• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TOKEN RING. jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TOKEN RING. jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III TOKEN RING 3.1 Token Ring

Token ring adalah sebuah arsitektur jaringan yang menggunakan topologi jaringan cincin (ring) dan sistem token passing untuk mengontrol akses menuju jaringan. Arsitektur jenis ini sangat cocok untuk jaringan yang menangani trafik data yang padat dari banyak user misalnya di lingkungan perkantoran maupun laboratorium.

Tidak seperti metode akses media CSMA/CD, token ring lebih deterministik. Ini berarti setiap node dijamin akan mendapat giliran ntuk mengirimkan paket dalam siklus waktu tertentu. Saat sebuah user ingin mengirimkan data, dia harus menunggu hingga adapter-nya menerima token bebas (bit token=0). Ketika menangkap token bebas tersebut, user menciptakan sebuah frame dengan mengeset bit token menjadi 1, menyisipkan alamat asal dan tujuan, beberapa informasi kontrol, data yang ingin dikirimkan, dan kemudian memulai pengiriman frame. Selama pengiriman frame tidak ada token yang beredar dalam ring sehingga tidak ada user lain yang dapat melakukan pengiriman.

Hal ini mencegah terjadinya tubrukan (Collisions) dalam jaringan. frame yang dikirimkan akan dilewatkan dari satu user ke user lain dalam jaringan hingga tiba pada alamat user yang dituju. User tujuan mengkopi data, mengeset bit-bit pengontrol untuk mengindikasikan bahwa alamatnya dikenali dan sukses mengkopi data, kemudian mengirim ulang frame tersebut. saat frame kembali ke user pengirim karena transmisi telah berhasil, maka frame tersebut dibuang dari jaringan. User pengirim membuat token

(2)

3.2 Arsitektur Jaringan Token Ring

Jaringan Token ring biasanya digunakan untuk lingkungan teknik dan perkantoran. Arsitektur dari jaringan ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1Arsitektur Token Ring

Pada Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa DTE tidak terhubug langsung kejaringan, tetapi melalui sebuah konsentrator yang disebut Trunk Coupling Unit (TCU). TCU terdiri dari relay-relay dan komponen elektronik lainnya yang dibutuhkan untuk mengirim dan menerima sinyal dari maupun menuju kabel.

Gambar 3.2 Trunk Coupling Unit Ada tiga state pada tiap TCU, yaitu :

1. Listen state : selama penerimaan bit, repeater juga melakukan modifikasi pada bit yang diterima dan diteruskan kembali (dibutuhkan 1 bit delay).

TCU

(3)

2. Transmit state : jika stasiun hendak mengirim, maka repeater akan mengirimkannya melalui outgoing link.

3. Bypass state : bit dikuatkan dan langsung diteruskan ke repeater berikutnya. TCU diatur sedemikian rupa sehingga apabila DTE dalam keadaan tidak aktif, TCU akan berada dalam kondisi bypass. Pengaturan ini dilakukan untuk memelihara kelangsungan pengiriman data melalui ring.

3.3 Prinsip Kerja Token Ring

Cara kerja jaringan token ring, sebuah token bebas mengalir dalam jaringan. Jika suatu node ingin mengirimkan paket data, maka paket data yang akan dikirimkan ditempelkan pada token, kemudian token itu membawa paket data ke tujuan. Pada waktu token berisi data, node lain tidak dapat menggunakan token itu sampai token itu menyelesaikan tugasnya mengirimkan data. Bila paket data telah disampaikan ke tujuan, node pengguna tadi melepaskan token untuk dipakai oleh node yang lain. Cara kerja ini

dinamakan token passing scheme.

Metode aksesnya melalui lewatnya sebuah token dalam sebuah lingkaran seperti cincin. Dalam lingkaran token, komputer-komputer dihubungkan satu dengan yang lainnya seperti sebuah cincin. Sebuah sinyal token bergerak berputar dalam sebuah lingkaran (cincin) dalam sebuah jaringan dan bergerak dari sebuah komputer-menuju ke komputer berikutnya, jika pada persinggahan di salah satu komputer ternyata ada data yang ingin ditransmisikan, token akan mengangkutnya ke tempat dimana data itu ingin ditujukan, token bergerak terus untuk saling mengkoneksikan diantara masing-masing komputer Protokol Token Ring membutuhkan model jaringan bintang dengan menggunakan kabel twisted pair atau kabel fiber optik dan dapat melakukan kecepatan transmisi 1Mbps, 4 Mbps atau 16 Mbps. Untuk mengkoneksikan station membutuhkan

(4)

Multistation Access Unit (MAU). Menghubungkan token ring dapat dilakukan dengan type 1,2, 3.

3.4 Jenis-Jenis Token Ring

Terdapat beberapa kondisi ketika sebuah free token baru boleh dibangkitkan. Variasi oleh sistem pembangkitan free token menyebabkan adanya perbedaan teknik dalam pentransmisian data pada jaringan token ring, yaitu Multiple Token Operation, Single Token Operation dan Single Packet Operation. Ketiga jenis token ring diatas akan dijelaskan lebih lanjut pada sub bab berikutnya.

3.4.1 Multiple Token Operation

Pada jaringan token ring multiple token operation, stasiun pengirim membangkitkan free token yang baru dan segera menduduki ring mengikuti bit terakhir dari data terkirim. Sesuai namanya yang Multiple Token, dalam sistem ini dijinkan beberapa busy token dan satu free token pada ring dalam satu waktu. Untuk jumlah token lebih dari satu dalam ring, panjang paket dan latency stasiun harus sinkron sehingga busy token tidak berkembang cukup jauh sampai akhirnya kemudian dihapus oleh stasiun yang mengirimkannya sebelum free token baru kembali dibangkitkan.

3.4.2 Single Token Operation

Berbeda dengan Multiple Token Operation, pada Single Token Operation mengharuskan stasiun pengirim menunggu sampai stasiun itu sendiri menghapus busy tokennya sebelum kembali membangkitkan free token yang baru. Jika sebuah paket lebih panjang daripada ring latency, kiranya stasiun akan menerima dan menghapus busy tokennya sendiri sebelum menyelesaikan transmisi data. Dalam situasi ini, stasiun hanya boleh melanjutkan pengiriman data dan membangkitkan free token yang baru hanya setelah bit terakhir data telah terkirim. Oleh karena itu perbedaan Single Token Operation

(5)

dengan Multiple Token Operation hanya terletak pada ukuran paket yang lebih pendek dibanding ring latency nya.

3.4.3 Single Packet Operation

Pada Single Packet Operation, sebuah stasiun tidak akan membangkitkan sebuah free token baru sampai akhirnya token telah selesai mengitari penuh sebuah ring dan menghapus/mengosongkan semua paket yang ditransmisikannya. Sistem ini menjamin tidak adanya interferensi dalam dua transmisi data. Single Packet Operation lebih baik satu step dibanding Single Token Operation, dimana Single Packet Operation hanya mengijinkan paket penuh termasuk busy token yang harus dihapus/dikosongkan sebelum sebuah free token baru dibangkitkan.

3.5 Format Frame Token Ring

Ada dua format dasar yang digunakan dalam token ring, yang pertama adalah control token dan yang lainnya adalah frame standar untuk mengirimkan data. Control token berfungsi untuk mengedalikan hak kirim masing-masing DTE. Adapun format frame untuk control token maupun frame data menggunakan Manchester encoding. Konversi bit kedalam Manchester encoding data seperti pada Gambar 3.3.

Gam 3.4

Gambar 3.3Manchester Encoding 3.6 Pentransmisian Frame

(6)

Pada saat sebuah DTE ingin mengirimkan data,data tersebut terlebih dahulu disusun ke dalam format frame standar. DTE tersebut harus menunggu sebuah token bebas (token dengan prioritas yang sama atau lebih rendah), kmudian mengubah status token dari bebas menjadi sibuk dan mulai meyisipkan data. Pada saat frame memutari ring, tiap DTE membaca alamat tujuan yang ada pada frame tersebut. Apabila alamat tujuan tidak cocok, DTE tersebut akan mengabaikan frame yang datang melewatkannya ke DTE berikutnya hingga frame tersebut tiba pada DTE dengan alamat yang sesuai. Setelah data berhasil diterima, DTE tujuan mengirim kembali frame tersebut ke DTE yang mengirimkannya untuk diabsorbsi (dibuang dari ring).

3.7 Ring Management

Mekanisme operasi jaringan ring adalah mekanisme yang membutuhkan keadaan steady state. Jika sebuah DTE baru ingin bergabung dalam jaringan yang sedang beroperasi, DTE tersebut harus menjalani prosedur inisialisasi untuk memastikan operasi yang benar dari ring yang sedang aktif tidak terganggu. Saat sedang beroperasi setiap DTE yang aktif harus memantau kinerja ring, apabila ring tidak bekerja dengan benar dan memberikan hak yang adil pada setiap DTE. Fungsi untuk menjaga kinerja yang benar dari ring disebut Ring Management.

Terdapat dua tipe DTE yang berada dalam ring, Active Monitor (AM) station, and Standby Monitor (SBM) stations. Hanya ada satu Active Monitor station per ring. Active Monitor station ini berfungsi sebagai ring manager, dan stasiun-stasiun lainnya berfungsi sebagai Standby Monitor Stations. DTE manapun dalam ring dapat menjadi Active Monitor. Active Monitor Stations dipilih dalam proses yang disebut “Claim Token Process”setelah Active Monitor dipilih,stasiun-stasiun lainnya menjadi ”Standby Monitors”(SBM).

(7)

1. Menjaga “Master Clock” untuk memastikan delay ring yang tepat (24 bit delay dalam sebuah ring).

2. Membangkitkan “Neighbor Notification” setiap tujuh detik untuk memantau token dan pentransmisian frame.

3. Mendeteksi token dan frame yang hilang dengan mengatur bit monitor 4. Membersihkan ring.

Standby Monitor bertugas :

1. Mendeteksi kegagalan Active Monitor.

2. Memulai proses “Monitor Contention” untuk ikut dalam proses “Neighbor Notification”.

3.8 Definisi Throughput dan Delay

Throughput dalam LAN adalah rata-rata pengiriman paket sukses dalam satu satuan waktu. Dengan menganalisa besarnya throughput jaringan terhadap berbagai variasi kedatangan dapat membantu kita menentukan apakah jaringan tersebut dapat diandalkan.

Untuk menganalisa throughput, sering dinyatakan dalam persamaan

0 < S < 1 (4.1) Dimana λ = rata-rata kecepatan kedatangan paket (paket/detik)

X = panjang paket (bit) R = bit rate (bit/detik)

Parameter lain yang yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kinerja suatu jaringan adalah besarnya delay dalam jaringan tersebut. Delay adalah waktu yang dihabiskan oleh satu paket mulai dari pertama kali paket tersebut dibangkitkan hingga

(8)

diterima dengan sukses di tujuan. Delay yang dialami oleh masing-masing pengiriman paket terdiri atas beberapa komponen, yaitu :

1. waktu yang dibutuhkan paket tersebut untuk berjalan dari DTE ke interface jaringan.

2. waktu yang dihabiskan paket tersebut dalam buffer saat menunggu giliran pengiriman.

3. waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan paket tersebut dalam jaringan.

4. waktu yang dihabiskan paket tersebut dalam buffer penerima.

5. waktu yang dibutuhkan paket untuk berjalan dari interface jarngan ke DTE penerima.

Pengukuran delay dalam jaringan sangat penting untuk menentukan apakah jarigan tersebut layak dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hal ini disebabkan karena sering kali informasi yang dikirim dalam paket hanya valid dalam selang waktu tertentu, sehingga besarnya delay sangat penting untuk dipertimbangkan.

3.8.1 Analisis Throughput Multiple Token Operation

Throughput dalam LAN adalah rata-rata pengiriman paket sukses dalam satu satuan waktu. Dengan menganalisis besarnya throughput jaringan terhadap berbagai variasi kedatangan dapat membantu kita menentukan apakah jaringan tersebut dapat diandalkan.

Untuk menganalisa throughput, sering dinyatakan dalam persamaan

S =

0 < S < 1

(4.2)

Dimana λ = Rata-rata kecepatan kedatangan paket (paket/detik) M = Jumlah DTE

X = Panjang paket (bit) R = Bit rate (bit/detik)

(9)

Jika jaringan tidak digunakan pada kecepatan maksimumnya, throughput ternormalisasi akan menurun hingga harga efektifnya. Throughput efektif (S’)

Dapat dihitung dengan persamaan.

S’ = (4.3)

Dimana R’ adalah bit rate terendah dari jaringan (bit/detik)

3.8.2 Analisis Delay Multiple Token Operation

Model Multiple Token Operation diasumsikan bahwa free token yang baru, dibangkitkan sesegera mungkin setelah bit terakhir dari paket meninggalkan stasiun pengirim. Lalu stasiun pengirim mengisyaratkan ke stasiun yang lain bahwa kanal sibuk (busy) kecuali untuk interval waktu sebesar . Sehingga rata-rata waktu layanan efektif sebesar ̅, dan delay rata-rata untuk Multiple Token Operation dapat dituliskan : ̅ ( ) ( ) ̅̅̅̅ ̅ ( ) (4.4) Dimana D = Delay ̅

= Rata-rata waktu pengiriman paket

= Ring Latency

= Delay ternormalisasi

= Throughput

(10)

3.9 Model Sistem

Gambar dari model sistem jaringan untuk simulasi yang akan dibahas dalam tugas akhir ini dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 4.1Model jaringan untuk simulasi

M

1

2

3

(11)

3.10 Flowchart Penelitian Kinerja Multiple Token

Adapun flowchart penelitian kinerja Multiple token digambarkan pada Gambar 3.5 sehingga mempermudah melihat program perhitungan yang dijalankan.

Mulai Model Masukkan Data Analisis Hasil

(12)

Gambar 3.5 Flowchart Penelitian

BAB IV

ANALISIS KINERJA

MULTIPLE TOKEN OPERATION

4.1 Umum

Pada bab ini di analisis kinerja

Local Area Network

(LAN) metode akses

Multiple Token Ring

. Adapun kinerja yang akan diuji adalah

delay

dan

throughput

, dengan memvariasikan parameter jumlah terminal dan

bit latency

.

Dari perhitungan ada beberapa parameter yang diaplikasikan baik dari jumlah

stasiun dan

bit latency

yaitu M =10: 20: 400, λ= 10 packet/s, R = 4.

, Ẋ= 1000

bit

Pengujian yang dibuat dilakukan dengan cara menjalankan program

komputer tersebut dengan berbagai perubahan variabel

input

dan dianalisa hasil

keluarannya. Data input sebagai nilai variabel dari program simulasi ini adalah

data masukan yang berupa jumlah terminal dan

bit latency

.

Metode simulasi yang digunakan adalah simulasi kejadian diskrit, dimana

pemodelan sistem memfokuskan terhadap adanya perubahan variabel keadaan

sistem secara seketika dalam titik-titik waktu tertentu. Pencatatan terhadap

perubahan variabel keadaan sistem yang diperlukan dilakukan setiap adanya suatu

(13)

kejadian. Dalam proses simulasi ini, kejadian yang berlangsung adalah

kedatangan paket data di terminal. Sedangkan variabel keadaan sistem yang

dicatat adalah waktu berlangsungnya seluruh proses simulasi.

Tabel 4.1

Parameter perhitungan

throughput

protokol akses acak

Parameter

Deskripsi

a

(

Delay

propagasi)

Divariasikan (0,01) sampai (1,0)

G

(Attempt rate)

Divariasikan (

) sampai (

)

4.2 Flowchart Perhitungan

Kinerja Multiple Token

Adapun

flowchart

perhitungan kinerja

multiple token

digambarkan pada

Gambar 4.2 sehingga mempermudah melihat program yang dijalankan.

mulai Inisialisasi Monitor Inisialisasi data-data paket Inisialisasi Token Masukkan M

(14)

Gambar 4.1

Flowchart

perhitungan

4.3 Analisis kinerja

Throughput

terhadap jumlah stasiun

Dengan M sebagai jumlah stasiun, λ adalah jumlah

packet/second

dan

adalah jumlah bit/second, maka diperoleh nilai

throughput

: S=M.λ.

.

Gambar 4.2

memperlihatkan grafik hubungan kinerja

throughput

terhadap jumlah stasiun.

maka :

S=M.λ.

(4.1)

selesai Tampil hasil (tabel dan grafik)

(15)

Gambar 4.2 Hasil perhitungan

throughput

terhadap jumlah stasiun

Tabel 4.2 menampilkan trafik jumlah stasiun terhadap

throughput

dan

menghasilkan besaran

delay.

Tabel 4.2 Hasil perhitungan

Throughput

terhadap jumlah stasiun

0 50 100 150 200 250 300 350 400 10-2 10-1 100 jumlah station T h ro u g h p u t

Throughput vs jumlah station

M

S

10

0.0250

30

0.0750

50

0.1250

(16)

Pada grafik dan tabel yang tertera dapat disimpulkan bahwa semakin

banyak jumlah stasiun yang dihitung akan semakin besar pula jumlah

throughput

yang terjadi.

4.4 Analisis jumlah stasiun terhadap

delay

Dari Gambar 4.2 didapat dilihat perbedaan

delay

yang dihasilkan dengan

memvariasikan jumlah station dan

bit latency

yang menjadi acuan pembanding.

Dengan rumus perhitungan dapat kita lihat

τ’= 1+

+

( ) ( )

+

(4.2)

110

0.2750

130

0.3250

150

0.3750

170

0.4250

190

0.4750

210

0.5250

230

0.5750

250

0.6250

270

0.6750

290

0.7250

310

0.7750

330

0.8250

350

0.8750

370

0.9250

390

0.9750

(17)

Dimana ɑʹ didapat dari rumus

ɑʹ = τ’

(4.3)

Gambar 4.3 Hasil perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Jumlah Stasiun terhadap

Delay

Tabel 4.3 menampilkan trafik perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

dengan menvariasikan

bit latency

.

M

Bit latency

1

5

10

15

20

10

1.0560

1.0964

1.1470

1.1976

1.2482

30

1.1330

1.2577

1.4136

1.5695

1.7254

0 50 100 150 200 250 300 350 400 100 101 102 103 M D e la y delay vs jlh station bitLatency = 1 bitLatency = 5 bitLatency = 10 bitLatency = 15 bitLatency = 20

(18)

70

1.3115

1.6208

2.0074

2.3940

2.7806

90

1.4161

1.8278

2.3424

3.8570

3.3716

110

1.5337

2.0564

2.7098

3.3632

4.0165

130

1.6673

2.3115

3.1168

3.9221

4.7274

150

1.8207

2.5995

3.5730

4.5465

5.5200

170

1.9989

3.9288

4.0910

5.2533

6.4156

190

2.2093

3.3113

4.6888

7.0663

7.4438

210

2.4618

3.7638

5.3913

7.0188

8.6463

230

2.7713

4.3110

6.2355

8.160

10.0846

250

3.1608

4.9908

7.2783

9.5658

11.8533

270

3.6670

5.8643

8.6111

11.3578

14.1045

290

4.3536

7.0374

10.3922

13.7470

17.1017

210

5.3409

8.7096

12.9204

17.1313

21.3421

330

6.8868

11.3088

16.8363

22.3638

27.8913

350

9.6613

15.9473

23.8048

31.6623

39.5198

370 16.1218 26.7038

39.9313

53.1588

66.3863

390 48.3845 80.2865 120.1640 160.0415 199.9190

4.3 analisis tabel perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

Dari tabel diatas terlihat pada M= 10 dengan

bit latency

20 dihasilkan

delay

sebesar 1.24 detik.apalabila parameter kita ubah lagi M = 390 dengan

bit

latency

20 maka

delay

yang dihasilkan 199.9 detik.

4.5 Analisis perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

ternormalisasi

Dari Gambar 4.3 dibawah menunjukkan perrbedaan

delay ternormalisasi

yang di hasilkan dengan memvariasikan jumlah stasiun dan

bit latency

yang

menjadi acuan pembanding untuk melihat seberapa besar

delay ternormalisasi

yang terjadi apabila parameter yang saya sarankan diubah-ubah.

Dengan rumus delay

ternormalisasi

dapat kita lihat

(19)

ɑʹ =τ’.

(4.4)

Gambar 4.4 Hasil perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

ternormalisasi

Tabel 4.4 Analisis hasil perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

ternormalisasi

Tabel 4.4 menampilkan trafik perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

ternormalisasi.

M

Delay ternormalisasi

1

5

10

15

20

0 50 100 150 200 250 300 350 400 10-2 10-1 100 101 jlh station D e la y N o rm a lis a s i

delay normalisasi vs bitLatency

bitLatency = 1 bitLatency = 5 bitLatency = 10 bitLatency = 15 bitLatency = 20

(20)

30

0.0500

0.1700

0.3200

0.4700

0.6200

50

0.0700

0.2700

0.5200

0.7700

1.0200

70

0.0900

0.3700

0.7200

1.0700

1.4200

90

0.1100

0.4700

0.9200

1.3700

1.8200

110

0.1300

0.5700

1.1200

1.6700

2.2200

130

0.100

0.6700

1.3200

1.9700

2.6200

150

0.1700

0.7700

1.5200

2.2700

3.0200

170

0.1900

0.8700

1.7200

2.5700

3.4200

190

0.2100

0.9700

1.9200

2.8700

3.8200

210

0.2300

1.0700

2.1200

3.1700

4.2200

230

0.2500

1.1700

2.3200

3.4700

4.6200

250

0.2700

1.2700

2.5200

4.7700

5.0200

270

0.2900

1.3700

2.7200

4.0700

5.4200

290

0.3100

1.4700

2.9200

4.3700

5.8200

310

0.3300

1.5700

3.1200

4.6700

6.2200

330

0.3500

1.6700

3.3200

4.9700

6.6200

350

0.3700

1.8700

3.5200

5.2700

7.0200

370

0.3900

1.8700

3.7200

5.5700

7.4200

390

0.4100

1.9700

3.9200

5.8700

7.8200

4.4 Tabel hasil perhitungan jumlah stasiun terhadap

delay

ternormalisasi

Dari tabel 4.4 terlihat pada M= 10 dengan

bit latency

20 dihasilkan

delay

sebesar 0.220 detik. apalabila parameter diubah lagi M= 390 dengan

bit latency

20 maka

delay

yang dihasilkan 7.82 detik

(21)

Gambar 4.5 Grafik analisis

throughput

terhadap

transfer delay

4.5 Tabel hasil perhitungan

throughput

terhadap

transfer delay

Tabel 4.5 menampilkan trafik perhitungan

throughput

terhadap

transfer

delay

sehingga menghasilkan

delay

.

S

Bit Latency

1

5

10

15

20

0.0250

1.0560

1.0964

1.1470

1.1976

1.2482

0.0750

1.1330

1.2577

1.4136

1.5695

1.7254

0.1250

1.2178

1.4318

1.6993

1.9668

2.2343

0.1750

1.3115

1.6208

2.0074

2.3940

2.7806

0.2250

1.4161

1.8278

2.3424

2.8570

3.3716

0.2750

1.5337

2.0564

2.7098

3.3632

4.0165

0.3250

1.6673

2.3115

3.1168

3.9221

4.7274

0.3750

1.8207

2.5995

3.5730

4.5465

5.5200

0.4250

1.9989

3.9288

4.0910

5.2533

6.4156

0.4750

2.2093

3.3113

4.6888

6.0663

7.4438

0.5250

2.4618

3.7638

5.3913

7.0188

8.6463

10-2 10-1 100 100 101 102 103 throughput m e a n t ra n s fe r d e la y

mean transfer delay vs throughput

bitLatency = 1 bitLatency = 5 bitLatency = 10 bitLatency = 15 bitLatency = 20

(22)

S

1

5

10

15

20

0.5750

2.7713

4.3110

6.2355

8.1601

10.0846

0.6250

3.1608

4.9908

7.2783

9.5658

11.8533

0.6750

3.6670

5.8643

8.6111

11.3578

14.1045

0.7250

4.3536

7.0374

10.3922

13.7470

17.1017

0.7750

5.3409

8.7096

12.9204

17.1313

21.3421

0.8250

6.8868

11.3088

16.8363

22.3638

27.8913

0.8750

9.6613

15.9473

23.8048

31.6623

39.5198

0.9250

16.1218

26.7038

39.9313

53.1588

66.3863

0.9750

48.3845

80.2865

120.1640

160.0415

199.9190

4.5 Tabel analisis

throughput

terhadap

transfer delay

Dari tabel diatas terlihat pada S = 0.0250 dengan

bit latency

20 dihasilkan

transfer delay

sebesar 1.2482 detik. Apalabila parameter diubah lagi S= 0.9750

dengan

bit latency

20 maka

delay

yang dihasilkan 199.9190 detik.

4.7 Analisis Hasil Simulasi

Program simulasi token

ring

ini dirancang untuk mensimulasikan kinerja

jaringan token

ring

dengan menvariasikan

bit latency

dan jumlah terminal,

sehingga menghasilkan keluaran angka dan grafik yang akan dianalisis. Dari hasil

simulasi tersebut dilihat bahwa perubahan dan penambahana

bit latency

dan

jumlah terminal akan mempengaruhi

throughput

dan

delay

jaringan. Semakin

besar

bit latency

dan semakin banyak jumlah terminal yang tersambung maka

througput

dan

delay

juga meningkat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan

Setelah melakukan perhitungan dan analisis kinerja protokol multiple token operation, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

(23)

1. Untuk perbandingan throughput terhadap jumlah station pada M = 10 menghasilkan throughput sebesar 0.0250 detik dan pada M = 390 throughput yang dihaslkan sebesar 0.9750 detik.

2. Untuk perbandingan jumlah station terhadap delay dengan menvariasikan bit latency. Pada M = 10 dengan bit latency 20 maka delay delay yang di peroleh sebesar 1.2482 detik bila kita bandingkan pada M = 390 maka delay yang diperoleh dengan bit latency yang sama sebesar 199.9190 detik.

3. Untuk perbandingan jumlah station terhadap delay ternormalisasi dengan menvariasikan bit latency maka pada M = 10 dan bit latency 20 delay ternormalisaasi yang di hasilkan sebesar 0.2200 detik bila bandingkan dengan M = 390 maka delay ternormalisaasi yang dihasilkan sebesar 7.8200 detik.

4. Untuk perbandingan throughput terhadap delay transfer dengan menvariasikan bit latency maka dapat kita lihat bila throughput sebesar 0.0250 dengan bit latency sebesar 20 maka transfer delay yang diterima sebesar 1.2482 detik jika kita berikan throughput sebesar 0.9750 maka delay treansfer yang diperoleh sebesar 199.9190 detik.

5. Token ring menghasilkan kinerja terbaik untuk trafik yang padat dan jumlah user yang besar.

6. Hasil simulasi dilakukan untuk mewakili sistem yang sebenarnya, karena data yang dihasilkan sesuai dengan teori yang ada.

5. 2 Saran

Setelah pengerjaan Tugas Akhir ini, penulis menyampaikan beberapa saran dibawah ini. 1. Sebaiknya dikemudian hari dilakukan analisis kinerja protokol multiple token

operation dengan parameter analisis yang berbeda.

Gambar

Gambar 3.1 Arsitektur Token Ring
Gambar  dari  model  sistem  jaringan  untuk  simulasi  yang  akan  dibahas  dalam  tugas akhir ini dapat dilihat pada Gambar 3.4
Tabel 4.1  Parameter perhitungan throughput protokol akses acak  Parameter  Deskripsi
Gambar 4.1 Flowchart perhitungan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkah hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa socio- science text kimia berdasarkan penilaian oleh teman sejawat, ahli materi, ahli

Faktor lainnya yang juga mempengaruhi perubahan fungsi kawasan sepanjang koridor Jalan Wolter Monginsidi Kota Manado adalah faktor ekonomi, faktor daya dukung lahan,

 Kevin menjelaskan perseroan menilai bisnis pengangkutan batu bara pun cukup potensial, apalagi didukung dengan kebijakan pemerintah untuk menggunakan kapal nasional dalam

Dari hasil perhitungan diperoleh size dan profitability berpengaruh tidak signifikan dan positif terhadap struktur modal pada perusahaan chemical di Bursa Efek

Dalam metode ini digunakan peralatan dua tungku terprogram yaitu tungku satu zone terprogram untuk menumbuhkan polikristal dan dua zone (zone hot dan zone cold)

Pada komoditas yang memberikan andil deflasi pada laju inflasi April 2017, terutama disumbangkan pula oleh kelompok bahan makanan terutama sub kelompok bumbu- bumbuan pada

Operasi I/O: pengguna tidak dapat secara langsung mengakses sumber daya perangkat keras, sistem operasi harus menyediakan mekanisme untuk melakukan operasi I/O atas nama

Keuntungan penggunaan pada material karbon yaitu perbandingan kekuatan tarik terhadap berat yang tinggi, perbandingan modulus tarik terhadap berat yang tinggi,