• Tidak ada hasil yang ditemukan

preeklampsia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "preeklampsia"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

REFERAT

REFERAT

PRE-EKLAMPSIA & EKLAMPSIA

PRE-EKLAMPSIA & EKLAMPSIA

Disusun Oleh: Disusun Oleh:

 Nurul Akma Binti Mohd Nazri  Nurul Akma Binti Mohd Nazri

10-2012-241 10-2012-241 Dokter Pembimbing Dokter Pembimbing Dr. Afra, SpOG Dr. Afra, SpOG

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA KEPANITERAAN

KEPANITERAAN ILMU ILMU KEBIDANAN DAKEBIDANAN DAN KANDUNGANN KANDUNGAN RUMAH BAKTHI YUDHA

RUMAH BAKTHI YUDHA DEPOK 

DEPOK 

15 MARET 2013 – 22 JUNI 2013 15 MARET 2013 – 22 JUNI 2013

(2)

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Bab 1. PENDAHULUAN Bab 1. PENDAHULUAN ………. 1 ………. 1 Bab 2. PEMBAHASAN Bab 2. PEMBAHASAN ……… 2 ……… 2 •

• DEFINISI DAN KLASIFIKASI DEFINISI DAN KLASIFIKASI HIPERTENSIHIPERTENSI

………. 2 ………. 2

• FAKTOR RISIKOFAKTOR RISIKO

……….. ……….. 4 4 • • PATOFISIOLOGIPATOFISIOLOGI ……….. ……….. 6 6 •

• PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN PADA PRE-EKLAMPSIAPERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN PADA PRE-EKLAMPSIA

………. 8 ………. 8

• GAMBARAN KLINIK GAMBARAN KLINIK 

……….… 10 ……….… 10

• PRE-EKLAMPSIA RINGANPRE-EKLAMPSIA RINGAN

……… 11 ……… 11 • • DEFINISIDEFINISI ……… ……… …….... 11 …….... 11 • • DIAGNOSISDIAGNOSIS ……… ……… … . 11 … . 11 •

•  TUJUAN UTA TUJUAN UTAMA PERAWATAMA PERAWATAN PRE-EKLAN PRE-EKLAMPSIAMPSIA

……….. 11 ……….. 11

• RAWAT JALANRAWAT JALAN

……….. ……….. 11

11

• RAWAT INAPRAWAT INAP

………. ………. 11

11

• PERAWATAN OBSTETRIK PERAWATAN OBSTETRIK 

……….. 11 ……….. 11

(3)

• PRE-EKLAMPSIA BERAT ……… 12 • DEFINISI ……… …... 12 • DIAGNOSIS ……… . 12

• PEMBAHAGIAN PRE-EKLAMPSIA BERAT

……… 13

• PERAWATAN DAN PENGOBATAN PRE-EKLAMPSIA BERAT

……….. 13

• MONITORING SELAMA DI RS

……… . 13

• SIKAP TERHADAP PENYAKIT

………. 14

• SIKAP TERHADAP KEHAMILAN

………. 16 • EKLAMPSIA ……… …. 18 • DEFINISI ……… ….. 18 • DIAGNOSIS BANDING ………... 18

• GAMBARAN KLINIS DARI KEJANG EKLAMPSIA

………. 18 • INSIDENS ……… … 19 • ETIOPATHOGENESIS ……….. 19 PENANGANAN/PENGOBATAN ……….

(4)

Bab 3. PENUTUP ……… …… 20 DAFTAR PUSTAKA ……… …. 21

PRE-EKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

BAB I

PENDAHULUAN

Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi. hal ini disebabkan oleh etiologi yang tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medic dan sistem rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang  pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga medic  baik di pusat maupun di daerah.1

Penyakit hipertensi meningkatkan risiko infark miokard, stroke, gagal jantung kongestif, penyakit ginjal dan penyakit vascular perifer.2

Penyakit hipertensi selama kehamilan merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia yang terkait dengan 27% penyebab obstetric langsung dan 22% dari semua kematian ibu.3

Ibu hamil yang menderita hipertensi cenderung mempunyai insidens yang tinggi untuk  terjadinya eklampsia, abrutio plasenta, persalinan preterm, disseminated intravascular  coagulation (DIC), pendarahan, pulmonary edema, insufisiensi renal, stroke dan kematian.4

(5)

BAB II PEMBAHASAN

DEFINISI DAN KLASIFIKASI HIPERTENSI

Tabel 1 menunjukkan kategori klasifikasi pada penyakit hipertensi. Pada perempuan dengan pre-hipertensi, diagnosa awal sangat diperlukan karena dapat meningkatkan risiko  berkembangnya penyakit hipertensi pada masa depan.2

Tabel 1. Klasifikasi penyakit hipertensi.2

Klasifikasi SBP (mmHg) DBP (mmHg)  Normal <120 <80

Prehipertensi 120-139 80-90 Hipertensi grade I 140-159 90-99 Hipertensi grade II ≥ 160 ≥ 100

Pembahagian klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Programme Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001, ialah:

1. Hipertensi kronik 

Hipertensi yang timbuk sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang  pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi yang menetap

selama 12 minggu pasca persalinan. 2. Preeklamsia

Hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria 3. Eklamsia

Preeklamsia yang disertai kejang-kejang dan atau koma 4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia

Hipertensi kronik disertai tanda preeklamsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria 5. Hipertensi getasional

Hipertensi yang timbul pada saat kehamilan tanpa disertai proteinuri dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan atau kehamilan dengan tanda preeklamsi tetapi tanpa proteinuri.1

(6)

Penjelasan tambahan

1. Hipertensi ialah tekanan darah sistolik dan diastolik ≥ 140/90 mmHg dengan  pengukuran tekanan darah sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik ≥15 mmHg sebagai parameter hipertensi sudah tidak dipakai lagi.

2. Proteinuria ialah adanya 300mg protein dalam urin selama 24 jam atau sama dengan ≥ 1+ dipstick.

3. Edema, dahulu edema tungkai, dipakai sebagai tanda-tanda pre-eklampsia, tetapi sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata (anasarka). Perlu dipertimbangkan faktor risiko timbulnya hipertensi dalam kehamilan, bila didapatkan edema generalisata, atau kenaikan berat badan >0,57kg/minggu.

Primigravida yang mempunyai kenaikan berat badan rendah, yaitu <0,34kg/minggu, menurunkan risiko hipertensi, tetapi menaikkan risiko berat badan bayi rendah.1

Menurut Jaringan Nasional Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR), Perkumpulan Obstetrik  Ginekologi Indonesia (POGI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pembahagian klasifikasi hipertensi adalah:

1. Hipertensi dalam kehamilan

• Tekanan darah ≥140/90mmHg untuk pertama kalinya dalam kehamilan. • Tidak terdapat proteinuria.

• TD kembali normal dalam waktu 12 minggu pasca persalinan jika penngkatan TD

tetap bertahan, ibu didiagnosis menderita hipertensi kronis).

• Diagnosis akhir baru dibuat pada periode pasca persalinan.

• Tanda-tanda akhir pre-eklampsia seperti nyeri epigastrik dan trombositopenia

mungkin ditemui dan dapat mempengaruhi penatalaksanaan yang diberikan. 2. Pre-eklampsia

2.1 Pre-eklampsia ringan

• TD ≥ 140/90mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu

• Proteinuria ≥ 1+ pada pengukuran dengan dipstick urin atau kadar protein

total ≥ 300mg/24jam. 2.2 Pre-eklampsia berat

(7)

• Proteinuria ≥ 2+ pada pengukuran dengan dipstick urin atau kadar protein

total ≥ 2g/24jam.

• Kadar kreatinin darah melebihi 1,2mg/dL kecuali telah diketahui meningkat

sebelumnya.

• Sakit kepala yang terus bertahan atau gangguan serebral atau visual lain. •  Nyeri epigastrik yang terus menerus.

• Enzim hati yang meningkat (SGOT, SGPT, LDH) • Hitung trombosit < 100.000/mm3

3. Eklampsia

• Kejang konvulsi yang bukan disebabkan oleh infeksi atau trauma.

4. Sindrom HELLP

• Keterlibatan hematologis dan hepatic pada pasien dengan pre-eklampsia berat yang

menyebabkan hemolisis, peningkatan enzim hati dan hitung trombosit yang rendah (HELLP).

5. Pre-eklampsia super impos

• Proteinuria awitan baru ≥ 300mg/24jam pada ibu penderita darah tinggi tetapi tidak 

terdapat proteinuria pada usia kehamilan sebelum 20 minggu.

• Peningkatan proteinuria atau tekanan darah atau hitung trombosit < 100.000/mm3

secara tiba-tiba pada ibu penderita hipertensi dan proteinuria pada usia kehamilan sebelum 20 minggu.

6. Hipertensi kronis

• Hipertensi sebelum kehamilan atau yang didiagnosis sebelum usia kehamilan 20

minggu.

• Hipertensi pertama kali didiagnosis setelah usia kehamilan 20 minggu dan terus

 bertahan setelah 12 minggu pasca persalinan.2,3,6

FAKTOR RESIKO

1. Primigravida, primipaternitas

Primigravida memiliki insidensi hipertensi hampir dua kali lipat.3

2. Umur yang ekstrim

Primigravida dengan usia di bawah 20 tahun dan semua ibu dengan usia di atas 35 tahun dianggap lebih rentan. 3

(8)

Multipara yang tidak pernah memiliki riwayat pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya menurunkan risiko terkenanya pre-eklampsia pada kehamilan berikutnya, namun, sekirannya wanita itu hamil hasil konsepsi dengan suami baru, risiko terkenanya pre-eklampsia meningkat kembali seperti keadaannya seorang nullipara.

Pada wanita yang hamil dengan suami baru setelah melakukan hubungan seksual melebihi 1 tahun, didapatkan efek toleransi dibandingkan jika wanita itu hamil lebih awal.

Keadaan ini menjelaskan bahwa teori pre-eklampsia mempunyai kaitan dengan  patofisiologi alloimmunogenic.5

4. Riwayat keluarga pernah preeklamsia/eklamsia

Dinyatakan bahwa jika ibu kepada ayah dalam kandungan wanita yang hamil (ibu mertua) pernah memiliki riwayat pre-eklampsia, wanita hamil tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi.5

5. Hiperplasentosis (DM, kehamilan multiple, mola hidatidosa, hidrops fetalis, bayi besar) a. Diabetes mellitus : angka kejadian yang ada kemungkinan patofisiologinya bukan

 pre-eklampsia murni, melainkan disertai kelainan ginjal / vaskular primer akibat diabetesnya.

 b. Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi daripada monozigotik.

c. Mola hidatidosa : diduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan  pre-eklampsia. Pada kasus mola, hipertensi dan proteinuria terjadi lebih dini /  pada usia kehamilan muda, dan ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga

sesuai dengan pada pre-eklampsia

6. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang pernah ada sebelumnya. . 7. Obesitas

Tidak ada hubungan bermakna antara menu / pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain : kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian  juga lebih tinggi pada ibu hamil yang obese / overweight.

8. Tingkah laku / sosioekonomi

Pre-eklampsia dan eklampsia lebih umum ditemui pada kelompok social ekonomi rendah.3

(9)

Tabel 2. Faktor risiko pre-eklampsia.5 Berhubungan penyakit  primer  Berhubungan immunogenic  primary Riwayat keluarga • Hipertensi kronis • Penyakit ginjal kronis • Penyakit vascular  (SLE) • Diabetes pre-gestasional • African American • Umur maternal (<20 / >35) •  Nulliparitas • Riwayat pre-eklampsia sebelumnya • Multiple gestasi • Abnormal placenta • Paternity baru

• Kohabitasi kurang dari 1

tahun

• Saudara lain

yang mempunyai riwayat pre-eklampsia.

• Ibu mertua pada

wanita hamil.

PATOFISIOLOGI

Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori-teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada satu pun teori tersebut dianggap mutlak benar.

1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta

Tidak terjadinya invasi sel trofoblas pada sel otot arteri sehingga lapisan otot arteri tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri tidak mengalami vasodilatasi, akhirnya arteri relative mengalami vasokontriksi sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadilah iskemia dan hipoksia plasenta.1

2. Teori iskemia plasenta

Plasenta yang mengalami iskemia akan menghasilkan oksidan yang menyebabkan toksis dengan merusak membrane sel endotel pembuluh darah. (ex: hidroksil)

3. Peroksida lemak 

Radikal hidroksil akan merusak membrane sel yang mengandung asam lemak tidak jenuh nenjadi peroksida lemak. Peroksida lemak selain merusak membrane sel juga merusak  nucleus, dan protein endotel.

(10)

Kerusakan membrane sel mengakibatkan disfungsi endotel. Akibat disfungsi endotel maka akan terjadi:

- Gangguan metabolism prostaglandin, yaitu menurunnya protasiklin yang merupakan suatu

vasodilator kuat.

- Terjadi agregasi trombosit yang akan menutupi kerusakan sel endotel, agregasi trombosit

memproduksi tromboksan yang merupakan vasokontriktor kuat.

- Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus. - Peningkatan permeabilitas kapiler.

- Peningkatan produksi vasopressor, yaitu endotelin. Kadar NO (vasodilatator) menurun,

sedangkan endotelin (vasokonstriktor) meningkat.

- Peningkatan factor koagulasi.

5. Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin

Factor imunologik yang mempengaruhi terjadinya hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai berikut:

- Primigravida mempunyai resiko lebih besar terkena hipertensi dalam kehamilan dibanding

dengan multigravida

- Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai resiko lebih besar terjadinya

hipertensi dibanding dengan suami sebelumnya

- Seks oral mempunyai resiko lebih rendah terjadinya hipertensi dalam kehamilan

Pada perempuan hamil normal, respon imun tidak menolak adanya ‘hasil konsepsi’ yang  bersifat asing. Hal ini karena adanya HLA-G, yang berperan pada modulasi respon imun, sehingga si ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasendta). HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel Natural Killer (NK) ibu. Pada hipertensi terjadi  penurunan HLA-G sehingga menghambat invasi trofoblast ke dalam desidua, karena

trofoblast berfungsi melunakan jaringan desidua memudahkan dilatasi arteri spiralis.1

6. Teori adaptasi kardiovaskular 

Pada hamil normal, pembuluh darah tidak peka terhadap bahan-bahan vasopresor atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respon vasokonstriksi, hal ini adalah akibat dilindungi oleh sintesis prostaglandin pada sel

endotel pembuluh darah.

 Namun, pada kehamilan dengan hipertensi, terjadi peningkatan kepekaan pembuluh darah terhadap bahan-bahan vasopressor.

7. Teori genetic

Ibu yang mengalami preeklamsia, 26% anak perempuannya akan mengalami preeklamsia  pula, sedangkan hanya 8% anak menantunya mengalami pre-eklampsia.

(11)

8. Teori defisiensi gizi

Mengkonsumsi minyak ikan (banyak mengandung asam lemak tidak jenuh) dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.

Beberapa penelitian menunjukkan defisiensi kalsium pada wanita hamil mengakibatkan risiko pre-eklampsia/eklampsia.

9. Teori stimulus inflamasi

10. Pada hipertensi terjadi peningkatan oksidatif, sehingga debris trofoblast dan nekrotik  trofoblas juga meningkat, hal ini menyebabkan terjadi reaksi inflamasi yang berlebihan yang menimbulkan gejala preeklamsia pada ibu.1

Gambar 1. Patofisiologi Hipertensi dalam Kehamilan

PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN PADA PREEKLAMSIA 1. Volume plasma

(12)

Pada kehamilan normal akan terjadi peningkatan volume plasma guna untuk memenuhi kebutuhan janin. Tetapi pada preeklamsia terjadi penurunan volume plasma antara 30%-40%, disebut hipovolemia. Hipovolemia diimbangi vasokontriksi, sehingga terjadi hipertensi. Volume plasma yang menurun member dampak besar pada organ-organ penting. 2. Hipertensi

Pada pre-eklampsia peningkatan reaktivitas vascular dimulai umur kehamilan 20 minggu, tetapi hipertensi umumnya dideteksi pada trimester II.

3. Fungsi ginjal

- Akibat hipovolemia maka perfusi ke ginjal berkurang sehingga terjadinya oliguria atau

 bahkan sampai anuri.

- Karena terjadi peningkatan premeabilitas membrane maka terjadi kebocoran plasma

sehingga mengakibatkan proteinuri. Proteinuri yang timbul sebelum kehamilan , maka kemungkinan adalah penyakit ginjal.

- Akan terjadi peningkatan asam urat serum dan kreatinin plasma, akibat oleh hipovolemia,

yang menimbulkan menurunnya aliran darah ginjal dan menurunnya filtrasi glomerulus. Asam urat serum umunya meningkat ≥5mg/cc yang dapat disebabkan juga karena iskemia jaringan. Kreatini plasma meningkat sehingga mencapai ≥1mg/cc, dan biasanya terjadi pada pre-eklampsia berat dengan penyulit ginjal.1

4. Elektrolit

Pada PEB yang mengalami hipoksia akan terjadi gangguan keseimbangan asam basa. Pada saat kejang kadar bikarbonat menurun akibat asidosis laktat dan akibat kompensasi karbon dioksida. Kadar natrium dan kalium pada pre-eklampsia sama dengan kadar hamil normal, yaitu sesuai dengan proporsi jumlah air dalam tubu, jadi tidak diperlukan restriksi konsumsi garam.

5. Tekanan osmotic koloid plasma/tekanan onkotik 

Pada pre-eklampsia tekanan onkotik menurun karena keborocoran plasma dan peningkatan  permeabilitas vascular.

6. Koagulasi dan fibrinolisis

Trombositopenia jarang dijumpai namun, terjadi peningkatan FDP dan fibronektin, serta  penurunan anti-thrombin III pada pre-eklampsia. Disebut trombositopenia bila trombosit <

100.000 sel/ml. hemolisi dapat menimbulkan destruksi eritrosit. 7. Viskositas darah

Hal ini ditentukan oleh volume plasma, molekul fibrinogen dan hematokrit. Pada pre-eklampsia viskositas darah meningkat sehingga meningkatnya resistensi perifer dan

(13)

menurunnnya alirah darah ke organ. Pada pre-eklampsia, hematokrit meningkat karena hipovolemia yang menggambarkan beratnya pre-eklampsia.

8. Edema

Kehamilan normal turut dapt terjadi edema. Interpretasi, misalnya 40% edema pada hamil normal, 60% edema pada hamil dengan hipertensi, dan 80% edema pada hamil dengan hipertensi dan proteinuria. Edema ini terjadi karena hipoalbuminemia atau keruskan sel endotel kapiler. Edema patologik adalah yang nondependent pada muka dan tangan, atau edema generalisata dan biasnaya disertai dengan kenaikan berat badan yang cepat.1

9. Hepar  

Dasar perubahan pada hepar ialah vasospasme, iskemia dan perdarahan. Perdarahan pada sel  periportal lobus perifer, akan terjadi nekrosis sel hepar dan peningkatan enzim hepar. Pendarahan dapat meluas sehingga disebut subkapsular hematoma. Subkapsular hematoma mnimbulkan rasa nyeri di epigastrium dan dapat menimbulkan rupture hepar, sehingga perlu dibedah.

10. Neurologic

-  Nyeri kepala karena hiperperfusi otak.

- Gangguan visus karena spasme arteri retina dan edema retina. - Hiperefleksi erring dijumpai pada pre-eklampsia berat.

- Dapat timbul kejang eklamptik karena edema serebri, vasopasme serebri dan iskemia

serebri.

11. Kardiovaskular dan paru

Perubahan kardiovaskular karena peningkatn cardiac afterload akibat hipertensi dan  penurunan cardiac preload akibat hipovolemia. Penderita PEB mempunyai risiko besar 

terjadinya edema paru yang dapat disebabkan oleh payah jantung kiri, kerusakan sel endotel  pada pembuluh darah kapiler paru, dan menurunnya diuresi.1

12. Janin

Oleh karena menurunnya perfusi utero plasenta, hipovolemia, vasospasme dan kerusakan sel endotel pembuluh darah plasenta sehingga member dampak:

- Intra Uterine Growth Restriction ( IUGR ) dan oligohidroamnion - Kenaikan morbiditas dan mortalitas janin.1

GAMBARAN KLINIK 

Pre-eklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra dan  postpartum. Secara teoritik urutan gejal yang timbul pada pre-eklampsia ialah edema,

(14)

merupakan gejala yang paling penting. Apabila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut.1

PREEKLAMSIA RINGAN Definisi

Suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel.1

Diagnosis:

Diagnosis pre-eklampsia ringan ditegakkan berdasa atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema setelah kehamilan 20 minggu.

1. Hipertensi : sistolik/diastolic ≥140/90 mmhg. 2. Proteinuria, ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1+ dipstick 

3. Oedem pada lengan, muka dan perut, edema generalisata.1

Tujuan utama perawatan pre-eklampsia

Mencegah kejang, perdarahan intracranial, mencegah gangguan fungi organ vital dan melahirkan  bayi sehat.1

Rawat jalan

Dianjurkan untuk banyak berehat (berbaring/tidur miring), tetapi tidak harus mutlak selalu tirah  baring. Pada usia kehamilan di atas 20 minggu, tirah baring dengan posisi miring menghilangkan tekanan rahim pada v. kava inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan akan menambah curah jantung. Ini bermakna untuk mengalirkan darah ke oran-organ vital.

Diet diberikan cukup protein, rendah karbohidrat, lemak, garam secukupnya dan roboransia  prenatal.

Tidak diberikan obat-obat diuretic, antihipertensi dan sedative. Dilakukan pemeriksaan laboratorium Hb, hematokrit, fungsi hati, urin lengkap, dan fungsi ginjal.1

Rawat inap

Pada keadaan tertentu, penderita dengan pre-eklampsia ringan perlu dirawat inap. Kriteriannya adalah:

(15)

- Adanya satu atau lebih gejala dan tanda-tanda pre-eklampsia berat.

Selama di RS, dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorik. Pemeriksaan kesejahteraan  janin, berupa pemeriksaan USG dan Doppler khususnya untuk evaluasi pertumbuhan janin dan  jumlah cairan amnion. Pemeriksaan nonstress test dilakukan 2 kali seminggu dan konsultasi

dengan bahagian mata, jantung dan lain-lain.1

Perawatan obstetric yaitu sikap terhadap kehamilan

Menurut Williams, kehamilan preterm ialah kehamilan antara 22 mingg sampai ≤37 minggu.

Pada kehamilan preterm, bila tekanan darah mencapai nnormotensi, selama perawatan,  persalinannya ditunggu sampai aterm.

Pada kehamilan aterm (>37 minggu), persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal prsalinan. Persalinan dapat dilakukan secara spontan, bila perlu memperpendekkan kala II.1

PREEKLAMPSIA BERAT Definisi

Preeklampsia berat adalah preeclampsia dengan tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih dari 5 g/24 jam

Diagnosis

Criteria preeclampsia digolongan preeclampsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala  berikut :

- Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 110 mmHg. Tekanan

darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.

- Proteinuria lebih dari 5 g/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif. - Oliguria yaitu produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam

- Kenaikan kadar kreatinin plasma.

- Gangguan visus dan cerebral : penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan pandangan

kabur.

-  Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadaran kanan atas abdomen (akibat teregangnya

kapsula Glisson)

- Edema paru-paru dan sianosis - Hemolisis mikroangiopatik 

(16)

- Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoseluler) : peningkatan kadar alanin dan aspartat

aminotransferase.

- Pertumbuhan janin intrauterine terhambat - Sindroma HELLP1

Pembagian Preeklampsia Berat Preeklampsia berat dibagi menjadi :

- Preeklampsia berat tanpa impending eklampsia - Preeklampsia berat dengan impending eklampsia

Disebut impending eklampsia bila disertai gejala subyektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah.1

Perawatan dan pengobatan pre-eklampsia berat

Pengelolaan preeclampsia dan eklampsia mencakup pencegahan kejang, pengobatan hipertensi,  pengelolaan cairan, pelayanan suportif terhadap penyuilit organ yang terlibat dan saat yang tepat

untuk persalinan.1

Bagan 1. Algorithm penatalaksanaan pada hipertensi dalam kehamilan.6

(17)

Pemeriksaan sangat tliti dengan observasi harian tentang tanda-tanda klinik berupa : nyeri kepla, gangguan visus, nyeri epigastrium, dan kenaikan cepat berat badan. Elain itu, perlu dilakukan  penimbangan berat badan, pengukuran proteinuria, pengukuran TD, pemeriksaan lab, dan  pemeriksaan USG dan NST.1

Sikap Terhadap Penyakit (medikamentosa)

- Penderita preeclampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan

dianjurkan tirah baring miring ke satu sisi (kiri).

Perawatan yang penting pada preeclampsia berat ialah pengelolaan cairan karena penderita  preeclampsia dan eklampsia mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan

oliguria. Factor yang sangat menentukan terjadinya edema paru dan oliguria adalah hipovolemia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan gradient tekanan onkotik  koloid/ pulmonary capillary wedge pressure. Oleh karena itu, monitoring input cairan(oral/infuse) dan output cairan(melalui urin) sangatlah penting. Artinya harus dilakukan secara tepat, berapa cairan yang keluar masuk.

Bila terjadi tanda-tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi. Cairan yang dapat diberikan berupa :

a. 5 % Ringer-dextrose atau cairan garam faali jumlah tetesan : < 125 cc/jam, atau

 b. Infuse Dextrose 5 % yang tiap 1 liternya diselingi dengan infuse Ringer Laktat (60-125 cc/jam) 500cc

Dipasang Foley catheter untuk mengukur pengeluaran urin. Oliguria terjadi bila produksi urin < 30 cc/jam dalam 2-3 jam atau < 500 cc/24 jam. Diberikan antasida untuk menetralisir  asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat menghindari resiko aspirasi asam lambung. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.1

- Pemberian obat antikejang

o MgSO4

o Contoh obat-obat lain yang dipakai untuk antikejang :

 Diazepam  Fenitoin

Obat antikejang yang banyak dipakai di Indonesia adalah Magnesium sulfat (MgSO47H2O).1

Magnesium Sulfat menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin pada rangsangan serat saraf dengan menghambat transmisi neuromuscular. Transmisi neuromuscular  membutuhkan kalsium pada sinaps namun magnesium akan menggeser kalsium sehingga aliran tidak terjadi (terjadi kompetitif inhibition antara ion kalsium dan ion magnesium).

(18)

 Loading dose : initial dose

4 gram MgSO4: intravena, (40% dalam 10 cc) selama 15 menit

 Mantenance dose

Diberikan infuse 6 gram dalam larutan Ringer/6 jam; atau diberikan 4 atau 5 gram i.m. Selanjutnya maintenance dose diberikan 4 gram i.m tiap 4-6 jam

 Syarat-Syarat pemberian MgSO4:

- Harus tersedia antidotum MgSO4, bila terjadi intoksikasi yaitu kalsium glukonas

10% = 1 gram (10% dalam 1 cc) diberikan iv 3 menit.

- Refleks patella (+) kuat

- Frekuensi pernapasan > 16 kali/menit, tidak ada tanda-tanda distress napas

 Magnesium Sulfat dihentikan bila:

- Ada tanda-tanda intoksikasi

- Setelah 24 jam pasca persalinan atau 24 jam setelah kejang terakhir.

 Dosis Terapeutik dan toksis MgSO4

Dosis terapeutik 4-7 mEq/liter 4,8-8,4 mg/dl Hilangnya reflex tendon 10 mEq/liter 12 mg/dl Terhentinya pernapasan 15 mEq/liter 18 mg/dl Terhentinya Jantung >30 mEq/liter >36 mg/dl

Pemberian Magnesium Sulfat dapat menurunkan risiko kematian ibu dan didapatkan 50% dari pemberiannya menimbulkan efek flushes (rasa panas)

Bila terjadi refrakter terhadap MgSO4, maka diberikan salah satu obat berikut : thiopental sodium, sodium amobarbital, diazepam, atau fenitoin.

o Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru-paru, payah

 jantung kongestif atau anasarka. Diuretikum yang dipakai adalah Furosemid. Pemberian diuretikum dapat merugikan, yaitu memperberat hipovolemia, memperburuk perfusi uteroplasenta, meningkatkan hemokonsentrasi, menimbulkan dehidrasi pada janin, dan menurunkan berat janin.1

o Pemberian antihipertensi

Masih banyak pendapat dari bebrapa Negara tentang penentuan batas (cut off) tekanan darah, untuk pemberian antihipertensi.

Tekanan darah diturunkan secara bertahap, yaitu penurunan awal 25% dari tekanan sistolik dan tekanan darah diturunkan mencapai < 160/105 atau MAP < 125. Jenis antihipertensi yang diberikan sangat bervariasi dan belum ada antihipertensi yang terbaik untuk pengobatan hipertensi dalam kehamilan.

(19)

 Namun yang harus dihindari secara mutlak sebagai antihipertensi ialah diazokside, ketanserin, nimodipin dan magnesium sulfat.

 Antihipertensi lini pertama

 Nifedipin

Dosis 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam.

 Antihipertensi lini kedua

Sodium nitropusside: 0,25 µg iv/kg/menit, infuse ditingkatkan 0,25 µg iv/kg/5 menit.

 Diazokside: 20-60 mg iv/5 menit atau iv. Infuse 10 mg/menit/ dititrasi. Jenis antihipertensi yang diberikan di Indonesia adalah :

 Nifedipin

Dosis awal: 10-20 mg, diulangi 30 menit bila perlu. Dosis maksimum 120 mg/24 jam.

 Nifedipin tidak boleh diberikan sublingual karena efek vasodilatasi sangat cepat, sehingga hanya boleh diberikan peroral.

o Glukokortikoid

Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak merugikan ibu. Di  berikan pada kehamilan 32-34 minggu, 2 x 24 jam. Obat ini juga diberikan pada

sindrom HELLP.1

Sikap Terhadap Kehamilannya

Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeclampsia berat selama  perawatan, maka sikap terhadap kehamilannya dibagi menjadi :

1. Aktif (aggressive management): berarti kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian pengobatan medikamentosa.

2. Konservatif (ekspektatif): berarti kehamilan tetap dipertahankan bersamaan dengan  pemberian pengobatan medikamentosa.

• Perawatan Aktif (agresif) : sambil member pengobatan, kehamilan diakhiri

Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu/lebih keadaan dibawah ini:

 Ibu

o Umur kehamilan ≥ 37 minggu. Lockwood dan Paidas mengambil batasan umur 

kehamilan > 37 minggu untuk preeclampsia ringan dan batasan ≥37 minggu untuk   preeclampsia berat.

(20)

o Adanya tanda-tanda/ gejala-gejala Impending Eclampsia

o Kegagalan terapi pada perawatan konservatif, yaitu: keadaan klinik dan

laboratorik memburuk 

o Diduga terjadi solution plasenta

o Timbul onset persalinan, ketuban pecah atau perdarahan.

 Janin

o Adanya tanda-tanda fetal distress

o Adanya tanda-tanda intra uterine growth restriction (IUGR) o  NST nonreaktif dengan profil biofisik abnormal

o Terjadinya oligohidramnion

 Laboratorik 

o Adanya tanda-tanda “Sindroma HELLP” khususnya menurunnya trombosit

dengan cepat.

o Cara mengakhiri kehamilan (terminasi kehamilan) dilakukan berdasar keadaan

obsterik pada waktu itu, apakah sudah inpartu atau belum.1

• Perawatan konservatif 

Indikasi perawatan konservatif ialah bila kehamilan preterm ≤ 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik.

Diberi pengobatan yang sama dengan pengobatan medikamentosa pada pengelolaan secra aktif. Pada perawatan konservatif preeclampsia, loading dose MgSO4 tidak diberikan secara iv cukup i.m saja. Selama perawatan konservatif, sikap terhadap kehamilannya ialah hanya observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif, kehamilan tidak diakhiri.

Magnesium sulfat dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeclampsia ringan selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan, keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medikamentosa dan harus diterminasi. Penderita  boleh dipulangkan bila penderita kembali ke gejala-gejala atau tanda-tanda preeclampsia

ringan.

• Penyulit ibu

• Sistem saraf pusat

• Perdarahan intracranial, thrombosis vena sentral, hipertensi ensefalopati, edema

serebri, edema retina, macular atau retina detachment dan kebutaan korteks. Gastrointestinal-hepatik: subkapsular hematoma hepar, rupture kapsul hepar 

(21)

• Ginjal : gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut

• Hematologik: DIC, trombositopenia dan hematoma luka operasi

• Kardiopulmonar: edema paru kardiogenik atau nonkardiogenik, depresi atau henti

napas, kardiak arrest, iskemia miokardium.

• Lain-lain: asites, edema laring, hipertensi yang tidak terkendalikan.1 • Penyulit janin

• Intrauterine Fetal Growth Restriction (IUGR) • Solutio plasenta

• Prematuritas

• Sindroma distress napas • Kematian janin intrauterine • Kematian neonatal • Perdarahan intraventrikular  •  Nocrotizing enterocolitis • Sepsis • Cerebral Palsy.1 EKLAMPSIA Definisi

Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Eklampsia dapat terjadi ante, intra, dan postpartum. Eklampsia  postpartum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.

Pada penderita eklampsia yang akan kejang, umumnya memberi gejala-gejala atau tanda-tanda yang khas , yang dapat dianggap sebagai tanda prodoma akan terjadinya kejang. Preeklampsia disertai tanda-tanda prodoma ini disebut sebagai impending eclampsia atau imminent eclampsia.1

Menurut Williams Obstetric, eklampsia berarti oset terjadinya kejang pada wanita hamil pre-eklampsia yang bukan karena penyebab lain. 2

Diagnose banding

Kejang pada eklampsia harus dipikirkan kejang akibat penyakit lain. Diagnosis banding amat  penting, misalnya pendarahan otak, hipertensi, lesi otak, kelainan metabolic, meningitis, epilepsy

(22)

Gambaran klinis dari kejang eklampsia

- Fase pramonitoris : kedutan-kedutan padaotot kecil, otot wajah dan memutarnya bola mata. - Fase tonik: otot-otot sadar masuk ke dalam keadaan kontraksi tetanik termasuk otot-otot

interkostal dan diafragma dengan pernafasan yang tidak memadai serta sianosis.

- Fase klonik : otot secara kuat berkontraksi dan berelaksasi. Kontraksi dapat bertahan selama

satu menit. Bersifat kuat dan lidah dapat tergigit jika tidak dilindungi.

- Koma: terjadi bersamaan dengan respirasi dangkal yang cepat dan kelelahan yang jelas. - Setelah koma : pasien dapat mengalami kejang lain atau tersadar kembali.3

Insidens

Insidens eklampsia sudah semakin berkurang dengan adanya program ANC yang adekuat. Pada negara maju, insidens terjadinya eklampsia berkisar sekitar 1 dalam 2000 kelahiran. 2

Etiopathogenesis

Terdapat teori yang mengatakan bahwa terjadinya eklampsia pada ibu hamil karena:

• Terpapar dengan chorionic villi untuk pertama kalinya.

• Terpapar dengan chorionic villi dalam jumlah yang banyak, contohnya seperti kasus

kembar atau mola hidatidosa.

• Riwayat penyakit ginjal dan kardiovaskular sebelumnya. • Secara genetik, memicu pada hipertensi semasa hamil. 2

Penanganan:

Perawatan dasar eklampsia yang utama ialah terapi suportif untuk stabilisasi fungsi vital, yang harus selalu diingat Airway, Breathing, Circulation (ABC), mengatasi dan mencegah kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia mencegah trauma pada pasien pada waktu kejang, mengendalikan tekanan darah, khususnya pada waktu krisis hipertensi, melahirkan  janin pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat.1

Pengobatan Medikamentosa

- Obat antikejang pilihan utama adalah magnesium sulfat. Bila mash sukar diatasi, dapat juga

thiopental dan diazepam(alternative pilihan). Pemberian diuretikum hendaknya selalu disertai monitor plasma elektrolit. Obat antihipertensi perlu dipersiapkan dan diberikan atas indikasi.

(23)

- Pemberian magnesium sulfat terutama ditujukan untuk gangguan fungsi organ-organ

 penting,; memperbaiki asidosis, mempertahankan ventilasi paru-paru, mengatur TD, mencegah dekompensasi kordis.1

- Perawatan pada waktu kejang, tujuan utama adalah mencegah penderita mengalami trauma

akibat kejang-kejang tersebut. Dirawat di kamar isolasi cukup terang, agar bila terjadi sianosis segera diketahui. Penderita dibaringkan di tempat tidur yang lebar, dengan rail tempat tidur dipasang dan dikunci dengan kuat. Dimasukkan sudap lidah ke dalam mulut  penderita dan jangan cuba melepaskan sudap lidah yang sedang tergigit karena dapat

mematahkan gigi. Kepala direndahkan dan aerah di orofaring diisap.fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendur, untuk menghindari fraktur. Bila penderita selesai kejang, diberikan oksigen segera.

- Perawatan koma, diingatkan bahwa penderita koma tidak dapat bereaksi atau

mempertahankan diri terhadap suhu yang ekstrem, posisi tubuh yang menimbulkan nyeri dan aspirasi, karena hilangnya reflex muntah. Bahaya terbesar ialah terbuntunya jalan napas atas. Setiap penderita eklampsia yang jatuh koma harus dianggap bahwa jalan napas atas terbuntu, kecuali dibuktikan lain.

Cara sederhana untuk membuka jalan napas atas, adalah dengan maneuver head tilt-neck  lift, yaitu kepala direndahkan dan leher diekstensikan ke posis ke belakang atau head tilt-chain lif, dengan kepala direndahkan dan dagu ditarik ke atas, atau jaw thrust, yaitu mandibula kiri kanan diekstensikan ke atas sambil mengangkat kepala ke belakang. Selanjutnya dengan pemasangan oropharyngeal airway.

Diingatkan bahwa hilangnya reflex muntah, sehingga kemungkinan terjadinya aspirasi  bahan lambung sangat besar. Lambung ibu hamil harus selalu dianggap penuh. Oleh itu,

rongga mulut dan tenggorokkan, baik lender maupun makanan harus segera diisap. 1

Pengobatan obstetric:

Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan  janin. Persalinan diakhiri saat pemulihan hemodinamika dan stabilisasi ibu.1

Prognosis:

Segera setelah persalinan berakhir, perubahan patofisiologik akan mengalami perbaikan. Diuresis terjadi setelah 12 jam kemudian setelah persalinan. Hal ini merupakan tanda  prognosis yang baik. Tekanan darah kembali normal dalam beberapa jam kemudian.

(24)

Eklampsia tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya, kecuali pada janin dari ibu dengan hipertensi kronik. Prognosis janin pada penderita eklampsia adalah buruk. Seringkali janin mati intrauterine atau mati pada fase neonatal.1

BAB III PENUTUP

Pada pemeriksaan Follow-up post-natal, tekanan darah dan pemeriksaan urin haruslah dimonitor  untuk mengesan sekirannya terjadi abnormalitas pada ginjal dan kardiovaskular. Pada wanita yang mengalami pre-eklampsia, wanita itu mempunyai risiko dua kali lipat untuk terjadinya  penyakit jantung iskemik yaitu berkaitan dengan patologis vaskularnya. Risiko ini bertambah dengan semakin prematurnya usia bayinya. Pada pemeriksaan Follow-up post natal ini, kehamilan pada masa depan perlulah dibincangkan dan perlunya pengawasan atau screening  berkala untuk pemeriksaan hipertensi dari masa ke masa.7

DIAGRAM ALUR 

KELAINAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

24 Pasien mengalami hipertensi dalam Catat riwayat medis Lakukan PF

Apakh hipertensi hanya ketika hamil? Apakah ada proteinuria?

Apakah masuk criteria

Penatalaksanaan pertolongan

 pertama: Beri MgSO4, antihipertensi,

 pasang kateter Foley.

Apakah ada indikasi untuk Sc / apakah serviks belum matang?

Apakah ada indikasi untuk terminasi kehamilan?

Apakah usia kehamilan < 37

Lahirkan Penatalaksanaan jaga,

 pemantauan keadaan ibu dan √ √ √ √ √ X X X X X

(25)

DAFTAR PUSTAKA

1. Muh. Dikman Angsar. Hipertensi dalam kehamilan. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2011;4:530-60.

2. Cunningham FG dkk. Pregnancy Hipertension dalam: William Obstetrics. McGraw Hill Publisher. 2010;23:Chapter 34.

3. Gulardi Wiknjosastro. Asuhan Obstetri Essensial:Protokol Bagi Tenaga Kesehatan (Dokter,bidan dan perawat). Ikata Dokter Anak Indonesia. 2008;1:187-99..

4. E Albert Reece, John C Hobbins. Hipertensive Diseases In Pregnancy. Clinical Obstetric The Fetus and Mother. Blackwell Publisher. 2007;3:683-95.

5. Tamara L Callahan, Aaron B. Coughey. Hipertension and Pregnancy.; Blueprints Obstetrics and Gynaecology. LippincottWilliams & Wilkins Publisher. 2013;6:143-53. 6. Alan H. DeCherney, Lauren Nathan, T. Murphy Goodwin, Neri Laufer. Hypertension in

Pregnancy; Current Diagnosis and Treatments in Obstetric and Gynaecology. McGraw Hill Publisher. 2012;11:Chapter 19.

7. D. Keith Edmonds. Hypertensive Disorder. Dewhurst’s Textbook of Obstetrics and Gynaecology. Blackwell Publisher. 2007;7:227-34.

Penatalaksanaan jaga,

 pemantauan keadaan ibu dan  janin sampai 37 mg.

Apakah usia telah mencapai 37 mg?

Gambar

Tabel 2. Faktor risiko pre-eklampsia. 5 Berhubungan  penyakit  primer  Berhubungan  immunogenic primary Riwayat keluarga • Hipertensi kronis
Gambar 1. Patofisiologi Hipertensi dalam Kehamilan
DIAGRAM ALUR 

Referensi

Dokumen terkait

Konsultasi adalah suatu proses kegiatan komunikasi dalam bentuk surat menyurat atau pertemuan antara Pimpinan Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen pemrakarsa atau

Kegiatan dalam perencanaan yang dilakukan adalah mengajukan permasalahan pembelajaran yang ada, kemudian menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan KD 3.1

Puji dan syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kemampuan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan proyek

[r]

Untuk menjalankan program dari “Perancangan Sistem Informasi Monitoring Akademik Siswa SMP N 72 Jakarta Pusat” dimana aplikasi ini menggunakan PHP maka diperlukan

(2) Tujuan disusunnya Peraturan Bupati ini adalah untuk meningkatkan harmonisasi tata kerja, prosedur kerja, tugas dan fungsi serta Sumber Daya Manusia pada Rumah

Sistem basis data ini adalah suatu sistem informasi yang mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lain dan tersedia untuk beberapa

Religiusitas adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya yang dapat memperkuat pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan ibadah dan akidah