BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas adalah suatu kosakata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa

26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Efektivitas

2.1.1. Pengertian Efektivitas

Efektivitas adalah suatu kosakata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris “efective” yang berarti berhasil, ditaati, mengesankan, mujarab dan mujur. Efektivitas (berjenis kata benda) berasal dari kata dasar efektif (kata sifat). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga karangan Eko Endarmoko, Efektif adalah

1. Keadaan berpengaruh, hal berkesan 2. Kemanjuran, kemujaraban (obat) 3. Keberhasilan (usaha, tindakan)

4. Hal mulai berlakunya (tentang undang-undang, peraturan)

Ada beberapa pandangan mengenai efektivitas, ada yang menyebut efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi. Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soewarno Handayaningrat yang mengatakan efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Menurut Cambel J.P pengukuran efektivitas secara umum dan yang paling menonjol adalah:

1. Keberhasilan program 2. Keberhasilan sasaran 3. Kepuasan terhadap program 4. Tingkat ouput dan input

(2)

5. Pencapaian tujuan menyeluruh

Organisasi biasanya berada dalam lingkungan yang bergejolak dengan sumber data yang terbatas. Lingkungan yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman, perubahan tersebut akan mempengaruhi efektivitas organisasi. Dalam lingkungan demikian organisasi harus tanggap dan pandai mengantisipasi perubahan agar organisasi tetap dapat mempertahankan keberadaannya dan dapat berfungsi maka organisasi itu harus efektif (Thoha, 2007:98).

Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan. Dalam artian efektivitas merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output, kebijakan dan prosedur dari organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pengertian teorits dan praktis, tidak ada persetujuan yang universal mengenai apa yang dimaksud dengan efektivitas. Berbagai pandangan yang dikemukakan oleh para ahli berbeda-beda tentang pengertian dan konsep efektivitas dipengaruhi oleh latar belakang dari keahlian yang berbeda pula.

Hidayat menyatakan efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target kuantitas, kualitas dan waktu telah tercapai. Semakin besar persentase target yang dicapai, maka semakin tinggi efektivitasnya. Gibson juga berpendapat efektivitas adalah pencapaian sasaran yang telah disepakati atas usaha bersama (Ibnu, 2009).

Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, ada empat hal yang merupakan unsur-unsur efektifitas yaitu sebagai berikut:

1. Pencapaian tujuan, suatu kegiatan dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya

2. Ketepatan waktu, sesuatu yang dikatakan efektif apabila penyelesaian atau tercapainya tujuan sesuai atau bertepatan dengan waktu yang telah ditentukan

3. Manfaat, sesuatu yang dikatakan efektif apabila tujuan itu memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhannya

(3)

4. Hasil, sesuatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan itu memberikan hasil

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan efektifitas adalah tercapainya tujuan yang telah di tetapkan. Adanya ketentuan waktu dalam memberikan pelayanan serta adanya manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan padanya.

2.1.2 Pendekatan Terhadap Efektivitas

Pendekatan efektivitas dilakukan dengan acuan berbagai bagian yang berbeda dari lembaga dimana lembaga mendapatkan input atau masukan berupa berbagai macam sumber dari lingkungannya. Kegiatan dan proses internal yang terjadi dalam lembaga mengubah input menjadi output atau program yang kemudian dilemparkan kembali pada lingkungannya. Pendekatan terhadap efektivitas terdiri dari:

1. Pendekatan sasaran ( Goal Approach)

Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai. Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan mengidentifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkatan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut. Sasaran yang penting diperhatikan dalam pengukuran efektivitas dengan pendekatan ini adalah sasaran yang realistis untuk memberikan hasil maksimal berdasarkan sasaran resmi “Official Goal” dengan memperhatikan permasalahan yang ditimbulkannya, dengan memusatkan perhatian terhadap aspek output yang direncanakan. Dengan demikian, pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana organisasi atau lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai.

2. Pendekatan Sumber (System Resource Approach)

Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu lembaga dalam mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya. Suatu lembaga harus dapat memproleh berbagai macam sumber dan juga memelihara keadaan dan system agar dapat

(4)

menjadi efektif. Pendekatan ini didasarkan pada teori mengenai keterbukaan system suatu lembaga terhadap lingkungannya, karena lembaga mempunyai hubungan yang merata dengan lingkungannya dimana dari lingkungan diperoleh sumber-sumber yang terdapat pada lingkungan seringkali bersifat langka dan bernilai tinggi.

3. Pendekatan Proses (Internal Process Approach)

Pendekatan proses menganggap sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif, proses internal berjalan dengan lancar dimana kegiatan bagian-bagian yang ada berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki lembaga, yang menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan lembaga (Cambel, 1989:115).

2.2. Narkoba

2.2.1. Hakekat Narkoba

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) Narkoba adalah zat-zat kimiawi yang jika dimasukkan ke dalam tubuh manusia (baik secara oral, dihirup maupun intravena, suntik) yang digunakan untuk kepentingan medis atau pengobatan dan penggunaannya secara terukur di bawah kendali ahli medis. Namun, dalam perkembangannya menjadi barang haram karena telah diedarkan secara gelap dan disalahgunakan untuk kepentingan di luar medis serta berdampak terhadap gangguan kesehatan.

Dan tidak hanya itu, narkoba juga membuat hancur dan matinya karakter bangsa, yang diawali dengan rusaknya sel-sel saraf syaraf otak sebagai dampak menggunakan narkoba ilegal. Kerusakan syaraf otak ini akan berpengaruh buruk pada kepribadian, temperamen dan karakter manusia.

(5)

1. demi kepentingan medis

2. untuk kepentingan bisnis ilegal oleh kalangan mafia yang tidak bertanggung jawab, menghancurkan kehidupan manusia

Terkait dengan ini maka perlunya membangun karakter manusia sebagai embrio karakter bangsa. Karakter bangsa yang kuat akan mampu memiliki daya imunitas yang lebih baik untuk menghadapi peredaran gelap narkoba. Dengan daya tahan yang handal maka pengaruh negatif narkoba dapat dicegah.

2.2.2. Pengenalan Narkoba

Istilah Narkoba sesuai dengan Surat Edaran Badan Narkotika Nasional (BNN) merupakan akronim dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Narkoba yaitu zat-zat alami maupun kimiawi yang jika dimasukan ke dalam tubuh baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dsb dapat mengubah pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku seseorang.

A. Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Berdasarkan bahan asalnya narkotika terbagi dalam 3 golongan yaitu:

1. Alami, yakni jenis zat/obat yang timbul dari alam tanpa adanya proses fermentasi, isolasi atau proses produksi lainnya. Contohnya: ganja, opinium, daun koka, dll. 2. Semi sintesis, yakni zat yang diproses sedemikian rupa melalui proses ekstraksi dan

isolasi. Contohnya: morfin, heroin, kodein, dll.

3. Sintesis, yakni jenis obat/zatyang diproduksi secara sintesis untuk keperluan medis dan penelitian yang digunakan sebagai penghilang rasa sakit. Contohnya: amfetamin, pethidin, methadon, LSD, dll.

(6)

B. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dalam bidang farmakologi, psikotropika dibedakan dalam 3 golongan yaitu:

1. Golongan psikostimulansi, yaitu jenis zat yang menimbulkan rangsangan. Contohnya: amfetamin (lebih populer di kalangan masyarakat sebagai shabu-shabu dan ekstasy), desamfetamine.

2. Golongan psikodepresan, yaitu golongan obat tidur, penenang dan obat anti cemas. Contohnya: amobarbital, pheno karkital, penti kartital.

3. Golongan sedativa, yaitu jenis obat yang mempunyai khasiat pengobatan yang jelas dan digunakan dalm terapi. Contohnya: diazepam, klobazam, nitrazezam, dll.

C. Bahan Adiktif

Bahan Adiktif adalah bahan-bahan aktif atau obat yang dalam organisme hidup menimbulkan kerja biologi yang apabila disalahgunakan dapat menimbulkan ketergantungan. Jenis-jenis bahan adiktif yaitu:

1. Inhalen, yakni zat yang terdapat pada lem dan pengencer cat. Penggunaannya dengan cara dihirup. Efeknya hilang ingatan, tidak dapat berpikir, mudah berdarah, kerusakan hati dan ginjal, kejang-kejang otot.

2. Alkohol, yaitu minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi. Efeknya menyebabkan depresi pada sistem syaraf pusat, menyebabkan oedema otak, menimbulkan habilutasi, toleransi dan ketagihan, peradangan lambung, melemahkan jantung dan hati menjadi keras.

(7)

3. Tembakau/Rokok. Pengaruh penggunaan tembakau/rokok dapat dilihat apabila digunakan dalam jumlah besar atau jangka waktu yang lama. Zat tembakau itu sendiri merupakan zat yang menimbulkan ketergantungan pada umumnya. Hal yang paling mempengaruhi adalah racun dalam tembakau yang disebut nikotin. Efeknya menyumbat saluran darah, menimbulkan penyakit kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan.

4. Obat penenang, yaitu obat tidur, pil koplo, valium, nipam, dll. Efeknya bicara jadi pelo, memperlambat respon fisik, mental dan emosi.

5. Zat yang mudah menguap, yaitu lem aica aibon, thinner, bensin. Efeknya memperlambat kerja otak, menimbulkan rasa senang, penurunan kesadaran.

