BAB 2
LANDASAN TEORI& PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Kerangka Teori dan Literatur
Di bab ini akan diuraikan teori-teori yang berhubungan dengan topik ini yang diperoleh dari penelitian kepustakaan. Berikut penjelasan-penjelasannya:
2.1.1 Definisi Dividen
Dividen adalah proporsi laba atau keuntungan yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimilikinya (Baridwan, 2000:434). Semua keuntungan ataupun kerugian yang diperoleh perusahaan selama berusaha dalam satu periode tersebut dilaporkan oleh direksi kepada para pemegang saham dalam suatu rapat pemegang saham.
2.1.2 Jenis-jenis Dividen
Menurut Brigham dan Houtston (2013) dividen terbagi menjadi lima bentuk yang dibagi oleh perusahaan
a) Dividen Kas
Dividen kas ialah dividen yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya dalam bentuk uang tunai (cash). Pada waktu rapat pemegang saham, perusahaan memutuskan bahwa sejumlah tertentu dari laba perusahaan akan dibagi dalam bentuk
Perusahaan hanya berkewajiban membayar dividen setelah perusahaan tersebut mengumumkan akan membayar dividen. Dividen dibayarkan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham. Yang perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya dividen kas adalah apakah jumlah kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen tersebut.
b) Dividen Hutang (Script Dividend)
Script dividend adalah suatu surat tanda kesediaan membayar sejumlah uang tertentu yang diberikan perusahaan kepada para pemegang saham sebagai dividen. Surat ini berbunga sampai dengan dibayarkannya uang tersebut kepada yang berhak.
c) Dividen Aktiva selain Kas (Property Dividend)
Dividen properti adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham dalam bentuk barang-barang (tidak berupa uang tunai ataupun (modal) saham perusahaan). Contoh dividen barang adalah dividen berupa persediaan atau saham yang merupakan investasi perusahaan pada perusahaan lain.
d) Dividen Likuidasi
Dividen likuidasi adalah dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham, dimana sebagian dari jumlah tersebut dimaksudkan sebagai pembayaran bagian laba (Cash Dividend), sedangkan sebagian lagi dimaksudkan sebagai pengembalian
modal yang ditanamkan (diinvestasikan) oleh para pemegang saham ke dalam perusahaan tersebut.
e) Dividen Saham (Stock Dividen)
Stock dividend adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham. Dividen saham adalah pembagian tambahan saham tanpa dipungut pembayaran kepada pemegang saham, sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya. Dividen saham dapat berupa saham yang jenisnya sama maupun yang jenisnya berbeda.
2.1.3 Kebijakan Dividen
Menurut Emery (2009:504) Mengatakan bahwa “a Firm’s dividend policy is an established guide for the firm to determine the amount of money, it will payout as dividend”.Menurut wetson dan Copeland (1996:119) dinyatakan bahwa: “kebijakan dividen mengcakup pembagian lama antara pemegang saham dan investasi kembali perusahaan. Laba ditahan merupakan salah satu sumber dana paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan, tetapi dividen merupakan arus kas yang disisihkan untuk pemegang saham”.Jadi, kebijakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi masa yang akan datang. Dalm penelitian ini penulis menggunakan dividend smoothing sebagai kebijakan dividen
menanamkan modalnya di perusahan dengan pemberian dividen yang stabil setiap tahunnya.
Hal terbaik yang dapat dikatakan adalah bahwa nilai dividen tergantung pada lingkungan pengambil keputusan. Oleh karena lingkungan berubah sewaktu-waktu, seorang manajer dihadapkan dengan tidak relevannya dividen pada waktu tertentu dan dalam waktu tertentu menjadi suatu utama atau penting. Dari penelitian terdahulu mengenai dividend pay out ratio, Dihasilkan beberapa teori yang sampai saat ini dijadikan sebagai referensi dan literature untuk penelitian2 selanjutnya.Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen menurut Weston dan Copeland (1996) diantaranya:
1. Undang – Undang
Undang-undang menentukan bahwa dividen harus dibayarkan dari laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada pada pos “laba ditahan (retained earning) di neraca. Dalam hal ini peraturan pemerintah menekankan 3 hal “
a. Peraturan laba bersih, yang menyatakan bahwa dividen dapat dibayar dari laba saat ini atau tahun lalu.
b. Larangan pengurangan modal (capital impairment rule), yang melindungi pemberi kredit karena adanya larangan untuk membayar dividen dengan mengurangi modal (membayar dividen dengan modal akan berarti membagi modal suatu perusahaan dan bukan membagikan laba).
c. Peraturan kepailitan (insolvency rule), yang menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat membayar dividen pada saat pailit. Kepailitan yang dimaksud disini adalah pailit karena kewajiban lebih besar daripada aktiva.
2. Posisi Likuiditas
Laba ditahan (pada sisi kanan neraca) biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan untuk menjalankan usahanya. Laba ditahan tahun-tahun lalu sudah diinvestasikan dalam bentuk pabrik dan peralatan, persediaan, dan pada aktiva lainnya, tetapi laba tersebut tidak disimpan dalam bentuk kas. Jadi meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan mungkin tidak dapat membayar tunai dividen karena posisi likuiditasnya. Perusahaan yang sedang berkembang, walaupun dengan keuntungan yang sangat besar, biasanya mempunyai kebutuhan dana yang sangat mendesak. Sehingga dalam hal ini perusahaan dapat memutuskan untuk tidak membayar dividen.
3. Kebutuhan Untuk Melunaskan Hutang
Apabila perusahaan memilih hutang untuk membiayai ekspansi atau untuk menggantikan jenis pembiayaaan yang lain, perusahaan tersebut menghadapi dua pilihan. Perusahaan dapat membayar hutang tersebut pada saat jatuh tempo dan menggantikannya dengan jenis surat berharga lainnya, atau
tersebut. Jika keputusannya adalah membayar hutang tersebut, maka biasanya perlu dilakukan penahanan laba sehingga dividen yang dibagikan menjadi kecil.
4. Pembatasan Dalam Perjanjian Hutang
Perjanjian hutang, khususnya apabila merupakan hutang jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Larangan yang dibuat untuk melindungi kedudukan pemberi pinjaman, biasa menyatakan bahwa:
a. Dividen dimasa yang akan datang hanya dapat dibayar dari laba yang akan diperoleh sesudah penandatanganan perjanjian hutang. Jadi dividen tidak dapat dibayar dari laba ditahan tahun-tahun lalu.
b. Dividen tidak dapat dibayarkan apabila modal kerja bersih (aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar) berada dibawah suatu jumlah yang telah ditentukan. Demikian juga, perjanjian saham preferen biasanya mengatakan bahwa dividen tunai saham biasa tidak dapat dibayarkan kecuali semua dividen saham preferen sudah dibayar
5. Tingkat Ekspansi Aktiva
Semakin cepat suatu perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhan untuk membiayai ekspansi aktivanya. Kalau kebutuhan dana dimasa depan semakin besar, perusahaan akan cenderung untuk menahan laba daripada membayarkan dividen.
6. Tingkat Laba
Tingkat hasil pengembalian yang diharapkan akan menentukan pilihan relatif untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen kepada pemegang saham atau digunakan diperusahaan tersebut.
7. Stabilitas Laba
Suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil seringkali dapat memperkirakan berapa laba dimasa yang akan datang. Perusahaan seperti ini cenderung membayarkan laba dengan persentase yang lebih tinggi daripada perusahaan yang labanya berfluktuasi. Perusahaan yang tidak stabil, tidak yakin apakah laba yang diharapkan pada tahun-tahun yang akan datang dapat dicapai, sehingga perusahaan cenderung untuk menahan sebagian besar laba saat ini. Dividen yang lebih rendah akan lebih mudah untuk dibayar apabila laba menurun pada masa yang akan datang.
8. Peluang Ke Pasar Modal
Perusahaan yang besar dan telah berjalan baik, dan mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas laba, akan mempunyai akses yang mudah kepasar modal dan bersifat coba-coba akan banyak mengandung resiko bagi pemegang saham potensial. Kemampuan perusahaan untuk menaikan modalnya atau dana pinjaman dari pasar modal akan terbatas, dan perusahaan seperti ini harus menahan lebih banyak laba untuk membiayai operasinya. Jadi perusahaan yang sudah mapan cenderung untuk memberi tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil atau baru.
9. Kendali Perusahaan
Variabel penting lainnya adalah pengaruh sumber pembiayaan alternative terhadap situasi kendali perusahaan.Sebagai suatu kebijakan, beberapa perusahaan melakukan ekspansi hanya sampai pada tingkat penggunaan laba internal lainnya saja. Hal ini didukung oleh pendapat bahwa menghimpun dana melalui penjualan tambahan saham biasa akan mengurangi kekuasaan kelompok dominant dalam perusahaan. Pada saat yang sama, mengambil hutang akan memperbesar resiko naik turunnya laba yang dihadapi pemilik perusahaan saat ini. Pentingnya pembiayaan internal dalam usaha untuk mempertahankan kendali perusahaan, akan memperkecil pembayaran dividen.
10. Posisi Pemegang Saham Sebagai Pembayar Pajak
Posisi pemilik perusahaan sebagai pembayar pajak sangat mempengaruhi keinginan untuk memperoleh dividen.Suatu perusahaan yang dipegang hanya oleh beberapa pembayar pajak dalam golongan berpendapatan tinggi, cenderung untuk membayar dividen yang rendah. Pemilik memilih untuk menempatkan pendapatan mereka dalam bentuk peningkatan modal kerja daripada dividen, karena akan terkena pajak penghasilan pribadi yang lebih tinggi. Akan tetapi, pemegang saham suatu perusahaan yang dimiliki oleh orang banyak akan memilih pembayaran dividen yang tinggi.
11. Pajak Atas Laba Yang Diakumulasikan Secara Salah
Untuk mencegah pemegang saham hanya menggunakan perusahaan sebagai suatu “perusahaan penyimpan uang (incorporated pocket book)” yang dapat digunakan untuk menghindari tarif penghasilan pribadi yang tinggi, peraturan perpajakan perusahaan menentukan suatu pajak tambahan khusus terhadap penghasilan yang diakumulasikan secara tidak benar.
2.1.4 Teori Kebijakan Dividen
Beberapa teori yang relevan dalam kebijakan deviden adalah smoothing theory, clientele effect theory, tax preference theory,
dividend irrelevance theory, bird in the hand theory, residual theory of dividens, teori signal atau isi informasi dividen.
Brigham dan Houston (2013) menyatakan terdapat tiga teori dari preferensi investor terhadap kebijakan dividen:
a) Teori Irelevansi Dividen (dividend irrelevance theory)
Teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya.
b) Teori The Bird-In-The-Hand
Bahwa sesungguhnya investor jauh lebih menghargai pendapatan yang diharapkan dari dividen daripada pendapatan yang diharapkan dari capital gain, karena komponen dividend yield, D1/P0, risikonya lebih kecil daripada komponen g dalam persamaan total required of return, ks=D1/P0+g.
c) Teori Preferensi Pajak
Litzenberg menyatakan bahwa investor lebih menyukai laba ditahan dibandingkan dividen sebab preferensi pajak yang ditetapkan atas capital gain. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan harus mempertahankan pembayarandividen pada level rendah jika mereka ingin memaksimalkan harga saham.
Brigham dan Houston (2013) juga menambahkan dua isu teoritis lainnya tentang kebijakan dividen:
a) Hipotesis kandungan informasi atau pengisyaratan (information, or signaling content): Teori ini berdasarkan asumsi bahwa bahwa manajer mempunyai informasi yang lebih baik mengenai prospek masa depan daripada pemegang saham. Teori ini yang menyatakan bahwa investor menganggap perubahan dividen sebagai isyarat dari prakiraan manajemen atas laba.
b) Pengaruh klientele (clientele effect)
Teori ini menyatakan bahwa individual dan institusional yang membutuhkan current incomeakan berinvestasi di perusahaan yang memiliki pembayaran dividen tinggi. Pengaruh clientele menyatakan kecenderungan suatu perusahaan untuk menarik sekelompok investor yang menyukai kebijakan dividennya.
2.1.5 Dividend Smoothing
Salah satu kebijakan dividen adalah dividen smoothing. Dividend smoothing adalah jumlah dividen yang tergantung atas keuntungan perusahan sekarang dan deviden tahun sebelumnya dikatakan oleh Lintner (1956). Banyak perusahaan menjalankan kebijakan dividen yang stabil,terutama di USA. Dividen yang stabil ini dipertahanakan untuk beberapa tahun dan kemudian apabila ternyata pendapatan perusahaan meningkat dan kenaikan pendapatan
Tersebut nampak mantap dan relative permanen, barulah besarnya dividen per saham dinaikan. Dividen yang dinaikan ini akan
Dalam tulisan dividend smoothing, Litner (1956) mewawancarai manajer dari 28 perusahaan dan menemukan bahwa mereka tidak menetapkan dividen independen dalam setiap periode.Sebaliknya, mereka pertama memutuskan apakah mengubah dividen dari tingkat yang ada. Manajer mengaku mengurangi dividen hanya bila mereka tidak punya pilihan lain dan meningkatkan dividen hanya jika mereka yakin bahwa arus kas masa depan dapat mempertahankan tingkat dividen yang baru. Kebanyakan model yang ada dalam dividend smoothing termotivasi baik oleh asimetri inforasi dan pertinmbangan keagenan. Di antara model informasi asimetris, dividen berfungsi sebagai sinyal informasi pribadi manajer tntang arus kas perusahaan saat ini atau masa depan. Namun tidak seperti model yang sama digunakan untuk menjelaskan keberadaan dividen (misalnya, Bhaattacharya (1979)), para penulis ini menunjukan adanya sebagian (tapi tidak sepenuhnya) mengungkapkan adanya kesetimbangan dividen.
Bhaattacharya (1979)menemukan bahwa smoothing bervariasi dari waktu ke waktu di tiap-tiap perusahaan. Dividend smoothing telah meningkat selama 50 tahun terakhir.Hal ini menunjukan bahwa saat ini manajer lebih peduli tentang dividend smoothing. Pada waktu penghalusan total payout yang sama telah turun.
2.1.6 Faktor-faktor Perusahaan melakukan Dividend Smoothing
Menurut Litner (1956) motivasi utama dalam melakukan smoothing adalah keengganan untuk memotong dividen (cutting
dividend). Bukti empiris menyatakan bahwa perusahaan meningkatkan dividen lebih sering daripada memotong deviden.Beberapa penelitian yang menunjukan perusahaan memotong dividen. Tujuan perusahaan melakukan dividend smoothing adalah untuk mempertahankan citra perusahaan kepada investor karena dividen menjelaskan tentang laba perusahaan saat ini. Perusahaan akan menaikan dividen jika dianggap arus kas perusahaan dapat menopang dividen selama beberapa tahun ke depan dan menurunkan dividen jika memang harus dilakukan. Jadi kestabilan dividen dapat meningkatkan citra perusahaan di mata investor yang ingin menanamkan modalnya.
Alasan yang mendukung perusahaan menjalanakan kebijakan adalah:
a) Kebijakan dividen stabil yang dijalankan oleh perusahaan akan dapat memberi kesan kepada insentif bahwa perusahaan tersebut mempunyai prospek yang baik di masa-masa mendatang. Apabila pendapatan perusahaan berkurang tetapi perusahan tidak mengurangi dividen yang dibayarkan maka kepercayaan pasar terhadap perusahaan akan berkurang. Dengan demikian manajemen dapat mempengaruhi harapan para investor dengan melalui kebijakan dividen yang stabil
b) Banyak pemegang saham yang hidup dari pendapatan yang diterima dari dividen. Golongan ini dengan sendirinya tidak akan menyukai adanya dividen yang tidak stabil. Mereka lebih senang
membayar harga ekstra bagi saham yangakan dapat memberikan dividen yang sudah dipastikan.
Pada banyak Negara terdapat ketentuan dalam pasar modalnya, bahwa organisasi yayasan sosial, perusahaan asuransi, bank-bank tabungan, dana-dana pensiunan dan lain lain, hanya diizinkan menanamkan dananya dalam saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang menjalankan kebijakan stabil.
2.1.7 Teori Keagenan
Keagenan (agency theory) yang dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976) bahwa kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham seringkali bertentangan, sehingga bisa menyebabkan konflik diantara keduanya. Hal ini lebih disebabkan antara lain karena manajer lebih cenderung untuk berusaha mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan pemegang saham. Teori keagenan yang dikemukan oleh Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa yang disebut principal adalah pemegang saham dan yang dimaksud dengan agent adalah para professional/manajemen/CEO, yang dipercaya oleh principal untuk mengelola perusahaan. Dalam menjalankan usaha biasanya pemilik menyerahkan atau melimpahkan kepada pihak manajemen yang menyebabkan hubungan keagenan. Hubungan keagenan merupakan salah satu sebab adanya suatu konflik. Konflik keagenan tersebut bisa terjadi antara (1) pemilik (shareholders) dan manajer, dimana manajer melakukan perbuatan opportunistic untuk mencapai tujuan pribadinya. Hal ini tidak disukai oleh shareholders,
dimana shareholders lebih menginginkan suatu profit yang lebih. (2) Manajer dengan debtholder dimana manajer lebih menyukai dividen yang ditahan digunakan sebagai modal untuk ekspansi perusahaan tetapi debtholder lebih menyukai bahwa dividen yang ditahan digunakan sebagai dana untuk membayar hutang perusahaan. Debtholder khawatir apabila laba yang digunakan untuk ekspansi perusahaan tidak sesuai yang diharapkan sehingga hutang perusahaan tidak dapat dibayarkan. Konflik-konflik keagenan dapat dikurangi dengan suatu mekanisme pengawasan, pengontrolan dan mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait. Namun mekanisme tersebut menimbulkan biaya-biaya yang disebut sebagai biaya keagenan (agency cost). Biaya keagenan adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan pengawasan manajemen untuk menyakinkan bahwa manajemen bertindak konsisten sesuai dengan perjanjian kontraktual perusahaan dengan kreditor dan pemegang saham. Menurut Jensen dan Meckling (1976), biaya keagenan adalah biaya-biaya yang ditanggung oleh pemegang saham untuk mencegah atau meminimalkan masalah-masalah keagenan dan untuk memaksimumkan pemegang saham. Menurut Jensen dan Meckling (1976) agency cost dapat berupa :
1. Monitoring Cost
Pengeluaran untuk memantau tindakan manajer (the monitoring expenditure by the principal).
2. The bonding Cost
Biaya yang dikeluarkan oleh principal untuk mengendalikan terhadap agent, sehingga kemungkinan timbulnya perilaku yang tidak dikendaki semakin kecil.
3. Residual Lost
Pengorbanan karena hilangnya/berkurangnya kesempatan untuk memperoleh laba karena dibatasinya kewenangan atau adanya perbedaan keputusan antara principal dan agent.
2.1.8 Kepemilikan Institusional (institutional ownership)
Kepemilikan saham institusional adalah kepemilikan saham suatu perusahaan oleh institusi baik yang bergerak dalam bidang keuangan atau non-keuangan atau badan hukum lain. Kepemilikan saham institusional mampu mengurangi masalah agensi di dalam perusahaan.Thomas (2000) mengungkapkan bahwa pengendalian perusahaan tidak hanya terkain pada konsentrasi kepemilikan melainkan juga terkait dengan identitas pemegang saham. Fungsi pengendalian akan semakin efektif apabila pemegang saham memiliki kemampuan dan pengalaman yang baik di bidang bisnis dan keuangan.
Pada umumnya, investor perusahaan dan asing lebih mampu untuk mengendalikan manajemen karena memiliki pengetahuan dan
sumber daya yang cukup. Pengaruh pemilik saham institusional pada perusahaan, yang dikendalikan oleh manajemen, cenderung pasif atau tidak langusng dibandingkan aktif. Pengaruh aktif, yang biasanya dimiliki oleh board perusahaan adalah kekuatan untuk mengendalikan seluruh keputusan kunci terkait dengan produk, pasar, dan investasi Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5 %) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan. Dengan demikian proporsi kepemilikan institisional bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan manajemen. Dengan begitu masalah agensi akan semakin dapat ditekan.
Selain itu, Menurut Chaganti dan Dhamanpour (1991) dalam literatur jurnal Universitas Indonesia, saham institusional juga dapat mempengaruhi perusahaan dengan cara berbeda, misalnya dengan tekanan terhadap isu tertentu dan aktifitas untuk mengendalikan proses keputusan internal melalui keanggotaan dewan direksi perusahaan.
2.1.9 Kepemilikan Pemerintah (goverment ownership)
Kepemilikan pemerintah adalah jumlah saham perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah. Melalui kepemilikan saham ini pemerintah berhak menetapkan direktur perusahaan. Selain itu pemerintah dapat mengendalikan kebijakan yang diambil oleh manajemen agar sesuai
Di Indonesia perusahaan ini disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mayoritas sahamnya dimiliki oleh pemerintah sehingga stakeholder utama perusahaan ini adalah pemerintah. Dalam menjalankan operasional perusahaannya serta ketentuan dalam pembayaran dividen, BUMN berpedoman kepada Undang-Undang dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah khususnya Dalam UU No. 20/1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Untuk saat ini Peraturan Pemerintah yang mengatur penetapan dividen. Di dalam PP tersebut, selain mengatur kewenangan Menteri Keuangan dan Menteri BUMN, juga perlu mengatur mekanisme penetapan dividend pay out ratio, mekanisme pembayarannya, termasuk juga besaran dividend pay out ratio itu sendiri. Praktek yang terjadi saat ini, kebijakan dividend pay out ratio BUMN setiap tahunnya berbeda. Pada saat ini dirumuskan kebijakan penetapan dividend pay out ratio terbaru yang berlaku bagi BUMN yang terbagi kedalam empat jenis (Sunarsip,2012). Pertama, kebijakan dividend pay out ratio sebesar 0%. Kebijakan dividend pay out ratio 0% ini biasanya diterapkan bagi: (1) BUMN merugi, (2) BUMN yang memperoleh laba tetapi memiliki akumulasi rugi; (3) BUMN memperoleh laba tanpa akumulasi rugi, tetapi illiquid cash flow, (4) mandatori regulasi seperti: BUMN asuransi terkait dengan UU Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), seperti untuk Jamsostek, Taspen, Askes, dan Asabri.
Kedua, kebijakan dividend pay out ratio sebesar 5% hingga 60%. Kebijakan dividend pay out ratio ini diterapkan bagi BUMN yang memperoleh laba tanpa akumulasi merugi. dividend pay out ratio yang ditetapkan akan berbeda tergantung kondisi BUMN, dengan melihat rencana bisnis dan kondisi cash flow BUMN terkait. Ketiga, kebijakan dividend pay out ratio sebesar 0% hingga 20%. Kebijakan dividend pay out ratio ini diterapkan bagi BUMN yang memperoleh laba tanpa akumulasi rugi, tetapi BUMN sedang menjalankan misi pemerintah, seperti menjalankan proyek pemerintah di bidang infrastruktur.
Keempat, kebijakan penetapan dividen khusus (special dividend). Biasanya, kebijakan ini diberlakukan bagi BUMN yang memperoleh laba tanpa akumulasi rugi dan memiliki cash flow yang baik serta adanya kebutuhan mendesak pemerintah.Bentuknya dapat berupa dividend pay out ratio di atas 60% atau berupa dividen interim (interim dividend).
2.1.10 Kepemilikan Manajerial (insider ownership)
Kepemilikan saham manajerial adalah kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan, contohnya kepemilikan saham oleh anggota Board of Director perusahaan. Kepemilikan saham manajerial sering digunakan oleh pemegang saham untuk mengurangi konflik agensi di dalam perusahaan. Hal tersebut dikarenakan manajemen lebih merasa memiliki perusahaan. Menurut Jensen dan Meckling (1976)
kepentingan antara pemegang saham dengan manajer, semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial maka semakin baik kinerja perusahaan. Besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan adanya kesamaan (congruance) kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham. Perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham yang besar seharusnya mempunyai konflik keagenan yang rendah dan biaya keagenan yang rendah pula. Konflik keagenan yang rendah dapat direfleksikan dari tingginya tingkat perputaran aktiva perusahaan dan rendahnya beban operasi terhadap penjualan (discreationary managerial).
Jensen dan Meckling (1976) mengemukakan dalam agency theory, hubungan antara pemegang saham dengan manajer digambarkan sebagai hubungan antara agen dengan principal. Manajer sebagai agen dan pemilik perusahaan sebagai principal. Agen diberikan kepercayaan oleh principal untuk menjalankan bisnis perusahaan demi kepentingan principal. Dengan demikian, keputusan manajer adalah keputusan yang bertujuan untuk memaksimalkan sumber daya perusahaan. Perusahaan akan dirugikan jika manajer bertindak untuk kepentingannya sendiri dan bukan untuk kepentingan pemegang saham. Keadaan inilah yang memunculkan konflik keagenan antara manajer dengan pemilik perusahaan. Masing-masing pihak memiliki tujuan dan memiliki risiko yang berbeda berkaitan dengan perilakunya. Manajer apabila gagal menjalankan fungsinya
akan berisiko tidak ditunjuk lagi sebagai manajer perusahaan, sementara pemegang saham akan berisiko kehilangan modalnya kalau salah memilih manajer. Hal ini merupakan konsekuensi dari pemisahan antara fungsi kepemilikan dengan pengelolaan. Konflik keagenan akan dapat diminimalkan jika manajer juga sebagai pemilik perusahaan atau sebaliknya pemilik sebagai manajer.
2.1.11 Kepemilikan yang menyebar (dispersion ownership)
Holder et al dalam Pujiastuti (2008) menyatakan bahwa:
“Dispersion of ownership (penyebaran kepemilikan saham) yang besar akan menimbulkan biaya keagenan yang besar karena ketika kepemilikan saham ini menyebar, maka pemegang saham akan sulit dalam mengawasi perusahaan”.
Rozeff dalam I Nyoman (2006) menyatakan dispersion of ownership sebagai:
“Kepemilikan yang menyebar adalah ratio jumlah pemegang saham biasa dengan jumlah saham yang beredar. Sesuai dengan teori keagenan, Pemegang saham yang semakin menyebar akan mengakibatkan kesulitan dalam proses monitoring perusahaan sehingga akan menimbulkan masalah keagenan yang penyelesaiannya melalui pembayaran dividen dan akan mengurangi jumlah laba yang ditahan.”
pemilik luar yang diwakili oleh jumlah pemegang saham biasa. Semakin besar dispersion of ownership saham semakin terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Sesuai dengan teori keagenan, pemegang saham yang semakin menyebar akan mengakibatkan kesulitan dalam proses monitoring perusahaan sehingga akan menimbulkan masalah keagenan yang penyelesaiannya melalui pembayaran dividen dan akan mengurangi jumlah laba yang ditahan. Sebaliknya, semakin terkonsentrasinya kepemilikan saham ini akan mempermudah monitoring dan kontrol terhadap kebijakan yang diambil pengelola perusahaan, sehingga dapat mengurangi masalah keagenan dan ini akan berimplikasi pada pembayaran dividen yang rendah.
2.2 Pengembangan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara (tentative) terhadap permasalahan yang diteliti kebenarannya dan perlu diuji secara empiris. Dari pokok permasalahan yang diteliti penulis,maka penulis menjabarkan hipotesis sebagai berikut :
2.2.1 Institutional ownership (kepemilikan institusional) terhadap dividend smoothing
Institutional ownership adalah persentase saham yang dimiliki oleh institusi, seperti perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi, maupun perusahaan lain. Hasil studi Moh’d, et.al (1998) seperti dikutip Rahmawati (2008) menyatakan bahwa bentuk distribusi saham di antara pemegang saham dari luar salah satunya adalah institutional
ownership, yang dapat mengurangi biaya-biaya dalam masalah keagenan. Hal ini disebabkan karena kepemilikan merupakan sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya menantang keberadaan manajemen, maka penyebaran menjadi suatu hal yang relevan. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh investor institusional, sehingga dapat mengurangi perilaku opportunistik manajer. Menurut Cruthcley, et.al (1999) seperti dikutip Rahmawati (2008), kepemilikan institusional mempunyai pengaruh negatif terhadap kebijakan dividen. Semakin tinggi kepemilikan institusional, maka semakin kuat kontrol eksternal terhadap perusahaan dan mengurangi biaya keagenan, sehingga perusahaan akan cenderung untuk menggunakan dividen yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan selalu berusaha mengurangi mekanisme kendali konflik keagenan yang berlebih.
Di sisi lain, dalam penelitian tentang dividend smoothing yang dilakukan oleh Tepper School of Business (2012) mengatakan bahwa pada hakikatnya dividend smoothing dilakukan dengan tujuan agar dapat mengurangi biaya keagenan (agency cost) dan adverse selection yang pada akhirnya akan mempengaruhi cost of capital perusahaan. Lebih lanjut lagi, dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa salah satu mekanisme potensial yang dikutip dari Allen, Bernardo dan Welch (2000) adalah menarik para investor dengan tujuan untuk
gilirannya mengurangi biaya agen suatu perusahaan dan asimetris informasi melalui pemantauan dan peran pengumpulan informasi. Pernyataan ini juga didukung oleh Mardi (2006), dalam jurnalnya dikemukakan bahwa pada banyak negara terdapat ketentuan dalam pasar modalnya, bahwa organisasi atau yayasan-yayasan sosial, perusahaan-perusahaan asuransi, bank-bank tabungan, dana-dana pensiun, pemerintah kota madya, dan lain-lain hanya diizinkan menanamkan dananya dalam saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen stabil. Dengan demikian dengan adanya ketentuan tersebut maka mendorong institusi untuk menanamkan modalnya di perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen stabil.
Ha1:Terdapat pengaruh positif antara institutional ownership (kepemilikan institusional) terhadap dividend smoothing.
2.2.2 Goverment ownership (kepemilikan pemerintah) terhadap dividend smoothing.
Perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah diwajibkan untuk membayarkansejumlah dividen sesuai yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah dengan rate dividend pay out ratio yang harus dilaksanakan. Karena kewajiban yang mengharuskan membayar dividend inilah yang membuat dividen perusahaan-perusahaan milik pemerintah mempunyai kurva yang seperti yang dilansir oleh Mardi (2006), dalam jurnalnya dikemukakan bahwa pada banyak negara terdapat ketentuan dalam pasar modalnya, bahwa organisasi atau
yayasan-yayasan sosial, perusahaan-perusahaan asuransi, bank-bank tabungan, dana-dana pensiun, pemerintah kota madya, dan lain-lain hanya diizinkan menanamkan dananya dalam saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen stabil.
Ha2: Terdapat pengaruh positif antara goverment ownership (kepemilikan pemerintah) terhadap dividend smoothing.
2.2.3 Insider ownership (kepemilikan manajerial) terhadap dividend smoothing
Perusahaan dengan menetapkan persentase kepemilikan manajerial yang besar, membayar dividen dalam jumlah kecil, sedangkan pada persentase kepemilikan manajerial kecil menetapkan dividen pada jumlah besar.
Semakin besar insider ownership, perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan pengelola perusahaan semakin kecil dan dapat menghindari perilaku opportunistic manajer, karena mereka akan ikut menanggung konsekuensi yang dilakukan, hal ini akan menurunkan masalah keagenan. Menurut Moh’d, Perry & Rimbey (1995) seperti dikutip Rahmawati (2008), dividen sebagai salah satu mekanisme untuk menurunkan masalah keagenan. Jika masalah keagenan sudah turun sebagai akibat dari peningkatan jumlah saham yang dimiliki insider, maka dividen tidak perlu dibayarkan pada
Semakin besar proporsi kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan, maka manajemen berupaya lebih giat untuk memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri, dengan melakukan perataan laba untuk meningkatkan kepercayaan investor untuk tetap berinvestasi pada perusahaan. MenurutBrochet dan Gildao (2004) dalam Rahmawati (2008), Manajemen yang memiliki saham perusahaan memiliki informasi lebih banyak tentang perusahaan dibanding pemegang saham non-institusi lainnya. Dengan demikian, manajemen lebih memiliki kesempatan untuk melakukan perataan laba untuk meminimalisir volatilitas labanya untuk meningkatkan kinerja saham perusahaan. Shinozaki dan Uchida (2012) yang meneliti dividend smoothing menemukan bahwa dividend smoothing secara signifikan lebih sering dilakukan oleh perusahaan– perusahaan yang dikendalikan oleh profesional manajer dibandingkan dengan perusahaan–perusahaan yang dikendalikan oleh pemiliknya.
Ha3: Terdapat pengaruh negatif antara insider ownership (pemilik merangkap manajer) terhadap dividend smoothing.
2.2.4 Dispersion of ownership (penyebaran kepemilikan) terhadap dividend smoothing.
Secara teori, jika persentanse Dispersion of ownership di suatu perusahaan itu kecil berarti kepemilikan saham di perusahaan semakin terkonsentrasi pada satu atau beberapa pemegang saham saja. Semakin terkonsentrasinya kepemilikan saham ini akan mempermudah monitoring dan kontrol terhadap kebijakan yang
diambil pengelola perusahaan, sehingga dapat mengurangi masalah keagenan dan ini akan berimplikasi pada pembayaran dividen yang rendah.
Dalam jurnal Shinozaki dan Uchida (2012) yang meneliti dividend smoothing, Semakin tinggi kepemilikan publik dalam struktur kepemilikan perusahaan, maka perusahaan cenderung melakukan prakitk dividen stabil agar menghasilkan variabilitas laba yang rendah yang mengindikasikan risiko yang rendah. Risiko yang rendah ini lah yang direspon positif oleh investor untuk menginvestasikan kekayaannya.
Ha4: Terdapat pengaruh positif antara dispersion of ownership (penyebarankepemilikan) terhadap dividend smoothing.
2.3 Penelitian Terdahulu
Telah banyak penelitian di luar mengenai dividend smoothing, serta di Indonesia pun mulai melakukan penelitian ini.Berikut ini adalah penelitian terdahulu:
Tabel 2.1 Tabel Penelitian Terdahulu Nama Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian Booth,L. and Z. Xu. (2008).
Who Smooth dividend, second singapore international conference on finance 2008
Penelitian yang menggunakan proxy idiosyncratic risk, analyst forecast error, dan dispersion of analyst forecast menyatakan bahwa dividend smoothing mempunyai pengaruh yang positif terhadap asymmetric
Roni Michaely , Cornell (2006)
Dividend Smoothing, Agency Costs, and Information
Asymmetry: Lessons from the Dividend Policies ofPrivate Firms
Penelitian yang menggunakan proxy,
agency cost dan asymmetric
information mengungkapkan bahwa perusahaan publik dan swasta sama-sama terdapat melakukan dividend smoothing, namun dari hasil temuan, diungkapkan bahwa praktik dividend smoothing hampir sepenuhnya terdapat di perusahaan publik. Perusahaan publik lebih cenderung untuk meningkatkan dividen dari swasta perusahaan. Dalam penelitian ini juga menyebutkan bahwa agency problem lebih besar terjadi di perusahan publik karena perusahan public cenderung membayar dividen lebih tinggi.
Mark T. Learya& Roni Michaely (2009)
Why Firms Smooth
Dividends: Empirical
Evidence
Penelitian yang menggunakan proxy tax, agency dan asymmetric information mengatakan proxy di atas berpengaruh terhadap dividend smoothing. Peneliti juga mengatakan bahwa perusahaan yang mungkin mempunyai asimetri informasi adalah perusahaan yang pertumbuhannya tinggi, muda, lebih tidak stabil, lebih sedikit memiliki intangible asset, informasi investor, dan analisis yang jarang.
Shinya Shinozak i & Konari Uchida, (2012)
Ownership structure, Tax Regime, and Dividend Smoothing: International Evidence
Penelitian ini meneliti menggunakan proxy beban pajak, Kepemilikan institusional, Kepemilikan bank atas saham perusahaan dan SOA (Speed of adjustment). Mereka meneliti 7000 perusahaan dari 42 Negara. Hasil penelitian tersebut diketahui bahwa pengendali pemegang saham peduli terhadap kelangsungan hidup perusahaan mereka. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang berkinerja tinggi memiliki menargetkan rasio pembayaran dividen dan menyesuaikan dengan cepat.
Sebelumnya penelitian menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan non-AS melakukan dividend smoothing kurang dari yang AS. Mengapa perusahaan AS melakukan dividend smoothing, hal tersebut disebabkan struktur kepemilikan tersebar dan sistem pajak klasik. Anggri Afriani, (2011) Pengaruh Information asymmetry Terhadap Dividend smoothing
Penelitian yang menggunakan idiosyncratic risk sebagai pengukuran asimetri informasi menggungkapkan bahwa tidak ditemukannya pengaruh yang signifikan terhadap praktik dividend smoothing di Indonesia
2.4 Kerangka Pemikiran
Berikut ini adalah kerangka pemikiran dari hasil hipotesis serta teori dan penelitian terdahulu yang mendukung dalam penelitian ini :
Tabel 2.2 Kerangka Pemikiran
Variabel Independen Variabel Dependen
INSTITUTIONAL OWNERSHIP INSIDER OWNERSHIP DISPERSION OF OWNNERSHIP DIVIDEND SMOOTHING - + + + GOVERMENT OWNERSHIP