5.1 Pendahuluan
Sumberdaya cakalang (Katsuwonus pelamis) bersifat sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) namun tingkat kecepatan pemulihannya dapat saja tidak seimbang dengan laju pemanfaatan. Oleh karena itu pemerintah bertanggungjawab menetapkan pengelolaan sumberdaya perikanan Indonesia untuk kepentingan seluruh masyarakat dengan memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya tersebut.
Cakalang merupakan salah satu jenis sumberdaya ikan terpenting baik sebagai komoditi ekspor maupun sebagai bahan konsumsi dalam negeri. Oleh karena itu penambahannya di dalam devisa negara cukup berarti. Di negara-negara maju seperti Jepang, Korea dan Amerika Serikat penelitian terhadap cakalang sudah dilakukan, baik menyangkut aspek biologi, distribusi dan teknik penangkapannya. Di Indonesia penelitian seperti itu belum banyak dilakukan
sehingga informasi yang tersedia masih kurang sekali (Wouthuyzen et al. 1990
diacu dalam Manik 2007). Hal ini disebabkan karena selama ini perhatian lebih dipusatkan pada masalah penangkapan saja.
Kegiatan usaha penangkapan ikan di Teluk Bone saat ini berlangsung secara bebas (open access) tanpa aturan dan pengendalian yang jelas sehingga semua nelayan dan alat tangkap yang ada di daerah pesisir kabupaten/kota bebas mengakses untuk menangkap cakalang. Hingga saat ini penangkapan cakalang dilakukan tanpa pengaturan yang jelas sesuai dengan kaidah pengelolaan sumberdaya perikanan. Nelayan memiliki kecenderungan kapan dan di mana saja dengan bebas melakukan penangkapan termasuk ikan yang masih berukuran belum layak tangkap. Untuk keperluan pengelolaan sumberdaya ikan, maka informasi tentang karakteristik biologi cakalang menjadi hal yang sangat penting.
Karakteristik biologi ikan dijabarkan secara rinci untuk keperluan pengelolaan sumberdaya perikanan bertanggung jawab. Untuk itu telah dilakukan identifikasi terhadap kondisi biologi cakalang yang meliputi hubungan
panjang dan berat ikan, komposisi ukuran ikan, pertumbuhan, length at first
maturity (lm) panjang pertama kali ikan matang gonad, dan ukuran ikan yang layak tangkap (legal size).
5.2 Tujuan Spesifik
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk menganalisis data biologis cakalang yaitu komposisi ukuran, panjang berat, pertumbuhan dan length at first maturity (lm) sebagai landasan untuk menyusun pengelolaan perikanan cakalang di kawasan Teluk Bone.
5.3 Metode
Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2007 di Perairan Kawasan Teluk Bone. Sebagai lokasi pengambilan data maka kawasan Teluk Bone dibagi dalam tiga zona (Tabel 4 dan Gambar 6).
Data biologi ikan yang dikumpulkan adalah data panjang dan berat ikan.
Data ini diperoleh dari hasil tangkapan nelayan pole and line pada setiap trip
penangkapan yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di lokasi penelitian. Data diambil dari 2 buah kapal pada setiap lokasi pendararatan ikan. Data panjang dan berat ikan diukur dari sampel ikan yang dipilih secara acak dari tempat penampungan ikan. Potier dan Sadhotomo (1991) dan Supranto (2007) menyatakan bahwa sampel dapat digunakan untuk menjelaskan suatu populasi yang sebenarnya. Jumlah sampel ikan yang diukur panjang dan beratnya adalah sebanyak 25 ekor per trip. Untuk mengetahui apakah sampel merupakan representasi dari populasi maka dilakukan uji satu sampel untuk rata-rata dengan menggunakan uji t (Santoso dan Ashari 2005; Wibisono 2005). Selain data panjang sampel dilakukan pula estimasi terhadap data panjang hasil tangkapan per trip yaitu dengan membagi antara hasil tangkapan per trip dengan 25 (jumlah sampel) dikalikan kisaran panjang yang digunakan untuk analisis parameter pertumbuhan dan struktur ukuran. Pengukuran panjang ikan
dilakukan dengan menggunakan measuring board dengan ketelitian 0,1 cm.
Batas pengukuran panjang dimulai dari ujung mulut sampai ujung bagian dalam ekor (fork length). Berat ikan ditimbang dengan menggunakan timbangan pegas dengan kapasitas 21 kg dengan ketelitian 0,1 kg.
5.3.1 Hubungan panjang berat
Hubungan panjang (L) dan berat (W) ikan dilakukan secara terpisah antara ikan contoh di Zona Utara, Zona Tengah dan Zona Selatan. Perhitungan hubungan panjang dan berat mengacu pada rumus Effendie (1997) ; Fafioye and Oluajo (2005) ; dan Kalayci et al. (2007) yaitu:
W = a L b
Keterangan : W = berat tubuh (g)
L = panjang cagak (cm)
a dan b = konstanta
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara panjang dan berat cakalang. Besaran b pada hubungan panjang dan berat ikan merupakan indikator bentuk tubuh ikan cakalang (ramping, isometrik atau montok). Nilai b = 3 berarti pertumbuhannya isometrik yaitu pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat. Niali b > 3 atau b < 3 berarti pertumbuhannya allometrik atau pertambahan panjang lebih lambat atau lebih cepat dari pertambahan berat, jika nilai b < 3 allometrik negatif (ramping) dan b > 3 allometrik positif (montok).
Untuk menguji nilai b = 3 dilakukan uji t (t-test) pada α = 5 % (Sparre dan
Venema 1999) dengan rumus :
t hitung=
n
s
b
/
3
di mana b adalah nilai hitung perbandingan panjang dan berat ikan, s adalah
standar deviasi, n adalah jumlah sampel. Jika thitung lebih besar dari ttabel (95 % =
nyata), maka nilai b tersebut adalah tidak sama dengan 3 atau hubungan panjang dan berat ikan adalah allometrik positif ( b > 3) dan allometrik negatif (b < 3). Namun jika thitung lebih kecil dari ttabel maka nilai tersebut adalah sama
dengan 3 atau hubungan panjang dan berat ikan simetris.
Untuk menguji nilai koefisien b pada masing-masing zona dilakukan dengan membandingkan nilai selang kepercayaan (b±sd) tersebut. Jika nilai selang kepercayaan (b±sd) masing-masing zona tidak saling bersinggungan maka nilai koefien b berbeda dan jika nilai selang kepercayaan (b±sd) masing-masing zona saling bersinggungan maka nilai koefien b tidak berbeda.
5.3.2 Komposisi ukuran
Komposisi ukuran ikan sampel pada setiap zona di kawasan Teluk Bone
terlebih dahulu dianalisis dengan uji t satu sampel untuk menguji apakah sampel adalah representasi dari populasi, kemudian dibuat kelas panjang untuk menentukan frekuensi ukuran. Selanjutnya dibuat grafik dengan menggunakan program Microsoft Exel 2007.
5.3.3 Analisis parameter pertumbuhan
Untuk menduga pertumbuhan cakalang terlebih dahulu ditentukan frekuensi panjang ikan. Selanjutnya ditentukan kelompok umur ikan dengan metode Tanaka. Hasil pengelompokan cohort terhadap data frekuensi panjang diperoleh panjang rata-rata dari tiap kelompok umur. Nilai panjang rata-rata tersebut kemudian diplot terhadap umur sehingga diperoleh bentuk kurva pertumbuhannya.
Pendugaan nilai koefisien pertumbuhan (K) dan panjang infinity (L∞) diperoleh berdasarkan pada metode Forl-Walford (Sparre dan Venema, 1999), yaitu dengan cara meregresikan panjang ikan pada umur t (Lt) dengan panjang ikan pada umur t+1 (Lt+1), sehingga didapat persamaan parameter pertumbuhan
K = -Ln b dan L∞ = a/(1-b), kemudian untuk menghitung nilai t0 yang merupakan
umur teoritis ikan digunakan rumus empiris Pauly (1983) yaitu :
Log (-t0) = -0.3922-0.2752 log L∞ - 1,038 Log K
Setelah mengetahui nilai-nilai K, L∞ dan t0 dapat ditentukan model
pertumbuhan serta hubungan umur dan panjang cakalang dari kawasan Teluk Bone dengan memasukkan nilai-nilai parameter pertumbuhann tersebut ke dalam model pertumbuhan von Bertalanffy sebagai berikut :
Lt = L∞ (1-e-k(t-t0)) Keterangan :
Lt : panjang umur ikan pada saat umur t
L∞ : panjang infinity
K : koefisien pertumbuhan
t : waktu
t0 : umur pada saat panjangnya sama dengan nol
5.3.4 Ukuran layak tangkap
Ukuran ikan layak tangkap adalah ukuran ikan yang lebih besar dari ukuran panjang ikan saat pertama kali matang gonad (length at first maturity = Lm). Untuk memperoleh nilai Lm dilakukan dengan cara membuat kurva sigmoid antara nilai tengah kelas dengan proporsi (%) ikan cakalang contoh yang mature.
Perpotongan antara F50 dengan kurva sigmoid adalah nilai Lm (Claereboudt et al.
5.4 Hasil
5.4.1 Hubungan panjang dan berat ikan
Hubungan panjang dan berat ikan pada Zona Utara, Tengah dan Selatan dalam kawasan Teluk Bone selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 39, 40 dan 41. Hasil analisis panjang berat terhadap ikan contoh n = 4200 ekor di Zona Utara, n = 3700 ekor di Zona Tengah dan n = 3775 ekor di Zona Selatan diperoleh koefisien a masing-masing 0,0006, 0,0003 dan 0,0004, kemudian nilai koefisien b di Zona Utara diperoleh 2,5055, di Zona Tengah 2,5999 dan di Zona Selatan 2,7733. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata ikan di Zona Selatan lebih gemuk (berat persatuan panjang) dibanding zona lainnya. Nilai koefien
determinasi (R2) dari hubungan panjang berat pada masing-masing zona adalah
Utara 0,93, Tengah 0,85 dan Selatan 0,92. Hal ini menunjukkan bahwa 85-93 % persamaan tersebut dapat menjelaskan secara tepat hasil yang diperoleh.
Dengan memasukkan nilai koefisien a dan b ke dalam persamaan W = a L b, diperoleh sbb :
Zona Utara : W = 0,0006 L 2,5055
Zona Tengah : W = 0,0003 L 2,5999
Zona Selatan : W = 0,0004 L 2,7733
Nilai Koefisien b menunjukkan keseimbangan pertumbuhan panjang dan berat ikan; nilai koefisien b memiliki trend meningkat mulai dari 2,5055 di Zona Utara, 2,5999 di Zona Tengah dan 2,7733 di Zona Selatan. Hasil analisis nilai b
dari masing-masing zona menunjukkan bahwa nilai thit < ttab0,05 atau nilai b = 3.
Hal ini menunjukkan bahwa tubuh cakalang di kawasan Teluk Bone memiliki pola isometrik atau pertambahan panjang tubuh sama dengan pertambahan berat.
Meskipun cakalang di setiap zona dalam kawasan Teluk Bone berpola isometrik, namun koefisien b pada masing-masing zona berbeda (Tabel 18 dan Gambar 38).
Tabel 19 Nilai selang kepercayaan koefisien b pada setiap zona dalam kawasanTeluk Bone
Nilai Zona
Utara Tengah Selatan
Rata-rata (b) 2,5055 (langsing) 2,5999 (sedang) 2,7723 (gemuk) Standar deviasi (sd) 0,0025 0,0014 0,0019 Selang kepercayaan (b±sd) 2,5030-2,5080 2,5985-2,6013 2,7714-2,7752
Gambar 38 Perbandingan nilai koefisien b cakalang pada Zona Utara, Tengah dan Selatan
Berdasarkan Tabel dan Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa nilai selang kepercayaan pada masing-masing zona tidak ada yang bersinggungan sehingga nilai koefisien b berbeda pada zona Utara, Tengah dan Selatan.
5.4.2 Komposisi ukuran panjang ikan
Struktur ukuran cakalang yang tertangkap dengan alat pole and line pada masing-masing zona dalam kawasan Teluk Bone dapat dilihat pada Gambar 42, 43 dan 44. Pada Gambar 42 terlihat bahwa kisaran panjang cagak (FL) cakalang yang tertangkap di Zona Utara berkisar antara 29,2-61,0 cm, panjang minimal diperoleh pada bulan Januari dan Pebruari yaitu 29,2 cm, sedangkan panjang maksimal diperoleh pada bulan Juni dan Desember yaitu 61,0 cm. Komposisi ukuran ikan cakalang yang tertangkap dengan pole and line dari bulan Januari mengalami peningkatan ukuran hingga bulan Juni, bahkan sejak bulan April sudah diperoleh ikan-ikan yang memiliki ukuran lebih besar dari Lm (46,5 cm), tapi masih didominasi oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil dari Lm. Selanjutnya
K o e f b U T S Zona
pada bulan Mei dan Juni ukuran ikan sudah didominasi oleh ikan-ikan yang berukuran besar dari Lm dan kemungkinan ikan-ikan tersebut sudah melakukan reproduksi. Pada bulan Juli sampai Desember ukuran ikan yang tertangkap memiliki pola yang sama di mana jumlah ikan kecil dan besar jumlahnya hampir sama, namun sejak bulan Oktober kisaran ukurannya sangat lebar (mencapai 38,5-61,5 cm).
Kisaran panjang cagak (FL) cakalang yang tertangkap di Zona Tengah berkisar antara 29,8-61,0 cm, panjang minimal diperoleh pada bulan Januari yaitu 29,8 cm sedangkan panjang maksimal diperoleh pada bulan Juni dan Desember yaitu 61,0 cm. Panjang minimal diperoleh pada bulan Januari yaitu 29,0 cm sedangkan panjang maksimal diperoleh pada bulan Juni yaitu 61,0 cm (Gambar 43). Pada gambar tersebut terlihat bahwa komposisi ukuran cakalang yang tertangkap dengan pole and line dari bulan Januari mengalami peningkatan ukuran hingga bulan Juni, bahkan sejak bulan Pebruari sudah diperoleh dalam jumlah yang sedikit ikan-ikan yang memiliki ukuran lebih besar dari Lm (46,5 cm), namun masih didominasi oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil dari Lm. Selanjutnya pada bulan Mei dan Juni ukuran ikan yang diperoleh masih terdapat yang berukuran lebih kecil dari Lm namun sudah didominasi oleh ikan-ikan yang berukuran besar dari Lm dan kemungkinan ikan-ikan besar tersebut telah melakukan reproduksi. Pada bulan Juli sampai Desember ukuran cakalang yang tertangkap memiliki pola yang sama di mana jumlah cakalang kecil dan besar hampir sama, namun pada bulan Nopember kisaran ukurannya sangat lebar (mencapai 40,5-61,5 cm).
Kisaran panjang cagak (FL) cakalang yang tertangkap di Zona Selatan berkisar antara 29,0-64,0 cm, panjang minimal diperoleh pada bulan Januari yaitu 29,0 cm sedangkan panjang maksimal diperoleh pada bulan Juni yaitu 64,0 cm (Gambar 44). Pada gambar tersebut terlihat bahwa komposisi ukuran
cakalang yang tertangkap dengan pole and line dari bulan Januari mengalami
peningkatan ukuran hingga bulan Juni, bahkan sejak bulan Maret sudah diperoleh dalam jumlah yang sedikit cakalang yang memiliki ukuran lebih besar dari Lm (46,5 cm), namun masih didominasi oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil dari Lm. Selanjutnya pada bulan Mei sampai September ukuran cakalang yang diperoleh masih terdapat yang berukuran kecil dari Lm namun sudah didominasi oleh cakalang yang berukuran besar dari Lm terutama pada bulan Juli seluruh cakalang yang tertangkap lebih besar dari Lm, dan kemungkinan ikan-ikan besar tersebut telah melakukan reproduksi. Pada bulan Oktober sampai Desember ukuran ikan yang tertangkap memiliki pola yang sama di mana jumlah cakalang
kecil dan besar jumlahnya hampir sama, namun pada bulan Nopember kisaran ukurannya sangat lebar (mencapai 40,5-56,5 cm).
Adapun untuk hasil analisia frekuensi panjang cakalang dengan metode Tanaka diperoleh 4 (empat) kelompok umur (Tabel 19) dengan modus ukuran atau panjang rata-rarta 38,4 cm, 45,5 cm, 49,3 cm dan 54,9 cm.
Rataan, range dan standar deviasi panjang cagak (FL) cakalang pada setiap zona menunjukkan trend yang sama di mana peningkatan dimulai dari bulan Januari hingga bulan Juni dan stabil pada bulan-bulan berikutnya (Gambar 45, 46 dan 47). Dalam periode bulan Januari hingga bulan April, rataan FL cakalang di Zona Utara umumnya lebih kecil dibandingkan dengan FL di Zona Tengah dan Selatan, namun mulai bulan Mei hingga bulan Desember hampir sama rataan ukuran FL setiap bulan pada masing-masing zona adalah sebagai berikut : Zona Utara terkecil pada bulan Januari yaitu 31,5±1,66 cm dan terbesar bulan Juni yaitu 52,9±3,38 cm; Zona Tengah terkecil pada bulan Januari yaitu 38,4±3,83 cm dan terbesar pada bulan Juni yaitu 49,9±4,19 cm dan Zona Selatan terkecil pada bulan Januari yaitu 34,7±3,01 cm dan terbesar pada bulan Juni yaitu 56,6±3,16 cm. Kelompok ukuran cakalang dengan frekuensi terbesar di Zona Utara adalah kelas 45,0-45,9 cm (8,8 %), pada Zona Tengah adalah kelas 45,0-45,9 cm (11,30 %) dan pada Zona Selatan adalah kelas 50,0-50,9 cm (8,1 %). Kelas panjang yang banyak tertangkap ini umumnya sama dengan yang tertangkap di tempat lain.
5.3 Parameter pertumbuhan
Hasil analisis frekuensi panjang menggunakan metode Tanaka
menghasilkan 4 kelompok umur (Tabel 19), yaitu : Kelompok umur pertama lebih muda dari kelompok umur berikutnya sejalan dengan semakin bertambah panjangnya ukuran ikan. Analisis pertumbuhan berdasarkan metode Tanaka yang dilanjutkan dengan analisis metode plot Ford Walford menghasilkan persamaan pertumbuhan von Bertalanffy dari cakalang di perairan Teluk Bone yang disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20 Kelompok umur cakalang (K.pelamis) di kawasan Teluk Bone Umur (t) L(t) L(t + dt) 1 38,4 45,5 2 45,5 49,3 3 49,3 54,9 4 54,9
Tabel 21 Nilai dugaan parameter pertumbuhan cakalang di kawasan Teluk Bone
Parameter pertumbuhan
L∞ (cm) K (bulan) t0
76 0,19 0,36
Setelah memasukkan nilai parameter pertumbuhan ke dalam persamaan von Bertalanffy diperoleh Lt = 76{ 1–e0,19 (t + 0,36)
} dengan bentuk kurva seperti
pada Gambar 48. Persamaan tersebut dapat memberikan indikasi bahwa
cakalang mencapai FL maksimum (L∞) sebesar 76 cm pada umur 84 bulan.
5.4 Ukuran layak tangkap
Keberlanjutan perikanan tangkap sebaiknya didukung oleh peraturan yang menetapkan ukuran ikan yang layak tangkap. Salah satu kriteria ikan layak ditangkap adalah memiliki panjang yang lebih besar dari panjang pertama kali ikan matang gonad (length at first maturity, Lm). Berdasarkan kurva sigmoid proporsi ikan yang matang gonad diperoleh Lm cakalang di teluk Bone adalah 46,5 cm (Gambar 49).
Berdasarkan nilai Lm dapat diketahui bahwa ukuran ikan layak tangkap di Zona Utara dan Tengah > 46,5-61,9 cm, sedangkan ukuran ikan layak tangkap di Zona Selatan > 46,5-64,9 cm. Kelompok cakalang yang layak tangkap di Zona Utara umumnya dijumpai pada bulan April hingga Desember, di Zona Tengah pada bulan Februari hingga Desember sedangkan di Zona Selatan pada bulan Maret hingga Desember (Gambar 50, 51 dan 52).
Proporsi tertinggi ikan layak tangkap berdasarkan zona didapatkan pada Zona Tengah 56,1 %, selanjutnya Zona Selatan 56,0 % dan terendah pada Zona Utara 45,4 % (Tabel 21). Hal ini menunjukkan bahwa ikan yang tertangkap dengan ukuran yang tidak layak untuk dalam kawasan Teluk Bone adalah 43,9-54,6 %. Tingginya ukuran ikan yang tidak layak tangkap menggambarkan
bahwa nelayan belum mengetahui bulan-bulan penangkapan yang tidak berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya perikanan dan usaha penangkapan mereka.
Tabel 22 Proporsi sampel cakalang layak tangkap di setiap zona Teluk Bone
Zona Proporsi (%)
Layak tangkap Tidak layak tangkap
Utara 45,4 54,6
Tengah 56,1 43,9
Selatan 56,0 44,0
Berdasarkan ukuran ikan layak tangkap tersebut, spesifikasi alat untuk menangkap cakalang dapat ditentukan untuk mendukung keberlanjutan perikanan tangkap. Misalnya, ukuran mata jaring untuk jaring insang dan
pancing untuk pole and line. Pengaturan spesifikasi alat tangkap ini merupakan
jenis pengendalian input perikanan (King 1995).
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 0 10 20 30 40 50 60 70 B e ra t (g ) Panjang (cm) W= 0,0006 L 2,5055
Gambar 39 Hubungan panjang (cm) dan berat (g) cakalang di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone.
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 0 10 20 30 40 50 60 70 B e ra t (g ) Panjang (cm) W = 0,0003 L2,5999
Gambar 40 Hubungan panjang (cm) dan berat (g) cakalang di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone.
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 0 10 20 30 40 50 60 70 B e ra t (g ) Panjang (cm)
Gambar 41 Hubungan panjang (cm) dan berat (g) cakalang di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone.
0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fr e kue ns i
Nilai Tengah Kelas (cm)
Januari N = 1141 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Februari N = 4224 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Maret N = 8120 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm) April N =6886 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Mei N = 7780 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Juni N = 9329 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm) Juli N = 2087 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Agustus N = 2077 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
September N = 2800 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Oktober N = 2146 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre kue ns i
Nilai Tengah Kelas (cm)
Nopember N = 4566 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Desember N = 3276
Gambar 42 Komposisi ukuran cakalang yang tertangkap pole and line di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone selama penelitian.
0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengh kelas (cm)
Januari N = 1943 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Februari N = 2074 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Maret N =1810 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah kelas (cm)
April N = 1562 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre kue ns i
Nilai Tengah Kelas (cm) Mei N = 5619 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm) Juni N = 5316 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm) Juli N = 1208 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Agustus N = 1559 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
September N = 3584 0 10 20 30 O kt 30 ,5 32 ,5 34 ,5 36 ,5 38 ,5 40 ,5 42 ,5 44 ,5 46 ,5 48 ,5 50 ,5 52 ,5 54 ,5 56 ,5 58 ,5 60 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Oktober N = 2626 0 10 20 30 Nop 30 ,5 32 ,5 34 ,5 36 ,5 38 ,5 40 ,5 42 ,5 44 ,5 46 ,5 48 ,5 50 ,5 52 ,5 54 ,5 56 ,5 58 ,5 60 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Nopember N = 4834 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Desember N = 2816
Gambar 43 Komposisi ukuran cakalang yang tertangkap pole and line di Zona
0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Januari N = 1314 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Februari N = 3195 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Maret N = 7680 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
April N = 4704 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Mei N = 3279 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Juni N = 4261 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm) Juli N = 2112 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelaas (cm)
Agustus 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
September N = 3280 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Oktober N = 3539 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Nopember N = 4275 0 10 20 30 29 ,5 31 ,5 33 ,5 35 ,5 37 ,5 39 ,5 41 ,5 43 ,5 45 ,5 47 ,5 49 ,5 51 ,5 53 ,5 55 ,5 57 ,5 59 ,5 61 ,5 63 ,5 Fre ku e n si
Nilai Tengah Kelas (cm)
Desember
Gambar 44 Komposisi ukuran cakalang yang tertangkap pole and line di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone selama penelitian.
0 10 20 30 40 50 60
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
R a ta a n ( c m ) Bulan
Zona Utara Zona Tengah ZonaSelatan
Gambar 45 Rataan panjang (cm) cakalang (K. pelamis) pada setiap zona dalam kawasan Teluk Bone.
0 5 10 15 20 25
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
R a n g e ( c m ) Bulan
Zona Utara Zona Tengah Zona Selatan
Gambar 46 Range panjang (cm) cakalang (K. pelamis) pada setiap zona dalam kawasan Teluk Bone.
0 1 2 3 4 5 6
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
S ta n d a r d e v ia s i (c m ) Bulan
Zona Utara Zona Tengah Zona Selatan
Gambar 47 Standar deviasi panjang cakalang (K. pelamis) pada setiap zona dalam kawasan Teluk Bone.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60 64 68 72 76 80 84 Pa n ja n g c a g a k (c m ) Umur (bulan) L ∞= 76 cm L m = 46,5 cm umur 5 bulan
Gambar 48 Kurva pertumbuhan von Bertalanffy cakalang di kawasan Teluk Bone. 0 50 100 2 9 ,5 3 1 ,5 3 3 ,5 3 5 ,5 3 7 ,5 3 9 ,5 4 1 ,5 4 3 ,5 4 5 ,5 4 7 ,5 4 9 ,5 5 1 ,5 5 3 ,5 5 5 ,5 5 7 ,5 5 9 ,5 6 1 ,5 6 3 ,5 P ropor si ( % )
Tengah kelas panjang (cm)
Lm=46,5 cm
Gambar 49 Nilai Lm (length at first maturity) cakalang pada kawasan Teluk Bone.
0 10 20 30 40 50
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
F re k u e n s i (% ) Bulan
layak Tangkap Tidak Layak Tangkap
Zona Utara
Gambar 50 Ukuran cakalang layak tangkap di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone.
0 10 20 30 40 50
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
F re k u e n s i (% ) Bulan
layak tangkap Tidak Layak Tangkap
Zona Tengah
Gambar 51 Ukuran cakalang layak tangkap di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone.
0 10 20 30 40 50
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
F re k u e n s i (% ) Bulan
layak tangkap Tidak Layak Tangkap
Zona Selatan
Gambar 52 Ukuran cakalang layak tangkap di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone.
5.5 Pembahasan
Ukuran panjang ikan (FL) di analisis berdasarkan rataan, range dan standar deviasi. Rataan ikan di Zona Utara umumnya lebih kecil di bandingkan Zona Tengah dan Zona Selatan hingga bulan April dan mencapai maksimum pada bulan Juni. Perubahan ukuran menjadi lebih besar selama kurang lebih 2 bulan di Zona Utara yakni dari bulan Mei-Juni. Ini memberikan inidikasi terjadinya migrasi atau perpindahan cakalang yang umumnya berukuran lebih besar ke Zona Utara yang dimulai setelah bulan April terutama yang berasal dari Zona Tengah (Gambar 39). Migrasi cakalang ini kemungkinan berhubungan dengan ketersedian makanan di Zona Utara yang lebih banyak dibanding Zona Tengah, hal ini terlihat dari konsentrasi klorofil-a di Zona Utara yang mencapai
0,3-0,7 mg/m3 dan di Zona Tengah konsentrasi klorofil-a hanya mencapai 0,2-0,3
mg/m3. Klorofil-a merupakan faktor yang dapat memberikan indikasi langsung
keberadaan makanan ikan maupun jalur wilayah migrasi ikan tuna (Polovina et
al. 2001). Kandungan klorofil-a dapat juga digunakan sebagai ukuran banyaknya fitoplankton pada suatu perairan tertentu dan dapat digunakan sebagai petunjuk produktivitas perairan. Daerah-daerah dengan nilai klorofil-a tinggi mempunyai hubungan erat dengan adanya proses penaikan massa air / upwelling (Nontji 1993). Range ukuran panjang ikan (FL) di Zona Utara lebih besar dibandingkan di Zona Tengah dan Selatan. Ukuran panjang ikan yang relatif seragam diperoleh di Zona Tengah dan Selatan.
Komposisi ukuran cakalang yang tertangkap dengan pole and line pada
masing-masing zona memiliki pola yang hampir sama yaitu bulan Januari mengalami peningkatan ukuran hingga bulan Juni, bahkan sejak bulan April sudah diperoleh cakalang yang memiliki ukuran lebih besar dari Lm (46,5 cm), tapi masih didominasi oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil dari Lm. Selanjutnya pada bulan Mei dan Juni ukuran cakalang sudah didominasi yang berukuran besar dari Lm dan kemungkinan ikan-ikan tersebut sudah melakukan reproduksi (pemijahan). Waktu pemijahan cakalang berlangsung sepanjang tahun di perairan equator dan bulan Januari, Pebruari, Maret, April, Nopember dan Desembar di perairan Coral Sea Australia (Froose and Pauly 2011) dan bulan
April sampai Juli (Matsumoto et al. 1984). Hal ini berarti komposisi ukuran
cakalang hampir selalu terdiri dari ikan-ikan kecil dan besar karena pemijahan terjadi pada bulan-bulan sebelumnya.
Hasil analisis frekuensi panjang cakalang dengan metoda Tanaka pada kawasan Teluk Bone terdiri dari 4 (empat) kelompok umur dengan modus ukuran
atau panjang rata-rata untuk cakalang adalah 38,4 cm, 45,5 cm, 49,3 cm dan
54,9 cm. Penelitian lain yang dilakukan oleh Suhendrata et al. (1986 diacu
dalam Hukom et al. 1991) memperoleh 3 kelompok umur cakalang yang
tertangkap dengan alat pole and line di perairan sorong dengan menggunakan
analisis modus yaitu 37 cm, 54 cm dan 64 cm, selanjutnya diperoleh 4 kelompok umur cakalang yang tertangkap di laut Banda yaitu 41 cm, 58 cm, 67 cm dan 72 cm, sedangkan kelompok umur cakalang yang tertangkap di Pelabuhan Ratu dengan metode analisis modus diperoleh 4 kelompok umur yaitu 33 cm, 50 cm, 57 cm dan 66 cm. Selanjutnya Sumadhiharga dan Hukom (1987) menyatakan bahwa sebaran frekwensi panjang cagak dari 5040 ekor cakalang yang di ukur menunjukkan panjang minimum 30,0 cm dan panjang maksimum 69,9 cm,
dengan kelompok ikan yang dominan terletak pada selang kelas 45,0 – 55,9 cm.
Cakalang mulai matang gonad pada panjang cagak 49,0 cm untuk ikan jantan dan betina 47,0 cm. Uktolseja (1987) menemukan frekuensi panjang cagak cakalang di perairan sebelah timur Sulawesi Tengah tersebar di antara 27,1-57,7 cm. Sedangkan Suwartana (1986) yang meneliti di perairan Maluku Tengah mendapatkan panjang baku berkisar antara 40,3-65,4 cm. Komposisi ukuran
cakalang yang tertangkap dengan pole and line di perairan Kupang bervariasi
mulai dari ukuran 29,0 cm sampai 58,9 cm. Jumlah tangkapan terbanyak adalah ukuran 47,0-49,9 cm (17,90 %) dan disusul oleh ukuran 44,0-46,9 cm (16,64 %), dan 38,0-40,9 cm (16,36%) (Syamsuddin et al. 2008).
Nilai koefisien b yang diperoleh dari persamaan hubungan panjang berat di Zona Utara diperoleh 2,5055, di Zona Tengah 2,5999 dan di Zona Selatan
2,7733. bahwa Nilai koefien determinasi (R2) dari hubungan panjang berat
pada masing-masing zona adalah Utara 0,93, Tengah 0,85 dan Selatan 0,92. Setelah diuji dengan nilai thit nilai-nilai koefisien b = 3. Ini berarti bahwa pola pertumbuhan cakalang di kawasan Teluk Bone berpola isometrik, pertambahan panjang tubuh sama dengan pertambahan berat. Hasil yang sama diperoleh pada cakalang yang tertangkap diselah Barat Sulawesi Tengah dengan pola pertumbuhan isometrik (Telusa 1985).
Hasil berbeda diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Manik (2007) pada cakalang yang tertangkap di sekitar pulau Seram dan Nusa Laut yang memperoleh nilai b > 3 atau allometrik positif , artinya bahwa pertambahan panjang tidak secepat pertambahan berat. Berbedanya hasil analisis tersebut mungkin karena diferensiasi kisaran panjang ikan yang dianalisis cukup besar, selain karena pengaruh faktor-faktor biologis dan ekologis dari masing-masing perairan di mana ikan itu hidup. Sedangkan menurut Sumadiharga (1991)
menyatakan perbedaan nilai b dipengaruhi oleh perbedaan musim dan tingkat kematangan gonad serta aktivitas penangkapan, karena aktivitas penangkapan yang cukup tinggi pada suatu daerah cukup mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan populasi ikan. Merta (1992) diacu dalam Manik (2007), menyatakan karena kondisi lingkungan sering berubah dan atau kondisi ikannya berubah, maka hubungan panjang berat akan sedikit menyimpang dari hukum kubik (b ≠ 3).
Hasil analisis diperoleh bahwa koefisien b setiap zona berbeda. Pada panjang cagak (FL) yang sama bentuk tubuh cakalang di Zona Utara langsing, di Zona Tengah sedang dan di Zona Selatan gemuk. Perbedaan pertumbuhan (nilai b) memberikan konsekuensi terhadap selektivitas alat tangkap. Mesh size alat tangkap jaring yang digunakan untuk menangkap cakalang di setiap zona harus berbeda-beda.
Panjang FL maksimum (L∞) cakalang yang tertangkap di kawasan Teluk Bone dapat mencapai 76 cm pada umur 84 bulan. Panjang asimtot cakalang adalah 80 cm dan 73,2 cm dari perairan Sorong dan Indonesia bagian Timur (Suhendrata et al. 1986). Jadi pendugaan panjang asimtot sebesar 76 cm dalam penelitian ini merupakan angka yang dapat diterima. Panjang maksimum cakalang di kawasan Teluk Bone berbeda dari cakalang yang ditangkap di perairan Sumatera Barat, yaitu L∞ = 87,8 cm pada umur 120 bulan (Merta 1989). Perbedaan nilai parameter pertumbuhan tersebut (L∞ dan K) dari spesies ikan yang sama pada lokasi yang berbeda dipengaruhi oleh faktor lingkungan masing-masing perairan seperti ketersediaan makanan, suhu perairan, oksigen terlarut,
ukuran ikan dan kematanagan gonad (Csirke,1988 diacu dalam Merta 1989).
Selanjutnya Widodo (1988) menyatakan bahwa kecenderungan ketidaktepatan nilai parameter pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh komposisi ikan contoh yang dianalisis dari pada cara atau metode yang digunakan.
Josse et al. (1979 diacu dalam Matsumoto et al. 1984) mengulas metode dan berbagai studi pertumbuhan cakalang menyimpulkan bahwa menghitung tanda pertumbuhan periodik yang terdapat pada tulang punggung, sisik dan duri dorsal merupakan metode yang memberikan hasil yang akurat, disusul metode pergeseran modus. Penghitungan lingkaran harian (daily ring incrament) pada otolith memberikan hasil yang lebih baik dari kedua cara di atas, sedangkan menghitung pertumbuhan dengan cara tagging dan penangkapan ulang merupakan yang terakurat. Dikemukakan selanjutnya, bahwa pergeseran modus peka terhadap jumlah sampel yang sedikit. Hal ini menyebabkan pendugaan
parameter perrtumbuhan akan sangat bervariasi jika data yang digunakan sedikit.
Wild and Foreman (1980 diacu dalam Matsumoto et al. 1984)
memperoleh laju pertumbuhan cakalang sebesar 1,15 cm per bulan, yang diperoleh dengan menduga panjang ikan pada saat tertangkap kembali dan perubahan linier perubahan otolith untuk ikan yang ditandai (tagged) dan disuntik dengan tetracyclin.
Ikan layak tangkap didefenisikan sebagai ikan yang memiliki panjang yang lebih besar dari panjang pertama kali ikan matang gonad (length at first maturity, Lm). Nilai Lm cakalang di Teluk Bone diperoleh sebesar 46,5 cm. Nilai Lm cakalang berbeda pada setiap tempat, namun umumnya lebih besar dari 40 cm (Tabel 22).
Tabel 23 Beberapa nilai Lm cakalang pada di lokasi lain Nilai Lm (cm) FL Jenis kelamin ikan Negara Lokasi 43,5 – 45,4*)
- USA North Carolina
40,0 – 45,0*) betina USA Hawaii
40,0*) betina Cuba Northeast region
43,0*) - Polinesia Marquesas and Tuamotu
Islands
43,0*) - Filipina Bohol Sea
45,0*) - Papua New Guinea Papua New Guinea
41 - 43**) - Madagaskar Barat daya Madagaskar
*) Collette B.B and C. E. Naeun (1983) diacu dalam (Froose and Pauly 2011) **) Stequert (1976) diacu dalam Matsumoto (1984).
Proporsi tertinggi ikan layak tangkap berdasarkan zona didapatkan pada Zona Tengah 56,1 %, selanjutnya Zona Selatan 56,0 % dan terendah pada Zona Utara 45,4 % (Tabel 20), sehingga proporsi hasil tangkapan cakalang yang tidak layak dalam kawasan Teluk Bone adalah berkisar antara 43,9-54,6 %. Masih tingginya ukuran ikan yang tidak layak tangkap menggambarkan bahwa nelayan belum mengetahui bulan-bulan penangkapan yang aman dan tidak berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya perikanan dan usaha penangkapan mereka. Ikan yang tertangkap sebelum matang gonad, diduga ikan tersebut belum sempat memijah sehingga hal ini akan mempengaruhi rekruitmen di daerah penangkapan tersebut. Untuk mengurangi tertangkapnya ikan yang belum layak perlu dilakukan kebijakan misalnya, memperbesar ukuran mata jaring untuk
jaring insang dan pancing untuk pole and line atau dengan penetapan closed season (penutupan musim) penangkapan di Zona Utara bulan Januari – April, Zona Tengah bulan Januari dan Zona Selatan bulan Januari – Pebruari.
6 Kesimpulan
(1) Ikan cakalang pada setiap zona dalam kawasan Teluk Bone tumbuh secara isometrik. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan cakalang di Zona Utara langsing, di Zona Tengah sedang dan di Zona Utara gemuk. (2) Panjang maksimum (L∞) cakalang di kawasan Teluk Bone adalah 76 cm
dalam waktu 84 bulan.
(3) Nilai Lm (Length at first maturity) adalah 46,5 cm dicapai pada umur 6 bulan, sehingga panjang ikan yang berukuran layak tangkap lebih besar dari 46,5 cm. Ikan yang tertangkap selama penelitian di atas 50 % telah masuk ukuran layak tangkap kecuali di Zona Utara.
(4) Waktu penangkapan cakalang pada ketiga zona berdasarkan ukuran layak tangkap adalah : Utara dari bulan April hingga Desember ; Tengah bulan Pebruari hingga Desember dan Selatan bulan Maret hingga Desember.