2.2.3. Jenis Narkoba

1. Candu, adalah zat yang dihasilkan dari tanaman berbunga papaversomniferum L yang berisi berbagai macam zat kimia aktif. Beberapa diantaranya mempunyai khasiat untuk pengobatan, tetapi sebagian lagi mengandung zat yang mempunyai daya kecanduan sangat besar sehingga merugikan kesehatan. Narkoba yang termasuk golongan ini merupakan produk olahan dari zat opiad itu. Misalnya, heroin, kokain, morfin, dll. Heroin, adalah zat yang dihasilkan oleh pohon candu yang mempunyai daya adiktif sebesar 30 kali candu kasar. Heroin merupakan narkoba jenis opiad yang paling banyak disalahgunakan. Nama lain heroin adalah putaw, bahasa slangnya untuk putih karena heroin berwarna putih kecoklatan. Putaw memberi efek senang sesaat karena zat aktif putaw sebenarnya secara ilmiah juga ada di dalam otak manusia. Zat aktif itu mempengaruhi paling sedikit tiga reseptor (mulut kecil) yang sangat penting dalam mencapai kesenangan. Zat-zat tersebut dikenal dengan nama enkaplalin dan endomorphine. Ketika seseorang menggunakan putaw maka kemampuan alamiah zat

(8)

untuk mencapai kesenangan akan terhenti. Akibatnya untuk mendapat kesenangan orang tersebut selalu tergantung sumber dari luar yaitu putaw tersebut.

2. Depresan adalah zat yang menekan susunan syaraf pusat dengan akibat rasa tenang dan mengantuk. Jadi fungsi depresan berlawanan dengan stimulant. Di dalam depresan ini termasuk kelompok obat penenang dan minuman beralkohol. Alasan orang menggunakan depresan adalah karena adanya zat aktif dalam depresan yang memperkuat bagian otak yang memberikan ketenangan sehingga berefek menidurkan atau menenangkan. Karena itu orang tertentu merasa ketika menggunakan depresan sebagai suatu kenikmatan. Padahal tanpa sadar hal tersebut dapat pula menimbulkan efek ketergantungan yang sangat merugikan.

3. Stimulan adalah zat yang bila digunakan menimbulkan stimulus atau rangsangan yang bersifat bersemangat, gembira berkhayal tinggi, percaya diri besar dan mempunyai energi tak terbatas. Contohnya shabu-shabu, ekstasi, dll. Kelompok stimulan mempengaruhi mekanisme rangsangan antara ujung syaraf sehingga beberapa zat terkumpul lebih banyak dari seharusnya. Dengan demikian si pemakai akan merasakan kekuatan dan rasa senang berlebihan. Jenis stimulan yang banyak disalahgunakan adalah pil ekstasi atau ineks dan shabu-shabu.

4. Inhalan adalah zat yang mudah menguap seperti campuran cat, lem, dan sejenisnya. Penyalahgunaan inhalan adalah dengan cara menghirup uap dari zat-zat tersebut dikenal dengan istilah “ngelem”. Senyawa aktif dalam benda-benda tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otot, syaraf dan organ lain dan dapat mengakibatkan masalah sumsum tulang. Kematian mendadak akibat menghirup (Sudden Sniffing Death/SSD) dapat terjadi pada si pemakai.

(9)

2.2.4. Manfaat Narkoba

Dari segi medis penggunaan obat-obatan yang mengandung narkoba bermanfaat dan memang diperbolehkan secara legal atau sah melalui rekomendasi ahli medis atau hanya sebatas untuk pertolongan medis saja. Diberikan oleh tenaga medis secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Sisi positif dari penggunaan jenis narkoba memang dikembangkan oleh tenaga medis dalam kaitannya demi memberikan pertolongan kemanusiaan belaka dan kegiatan penelitian ilmiah/keilmuan. Selain itu seluruh jenis narkoba menjadi aspek positif dikaitkan dengan kepentingan ilmiah baik pengembangan ilmu pengetahuan tentang narkoba maupun penelitian terkait dengan dampak negatifnya, dalam kaitannya dengan antisipasi terhadap efek negatif dan bahayanya.

2.2.5. Dampak Negatif Narkoba

Selain narkoba memiliki dampak yang sangat positif bagi kegiatan pertolongan medis yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan pendekatan keilmuan yang telah terukur maka narkoba dapat memberikan dampak negatif bagi pemakainya terutama bila dilakukan dengan cara disalahgunakan. Penyalahgunaan narkoba menimbulkan multidimensi dikalangan masyarakat yang sudah tentu akan menimbulkan kerawanan sosial yang tentunya harus segera diwaspadai keberadaannya. Masalah yang bersifat multidimensi itu antara lain (dalam 3 dimensi yang paling penting):

1. Dimensi Kesehatan

a. Penyalahgunaan narkoba dapat merusak atau menghancurkan kesehatan manusia

baik secara jasmani maupun mental dan emosional.

b. Penyalahgunaan narkoba dapat merusak susunan saraf pusat di otak, organ-organ

lain seperti hati, jantung, ginjal, paru-paru, usus, dan penyakit komplikasi lainnya.

c. Penyalahgunaan narkoba menimbulkan gangguan pada perkembangan normal

(10)

d. Penyalahgunaan narkoba merusak sistem reproduksi, yaitu produksi sperma

menurun, penurunan hormon testosteron, kerusakan kromosom, kelainan seks, keguguran, dan lain sebagainya.

e. Infeksi saluran nafas bawah. f. Kematian akibat over dosis.

