BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Kebakaran
Sejak dahulu api merupakan kebutuhan hidup manusia, dari hal kecil hingga hal besar. Sebagai salah satu contoh, api digunakan untuk memasak atau untuk pemakaian skala besar dalam industri dalam peleburan logam. Tetapi sudah tidak dapat dikendalikan lagi, api menjadi musuh manusia yang merupakan malapetaka dan dapat menimbulkan kerugian baik materi maupun jiwa manusia. Hal tersebut yang biasa disebut kebakaran.
2.2. Proses Kebakaran
Kebakaran berawal dari proses reaksi oksidasi antara unsur Oksigen (O2), Panas dan Material yang mudah terbakar (bahan bakar). Keseimbangan unsur–unsur tersebutlah yang menyebabkan kebakaran. Berikut ini adalah definisi singkat mengenai unsur–unsur tersebut:
2.2.1. Oksigen
Oksigen atau gas O2 yang terdapat di udara bebas adalah unsur penting dalam pembakaran. Jumlah oksigen sangat menentukan kadar atau keaktifan pembakaran suatu benda. Kadar oksigen yang kurang dari 12% tidak akan menimbulkan pembakaran.
2.2.2. Panas
Panas menyebabkan suatu bahan mengalami perubahan suhu/temperatur, sehingga akhirnya mencapai titik nyala dan menjadi terbakar. Sumber–sumber panas tersebut dapat berupa sinar matahari, listrik, pusat energi mekanik, pusat reaksi kimia dan sebagainya.
2.2.3. Bahan Yang Mudah Terbakar (Bahan Bakar)
Bahan tersebut memiliki titik nyala rendah yang merupakan temperatur terendah suatu bahan untuk dapat berubah menjadi uap dan akan menyala bila tersentuh api. Bahan makin mudah terbakar bila memiliki titik nyala yang makin rendah. Dari ketiga unsur – unsur di atas dapat digambarkan pada segitiga api.
Gambar 2. 1 Segitiga Api
Sumber : Teori Dasar Penanggulangan Bahaya Kebakaran, 2006, Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta
Proses kebakaran berlangsung melalui beberapa tahapan, yang masing–masing tahapan terjadi peningkatan suhu, yaitu perkembangan dari suatu rendah kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya dan pada akhirnya berangsur–angsur menurun sampai saat bahan yang terbakar tersebut habis dan api menjadi mati atau padam. Pada umumnya kebakaran melalui dua tahapan, yaitu :
a. Tahap Pertumbuhan (Growth Period) b. Tahap Pembakaran (Steady Combustion)
Tahap tersebut dapat dilihat pada kurva suhu api di bawah ini.
Gambar 2.2 Kurva Suhu Api
Sumber : Teori Dasar Penanggulangan Bahaya Kebakaran, 2006, Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta
Pada suatu peristiwa kebakaran, terjadi perjalanan yang arahnya dipengaruhi oleh lidah api dan materi yang menjalarkan panas. Sifat penjalarannya biasanya ke arah vertikal
sampai batas tertentu yang tidak memungkinkan lagi penjalarannya, maka akan menjalar ke arah horizontal. Karena sifat itu, maka kebakaran pada gedung–gedung bertingkat tinggi, api menjalar ke tingkat yang lebih tinggi dari asal api tersebut.
Saat yang paling mudah dalam memadamkan api adalah pada tahap pertumbuhan. Bila sudah mencapai tahap pembakaran, api akan sulit dipadamkan atau dikendalikan.
Tabel 2.1 Laju Pertumbuhan Kebakaran
Klasifikasi Pertumbuhan Waktu Pertumbuhan / Growth Time
(detik)
Tumbuh Lambat (Slow Growth) > 300
Tumbuh Sedang (Moderate Growth) 150 – 300
Tumbuh Cepat (Fast Growth) 80 – 150
Tumbuh Sangat Cepat (Very Fast Growth) < 80
Sumber : Teori Dasar Penanggulangan Bahaya Kebakaran, 2006, Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta
2.3. Klasifikasi Kebakaran
Klasifikasi Kebakaran, Material dan Media Pemadam Kebakaran di Indonesia dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Tabel 2.2 Klasifikasi Kebakaran dan Media Pemadam
Resiko Jenis Kebakaran Media Pemadam
Class A Kebakaran benda padat mudah
terbakar bukan logam, missal : kayu, kertas, kain dsb.
Dry Chemical Multiporse dan ABC soda acid
Class B Kebakaran benda cair mudah
menyala dan lemak masak, seperti : bensin, minyak tanah, varnish
Dry Chemical Foam (serbuk bubuk). BCF (Bromoclorodiflour Methane).
CO2 dan gas Hallon
Class C Kebakaran yang melibatkan
peralatan bertenaga listrik
Dry Chemical, CO2, gas Hallon dan BCF
Class D Kebakaran yang melibatkan logam
mudah terbakar, seperti : magnesium dan titanium
Metal x, metal guard, dry sand dan bubuk pryme
Dari keempat jenis kebakaran tersebut yang jarang ditemui adalah kelas D, biasanya untuk kelas A, B dan C alat pemadamnya dapat digunakan dalam satu tabung/alat, kecuali bila diperlukan jenis khusus.
2.4. Penyebab Kebakaran
Berdasarkan pengamatan, pengalaman, penyidikan dan analisa dari setiap kebakaran dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kebakaran adalah karena manusia, penyalaan sendiri, dan gerakan alam.
1. Manusia, kesalahan manusia dapat berupa kurang hati–hati dalam menggunakan alat yang dapat menimbulkan api, kelalaian atau kurangnya pengertian tentang bahaya. kebakaran. Sebagai salah contoh misalnya menyimpan bahan bakar di dekat sumber panas, membiarkan anak-anak di bawah umur bermain api, dll. 2. Alat, disebabkan karena kualitas alat yang rendah, cara penggunaan yang salah,
pemasangan instalasi yang kurang memenuhi syarat. Sebagai contoh : pemakaian daya listrik yang berlebihan yang mengakibatkan beban berlebih pada pengaman arus dan instalasi listrik, sehingga terjadi panas dan menyebabkan terbakarnya kabel listrik.
3. Alam, sebagai contoh adalah panasnya matahari yang amat kuat dan terus menerus memancarkan panasnya sehingga dapat menimbulkan kebakaran.
4. Penyalaan sendiri, sebagai contoh adalah kebakaran gudang kimia akibat reaksi kimia yang disebabkan oleh kebocoran atau hubungan pendek listrik.
5. Kebakaran disengaja, seperti huru–hara, sabotase dan untuk mendapatkan asuransi ganti rugi.
Penggolongan penyebab kebakaran dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2.3 Penyebab Kebakaran
Alam Kemajuan Teknologi Perkembangan Penduduk
Matahari Gempa Bumi Petir Gunung Merapi Listrik Biologis Kimia Ulah Manusia : - Sengaja - Tidak sengaja - Awam (ketidakpahaman)
Penyebab kebakaran dapat dilihat secara mendalam dari beberapa faktor berikut di bawah ini :
1. Faktor Non Fisik
• Lemahnya peraturan perundang–undangan yang ada, serta kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaannya (Perda No. 3 Tahun 1992).
• Adanya kepentingan yang berbeda antar berbagai instansi yang berkaitan dengan usaha–usaha pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.
• Kondisi masyarakat yang kurang mematuhi peraturan perundang–undangan yang berlaku sebagai usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran.
• Lemahnya usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan yang dikaitkan dengan faktor ekonomi, dimana pemilik bangunan terlalu mengejar keuntungan dengan cara melanggar peraturan yang berlaku.
• Dana yang cukup besar untuk menanggulangi bahaya kebakaran pada bangunan terutama bangunan tinggi.
2. Faktor Fisik
• Keterbatasan jumlah personil dan unit pemadam kebakaran serta peralatan. • Kondisi gedung, terutama gedung tinggi yang tidak teratur.
• Kondisi lalu lintas yang tidak menunjang pelayanan penanggulangan bahaya kebakaran.
2.5. Pola Meluasnya Kebakaran
Dari segi cara api meluas dan menyala, yang menentukan ialah meluasnya kebakaran. Bedanya antara kebakaran besar dan kebakaran kecil sebetulnya hanya terletak pada cara meluasnya api tersebut.
Perhitungan secara kuantitatif tentang cara meluasnya kebakaran sukar untuk ditentukan. Tetapi berdasarkan penyelidikan–penyelidikan, kiranya dapat diperkirakan pola cara meluasnya kebakaran itu sebagai berikut :
1. Konveksi (Convection) atau perpindahan panas karena pengaruh aliran, disebabkan karena molekul tinggi mengalir ke tempat yang bertemperatur lebih rendah dan menyerahkan panasnya pada molekul yang bertemperatur lebih rendah. Panas dan gas akan bergerak dengan cepat ke atas (langit–langit atau bagian dinding sebelah atas
yang menambah terjadinya sumber nyala yang baru). Panas dan gas akan bergerak dengan cepat melalui dan mencari lubang–lubang vertikal seperti cerobong, pipa– pipa, ruang tangga lubang lift, dsb. Bila jalan arah vertikal terkekang, api akan menjalar kearah horizontal melalui ruang bebas, ruang langit–langit, saluran pipa atau lubang–lubang lain di dinding. Udara panas yang mengembang, dapat mengakibatkan tekanan kepada pintu, jendela atau bahan–bahan yang kurang kuat dan mencari lubang lainnya untuk ditembus.
Gambar 2.3 Penjalaran Kebakaran secara Konveksi
Sumber : Teori Dasar Penanggulangan Bahaya Kebakaran, 2006, Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta
2. Konduksi (Conduction) atau perpindahan panas karena pengaruh sentuhan langsung dari bagian temperatur tinggi ke temperatur rendah di dalam suatu medium.Panas akan disalurkan melalui pipa – pipa besi, saluran atau melalui unsur kontruksi lainnya diseluruh bangunan. Karena sifatnya meluas, maka perluasan tersebut dapat mengakibatkan keretakan di dalam kontruksi yang akan memberikan peluang baru untuk penjalaran kebakaran.
Gambar 2.4 Penjalaran Kebakaran secara Konduksi
3. Radiasi (Radiation) atau perpindahan panas yang bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah bila benda dipisahkan dalam ruang karena pancaran sinar dan gelombang elektromagnetik. Permukaan suatu bangunan tidak mustahil terbuat dari bahan–bahan bangunan yang bila terkena panas akan menimbulkan api. Karena udara itu mengembang ke atas, maka langit – langit dan dinding bagian atas akan terkena panas terlebih dahulu dan paling kritis. Bahan bangunan yang digunakan untuk itu sebaiknya ialah yang angka peningkatan perluasan apinya (flame-spread ratings) rendah. Nyala mendadak (flash-over) yang disebabkan oleh permukaan dan sifat bahan bangunan yang sangat mudah termakan api, adalah gejala yang umum di dalam suatu kebakaran. Kalau suhu meningkat sampai ± 4250 C atau gas–gas yang sudah kehausan zat asam tiba–tiba dapat tambahan zat asam, maka akan menjadi nyala api yang mendadak, dan membesarnya bukan saja secara setempat tetapi meliputi beberapa tempat. Sama halnya dengan cerobong sebagai penyalur ke luar dari gas–gas panas yang mengakibatkan adanya bagian kosong udara di dalam ruangan (yang berarti pula menarik zat asam), semua bagian–bagian yang sempit atau lorong–lorong vertikal di dalam bangunan bersifat sebagai cerobong, dan dapat memperbesar nyala api, terutama kalau ada kesempatan zat asam membantu pula perluasan api tersebut.
Gambar 2.5 Penjalaran Kebakaran secara Radiasi
Sumber : Teori Dasar Penanggulangan Bahaya Kebakaran, 2006, Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta
2.6. Penanggulangan Kebakaran
Karena kebakaran adalah suatu malapetaka, maka perlu diperhatikan penanggulangannya, yaitu segala upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan dan memadamkan api serta memperkecil kerugian akibat kebakaran. Penanggulangan dapat dilakukan sebelum, pada saat dan sudah terjadi kebakaran. Usaha yang dilakukan yaitu :
2.6.1. Usaha Pencegahan
Pencegahan dalam hal ini adalah suatu usaha secara bersama untuk menghindari kebakaran dalam arti meniadakan kemungkinan terjadinya kebakaran. Usaha ini pada mulanya dilakukan oleh pihak yang berwenang dan menuntut peran serta dari masyarakat. Sedangkan usaha – usaha yang dilakukan Pemerintah adalah :
a. Mengadakan dan menjalankan undang–undang/peraturan daerah seperti :
• Undang–undang gangguan yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat tinggal atau tempat mendirikan bangunan.
• Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 02/KPTS/1985 tentang ketentuan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran pada gedung bertingkat. • Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 3 tahun 1992 tentang ketentuan
penanggulangan bahaya kebakaran dalam wilayah DKI Jakarta. • SNI 03-6382-2000, Spesifikasi Hidran Kebakaran Tabung Basah.
• SNI 02-3989-2000, Tata Cara Perancangan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Slang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung.
• Standard National Fire Protection Association (NFPA) 14 tahun 1994 tentang
“Installation of Stand Pipes and Hose System”.
• Standard National Fire Protection Association (NFPA) 20 tahun 1994 tentang
“Centrifugal Fire Pumps”.
b. Mengadakan perbaikan kampung yang meliputi sarana – sarana fisik berupa pembuatan jaringan jalan dan sarana sanitasi, serta meningkatkan kesejahteraan social penduduk.
c. Mengadakan penyuluhan kepada masyarakat yang berkaitan dengan masalah kebakaran, perlu ditekankan bahwa undang – undang / peraturan daerah yang ada serta penyuluhan – penyuluhan yang diadakan sama sekali tidak berguna, bila tidak dijalankan dengan baik.
2.6.2. Cara Pemadaman
Dari pengertian tentang penyebab kebakaran maka dapat ditemukan sistem pemadaman api, yaitu :
a. Cara penguraian adalah system pemadaman dengan cara memisahkan / menjauhkan benda – benda yang dapat terbakar. Contohnya, bila terjadi kebakaran dalam gudang tekstil, yang terdekat dengan sumber api harus segera dibongkar / dimatikan.
b. Cara pendinginan adalah sistem pemadaman dengan cara menurunkan panas. Contoh, penyemprotan air (bahan pokok pemadam) pada benda yang terbakar. c. Cara isolasi adalah sistem pemadaman dengan cara mengurangi kadar O2 pada
lokasi sekitar benda – benda terbakar. Sistem ini juga disebut dengan sistem lokalisasi, yaitu dengan membatasi / menutupi benda – benda yang terbakar agar tidak bereaksi dengan O2, contohnya :
• Menutup benda – benda yang terbakar dengan karung yang dibasahi air, misalnya kebakaran bermula dari kompor .
• Menimbun benda – benda yang terbakar dengan pasir atau tanah. • Menyemprotkan bahan kimia yaitu dengan alat pemadam jenis CO2. 2.7. Instalasi Pemadam Kebakaran
Pada instalasi ini sistem dapat dibagi menjadi beberapa sub-sistem, yaitu :
2.7.1. Sprinkler System
Sistem ini merupakan suatu sistem pencegahan pertama yang sangat baik pada pemakaiannya dilengkapi dengan Heat Detector. Di bawah ini adalah jenis sprinkler head
yang digunakan pada bangunan ini.
Gambar 2.6Sprinkler Head
Tipe ini berupa tabung yang terbuat dari kaca khusus (special glass) yang mana digunakan menahan air pada tempatnya. Tabung tersebut berisi cairan kimia berwarna yang mana bila dipanaskan (terkena panas) sampai suhu tertentu yang akhirnya gelas tersebut akan pecah sehingga katup terbuka dan air akan mengalir menuju deflector kemudian air akan menyembur keluar untuk memadamkan api.
Tabel 2.4 Warna Cairan dan Temperatur Sprinkler
Tingkat suhu kepala sprinkler otomatis ditunjukan dalam tabel di bawah ini.
Tingkat suhu untuk jenis sambungan lebur (°C) Warna tangkai
68 / 74 Tanpa warna
93 / 100 Putih
141 Biru 182 Kuning 227 Merah
Tingkat suhu untuk jenis glass bulb (°C) Warna cairan dalam gelas
57 Jingga 68 Merah 79 Kuning 93 Hijau 141 Biru 182 Ungu 203 / 260 Hitam
Sumber : SNI 03-6570-2001. Tata cara perancangan dan pemasangan system sprinkler otomatik untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.
Untuk penempatan sprinkler head pada bangunan ini terdapat dua jenis sistem pengaturan penempatan, yaitu tipe pendant dan upright. Hanya dengan memposisikan
sprinklerhead ke atas untuk tipe upright dan ke bawah untuk tipe pendant.
Sprinkler tipe pendant digunakan di ruangan yang memiliki ceiling (langit – langit) dan untuk sprinkler tipe upright digunakan di area parkir dan ramp yang biasanya tidak memiliki ceiling.
2.7.2. Hydrant system
Hydrant system adalah instalasi pipa hydrant berisikan air bertekanan dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap. Pada sistem ini dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian :
a. Hydrant Box
Hydrant Box dapat dibagi menjadi dua yaitu berupa Indoor Hydrant (terletak di dalam gedung) dan Outdoor Hydrant (terletak di luar gedung). Pemasangan Hydrant Box ini biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan luas ukuran ruangan serta luas gedung.
Gambar 2.7Indoor Hydrant Box
Gambar 2.8Outdoor Hydrant Box
Sumber : PT. Sigmatech Tatakarsa
b. Hydrant Pillar
Alat ini memiliki fungsi yang sama dengan Indoor Hydran Box, hanya saja diletakan di luar gedung. Biasanya di sebelah hydrant pillar terdapat hydrant box yang hanya berisi hose reel. Peletakan hydrant pillar di tentukan dari luas lahan dan ditempatkan di tempat yang mudah diakses.
Gambar 2.9Hydrant Pillar
Sumber : PT. Sigmatech Tatakarsa
c. Siamesse Connection
Alat ini memiliki fungsi yang sama dengan Pillar Hydran, hanya saja tidak terdapat
hydrant box. Dan biasanya petugas pemadam kebakaran menggunakan outlet ini dan disambungkan ke selang yang dibawa oleh petugas pemadam kebakaran. Peletakan
Siamesse Connection di tentukan dari jumlah akses untuk masuk ke wilayah gedung tersebut.
Gambar 2.11Siamesse Connection
2.8. Sistem Penyediaan Air
2.8.1. Jaringan Kota
Pada setiap gedung yang dirancang, sistem penyediaan air biasanya berasal dari jaringan kota yang kemudian ditampung pada Ground Water Tank. Sambungan pada sistem jaringan kota dapat diterima kembali apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. Kapasitas dan tekanan sistem jaringan kota dapat diketahui dengan mengadakan pengukuran langsung pada jaringan distribusi di tempat penyambungan yang dilaksanankan, dan ukuran pipa distribusi sekurang – kurangnya harus sama dengan pipa tegak.
Berikut adalah ketentuan untuk sistem pemadam kebakaran :
a. sesuai dengan peraturan NFPA (National Fire Protection Association) dan
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum bahwa untuk setiap lantai yang memiliki sprinkler 14-45 pada gedung dengan jenis kebakaran ringan hharus memiliki debit air (Q) sekurang – kurangnya 0,001 m3/s (untuk satu sprinkler head).
b. Sesuai dengan keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 887 Tahun 1981 tentang Persyaratan dan Standar Debit Aliran Hydrant Box untuk gedung jenis kebakaran ringan harus memiliki debit aliran (Q) sekurang – kurangnya 0,006 m3/s (untuk satu
hydrant box pada tiap lantai). Dan untuk Hydrant Pillar pada satu halaman gedung sekurang – kurangnya memiliki debit aliran (Q) 0,019 m3/s.
2.8.2. Tangki Gravitasi
Tangki gravitasi atau sering disebut Roof Tank (tangki atap), karena biasanya berada di lantai atap atau berada di tempat yang lebih tinggi dari lantai yang membutuhkan suplai air. Tetapi tangki ini jarang sekali digunakan, karena jika pada saat pompa pemadam kebakaran tidak bekerja maka akan membahayakan orang yang akan memperbaiki disaat terjadi kebakaran di lantai lainnya.
2.8.3. Tangki Bertekanan
Tangki bertekanan harus dilengkapi dengan suatu cara yang dibenarkan agar tekanan udara dapat diatur secara otomatis. Sistem tersebut dilengkapi dengan alat tanda bahaya, apabila tekanan atau permukaan tinggi air dalam tangki turun melalui batas yang ditentukan.
Tangki bertekanan harus berisi air 2/3 penuh dan diberi tekanan udara sedikitnya 4,9 kg/cm2, kecuali ditentukan lain oleh pejabat berwenang.
2.8.4. Mobil Pemadam Kebakaran
Apabila harus disediakan sebuah sambungan yang memungkinkan mobil pemadam kebakaran dapat memompakan air kedalam sistem sprinkler, ukuran minimum pipa yang digunakan adalah 100 mm dan ukuran 75 mm dapat digunakan untuk pipa tegak.
2.8.1. Kriteria Perancangan Sistem Pemadam Kebakaran Menggunakan Hidran Gedung
Kriteria perancangan untuk sistem pemadam kebakaran menggunakan hidran gedung adalah :
2.9.1. klasifikasi Bahaya Kebakaran
Kelas bangunan, adalah pembagian bangunan atau bagian bangunan sesuai dengan jenis peruntukan atau penggunaan bangunan sebagai berikut :
a. Kelas 1 : Bangunan Hunian Biasa
- Kelas 1a, Bangunan hunian tunggal yang berupa : Satu rumah tinggal atau Satu atau lebih bangunan hunian gandeng yang terpisahkan oleh dinding tahan api, termasuk rumah deret, rumah taman dan unit town house.
- Kelas 1b, Bangunan hunian ganda yang berupa : Rumah asrama / kost, rumah tamu, hotel, dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali oleh 12 orang secara tetap.
b. Kelas 2 : Bangunan hunian yang terdiri atas dua atau lebih unit hunian yang masing – masing merupakan tempat tinggal terpisah.
c. Kelas 3 : Bangunan hunian yang di luar kelas 1 dan 2 yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan, seperti : asrama, rumah tamu, losmen, hotel, motel, panti dll.
d. Kelas 4 : Bangunan Hunian Campuran
Adalah bangunan hunian yang berada di dalam suatu bangunan kelas 5, 6, 7, 8 atau 9.
e. Kelas 5 : Bangunan Kantor
Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk usaha professional, atau usaha komersial di luar bangunan kelas 6, 7, 8 dan 9.
Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang digunakan untuk tempat penjualan barang – barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat, termasuk : restoran, salon, bar, tempat cuci umum, pasar, bengkel dll. g. Kelas 7 : Bangunan Penyimpanan / Gudang
Adalah bangunan yang dipergunakan untuk penyimpanan barang, showroom dan tempat parkir.
h. Kelas 8 : Bangunan Laboratorium / Industri / Pabrik i. Kelas 9 : Bangunan Umum
- Kelas 9a, bangunan perawatan kesehatan termasuk berupa bangunan laboratorium. - Kelas 9b, bangunan pertemuan, peribadatan, bangunan budaya dll.
j. Kelas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian
- Kelas 10a, bangunan bukan hunian seperti garasi pribadi, carport atau sejenisnya. - Kelas 10b, bangunan berupa pagar, tonggak, antenna, dinding penyangga, kolam renang dan sejenisnya.
k. Bangunan – bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus
Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi 1 sampai 10, dalam pedoman teknis ini dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati suatu peruntukan.
l. Bangunan yang penggunaannya insidentil
Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang tidak mengakibatkan gangguan pada bagian lainnya, dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya.
m. Klasfikasi jamak
Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan terpisah, dan :
- bila bangunan memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan dan bukan laboratorium, klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utama.
- kelas – kelas 1a, 1b, 9a, 9b, 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah.
- ruang – ruang pengolah, ruang mesin, ruang mesin lift, ruang boiler yang sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak.
Tabel 2.5 Penentuan jumlah hidran, 1 buah setiap luas lantai
Kelas Bangunan Kompartemen tanpa partisi Kompartemen dengan partisi
Kelas 1 dan Kelas 10 Tidak dipersyaratkan Tidak dipersyaratkan
Kelas 2, 3, 4 dan 9a 1 buah per 1000 m2 2 buah per 1000 m2
Kelas 5, 6, 7, 8 dan 9b 1 buah per 800 m2 2 buah per 800 m2
Sumber : KEP/MEN/10/2000 *) penempatan hidran harus pada posisi yang berjauhan.
Ketentuan :
a. Panjang selang minimum 30 meter.
b. Pada bangunan yang dilengkapi hidran harus terdapat personil (penghuni) terlatih untuk mengatasi kebakaran dalam gedung.
c. Sistem hidran kebakaran :
1. Harus dipasang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Apabila hidran digunakan, alat ini hanya melayani di lantai lokasi hidran tersebut ditempatkan, kecuali pada satuan peruntukan bangunan :
(a) Pada bangunan kelas 2 atau kelas 3 atau sebagian kelas 4 dapat dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar dari satuan peruntukan bangunan tersebut
(b) Pada bangunan Kelas 5, 6, 7, 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari dua, dapat dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar dari satuan peruntukan bangunan tersebut, asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan.
3. Sumber air untuk hidran harus dicatu dari sumber yang dapat diandalkan, seta menyediakan tekanan dan aliran yang diperlukan dalam waktu minimal 30 menit, sesuai dengan standar SNI 03-1745 edisi terakhir tentang Tata Cara Pelaksanaan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung.
4. Bila dibutuhkan pompa untuk mencatu sistem hidran, pompa tersebut harus memenuhi SNI 03-1745 edisi terakhir, tentang Tata cara Pelaksanaan Sistem HidranUntuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung, serta standar pompa yang berlaku.
2.9.2. Penentuan tekanan sistem pipa hidran
Tekanan sistem pipa hidran harus memenuhu salah satu dari persyaratan berikut ini : 1. Didesign secara hidrolik untuk mendapatkan laju aliran pada tekanan sisa 6,9
kg/cm2 (100psi) pada keluaran sambungan selang 63,5 mm (2,5 inchi) yang terjadi dihitung secara hidrolik dan 4,5 kg/cm2 (65 psi) pada ujung kotak hidran 38,1 mm (1,5 inchi) yang jauh dihitung secara hidrolik.
Pengecualian : Bilamana instansi yang berwenang mengijinkan tekanan lebih rendah dari 6,9 kg/cm2 (100psi) untuk sambungan selang 63,5 mm (2,5 inchi), berdasarkan taktik pemadaman, tekanan dapat dikurangi hingga paling rendah 4,5 kg/cm2 (65 psi).
2. Ukuran pipa dengan laju aliran yang dipersyaratkan pada tekanan sisa 6,9 kg/cm2 (100psi) pada ujung yang terjauh dengan ukuran 63,5 mm (2,5 inchi) dan tekanan 4,5 kg/cm2 (65 psi) pada ujung selang terjauh dengan ukuran 38,1 (1,5 inchi), didesign sesuai dengan sebagaimana tertera pada table 2.6. design menggunakan cara schedule pipa, harus dibatasi hanya pipa hidran basah untuk bangunan yang tidak di kategorikan sebagai bangunan tinggi.
Tabel 2.6 Diameter pipa minimal (dalam inchi)
Total Akumulasi Aliran Jarak Total Pipa Terjauh Dari Keluaran
Gpm l/min <15.2 m 15.2 – 30.2 m > 30.5
100 379 2,0 inchi 2,5 inchi 3,0 inchi
101 – 500 382 – 1.893 4,0 inchi 4,0 inchi 6,0 inchi 501 – 750 1.896 – 2.839 5,0 inchi 5,0 inchi 6,0 inchi 751 – 1250 2.843 – 4.331 6,0 inchi 6,0 inchi 6,0 inchi 1251 - ke atas 4.735 – ke atas 8,0 inchi 8,0 inchi 8,0 inchi
Sumber : KEP/MEN/10/2000
Penentuan diameter pipa ditinjau dari jarak total pipa dan total akumulasi aliran. Catatan : 1 gpm = 3,785 liter/menit
2.9.3. Penentuan pasokan air
Sistem pipa hidran otomatis harus dihubungkan dengan pasokan air yang telah disetujui dan mampu memenuhi kebutuhan sistem. Sistem pipa tegak manual harus memenuhi pasokan air yang telah disetujui.
Pasokan air otomatis tunggal dapat diizinkan untuk digunakan bila mana dapat memasok kebutuhan sistem dalam waktu sekurang – kurangnya 60 menit, dari kapasitas pompa pemadam kebakaran. Sumber air berasal dari PDAM dan cadangan berasal dari
Deepwell. Contoh :
Kapasitas pompa dari hasil perhitungan 750 gpm, dengan bangunan luas 1600 m2 tiap lantai. Maka kapasitas pasokan air adalah 750 gpm x 3.875 liter x 60 menit = 170 m3
2.9.4. Penentuan kapasitas pompa
Pemilihan kapasitas pompa pemadam kebakaran ditentukan berdasarkan karakteristik pompa sebagai berikut :
a. Pompa hidran harus berkemampuan tidak kurang dari 150% kapasitas nominalnya pada head total kurang dari 65% dari head nominal totalnya. Head total pada saat katup tertutup tidak boleh melebihi 140% dari head nominal total pada pompa.
b. Pompa hidran yang teruji dapat mempunyai bentuk kurva kapasitas head yang berbeda untuk nilai nominal yang diberikan. Gambar 2.18 menunjukan bentuk kurva ekstrim yang disyaratkan. Head pada kondisi menutup akan mempunyai rentang dari minimum 101% sampai maksimum 140% dari head nominal. Pada kapasitas nominal 150%, head akan mempunyai nilai rentang dari minimum 65% sampai maksimum sedikit dibawah head nominal. Pabrik pembuat pompa dapat memasok kurva yang diinginkan untuk pompa yang teruji.
c. Pompa pemadam kebakaran harus mempunyai kapasitas nominal dalam liter per menit (lpm) atau gallon per menit (gpm) dan harus pada tekanan nominal netto 2,7 kg/cm2 (40 psi) atau lebih. Pompa untuk nominal di atas 18.925 liter per menit (5000 gpm) perlu dikaji tersendiri oleh instansi berwenang atau laboratorium yang terdaftar.
Tabel 2.7 Tabel kapasitas pompa kebakaran nominal
GPM Liter / Menit 25 95 50 189 100 379 150 568 200 757 250 946 300 1.136 400 1.514 150 1.703 500 1.892 750 2.839 1000 3.785 1250 4.731 1500 5.677 2000 7.570 2500 9.462 3000 11.355 3500 13.247 4000 15.140 4500 17.032 5000 18.925 Sumber : SNI 03-6570-2001
Untuk mempermudah engineer tersedia table ringkasan pompa kebakaran seperti di bawah ini.
Tabel 2.8 Tabel ringkasan data pompa kebakaran
Penggunaan table seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.12Instalasi Pompa Kebakaran Jenis ‘Horisontal Split Case” dengan pasokan air di bawah head positif.
Sumber : SNI 03-6570-2001
2.9.5. Jenis pompa pemadam kebakaran
Jenis pompa pemadam kebakaran ditinjau dari sumber penggeraknya adalah sebagai berikut :
1. Pompa Elektrik
Adalah pompa yang digerakan dengan listrik yang kita kenal Electric Fire Pump
memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Persyaratan – persyaratan kinerja minimum dan persyaratan pengujian dari sumber dan transmisi daya listrik ke motor penggerak pompa kebakaran dan persyaratan kinerja minimum dari semua peralatan antara sumber dan pompa,
termasuk motor, kecuali alat kontrol listrik pompa kebakaran, saklar pemindah dan perlengkapannya. Semua peralatan listrik dan cara pemasangannya harus memenuhi SNI 04-0225-2000,tentang “Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL – 2000)”, dan artikel – artikel lain yang tersedia.
b. Daya listrik yang dipasok ke motor pompa kebakaran dari sumber yang terpercaya atau dua atau lebih sumber yang tak saling bergantung. Tegangan pada jaringan alat kontrol harus tidak boleh turun lebih dari pada 15% di bawah normal (tegangan nominal pengontrol) pada saat motor distart. Tegangan pada terminal motor harus tidak turun lebih dari 5% di bawah tegangan nominal dari motor.
Gambar 2.13Electric Pump Horizontal Type
Sumber : Brand SPP, PT. Multisindomulya
2. Pompa Diesel
Adalah pompa yang digerakan dengan mesin diesel yang kita kenal DieselFirePump. Seleksi dari peralatan pompa kebakaran dengan penggerak motor diesel harus didasarkan pada pertimbangan secara teliti dengan faktor sebagai berikut :
a. Tipe kontrol yang paling andal b. Pasokan bahan bakar
c. Instalasi
d. Start dan mengoprasikan motor diesel
e. Motor diesel telah terbukti dengan motor yang menggunakan bahan bakar yang dapat diandalkan untuk menggerakan pompa pemadam kebakaran. Motor bahan bakar yang menggunakan percikan nyala (busi) tidak
diperkenankan, kecuali untuk instalasi yang telah dibuat sebelum standar ini dibuat.
f. Persyaratan untuk alat pengisi baterai adalah sebagai berikut :
- Alat pengisi harus secara spesifik teruji untuk melayani pompa kebakaran. - Rectifer harus dari tipe semiconductor
g. Alat pengisi untuk suatu baterai lead-acid harus dari tipe yang secara otomatik dapat mengurangi arus pengisiannya kurang dari 500 mA bila baterai telah mencapai kondisi terisi penuh.
h. Alat pengisi baterai pada tegangan nominalnya harus mampu memasok energy pada baterai yang telah kosong dengan cara yang tidak merusak baterai dan harus dapat mengembalikan 100 kapasitas baterai sebagai cadangan atau amper-jam nominalnya dalam waktu kurang lebih 24 jam.
i. Alat pengisi harus memberi tanda pada saat kapasitas atau amper-jam nominalnya telah terpenuhi dan dapat diisi ulang.
j. Suatu amper meter dengan tingkat ketelitian 5% dari pengisian normal nominalnya harus disediakan untuk menunjukan operasi dari alat pengisi. k. Alat pengisi harus dirancang sedemikiann rupa sehingga tidak merusak atau
memutuskan pengaman lebur selama jangka waktu siklus perputaran motor bila dioprasikan oleh suatu alat kontrol secara otomatik atau manual.
l. Alat pengisi harus secara otomatik mengisi pada laju maksimum bila diperlukan oleh baterai.
m. Alat pengisi baterai harus disusun untuk menunjukan rugi output dari sisi beban dari alat proteksi arus lebih besar dari arus searah bila tidak tersambung ke panel kontrol.
3. Pompa Pacu (Jockey Pump)
Adalah pompa pacu yang digerakan dengan listrik yang kita kenal JockeyFirePump. Pompa ini berfungsi untuk mempertahankan tekanan. Pompa yang mempertahankan tekanan harus mempunyai kapasitas nominal tidak kurang dari setiap nominal kebocorannya. Pemilihan pompa pacu berdasarkan kriteria sebagai berikut :
a. Pompa harus mempunyai tekanan pelepasan yang cukup untuk mempertahankan tekanan sistem proteksi kebakaran yang diinginkan.
b. Apabila pompa yang mempertahankan tekanan jenis sentrifugal tekanan menutup melebihi tekanan kerja dari peralatan proteksi kebakaran atau apabila pompa jenis turbin baling – baling digunakan, ukuran katup relief untuk mencegah tekanan lebih dari sistem harus dipasang pada pelepasan pompa untuk mencegah kerusakan dari sistem proteksi kebakaran. Alat pengatur jangka waktu berjalannya pompa jockey tidak boleh dipasang apabila pompa jockey yang tersedia mempunyai kemampuan melebihi tekanan kerja dari sistem proteksi kebakaran. c. Pompa kebakaran utama atau cadangan tidak boleh dipakai untuk pompa yang
mempertahankan tekanan.
d. Pompa yang mempertahankan tekanan (jockey atau tambahan) sebaiknya dipakai apabila dibutuhkan untuk mempertahankan keseragaman atau tekanan tinggi relative pada sistem proteksi kebakaran.
e. Pompa yang mempertahankan tekanan tipe sentrifugal lebih disukai.
1. Pompa jockey biasanya dipersyaratkan bersama dengan pompa yang dikontrol secara otomatik.
2. Hisapan pompa jockey datang dari jalur pipa pasok pengisi tangki. Situasi ini akan mengijinkan tekanan tinggi dipertahankan pada sistem proteksi kebakaran bahkan bila tangki pasok untuk perbaikan.
3. Pemasangan jalur pengindera tekanan antara katup searah pelepasan dan katup kontrol perlu untuk memfasilitasi isolasi dari alat kontrol pompa jockey (dan jalur pengindera) guna pemelihharaan tanpa mengeluarkannya dari seluruh sistem.
f. Pompa jockey sebaiknya kapasitas ditentukan ukurannya untuk menambah laju kebocoran yang diijinkan di dalam 10 menit dari 3,8 l/m (1 gpm), biasanya diambil antara 20 gpm sampai dengan 25 gpm.
Gambar 2.15Instalasi pompa jockey dengan pompa kebakaran
Sumber : SNI 03-6570-2001
Gambar 2.16Sambungan pemipaan sakelar tekanan otomatik pada pompa pemadam kebakaran dan pompa jockey
Sumber : SNI 03-6570-2001
Syarat dari pompa pacu antara lain sebagai berikut :
a. Alat pencatat sebaiknya mampu untuk mencatat tekanan sedikitnya 150% dari tekanan pelepasan pompa di bawah kondisi tanpa aliran. Pada bangunan bertingkat tinggi, sebaiknya mudah dibaca tanpa membuka panel alat kontrol
pompa kebakaran. Persyaratan ini tidak harus diikuti oleh alat pencatat yang terpisah dari setiap alat kontrol ini. Alat pencatat saluran jamak tunggal dapat melayani pengindera jamak.
b. Kontrol mekanik untuk menjalankan secara darurat, menyediakan sarana dibagian luar yang menutup kontaktor motor secara manual, memotong jalur untuk start dan menjalankan motor pompa kebakaran.
c. Ini dimaksudkan untuk penggunaan darurat apabila pengoprasian secara normal / magnetik tidak memungkinkan. Bila digunakan pada rancangan alat kontrol, tegangan listrik pada waktu start akan turun, batas penurunan tegangan listrik 15% tidak digunakan.
d. Instansi berwenang dapat mengijinkan penggunaan alat kontrol pelayanan terbatas untuk situasi khusus dimana penggunaan yang dapat diterima disampaikan pada pihak berwenang.
e. Susunan alat kontrol pompa kebakaran tipikal dan saklar pemindah seperti ditunjukan di bawah ini :
Gambar 2.17Susunan alat kontrol pompa pemadam kebakaran tipikal dan saklar pemindah
Gambar 2.18Jockey Pump Vertical Multistage Centrifugal Type dan Power Starter