BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Belajar Menurut Jihad (2008: 2) belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang,

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

6

Menurut Jihad (2008: 2) belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada individu yang belajar.

Menurut Slameto (2010: 2) belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut akan nyata dalam aspek tingkah laku. Belajar dapat diartikan sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu peruabahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Menurut Sugihartono (2007: 74-76), tidak semua tingkah laku dikategorikan sebagai aktivitas belajar. Adapun tingka laku yang dikategorikan sebagai perilaku belajar memiliki ciri sebagai berikut:

a. Perubahan tingkah laku secara sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan tersebut atau sekurang-kurangya merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya, misalnya menyadari pengetahuannya bertambah.

b. Perubahan bersifat kontinyu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi kehidupan atau bagi proses belajar berikutnya.

(2)

c. Perubahan bersifat positif dan aktif

Dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Makin banyak usaha belajar yang dilakukan, maka makin baik dan makin banyak perubaan yang diperoleh. Perubahan dalam belajar bersifat aktif berarti bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.

d. Perubahan bersifat permanen

Perubahan yang terjadi bersifat permanen atau menetap, tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih.

e. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.

f. Perubahan yang mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasil dirinya akan mengalami peruban tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, ketrampilan, pengetahuan dan sebagainya.

Dari pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang disebabkan adanya pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari seseorang yang melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri seseorang yang belajar. Jadi sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan dari belum mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil dan lain sebagainya.

(3)

2.2. Hasil Belajar

Penelitian fokus pada hasil belajar. Karena itu, perlu diberikan pemaparan terlebih dahulu tentang hasil belajar itu sendiri, seperti pengertian hasil belajar, juga factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

2.2.1. Pengertian Hasil Belajar

Maehr (Suryabrata, 1980: 45), mengemukakan hasil belajar sebagai berikut: 1. Hasil belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur dengan menggunakan

tes hasil belajar

2. hasil belajar merupakan hasil perubahan individu itu sendiri bukan hasil perbuatan orang lain.

3. hasil belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh penilai atau menurut standar yang telah ditetapkan kelompok. 4. hasil belajar merupakan hasil dari kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan

disadari, jadi bukan suatu kebiasaan atau perilaku yang tidak disadari.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pola perubahan perilaku individu yang dimanifestasikan ke dalam pola tingkah laku, ketrampilan dan pengetahuan sebagai hasil belajar yang disadari dan dapat diukur berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh penilai atau menurut standar yang telah ditetapkan selama mengikuti kegiatan proses pembelajaran.

Hasil belajar juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi internal dan proses kognitif siswa. Faktor eksternal adalah lingkungan yang ada disekitar siswa, antaranya: guru, sarana dan prasarana pembelajaran, lingkungan sosial siswa di sekolah dan kurikulum sekolah.

(4)

2.2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Syah (2006: 144, 150-152); Slameto (2003: 54-60) faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi tiga, yaitu faktor internal, eksternal dan faktor pendekatan belajar.

a. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam siswa sendiri baik fisik maupun mental. Faktor tersebut dibagi menjadi dua yaitu aspe fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah). Aspek fisiologi (jasmani) yaitu semua keadaan yang berhubungan dengan keadaan tubuh meliputi kesehatan seluruh badan, faktor cacat tubuh. Sedangkan aspek psikologis yaitu keadaan yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang, seperti intelegensi, perhatian, minat, bakat dan motivasi

b. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor tersebut terdiri dari tiga yaitu:

1. Faktor dari lingkungan keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi, keluarga, dan perhatian orang tua.

2. Faktor sekolah yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, keadaan gedung waktu sekolah dan standar pelajaran di atas ukuran.

3. Faktor yang berasal dari masyarakat yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

c. Faktor pendekatan belajar

Faktor pendekatan belajar adalah segala cara atau strategi yang digunakan siswa, dalam menunjang keektifan dan efisiensi proses mempelajari materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa tersebut.

(5)

2.3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Tipe Student Facilitator and Explaining

2.3.1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Soekamto (Trianto, 2007: 5) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merancang aktivitas belajar mengajar. Joyce (Trianto, 2007: 5) menyatakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedomana dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran di dalamnya termasuk buku-buku, film, komputer kurikulum, dan lain-lain.

Pernyataan-pernyataan di atas dengan demikian memberikan kesimpulan bahwa model pembelajaran merupakan suatu perencanaan pembelajaran secara konseptual yang dirancang sistematis demi pencapaian tujuan belajar dan berfungsi sebagai pedoman bagi pelaksanaan pembelajaran.

Menurut Anita Lie (2002: 28) Model cooperative learning merupakan kegiatan gotong royong, yang merupakan kerjasama yang terdiri dari dua orang atau lebih yang semuanya mempunyai tanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan. Slavin (Solihatin, 2008: 4) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya menurut Etin Raharjo Solihatin (2008: 5) model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga bekerja secara bersama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas dan perolehan hasil belajar.

(6)

Roger dan David Johnson (Anita Lie, 2002: 31) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat bisa dianggap sebagai pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong-royong harus diterapkan.

1. Saling ketergantungan positif (positive interdependence) yakni sifat yang menunjukkan saling ketergantungan satu terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif.

2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountabilitiy) yakni bahwa setiap individu didalam kelompok tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi kelompok.

3. Tatap muka (face to face) yakni bahwa setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi.

4. Komunikasi antar anggota (interpersonal communication) yakni dalam berdiskusi atau kerjasama diperlukan adanya komunikasi antar anggota.

5. Evaluasi proses kelompok (group processing) merupakan proses perolehan jawaban permasalahan yang dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama. Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative learning harus ada struktur dan dorongan tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi bersifat terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota-anggota kelompok (Slavin, 2005: 4).

Stahl (Isjoni, 2010: 24) mengatakan model pembelajaran cooperative learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai asuatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran ini berangkat dari asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu getting better together, atau raihlah yang lebih baik secara bersama-sama (Etin Raharjo Solihatin, 2008: 4).

Cooperative learning memungkinkan timbulnya komunikasi dan interaksi yang berkualitas antara siswa dengan siswa dalam kelompok, maupun siswa dengan siswa antar kelompok, dan guru dapat berperan sebagai motivator, fasilitator dan

(7)

moderator. Pada pembelajaran ini juga, siswa ditempatkan pada peran yang sama untuk mencapai tujuan belajar, penguasaan materi pembelajaran dan keberhasilan pembelajaran, yang dipandang tidak semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tetapi merupakan tanggungjawab bersama. Hal tersebut akan mendorong tumbuh dan kembangnya rasa kebersamaan dan saling membutuhkan diantara siswa.

2.3.2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Facilitator and Explaining Model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining (murid sebagai fasilitas dan penjelas) merupakan model pembelajaran kooperatif dengan maksud siswa atau peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya atau meminta peserta didik menjadi narasumber terhadap semua temannya dalam kelas.

Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang mudah, guna memperoleh keaktifan kelas secara keseluruhan dan tanggungjawab individu dan memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang pengajar/penjelas materi dan seseorang yang memfasilitasi proses belajar terhadap peserta didik lain. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara dan menyampaikan ide, gagasan atau pendapatnya sendiri serta memotivasi semua siswa untuk aktif dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengajar temannya dan mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, serta dapat membuat pertanyaan dan mengemukakan pendapat.

Menurut Trianto (2007: 52), model pembelajaran kooperatif tipe student facilitator and explaining merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 – 5 orang siswa secara heterogen. Model pembelajaran kooperatif dengan tipe ini memulai pembelajarannya dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok.

Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah lebih kepada dan kemandirian siswa. Elemen yang dimunculkan dalam kegiatan ini adalah kerja

(8)

individu, kemampuan berbicara dan mendengarkan. Karena pada dasarnya pembelajaran aktif adalah mengarahkan peserta didik terhadap materi yang dipelajarinya. Dengan model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining ini, peserta didik yang selama ini tidak terlibat dalam pembelajaran di dalam kelas akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.

2.3.3. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Facilitator and Explaining

Model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining adalah model pembelajaran yang mendasarkan pada penugasan tiap-tiap kelompok, dimana setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda. Setiap kelompok bertanggungjawab untuk mengorganisasi kelompoknya dalam mencari informasi tentang tugas yang didaptkan melalui sumber belajar. Kelompok berdiskusi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain membuat pertanyaan pada masing-masing topik diskusi. Setelah semua kelompok sudah mempresentasikan hasil diskusinya maka dilakukan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian pembelajaran tersebut.

Menurut Agus Suprijono (2009: 128) langkah-langkah pembelajaran student facilitator and explaining adalah, sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan kompetensi dasar yang ingin dicapai.

2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran. 3. Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya,

misalnya melalui bagan/peta konsep. Hal ini bisa dilakukan bergiliran. 4. Guru menyimpulkan ide/pendapat siswa.

5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. 6. Evaluasi.

(9)

2.3.4. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Facilitator and Explaining

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Menurut Trianto (2007: 56), pembelajaran kooperatif tipe student facilitator and explaining memiliki kelebihan antara lain:

1. aktivitas belajar siswa dalam kelas meningkat

2. melatih siswa berbicara dan mengajukan pendapat di depan umum dan kelompok.

3. terciptanya interaksi antar siswa, dan antar siswa dengan guru.

4. proses belajar yang diperoleh dalam kelompok mudah diingat kembali karena merupakan hasil berpikir dan bekerjasama.

5. prestasi belajar lebih bermakna, karena siswa belajar memecahkan persoalannya melalui menjadi fasilitator dan pengajar bagi yang lain.

6. memotivasi siswa yang cemas untuk belajar secara aktif

7. membantu siswa yang lemah atau kurang menguasai pelajaran oleh siswa yang pandai.

Selain itu, model pembelajaran ini memiliki kekurangan antara lain:

1. membutuhkan banyak waktu, sehingga seringkali tujuan utama pembelajaran tidak tercapai.

2. keberhasilan belajar bergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau bekerja mandiri dan kekompakan antar kelompok.

3. Keberhasilan dari tiap-tiap individu juga berbeda-beda, karena motivasi dan semangatnya juga tidak sama.

(10)

2.4. IPA

2.4.1. Hakikat IPA

Rusyan (2007) dalam (Nurferi, 2010) mengemukakan bahwa IPA adalah cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan, kumpulan pengetahuan yang berupa konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi mengumpulkan fakta-fakta, dan bagaimana menghubungkan fakta-fakta itu.

Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat ditarik simpulan bahwa dengan demikian IPA adalah cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan sekedar penguasan kumpulan pengetahuan yang berupa konsep-konsep atau prinsip-prinsip, tetapi juga mengumpulkan fakta-fakta dan bagaimana menghubungkan fakta-fakta itu. Dengan kata lain, IPA berarti juga merupakan proses penemuan.

2.4.2. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Menurut Permendiknas (dalam Sulistyorini, (2007: 40), mengemukakan tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar, sebagai berikut:

a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan YME berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan ciptaan-Nya.

b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Mengembangkan rasa ingin tahu sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

d. Mengembangkan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

e. Meningkatkan kesadaran dalam berperan serta dalam memelihara, menjaga, melestarikan lingkungan alam.

(11)

f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dengan segala keteraturan sebagai salah satu ciptaaan Tuhan.

g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan ketrampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

2.4.3. Sifat-Sifat Cahaya

Berdasarkan judul penelitian yaitu upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining materi sifat-sifat cahaya pada SD kelas V, maka pada pembahasan tentang sifat-sifat cahaya, diangkat dari materi sifat-sifat cahaya SD kelas V, berdasar pada Buku Ajar IPA 5 yang disusun oleh Heri Sulistyanto dan Edi Wiyono (Depdiknas, 2008) sebagai berikut:

1. Sifat-sifat Cahaya

Benda-benda yang ada di sekitar kita dapat kita lihat apabila ada cahaya yang mengenai benda tersebut. Cahaya yang mengenai benda akan dipantulkan oleh benda ke mata, sehingga benda tersebut dapat terlihat. Cahaya berasal dari sumber cahaya. Semua benda yang dapat memancarkan cahaya disebut sumber cahaya. Contoh sumber cahaya adalah matahari, lampu, senter, dan bintang. Cahaya memiliki sifat merambat lurus, menembus benda bening dan dapat dipantulkan. Sebelum membahas ketiga sifat cahaya tersebut, di sini akan dipaparkan lebih dahulu peta konsep sifat-sifat cahaya.

(12)

Yang berasal Dari matahari Terurai Menjadi Yaitu Cahaya Warna Cahaya 1. Merambat lurus

2. Menembus benda bening 3. Dapat dipantulkan 4. Dapat dibiaskan Merah Spectrum warna Jingga Nila Kuning Putih Biru Hijau Sifat-Sifat Cahaya

(13)

2. Merambat Lurus

Berdasarkan dapat tidaknya meneruskan cahaya, benda dibedakan menjadi tidak tembus cahaya dan benda tembus cahaya. Benda tidak tembus cahaya tidak dapat meneruskan cahaya yang mengenainya. Apabila kena cahaya, benda ini akan membentuk bayangan. Contoh benda tidak tembus cahaya yaitu kertas, tripleks, kayu dan tembok.Sementara itu, benda tembus cahaya dapat meneruskan cahaya yang mengenainya.Contoh benda tembus cahaya yaitu kaca.

3. Cahaya dapat Dipantulkan

Pemantulan cahaya ada dua jenis yaitu pemantulan baur (pemantulan difus) dan pemantulan teratur. Pemantulan baur terjadi apabila cahaya mengenai permukaan yang kasar atau tidak rata. Pada pemantulan ini, sinar pantul arahnya tidak beraturan. Sementara itu, pemantulan teratur terjadi jika cahaya mengenai permukaan yang rata, licin, dan mengilap. Permukaan yang mempunyai sifat seperti ini misalnya cermin. Pada pemantulan ini, sinar pantul memiliki arah yang teratur. Cermin merupakan salah satu benda yang memantulkan cahaya. Berdasarkan permukaannya ada dua cermin ada cermin datar dan cermin lengkung. Cermin lengkung ada dua macam yaitu cermin cembung dan cermin cekung.

4. Cahaya dapat Dibiaskan

Apabila cahaya merambat melalui dua zat yang kerapatannya berbeda, cahaya tersebut akan dibelokkan. Peristiwa pembelokan arah rambatan cahaya setelah melewati medium rambatan yang berbeda disebut pembiasan. Apabila cahaya merambat dari zat yang kurang rapat ke zat yang lebih rapat, cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal. Misalnya cahaya merambat dari udara ke air. Sebaliknya apabila cahaya merambat dari zat yang lebih rapat ke zat yang kurang rapat, cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Misalnya cahaya merambat dari air ke udara.

5. Cahaya dapat diuraikan

Pelangi terjadi karena peristiwa penguraian cahaya (dispersi).Dispersi merupakan penguarian cahaya putih menjadi berbagai warna cahaya.Cahaya matahari yang kita lihat berwarna putih.Namun, sebenarnya cahaya matahari

(14)

tersusun atas banyak cahaya berwarna.Cahaya matahari diuraikan oleh titik-titik air di awan sehingga terbentuk warna-warna pelangi.

2.5. Kajian Penelitian yang Relevan

Santi Tri Desirina, 2012. Efektivitas Penarapan Model Cooperative Learning Type Student Facilitator and Explaining terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA siswa Kelas IV SD. Sebelum penelitian ini dilakukan, ditemukan bahwa minat dan hasil belajar siswa rendah. Setelah melakukan dua siklus minat dan hasil belajar siswa menjadi meningkat, dimana siswa lulus dari KKM yang ditetapkan. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian tindakan ini adalah bahwa model cooperative learning type student facilitator and explaining dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Abram Rinekso, 2011. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Student Facilitator and Explaining Terhadap Minat dan Hasil Belajar IPA Siswa kelas V SDN 1 Mertoyudan. Penelitian adalah penelitian PTK. Berangkat dari kenyataan bahwa minat dan hasil belajar pada IPA sangat rendah. Dengan melakukan penelitian tindakan melalui dua siklus, ditemukan bahwa minat dan hasil belajar meningkat, terbukti bahwa 90% siswa lulus dari kriteria KKM yaitu 60. Dengan penelitian ini, peneliti merekomendasikan untuk menerapkan model pembelajaran ini.

Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, penulis bermaksud untuk melakukan lagi penelitian yang sama dengan menggunakan model pembelajaran yang sama pada sekolah dan kelas yang berbeda. Penulis berasumsi bahwa meskipun menerapkan model pembelajaran yang sama, namun jika situasi pembelajaran (sekolah, fasilitas yang dimiliki, termasuk keadaan subyek didik itu sendiri), akan memberikan kontribusi yang berbeda pada hasil belajar itu sendiri. Dengan situasi yang demikian, penulis bermaksud melakukan uji coba kembali model pembelajaran ini, dengan mengambil desain penelitian tindakan.

(15)

2.6. Kerangka Berpikir

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang berupaya untuk mengubah hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada mata pelajaran tertentu (dalam penelitian ini mata pelajaran) IPA dengan menerapkan model pembelajaran tertentu (dalam penelitian ini model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining) melalui proses yang bertahap yang dikenal dengan siklus. Siklus merupakan tahapan-tahapan pembelajaran yang perlu dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran yang direncanakan, dimana hasil dari siklus sebelumnya menjadi evalusi bagi penerapan pada siklus berikut. Pemilihan model pembelajaran ini untuk digunakan dalam pembelajaran bertahap ini ialah didasarkan pada pertimbangan bahwa model pembelajaran ini dapat membangkikan minat dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Salatiga 09. Pertimbangan-pertimbangan yang dibangun didasarkan pada temuan-temuan sebelumnya, baik itu temuan teoritis tentang model pembelajaran ini, maupun temuan hasil penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa model pembelajaran ini mampu meningkatkan minat dan hasil belajar IPA siswa. Artinya, dengan situasi pembelajaran maupun hasil belajar IPA siswa pada kelas V SDN Salatiga 09 yang masih jauh dari standar KKM, juga rendahnya minat belajar siswa, maka dengan menerapkan model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining melalui tahapan-tahapan pembelajaran yaitu siklus-siklus belajar, diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar IPA siswa.

(16)

2.7. Hipotesis Tindakan

Dengan latar belakang dan kerangka bepikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: Penerapan model pembelajaran cooperative learning type student facilitator and explaining diduga dapat meningkatkan minat dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Salatiga 09.

Kondisi awal

Guru : Mengajar dengan

model ceramah

Siswa : Hasil belajar IPA

siswa rendah Tindakan Hasil belajar siswa rendah Menerapkan Model pembelajaran kooperatif tipe

student facilitator and explaining

Menerapkan Pembelajaran

Kooperatif Tipe

Student Facilitator and Explaining pada

materi sifat-sifat

cahaya

Menerapkan Pembelajaran kooperatif tipe

Student Facilitator and Explaining hasil refleksi.

Meningkatkan hasil belajar IPA siswa Kondisi Akhir

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :