Abstrak - Pulau Bawean secara administratif termasuk dalam kabupaten Gresik. Selama ini transportasi laut menjadi alat transportasi utama dan satu-satunya yang menghubungkan antara Gresik dengan Bawean. Pada saat cuaca buruk kapal melayani angkutan Gresik-Bawean tidak bisa berrlayar disebabkan tinggi gelombang sampai 3,5 meter. Hal ini menyebabkan terputusnya transportasi Gresik-Bawean sehingga banyak penumpang kapal yang tidak bisa berlayar dan terhambatnya pengiriman sembako ke Pulau Bawean yang berakibat naik harga sembako di pulau Bawean. Opsi yang ditawarkan pemerintah Gresik adalah mengoperasikan kapal 5000 GT. Maka diperlukan analisis dengan mencari ratio biaya manfaat dari pengoperasian kapal tersebut dengan mempertimbangkan pihak-pihak yang terkait dari pengoprasian kapal 5000 GT yaitu pihak pelayaran, pelabuhan, pengguna kapal dan publik. Analisis dilakukan dengan menggunakan 6 skenario pola oprasi kapal serta menggunakan pilihan kapal baru atau kapal sewa. Dengan menghitung biaya, keuntungan, kerugian dan manfaat dari sektor pelayaran, pelabuhan, pengguna kapal dan publik bila kapal 5000 GT dioprasikan atau tidak dioprasikan dicari ratio terbesar untuk menentukan skenario terbaik. Dari hasil pembahasan disimpulkan bahwa untuk mengatasi permasalahan transportasi Gresik-Bawean menggunkan kapal 5000 GT dengan sistem sewa dan menggunakan skenario 6 dimana kapal beroprasi 7 hari sekali.
Kata Kunci— Gelombang, Analisis, Manfaat, Kerugian.
I. PENDAHULUAN
INGGINYA gelombang laut antara Gresik dan Pulau Bawean pada musim hujan yang disertai angin kencang pada sekitar bulan Desember dan Maret menyebabkan pelayaran yang melayani Gresik dan Bawean tertunda. Selama ini pelayaran antara Gresik dan Bawean hanya dilayani oleh kapal dengan ukuran kurang 1000 GT. Dengan ukuran kapal kurang dari 1000 GT pelayaran Gresik-Bawean tidak bisa beroprasi karena ketinggian gelombang sampai 3,5 meter. Dari laporan yang ada salah satu kapal mengalami kerusakan pada lambung akibat dihempas oleh gelombang dan beberapa kapal lainnya harus kembali ke Gresik karena tingginya gelombang dan faktor keselamatan.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak penumpang yang akan pergi dari Gresik ke Bawean atau dari Bawean ke Gresik harus menunda keberangkatanya. Selain itu hal ini menyebabkan tertundanya pengiriman sejumlah barang dan bahan dari Gresik ke Tuban sehingga menyebabkan harga
sembako pada pulau Bawen mengalami kenaikan hingga 100% dan naiknya harga bensin (premium) mengalami kenaikan hingga 20.000 rupiah per liter. Pada sisi yang lain sejumlah sayuran-sayuran yang akan dikirim ke Bawean menjadi busuk dan sehingga harga dari sayuran tersebut menjadi jatuh
Solusi yang pernah ditawarkan adalah dengan mengoperasikan kapal yang memiliki ukuran yang lebih besar yaitu sekitar 5000 GT. Tapi permasalahan yang ada adalah pangsa pasar atau jumlah penumpang dan barang yang ada tidak sebesar jumlah kapasitas muat kapal dan draft pelabuhan Bawean yang dangkal yaitu sekitar 2 meter. Maka diperlukan analisis biaya dan manfaat untuk mengetahui berapa besar biaya yang akan timbul dan manfaat yang dapat dinikmati pihak pelayaran, pelabuhan, penggunan kapal dan publik dari pengoperasian kapal 5000 GT.
II. METODELOGIPENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Analisis Kelebihan dan Kekurangan
Pengoperasian Kapal 5000 GT Di Perairan
Gresik-Bawean
Yudi Hermawan dan Tri Achmadi
JurusanTeknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: [email protected]
Gambar 1. Gamabar diagram metodelogi
III. GAMBARANUMUM
Pelabuhan Gresik terletak pada posisi 112o39’30,60’’ garis Bujur Timur dan 7o9’27,40’’ garis Lintang Selatan, tepatnya pada Selat Madura atau sebelah utara Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Sedangkan Pulau Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sekitar 78,84 Mil sebelah utara Gresik. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik. Bawean memiliki 2 kecamatan yaitu Sangkapura dan Tambak.
Gambar 2. Gambar letak pulau Bawean
A. Moda Transportasi Penyeberangan Antar Pulau
Dalam penyeberangan antar pulau moda transportasi yang sering digunakan adalah kapal ferry. Kapal ferry adalah kapal yang digunakan untuk mengangkut penumpang, kendaraan dan barang. Kapal ferry adalah bagian dari system transportasi umum yang menghubungkan antar pulau. Sesuai dengan jenis muatan, kapasitas muatan yang dibawa dan perairan atau rute yang yang dilalui kapal ferry memiliki terbagi menjadi beberapa jenis yaitu
a.Catamaran
Katamaran adalah kapal dengan dua lambung yang dihubungkan dengan strukutur bridging, platform ini bebas daripermukaan air, sebagai akibatnya kapal akan mengalami terjangan slamming dan deckwetness dapat dikurangi. Penentuan ketinggian struktur bagian atas dari permukaan air merupakan fungsi dari tinggi gelombang rute pelayaran yang dilalui.[1]
b. Hovercraft
Hovercraft adalah kapal yang berjalan di atas bantalan udara (air cushion). Bantalan udara tersebut ditimbulkan dengan cara meniupkan udara ke ruang bawah kapal ini (plenum chamber) melalui skirt (sekat yang lentur) sehingga tekanan udara di dalam plenum chamber lebih tinggi daripada tekanan udara luar sehingga timbul gaya angkat[2]
c. Ro-ro
Roll-on/roll-off(Roro ) adalah kapal yang di design untuk membawa kendaraan seperti mobil, truck, semi trailer trcks atau railroad car yang dimasukan dan dikeluarkan ke dalam kapal. Berbeda dengan lo-lo (lift-on/lift-off) adalah kapal yang menggunakan crane untul memuat dam membongkar muatan
IV. ANALISAPEMBAHASAN
A. Pelayaran
Salah satu pihak yang mempunyai kepentingan terhadap dioprasikan kapal 5000 GT adalah pihak pelayaran. Maka diperlukan perhitungan mengenai berapa besar biaya dan keuntungan apabila kapal 5000 GT dioprasikan atau tidak dioprasikan. Perhitungan juga dilakukan dengan memvariasiakan pola operasi dari kapal 5000 GT. Pertama mencari data ukuran utama dari kapal 5000 GT. Data yang diambil adalah data kapal pembanding dengan range GT 20% lebih kecil hingga 30% lebih besar dari GT yang diperlukan. Dari data kapal yang diperoleh kemudian dicari L, B, T, H dan DWT.
Tabel 1. contoh kapal 5000 G
Sumber : Germanischer Lloyd
Setelah diketahui ukuran utama, selanjutnya adalah mencari besar hambatan dari kapal 5000 GT. Hambatan kapal terdiri dari hambatan kekentalan, hambatan yang disebabkan oleh tonjolan pada kapal dan hambatan gelombang.[3] Besar hambatan kekentalan adalah 119.151,90 Newton, besar hambatan yang disebabkan oleh tonjolan pada kapal adalah 123.836,68 Newton dan besar hamabatan gelombang adalah 3.29009 x 10⁻⁴⁵ Newton. Setalah diketahui ketiga jenis hambatan maka selanjutnya adalah mencari besar hambatan total. Dengan menjumlahkan ketiga jenis hambatan maka besar hambatan total adalah 242.988,59 Newton.
Setelah diketahui besar hambatan total, maka selanjutnya dalah menjari besar propulsi dari kapal 5000 GT. Langkah awal yang dilakukan adalah mencari besar DHP (Delivered Horse Power). Dengan menggunakan persamaan 2.25 diketahui besar DHP adalah 3.027,035 Kw. Selanjutnya adalah mencari BHP (Break Horse Power) dengan menggunakan persamaan 2.26. Dari perhitungan diketahui besar BHP adalah 3.011,663 Kw. Ditambah koreksi mesin sebesar 3% maka besar BHP total adalah 3.102,02 Kw. Selanjutnya dikonversi menjadi satuan Horse Power maka besar BHP adalah 4.217,51 HP.
Selanjutnya menghitung pola operasi dari kapal, biaya tiap tahun dan pendapatan tiap tahun dengan menggunakan data-data pelabuhan seperti kecepatan bongkar muat, jumlah penumpang dan barang tiap tahun dan tarif pelabuhan seperti biaya tunda, tambat, pandu dan bongkar.
No Nama kapal GT L (m) B(m( T(m) H(m) DWT (ton)
1 Egon 4851 88 16 4.16 10.5 824 2 Farina Nusantara 4824 83.4 16 3.16 5.5 600 3 Titian Nusantara 5532 94.75 19.2 4.6 6.15 871 4 Nusa Jaya 4564 97 18 3.75 5.25 1800 5 Mufidah 5584 93.5 18 4.2 5.8 1427 6 Kumala 5764 94 19.2 4.4 6.3 1146 7 Mitra Nusantara 5813 94.84 19.2 5.11 6.15 1500 8 Marina Nusantara 5272 91 19.2 4.4 6.25 1344 Rata-rata 92.06 18.1 4.22 6.49 1189
Pola Operasi kapal dibagi 6 skenario. Skenario 1 kapal berlayar 2 hari sekali dengan sandar 1 hari di Bawean. Skenario 2 kapal berlayar 3 hari sekali dengan sandar 2 hari di Bawean, skenario 3 kapal berlayar 4 hari sekali dengan sandar 3 hari di Bawean, skenario 4 kapal berlayar 5 hari sekali dengan sandar 4 hari di Bawean, skenario 5 kapal berlayar 6 hari sekali dengan sandar 5 hari di Bawean dan skenario 6 kapal berlayar 7 hari sekali dengan sandar 6 hari di Bawean. Pola pemilikan dari kapal dibagi menjadi 3 yaitu kapal milik sendiri dengan membeli kapal baru, kapal milik sendiri dengan membeli kapal bekas dan menggunakan kapal sewa Selanjutnya mencari total besar biaya dan pendapatan dari setiap pengoperasian skenario dan model pemilikan kapal.
Grafik 1. Total biaya dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000 GT dengan kapal baru
Grafik 2. Total pendapatan dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000
GT dengan kapal baru
Grafik 3. Total biaya dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000
GT dengan kapal bekas
Grafik 4. Total pendapatan dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000 GT dengan kapal bekas
Grafik 5. Total biaya dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000
GT dengan kapal sewa
Grafik 6. Total pendapatan dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000 GT dengan kapal sewa
B. Pelabuhan
Pihak yang berkepentingan bila kapal 5000 GT dioperasikan selain pihak pelayaran adalah pihak pelabuhan. Maka perlu dihitung berapa besar manfaat dan kerugian bila kapal 5000 GT dioperasikan dengan menghitung biaya dan. Besar pendapatan diperoleh dari besar tarif pelabuhan yang harus dibayar oleh kapal apabila kapal bersandar. Tarif pelabuhan tersebut adalah
biaya tambat, biaya pandu dan biaya tunda. Untuk pengoperasian kapal 5000 GT pendapatan pelabuhan bervariasi berdasarkan variasi dari pola operasi kapal 5000 GT.
Pendapatan pelabuhan gresik per tahun Skenario 1 Rp 89,110,000 Skenario 2 Rp 61,617,023 Skenario 3 Rp 47,220,000 Skenario 4 Rp 38,370,000 Skenario 5 Rp 32,470,000 Skenario 6 Rp 28,157,045
Tabel 2. Total pendapatan pelabuhan gresik
Pendapatan pelabuhan Bawean per tahun Skenario 1 Rp 14,155,000 Skenario 2 Rp 38,912,659 Skenario 3 Rp 44,460,000 Skenario 4 Rp 47,880,000 Skenario 5 Rp 50,350,000 Skenario 6 Rp 52,086,494
Tabel 3. Total pendapatan pelabuhan bawean
Sedangkan untuk biaya pelabuhan berasal dari biaya oprasional dari masing-masing pelabuhan.Total biaya untuk pelabuhan Gresik bila kapal 5000 GT dioprasikan adalah Rp 3.333.866.670. Untuk pelabuhan Bawean (Sangkapura) komponen biaya ditambah dengan angsuran cicilan tiap tahun selama 10 tahun sebesar Rp 5.958.641.863 akibat adanya investasi pelabuhan baru sebesar Rp 41.851.007.000 karena ada penambahan infrastruktur akibat dioprasikan kapal 5000 GT. Maka total biaya pelabuhan Bawean tiap tahun adalah Rp 9.395.662.003
Apabila kapal 5000 GT tidak dioprasikan pendapatan pelabuhan berasal dari tarif-tarif pelabuhan yang dikenakan kepada kapal yang ada yang melayani pelayaran Gresik-Bawean. Total pendapatan bila kapal 5000 GT tidak dioprasikan adalah Rp 920.000. Sedangkan untuk biaya berasal dari biaya oprasional pelabuhan tiap tahun. Untuk komponen biaya pada pelabuhan Bawean tidak point investasi pelabuhan karena tidak ada penambahan infrastruktur atau diasumsikan kondisi pelabuhan sesuai yang saat ini. Total biaya oprasional pelabuhan Bawean adalah Rp 2.600.000.000. Sedangkan biaya oprasional pelabuhan Gresik adalah Rp 3.333.866.670.
C. Pengguna kapal
Pihak lain yang mempunyai kepentingan apabila kapal 5000 GT dioprasikan atau tidak dioprasikan adalah pengguna kapal yaitu para penumpang dari kapal. Hal yang menjadi keuntungan bagi pengguna kapal bila kapal 5000 GT dioprasikan atau tidak adalah besar manfaat yang dapat diperoleh dari pengoperasian kapal, sedangkan kerugian yang harus ditanggung adalah biaya yang harus dibayar para pengguna kapal
Kosekuensi yang harus ditanggung oleh penumpang apabila kapal 5000 GT dioprasikan adalah tarif yang harus dibayar penumpang. Tarif yang harus dibayar diperoleh dari besar tarif angkut penumpang dan barang dikalikan dengan frekwensi kapal berlayar selama satu tahun. Besar frekwensi kapal berlayar bervariasi berdasarkan skanario pola oprasi dari kapal 5000 GT.
kapal baru (per tahun) Kapal bekas (per tahun) charter (per tahun) Skanario 1 Rp 110,031,293 Rp 74,315,568 Rp 61,781,033 Skanario 2 Rp 101,782,014 Rp 66,622,083 Rp 53,531,754 Skanario 3 Rp 94,053,214 Rp 62,283,412 Rp 49,287,180 Skanario 4 Rp 88,568,018 Rp 59,616,412 Rp 46,632,484 Skanario 5 Rp 84,821,907 Rp 57,305,439 Rp 44,748,565 Skanario 6 Rp 82,144,199 Rp 54,627,731 Rp 43,449,007
Tabel 4. biaya penumpang kapal dari setiap skanario operasi kapal 5000 GT Bila kapal 5000 GT tidak dioperasikan maka tidak ada keuntungan yang diperoleh oleh penumpang. Sedangkan besar biaya yang harus ditanggung oleh penumpang adalah besar tarif yang harus dibayar oleh penumpang sebesar Rp 120.000 dikalikan frekwensi berlayar kapal selama satu tahun. Untuk barang besar tarif yang harus dibayar adalah besar tarif angkut barang yaitu Rp 132.000 per ton dikalikan besar frekwensi berlayar kapal barang selama satu tahun.
Tabel 4. besar biaya pengguna kapal bila kapal 5000 GT tidak dioperasikan Besar kerugian yang harus ditanggung oleh penumpang akibat kapal tidak beroprasi karena adanya gelombang tinggi diperoleh dari Upah minimum regional Gresik dalam satu bulan yaitu Rp 1.257.000 dikonversikan dalam hari yaitu Rp 41.900 kemudian dikalikan lama kapal tidak bisa berlayar akibat gelombang tinggi yaitu 21 hari dan potensi penumpang selama 1 tahun. Maka besar kerugianya adalah Rp 30.972.480.000.
D. Publik
Dari pengoperasian kapal 5000 GT sektor publik yang mempunyai kepentingan terhadap kapal 5000 GT adalah perusahaan bongkar muat dan masyarakat. Keuntungan diperoleh oleh perusahaan bongkar muat besar payload kapal 5000 GT yaitu 925 ton dikalikan dengan tarif bongkar muat yaitu Rp 350 per ton dan jumlah frekwensi berlayar kapal 5000 GT selama satu tahun.
Nama Kapal Shipment 1 tahun Besar Biaya (Rp per tahun)
Expres Bahari 1C 123 14,760,000
Purnama Indah 24 3.180.000
Fadel indah 24 3.180.000
Barokah Jaya 24 3.180.000
Pendapatan perusahaan B/M per tahun Skenario 1 Rp 62,580,000 Skenario 2 Rp 43,008,728 Skenario 3 Rp 32,760,000 Skenario 4 Rp 26,460,000 Skenario 5 Rp 22,260,000 Skenario 6 Rp 19,189,761
Tabel 5. Besar pendapatan perusahaan B/M bila kapal 5000 GT dioperasikan Bila kapal 5000 GT tidak dioperasikan besar pendapatan diperoleh dari tarif bongkar muat dikalikan dengan payload kapal barang yang beroperasi sekarang dan dikalikan frekwensi berlayar setiap kapal barang.
Tabel 6. Besar pendapatan perusahaan B/M bila kapal 5000 GT tidak
dioperasikan
Bila kapal 5000 GT tidak dioperasikan pihak publik yang mengalami kerugian adalah masyarakat Bawean dengan adanya kenaikan harga beberapa sayur-sayuran yang didatangkan dari Pulau Jawa dan bensin yang disebabkan kapal yang mengangkut sayur-sayuran dan bensin tidak bisa berlayar. Besar kanaikan sayur-sayuran dan bensin dapat mencapai 100 % bila kapal yang mengangkut sayur-sayuran dan bensin tidak bisa berlayar.
Sayur-sayuran: Harga normal Setelah mengalami kenaikan Cabai Rp 56,000 per kg Rp 112,000 Kobis Rp 4,000 per kg Rp 8,000 Kentang Rp 7,000 perkg Rp 14,000 Tomat Rp 11,000 perkg Rp 22,000 Bawang Rp 9,000 per kg Rp 18,000 Wortel Rp 9,000 per kg Rp 18,000 Minyak tanah Rp 2,500 per liter Rp 5,000 Bensin Rp 6,000 per liter Rp 12,000 Tabel 7. Daftar harga barang di Bawean yang mengalami kenaikan
E. Analisa Ratio Biaya Manfaat
Analisa biaya manfaat adalah analisa yang digunakan kelayakan dari suatu proyek pemerintah. Analisa ini digunakan untuk mentaksir berapa besar manfaat dari proyek pemerintah. Proyek pemerintah berbeda dengan proyek swasta yang hanya menekankan aspek profit. Proyek pemerintah selain menekankan aspek profit tapi juga menekankan pada aspek manfaat yang dapat dirasakan atau dinikmati oleh orang banyak. Dengan kata lain diperlukan analisa dan evaluasi dari
biaya yang muncul dengan besar manfaat yang disumbangkan dari proyek tersebut.[4].[5]
Setelah diketahui besar keuntungan atau manfaat dan kerugian atau biaya-biaya yang timbul masing-masing pihak yang berkepentingan dari pengoperasian kapal 5000 GT atau tetap menggunakan kapal yang ada, selanjutnya adalah mencari besar ratio dari setiap skenario pengoperasian kapal 5000 GT dengan kapal yang sedang beroperasi sekarang. Apabila ratio ≥ 1 maka yang diterima adalah opsi yang mempunyai biaya terbesar, bila ratio < 1 maka yang diterima adalah opsi yang mempunyai biaya terkecil.
Grafik 7. Hubungan antara Skenario operasi kapal 5000 GT dengn ratio BCR Berdasarkan grafik 7 pengoperasian kapal 5000 GT di perairan Gresik-Bawean dengan menggunakan kapal sewa dan pola operasi yang digunakan adalah scenario 6 dimana kapal tambat selama 6 hari dari 7 hari berlayar.
KESIMPULAN
Persoalan yang terjadi pada perairan Gresik-Bawean adalah kesulitan transportasi laut akibat gelombang tinggi. Pada saat gelombang tinggi kapal yang ada tidak bisa berlayar sehingga dibutuhkan kapal besar dengan ukuran 5000 GT. Maka diperlukan analisis mengenai biaya dan manfaat pihak-pihak yang berkepentingan dari pengoperasian kapal 5000 GT. Analisis dilakukan dengan membagi 6 skenario pola operasi kapal 5000 GT. Dari perhitungan analisis ratio biaya manfaat maka pengoperasian moda transportasi laut untuk penyebrangan Gresik-Bawean adalah menggunakan kapal sewa dan pola operasi yang digunakan adalah scenario 6 dimana kapal tambat selama 6 hari dari 7 hari berlayar.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis YH menyampaikan terima kasih kepada Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang telah memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana pendidikan. Penulis juga berterima kasih kepada keluarga, dosen pembimbing yang memberikan arahan serta bimbingan dalam selama proses penelitian, para dosen di Jurusan Teknik Perkapalan, teman-teman, dan beberapa pihak yang terkait dengan pengerjaan penelitian ini
Nama Kapal Frekwensi Payload Pendapatan perusahaan B/M (Rp per tahun) Purnama Indah 24 150 Rp 1.260.000 Fadel indah 24 150 Rp 1.260.000 Barokah Jaya 24 120 Rp 1.008.000 Berkat utama 24 120 Rp 1.008.000 Total Rp 4.536.000
DAFTAR PUSTAKA
[1] Mardianto, O. D. (2010). Analisis Teknis Dan Ekonomis Perencangan Kapal Cruise Wisata. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember [2] Wikipedia. (2012, Februari 10). Kapal Bantalan Udara. Retrieved from
www.Wikipedia.org.
[3] Hermawan, Y. (2008). Laporan Tugas Merancang 1. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember
[4] J.Kodoatie, R. (1995). Analisis Ekonomi Teknik. Yogyakarta: Andi [5] Raharjo, F. (2007). Ekonomi Teknik Analisis Pengambilan Keputusan.