dialami sektor Pertambangan dan penggalian sebesar 0,87 persen; sektor Industri pengolahan sebesar 0,41 persen dan Jasa-jasa sebesar 0,07 persen.

IV. PDRB Menurut Komponen Pengeluaran Triwulan I-2014

Ditinjau dari sisi pengeluaran, PDRB Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh berbagai komponen permintaan, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi LNPRT, pengeluaran konsumsi pemerintah, pengeluaran untuk investasi fisik (PMTB dan perubahan inventori), dan net ekspor.

Kinerja perekonomian Sulawesi Selatan di Triwulan I Tahun 2014 dari sisi pengeluaran masih ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga. Meskipun melambat dibandingkan Triwulan IV tahun 2013 namun secara y-on-y dibandingkan dengan kondisi Triwulan I 2013 ada penguatan sekitar 0,10 poin. Sedangkan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah secara q-to-q mengalami kontraksi. Namun demikian secara y-on-y jika dibandingkan triwulan yang sama tahun 2013 mengalami penguatan sekitar 2,15 poin yaitu dari 2,53 persen pada Triwulan I Tahun 2013 menguat menjadi 4,69 persen pada Triwulan I Tahun 2014. Kondisi yang sama juga terjadi pada komponen PMTB, yang secara q-to-q pada Triwulan I Tahun 2014 mengalami kontraksi. Sedangkan secara y-on-y sedikit melemah dibandingkan Triwulan I Tahun 2013, yaitu melemah sekitar 1,32 poin dari 12,81 persen di Triwulan I Tahun 2013 menjadi 11,48 persen di Triwulan I Tahun 2014.

Secara nominal, pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp 22.899,34 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 23.490,63 milyar pada triwulan I-2014. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga secara riil (atas dasar harga konstan 2000) sebesar 0,89 persen, dimana nilai pada triwulan I-2014 sebesar Rp 8.432,09 milyar dan pada triwulan IV-2013 sebesar Rp 8.456,76 milyar. Sedangkan bila triwulan I-2014 dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 6,63 persen. Melemahnya konsumsi rumah tangga di Triwulan I Tahun 2014 dibanding triwulan IV tahun 2013 antara lain disebabkan oleh tidak ada liburan sekolah, tahun ajaran baru maupun perayaan hari raya. Pengeluaran konsumsi rumah tangga didorong oleh pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) anggota legislatif yang secara tidak langsung berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga.

Selain mempengaruhi konsumsi rumah tangga, pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) anggota legislatif juga berimbas pada peningkatan yang cukup signifikan pada konsumsi LNPRT, terutama pengeluaran partai politik dan LSM-LSM atau lembaga-lembaga pemantau pemilu. Atas dasar harga

(6)

berlaku komponen pengeluaran konsumsi LNPRT mengalami peningkatan dari Rp 439,8 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 486,0 milyar pada triwulan I-2014. Pada kurun waktu yang sama, laju pertumbuhan pengeluaran konsumsi LNPRT atas dasar harga konstan 2000 juga menguat cukup signifikan sebesar 7,51 persen. Sedangkan, bila triwulan I-2014 dibanding triwulan I-2013 (y-on-y), pengeluaran konsumsi LNPRT mengalami peningkatan sebesar 14,66 persen.

Tabel 4

PDRB menurut Komponen Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000

(milyar rupiah)

Komponen Pengeluaran

Harga Berlaku Harga Konstan 2000

Triw I-2013 Triw IV-2013 Triw I-2014 Triw I-2013 Triw IV-2013 Triw I-2014

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 20.602,72 22.899,34 23.490,63 8.001,44 8.456,76 8.532,09

2. Pengeluaran Konsumsi LNPRT 364,14 439,79 486,01 104,36 111,31 119,66

3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 13.922,15 16.973,93 16.374,48 2.030,39 2.283,74 2.125,53 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 12.007,00 15.278,56 14.700,33 3.814,01 4.518,20 4.251,99

5. Perubahan Inventori 1.489,59 -938,33 -507,95 852,03 -466,43 -224,38

6. Ekspor Barang dan Jasa 8.232,11 9.871,01 10,255,01 5.321,55 6.176,38 6.098,34

7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 13.731,64 16.999,40 15.446,38 4.820,06 4.922,78 4.370,88

PDRB 42.886,09 47.524,92 49.352,13 15.995,17 16.157,18 16.532,36

Pola penyerapan anggaran pemerintah baik yang bersumber dari APBN maupun APBD di triwulan I relatif masih sangat rendah. Realisasi penyerapan anggaran pemerintah pusat (APBN) di Triwulan I 2014 baru mencapai 10,71 persen dari total anggaran kurang lebih 18,6 trilyun rupiah. Demikian juga dengan pemerintah daerah (APBD), realisasi penyerapan anggarannya masih di bawah 20 persen. Namun demikian dengan adanya pelaksanaan pemilu legislatif berpengaruh positif terhadap realisasi belanja barang (yang juga menjadi komponen konsumsi pemerintah) di triwulan I 2014. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah atas dasar harga berlaku turun dari Rp 16.973,9 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 16.374,5 milyar pada triwulan I-2014. Pada kurun waktu yang sama, laju pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah atas dasar harga konstan 2000 turun sebesar 6,93 persen. Sebaliknya, bila triwulan I-2014 dibandingkan dengan triwulan I-2013 (y-on-y), Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami peningkatan sebesar 4,69 persen.

Realisasi investasi baik PMA maupun PMDN di triwulan I 2014 relatif terjaga, meskipun tumbuh negatif dibandingkan triwulan IV 2013. Dari laporan realisasi penanaman modal PMDN-PMA yang dirilis

(7)

Berita Resmi Statistik Provinsi Sulawesi Selatan No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 7 oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tercatat di triwulan I 2014 ada 14 proyek PMDN dan 16 proyek PMA di Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai proyek masing-masing sekitar 356,7 milyar rupiah dan 47,2 Juta US$. Sedangkan realisasi pekerjaan fisik yang dilakukan oleh pemerintah (baik dana APBN maupun APBD) masih sangat kurang dan rata-rata masih dalam tahapan proses lelang. Hal ini yang memicu pertumbuhan PMTB di triwulan I tahun 2014 mengalami kontraksi dibanding triwulan IV 2013. Tercatata. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atas dasar harga berlaku turun dari Rp 15.278,6 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp. 14.700,3 milyar pada triwulan I-2014. Sedangkan atas dasar harga konstan 2000 PMTB Sulsel triwulan I-2014 juga turun sebesar 5,89 dibanding triwulan IV-2013 yaitu dari Rp 4.518,2 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 4.252,0 milyar pada triwulan I-2013. Sedangkan secara y-on-y, pertumbuhan PMTB mencapai 11,48 persen. Namun melemah dibandingkan periode yang sama di tahun 2013 yang pertumbuhannya mencapai 12,81 persen.

Nilai ekspor atas dasar harga berlaku naik dari Rp 9.871,0 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 10.255,0 milyar pada triwulan I-2014. Sedangkan atas dasar harga konstan 2000 nilai ekspor pada triwulan I-2014 turun sebesar 1,26 persen dibanding triwulan IV-2013, yaitu dari Rp 6.176,4 milyar menjadi Rp 6.098,3 milyar. Meskipun terjadi kenaikan ekspor luar negeri komoditas nikkel pada triwulan I 2014 dibanding triwulan IV 2013 sekitar 6,15 persen, namun beberapa komoditas unggulan lainnya seperti kakao mengalami kontraksi sekitar 30,21 persen dan komoditas ikan dan udang terkontraksi sekitar 37,19 persen. Sedangkan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2013 (y-on y), nilai ekspor atas dasar harga konstan 2000 triwulan I-2014 naik sebesar 14,60 persen.

Tabel 5

Laju Pertumbuhan Komponen-Komponen PDRB Pengeluaran (persen) Komponen Pengeluaran Triwulan I-2014 Terhadap Triwulan IV-2013 Triwulan I-2014 Terhadap Triwulan I-2013 Sumber Pertumbuhan Triwulan I-2014 (q-to-q) Sumber Pertumbuhan Triwulan I-2014 (y-on-y) (1) (2) (3) (4) (5)

1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0,89 6,63 0,47 3,47

2. Pengeluaran Konsumsi LNPRT 7,51 14,66 0,05 0,10

3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah -6,93 4,66 (0,98) 0,62

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) -5,89 11,48 (1,65) 2,86

5. Perubahan Inventori -51,89 -126,34 1,5 -7,03

6. Ekspor Barang dan Jasa -1,26 14,60 -0,48 5,08

7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa -11,21 -9,32 -3.42 -2,94

(8)

Nilai impor Sulawesi Selatan atas dasar harga berlaku turun dari Rp 16.999,4 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 15.446,4 milyar pada triwulan I-2014. Sedangkan atas dasar harga konstan 2000 nilai impor Sulsel juga menurun sebesar 11,21 persen, dari Rp 4.922,8 milyar pada triwulan IV-2013 menjadi Rp 4.370,9 milyar pada triwulan I-2014. Penurunan impor luar negeri di triwulan I 2014 terjadi pada komoditas gandum-ganduman, ampas/sisa industri makanan dan bahan bakar mineral masing terkontraksi sebesar 11,57 persen, 44,94 persen dan 37,77 persen. Sedangkan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2013, nilai impor atas dasar harga konstan 2000 triwulan I-2014 turun sebesar 9,32 persen.

Tabel 6

Struktur PDRB menurut Komponen Pengeluaran Tahun 2011-2012, Triwulan I-2013, Triwulan IV-2013 dan Triwulan I-2014

(persen)

Komponen Pengeluaran 2011 2012 2013 Triw I 2014 Triw I Triw IV

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 48,19 47,09 48,04 48,18 47,60

2. Pengeluaran Konsumsi LNPRT 0,77 0,78 0,85 0,93 0,98

3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 29,43 31,90 32,46 35,72 33,18

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 23,64 27,55 28,00 32,15 29,79

5. Perubahan Inventori 1,73 1,86 3,47 -1,97 -1,03

6. Ekspor Barang dan Jasa 21,96 19,90 19,20 20,77 20,78

7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa 25,71 29,88 32,02 35,77 31,30

PDRB 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga berlaku yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDRB, yaitu 47,60 persen (triwulan I-2014), turun sekitar 0,58 poin dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (48,18 persen). Sementara kontribusi komponen pengeluaran konsumsi LNPRT, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), pada triwulan I-2014 masing-masing sebesar 0,98 persen, 33,18 persen dan 29,79 persen. Sedangkan kontribusi ekspor sebesar 20,78 persen dan impor 31,30 persen.

(9)

Berita Resmi Statistik Provinsi Sulawesi Selatan No. 26/05/73/Th. VIII, 5 Mei 2014 9 GLOSARIUM

Pertumbuhan ekonomi q-to-q:

PDRB atas dasar harga konstan pada suatu triwulan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Misalnya, triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan IV-2011.

Pertumbuhan ekonomi y-on-y:

PDRB atas dasar harga konstan pada suatu triwulan dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Misalnya, triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan I-2011.

Investasi dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dicerminkan dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Sumber pertumbuhan (source of growth) menunjukkan sektor atau komponen pengeluaran dalam PDRB yang menjadi penggerak pertumbuhan. Untuk memperoleh sumber-sumber pertumbuhan, laju pertumbuhan ekonomi ditimbang/dikalikan dengan masing-masing sumbangan (share) sektor atau komponen pengeluaran terhadap PDRB.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 2 menunjukkan nilai stabilitas yang dihasilkan dari Campuran Aspal Emulsi Dingin (CAED) tanpa serat ijuk dengan umur curing 0 hari telah memenuhi syarat

menunjukkan bahwa pada tanaman bawang merah varietas Bangkok yang diberi bahan organik ampas tebu, pemupukan NPK (15-15- 15) dosis 375 kg/ha sudah memberikan kenaikan

MENETAPKAN : KEPUTUSAN REKTOR UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA TENTANG PENETAPAN HASIL VERIFIKASI DOKUMEN ASLI DAN PENGELOMPOKAN UANG KULIAH TUNGGAL (UKT) CALON MAHASISWA

Oleh karena itu, pada tugas akhir ini, akan dikonstruksi kode swa-dual Hermitian yang baru atas GF (9) dengan panjang 12, sehingga diperoleh 9 kode swa-dual near MDS Hermitian yang

T ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang serta kesehatan karang kaitannya dengan densitas zooxanthellae di Perairan Kawasan

nya sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kinerja seorang aparatur (Notoatmodjo, 2003:38). Tuntutan yang terasa kuat untuk melakukan pengembangan sumber daya manusia

Dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh propolis terhadap perbaikan klinis selesma pada anak, sehingga dapat dijadikan bukti ilmiah untuk membantu

Secara teknis operasional, internet sangat tidak praktis karena membutuhkan komputer dan ruang khusus untuk komputer serta jaringan telekominikasi yang handal;