IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM
DI MTs SUDIRMAN JAMBU KAB. SEMARANG
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Skripsi diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Disusun Oleh:
NUR SHOKHIF
111-12-160
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SALATIGA
MOTTO
“Melakukan Yang Terbaik dan Bersungguh-Sungguh, Maka Kesungguhan Itu Untuk Kebaikannya Sendiri” (Nur Shokhif)
Dan barangsiapa yang bersungguh, Maka Sesungguhnya kesungguhan itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak
PERSEMBAHAN
Aku persembahkan skripsi ini untuk:
1. Keluarga besar terutama pada Bapakku (Tamrin) dan Ibuku tercinta (Suminem) yang selalu memberi doa, nasihat, kasih sayang, bimbingan dan motivasi serta dukungan materi.
2. Untuk adikku Mustaqim yang selalu memberikan do’a untukku.
3. Ambarwati terimakasih atas motivasi dan dukungan sehingga sekripsi ini bisa terselsaikan.
4. Keluarga besar serta teman-teman seperjuanganku di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yaitu : Didik, Najmi, Pujo, Siong, Dona, Dody, Ridwan, Uye, Nyos, Fajri, Aisyah, Alm. Arfan, Bang Sahal, Mbak Iin, bang Alwi, Bang Hasan, Bang Said dan Bang Godiy serta Keluarga besar HMI Cabang Salatiga yang lainnya yang selalu memberikan semangat berjuang dalam berorganisasi dan yang selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga dan bermanfaat.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul: “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM
PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI MTs SUDIRAMAN JAMBU KAB. SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017”, dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu tugas wajib yang harus dilaksanakan mahasiswa guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh tugas akhir skripsi.
Penyusunan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa ada bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dukungan moril maupun materiel. Oleh karena itu penyusun ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga.
4. Bapak Mufiq, S.Ag, M.Phil selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan yang bermanfaat bagi penulis.
6. Bapak Drs. Miftah selaku Kepala Madrasah MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang.
7. Ibu Harsih Widayati, S.Pd.I selaku pembimbing lapangan di MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang.
8. Bapak, Ibu Guru dan tenaga kependidikan yang lainnya.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu terselsainya dalam pembuatan skripsi.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari semua pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan pembaca pada umumnya.
Salatiga, 10 September 2017
Penyusun
ABSTRAK
Shokhif Nur, 2016 Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang Tahun Pelajaran 2016/2017. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Jurusan Pendidikan Gama Islam (PAI). Institut Agama Islam Negri (IAIN) Salatiga. Dosen Pembimbing Mufiq, S.Ag, M.Phil
Kata Kunci: Implementasi dan pendidikankarakter
Latar belakang penelitian ini berdasrkan pada keadaan di Indonesia saat ini yang masih krisis moral dan sikap karena masih kurangnya akan pendidikan sikap dan sikap dalam membentuk dan membangaun karakter peserta didik. Disadari atau tidak pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada sisi kognitif yang hanya mencetak manusia cerdas dan terampil, maka tidak heran jika terjadi krisis sikap dan moral. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya pendidikan karakter yang kuat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Maka salah satu carannya dengan mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran agama Islam. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Sudirman Jambu ?, 2) Bagaimana problematika implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Isalam di MTs Sudirman Jambu ?, 3) Bagaimana hasil implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu ?.
Penelitian ini mengunakan metode Kualitatif. Yaitu penelitian yang berangkat ke tempat penelitian secara langsung untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan ilmiah. Sesuai dengan tema yang peneliti bahas dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan. Pengumpulan data mengunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Lokasi penelitian dilakukan di MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang yang terletak di Jl. Sutoyo No.59, Bedono, Jambu, Kab. Semarang 50663 dan subjek penelitian adalah pendidik, tenaga kependidikan dan siswa.
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ...6
D. Landasan Teori ...7
E. Manfaat Penelitian ...10
F. Metode Penelitian ...11
G. Sistematika Pembahasan ...14
BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Umum Pendidikan Karakter ...15
1. Pengertian Pendidikan Karater ...15
2. Landasan Pendidikan Karakter ...20
3. Tujuan Pendidikan Karater ...24
B. Konsep Pendidikan Karakter Menurut Islam ...25
1. Pengrtian Pendidikan Islam ...25
2. Dasar-Dasar Pendidikan Islam ...26
3. Tujuan Pendidikan Islam ...29
4. Pendidikan Karater Dalam Islam ...31
C. Implementasi Pendidikan Karakter ...35
BAB III HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Dan Subjek Penelitian ...43
1. Sejarah MTs Sudirman Jambu ...43
2. Letak Geografis ...43
3. Visi Dan Misi ...44
4. Struktur Organisasi ...44
5. Keadaan Guru Dan Keadaan Siswa ...47
7. Situasi Dan Kondisi MTs Sudirman Jambu ...51 8. Ekstra Kurikuler Dan Intrakurikuler ...52 B. Temuan Penelitian ...54 1. Implementasi Pembelajaran Agama Islam Dalam Pembentukan Karakter ……….……….54 2. Problematika Impementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran
Agama Islam ...57 3. Hasil Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Agama
Islam...60
BAB IV PEMBAHASAN
A. Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Agama Islam...62 B. Problematika Implementasi Prndidikan Karater Dalam Pembelajaran
Agama Islam………..……63
C. Hasl Implementasi Pendidikan Karater Dalam Pembelajaran Agama Islam...67 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...71 B. Saran ...72
DAFTAR PUSTAKA 75
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Struktur Personal MTs Sudirman Jambu Tabel 3.2 Struktur Organisasi MTs Sudirman Jambu Tabel 3.3Data Guru MTs Sudirman Jambu
Tabel 3.4 Data Kualifikasi Pendidik Guru MTs Sudirman Jambu Tabel 3.5 Daftar Siswa Kelas VII MTs Sudirman Jambu
Tabel 3.6 Daftar Siswa Kelas VIII MTs Sudirman Jambu Tabel 3.7 Sarana MTs Sudirman Jambu
Tabel 3.8 Prasarana MTs Sudirman Jambu
BAB I
PENDAHULAUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang, terutama untuk anak-anak. Anaklah yang akan menjadi generasi penerus bagi keluarga, agama dan bangsa. Pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadian atau karakter sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat di masyarakat dan bangsa. Undang-undang RI No. 20 (2003:2) menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan karakter diangap memiliki otoritas untuk memperbaiki moral bangsa Indonesia melalui jalur pendidikan. Degradasi moral mengugah dunia pendidikan untuk merumuskan tentang konsep pendidikan karakter, berupa nilai-nilai karakter yang akan diajarkan kepada peserta didik. Konsep pendidikan karakter tersebut, bertujuan membentuk dan memperbaiki karakter peserta didik yang semakin merosot.
Kemendiknas (2010) menyebutkan bahwa karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi sebagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagi landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak. Sementara pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.
Zuchdi (2009:10) mengemukakan pendapat bahwa pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajar mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal baik sehingga peserta didik menjadi paham mana yang baik dan mana yang salah, mampu merasakan nilai yang baik dan bisa melakukannya.
Pendidikan karakter dalam perspektif Islam secara teoritik sebenarnya telah ada sejak Islam diturunkan di bumi, seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki dan meyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran sendiri mengandung sistematika ajaran yang hanya
menekankan aspek keimanan, ibadah dan mu’amalah, tetapi juga akhlak.
Pengamalan ajaran Islam secara utuh merupakan model karakter seorang muslim, bahkan diperumpamakan dengan model karater Nabi Muhammad SAW, yang memiliki sifat Shidiq,Tabliq, Amanah, dan Fatonah.
Muhammad SAW merupakan pendidikan yang paling berhasil dan menjadi teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Departemen Agama RI, Syamil Al-Qur’an Terjemah Perkata:2007)
Pendidikan Islam dalam semua aspek kebaikan bersumber dari Allah SWT, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah(Hadis Nabi), Al-Qur’an adalah sumber utama referensi dalam agama Islam untuk menentukan berbagai hukum. (QS. Al-Baqarah/2:2) disebutkan:
Artinya: Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Departemen Agama RI, Syamil Al-Qur’an Terjemah Perkata:2007)
Orang Islam menyebutkan orang baik dan berprilaku positif itu adalah mereka orang-orang yang bertaqwa yang tidak meragukan Al-Qur’an. Allah Swt juga menyebutkan bahwa Al-qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang bertaqwa yang pada dasarnya adalah orang yang mempunyai karakter dan bertujuan untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Tidak ada satu orangpun di dunia yang berkarakter semulia Nabi Muhammad SAW. Karakter-karakter yang bisa dicontoh dari beliau adalah sifat yang Shidiq, Tabliq, Amanah, dan Fatonah. Sifat-sifat Nabi Muhammad SAW mendorong nilai-nilai karakter tertuang dalam pengembangan budaya dan karakter bangsa disusun Kemendiknas tahun 2010 yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.
Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter yang akan ditanamkan dalam diri peserta didik sebagai upaya membangun karakter bangsa. Nilai-nilai ini berbeda dengan kementrian Agama. Kementrian Agama melalui Direktoral jendral pendidikan islam mencanangkan nilai karakter dengan merujuk pada Nabi Muhammad Saw sebagi tokoh yang agung yang berkarakter unggul. Nilai pendidikan karakter menurut Kemendikanas (2010) ada 18 (delapan belas) yaitu meliputi prilaku religius, jujur, toleran, disiplin, kerja kersa, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai perstasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca,peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai karakter yang dicanangkan Kemendiknas dalam upaya membangun karakter bangsa melalui pendidikan di sekolah, agar dapat di implementasikan untuk menjadikan penerus bangsa yang berkarater baik, selalu mengetahui kebaikan mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan dalam kehidupan.
pembentukan karakter dalan pendidikan agama Islam terhadap peserta didiknya. Berangkat dari hal tersebut maka penulis mengajukan judul dalam
penelitian ini adalah: ” Implementasi Pendidikan Karater Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Isalam Di MTs Sudirman Jambu.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul skripsi diatas, maka ada sejumlah permasalahan yang penulis ajukan untuk dicari jawabanya. Sejumlah masalah tersebut dapat dirumuskan:
1. Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu ?
2. Bagaimana problematika implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu ?
3. Bagaimana hasil implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu ?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusam maslah di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
2. Untuk mengetahui problematika yang muncul dalam implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu.
3. Untuk mengetahui hasil implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Agama Islam di MTs Sudirman Jambu.
D. Landasan Teori
1. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarater dalam dimensi hati,pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti,pendidikan moral,pendidikan watak yang bertujuan mengambangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk,memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-haridengan sepenuh hati (Samani, 2013:45).
Pendidikan karakter juga bisa diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter baik berlandaskan kebijakan-kebijakan inti yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat (Saptono, 2011:23).
masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Wibowo,2012:35).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karater kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhanyang Maha Esa, diri sendiri, sesama lingkungan maupuna bangsa seningga menjadi insan kamil (Narwanti,2011:14).
Jadi pendidikan karakter adalah penanaman nilai-nilai karakter yang dapat membentuk peribadi yang memiliki karakter baik, untuk dirinya,keruarga dan bangsa. Pendidikan karakter merupakan transfer pengetahuan dan nilai kenabian yang bertujuan untuk membangun akhalak, moral serta mendekatkan diri kepada Tuhan dan alam serta tercapainya intelektual emosional dan sepiritual peserta didik yang dapat berkembang secara utuh.
2. Pengertian Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, kebiasaan dan tingkah laku ,belajar juga diartikan sebagai pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi (Bahri,2002:22).
setrategi yang optimal untuk mengapai hasil pembelajaran yang di inginkan dalam kondisi tertentu ( Muhaimin,2003:82).
Pembelajaran yang bermuatan pendidikan karakter merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran baik berlangsung di dalam maupun di luar kelas yang berusaha menjadikan peserta didik tidak hanya menguasai kompetensi (materi) tetapi juga menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli dan menginternalisasikan nilai-nilai dan menjadikannya (Sulistyowati,2012:127).
Menurut Ahmad Tafsir (2009:85) berpendapat bahwa pengintegrasian pendidikan agama (karakter) dalam pembelajaran dapat di lakukan dengan beberapa cara, diantaranya; a) pengintegrasian materi pelajaran, b) pengintegrasian proses, c) pengintegrasian dalam memilih bahan ajar, dan d) pengintegrasian dalam memilih media.
Jadi pengertian pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa secara sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami dan menghayati, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadist melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman untuk mencapai hasil yang diinginkan berdasarkan kondisi pembelajaran yang ada.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis.
1. Manfaat Secara Teoritis
Penelitian ini diharpkan mampu memberikan tawaran dan sumbangan pemikiran bagi perkambangan pendidikan di Indonesia dalam mengembangkan kemampuan sumber daya yang siap untuk menghadapi tantangan zaman dan moderenisasi. Serta diharpkan dapat membentuk individu berkarater yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan Memberikan konsep pendidikan Islam dalam membentuk dan mengambangkan potensi intelektual, emosional dan spiritual.
2. Manfaat Secara Praktis
pengembangan diri manusia dalam membentuk manusia sempurna menurut Islam. Hal tersebut menjadi kerangka acuan dalam pembentukan dan pengembangan sumberdaya manusia yang dikemas dalam pendidikan karater dalam pembelajaran pendidikan agama Islam karena adaya perbedaan antara pendidikan umum dan pendidikaan agama.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Molengo, 2009:3). Data yang berhasil dari naskah. Wawancara, catatan, dokumentasi didiskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap keadaan atau realitas.
terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Dengan demikian peneliti akan mendeskripsikan dan menginterpretasi problematika implementasi pembelajaran pendidikan agama Islam dalam pembentukan karater di MTs sudirman Jambu bagi peserta didik/siswa.
2. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang yang terletak di Jl. Sutoyo No.59, Bedono, Jambu, Kab. Semarang 50663.
Adapun subjek penelitian adalah komponen pendidikan meliputi: kepala sekolah, pengajar, karyawan dan siswa.
3. Teknik Pngumpulan Data a. Metode wawancara
Wawancara adalah proses percakapan dengan maksud untuk mengonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, motivasi, perasaan, dan sebagiannya yang dilakukan dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan orang yang di wawancarai (Bungin, 2011:155).
b. Metode observasi atau pengamatan
Metode observasi adalah teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung kepada objek penelitian (Surakhmad, 1994:164). Metode ini digunakan utuk mengetahui situasi dan kondisi lingkungan di sekolah serta para guru yang ada. Pengamatan disini termasuk juga didalamnya penelitian mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan porporsional maupun langsung diperoleh dari data (Moleong, 2007:174).
Observasi ini dilakukan dengan melakukan serangkaian pengamatan dengan mengunakan alat indera penglihatan dan pendengaran secara langsung terhadap objek yang diteliti. Dalam penelitian ini kita bisa ikut ambil bagian dalam melaksanakan aktifitas pendidikan dalam lingkungan sekolah. Selain itu juga berpartisipasi dalam pembelajaran seperti: ikut mengajar dan mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama Islam.
c. Metode dokumentasi
Dokumen-dokumen yang diperlukan dalam penelitian sekripsi ini antara lain: data peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, dan data-data lain yang menunjang penelitian ini. d. Analisis data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain (Arikunto, 2010:147).
Dalam penelitian ini yang digunakan dalam menganalisis data yang sudah diperoleh adalah dengan cara mendeskripsikan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan untuk kategori memperoleh kesimpulan mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagiamna, berapa banyak, sejauhmana dan sebagainya (Arikunto,2010:103).
e. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya (Moleong, 2005:330).
kebenaran data atau informasi kepada informan yang satu dengan informan yang lainnya antara kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah. Peneliti menggunakan beberapa orang informan tambahan selain informan utama untuk mengecek kebenaran data dari informan utama seperti orang tua/wali murid.
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penyusunan sekripsi terdiri dari 5 bab yaitu:
Bab I : Pendahuluan, meliputi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian.
Bab II : Kajian teori meliputi: konsep umum pendidikan karakter, konsep pendidikan karakter menurut Islam dan implementasi pendidikan karakter.
Bab III : Hasil penelitian yang meliputi: gambaran umum lokasi penelitian dan paparan data penelitian.
Bab IV : Analisis data penelitian dan pembahasan, yaitu analisis umum dan pembahasan.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konsep Umum Pendidikan Karakter
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Keberhasilan suatu bangsa dalam mencapai tujuan pendidikan bukan hanya banyaknya orang yang berpendidikan puluhan ataupun jutaan banyaknya ilmuan belum menjamn bangsa tersebut akan maju. Akan tetapi, bangsa yang besar dapat dilihat dari karakter dan kualitas dari generasi penerus bangsannya.
Pendidikan karater kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan kemajuan bangsa. Di lingkungan Kemendiknas sendiri, pendidikan menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinanya.
Secara etimologi, pendidikan dalam bahas Inggris (education). Kata bahasa inggris (education) berasal dari bahasa latin, yaitu ducare,
yang berati “menuntun, mengarahkan, atau memimpin”. Pendidikan
artinya anak dan “agogos” yang artinya membimbing. Pedagogik
dapat diartikan sebagi ilmu dan seni mengajar (Andre, 2013:1).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia (UU No. 20 Tahun 2003). Pendidikan karater dalam hal ini merupakan proses berkelanjutan dan tak pernah berakhir, sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan, yang ditujukan pada terwujudnya sosok manusia masa depan dan berkarater pada nilai-nilai budaya bangsa (Mulyasa, 2011:1). Gaffar dalam Kesuma (2011:5) menyebutkan bahwa pendidikan karater adalah sebuah transformasi niali-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam prilaku kehidupan orang itu.
Berpijak dari istilah dan pengertian pendidikan di atas, pendidikan bisa diartikan sebagi usaha yang dilakukan orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk membimbing, memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah yang lebih baik dan berguna bagi dirinya dan masyarakatnya.
kemandirian, keterampilann sosial dan karakter. Sehingga berbagi program pendidikan dirancang dan diimplementasikan untuk mewujudkan pendidikan tersebut, terutama dalam rangka pembinaan karakter.
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad 18 dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadogik Jerman F.W. Forester (Koesoema, 2007: 79). Menutur bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seseorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Istilah karakter juga dianggap sama dengan kepribadian atau ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari seseorang (Sarkawi, 2006:29).
Secara etimologi, akar kata karakter dalam bahasa Inggris:
pikiran dan tingkah laku atau kepribadian manusia (Poerwadarminta, 1997: 20).
Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara berbicara guru atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya (Pupuh Fathurrohman dkk, 2013:15-16).
Semntara menurut Suyadi menyimpulkan bahwa karakter merupakan nilai-nilai universal perilaku manusia yang meliputi seluruh aktivitas kehidupan, baik yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun dengan lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berlandaskan norma-norma, agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat (Suyadi,2013:5-6).
emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa yang diamati dan di pelajari). Lockwood mendefinisikan pendidikan karakter sebagai aktifitas berbasis sekolah yang mengungkap secara sistematis berbagai bentuk perilaku dari siswa. Pendidikan karakter didefinisikan sebagai setiap rencana sekolah, yang dirancang bersamalembaga masyarakat yang lain, untuk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang muda dengan mempengaruhi secara eksplisit nilai-nilai kepercayaan yang dilakukan secara langsung menerapkan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir serta rasa dan karsa (Muchlas Samani dan Hariyantio, 2012:44-45).
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama. Pendidikan karakter dapat memiliki tujian yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. penyelengaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih baik atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri (Pupuh Fathurrohman dkk,2013:74).
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karkter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistenatis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat.
2. Landasan Pendidikan Karakter
a. Landasan Filsafat Manusia
Landasan filsafat manusia secara filosofis, manusia
diciptakan oleh Allah Swt dalam keadaan “belum selesai” mereka
dilahirkan dalam keadaan belum jadi. Manusia ketika dilahirkan berwujud anak manusia belum terbentuk dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembangnnya memerlukan bantuan beberapa pihak agar menjadi manusia yang sesungguhnya yaitu insan kamil.
b. Landasan Filsafat Pancasila
Landasan filsafat pancasila menyebutkan manusia yang ideal adalah manusia pancasila, yaitu yang menghargai nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial.
c. Landasan Filsafat Pendidikan
personal. Nilai-nilai tersebut menjadi seseorang yang berkarakter baik.
d. Landasan Relgius
Landasan religius menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT, dalam agama dan sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia, manusia baik adalah manusa yang secara jasmani dan ruhani sehat dan dapat melaksanakan berbagi aktifitas hidup yang berkaitan dengan peribadatannya kepada Allah SWT. Manusia yang baik adalah manusia yang bertaqwa dengan menghambakan diri kepada Allah SWT dengan cara jalan patuh terhadap ajaran-ajaran-Nya. Manusia yang baik adalah manusia manusia yang mampu menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat yang dapat dipercaya atas dasar jujur, amanah, disiplin kerja keras, ulet dan bertanggung jawab. Manusia yang baik adalah manusia yang manusiawi dalam arti yang mempunyai sifat atau karakter sebagai manusia yang mempunyai rasa cinta kasih terhadap sesama, kepedulian yang tinggi terhadap penderitaan orang lain, berperilaku baik terhadap sesama manusia dan bermartabat.
e. Landasan Sosiologi
suku, etnis, agama, golongan, status sosial dan ekonomi yang berbeda-beda. Bangsa Indonesia juga hidup berdampingan dan bergaul dengan bangsa-bangsa lain. Upaya mengembangkan karater saling menghargai dan toleran pada aneka ragam perbedaan menjadi sngat mendasar.
f. Landasan Psikologi
Landasan psikologi menjelaskan bahwa, karakter dapat dideskripsikan dari dimensi-dimensi interpersonal dan interaktif. Dimensi interpersonal terfokus pada kemampuan atau upaya manusia untuk memahami diri sendiri. Dimenis interpersonal secara umum dibangun atas kemampuan inti untuk mengenal peradaban, sedangkan secara khusus merupakan kemampuan mengenal perbedaan dalam suasana hati, temperamen, motivasi dan kehendak. Dimensi interaktif adalah kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial dengan sesama secara bermakna.
g. Landasan Teoritik Pendidikan Karakter
Landasan teori pendidikan karakter menyebutkan teori-teori
peserta didik sehingga dengan nilai-nilai tersebut akan mengarahkan, megendalikan dan mengembangkan kepribadian manusia secara utuh yeng terwujud dengan ciri pribadi dengan karakter yang baik.
3. Tujuan Pendidikan Karater
Mulyasa (2011:9) menjelaskan pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada pembentukan budaya sekolah/madrasah yaitu nilai-nilai yang melandasi prilaku, tradisi, kebiasaan sehar-hari serta simbul-simbul yang diparktekkan oleh semua warga sekolah/madrasah dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah/madrasah merupakan ciri khas, karakter atau watak dari citra sekolah/madrasah tersebuat tersebut di mata masyarakat luas.
Zubaidi (2012:18) berpendapat bahwa pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan, yaitu sebagai berikut:
a. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.
b. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif dan berwawasan kebangsaan.
e. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penih kreatif, dan persahabatan dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
Wiyani (2013:70) menyatakan bahwa tujuan pendidikan karakater adalah mengkuatakan dan mengembangakan nilai-nilai kehidupan yang diangggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan, mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah dan membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab karakter bersama.
B. Konsep Pendidikan Karakter Menurut Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai fungsi di muka bumi ini. Fungsi pertama adalah manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Yang mengandung arti bahwa manusia diberi amanah untuk memelihara, merawat, memanfaatkan serta melestarikan alam. Supaya terlaksana fungsi manusia sebagai khalifah di bumi dengan baik, maka manusia memiliki syarat pokok yaitu keilmuan, memiliki moral dan akhlak. Fungsi kedua adalah manusia sebagai makhluk Allah yang ditugaskan untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Manusia tunduk dan pasrah pada kebesaran Allah. Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan sang khalik dengan makhluk ciptanya.
Berdasarkan beberapa definisi pendidikan Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah membentuk peribadi muslim yang seutuhnya, mendidik akhlak, dan jiwa serta mengembangkan seluruh potensi manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual, jasmani dan ilmiah dan mempersiapkan kehidupan yang ikhlas dan jujur.
2. Dasar-Dasar Pendidikan Islam
ulama dan cendekiawan muslim tentang pendidikan Islam (Daulay,2012:7)
Konsep Daulay tentang dasar-dasar pendidikan Islam tersebut dapat dipaparkan di bawah ini:
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad Saw melalui malaikat jibril. Di dalam Al-Qur’an terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip yaitu yang berhubungan dengan keimanan dan yang berhubungan dengan amaliyah.
Al-Qur’an merupakan sumber nilai yang absolut, yang eksistensinya tidak mengalami perubahan walaupun interpretasinya dimungkinkan mengalami perubahan sesuai dengan konteks zaman, keadaan dan tempat (Muhaimin,1993:145). Al-Qur’an sebagai sumber pendidikan Islam memiliki keistimewaan, yaitu menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, tidak menentang fitrah manusia, penggunaan kisah-kisah untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan-keperluan sosial (Achmadi,1987:21).
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Departemen Agama RI, Syamil Al-Qur’an Terjemah Perkata:2007).
2. As-Sunah
As-Sunnah adalah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah. Yang dimaksud pengakuan itu adalah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh rasulullah dan beliau membiarkan kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah Al-Qur’an. Sunnah berisi petunjuk ataupun pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat manusia menjadi umat muslim yang bertaqwa.
3. Ijtihad
termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada
Al-Qur’an dan sunnah (Daradjat,2011:21). 3. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan utama dari pembelajaran Pendidikan Islam adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakat.
Ada beberapa tujuan pendidikan Islam (Daradjat,2011:29) antara lain tujuan umum, tujuan akhir, tujuan sementara, dan tujuan operasional yaitu sebagai berikut:
a. Tujuan umum
Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional negara tempat pendidikan itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelengarakan pendidikan itu. Tujuan umum itu didak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenarannya.
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Dengan takwa yang dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan kehidupan seseorang serata di pengaruhi oleh perasaan, lingkungan dan pengalaman. Maka pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
c. Tujuan sementara
Pada tujuan sementara ini sudah mulai kelihata meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi peserta didik.
d. Tujuan operasional
Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasional lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Untuk tingkat yang paling rendah, sifat yang berisi kemampuan dan keterampilan yang ditonjolkan. Misalnya, dapat berbuat, terampil melakukan, lancar mengucapkan, mengerti, memahami, meyakini dan menghayati dalam soal kecil.
ibadahnya untuk mencapaik kebahagian di dunia dan akhirat, sebagaimana Allah mengutus para rasul sebagai pendidik dan pengajar dan melengkapinya dengan berbagi kitab samawi (Hafidz,2009:34).
4. Pendidikan Karakter Dalam Islam
Di dalam Islam karakter sering disapa denga akhlak, karena akhlak adalah sikap dan perilaku yang menggambarkan bahwa manusia layak atau tidak layaknya disebut sebagai manusia. Karakter adalah watak, sifat atau hal-hal yang memang sangat mendasar yang memang ada pada diri seseorang.
Pembinaan karakter dimulai dari individu, karena pada hakikatnya karakter itu memang individual, meskipun ia dapat berlaku dalam konteks yang tidak individual. Karenanya pembinaan karakter dimulai dari gerakan individual, yang kemudian diproyeksikan menyebar ke indivdu-individu lainnya, lalu setelah jumlah individu yang tercerahkan secara karakter dan akhlak menjadi banyak, maka dengan sendirinya akan mewarnai masyarakat. Pembinaan karakter selanjutnya dilakukan dalam lingkungan keluarga dan harus dilakukan sedini mungkin sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Melalui pembinaan karakter pada setiap individu dan keluarga akan tercipta peradaban masyarakat yang tentram dan sejahtera.
Dalam Islam, karakter mempunyai kedudukan penting dan dianggap mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menuntun kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana dalam firman Allah (QS. An-Nahl/16:90)
Islam merupakan ajaran yang sempurna sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki landasan pemikiran, begitu pula juga dengan pendidikan karakter. Dalam Al-Qur’an yang menjadi dasar pendidikan karakter adalah (QS. Lukman/31:17-18) sebagai berikut: perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Departemen Agama RI, Syamil
Al-Qur’an Terjemah Perkata:2007)Dari ayat di atas bahwa ajaran Islam serta pendidikan karakter mulia yang harus diteladani agar manusia yang hidup sesuai dengan tuntunan ajaran agama, yang bertujuan untuk kemasalahatan serta kebahagiaan umat manusia. Sesungguhnya Rasulullah adalah contoh serta teladan bagi umat manusia yang mengajarkan serta menanamkan nilai-nilai karakter yang mulia kepada umat manusia. Sebaik-baiknya manusia adalah yang baik karakter atau akhlaknya dan manusia yang sempurna adalah yang memiliki akhlak karimah, karena akhlak karimah merupakan cerminan iman yang sempurna.
Menurut Mubarok dalam (Majid & Andayani, 2013:58) Kualitas akhlak seseorang dinilai dengan tiga indikator:
2. Konsistensi orientasi, yaitu adanya kesesuaian antara pandangan dalam suatu hal dengan pandangannya dalam bidang yang lain. 3. Konsistensi pola hidup sederhana yaitu sikap mental yang selalu
memelihara kesucian diri, beribadah, dan rela berkorban untuk kebaikan.
Dengan demikian pendidikan karakter dalam Islam memang diidentikan dengak akhlak, sehingga pendidikan karakter selalu berakhir pada akhlak. Selain itu pula, akhlak merupakan sifat seseorang atau penentu bahwa orang tersebut baik ataupun buruk, sehingga dengan inilah akhlak selalu dijadikan penentu terdepan dalam setiap persoalan, termasuk dalam membangun bangsa khususnya dalam pembinaan anak-anak di bangku madrasah.
5. Implementasi Pendidikan Karakter
Implementasi merupakan kegiatan untuk merealisasikan recana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, sehingga akan memiliki nilai (Novan&Wiyani, 2012:56).
Penerapan pendidikan di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif setrategis secara terpadu.
kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan. Keempat,
membangun komunikasi kerjasama antar sekolah dengan orang tua peserta didik (Novan Adri Wiyani, 2012:78).
Pendidikan karakter akan berlangsung sia-sia manakala nilai-nilai dalam pendidikan karakter tidak dapat diimplementasikan dalan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan karakter lebih menekankan pada kebaiasaan untuk melakukan hal-hal yang positif. Kebiasan-kebiasaan inilah yang akan menjadi suatu karakter dalam jiwa seseorang.
Pendidikan karakter dapat teridentifikasi sejumlah nilai, Zubaedi (2011:74) yaitu Relgius, jujur, toleransi, disiplin,kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab penjelasanya sebagai berikut:
a. Religius
perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya.
Manusia religius adalah manusia yang berkeyakinan bahwa semua yang ada didalam semesta ini adalah merupakan bukti yang jelas terhadap adanya Tuhan (Mustari,2011:2).
b. Jujur
Jujur diartikan sebagai sikap dan prilaku yang mencerminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan dan perbuatan mengetahui yang benar, mengatakan yang benar dan melakukan yang benar sehingga menjadikan orang-orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya (Suyadi,2013:8). Jujur adalah prilaku yang didasarkan peada upaya menjadikan dirinya sebaga orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, perbuatan dan tindakan.
Jujur merujuk pada suatu karakter moral yang mempunyai sfat-sfat positif dan mulia seperti integrasi, penuh kebenaran dan lurus sekaligus tiadanya bohong, curang ataupun mencuri (Mustari, 2011:15). Sifat jujur merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur akan selalu berusaha menjaga amanah. Amanah diibaratkan barang titipan yang harus dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan rasa tanggung jawab.
Toleran adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Toleran diartikan sebagai sikap dan prilaku yang mencerminkan penghargaan perbedaan terhadap agama, aliran kepercayaan, suku adat, bahasa, ras, etnis, pendapat dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup tenang ditengah perbedaan tersebut (Fathurrohman, 2013:19).
Toleransi dalam kontek sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.
d. Disiplin
Disiplin merujuk pada intruksi sistematis yang diberikan kepada murid. Untuk mendisiplinkan berarti menginstruksikan orang untuk tatanan tertentu melalui aturan-aturan tertentu (Mustari,2011:42). Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan sesutu sistem atau aturan tertentu yang mengharuskan orang/peserta didik untuk patuh terhadap keputusan, perintah dan peraturan yang diberlakukan. Dengan kata lain disiplin adalah sikap menaati peraturan dan kententuan yang telah di tetepkan tanpa pamrih.
Kerja keras adalah prilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Kerja keras berarti berusaha dengan sunguh-sunguh, berjuang dengan keras, gigih dan pantang menyerah.
Kerja keras yang mesti dilakukan adalah hal-hal yang baik-baik, memperhatikan supaya segala urusannya dapat berbuah lezat dan dapat dimanfaatkan manfaatnya (Mustari,2011:52). Kepentinggannya adalah agar apa yang di usahakan itu tidak mudah roboh dan hancur, tidak mudah rusak dan punah, serta tidak ada rasa menyepelekan suatu pekerjaan.
f. Kreatif
Kreatif adalah berfikir dan berusaha untuk menemukan ide, cara atau hal-hal yang baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Suyadi (2013:8) mengemukakan pendapatnya bahwa kreatif sebagai sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah, sehingga selalu selalu menemukan cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari yang sebelumnya.
g. Mandiri
masalah, bukan hanya khawatir tentang masalah-masalah yang dihadapinya (Mustari,2011:94). Mandiri berarti sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung kepada orang lain dalam menyelsaikan tugas-tugasnya.
Orang yang mempunyai sikap mandiri akan percaya kepada keputusannya sendiri, jarang membutuhkan orang lain untuk menerima pendapat atau bimbingan orang lain dan mampu mengambil keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi. h. Demokratis
Demokratis adalah cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban terhadap dirinya dan orang lain. Di dalam islam ada istilah musyawarah yang artinya perundingan antara peribadi atau golongan mengenai suatu masalah atau beberapa masalah, denagn maksud untuk mengambil keputusan dan kesepakatan bersama. i. Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar. Mustari (2011:104) mengemukakan kuriositas (rasa ingin tahu) adalah emosi yang dihubungkan dengan perilaku mengorek secara alami seperti ekspiorasi, investigasi dan beajar.
Semangat kebangsaan adalah cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang mengutamakan kepetingan bangsa dan negara dari pada kepentingan dirinya dan kelompok.
k. Cinta tanah air
Cinta tanah air adalah cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.
l. Menghargai prestasi
Menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan dan karya orang lain.
m. Bersahabat/komunkatif
Bersahabat/komunikatif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa seneng berbincang atau berbicara, bergaul dan berkerja sama dengan orang lain.
n. Cinta damai
Cinta damai adalah sikap, perkataan dan perbuatan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
Gemar membaca adalah kebiasaan meluangkan waktu untuk membaca berbagi informasi baik itu buku, majalah, koran dan sebagainya untuk menambah wawasan bagi dirinya.
p. Peduli lingkungan
Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi di bumi.
q. Peduli sosial
Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkannya.
r. Tanggung jawab
BAB III
HASIL PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Lokasi dan Subjek Penelitian1. Sejarah MTs Sudirman Jambu
dengan nama PGA (Pendidikan Guru Agama) kemudian beralih setatus menjadi MTs pada tahun 1976.
Berdirinya MTs Sudirman Jambu, pada awalnya hanya memiliki satu lokal gedung dengan seiring perkembangan waktu MTs Sudirman Jambu memiliki enam lokal gedung dan satu mushola.
2. Letek Geografis
a. Alamat Madrasah/Sekolah
MTs Sudirman Jambu Kab. Semarang yang terletak di Jl. Sutoyo No.59, Bedono, Jambu, Kab. Semarang 50663.
b. Luas Tanah
Luas tanah yang dimiliki MTs Sudirman Jambu adalah sebesar 2000 m2.
3. Visi Dan Misi a. Visi
Menciptakan manusia bertaqwa dan berwawasan IPTEK, bersosial dan berbudaya
b. Misi
2) Melatih siswa untuk peduli terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat terutama fakir miskin.
3) Mengembangkan bakat minat siswa dalam berbagai bidang
c. Slogan
Kami Datang Untung Belajar
Kami Pulang Membawa Harapan Masa Depan 4. Struktur Organisasi
MTs Sudirman Jambu merupakan lembaga pendidikan yang juga memiliki setruktur organisasi sebagai sistem pengerak dalam rangka mewujudkan visi dan misi yang di canangkan oleh Madrasah tersebut. Di bawah ini adalah setruktur organisasi MTs Sudirman Jambu sebagai berikut
Tabel 3.1
Setrutur Personal MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016-2017
No. Nama Jabatan
5. Umi Ikmal, S.Pd.I Urusan Kurikulum 6. Hariyani, S.Pd Urusan Kesiswaan 7. Suparman,S.Pd.I Urusan Humas 8. Muhaimin, S.Ag. Pembina Leb. PAI 9. M. Shidiq Amro Susanto Pembina Pramuka 10. Khairul Mawahib, S.Pd.I Koperasi Sekolah 11. Doni Fatah, S.Pd.I TU/Umum
12. Naryanto, S.Pd.I Pembina Mercing Band
13. Budiyono Urusan
RumahTangga/Sarpras/Umum
Tabel 3.2
Setruktur Organisasi MTs Sudirman Jambu
5. Keadaan Guru dan Keadaan Siswa a. Keadaan Guru MTs Sudirman Jambu
Guru-guru yang ada di MTs Sudirman Jambu merupakan guru yang profesional mereka mengajar sesuai dengan bidangnya sebagian besar adalah lulusan Setrata 1 (S1) dan beberapa sebagian dari mereka ada yang masih menempuh jenjang pendidikan Setrata 1 (S1).
Data Guru MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016/2017
No Status Guru Jumlah Guru
1. PNS 2
2. Guru Tetap 8 3. Guru Tidak Tetap 3
Jumlah Total 13
Tabel 3.4
Data Kualifikasi Pendidikan Guru MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016/2017
No. Kualifikasi Guru Tetap Guru Tidak Tetap Jumlah Guru
1. Strata 2 1 - 1
2. Strata 1 8 - 8
3. SMA/SPG - 4 4
Jumlah Total 9 4 13
b. Keadaan Siswa MTs Sudirman Jambu
Tabel 3.5
Daftar siswa Kelas 7
No Nama TTL Jenis Kelamin
1. Agnes Ardita Purworejo,13/01/2003 P 2. Fitriyani Kab. Semarang, 2/08/2004 P 3. Hikmal Abror Kab. Semarang, 11/12/2003 L 4. Ismawati Indiyana Bekasi, 03/04/2003 P
5. Rifki Amelia M. Kab. Semarang, 23/05/2004 P
6. M. Jalaludin Kab. Semarang, 10/6/2004 L 7. Aditya Surya U. Magelang, 24/10/2000 L 8. Alfian Adi Nugroho Temanggung, 12/3/2002 L
9. Dwi Suryani B. F. Kab. Semarang, 15/4/2000 P
20. Yusuf Afandi Kab. Semarang,17/10/2002 L
Tabel 3.6
Daftar siswa Kelas 8
Tahun Ajaran 2016/2017
No Nama TTL Jenis Kelamin
1. Bagas Irawan Sumber Agung, 02/11/2002 L 2. Ade Risma Fitriyani Kab. Semarang, 01/10/2002 P
3. Muhammad Azka R. Kab. Semarang, 27/08/2001 L
14. Nuraini Sofiyani Kab. Semarang, 14/02/2002 L 15. Nur Evi Wijayanti Kab. Semarang, 26/10/2001 P 16. Nur Rosyid A. Kab. Semarang, 28/01/2002 P 17. Khoirul Azizah Kab. Semarang, 07/09/2002 L 18. Latmoko Kab. Semarang, 01/03/2003 P 19. Rikobagasono Kab. Semarang, 15/05/2002 L 20. Riyo Setiyawan Kab. Semarang, 08/10/2002 L 21. Rohman Amin Kab. Semarang, 02/09/2002 L 22. Rodziatun Nisa Kab. Semarang, 30/06/2003 P 23. Umar Lanyo P. Kab. Semarang, 22/02/2003 L 24. M. Ardan S. Kab. Semarang, 09/05/2002 L
6. Sarana dan Prasarana
Tabel 3.7
Sarana MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016/2017
No Jenis Sarana Prasarana Jumlah Ruang Kondisi
1. Ruang Kelas 3 Baik
2. Lab. Komputer 1 Baik
4. Lab.PAI/ Mushola 1 Baik
5. Ruang UKS 1 Baik
6. Ruang Perpustakaan 1 Baik
7. Ruang Guru 1 Baik
8. Ruang Kepala Madrasah 1 Baik
9. Ruang Tamu 1 Baik
10. Ruang Tata Usaha 1 Baik
11. Ruang BP 1 Baik
12. Ruang OSIS 1 Baik
13. Gudang 1 Baik
15. WC Siswa 4 Baik
16. WC Guru 1 Baik
17. Dapur Guru 1 Baik
18. Dapur Umum 1 Baik
19. Koperasi 1 Baik
20. Lapangan Upacara/ Lapangan Olahraga
1 Baik
21. Area Parkir 1 Baik
Tabel 3.8
Tahun Ajaran 2016/2017
No Jenis Barang Jumlah Kondisi
1. Buku Pegangan Guru 30 Baik
2. Buku Teks Siswa Tiap Mapel 138 Baik 3. Buku Penunjang Untuk Tiap Mapel 15 Baik
4. Komputer 20 Baik
5. Laptop 1 Baik
6. Printer 2 Baik
7. Brangkas 1 Baik
8. Almari 4 Baik
9. Rak Buku 5 Baik
10. Meja Guru 14 Baik
11. Meja Siswa 73 Baik
12. Kursi Guru 14 Baik
13. Kursi Siswa 73 Baik
7
.
Situasi dan Kondisi MTs Sudirman Jambukecamatan Jambu dengan anak didik yang berbeda-beda status sosial maupun perekonomianya.
Lingkungan Madrasah merupakan lingkungan yang baik, karena di lingkungan sekitar Madrasah merupakan warga yang baik. Sehingga setiap ada kegiatan keagamaan para siswa dapat berkontribusi dengan baik seprti pada saat Idul Qurban dari pihak Madrasah sering mengadakan untuk memberikan pembelajaran bagi peserta didik.
Dengan situasi dan kondisi yang baik di sekitar lingkungan Madrasah tersebut, peraturan dan kebijakan yang ada di Madrasah mengunakan sistem musyawarah dengan para warga sekitar dan para tokoh masyarakat untuk kemajuan dan perlembangan yang lebih baik lagi.
8. Ekstra Kurikuler dan Intrakurikuler
Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan wajib atau pokok yang harus diikuti oleh setiap peserta didik. Kegiatan ini diwujudkan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas dimana di dalamnya terjadi hubungan interaksi antara guru dan peserta didik.
ada di dalam kelas. Kegiatan ekstrakurikuler MTs Sudirman Jambu bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman para siswa serta mengembangkan bakat dan minat yang ada pada diri dari setiap peserta didik. Terdapat program ekstrakurikuler yang di wajibkan adalah pramuka yaitu untuk kelas VII dan kelas VIII dengan harapan dapat melatih siswa secara mandiri, disiplin, bertanggungjawab dan dapat bersosialisali di masyarakat.
Berikut ini merupakan kegiatan ekstrakurikuler dan intrakurikuler yang ada di MTs Sudirman Jambu tahun ajaran 2016/2017 :
Tabel 3.9
Kegiatan Intrakurikuler MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016/2017
No Intrakurikuler Guru Pengampu 1. Pendidikan Kewarganegaraan 1
2. Fiqih 1
3. Al-Qur’an Hadits 1
4. Aqidah Akhlak 1
5. Sejarah Kebudayaan Islam 1
7. Bahasa Inggris 1
8. Bahasa Indonesia 1
9. Ilmu Pengetahuan Alam 1 10. Ilmu Pengetahuan Sosial 1
11. Matematika 1
12. Olah Raga 1
13. Seni Budaya 1
14. TIK 1
15. Bimbingan Konseling 1
Tabel 3.10
Kegiatan Ekstrakurikuler MTs Sudirman Jambu
Tahun Ajaran 2016/2017
No Ekstrakurikuler Guru Pengampu
1. Pramuka 2
2. Seni Baca Al-Qur’an 1
3. Sepak Bola/Futsal 1
4. Latihan Pidato 1
5. Mujahadah Siswa 1
7. Mading 1
B.
Temuan PenelitianBerdasarkan temuan penelitian di lapangan di MTs Sudirman Jambu tentang Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di madrasah tersebut, ada beberapa garis besar yang dapat tergambar sebagai berikut:
1. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan hasil penelitian di MTs Sudirman Jambu oleh peneliti, ada beberapa implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan agama Islam beberapa diantaranya dikemukakan oleh responden, yaitu sebagai berikut:
Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan agama Islam menurut kepala Madrasah yaitu MF adalah :
“Pendidikan karakter yang di terapkan di Madrasah ini
langsung pada bidang-bidang pengetahuan umum komputer dan pamuka serta yang lainnya. dalam beberapa pembelajaran peserta didik kami beri tugas untuk mencari materi dari sumbernya langsung di masyarakat seperti materi haji, qurban dan zakat supaya siswa tidak hanya menerima materi di bangku kelasa saja yang hanya disampaikan oleh guru (Wawancara,MF.22/05/2017).
Dari apa yang telah peneliti amati penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik dilakukan dengan cara pembiasaan, seperti pembiasaan besrsalaman dengan para guru sebelum masuk ke ruang kelas setiap pagi hari, shalat Dhuha berjamaah saat istirahat pertama dan shalat dhuhur berjamaah. Di setiap bulan Ramadhan siswa diajarkan untuk berzakat di Madrasah yang mana bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepedulian peserta didik terhadap sesama Muslim yang kurang mampu.
Seperti apa yang diungkapkan kepala Madrasah, HW selaku Waka Kurikulum mengemukakan bahwa dalam upaya membentuk karakter siswa adalah:
“Dengan cara membiasakan dan memberi contoh yang
misalnya kalau di Madrasah ini ada membaca asmaul husna sebelum masuk ke pelajran pada pagi hari, shalat Dhuha sebelum istirahat pertama serta shalat Duhur pada isrirahat kedua. harapanya ini sedah membentuk karakter anak didik dalam beribadah sebagi dasarnya.” (Wawancara,HW.09/05/2017).
Ibu NR juga mengatakan bahwa pendidikan karakter secara tidak langsung telah diterapkan dalam proses pembelajaran:
“Penerapan dengan dengan cara mengajak siswa dari
setiappelajaran atau kejadian yang dialami siswa dengan mengambil hikmahnya dari kejadian itu. Serta membiasakan hal-hal yang baik dan memberikan contoh kepada para siswa misalnya mengucap salam ketika akan masuk keruang kelas ataupun keruang guru. Dengan memberikan contoh yang baik dalam berpakian kemudian dengan cara membiasakan sisswa untuk aktif bertanya terhadap materi yang belum dipahami sehingga siswa mempunyai sikap yang baik dalam belajar di kelas
dengan percaya diri”. (Wawancara,NR.09/05/2017).
2. Problematika Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Agama Islam.
Dari hasil observasi dan wawancara yang telah di lakukan masih ada beberapa hambatan dalam implementasi yaitu masih kurangnya motivasi pada diri peserta didik dalam mengikuti pembelajaran yang ada di madrasah serta kurangnya dorongan motivasi dari orang tua. Keduanya merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran pembentukan karakter yang baik.
Menurut kepala Madrasah MF hambatan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan karakter adalah:
“Hambatan yang kami hadapi adalah kurang intensnya
kami memberikan pengarahan dan keteladanan serta pembiasaan yang masih ada kelemahan sehingga para anak didik masih mudah terpengaruh pergaulan dari
luar Madrasah”. (Wawancara,MF.22/05/2017).
MN mengatakan bahwa ada perlu adanya solusi untuk menangapi permasalahan tersebut:
bahan laporan ke pada orangtua wali murid”.
(Wawancara,MF.22/05/2017).
Tadak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh HW tentang hambatan yang di hadapi di Madrasah:
“Motivasi anak dalam belajar masih kurang baik, baik
dari luar maupun dari dalam. Sehingga anak didik
terkadang lupa sengan tujian ia belajar di Madrasah”.
(Wawancara,HW.09/05/2017).
Kemudian HW mengemukakan bahwa solusi untuk pembentukan karakter supaya bejalan dengan biak adalah:
“Para guru tidak henti-hentinya untuk selalu berusaha yang terbaik dengan cara mengevaluasi setiap perkembangan yang terjadi dari anak didik kami. Sehingga dapat muncul ide baru yang dapat diterapkan dalam membentuk karakter anak didik menjadi lebih
baik lagi”. Wawancara,HW.09/05/2017).
Apa yang disampaikan oleh NR dari hasil wawancara tidak jauh berbeda dengan pendapatnya:
“Masih sulitnya untuk membiasakan siswa dengan hal-hal yang baik, dan dengan guru yang belum selalu bisa mengawasi siswa secara keseluruhan. Sehingga siswa kurang terkontrol dengan baik ketika sudah tidak ada
“Mengupayakan adanya kontrol yang baik dari
murid sehingga apa yang diupayakan para guru di
Madrasah bisa berjalan dengan baik”.
(Wawancara,NR.09/05/2017).
Dari hasil observasi yang dilakukan masih ada beberapa guru yang masih merokok di lingkungan Madrasah sehingga di lihat oleh para peserta didik. Ditambah dengan ada beberapa guru yang masih terlambat dalam masuk keruang kelas. Di sisi lain dengan adanya pengarahan atau khultum setetah shalat dhuha pada peserta didik diharapkan bisa menumbuhkan motivasi belajar dan beribadah para peserta didik. (Observasi,04/05/2017).
3. Hasil Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Agama Islam.
Hasil Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan agama Islam menurut Bapak MF adalah:
“Hasil penerapan pendidikan karakter yang jelas
terlihat adalah tercapainya kedisiplinan dan terbangunya akhlakul karimah pada peserta didik.tumbuhnya tingkat keagamaan atau cinta
beribadah pada peserta didik”.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh kepala Madrasah MF, hasil dari penerapan pendidikan karakter menurut HW adalah:
“Pendidikan karakter yang diterapkan sudah
membuahkan hasil. dengan anak didik kami masuk ke kelas sudah tepat waktu, shalat dhuha pun ngak harus di opyak-opyak begitu pula dengan shalat dhuhur sehingga kencintaan dalam beribadah sudah tertanam pada anak didik kami”. (Wawancara,HW.09/05/2017).
Sedangkan menurut NR selaku guru PAI hasil dari penerapan pendidikan karakter adalah:
“Dengan diterapkanya pendidikan karakter siswa dapat
meningkat kualitas beribadahnya maupun secara pengetahuan dalam mata pelajaran yang kami sampaikan contoh yang paling mendasar yaitu siswa yang belum bisa mengaji menjadi bisa mengaji dengan adanya pelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an)”. Contoh yang lain adalah anak nurut dengan para guru dan menghormati yang lebih tau. Selain itu siswa sadar akan tugas dan kewajibanya sebagai siswa contohnya adalah ketika piket kebresihan tidak usah di ingatkan siswa sudah dengan sadar menjalankanya, siswa tidak terlambat masuk kelas dan melaksanakan shalat dhuha maupun shalat dhuhur secara berjamaah”. (Wawancara,NR,09/05/2017).
shalat dhuhur para siswa sudah mempersiapkan diri untuk berwudhu untuk segera shalat secara berjamaah (Observasi,04/05/2017)
BAB IV
PEMBAHASAN