2. Dimensi Ekonomi

a. Pengeluaran seorang penyalahguna narkoba sangat besar untuk konsumsi narkoba. b. Pengeluaran yang besar bagi seorang penyalahguna narkoba yang sudah rusak

kesehatannya (untuk biaya kesehatan / berobat akibat narkoba).

c. Masyarakat menanggung beban dan kerugian akibat menurunnya tingkat produktivitas sumber daya manusia, biaya pengobatan medis, harta yang dicuri, rusak atau kecelakaan. Para penyalahguna narkoba juga lebih cenderung mengalami kecelakaan kerja di tempat kerjanya.

3. Dimensi Sosial dan Pendidikan

a. Penyalahguna narkoba mempengaruhi kehidupan di lingkungan masyarakat, misalnya adanya kecemasan masyarakat akan kejahatan yang akan mereka timbulkan.

b. Penyalahgunan narkoba memperburuk kondisi keluarga yang pada umumnya tidak harmonis. Keluarga-keluarga yang penuh masalah akan mempengaruhi kehidupan di lingkungan masyarakat.

c. Banyak penyalahguna narkoba yang mencuri, merampok, menipu, jadi pengedar narkoba, bahkan membunuh untuk mendapatkan uang demi kebutuhan akan barang haram tersebut.

(11)

d. Para penyalahguna narkoba menjadi orang yang asosial, antisosial dan menimbulkan gangguan kemanan dan ketertiban pada lingkungannya dan merugikan masyarakat.

e. Kerugian dibidang pendidikan juga terjadi yaitu dengan merosotnya prestasi penyalahguna narkoba di sekolah/kampus ataupun tempat kerja.

f. Para penyalahguna narkoba biasanya cenderung untuk mengajak atau mempengaruhi teman-temannya untuk terlibat (Karsono, 2004:23-28).

Penyalahgunaan narkoba memberikan pengaruh yang menyenangkan bagi si pemakai namun kesenangan itu hanya sesaat, sementara penuh kepalsuan. Seolah-olah hidup bahagia dan menyenangkan, serta indah padahal kenyataannya tidak begitu. Penyalahgunaan narkoba bukan hanya berpengaruh buruk bagi pemakai saja tetapi juga bagi masyarakat dan negara. Bagi pemakai dampak yang ditimbulkan terbagi atas 3, yaitu:

1. Dampak psikis

a. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah. b. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga. c. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.

d. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri. 2. Dampak sosial

a. Gangguan mental, anti sosial, dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan. b. Merepotkan dan menjadi beban keluarga.

c. Pendidikan terganggu masa depan suram. 3. Dampak fisik

a. Gangguan pada sistem syaraf : kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran. b. Gangguan pada jantung dan pembulu darah: infeksi akut otot jantung, gangguan

(12)

c. Gangguan pada kulit : penanahan, alergi.

d. Gangguan pada paru-paru : penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, pengerasan jaringan paru.

e. Sering sakit kepala, mual dan muntah, pengecilan hati dan sulit tidur.

f. Akan berakibat fatal apabila terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over Dosis dapat menyebabkan kematian (Abdalla, 2008).

g. Sedangkan bagi kesehatan reproduksinya, dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kadar hormon testosteron, penurunan dorongan sex, disfungsi ereksi, hambatan ejakulasi, pengecilan ukuran penis, pembesaran payudara dan gangguan sperma. Sedangkan pada wanita terjadi penurunan dorongan sex, gangguan pada hormon estrosen dan progesteron, kegagalan orgasme, hambatan menstruasi, pengecilan payudara, gangguan sel telur, serta pada wanita hamil dapat menyebabkan kekurangan gizi sehingga bayi yang dilahirkan juga dapat kekurangan gizi, berat badan bayi rendah, bayi cacat serta dapat menyebabkan bayi keguguran (Lin, 2007).

2.3. Program Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)

2.3.1. Hakekat P4GN

Pada hakekatnya P4GN merupakan rumusan kebijakan nasional Badan Narkotika Nasional di bidang pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika dan prekursor serta bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol. Dalam rangka melaksanakan program P4GN tersebut harus didukung dengan kebijakan nasional, strategi serta implementasinya di bidang pemberdayaan

(13)

masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat di lingkungan masing-masing yakni lingkungan pendidikan (sekolah dan kampus), lingkungan kerja (pemerintah dan swasta), dan masyarakat (lingkungan keluarga, tokoh agama dan media massa).

2.3.2. Ruang Lingkup P4GN

Sebagaimana singkatan yang telah lazin digunakan di kalangan institusi Badan Narkotika Nasional, P4GN singkatan Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba. Secara khusus fokus pembahasan aspek pencegahan merupakan bagian penting dalam penanganan narkoba di berbagai belahan dunia. Dalam pencegahan salah satu unsur penting adalah dengan melibatkan masyarakat untuk ikut berperan serta secara aktif. Dalam konteks ini maka pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu aspek strategis. Pemberdayaan masyarakat merupakan dampak keberhasilan program P4GN. Asepek-aspek dalam P4GN:

1. Aspek pencegahan. Dalam aspek ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran siswa, mahasiswa, pekerja, keluarga dan masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Meningkatnya peranan instansi pemerintah dan kelompok masyarakat dalam upaya menciptakan dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba menjadikan masyarakat memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran akan bahaya narkoba.

2. Aspek pemberdayaan masyarakat. Dengan sasaran terciptanya lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, masyarakat, lingkungan keluarga bebas narkoba melalui peran serta instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa dan negara.

(14)

a. Meningkatnya pengungkapan tindak kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Terungkapnya jaringan sindikat peredaran gelap narkotika, pemutusan jaringan sindikat narkoba.

b. Meningkatnya kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan sosial yang dikelola oleh instansi pemerintah.

c. Meningkatnya kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan sosial yang dikelola oleh komponen msyarakat.

d. Meningkatnya pelaksanaan pasca rehabilitasi penyalahguna dan/atau pecandu narkoba.

e. Pulihnya penyalahguna narkoba.

f. Berkurangnya kasus relapse melalui optimalisasi panti rehabilitasi baik yang diselenggarakan oleh UPT terapi dan rehabilitasi BNN maupun pembangunan swadaya oleh LSM atau institusi pemerintah lainnya.

2.3.3. Ruang Lingkup P4GN Pemberdayaan Masyarakat/Peran Serta Masyarakat

Dalam pemberdayaan masyarakat melingkupi tujuan dengan sasaran terciptanya lingkungan yang sehat yang meliputi:

1. Lingkungan pendidikan yang bersih dari narkoba. Selain upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang bersih dari narkoba maka terjadinya proses pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui pendidikan sejak usia dini hingga jenjang perguruan tinggi sehingga menghasilkan perilaku yang imun terhadap narkoba. Dengan kondisi masyarakat yang imun tersebut maka dapat dijadikan ukuran keberhasilan pemberdayaan masyarakat.

2. Lingkungan kerja dan masyarakat yang beresiko tinggi terbebas dari narkoba. Lingkungan kerja yang sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkoba sangat berdampak positif dalam mendukung produktivitas kerja. Perlu memberdayakan

(15)

mereka melalui berbagai pendekatan yang bertumpu pada penyadaran pentingnya pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat tersebut memiliki daya tangkal yang tinggi.

3. Lingkungan keluarga yang harmonis dan bebas dari narkoba. Keluarga yang utuh dan kuat akan menjadi penyangga bangsa yang kuat dalam mencegah bahaya narkoba. Mewujudkan lingkungan keluarga yang bebas dari narkoba sangat membutuhkan peran serta aktif berbagai instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa dan negara secara konsisten.

4. Pemberdayaan alternatif. Menurunnya lahan ganja dan petani ganja di NAD melalui program pengembangan alternatif, terjadinya perubahan kesadaran masyarakat di pemukiman.

5. Meningkatnya efektivitas pembangunan komunitas (community development) di berbagai tempat yang menjadi sasaran program pemberdayaan komunitas agar mampu menanggulangi bahaya narkoba.

2.4. Implementasi Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)

2.4.1. Implementasi P4GN Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat mempunyai peranan penting dalam P4GN. Masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba merupakan masalah yang kompleks dilihat dari segi penyebabnya maupun dari segi jangkauan pengaruh buruknya. Maka peran serta aktif segenap lapisan masyarakat baik secara individu maupun kelompok sangat dibutuhkan dalam penanggulangan dan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat mustahil upaya tersebut dapat tercapai secara tuntas.

(16)

Masalah penyalahgunaan narkoba bukan saja tanggung jawab pemerintah. Masalah tersebut adalah masalah masyarakat juga. Karenanya wajar bilamana masyarakat berkewajiban dan bertanggung jawab pula untuk menanggulangi masalah tersebut. Pada umumnya tujuan semua sektor masyarakat yang bergerak dalam pencegahan sama yaitu mengurangi permintaan pada narkoba dan membantu generasi muda bebas narkoba. Ini jelas menunjukan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut tidak ada sektor dalam masyarakat yang dianggap sebagai kelompok tersendiri atau terpisah tetapi sebagai komponen atau bagian integral masyarakat. Pengalaman menunjukan bahwa sumber tenaga yang paling besar dan kuat dalam pencegahan adalah jaringan orang-orang yang saling mendukung, saling bertukar informasi dan saling bekerja.

Peran serta masyarakat dalam P4GN dijamin dalam Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagai berikut:

1. Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta membangun pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (pasal 104).

2. Masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (pasal 105).

3. Hak masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba diwujudkan dalam bentuk:

a. Mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana narkoba.

b. Memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan memberikan informasi tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana narkoba kepada penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana narkoba.

(17)

c. Menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana narkoba.

d. Memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum atau BNN.

e. Memperoleh perlindungan hukum pada saat yang bersangkutan melaksanakan haknya atau diminta hadir dalam proses peradilan.

4. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam pasal 104, pasal 105, pasal 106 dapat dibentuk dalam suatu wadah yang dikoordinasi oleh BNN (pasal 108 ayat 1). 5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diatur dengan peraturan kepala BNN

(pasal 108 ayat 2).

Adapun pembentukan wadah peran serta masyarakat diatur dalam peraturan kepala BNN Nomor 6 Tahun 2010. Untuk mengimplementasikan peran serta masyarakat sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkoba, BNN membentuk Deputi Pemberdayaan Masyarakat yang salah satu direktoratnya bernama Direktorat Peran Serta Masyarakat yang menangani lingkungan pendidikan, lingkungan kerja dan masyarakat.

2.4.2. Implementasi P4GN Peran Serta Masyarakat di Lingkungan Pendidikan

Peran serta masyarakat di lingkungan pendidikan ini meliputi lingkungan sekolah ataupun kampus. Adapun yang menjadi tujuannya adalah lingkungan sekolah atau kampus bersih narkoba. Lingkungan sekolah atau kampus memiliki beberapa komponen di dalamnya. Oleh karena itu dalam melaksanakan peran serta di lingkungan pendidikan baik sekolah atau kampus harus menyentuh kepada komponen yang ada di sekolah atau kampus.

Implementasi peran serta masyarakat di lingkungan sekolah/kampus untuk mencapai lingkungan bersih narkoba adalah:

(18)

1. Pemberian informasi, peningkatan kemampuan dan ketrampilan individu/siswa/mahasiswa, kegiatannya antara lain meliputi:

a. Penyampaian informasi tentang P4GN.

b. Pemberian dan peningkatan ketrampilan sosial. c. Pemberian pendidikan dan kesehatan.

2. Pembentukan kelompok teman sebaya. Dalam kegiatan ini sekolah/kampus membentuk kelompok yang terdiri atas siswa/mahasiswa yang bersih narkoba yang mempunyai komitmen untuk membantu teman-temannya yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba untuk meninggalkan perbuatan tersebut dan kembali menjadi siswa/mahasiswa yang benar-benar ingin belajar mencapai cita-cita.

3. Satgas sekolah/satgas kampus. Program ini memiliki 2 kegiatan yaitu: a. Pembentukan satgas sekolah/kampus.

Di sekolah/kampus tempat dilaksanakan kegiatan dibentuk satgas yang berasal dari perwakilan siswa/mahasiswa yang bersih/tidak menyalahgunakan narkoba dan mempunyai komitmen untuk mendukung terciptanya sekolah/kampus bebas narkoba. Anggota satgas tersebut diberi pembekalan tentang narkoba dan dampaknya, Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkoba dan materi tentang bagaimana caranya menolong korban.

b. Operasi satgas sekolah/kampus.

Satgas sekolah/kampus ini hendaknya difasilitasi untuk melaksanakan operasi di lingkungan sekolahnya/kampus. Operasi satgas ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mencari informasi, melakukan pengawasan di lingkungan sekolah/kampus untuk mengetahui apakah di lingkungannya ada hal-hal yang dapat dijadikan petunjuk awal penyalahgunaan narkoba ataupun peredaran narkoba, misalnya:

(19)

 Tempat yang digunakan untuk meyalahgunakan narkoba ataupun untuk transaksi narkoba.

 Orang yang mengedarkan narkoba di lingkungan sekolah/kampus misalnya alumni yang suka datang ke sekolah/kampus tanpa kepentingan yang jelas.

 Siswa/mahasiswa yang suka membawa narkoba ke sekolah/kampus.  Mengamati siswa/mahasiswa yang dicurigai sebagai penyalahguna.

Apabila satgas sekolah/kampus tadi mengetahui adanya aktivitas yang mengarah pada penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba maka harus melaporkan kepada pihak sekolah/kampus yang dilanjutkan kepada petugas yang berwenang. 4. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua di bidang P4GN, meliputi:

a. Pemberian pengetahuan tentang narkoba dan permasalahannya.

b. Pendidikan pola pengasuhan anak termasuk pendidikan anak usia dini. c. Menerapkan pencegahan penyalahgunaan narkoba di rumah.

5. Peningkatan peran sekolah/kampus di bidang P4GN, yaitu:

a. Penyusunan kebijakan yang jelas tentang penyalahgunaan narkoba, penanganan, sanksi, pengawasan, dll.

b. Mendidik siswa dan guru di bidang P4GN.

c. Meningkatkan ketrampilan siswa dan guru dalam menanggulangi permasalahan narkoba.

d. Meningkatkan pengawasan di lingkungan sekolah/kampus. e. Meningkatkan disiplin dan tata tertib.

f. Membentuk jaringan sekolah/kampus dengan orang tua. g. Memberikan kegiatan ekstra kurikuler.

(20)

h. Pembentukan dan peningkatan fungsi UKS dalam menangani permasalahan kesehatan siswa.

i. Mengadakan test urine kepada siswa dan guru.

j. Melaksanakan kegiatan terpadu dengan masyarakat sekitar. 6. Monitoring dan evaluasi program P4GN di sekolah.

Monitoring dan evaluasi dilaksanakan pada setiap tahap kegiatan. Hasil yang diharapkan setelah dilakukan evaluasi adalah diketahuinya keberhasilan atau kesenjangan antara pelaksanaan dan hasil kegiatan yang dicapai dan teridentifikasinya masalah dan hambatan yang dihadapi.

7. Sertifikasi sekolah/kampus bersih narkoba.

Bagi sekolah/kampus yang telah dievaluasi dan hasilnya menunjukan bahwa sekolah/kampus tersebut telah melaksanakan program P4GN secara berkesinambungan dan dari hasil test urine ternyata sekolah/kampus tersebut siswanya/mahasiswanya tidak ada yang positif menyalahgunakan narkoba maka bisa diberikan sertifikat bersih narkoba oleh BNN.

2.5. Kerangka Pemikiran

Kejahatan narkoba bukan lagi kejahatan konvensional, melainkan telah menjadi kejahatan yang dilakukan oleh jaringan kejahatan internasional terorganisir. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba telah menunjukan kecenderungan yang terus meningkat di negeri ini. Hal ini diindikasikan dengan dijadikannya Indonesia sebagai tempat transit dalam mata rantai perdagangan gelap narkoba. Gelagat kejahatan narkoba memanfaatkan kondisi kemiskinan, kebodohan bahkan kelemahan di bidang penegakan hukum di wilayah negeri ini. Bila tidak dilakukan pencegahan dan pemberdayaan masyarakat akan semakin memprihatinkan lagi kondisi bangsa ini.

(21)

Apabila tidak disikapi secara profesional dalam pencegahan dan pemberantasannya lambat laun akan merongrong eksistensi masyarakat dan bangsa negeri ini. Selain kompetensi penegak hukum, petugas pencegahan dan rehabilitasi, maka pemberdayaan masyarakat harus semakin meningkat guna melakukan deteksi dini untuk selanjutnya mencegah hingga memutus jaringan maupun strategi eksploitasi oleh mafia perdagangan gelap narkoba.

Dampak negatif kejahatan narkoba terhadap kehidupan manusia sangat dahsyat baik terhadap aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pertahanan keamanan. Berkembangnya kasus kejahatan narkoba akan menjadi hambatan serius terhadap pembangunan peradaban bangsa. Menghadapi bahaya narkoba maka mutlak membutuhkan strategi yang efektif. Badan Narkotika Nasional (BNN) telah memerankan sebagai subyek, melalui metode P4GN dengan sasaran pemberdayaan masyarakat yang melibatkan peran serta masyarakat.

Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai lembaga pemerintah yang menjadi focal

point dituntut meningkatkan profesionalismenya, bersama seluruh elemen masyarakat, LSM,

dan tentunya melibatkan peran serta masyarakat secara aktif dan dinamis. Sejalan dengan itu berbagai terobosan telah dilakukan langkah strategis dan inovatif terkait dengan program pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN) dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berperan serta aktif.

Peran serta aktif segenap lapisan masyarakat baik secara individu maupun kelompok sangat dibutuhkan dalam penanggulangan dan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat mustahil upaya tersebut dapat tercapai secara tuntas. Untuk mengimplementasikan peran serta masyarakat sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) membentuk Deputi Pemberdayaan Masyarakat yang salah satu direktoratnya bernama Direktorat Peran Serta Masyarakat yang menangani lingkungan pendidikan. Peran serta masyarakat di lingkungan pendidikan ini meliputi lingkungan sekolah ataupun kampus.

(22)

Adapun yang menjadi tujuan peran serta masyarakat di lingkungan pendidikan adalah agar lingkungan sekolah atau kampus bersih dari narkoba/bebas narkoba.

Skematisasi kerangka pemikiran adalah proses transformasi narasi yang menerangkan hubungan konsep-konsep atau variabel-variabel penelitian menjadi sesuatu yang berbentuk skema. Artinya, yang ada hanyalah perubahan cara penyajian dari narasi menjadi skema (Siagian, 2011: 132). Untuk itu skematisasi kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(23)

Gambar 1

Kerangka Pemikiran Secara Sistematis

Badan Narkotika Nasional (BNN)

Program Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan pendidikan

Alat Ukur Efektivitas Pelaksanaan Program P4GN di lingkungan pendidikan: 1. Ketepatan sasaran program

2. Kepuasan terhadap program

3. Keberhasilan Pelaksanaan Program 4. Tujuan dan Manfaat

(24)

2.6. Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional 2.6.1. Defenisi Konsep

Konsep adalah istilah atau defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak mengenai kejadian, keadaan kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Defenisi konsep bertujuan untuk merumuskan istilah-istilah yang digunakan yang digunakan secara mendasar agar tercipta suatu persamaan persepsi tentang apa yang akan diteliti dan menghindari salah pengertian yang dapat mengaburkan tujuan penelitian (Singarimbun, 1989:33).

Untuk memfokuskan penelitian ini maka peneliti memberikan batasan konsep sebagai berikut:

1. Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Dengan demikian, suatu usaha atau kegiatan dikatakan efektifas apabila tujuan atau sasaran dapat dicapai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat memberikan manfaat yang nyata sesuai dengan kebutuhan.

2. Program P4GN merupakan rumusan kebijakan nasional Badan Narkotika Nasional di bidang pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Dalam rangka melaksanakan program P4GN tersebut harus didukung dengan kebijakan nasional, strategi serta implementasinya di bidang pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat di lingkungan masing-masing khususnya dalam penelitian ini yakni lingkungan pendidikan (sekolah/kampus).

3. Narkoba adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia (baik secara oral, dihirup maupun intravena, suntik) yang disalahgunakan untuk kepentingan di luar medis sehingga berdampak terhadap gangguan kesehatan serta

(25)

untuk kepentingan bisnis ilegal oleh kalangan mafia yang tidak bertanggung jawab, menghancurkan kehidupan manusia.

4. Badan Narkotika Nasional (BNN) merupakan lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan upaya-upaya P4GN dalam rangka meminimalisasi permasalahan narkoba di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkoba, BNN diberikan kewenangan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika.

2.6.2. Defenisi Operasional

Defenisi operasional merupakan seperangkat petunjuk atau kriteria atau operasi yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan bagaimana mengamatinya dengan memiliki rujukan-rujukan empiris. Bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian di lapangan. Maka perlu operasionalisasinya dari konsep-konsep yang menggambarkan tentang apa yang harus diamati (Silalahi, 2009: 120).

Untuk memberikan kemudahan dalam memahami variabel dalam penelitian ini, maka dapat diukur melalui indikator-indikator atas dasar efektivitas pelaksanaan program P4GN oleh Badan Narkotika Nasional di SMA Methodist 1 Medan, meliputi :

1. Efektivitas pelaksanaan program P4GN, yang diukur dengan indikator:

a. Ketepatan sasaran program yakni program P4GN yang dilakukan oleh BNN. Yang diteliti adalah siapa saja yang ikut serta dalam sosialisasi dan pembentukan kader yang dilakukan oleh petugas BNN, apakah mereka terlibat langsung atau tidak serta mendapat informasi mengenai program P4GN dalam sosialisasi dan pembentukan kader tersebut.

b. Kepuasan terhadap program. Disini yang akan diteliti adalah bagaimana pemberian informasi mengenai program P4GN oleh petugas BNN kepada siswa SMA Methodist 1 Medan dan bagaimana kepuasan responden terhadap sosialisasi

(26)

program dan pembentukan kader P4GN yang dilakukan oleh petugas BNN di sekolah tersebut.

c. Keberhasilan pelaksanaan program yakni sosialisasi dan pembentukan kader P4GN yang dilakukan oleh petugas BNN. Yang akan diteliti adalah proses kegiatan sosialisasi dan pembentukan kader P4GN yang diberikan oleh petugas BNN, bagaimana waktu pelaksanaan program sosialisasi dan pembentukan kader mengenai P4GN kepada siswa SMA Methodist 1 Medan.

d. Tujuan dan manfaat sosialisasi dan pembentukan kader. Disini yang akan diteliti adalah bagaimana hasil dari pelaksanaan sosialisasi dan pembentukan kader yang dilakukan oleh BNN. Hasil apa sajakah yang telah berhasil diperoleh dari kegiatan tersebut, apakah responden memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut, dan apakah tercapainya sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :