• Tidak ada hasil yang ditemukan

18 Kode Etik_sdm Pkh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "18 Kode Etik_sdm Pkh"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

September 2018 September 2018 Nomor : /LJS.JSK.TU/09/2018

Nomor : /LJS.JSK.TU/09/2018 Lampiran

Lampiran : : 1 1 (satu) (satu) berkasberkas Hal

Hal : : PenyampaiPenyampaian an Kode Kode Etik Etik SDM SDM PKHPKH

Yth. SDM Program Keluarga Harapan Yth. SDM Program Keluarga Harapan

di di

-Seluruh Indonesia Seluruh Indonesia

Bersama ini kami sampaikan bahwa, dalam rangka mewujudkan SDM PKH yang Bersama ini kami sampaikan bahwa, dalam rangka mewujudkan SDM PKH yang santun, berintegritas, dan profesional serta untuk mewujudkan pelaksanaan PKH yang santun, berintegritas, dan profesional serta untuk mewujudkan pelaksanaan PKH yang transparan dan akuntabel, Direktorat Jaminan Sosial Keluarga, Direktorat Jenderal transparan dan akuntabel, Direktorat Jaminan Sosial Keluarga, Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial telah menyusun Kode Etik bagi SDM PKH sebagai Perlindungan dan Jaminan Sosial telah menyusun Kode Etik bagi SDM PKH sebagai pedoman dalam

pedoman dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan tugas dan kewajiban selaku kewajiban selaku pelaksana PKH.pelaksana PKH.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami sampaikan Peraturan Direktur Jenderal Sehubungan dengan hal tersebut, kami sampaikan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01/LJS/08/2018 tentang Kode Etik Sumber Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01/LJS/08/2018 tentang Kode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan sebagaimana terlampir.

Daya Manusia Program Keluarga Harapan sebagaimana terlampir.  Atas perh

 Atas perhatian dan atian dan kerjasamkerjasama yang ba yang baik, kami aik, kami sampaikan sampaikan terimakasterimakasih.ih.

Direktur Jaminan Sosial Keluarg Direktur Jaminan Sosial Keluarg a,a,

Nur Pujianto Nur Pujianto

Tembusan: Tembusan:

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial

KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

Jalan Salemba

Jalan Salemba Raya Nomor Raya Nomor 28, Jakarta Pusat 28, Jakarta Pusat 10430 10430 Telp. (021) Telp. (021) 3925153 3925153 Fax. (021) Fax. (021) 39251533925153 Laman: http://www.kemsos.go.id

(2)

KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PERATURAN

DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL

NOMOR 01/LJS/08/2018 NOMOR 01/LJS/08/2018

 TENTANG  TENTANG

KODE ETIK SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM KELUARGA HARAPAN KODE ETIK SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM KELUARGA HARAPAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL, DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL,

Menimbang

Menimbang : : a. a. bahwa bahwa untuk untuk melaksanakan melaksanakan tugas tugas dan dan fungsi fungsi DirektoratDirektorat  Jenderal

 Jenderal Perlindungan Perlindungan dan dan Jaminan Jaminan Sosial Sosial padapada Program Keluarga Harapan diperlukan sumber daya Program Keluarga Harapan diperlukan sumber daya manusia yang santun, berintegritas, profesional, dan manusia yang santun, berintegritas, profesional, dan akuntabel sehingga diperlukan kode etik sumber daya akuntabel sehingga diperlukan kode etik sumber daya manusia program keluarga harapan yang menjadi manusia program keluarga harapan yang menjadi pedoman dalam bersikap, berperilaku, dan bertindak; pedoman dalam bersikap, berperilaku, dan bertindak; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial tentang Kode Etik Sumber Daya Manusia Program tentang Kode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan;

Keluarga Harapan;

Mengingat

Mengingat : : 1. 1. Undang-Undang Undang-Undang Nomor Nomor 11 11 Tahun Tahun 2009 2009 tentangtentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967);

Negara Republik Indonesia Nomor 4967); 2.

2. Undang-Undang Nomor Undang-Undang Nomor 13 Tahun 13 Tahun 2011 tentang2011 tentang Penanganan Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Penanganan Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 83, Tambahan Lembaran Indonesia Tahun 2011 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5235);

Negara Republik Indonesia Nomor 5235); 3.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentangPeraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (Lembaran Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 68, Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 68,  Tambahan Lemba

 Tambahan Lembaran ran Negara Republik Negara Republik Indonesia TahunIndonesia Tahun 2012 Nomor 5294)

(3)

4.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2013 tentangPeraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Upaya Penanganan Fakir Miskin Melalui Pelaksanaan Upaya Penanganan Fakir Miskin Melalui Pendekatan Wilayah (Lembaran Negara Republik Pendekatan Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 157, Tambahan Lembaran Indonesia Tahun 2013 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5449);

Negara Republik Indonesia Nomor 5449); 5.

5. Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2015 TentangPeraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2015 Tentang Kementerian Sosial (Lembaran Negara Republik Kementerian Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 86);

Indonesia Tahun 2015 Nomor 86); 6.

6. Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentangPeraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1845) Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1845) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Sosial RI Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1125); Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1125); 7.

7. Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2017 tentangPeraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Kesejahteraan Sosial (Berita Negara Republik Indonesia  Tahun 2017 Nomor 1167);

 Tahun 2017 Nomor 1167); 8.

8. Peraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2017 tentangPeraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2017 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 940) sebagaimana telah Indonesia Tahun 2017 Nomor 940) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara 2018 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 187);

Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 187);

MEMUTUSKAN MEMUTUSKAN

MENETAPKAN

MENETAPKAN : : PERATURAN PERATURAN DIREKTUR DIREKTUR JENDERAL JENDERAL PERLINDUNGAN PERLINDUNGAN DANDAN  JAMINAN

 JAMINAN SOSIAL SOSIAL TENTANG TENTANG KODE KODE ETIK ETIK SUMBER SUMBER DAYADAYA MANUSIA PROGRAM KELUARGA HARAPAN

(4)

BAB I BAB I KETENTUAN UMUM KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1.

1. Kode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan selanjutnyaKode Etik Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan selanjutnya disebut Kode Etik adalah pedoman yang berisi nilai-nilai yang mengatur disebut Kode Etik adalah pedoman yang berisi nilai-nilai yang mengatur sikap, perilaku, dan tindakan Sumber Daya Manusia Program Keluarga sikap, perilaku, dan tindakan Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Harapan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. 2.

2. Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disingkat PKH adalahProgram Keluarga Harapan yang selanjutnya disingkat PKH adalah program pemberian bantuan social bersyarat kepada keluarga dan/ program pemberian bantuan social bersyarat kepada keluarga dan/ seseorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program seseorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, diolah oleh Pusat Data dan Informasi penanganan fakir miskin, diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH.

PKH. 3.

3. Sumber Daya Manusia PKH selanjutnya disingkat SDM PKH adalahSumber Daya Manusia PKH selanjutnya disingkat SDM PKH adalah tenaga pelaksana PKH yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan tenaga pelaksana PKH yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jaminan Sosial Keluarga untuk jangka

Direktur Jaminan Sosial Keluarga untuk jangka waktu tertentu.waktu tertentu. 4.

4. Keluarga Keluarga Penerima PPenerima Pelayanan yang elayanan yang selanjutnya selanjutnya disingkat disingkat KPM KPM adalahadalah keluarga penerima bantuan sosial PKH yang telah memenuhi syarat dan keluarga penerima bantuan sosial PKH yang telah memenuhi syarat dan ditetapkan dalam keputusan.

ditetapkan dalam keputusan. 5.

5. Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik dan benar serta telah disepakatiNilai adalah sesuatu yang dianggap baik dan benar serta telah disepakati dalam pelaksanaan PKH.

dalam pelaksanaan PKH. 6.

6. Komisi Etik SDM PKH adalah tim yang diangkat dan ditetapkan olehKomisi Etik SDM PKH adalah tim yang diangkat dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial untuk melakukan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial untuk melakukan pencegahan dan penanganan Pelanggaran.

pencegahan dan penanganan Pelanggaran. 7.

7.  Tim  Tim Ad-Hoc Ad-Hoc adalah adalah tim tim yang yang dibentuk dibentuk sesuai sesuai kebutuhan kebutuhan untukuntuk membantu tugas Komisi Etik.

membantu tugas Komisi Etik. 8.

8. Contact Center PKH adalah pusat pelayanan pengaduan, yang menerimaContact Center PKH adalah pusat pelayanan pengaduan, yang menerima pengaduan melalui telepon, surat elektronik, online messenger, layanan pengaduan melalui telepon, surat elektronik, online messenger, layanan pesan singkat, media sosial, dan yang datang langsung untuk pesan singkat, media sosial, dan yang datang langsung untuk menyampaikan pengaduan.

menyampaikan pengaduan. 9.

9. Pengawasan adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikanPengawasan adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan kepatuhan SDM PKH dalam melaksanakan Kode Etik dan menghindari kepatuhan SDM PKH dalam melaksanakan Kode Etik dan menghindari kemungkinan adanya pelanggaran.

kemungkinan adanya pelanggaran. 10.

10. Pengaduan adalah proses penyampaian informasi, keluhan, atau masalahPengaduan adalah proses penyampaian informasi, keluhan, atau masalah terkait dengan pelaksanaan PKH.

(5)

11.

11. Pelanggaran adalah segala bentuk sikap, perilaku, dan tindakanPelanggaran adalah segala bentuk sikap, perilaku, dan tindakan ketidakpatuhan SDM PKH terhadap Kode Etik.

ketidakpatuhan SDM PKH terhadap Kode Etik. 12.

12. Pemeriksaan adalah proses mengumpulkan dan mengolah data,Pemeriksaan adalah proses mengumpulkan dan mengolah data, keterangan, bukti-bukti terhadap dugaan Pelanggaran.

keterangan, bukti-bukti terhadap dugaan Pelanggaran. 13.

13.  Taat asas adalah kepatuhan pada peraturan perundang-undan Taat asas adalah kepatuhan pada peraturan perundang-undangan.gan. 14.

14. Sanksi adalah hukuman yang diberikan kepada SDM PKH yangSanksi adalah hukuman yang diberikan kepada SDM PKH yang melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik.

melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik. 15.

15.  Terlapor  Terlapor adalah adalah SDM SDM PKH PKH yang yang dirujuk dirujuk kepada kepada Komisi Komisi Etik Etik terkaitterkait dugaan Pelanggaran.

dugaan Pelanggaran. 16.

16. Pelapor adalah pihak yang menyampaikan informasi, keluhan, atauPelapor adalah pihak yang menyampaikan informasi, keluhan, atau masalah terkait dugaan Pelanggaran dengan menyertakan bukti-bukti. masalah terkait dugaan Pelanggaran dengan menyertakan bukti-bukti. 17.

17. Saksi adalah pihak yang memberikan keterangan guna kepentinganSaksi adalah pihak yang memberikan keterangan guna kepentingan Pemeriksaan.

Pemeriksaan. 18.

18. Rekan Sejawat adalah rekan kerja di lingkup SDM PKH.Rekan Sejawat adalah rekan kerja di lingkup SDM PKH. 19.

19. Mitra Kerja adalah individu, kelompok, lembaga pemerintah, dan lembagaMitra Kerja adalah individu, kelompok, lembaga pemerintah, dan lembaga nonpemerintah yang memiliki hubungan kerja dengan SDM PKH.

nonpemerintah yang memiliki hubungan kerja dengan SDM PKH. 20.

20. Penanggung Jawab PKH adalah Menteri Sosial.Penanggung Jawab PKH adalah Menteri Sosial.

Pasal 2 Pasal 2 (1)

(1) SDM PKH terdiri atas:SDM PKH terdiri atas: a.

a. penasihat nasional;penasihat nasional; b.

b. tenaga bantuan teknis;tenaga bantuan teknis; c.

c. tenaga ahli;tenaga ahli; d.

d. asisten tenaga ahli;asisten tenaga ahli; e.

e. koordinator regional;koordinator regional; f.

f. koordinator wilayah;koordinator wilayah; g.

g. koordinator kabupaten/kota;koordinator kabupaten/kota; h.

h. pekerja sosial supervisor;pekerja sosial supervisor; i.

i. pendamping sosial;pendamping sosial;  j.

 j. asisten pendamping sosial; danasisten pendamping sosial; dan k.

k. administrator pangkalan data.administrator pangkalan data. (2)

(2) SDM PKH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai ketentuanSDM PKH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(6)

BAB II BAB II

MAKSUD, TUJUAN, PRINSIP, DAN RUANG LINGKUP MAKSUD, TUJUAN, PRINSIP, DAN RUANG LINGKUP

Pasal 3 Pasal 3

Penyelenggaraan kode etik dimaksudkan untuk mewujudkan SDM PKH yang Penyelenggaraan kode etik dimaksudkan untuk mewujudkan SDM PKH yang santun, berintegritas, dan profesional serta menjaga reputasi dan kredibilitas santun, berintegritas, dan profesional serta menjaga reputasi dan kredibilitas PKH dan institusi Kementerian Sosial.

PKH dan institusi Kementerian Sosial.

Pasal 4 Pasal 4 Kode Etik SDM PKH bertujuan untuk: Kode Etik SDM PKH bertujuan untuk: a.

a. menjadi pedoman bagi SDM PKH dalam bersikap, berperilaku danmenjadi pedoman bagi SDM PKH dalam bersikap, berperilaku dan bertindak dalam melaksanakan tugas dan kewajiban;

bertindak dalam melaksanakan tugas dan kewajiban; b.

b. menjaga keharmonisan hubungan dalam lingkungan kerja, masyarakat,menjaga keharmonisan hubungan dalam lingkungan kerja, masyarakat, dan pemangku kepentingan;

dan pemangku kepentingan; c.

c. menjadi pedoman bagi Komisi Etik dan pemangku kepentingan dalammenjadi pedoman bagi Komisi Etik dan pemangku kepentingan dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kode etik;

melakukan pengawasan pelaksanaan kode etik; d.

d. memberikan kejelasan hak dan kewajiban para pihak dalam penanganmemberikan kejelasan hak dan kewajiban para pihak dalam penangan anan pelanggaran etik pelaksanaan PKH; dan

pelanggaran etik pelaksanaan PKH; dan e.

e. meningkatkan produktivitas kinerja SDM PKH.meningkatkan produktivitas kinerja SDM PKH.

Pasal 5 Pasal 5

Prinsip-prinsip penyelenggaraan Kode Etik terdiri atas: Prinsip-prinsip penyelenggaraan Kode Etik terdiri atas: a.

a. keadilan dan keseimbangan yaitukeadilan dan keseimbangan yaitu menitikberatkan pada kondisimenitikberatkan pada kondisi terpenuhinya rasa adil bagi semua pihak terkait dalam penanganan terpenuhinya rasa adil bagi semua pihak terkait dalam penanganan pelanggaran etik;

pelanggaran etik; b.

b. independen yaituindependen yaitu mandiri dan bebas dari kepentingan serta tidakmandiri dan bebas dari kepentingan serta tidak memihak;

memihak; c.

c. akuntabilitas yaitu mempertanggungjawabkan seluruh kerja, tindakan,akuntabilitas yaitu mempertanggungjawabkan seluruh kerja, tindakan, dan keputusan;

dan keputusan; d.

d. transparansi yaitu penegakan etik dilaksanakan secara terbuka, jujur,transparansi yaitu penegakan etik dilaksanakan secara terbuka, jujur, dan dapat diawasi oleh semua pihak;

dan dapat diawasi oleh semua pihak; e.

e. kerahasiaan yaitu membatasi pemberian data dan informasi hanyakerahasiaan yaitu membatasi pemberian data dan informasi hanya kepada pihak yang berkepentingan sebagai bentuk perlindungan kepada pihak yang berkepentingan sebagai bentuk perlindungan terhadap Terlapor dan Pelapor; dan

terhadap Terlapor dan Pelapor; dan f.

f. nondiskriminasi yaitu tidak membedakan budaya, ras, etnis, adat, warnanondiskriminasi yaitu tidak membedakan budaya, ras, etnis, adat, warna kulit, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, jabatan, golongan kulit, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, jabatan, golongan dan kondisi disabilitas.

(7)

Pasal 6 Pasal 6 Ruang lingkup Kode Etik meliputi:

Ruang lingkup Kode Etik meliputi: a.

a. nilai-nilai dasar;nilai-nilai dasar; b.

b. kewajiban dan larangan;kewajiban dan larangan; c.

c. etika hubungan;etika hubungan; d.

d. pelanggaran dan sanksi;pelanggaran dan sanksi; e.

e. komisi etik; dankomisi etik; dan f.

f. mekanisme penegakan etik.mekanisme penegakan etik.

BAB III BAB III NILAI-NILAI DASAR NILAI-NILAI DASAR Bagian Kesatu Bagian Kesatu Umum Umum Pasal 7 Pasal 7 (1)

(1) Nilai-nilai dasar Kode Etik yang harus dijunjung tinggi dan ditaati olehNilai-nilai dasar Kode Etik yang harus dijunjung tinggi dan ditaati oleh setiap SDM PKH meliputi:

setiap SDM PKH meliputi: a.

a. santun;santun; b.

b. integritas; danintegritas; dan c.

c. profesional.profesional. (2)

(2) Santun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan sikap,Santun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan sikap, perilaku, dan tindakan yang menghormati dan menghargai harkat dan perilaku, dan tindakan yang menghormati dan menghargai harkat dan martabat KPM, Rekan Sejawat, Penanggung Jawab PKH dan Mitra kerja. martabat KPM, Rekan Sejawat, Penanggung Jawab PKH dan Mitra kerja. (3)

(3) Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan sikap,merupakan sikap, perilaku, dan tindakan yang konsisten dan selaras tercermin dalam perilaku, dan tindakan yang konsisten dan selaras tercermin dalam komitmen, jujur dan tanggung jawab terhadap PKH.

komitmen, jujur dan tanggung jawab terhadap PKH. (4)

(4) Profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakanProfesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan sikap, perilaku, dan tindakan yang bertanggung-jawab, berdisiplin, taat sikap, perilaku, dan tindakan yang bertanggung-jawab, berdisiplin, taat asas, dan berkompeten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban untuk asas, dan berkompeten dalam melaksanakan tugas dan kewajiban untuk mencapai hasil kerja yang terbaik.

(8)

BAB IV BAB IV KODE ETIK KODE ETIK Bagian Kesatu Bagian Kesatu Umum Umum Pasal 8 Pasal 8 (1)

(1) Kode Etik meliputi:Kode Etik meliputi: a.

a. kewajiban;kewajiban; b.

b. larangan; danlarangan; dan c.

c. etika hubungan.etika hubungan. (2)

(2) Pelaksanaan Kode Etik dilandasi nilai-nilai dasar sebagaimana dimaksudPelaksanaan Kode Etik dilandasi nilai-nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1).

dalam Pasal 7 ayat (1). (3)

(3) Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib untuk ditaati olehKode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib untuk ditaati oleh SDM PKH. SDM PKH. Bagian Kedua Bagian Kedua Kewajiban Kewajiban Pasal 9 Pasal 9 (1)

(1) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf aKewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a dilandasi oleh nilai-nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal

dilandasi oleh nilai-nilai dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat7 ayat (1) meliputi:

(1) meliputi: a.

a. santun;santun; b.

b. integritas; danintegritas; dan c.

c. profesional.profesional. (2)

(2) Santun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan denganSantun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan:

menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan: a.

a. menerima orang lain sebagai individu yang memiliki latar belakangmenerima orang lain sebagai individu yang memiliki latar belakang dan kapasitas yang berbeda-beda;

dan kapasitas yang berbeda-beda; b.

b. menerima perbedaan sosial budaya, ras, etnis, adat, warna kulit,menerima perbedaan sosial budaya, ras, etnis, adat, warna kulit,  jenis

 jenis kelamin, kelamin, umur, umur, status status perkawinan, perkawinan, agama, agama, jabatan, jabatan, golongangolongan dan kondisi disabilitas;

dan kondisi disabilitas; c.

c. ramah dan bertutur kata sopan serta tidak merendahkan dalamramah dan bertutur kata sopan serta tidak merendahkan dalam berkomunikasi;

berkomunikasi; d.

(9)

e.

e. bijak dalam menyampaikan informasi, pernyataan, opini dan bentukbijak dalam menyampaikan informasi, pernyataan, opini dan bentuk lainnya melalui semua jenis media berupa tulisan, foto, gambar, lainnya melalui semua jenis media berupa tulisan, foto, gambar, audio dan video.

audio dan video. (3)

(3) Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b Integritas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan dengandilakukan dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan:

menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan: a.

a. mematuhi dan menerapkan nilai dan norma yang berlaku dalammematuhi dan menerapkan nilai dan norma yang berlaku dalam PKH dan Kementerian Sosial secara konsisten;

PKH dan Kementerian Sosial secara konsisten; b.

b. proaktif dalam mencegah terjadinya korupsi serta tidak melibatkanproaktif dalam mencegah terjadinya korupsi serta tidak melibatkan diri dalam perbuatan tercela.

diri dalam perbuatan tercela. c.

c. menjaga kerahasiaan data dan informasi yang menyangkut jabatan,menjaga kerahasiaan data dan informasi yang menyangkut jabatan, rahasia negara, program, dan penerima manfaat sesuai dengan rahasia negara, program, dan penerima manfaat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

ketentuan peraturan perundang-undangan; d.

d. bertanggung jawab untuk turut serta mengatasi kendala dalambertanggung jawab untuk turut serta mengatasi kendala dalam pelaksanaan tugas;

pelaksanaan tugas; e.

e. bertanggung jawab untuk menjaga dan/atau memelihara barangbertanggung jawab untuk menjaga dan/atau memelihara barang milik negara yang digunakan dalam pelaksanaan tugas; dan

milik negara yang digunakan dalam pelaksanaan tugas; dan f.

f.  jujur  jujur dan dan mampu mampu mempertanggungjawabkan mempertanggungjawabkan setiap setiap perkataan perkataan dandan perbuatan.

perbuatan. (4)

(4) Profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukanProfesional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukan dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan:

dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan tindakan: a.

a. melaksanakan tugas dan fungsi berdasarkan pengetahuan danmelaksanakan tugas dan fungsi berdasarkan pengetahuan dan keterampilan sesuai standar operasional prosedur yang berlaku; keterampilan sesuai standar operasional prosedur yang berlaku; b.

b. melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik, benar, tuntas danmelaksanakan tugas yang diberikan dengan baik, benar, tuntas dan tepat waktu;

tepat waktu; c.

c. meningkatkan kompetensi diri secara terus menerus untukmeningkatkan kompetensi diri secara terus menerus untuk mendukung pelaksanaan tugas; dan

mendukung pelaksanaan tugas; dan d.

d. melakukan koordinasi dan konsultasi untuk menjaga kualitasmelakukan koordinasi dan konsultasi untuk menjaga kualitas kinerja. kinerja. Bagian Ketiga Bagian Ketiga Larangan Larangan Pasal 10 Pasal 10

Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b meliputi: Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b meliputi: a.

a. berperilaku tidak terpuji/tercela yang bertentangan dengan normaberperilaku tidak terpuji/tercela yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat mencemarkan nama baik dan reputasi Kementerian kesusilaan dan dapat mencemarkan nama baik dan reputasi Kementerian Sosial;

Sosial; b.

b. menggunakan data dan/atau informasi yang dimiliki untuk hal-hal dimenggunakan data dan/atau informasi yang dimiliki untuk hal-hal di luar tugas pelaksanaan PKH;

(10)

c.

c. memberikan keterangan palsu atau memanipulasi data dan/ataumemberikan keterangan palsu atau memanipulasi data dan/atau informasi untuk kepentingan pribadi dan/atau

informasi untuk kepentingan pribadi dan/atau kelompok;kelompok; d.

d. menyebarkan pendapat yang bersifat provokatif terkait kebijakan danmenyebarkan pendapat yang bersifat provokatif terkait kebijakan dan pelaksanaan PKH dalam bentuk tulisan, foto, gambar, audio dan video di pelaksanaan PKH dalam bentuk tulisan, foto, gambar, audio dan video di semua jenis media;

semua jenis media; e.

e. melakukan penggelapan dan penyalahgunaan uang serta mengutip,melakukan penggelapan dan penyalahgunaan uang serta mengutip, mengurangi, membawa, menyimpan, dan/atau menarik uang bantuan mengurangi, membawa, menyimpan, dan/atau menarik uang bantuan program;

program; f.

f. melakukan aktivitas dengan pihak-pihak yang berpotensi menimbulkanmelakukan aktivitas dengan pihak-pihak yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan;

benturan kepentingan; g.

g. memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaatmemanfaatkan jabatan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri dan/atau orang lain;

bagi diri sendiri dan/atau orang lain; h.

h. menerima hadiah dan/atau imbalan yang dapat mempengaruhimenerima hadiah dan/atau imbalan yang dapat mempengaruhi independensi dan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas PKH;

independensi dan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas PKH; i.

i. terlibat dalam aktivitas politik praktis seperti pengurus danterlibat dalam aktivitas politik praktis seperti pengurus dan /atau anggota/atau anggota Partai Politik, menjadi juru kampanye, melakukan kampanye, mendaftar Partai Politik, menjadi juru kampanye, melakukan kampanye, mendaftar menjadi calon anggota legislatif pusat ataupun daerah, mendaftar menjadi calon anggota legislatif pusat ataupun daerah, mendaftar menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, mendaftar menjadi menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, mendaftar menjadi calon pada Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Kepala Desa dan sebutan calon pada Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Kepala Desa dan sebutan lainnya;

lainnya;  j.

 j. menjadi pegawai atau petugas pelaksana pemilihan umum pusat, daerahmenjadi pegawai atau petugas pelaksana pemilihan umum pusat, daerah provinsi, daerah kabupaten/kota, kecamatan, dan/atau provinsi, daerah kabupaten/kota, kecamatan, dan/atau desa/kelurahan/ nama lain;

desa/kelurahan/ nama lain; k.

k. melakukan pekerjaan yang mendapat imbalan dan beresiko mengurangimelakukan pekerjaan yang mendapat imbalan dan beresiko mengurangi  jam kerja pelaksanaan PKH;

 jam kerja pelaksanaan PKH; l.

l. menggunakan atribut PKH untuk kepentingan lain di luar kepentinganmenggunakan atribut PKH untuk kepentingan lain di luar kepentingan PKH; dan

PKH; dan m.

m. melakukan tindakan asusila, kekerasan fisik, psikis, seksual dan/ataumelakukan tindakan asusila, kekerasan fisik, psikis, seksual dan/atau eksploitasi. eksploitasi. Bagian Keempat Bagian Keempat Etika Hubungan Etika Hubungan Pasal 11 Pasal 11 (1)

(1) Etika hubungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf cEtika hubungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf c meliputi:

meliputi: a.

a. etika dengan KPM;etika dengan KPM; b.

(11)

c.

c. etika terhadap Penanggung Jawab PKH; danetika terhadap Penanggung Jawab PKH; dan d.

d. etika dengan Mitra Kerjaetika dengan Mitra Kerja (2)

(2) Etika dengan KPM sebagaimana dimaksud pada aEtika dengan KPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:yat (1) huruf a meliputi: a.

a. berinteraksi dengan KPM PKH dengan penuh komitmen, tanggungberinteraksi dengan KPM PKH dengan penuh komitmen, tanggung  jawab,

 jawab, dan dan jujur jujur dilandasi dilandasi sikap sikap saling saling menghormati menghormati dandan menghargai;

menghargai; b.

b. memberikan layanan kepada KPM tanpa membeda-bedakan budaya,memberikan layanan kepada KPM tanpa membeda-bedakan budaya, ras, etnis, adat, warna kulit, jenis kelamin,umur, status perkawinan, ras, etnis, adat, warna kulit, jenis kelamin,umur, status perkawinan, agama, jabatan, golongan, maupun kondisi disabilitas;

agama, jabatan, golongan, maupun kondisi disabilitas; c.

c. bersikap dan berperilaku sopan, berbudi bahasa halus, sabar, danbersikap dan berperilaku sopan, berbudi bahasa halus, sabar, dan tenang dalam memberikan edukasi dan bimbingan kepada KPM; tenang dalam memberikan edukasi dan bimbingan kepada KPM; d.

d. memberikan informasi secara akurat, terkini, lengkap dan terbukamemberikan informasi secara akurat, terkini, lengkap dan terbuka kepada KPM

kepada KPM terkait kebijterkait kebijakan akan dan pelaksanaan dan pelaksanaan PKH;PKH; e.

e. proaktif terhadap pemenuhan hak dan kebutuhan KPM yangproaktif terhadap pemenuhan hak dan kebutuhan KPM yang dilakukan secara profesional dan adil untuk kepentingan terbaik dilakukan secara profesional dan adil untuk kepentingan terbaik KPM;

KPM; f.

f. proaktif dalam memotivasi KPM untuk menjalankan kewajibannya;proaktif dalam memotivasi KPM untuk menjalankan kewajibannya; g.

g. memberi kesempatan kepada KPM untuk mengambil keputusanmemberi kesempatan kepada KPM untuk mengambil keputusan  yang

 yang terkait terkait dengan dengan kebutuhan kebutuhan dirinya dirinya secara secara bertanggung bertanggung jawabjawab dan sesuai dengan kebijakan pelaksanaan PKH;

dan sesuai dengan kebijakan pelaksanaan PKH; h.

h. meminta persetujuan KPM dalam hal mendokumentasikan danmeminta persetujuan KPM dalam hal mendokumentasikan dan mempublikasikan

mempublikasikan kondisi kondisi KPM demi KPM demi melindungi hak melindungi hak KPM;KPM; i.

i. menjalin hubungan profesional dengan mengedepankan objektivitasmenjalin hubungan profesional dengan mengedepankan objektivitas tanpa dipengaruhi hubungan pribadi; dan

tanpa dipengaruhi hubungan pribadi; dan  j.

 j. menjaga kerahasiaan KPM dengan tidak memanfaatkan informasimenjaga kerahasiaan KPM dengan tidak memanfaatkan informasi  yang merugikannya kecuali untuk kepentingan pelaksanaan PKH.  yang merugikannya kecuali untuk kepentingan pelaksanaan PKH. (3)

(3) Etika dengan Rekan Sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurufEtika dengan Rekan Sejawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:

b meliputi: a.

a. bersikap saling memercayai, menghormati, menghargai, membantu,bersikap saling memercayai, menghormati, menghargai, membantu, memotivasi, dan bekerjasama dalam tim;

memotivasi, dan bekerjasama dalam tim; b.

b. menjalin hubungan profesional dengan mengedepankan objektivitasmenjalin hubungan profesional dengan mengedepankan objektivitas tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi;

tanpa dipengaruhi kepentingan pribadi; c.

c. menghargai perbedaan pendapat serta terbuka menerima kritik danmenghargai perbedaan pendapat serta terbuka menerima kritik dan saran dalam melaksanakan tugas sebagai SDM PKH; dan

saran dalam melaksanakan tugas sebagai SDM PKH; dan d.

d. proaktif dalam mencari solusi pemecahan masalah jika terjadiproaktif dalam mencari solusi pemecahan masalah jika terjadi konflik dengan rekan sejawat.

konflik dengan rekan sejawat. (4)

(4) Etika dengan Penanggung Jawab PKH sebagaimana dimaksud pada ayatEtika dengan Penanggung Jawab PKH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:

(12)

a.

a. taat asas terhadap kebijakan dan hierarki organisasi PKH;taat asas terhadap kebijakan dan hierarki organisasi PKH; b.

b. sigap dan tanggap terhadap tugas yang diberikan dengan penuhsigap dan tanggap terhadap tugas yang diberikan dengan penuh komitmen dan tanggung jawab;

komitmen dan tanggung jawab; c.

c. menjaga kebenaran dan ketepatan data pelaksanaan PKH; danmenjaga kebenaran dan ketepatan data pelaksanaan PKH; dan d.

d. menjaga transparansi dan akuntabilitas bantuan sosial PKH.menjaga transparansi dan akuntabilitas bantuan sosial PKH. (5)

(5) Etika dengan Mitra Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf dEtika dengan Mitra Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:

meliputi: a.

a. menunjukkan sikap dan perilaku bertanggung jawab, disiplin, Taatmenunjukkan sikap dan perilaku bertanggung jawab, disiplin, Taat Asas, dan kompeten dalam koordinasi dan kerja sama dengan Mitra Asas, dan kompeten dalam koordinasi dan kerja sama dengan Mitra Kerja PKH;

Kerja PKH; b.

b. saling menghargai dan membina hubungan timbal balik yang eratsaling menghargai dan membina hubungan timbal balik yang erat secara berkelanjutan untuk kepentingan PKH;

secara berkelanjutan untuk kepentingan PKH; c.

c. proaktif untuk melibatkan mitra kerja dalam mencari solusiproaktif untuk melibatkan mitra kerja dalam mencari solusi pemecahan masalah jika terjadi kendala dalam pelaksanaan PKH; pemecahan masalah jika terjadi kendala dalam pelaksanaan PKH; dan

dan d.

d. melaksanakan melaksanakan tugas tugas berlandaskan berlandaskan prinsip prinsip profesionalitas,profesionalitas, akuntabilitas dan transparansi.

akuntabilitas dan transparansi.

BAB V BAB V

PELANGGARAN KODE ETIK PELANGGARAN KODE ETIK

Bagian Kesatu Bagian Kesatu Umum Umum Pasal 12 Pasal 12 (1)

(1) SDM PKH yang terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dikenakanSDM PKH yang terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dikenakan sanksi.

sanksi. (2)

(2) Pelanggaran Kode Etik sebagaimana dimaksud pada aPelanggaran Kode Etik sebagaimana dimaksud pada a yat (1) terdiri atas:yat (1) terdiri atas: a.

a.  Tidak  Tidak menaati Kewajiban menaati Kewajiban sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud dalam Pasal dalam Pasal 9 ayat9 ayat (1) huruf a;

(1) huruf a; b.

b. Melakukan perbuatan yang termasuk larangan sebagaimana yangMelakukan perbuatan yang termasuk larangan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b; dan/atau

dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b; dan/atau c.

c.  Tidak menaati etika  Tidak menaati etika hubungan sebagaimana hubungan sebagaimana dimaksud dalam dimaksud dalam PasalPasal 9 ayat (1) huruf c.

9 ayat (1) huruf c. (3)

(3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara tertulis.Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara tertulis. (4)

(4) Dalam pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harusDalam pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disebutkan tingkat pelanggaran Kode Etik yang dilakukan.

(13)

Bagian Kedua Bagian Kedua Pelanggaran Pelanggaran Pasal 13 Pasal 13 (1)

(1)  Tingkat  Tingkat Pelanggaran Pelanggaran sebagaimana sebagaimana dimaksud dimaksud dalam dalam Pasal Pasal 12 12 ayat ayat (2)(2) terdiri atas:

terdiri atas: a.

a. ringan;ringan; b.

b. sedang; atausedang; atau c.

c. beratberat (2)

(2)  Tingkat  Tingkat pelanggaran pelanggaran sebagaimana sebagaimana dimaksud dimaksud pada pada ayat ayat (1) (1) ditentukanditentukan oleh:

oleh: a.

a. pelanggaran yang dilakukan;pelanggaran yang dilakukan; b.

b. adanya unsur kesengajaan atau direncanakan;adanya unsur kesengajaan atau direncanakan; c.

c. akibat yang diderita oleh korban;akibat yang diderita oleh korban; d.

d. menjadi pelaku utama atau turut serta; dan/ataumenjadi pelaku utama atau turut serta; dan/atau e.

e. merupakan pelanggaran pertama atau pengulangan.merupakan pelanggaran pertama atau pengulangan. (3)

(3)  Tingkat  Tingkat pelanggaran pelanggaran sebagaimana sebagaimana dimaksud dimaksud pada pada ayat ayat (1) (1) diatur diatur dalamdalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VI BAB VI KOMISI ETIK KOMISI ETIK Bagian Kesatu Bagian Kesatu Umum Umum Pasal 14 Pasal 14 (1)

(1) Pembentukan Komisi Etik SDM PKH bertujuan:Pembentukan Komisi Etik SDM PKH bertujuan: a.

a. terlaksananya pembinaan etik, penegakan disiplin, danterlaksananya pembinaan etik, penegakan disiplin, dan penyelesaian Pelanggaran secara cepat, tepat, efektif, dan penyelesaian Pelanggaran secara cepat, tepat, efektif, dan berkeadilan; dan

berkeadilan; dan b.

b. terlindunginya hak-hak KPM, SDM dan Penanggung Jawab PKH.terlindunginya hak-hak KPM, SDM dan Penanggung Jawab PKH. (2)

(2) Hak-hak KPM, SDM, dan Penanggung Jawab PKH sebagaimanaHak-hak KPM, SDM, dan Penanggung Jawab PKH sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf b sesuai ketentuan peraturan dimaksud pada ayat (1) huruf b sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(14)

Bagian Kedua Bagian Kedua

Pembentukan Komisi Etik Pembentukan Komisi Etik

Pasal 15 Pasal 15 (1)

(1) Komisi Etik dibentuk dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal PerlindunganKomisi Etik dibentuk dan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

dan Jaminan Sosial. (2)

(2) Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawabKomisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial. (3)

(3) Susunan organisasi Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)Susunan organisasi Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota.

terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota. (4)

(4) Masa tugas Komisi Etik selama 3 (tiga) tahun.Masa tugas Komisi Etik selama 3 (tiga) tahun. (5)

(5) Komisi Etik berkedudukan di Jakarta.Komisi Etik berkedudukan di Jakarta. (6)

(6) Komisi Etik bersifat kolektif kolegial.Komisi Etik bersifat kolektif kolegial. (7)

(7) Komisi Etik dalam penyelenggaraan Kode Etik dibantu oleh sekretariatKomisi Etik dalam penyelenggaraan Kode Etik dibantu oleh sekretariat  yang

 yang dibentuk dibentuk sesuai sesuai kebutuhan kebutuhan berdasarkan berdasarkan keputusan keputusan DirekturDirektur  Jaminan Sosial Keluarga.

 Jaminan Sosial Keluarga.

Pasal 16 Pasal 16 (1)

(1) Komisi Etik dalam menegakkan Kode Etik didukung oleh TimKomisi Etik dalam menegakkan Kode Etik didukung oleh Tim Ad Hoc Ad Hoc  yang yang

dibentuk sesuai kebutuhan berdasarkan penugasan oleh Direktur dibentuk sesuai kebutuhan berdasarkan penugasan oleh Direktur  Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial atas usulan Komisi Etik.

 Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial atas usulan Komisi Etik. (2)

(2) Ketentuan pembentukan Tim Ad Hoc sebagaimana dimaksud pada ayatKetentuan pembentukan Tim Ad Hoc sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur berdasarkan perundang-undangan.

(1) diatur berdasarkan perundang-undangan.

Pasal 17 Pasal 17 (1)

(1) Anggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3)Anggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) diangkat dan diberhentikan berdasarkan Surat Keputusan Direktur diangkat dan diberhentikan berdasarkan Surat Keputusan Direktur  Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

 Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial. (2)

(2) Anggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakanAnggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakan paling sedikit 5 (lima) orang.

paling sedikit 5 (lima) orang. (3)

(3) Komisi Etik beranggotakan kelompok profesional di bidang pekerjaanKomisi Etik beranggotakan kelompok profesional di bidang pekerjaan sosial, hukum, psikologi, manajemen, serta profesi lainnya yang sosial, hukum, psikologi, manajemen, serta profesi lainnya yang dibutuhkan.

dibutuhkan. (4)

(4) Syarat anggota Komisi Etik meliputi:Syarat anggota Komisi Etik meliputi: a.

a. warga Negara Indonesia;warga Negara Indonesia; b.

b. pendidikan minimal S1 / D4;pendidikan minimal S1 / D4; c.

c. sehat jasmani dan rohani;sehat jasmani dan rohani; d.

(15)

e.

e. tidak pernah dipidana dengan pidana penjara;tidak pernah dipidana dengan pidana penjara; f.

f. memiliki kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan untukmemiliki kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk mendukung penyelenggaraan dan penegakkan Kode Etik;

mendukung penyelenggaraan dan penegakkan Kode Etik; g.

g. memiliki komitmen menjalankan tugas;memiliki komitmen menjalankan tugas; h.

h. memiliki rekam jejak integritas, kredibilitas, dan moralitas yang baik;memiliki rekam jejak integritas, kredibilitas, dan moralitas yang baik; dan

dan i.

i. tidak sedang menjadi anggota atau pengurus tidak sedang menjadi anggota atau pengurus partai politikpartai politik (5)

(5) Anggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukanAnggota Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui proses seleksi

melalui proses seleksi (6)

(6) Proses seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat Proses seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan:(5) dilakukan: a.

a. Direktur Jaminan Sosial Keluarga mengajukan usulan calon anggotaDirektur Jaminan Sosial Keluarga mengajukan usulan calon anggota Komisi Etik kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Komisi Etik kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial;

Sosial; b.

b. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial melakukanDirektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial melakukan seleksi atas usulan calon anggota Komisi Etik; dan

seleksi atas usulan calon anggota Komisi Etik; dan c.

c. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial menetapkanDirektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial menetapkan anggota Komisi Etik.

anggota Komisi Etik. (7)

(7) Pemberhentian anggota Komisi Etik dapat dilakukan karena:Pemberhentian anggota Komisi Etik dapat dilakukan karena: a.

a. berakhir masa jabatan;berakhir masa jabatan; b.

b. meninggal dunia;meninggal dunia; c.

c. mengundurkan diri secara sukarela;mengundurkan diri secara sukarela; d.

d. diberhentikan karena pelanggaran etik atau pelanggaran hukum; ataudiberhentikan karena pelanggaran etik atau pelanggaran hukum; atau e.

e. tidak dapat melaksanakan tugas sebagai tidak dapat melaksanakan tugas sebagai Komisi Etik.Komisi Etik.

Pasal 18 Pasal 18 (1)

(1) Fungsi Komisi Etik sebagai berikut:Fungsi Komisi Etik sebagai berikut: a.

a. melakukan pencegahan; danmelakukan pencegahan; dan b.

b. melakukan penanganan terhadap Pelanggaran;melakukan penanganan terhadap Pelanggaran; (2)

(2)  Tugas Komisi Etik terdiri atas: Tugas Komisi Etik terdiri atas: a.

a. menyusun dan menerbitkan pedoman penyelenggaraan Kode Etik;menyusun dan menerbitkan pedoman penyelenggaraan Kode Etik; b.

b. sosialisasi Kode Etik;sosialisasi Kode Etik; c.

c. melakukan pemeriksaan terhadap pengaduan;melakukan pemeriksaan terhadap pengaduan; d.

d. melakukan sidang dan menetapkan tingkat pelanggaran Kode Etik;melakukan sidang dan menetapkan tingkat pelanggaran Kode Etik; e.

e. membuat rekomendasi hasil putusan sidang etik;membuat rekomendasi hasil putusan sidang etik; f.

f. monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Kode Etik; danmonitoring dan evaluasi penyelenggaraan Kode Etik; dan (3)

(3) Komisi Etik berwenang untuk:Komisi Etik berwenang untuk: a.

a. memanggil dan memeriksa Pelapor, Terlapor, dan Saksi dalam prosesmemanggil dan memeriksa Pelapor, Terlapor, dan Saksi dalam proses pemeriksaan dan sidang etik;

(16)

b.

b. mengusulkan tim ad hoc kepada Direktur Jenderal Perlindungan danmengusulkan tim ad hoc kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan  Jaminan Sosial;

 Jaminan Sosial; c.

c. memutuskan/menetapkan rekomendasi sanksi jika Terlapor terbuktimemutuskan/menetapkan rekomendasi sanksi jika Terlapor terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik; dan

melakukan pelanggaran Kode Etik; dan d.

d. memberikan laporan dan rekomendasi hasil sidang etik kepadamemberikan laporan dan rekomendasi hasil sidang etik kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

BAB VII BAB VII

MEKANISME PENEGAKAN ETIK MEKANISME PENEGAKAN ETIK

Bagian Kesatu Bagian Kesatu Umum Umum Pasal 19 Pasal 19 Mekanisme penegakan Etik terdiri atas: Mekanisme penegakan Etik terdiri atas: a.

a. Pengaduan;Pengaduan; b.

b. Pemeriksaan;Pemeriksaan; c.

c. sidang Komisi Etik;sidang Komisi Etik; d.

d. Sanksi; danSanksi; dan e. e. rekomendasi.rekomendasi. Bagian Kedua Bagian Kedua Pengaduan/Pelaporan Pengaduan/Pelaporan Paragraf 1 Paragraf 1 umum umum Pasal 20 Pasal 20 (1)

(1) Pengaduan/pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf aPengaduan/pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a dapat dilakukan oleh:

dapat dilakukan oleh: a.

a. KPM PKH;KPM PKH; b.

b. SDM PKH;SDM PKH; c.

c. Mitra kerja; dan/atauMitra kerja; dan/atau d.

d. masyarakat.masyarakat. (2)

(2) Pengaduan yang ditindaklanjuti Komisi Etik merupakan pelanggaranPengaduan yang ditindaklanjuti Komisi Etik merupakan pelanggaran Kode Etik.

Kode Etik. (3)

(3) Pihak-pihak yang melakukan pengaduan sebagaimana dimaksud padaPihak-pihak yang melakukan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dijamin kerahasiaannya.

(17)

Paragraf 2 Paragraf 2

 Tata Cara Pengaduan  Tata Cara Pengaduan

Pasal 21 Pasal 21 (1)

(1) Pengaduan dilakukan melaluiPengaduan dilakukan melalui Contact Center Contact Center  PKH. PKH.

(2)

(2) Data dan informasi terkait pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayatData dan informasi terkait pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijamin kerahasiannya.

(1) dijamin kerahasiannya. (3)

(3) Data dan informasi terkait pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayatData dan informasi terkait pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diverifikasi oleh Tim Pengelola Contact Center PKH dan Penanganan (2) diverifikasi oleh Tim Pengelola Contact Center PKH dan Penanganan Pengaduan.

Pengaduan. (4)

(4)  Tim  Tim Pengelola Pengelola Contact Contact Center Center PKH PKH dan dan Penanganan Penanganan PengaduanPengaduan menyampaikan hasil verifikasi kepada Direktur Jaminan Sosial Keluarga. menyampaikan hasil verifikasi kepada Direktur Jaminan Sosial Keluarga. (5)

(5) Direktur Jaminan Sosial Keluarga menyampaikan hasil verifikasi yangDirektur Jaminan Sosial Keluarga menyampaikan hasil verifikasi yang terkait dengan pelanggaran etik kepada Komisi Etik untuk terkait dengan pelanggaran etik kepada Komisi Etik untuk ditindaklanjuti.

ditindaklanjuti. (6)

(6)  Tim  Tim Pengelola Pengelola Contact Contact Center Center PKH PKH dan dan Penanganan Penanganan PengaduanPengaduan menginformasikan status pengaduan kepada Pelapor.

menginformasikan status pengaduan kepada Pelapor.

Bagian ketiga Bagian ketiga

Pemeriksaan Hasil Pengaduan Pemeriksaan Hasil Pengaduan

Pasal 22 Pasal 22 (1)

(1)  Tindak lanjut pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat  Tindak lanjut pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (5)(5) dilakukan melalui pemeriksaan oleh Komisi Etik sesuai dengan dilakukan melalui pemeriksaan oleh Komisi Etik sesuai dengan kewenangannya.

kewenangannya. (2)

(2) Komisi Etik dapat mengusulkan pembentukanKomisi Etik dapat mengusulkan pembentukan Tim Ad Hoc Tim Ad Hoc   untuk  untuk

membantu Pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan. membantu Pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan. (3)

(3) Pemeriksaan sebagaimana tercantum pada ayat (1) mencakup:Pemeriksaan sebagaimana tercantum pada ayat (1) mencakup: a.

a. verifikasi dan validasi terhadap dokumen pengaduan;verifikasi dan validasi terhadap dokumen pengaduan; b.

b. pengumpulan bukti, data, dan petunjuk yang diperlukan;pengumpulan bukti, data, dan petunjuk yang diperlukan; c.

c. meminta keterangan dari Pelapor;meminta keterangan dari Pelapor; d.

d. memeriksa Terlapor;memeriksa Terlapor; e.

e. meminta keterangan dari Saksi; danmeminta keterangan dari Saksi; dan f.

f. membuat laporan hasil pemeriksaan.membuat laporan hasil pemeriksaan. (4)

(4) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana pada ayat (3) huruf c, Komisi EtikDalam hal pemeriksaan sebagaimana pada ayat (3) huruf c, Komisi Etik menjamin kerahasiaan identitas dan keterangan Pelapor.

menjamin kerahasiaan identitas dan keterangan Pelapor. (5)

(5) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana pada ayat (3) huruf d, TerlaporDalam hal pemeriksaan sebagaimana pada ayat (3) huruf d, Terlapor memiliki hak jawab.

memiliki hak jawab. (6)

(18)

menjamin kerahasiaan identitas dan keterangan saksi. menjamin kerahasiaan identitas dan keterangan saksi. (7)

(7) Laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf fLaporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f terdiri atas:

terdiri atas: a.

a. hasil analisa fakta, data, petunjuk, serta keterangan Pelapor, Saksi,hasil analisa fakta, data, petunjuk, serta keterangan Pelapor, Saksi, dan Terlapor yang diperoleh;

dan Terlapor yang diperoleh; b.

b. kesimpulan terbukti atau tidak terbuktinya dugaan Pelanggaran kesimpulan terbukti atau tidak terbuktinya dugaan Pelanggaran oleholeh  Terlapor; dan

 Terlapor; dan c.

c. rekomendasi yang dapat diberikan kepada Terlapor.rekomendasi yang dapat diberikan kepada Terlapor. (8)

(8) Waktu penyelesaian pemeriksaan pelanggaran kode etik sebagaimanaWaktu penyelesaian pemeriksaan pelanggaran kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kecukupan dan dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kecukupan dan kelengkapan alat bukti.

kelengkapan alat bukti. (9)

(9) Dalam hal hasil pemeriksaan menunjukkan kekurangan bukti danDalam hal hasil pemeriksaan menunjukkan kekurangan bukti dan ketiadaan saksi yang mencukupi maka proses pemeriksaan dihentikan. ketiadaan saksi yang mencukupi maka proses pemeriksaan dihentikan.

Bagian Keempat Bagian Keempat Sidang Etik Sidang Etik Pasal 23 Pasal 23 (1)

(1) Sidang Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b dilakukanSidang Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b dilakukan oleh Komisi Etik.

oleh Komisi Etik. (2)

(2) Komisi Etik melakukan sidang untuk membahas hasil pemeriksaanKomisi Etik melakukan sidang untuk membahas hasil pemeriksaan dalam rangka menetapkan rekomendasi.

dalam rangka menetapkan rekomendasi. (3)

(3) Sidang Komisi Etik dilakukan oleh Komisi Etik yang dihadiri oleh palingSidang Komisi Etik dilakukan oleh Komisi Etik yang dihadiri oleh paling sedikit 3 (tiga) atau 5 (lima) anggota Komisi Etik.

sedikit 3 (tiga) atau 5 (lima) anggota Komisi Etik. (4)

(4) Pelaksanaan sidang Komisi Etik dilakukan secara tertutup.Pelaksanaan sidang Komisi Etik dilakukan secara tertutup. (5)

(5) Penetapan rekomendasi pada sidang Komisi Etik dilakukan secaraPenetapan rekomendasi pada sidang Komisi Etik dilakukan secara musyawarah mufakat.

musyawarah mufakat. (6)

(6) Dalam hal musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (5)Dalam hal musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak tercapai, penetapan rekomendasi diambil berdasarkan suara tidak tercapai, penetapan rekomendasi diambil berdasarkan suara terbanyak.

terbanyak. (7)

(7) Rekomendasi hasil Sidang Komisi Etik bersifat final.Rekomendasi hasil Sidang Komisi Etik bersifat final.

Bagian Keempat Bagian Keempat Sanksi Sanksi Pasal 24 Pasal 24 (1)

(1) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf d terdiri atas:Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf d terdiri atas: a.

(19)

b.

b. sedang; dansedang; dan c.

c. berat.berat. (2)

(2) Sanksi ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa suratSanksi ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa surat keputusan peringatan pertama.

keputusan peringatan pertama. (3)

(3) Sanksi sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:Sanksi sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a.

a. teguran tertulis berupa surat keputusan peringatan kedua; danteguran tertulis berupa surat keputusan peringatan kedua; dan b.

b. penundaan honorpenundaan honor (4)

(4) Sanksi berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa suratSanksi berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa surat keputusan pemberhentian sebagai SDM PKH

keputusan pemberhentian sebagai SDM PKH (5)

(5) Penundaan honor sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berlakuPenundaan honor sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b berlaku sejak dikeluarkan keputusan Direktur Jaminan Sosial Keluarga

sejak dikeluarkan keputusan Direktur Jaminan Sosial Keluarga (6)

(6) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat ditindaklanjuti melalui(4) dapat ditindaklanjuti melalui proses hukum yang berlaku

proses hukum yang berlaku (7)

(7) Dalam hal pelanggaran yang dilakukan oleh Terlapor terbuktiDalam hal pelanggaran yang dilakukan oleh Terlapor terbukti mengakibatkan kerugian keuangan negara, Terlapor mengembalikan mengakibatkan kerugian keuangan negara, Terlapor mengembalikan kerugian keuangan negara sesuai dengan peraturan kerugian keuangan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan

undangan

Bagian Keenam Bagian Keenam

Rekomendasi dan Keputusan Rekomendasi dan Keputusan

Paragraf 1 Paragraf 1 Rekomendasi Rekomendasi Pasal 25 Pasal 25 (1)

(1) Komisi Etik membuat rekomendasi sebagai tindak lanjut hasilKomisi Etik membuat rekomendasi sebagai tindak lanjut hasil Pemeriksaan dan/atau sidang Komisi Etik.

Pemeriksaan dan/atau sidang Komisi Etik. (2)

(2) Hasil Pemeriksaan dan/atau sidang Komisi Etik sebagaimana dimaksudHasil Pemeriksaan dan/atau sidang Komisi Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:

pada ayat (1) dapat berupa: a.

a. terbukti melakukan pelanggaran; atauterbukti melakukan pelanggaran; atau b.

b. tidak terbukti melakukan pelanggaran.tidak terbukti melakukan pelanggaran. (3)

(3) Dalam hal Terlapor terbukti melakukan pelanggaran sebagaimanaDalam hal Terlapor terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, Komisi Etik membuat rekomendasi dimaksud pada ayat (2) huruf a, Komisi Etik membuat rekomendasi sanksi.

sanksi. (4)

(4) Dalam hal Terlapor tidak terbukti melakukan pelanggaran sebagaimanaDalam hal Terlapor tidak terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud

dimaksud pada ayat (2) huruf b, Komisi Etik merekomendasikanpada ayat (2) huruf b, Komisi Etik merekomendasikan dilakukan pemulihan nama baik Terlapor.

(20)

(5)

(5) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepadaRekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial untuk diambil Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial untuk diambil keputusan. keputusan. Paragraf 2 Paragraf 2 Keputusan Keputusan Pasal 26 Pasal 26 (1)

(1) Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial menugaskanDirektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial menugaskan Direktur Jaminan Sosial Keluarga untuk menindaklanjuti pelanggaran Direktur Jaminan Sosial Keluarga untuk menindaklanjuti pelanggaran kode etik berdasarkan rekomendasi dalam Pasal 25

kode etik berdasarkan rekomendasi dalam Pasal 25 ayat (5).ayat (5). (2)

(2) Direktur Jaminan Sosial Keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)Direktur Jaminan Sosial Keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menetapkan surat keputusan pelanggaran kode etik.

menetapkan surat keputusan pelanggaran kode etik. (3)

(3) surat keputusan pelanggaran kode etik sebagaimana dimaksud padasurat keputusan pelanggaran kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada pelapor dan terlapor dengan tembusan ayat (2) disampaikan kepada pelapor dan terlapor dengan tembusan kepada Komisi Etik.

kepada Komisi Etik.

BAB VIII BAB VIII PELAPORAN PELAPORAN Pasal 27 Pasal 27 (1)

(1) Komisi Etik menyampaikan laporan tertulis mengenai kegiatan KomisiKomisi Etik menyampaikan laporan tertulis mengenai kegiatan Komisi Etik kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial.

Etik kepada Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial. (2)

(2) Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial sebagaimanaDirektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan laporan tertulis kepada Menteri dimaksud pada ayat (1) menyampaikan laporan tertulis kepada Menteri Sosial mengenai kegiatan Komisi Etik.

Sosial mengenai kegiatan Komisi Etik. (3)

(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukanPelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan secara periodik setiap 3 (tiga) bulan dan/atau setiap saat ketika secara periodik setiap 3 (tiga) bulan dan/atau setiap saat ketika dibutuhkan oleh penanggung jawab program atau pihak terkait.

dibutuhkan oleh penanggung jawab program atau pihak terkait.

BAB IX BAB IX

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 28 Pasal 28 (1)

(1) Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial melakukanDirektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial melakukan pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan Komisi Etik. pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan Komisi Etik. (2)

(2) Masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaanMasyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Komisi Etik sesuai dengan mekanisme penegakan Kode Etik kegiatan Komisi Etik sesuai dengan mekanisme penegakan Kode Etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 sampai dengan Pasal 24.

(21)

BAB X BAB X KETENTUAN PENUTUP KETENTUAN PENUTUP Pasal 29 Pasal 29

Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada

Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 10 Agustus 2018 pada tanggal 10 Agustus 2018

DIREKTUR JENDERAL DIREKTUR JENDERAL

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL, PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL,

(22)

RAHASIA RAHASIA

LAPORAN/ PENGADUAN LISAN LAPORAN/ PENGADUAN LISAN

NOMOR NOMOR IDENTITAS PELAPOR IDENTITAS PELAPOR NAMA : NAMA : ALAMAT : ALAMAT : NO.

NO. TELP TELP / / HP HP ::

EMAIL : EMAIL : IDENTITAS TERLAPOR IDENTITAS TERLAPOR NAMA : NAMA :  JABATAN  JABATAN :: SAKSI SAKSI NAMA : NAMA : ALAMAT : ALAMAT : NO.

NO. TELP TELP / / HP HP ::

EMAIL : EMAIL : Isi Laporan : Isi Laporan : ... ... ... ...

Demikian laporan ini dibuat dengan sebenarnya di ... Demikian laporan ini dibuat dengan sebenarnya di ...

..., tanggal ... ..., tanggal ... Pegawai

Pegawai Penerima Penerima Laporan Laporan PelaporPelapor

... ... ... ...

LAMPIRAN I

LAMPIRAN I :: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL 

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL  SOSIAL  NOMOR NOMOR : : 01/LJS/08/201801/LJS/08/2018  TANGGAL: 10 AGUSTUS 2018  TANGGAL: 10 AGUSTUS 2018 Contoh: Contoh:

Laporan/ Pengaduan Lisan Laporan/ Pengaduan Lisan

(23)

RAHASIA RAHASIA PENGADUAN TERTULIS PENGADUAN TERTULIS NOMOR NOMOR IDENTITAS PELAPOR IDENTITAS PELAPOR NAMA : NAMA : ALAMAT : ALAMAT : NO.

NO. TELP TELP / / HP HP ::

EMAIL : EMAIL : IDENTITAS TERLAPOR IDENTITAS TERLAPOR NAMA : NAMA :  JABATAN  JABATAN :: SAKSI SAKSI NAMA : NAMA : ALAMAT : ALAMAT : NO.

NO. TELP TELP / / HP HP ::

EMAIL : EMAIL : Isi Laporan : Isi Laporan : ... ... ... ...

Demikian laporan ini dibuat dengan sebenarnya di ... Demikian laporan ini dibuat dengan sebenarnya di ...

..., tanggal ... ..., tanggal ... Pelapor Pelapor ... ... LAMPIRAN II

LAMPIRAN II :: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL 

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL  PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL 

NOMOR NOMOR : : 01/LJS/08/201801/LJS/08/2018  TANGGAL: 10 AGUSTUS 2018  TANGGAL: 10 AGUSTUS 2018 Contoh: Contoh:

Surat Pengaduan Tertulis Surat Pengaduan Tertulis

(24)

LAMPIRAN III

LAMPIRAN III :: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL 

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL  PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL 

NOMOR NOMOR : : 01/LJS/08/201801/LJS/08/2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018 Contoh: Contoh: Surat Panggilan Surat Panggilan RAHASIA RAHASIA SURAT PANGGILAN SURAT PANGGILAN NOMOR NOMOR

Bersama ini dimohon kehadiran saudara Bersama ini dimohon kehadiran saudara

NAMA : NAMA :  JABATAN  JABATAN :: ALAMAT : ALAMAT : NO.

NO. TELP/HP TELP/HP ::

Untuk menghadap kepada Untuk menghadap kepada

NAMA NAMA  JABATAN  JABATAN ALAMAT ALAMAT Pada Pada Hari : Hari :  Tanggal  Tanggal :: Pukul : Pukul :  Tempat  Tempat ::

Untuk diperiksa/dimintai keterangan*) sehubungan dengan dugaan pelanggaran Kode Etik **) Untuk diperiksa/dimintai keterangan*) sehubungan dengan dugaan pelanggaran Kode Etik **)

Demikian untuk dilaksanakan. Demikian untuk dilaksanakan.

... ...

Direktur Jaminan Sosial Keluarga Direktur Jaminan Sosial Keluarga

Nama ... Nama ...  Tembusan:  Tembusan: 1. 1. ... 2. 2. ... *) coret yang tidak perlu *) coret yang tidak perlu

**) Tulislah pelanggaran kode etik yang dilakukan **) Tulislah pelanggaran kode etik yang dilakukan

(25)

LAMPIRAN IV

LAMPIRAN IV :: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL 

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL  PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL 

NOMOR NOMOR : : 01/LJS/08/201801/LJS/08/2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018 RAHASIA RAHASIA

BERITA ACARA PEMERIKSAAN BERITA ACARA PEMERIKSAAN

Pada hari ini ...tanggal ...bulan...tahun ... saya/Anggota Komisi*) Pada hari ini ...tanggal ...bulan...tahun ... saya/Anggota Komisi*) 1 1 Nama Nama :: ………..………..  Jabatan  Jabatan :: ………..……….. 2 2 Nama Nama :: ………..………..  Jabatan  Jabatan :: ………..……….. 3 Dst 3 Dst

berdasarkan wewenang yang ada pada saya/Surat Perintah*)... telah

berdasarkan wewenang yang ada pada saya/Surat Perintah*)... telah melakukan pemeriksaan terhadap :melakukan pemeriksaan terhadap :

Nama : Nama : ………..………..  Jabatan  Jabatan :: ………..……….. Alamat Alamat : : ... ... ...

Karena yang bersangkutan diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal....angka....huruf... Karena yang bersangkutan diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal....angka....huruf... Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial No 01/ LJS/08/2018 tentang Kode Etik SDM PKH. Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial No 01/ LJS/08/2018 tentang Kode Etik SDM PKH.

1. 1. PertanyaanPertanyaan 1. 1.  Jawaban Jawaban 2. 2. PertanyaanPertanyaan 2. Jawaban 2. Jawaban 3. 3. DstDst Yang di periksa Yang di periksa Nama : Nama :  Jabatan  Jabatan ::  Tanda Tangan :  Tanda Tangan : Komisi Etik : Komisi Etik : 1. 1. 2. 2. 3. 3. DstDst Contoh: Contoh:

Berita Acara Pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan

(26)

Ditetapkan di…… Ditetapkan di…… Pada Tanggal……. Pada Tanggal…….

Direktur Jaminan Sosial Keluarga Direktur Jaminan Sosial Keluarga

……… ………

 Tembusan  Tembusan YthYth

1. 1. ……….………. 2. 2. ……….………. 3. 3. ……….………. Contoh: Contoh:

Surat Keputusan Peringatan Surat Keputusan Peringatan Pertama

Pertama

LAMPIRAN V

LAMPIRAN V :: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL 

PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL  PERLINDUNGAN DAN JAMINAN SOSIAL 

NOMOR NOMOR : : 01/LJS/08/201801/LJS/08/2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018  TANGGAL : 10 AGUSTUS 2018 RAHASIA RAHASIA KEPUTUSAN… KEPUTUSAN… NOMOR NOMOR Membaca

Membaca : : 1.1. Laporan dari………...tanggal……….tentang pelanggaran kode etik yang dilakukan olehLaporan dari………...tanggal……….tentang pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Sdr………….… tanggal ………;

Sdr………….… tanggal ………; 2.

2. 3.

3. Hasil pemeriksaan tanggal………Hasil pemeriksaan tanggal……… Menimbang

Menimbang : : a.a. bahwa menurut hasil bahwa menurut hasil pemeriksaapemeriksaan tersebut, n tersebut, Sdr…..telah melakukan perbuatan berupa……;Sdr…..telah melakukan perbuatan berupa……; b.

b. bahwa perbuatan tersebut merupakan perlanggaran terhadap ketentuan Pasal… angka….. hurufbahwa perbuatan tersebut merupakan perlanggaran terhadap ketentuan Pasal… angka….. huruf ….Peraturan Direktu

….Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01/ LJS/ r Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 01/ LJS/ 08/ 2018;08/ 2018; c.

c. ;; d.

d. bahwa untuk menegakkan kode bahwa untuk menegakkan kode etik perlu menjatuhkan sanksi yang etik perlu menjatuhkan sanksi yang sesuai dengan pelanggaransesuai dengan pelanggaran  yang dilakukan

 yang dilakukannya;nya; e.

e. bahwa berdasarkan pertimbanbahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf gan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, b, huruf c, dandan huruf d perlu

huruf d perlu menetapkan keputusamenetapkan keputusan tentang sanksi ringan berupa surat keputusan peringatann tentang sanksi ringan berupa surat keputusan peringatan pertama;

pertama; Mengingat

Mengingat : : 1.1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara RepublikUndang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12,

Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran NegarTambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967);a Republik Indonesia Nomor 4967); 2.

2. Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja KementerianPeraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1845) sebagaimana telah diubah Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1845) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan dengan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 20

Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (BeritaTahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1125);

Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1125); 3.

3. Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Sumber Daya ManusiaPeraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahtera

Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (Berita Negara an Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1167);Nomor 1167); 4.

4. Peraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2017 tentang Program Keluarga Harapan (Berita NegaraPeraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2017 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 940)

Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 940) sebagaimansebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteria telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 1

Sosial Nomor 1 Tahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik IndonesiaTahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan (Berita Negara Republik Indonesia  Tahun 2018 Nomor 187);

 Tahun 2018 Nomor 187); 5.

5. …..….. 6.

6. Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial No.01/LJS/08/2018Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial No.01/LJS/08/2018 tentang Kodetentang Kode Etik SDM PKH Etik SDM PKH MEMUTUSKAN MEMUTUSKAN Menetapkan Menetapkan KESATU

KESATU : : Menjatuhkan Menjatuhkan sanksi sanksi berupa berupa surat surat keputusan keputusan peringatan peringatan pertamapertama Nama :

Nama :  Jabatan  Jabatan ::

karena yang bersangkutan

karena yang bersangkutan pada……..telapada……..telah melakukan perbuatan yang h melakukan perbuatan yang melanggar ketentuanmelanggar ketentuan Pasal……Pasal…… angka….huru

angka….huruf…. Peraturan Direktur f…. Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial No.01/LJS/08/20No.01/LJS/08/201818 tentang Kode Etik SDM PKH.

tentang Kode Etik SDM PKH. KEDUA

KEDUA : : Keputusan Keputusan ini ini berlaku berlaku mulai mulai tanggal tanggal ditetapkan ditetapkan dan dan apabila apabila dalam kurun dalam kurun waktu waktu 2 2 (dua) (dua) bulanbulan Saudara kembali melakukan pelanggaran kode etik,

Saudara kembali melakukan pelanggaran kode etik, akan dikeluarkan Surat Keputusan Peringatanakan dikeluarkan Surat Keputusan Peringatan Kedua.

Kedua. KETIGA :

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pendanaan Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga.. Pedoman Monitoring dan

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penamaan Program Studi Pada Perguruan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1956);

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor

Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 81 Tahun 2017 ten tang Statuta Universitas Riau (Berita Negara Republik Indoensia Tahun 2017 Nomor 1860;.. 6.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 10 TAHUN 2022 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 65 TAHUN 2017 TENTANG PERATURAN

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR KOMPETENSI PEKERJA SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA,