BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

17 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan

Hortimart Agro Center merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis. Perusahaan ini di dirikan oleh Ir. Budi Dharmawan sejak tahun 1979. Hortimart Agro Center terletak di Jln. Gatot Subroto 55 Bawen, berada di jalan utama Solo-Semarang dan Jogja-Semarang. Masuk ke dalam wilayah Kelurahan/kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Luas lahan Hortimart saat ini sekitar + 25 ha, dimana + 80 persen dari luas lahannya digunakan untuk tanaman buah-buahan, + 10 persen nya ditanami sayuran dan sisanya adalah bangunan seperti Agro Mart (menjual buah-buahan hasil pertanian), Agro Resto (menjual buah dan sayuran yang sudah di olah), Agro Tour (menyediakan sarana angkutan untuk konsumen yang ingin berkeliling kebun), Agro Estate (tempat penanaman sayuran) dan Agro Suplay (menyediakan dan menjual sayuran organik). Ada berbagai macam jenis tanaman buah-buahan yang di tanam dan dibudidayakan di Hortimart, diantaranya ada labu jepang, sirsat madu, srikaya, alpukat mentega, jeruk keprok, pisang, jeruk bali, pepaya hongkong, jambu getas, srikaya dan lain-lain. Untuk memasarkan produk buah-buahan tersebut Hortimart menyediakan market yang disebut Agro Mart. Agro Mart merupakan market yang menjual berbagai macam produk buah-buahan segar yang memiliki kualitas yang cukup bagus.

Untuk menjaga kualitasnya selain melakukan perawatan secara intensif di kebun, sebelum buah dikirim ke Agro Mart di lakukan pensortiran sebanyak 3 kali: (1) sortir pada saat buah akan dikirim ke gudang, (2) sortir pada saat buah akan di kirim ke Agro Mart, (3) sortir secara berkala pada saat buah diletakan di atas rak buah. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas buah yang dipasarkan kepada konsumen.

Pada saat sekarang meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mengkonsumsi buah sudah cukup tinggi, sehingga berdampak pada banyaknya permintaan terhadap buah khususnya di Hortimart Agro Center. Banyaknya permintaan tersebut menyebabkan Hortimart sering mengalami kehabisan

(2)

stokbuah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan konsumen, Hortimart melakukan kerja sama dengan perusahaan Plantera yang juga membudidayakan buah-buahan yang kurang lebih hampir sama jenisnya seperti di Hortimart, Plantera sendiri terletak di Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kababupaten Kendal, Jawa Tengah. Adapun jenis buah yang ditawarkan oleh Hortimart kepada konsumen adalah buah pisang, sirsat madu, jeruk bali, jeruk keprok, labu jepang, pepaya hongkong, lengkeng, durian, jambu getas, salak pondoh, srikaya, buah naga, mangga dan masih banyak yang lainnya.

4.2 Gambaran Umum Responden

Gambaran umum responden dalam penelitian ini merupakan hasil wawancara langsung terhadap konsumen buah yang sedang melakukan pembelian buah di Hortimart Agro Center. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 70 orang. Gambaran umum tersebut meliputi : distribusi responden menurut jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, lokasi responden dan jumlah kunjungan responden selama lima bulan terakhir.

4.2.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin

Distribusi responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin (L/P) Jumlah (Orang) Presentase

1 Laki-Laki 26 37%

2 Perempuan 44 63%

Jumlah 70 100%

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Pada Tabel 4.1 diatas menunjukan bahwa sebagian besar responden yang melakukan pembelian paling banyak adalah perempuan yakni sebanyak 44 orang atau 63%, sedangkan laki-laki hanya berjumlah 26 orang atau 37% dari total responden.

4.2.2 Distribusi Responden Menurut Usia

Distribusi responden menurut usia dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.2 Distribusi Responden Menurut Usia.

NONo

Usia (tahun) Orang (jumlah) Presentase

1 19 – 28 17 24% 2 29 – 38 14 20% 3 39 – 48 23 33% 4 49 – 58 10 14% 5 59 – 68 6 9% Jumlah 70 100%

(3)

Dari Tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa sebagian besar responden yang berkunjung ke Hortimart berusia antara 39-48 tahun, yaitu sebanyak 23 orang atau 33%, sedangkan yang terendah adalah responden yang berusia antara 59-68 tahun yaitu sebanyak 6 orang atau 9% dari jumlah seluruh responden.

4.2.3 Distribusi Responden Menurut Pendidikan

Distribusi responden menurut pendidikan terakir dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini.

4.3 Tabel Distribusi Responden Menurut Kelompok Pendidikan

No Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase

1 SD 2 3%

2 SMP 2 3%

3 SMA 31 44%

4 Perguruan Tinggi 35 50%

Jumlah 70 100%

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Dari Tabel 4.3 diatas menunjukan bahwa responden yang pendidikan terakhirnya perguruan tinggi adalah yang paling banyak melakukan pembelian yaitu sebnyak 35 orang atau 50%, dan yang terendah adalah responden yang berpendidikan SD dan SMP yaitu masing-masing sebanyak 2 orang atau 3%. 4.2.4 Distibusi Responden Menurut Pekerjaan

Distribusi responden menurut pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini. Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan.

No Pekerjaan Orang (jumlah) Presentase

1 Ibu Rumah Tangga 14 20%

2 Wiraswasta 27 39%

3 Swasta 8 11%

4 Buruh 2 3%

5 Pegawai Negeri Sipil 9 13%

6 Pensiun 1 1%

7 Mahasiswa 9 13%

Jumlah 70 100%

Sumber : Data primer yang di olah, mei 2016

Dari Tabel 4.4 diatas terlihat bahwa sebagian besar responden yang berkunjung ke Hortimart berprofesi sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 27 orang atau 39%, sedangkan yang terendah adalah responden yang sudah pensiun yaitu 1 orang atau 1% dari jumlah seluruh responden.

(4)

4.2.5 Distribusi Responden Menurut Pendapatan

Distribusi responden menurut pendapatan dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini. Tabel 4.5 Distribusi Responden Menurut Pendapatan.

No Pendapatan/bulan (Rupiah) Orang (jumlah) Presentase

1 0 - 1.500.000,00 7 10% 2 >1.500.000,00 – 3.000.000,00 21 30% 3 >3.000.000,00 - 4.500.000,00 19 27% 4 >4.500.000,00 – 6.000.000,00 14 20% 5 >6.000.000,00 - 7.500.000,00 2 3% 6 >7.500.000,00 7 10% Jumlah 70 100%

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Dari Tabel 4.5 diatas terlihat bahwa sebagian besar responden yang berkunjung ke Hortimart berpendapatan diantara Rp >1.500.000,00-3.000.000,00 yaitu sebanyak 21 orang atau 30%. Sedangkan yang terendah adalah yang bependapatan Rp >6.000.000,00 – 7.500.000,00 yaitu sebanyak 2 orang atau 3% dari jumlah responden.

4.2.6 Distribusi responden Menurut Lokasi

Distribusi responden menurut lokasi dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini. Tabel 4.6 Distribusi Responden Menurut Lokasi atau Kota Responden.

No Lokasi Orang (jumlah) Presentase

1 Semarang 34 49% 2 Salatiga 9 13% 3 Ambarawa 5 7% 4 Ungaran 11 16% 5 Bawen 1 1% 6 Solo 5 7% 7 Jogja 1 1% 8 Jepara 4 6% Total 70 100%

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Dari tabel 4.6 diatas terlihat bahwa sebagian besar responden yang berkunjung ke Hortimart berasal dari Semarang, yaitu sebanyak 34 orang atau 49%. Sedangkan yang terendah adalah yang berasal dari Bawen dan Jogja yaitu masing-masing sebanyak 1 orang atau 1% dari jumlah seluruh responden.

(5)

4.2.7 Distribusi Responden Menurut Jumlah Kunjungan

Distribusi responden menurut kunjungan selama 5 bulan terakhir dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini.

Tabel 4.7 Distribusi Responden Menurut Jumlah Kunjungan Selama 5 Bulan terakhir.

No Jumlah kunjungan Responden dalam 5 bulan terakhir ( kali)

Jumlah Kunjungan (orang) Presentase 1 1 32 46% 2 2 9 13% 3 3 8 11% 4 >3 21 30% Jumlah 70 100%

Sumber : Data Primer yang diolah,mei 2016

Dari Tabel 4.7 diatas terlihat bahwa jumlah kunjungan ke hortimart selama 5 bulan terakirterbanyak adalah 1 kali yaitu 32 orang atau 46%. Sedangkan yang terendah sebanyak 3 kali yaitu 8 orang atau 11% dari total responden.

4.3 Distribusi Responden Menurut Loyalitas

Distribusi responden menurut loyalitas dalam penelitian ini merupakan distribusi antara variabel bebas (X) menurut variabel terikat (Y). Pada tabel distribusi dibawah ini, pengelompokan loyalitas konsumen dilakukan berdasarkan perhitungan statistika mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Rumus statistika dalam pembuatan selang kelas tersebut adalah sebgai berikut:

Adapun distribusi tersebut meliputi : distribusi usia menurut loyalitas, distribusi pendapatan menurut loyalitas, distribusi persepsi terhadap produk menurut loyalitas, distribusi persepsi terhadap harga menurut loyalitas, distribusi persepsi terhadap promosi menurut loyalitas dan distribusi persepsi terhadap tempat menurut loyalitas.

4.3.1 Distribusi Usia Konsumen Menurut Loyalitas

Distribusi usia konsumen menurut loyalitas dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini.

Tabel 4.8 Distribusi Usia Menurut Loyalitas. Usia = X1 (tahun) Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 19 – 28 4 9 4 17 29 – 38 1 8 5 14 39 – 48 0 13 10 23 49 – 58 0 5 5 10 59 – 68 0 5 1 6 Total 5 40 25 70

(6)

Berdasarkan Tabel 4.8 diatas, dari distribusi diatas jika ditarik garis dari atas kebawah, maka akan membentuk garis lurus yang hanya bertumpuk pada loyalitas tinggi, sehingga terlihat bahwa tidak terdapat pola kaitan atau hubungan antara usia dengan loyalitas.

4.3.2 Distribusi Pendapatan Konsumen Menurut Loyalitas

Distribusi pendapatan konsumen menurut loyalitas dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9 Distribusi Pendapatan Menurut Loyalitas. Pendapatan/bulan = X2 (Rupiah) Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 0 - 1.500.000,00 4 3 0 7 >1.500.000,00 - 3000.000,00 0 15 6 21 >3000.000,00 - 4.500.000,00 1 15 3 19 >4.500.000,00 - 6000.000,00 0 4 10 14 >6000.000,00 - 7.500.000,00 0 0 2 2 >7.500.000,00 0 3 4 7 Total 5 40 25 70

Sumber : Data Primer yang diolah, mei 2016

Berdasarkan Tabel 4.9 diatas, terlihat bahwa terdapat pola kaitan atau hubungan antara pendapatan dengan loyalitas konsumen, dimana jika ditarik garis dari atas kebawah, garis akan cendrung menuju ke arah loyalitas yang sangat tinggi.

4.3.3 Distribusi Persepsi Konsumen Terhadap Produk Menurut Loyalitas Distribusi persepsi konsumen terhadap produk menurut loyalitas dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut ini.

Tabel 4.10 Distribusi Persepsi Terhadap Produk Menurut Loyalitas. Persepsi Terhadap Produk = X3 Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 18 – 23 1 0 0 1 24 – 29 4 32 5 41 30 – 35 0 8 20 28 Total 5 40 25 70

Sumber : Data Primer yang diolah, mei 2016

Berdasarkan Tabel 4.10 diatas, terlihat bahwa terdapat pola kaitan atau hubungan antara persepsi produk dengan loyalitas konsumen dimana jika ditarik garis dari atas kebawah, maka akan cenrung mengarah ke loyalitas yang sangat tinggi.

(7)

4.3.4 Distribusi Persepsi Konsumen Terhadap Harga Menurut Loyalitas Distribusi persepsi konsumen terhadap harga menurut loyalitas dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut ini.

Tabel 4.11 Distribusi Persepsi Terhadap Harga Menurut Loyalitas. Persepsi Terhadap Harga = X4 Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 16 – 20 4 3 0 7 21 – 25 1 33 13 47 26 – 30 0 4 12 16 Total 5 40 25 70

Sumber : Data Primer yang diolah, mei 2016

Berdasarkan Tabel 4.11 diatas, terlihat bahwa terdapat pola kaitan atau hubungan antara persepsi harga dengan loyalitas konsumen, dimana jika ditarik garis dari atas kebawah akan cendrung mengarah ke loyalitas yang sangat tinggi. 4.3.5 Distribusi Persepsi Konsumen Terhadap Promosi Menurut Loyalitas Distribusi persepsi konsumen terhadap promosi menurut loyalitasdapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut ini.

Tabel 4.12 Distribusi Persepsi Terhadap Promosi Menurut Loyalitas. Persepsi Terhadap Promosi = X5 Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 20 – 21 5 36 13 54 22 – 23 0 0 4 4 24 – 25 0 4 8 12 Total 5 40 25 70

Sumber : Data Primer yang diolah, mei 2016

Berdasarkan Tabel 4.12 diatas, terlihat bahwa terdapat pola kaitan atau hubungan antara persepsi promosi dengan loyalitas konsumen dimana jika ditarik garis dari atas kebawah maka akan mengarah ke loyalitas sangat tinggi, namun pola pada tabel tersebut lebih terkonsentrasi pada loyalitas tinggi.

3.3.6 Distribusi Persepsi Konsumen Terhadap Tempat Menurut Loyalitas Distribusi persepsi konsumen terhadap tempat menurut loyalitasdapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut ini.

Tabel 4.13 Distribusi Persepsi Terhadap Tempat Menurut Loyalitas. Persepsi Terhadap Tempat = X6 Loyalitas Total 21 – 25 26 – 30 31 – 35 28 – 33 3 18 0 21 34 – 39 2 32 14 48 40 – 45 0 0 11 11 Total 5 40 25 70

(8)

Berdasarkan Tabel 4.13 diatas, terlihat bahwa terdapat pola kaitan atau hubungan antara persepsi tempat dengan loyalitas konsumen, dimana jika ditarik garis dari atas kebawah, maka akan cendrung mengarah ke loyalitas sangat tinggi 4.4 Hasil Uji Instrumen

4.4.1. Uji Validitas

Pengujian validitasdilakukan dengan menggunakan metode korelasi product

moment dari pearson, pengujian dilakukan dengan melihat angka koefisien

korelasi (rxy)yang menyatakan hubungan antara skor pertanyaan dengan skor total (item – total correlation). Hasilnya dibandingkan dengan r tabel dimana df = n-2 = 70-2 = 68 pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05) didapat angka r tabel 0,235. Tabel 4.14 Hasil Uji validitas

No Indikator Item-total Correlation ( r hitung) R tabel Keter angan Variabel Produk (X3)

1 Memenuhi kebutuhan dan keinginan 0,679 0,235 Valid

2 Aman di konsumsi 0,821 0,235 Valid

3 Buah dalam keadaan segar 0,661 0,235 Valid

4 Berkualitas 0,794 0,235 Valid

5 Bermanfaat bagi kesehatan 0,586 0,235 Valid

6 Penampilan menarik 0,558 0,235 Valid

7 Matang sesuai kebutuhan 0,693 0,235 Valid

Variabel Harga (X4)

1 Harga terjangkau 0,590 0,235 Valid

2 Harga yang di tawarkan sesuai dengan kualitas

0,845 0,235 Valid 3 Harga yang ditawarkan sesuai dengan

kuantitas

0,805 0,235 Valid 4 Harga yang ditawarkan sesuai dengan

pelayanan

0,895 0,235 Valid 5 Harga sesuai dengan manfaat yang

dirasakan

0,805 0,235 Valid 6 Dibandingkan pesaing lain harga relatif

murah

0,620 0,235 Valid Variabel Promosi (X5)

1 Adanya promosi yang dilakukan oleh pihak Hortimart

0,585 0,235 Valid 2 Adanya promosi membuat konsumen

tertarik datang dan membeli buah

0,896 0,235 Valid 3 Mengetahui hortimart melalui sosial media 0,950 0,235 Valid

(9)

4 Mengetahui hortimart melalui teman kerja atau orang lain

0,949 0,235 Valid 5 Mengetahui hortimart melalui keluarga 0,910 0,235 Valid Variabel Tempat (X6)

1 Lokasi dekat dengan permukiman warga/masyarakat

0,809 0,235 Valid

2 Lokasi mudah dijangkau 0,830 0,235 Valid

3 buah yang dicari mudah di temukan 0,680 0,235 Valid 4 buah yang dibutuhkan selalu tersedia 0,660 0,235 Valid 5 Letak buah mudah di ingat dan di temukan 0,501 0,235 Valid 6 Suasana tempat belanja nyaman 0,582 0,235 Valid

7 tempat bersih dan menarik 0,606 0,235 Valid

8 Kemudahan akses 0,735 0,235 Valid

9 Lokasi strategis 0,737 0,235 Valid

Variabel Loyalitas (Y)

1 Selalu menyukai buah yang ditawarkan 0,604 0,235 Valid 2 Buah yang ditawarkan adalah yang terbaik 0,869 0,235 Valid 3 Merekomendasikan kepada orang lain 0,917 0,235 Valid 4 Akan datang lagi ke hortimart 0,906 0,235 Valid 5 Menceritakan hal baik keorang lain 0,955 0,235 Valid 6 Menjadikan pilihan utama untuk

berbelanja buah

0,955 0,235 Valid 7 Akan mengajak keluarga datang dan

membeli buah di hortimart

0,934 0,235 Valid

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Berdasarkan hasil uji validitas menunjukan bahwa seluruh item pertanyaan dalam kuisoner mempunyai nilai rhitung lebih besar dari rtabel yaitu>0,235. maka disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan dalam kuisoner dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam analisis lebih lanjut.

4.4.2 Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan teknik Cronbach’s alpha, dengan jumlah sampel 70 responden. Suatu instrumen penelitian dinyaatakan reliabel apabila nilai alpha>0,60 (Kaplan dan Saccuzo dalam siregar 2013). Perhitungan nilai koefisien reliabilitas untuk instrumen penelitian yang digunakan di peroleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.15 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Koefisien Alpha Keterangan

Produk (X1) 0,774 Reliabel

Harga (X2) 0,816 Reliabel

Promosi (X3) 0,918 Reliabel

Tempat (X4) 0,846 Reliabel

Loyalitas (Y) 0,931 Reliabel

(10)

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengujian reliabilitas instrumen penelitian, nilai koefisien reliabilitas > 0,60 maka dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian tersebut dinyatakan reliabel atau adapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

4.4.3 Pengujian Model

Sebelum dilakukan analisis regresi linear berganda, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan uji multikolinearitas. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pelanggaran yang terjadi, jika hal tersebut terjadi akan mengakibatkan koefisien regresi memiliki standard erordan ragam (variance) yang besar. Dengan demikian data yang diperoleh tidak dapat dilanjutkan pada analisis regresi linier berganda.

1. Uji Normalitas

Dari output SPSS di peroleh sebagai berikut: Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas

Skewness Kurtosis

Statistic Std. Error Statistic

Std. Error Unstandardized Residual Valid

N (listwise) .509 .287 .714 .566

Sumber : Data primer yang diolah, Mei 2016

Berdasarkan tabel 4.16 diatas terlihat bahwa rasio skewnes = 0,509/0,287 = 1,77; sedangkan rasio kurtosis = 0,724/0,566 = 1,26. Karena rasio skewnes dan rasio kurtosis berada diantara -2 hingga +2, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

2. Uji Autokorelasi

Statistik d (Durbin Watson) dalam perhitungan SPSS diperoleh nilai sebagai berikut:

Tabel 4.17 Hasil Uji Autokorelasi Model Durbin-Watson

1 1.862

Sumber : Data primer yang diolah, Mei 2016

Dari tabel 4.17diatas diperoleh nilai DW= 1,862. k= 6. Nilai k menunjukan jumlah variabel bebas, sehingga diperoleh nilai dL= 1,4326 dan nilai dU= 1,8025. (lihat tabel Durbin-Watson pada α= 5%).

(11)

Sehingga Nilai dL = 1,4326 dU = 1,8025 DW = 1,862

4-dU = 4-1,8025 = 2,1975 4-dL = 4-1,4326 = 2,5674

Dengan demikian, nilai DW berada diantara dU dan 4-dU, yaitu 1,8025<1,862< 2,1975. Jadi dapat di simpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

3. Uji Heterokesdatisitas

Dari output SPSS diperoleh chart sebagai berikut:

Gambar 4.1. Diagram Scatterplot

Berdasarkan chart diatas terlihat jelas bahwa ada pola yang jelas serta titik-titik yang menyebar keatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskesdastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai utuk prediksi loyalitas berdasarkan masukan peubah independennya.

4. Uji Multikorelasi

Dari data pengolahan dengan SPSS didapat hasil sebagai berikut: Tabel 4.18 Hasil Uji Multikorelasi

Variabel

VIF Keterangan

Usia (X1) 1.210 Tidak ada gejala multikolinearitas Pendapatan (X2) 1.370 Tidak ada gejala multikolinearitas Produk (X3) 1.923 Tidak ada gejala multikolinearitas Harga (X4) 2.590 Tidak ada gejala multikolinearitas Promosi (X5) 2.266 Tidak ada gejala multikolinearitas Tempat (X6) 1.558 Tidak ada gejala multikulinearitas

(12)

Berdasarkan hasil diatas, nilai VIF < 10 sehingga model regresi pada penelitian ini tidak terjadi gejala multikolinearitas.

4.5. Hasil Analisis dan Pembahasan

Pada bagian ini akan disajikan hasil analisis dan pembahasan terhadap penelitian yang telah dilakukan dengan menguraikan model dari analisis regresi berganda. 4.5.1. Hasil Analisis Regresi Berganda

Analisis terhadap regresi berganda ini menunjukan pengaruh dari variabel bebas: umur (X1), pendapatan (X2), Produk (X3), Harga (X4), Promosi (X5) dan tempat (X6) terhadap variabel terikat Loyalitas Konsumen (Y), dengan menggunakan SPSS 16.0.

Tabel 4.19 Hasil Analisis Regeresi Berganda No Variabel Nilai Koefisien

Regresi (B)

Nilai t Hitung Signifikan

1 Konstanta .355 .095 .924 2 Usia -.022 -.913 .365 3 Pendapatan .609 2.710 .009* 4 Produk .406 3.156 .002* 5 Harga .442 2.890 .005* 6 Promosi -.201 -.869 .388 7 Tempat .265 3.330 .001*

R2 adjusted = 0,641 F hitung = 21.575 F tabel = 3,74 t tabel = 1,671

Sumber : Data primer yang diolah, mei 2016

Keterangan: tanda * menunjukan bahwa variabel tersebut berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 95% (α= 0,05)

Berdasarkan perhitungan regresi linier berganda didapat hasil seperti berikut ini: Y = 0,355 - 0,022X1 + 0,609X2 + 0,406X3 + 0,442X4 - 0,201X5 + 0,265X6 + ε

Analisis secara serempak pada model regresi berganda dilakukan dengan melihat nilai koefisien determinasi (R2 adjusted), nilai F hitung, dan nilai signifikansi masing-masing variabel bebas (t hitung). Hasil hasil dari pendugaan parameter model regresi berganda menunjukan nilai koefisien determinasi ( R2 adjusted) 0,641. Ini menunjukan sekitar 64,1% loyalitas konsumen dijelaskan oleh variabel-variabel bebas yang meliputi: usia, pendapatan, produk, harga, promosi dan tempat. Sedangkan sisanya 35,9% loyalitas konsumen di jelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Adapun signifikansi model regresi berganda menunjukan nilai yang signifikan pada taraf uji (α= 0,05) atau 5% yang ditunjukan dengan nilai F hitung (21,575)> F tabel (3,74), sehingga terdapat pengaruh nyata antara variabel bebas terhadap loyalitas konsumen.

(13)

Pada tabel diatas nilai signifikansi untuk variabel usia (0,365), pendapatan (0,009), produk (0,002), harga (0,005), promosi (0,388) dan tempat (0,001). Untuk variabel usia dan variabel promosi, nilai signifikansi >0,05 hal ini menggambarkan bahwa loyalitas konsumen buah pada Hortimart Agro Center secara parsial tidak di jelaskan oleh kedua faktor tersebut. Sedangkan untuk variabel pendapatan, produk, harga dan tempat menunjukan arah nilai signifikansinya <0.05, hal ini menggambarkan bahwa loyalitas konsumen buah pada Hortimart Agro Center secara parsial dijelaskan oleh keempat variabel tersebut.

Jika dilihat dari niai koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatan loyalitas konsumen akan dipengaruhi oleh pendapatan konsumen, kualitas produk, harga dan tempat. Setiap peningkatan variabel pendapatan sebesar satu satuan akan meningkatkan loyalitas konsumen sebesar 0,609, dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstan. Setiap peningkatan variabel produk sebesar satu satuan akan meningkatan loyalitas konsumen sebesar 0,406, dengan asumsi bahwa variabel lain di anggap konstan. Setiap peningkatan variabel harga sebesar satu satuan akan meningkatkan loyalitas konsumen sebesar 0,442, dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstan. Setiap peningkatan variabel tempat sebesar satu satuan akan meningkatkan loyalitas konsumen sebesar 0,265.Dari persamaan regresi juga diketahui nilai konstanta sebesar 0,355, artinya variabel dependen (Y) tanpa variabel independen (X) maka akan bernilai sebesar 0,355. 4.5.2. Pengaruh Usia (X1) Terhadap Loyalitas Konsumen Buah di

Hortimart.

Pada Tabel 4.19, variabel usia memiliki t hitung sebesar -0,913 dengan tingkat signifikansi 0,365. Karena besarnya t hitung -0,913< t tabel (1,671) maka H0 diterima dan H1 ditolak, hal ini berarti usia tidak berpengaruh sigifikan terhadap loyalitas konsumen buah.

Umur tidak selamanya berpengaruh terhadap loyalitas, apalagi dalam hal ini kebutuhan akan konsumsi buah memang harus dipenuhi oleh setiap orang tanpa memandang umur. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan umur konsumen yang berkunjung ke Hortimart sangat beragam mulai dari usia 20-68 tahun. Dengan melihat hal tersebut artinya bahwa kebutuhan masyarakat jawa tengah

(14)

terhadap pentingnya mengkonsumsi buah pada saat ini cukup bisa dikatakan sama, baik pada usia muda, dewasa dan lanjut usia. Dewasa ini kebutuhan akan konsumsi buah memang tidak selalu diidentikan dengan orangtua namun anak muda juga butuh konsumsi buah untuk menjaga kesehatannya, apalagi Hortimart sendiri bukan cuma menjual buah-buahan segar, namun juga menyediakan wisata keliling kebun, sehingga hampir disemua usia baik dewasa, tua dan lanjut usia datang untuk berbelanja sambil menikmati keindahan alam sekitarnya. Pada tabel 4.8. yaitu tabel distribusi usia menurut loyalitas, tidak terlihat ada pola yang teratur atau semuanya mengumpul pada loyalitas tinggi, artinya dalam penelitian ini usia tidak mempengaruhi loyalitas konsumen dalam membeli buah di Hortimart.Hal tersebut akan memberikan keuntungan tersendiri bagi pihak Hortimart, sebab segmentasi pasarnya cukup luas sehingga penjualan akan menjadi lebih baik, sehingga akan memberikan keuntungan tersendiri bagi Hortimart.

4.5.3. Pengaruh Pendapatan (X2) terhadap Loyalitas Konsumen Buah di Hortimart.

Pada Tabel 4.19, variabel pendapatan memiliki t hitung sebesar 2,710 dengan tingkat signifikansi 0,009. Karena t hitung (2,710) > t tabel (1,671) maka H0 ditolak dan H1 diterima,hal ini berarti pendapatan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen buah. Pendapatan konsumen yang berbelanja di hortimart tidak terlalu beragam mulai dari Rp 0 - >7.500.000,00. Berdasarkan hasil survei dilapangan, Pendapatan konsumen memang cukup berpengaruh, bahwa semakin tinggi pendapatan konsumen akan cendrung semakin loyal. Seperti pada tabel 4.9, bahwa terlihat ada pola yang jelas kaitannya antara pendapatan dengan loyalitas, dimana semakin tinggi pendapatan seseorang maka akan cendrung semakin loyal terhadap pembelian buah di Hortimart. sepeti yang dikatakan oleh(Susanto, 1999), semakin besar pendapatan seseorang akan sangat mudah memutuskan untuk membeli suatu barang atau jasa, daya beli yang ada di dalam suatu perekonomian tergantung pada pendapatan dan harga, sehingga para pemasar perlu melihat kecendrungan-kecendrungan utama dalam pendapatan dan pola pengeluaran konsumen.

(15)

4.5.4. Pengaruh Produk (X3) Terhadap Loyalitas Konsumen Buah di Hortimart

Berdasarkan Tabel 4.19, diatas variabel produk memiliki t hitung sebesar 3,156 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002. Karena t hitung (3,156)> t tabel (1,671) maka H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti produk berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Pada Tabel 4.10, terlihat ada pola yang jelas antara persepsi produk terhadap loyalitas, yang mana semakin tinggi persepsi konsumen terhadap produk, maka semakin tinggi pula loyalitasnya, sehingga kualitas produk di Hortimart menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan atau meningkatkan loyalitas konsumen. Menurut pengalaman dilapangan, kualitas produk memang menjadi syarat utama dari para konsumen untuk berbelanja dihortimart, sehingga kualitas produk memberikan efek yang cukup besar terhadap loyalitas konsumen. Faktor yang menyebabkan tingginya persepsi konsumen terhadap kualitas buah di Hortimart adalah karena buah yang dipasarkan berasal dari kebun sendiri, yang terlihat masih sangat segar dan penampilannya cukup menarik perhatian, hal tersebut dibuktikan langsung oleh konsumen dengan melihat secara langsung tanaman buah-buahan di sekitar areal kebun. Dengan melihat langsung secra langsung bentuk pohon dan buahnya, konsumen merasa bahwa buah-buahan yang dipasarkan oleh Hortimart memiliki kualitas yang bagus, aman di konsumsi dan memenuhi kebutuhan konsumen, hal tersebut secara tidak langsung membuat citra perusahaan semakin baik dimata konsumen. Untuk menjaga kualitas buahnya, setiap hari Hortimart selalu melakukan cek secara berkala, buah yang kira-kira kurang layak akan dibuang. Hal tersebut dilakukan untuk memperkecil kemungkinan kekecewaan konsumen terhadap pelayanan yang dilakukan pihak Hortimart, sebab seperti yang diungkapkan oleh GE, John F Welch Jr., “kualitas adalah jaminan terbaik atas loyalitas pelanggan, pertahanan terkuat menghadapi persaingan luar negeri, dan satu-satunya jalan untuk mempertahankan pertumbuhan dan penghasilan (Kotler dan Kevin, 2008).

(16)

4.5.5. Pengaruh Harga (X4) Terhadap Loylitas Konsumen Buah di Hortimart

Berdasarkan tabel 4.19, variabel harga memiliki t hitung sebesar 2,890 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,005. Karena t hitung (2,890)> t tabel (1,671) maka H0 ditolak dan H1 diterima berarti harga berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Berdasarkan pengalaman dilapangan, kebanyakan konsumen mengatakan harga buah di Hortimart sesuai dengan kualitas, kuantitas serta pelayanan yang diberikan oleh pihak Hortimat. Konsumen tidak terlalu banyak pertimbangan dalam membeli ketika harga yang ditetapkan sesuai dengan kualitas, kuantitas dan pelayanan yang diberikan oleh perusahaan. Seperti pada Tabel 4.11, bahwa terlihat ada pola yang jelas antara harga dengan loyalitas, dimana semakin tingi persepsi konsumen terhadap kesesuaian harga, maka akan semakin tinggi pula loyalitasnya. Hal ini sejalan dengan pendapat (Kotler, 1996 dalam Mei, 2012) bahwa konsumen akan menjadi loyal pada beberapa merek berkualitas tinggi jika produk-produk itu ditawarkan dengan harga yang wajar, selain itu kepekaan pembeli terhadap harga akan berkurang jika produk lebih bermutu, lebih bergengsi dan lebih ekslusif. Menurut konsumen, Jika dibandingkan dengan market lain seperti Superindo dan beberapa market yang berada di sekitar kota Semarang, harga buah di Hortimart memang sedikit lebih tinggi, tetapi harga yang di tawarkan sangat sesuai dengan kualitas dan pelayanan yang diberikan oleh pihak Hortimart, sedangkan di tempat lain meskipun harganya sedikit lebih murah, namun pelayanannya masih kurang memuaskan, sehingga harga yang ditawarkan masih belum sesuai dengan keinginan konsumen. 4.5.6. Pengaruh Promosi (X5) Terhadap Loyalitas Konsumen Buah di

Hortimart

Berdasarkan Tabel 4.19, variabel promosi memiliki t hitung sebesar -0,869 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,388. Karena t hitung (-0,869)< t tabel (1,671) maka H0 diterima dan H1 ditolak,hal ini berarti promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Seperti pada Tabel 4.12, meskipun terlihat membentuk pola, tetapi lebih banyak mengumpul pada loyalitas tinggi. Berdasarkan pengalaman dilapangan, dari pihak hortimart sendiri dalam melakukan promosi tidak intensif, hortimart juga tidak mempunyai website atau

(17)

blog sendiri untuk memperkenalkan produknya, adapun instagram dan sosial media lainnya masih pasif dalam memberikan informasi, sehingga dampaknya terhadap konsumen tidak terlalu besar. Sedangkan dari hasil wawancara dengan konsumen, kebanyakan konsumen mengetahui Hortimart bukandari sosial media atau yang berkaitan dengan promosi dari pihak Hortimart, tetapi lebih banyak tau dari teman ataupun keluarga. Dalam penelitian ini, promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen, hal ini tentu memberikan dampak positif bagi perusahaan. Sebab walaupun tidak melakukan promosi secara intensif, konsumen akan tetap datang ke Hortimart. Namun untuk meningkatkan volume penjualan, ada baiknya Hortimart tetap melakukan dan meningkatkan promosi baik itu melalui sosial media ataupun yang lainnya.

4.5.7. Pengaruh Tempat (X6) Terhadap Loyalitas Konsumen di Hortimart Berdasarkan Tabel 4.19 diatas variabel tempat memiliki t hitung sebesar 3,330 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001. Karena t hitung (3,330)> t tabel (1,671) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti tempat berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Seperti pada Tabel 4.13 dimana terlihat ada pola atau hubungan antara tempat dengan loyalitas konsumen, diamana semakin tinggi persepsi konsumen terhadap tempat penjualan, maka akan semakin tinggi loyalitasnya. Berdasarkan hasil survei dilapangan, tempat memang sangat menjadi pertimbangan bagi konsumen, sebab semakin sulit tempat tersebut untuk dijangkau, maka akan semakin malas konsumen untuk berkunjung ketempat tersebut. Seperti pada Tabel 4.6. sebagian besar responden berasal dari kota semarang, kebanyakan dari konsumen mengatakan, Hortimart lebih mudah dijangkau dan dekat jalan utama, sehingga hanya dengan beberapa menit melalui jalan tol sudah bisa sampai ke Hortimart, selain itu buah yang dibutuhkan sering tersedia di tempat, suasananya sangat nyaman untuk berbelanja. Seperti yang dikatakan (Tjiptono dalam Fitriah 2013), Dalam memilih lokasi atau tempat untuk menjalankan suatu usaha, para pelaku usaha perlu mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya : (1) kemudahan untuk menjangkau, (2) kemudahan untuk dilihat, (3) banyaknya orang yang lalu lalang bisa memberikan peluang yang besar tejadinya impuls buying dan kepadatan serta kemacetan bisa menjadi hambatan, (4) Tempat parkir yang luas dan aman.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :