• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model PKH Perempuan melalui Seni Budaya Lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Model PKH Perempuan melalui Seni Budaya Lokal"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(2)

Model PKH Perempuan melalui Seni Budaya Lokal

Pengarah: Ir. H. Djajeng Baskoro, M, Pd.

Penanggung Jawab: Dadan Supriatna, M.Pd.

Tim Pengembang: H. Waluyo Saputro Edi Rukmana Ami Rahmawati Aisyah Khoirunissa

Pakar: DR. H. Safuri Musa

Editing dan Layout: Waluyo Saputro Edi Rukmana Ami Rahmawati Aisyah Khoirunissa

Cover dan Illustrasi: Arie Ekadharma

Kontributor: PKBM Kandaga Kabupaten Subang PKBM Bina Mandiri Cipageran Kota Cimahi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PP-PAUDNI) Regional I Bandung Tahun 2015

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui dan disahkan oleh Pakar:

………..

Mengetahui

Kepala PP-PAUDNI Regional I Bandung,

Ir. H. Djajeng Baskoro, M.Pd.

NIP. 196306251990021001

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(4)

ABSTRAK

Pemberdayaan perempuan telah menjadi isu penting di dalam proeses pembangunan. Berbagai inisatif, mekanisme dan program diluncurkan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan perempuan. Diantaranya adalah program pendidikan kecakapan hidup (PKH) bagi perempuan melalui seni budaya lokal.

Model ini ditujukan untuk memberikan panduan penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya local, dengan menerapkan strategi “Pitik Walik Jambul” (Pilih titik-titik bersama wali/pengampu jangan sampai bubar sebelum lulus). Langkah yang diterapkan adalah: (a) Pilih titik-titik yang potensial mendukung pelaksanaan program terkait dengan: lokasi, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta jenis keterampilan yang sesuai dengan budaya lokal; (b) Bersama wali/pengampu serta peserta didik menentukan jenis keterampilan, ide dan gagasan serta perancangan perangkat pembelajaran; (c) Jangan sampai bubar artinya menjaga komitmen dari semua pihak untuk tetap teguh mmeraih tujuan program; (d) Sampai lulus dimaknai sebagai hasil evaluasi perkembangan peserta didik sampai selesai mengikuti program dan menguasai kompetensi yang disyaratkan.

Indikator keberhasilan model ditandai penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta memperoleh peningkatan pendapatan dari seni budaya lokal yang dipelajari; serta tercapainya indikator pemberdayaan perempuan yang meliputi: 1) Akses, dalam arti kesamaan hak dalam mengakses sumber daya-sumber daya produktif di dalam lingkungan; 2) Partisipasi, yaitu keikutsertaan dalam mendayagunakan aset atau sumber daya yang terbatas tersebut; 3) Kontrol, yaitu bahwa lelaki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kontrol atas pemanfaatan sumber daya-sumber daya tersebut; 4) Manfaat, yaitu bahwa lelaki dan perempuan harus sama-sama menikmati hasil-hasil pemanfaatan sumber daya atau pembangunan secara bersama dan setara.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME atas segala rahmat, taufiq,dan hidayahNya, sehingga kami telah dapat menyusun model penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal.

Model ini dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan panduan penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal yang dapat dijadikan acuan bagi penyelenggaran serta menjadi bahan masukan bagi Direktorat terkait dalam menyusun norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) terkait penyelenggaraan PKH perempuan melalui seni budaya local.

Kami menyadari bahwa model ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran perbaikan dari semua pihak sangat kami harapkan, dan tidak lupa atas perhatian dan bantuan semua pihak terutama tim pengembang yang telah berupaya menyusun panduan ini kami sampaikan terima kasih.

Bandung,

November 2015 Mengetahui

Kepala PP-PAUDNI Reg I,

Ir. H. Djajeng Baskoro, M.Pd. Tim Pengembang NIP. 196306251990021001

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(6)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan ... 5 C. Pengertian-pengertian... 6

BAB II KONSEP DASAR

A. Pendidikan Kecakapan Hidup Perempuan... 7 B. Seni Budaya Lokal... 9 C. Pemberdayaan Perempuan ...12

BAB III PENYELENGGARAAN PKH PEREMPUAN MELALUI SENI BUDAYA LOKAL

A. Tujuan penyelenggaraan program ...16 B. Komponen Penyelenggaraan Program ...16 C. Kerangka pikir penyelenggaraan program ...25 D. Tahapan Penyelenggaraan PKH Perempuan melalui Seni Bdaya Lokal ...27

BAB IV Prasyarat Penerapan dan Indikator Keberhasilan Model

A. Prasyarat Penerapan Model ...41 B. Indikator Keberhasilan ...42

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ...44 B. Rekomendasi (peluang dan tantangan)...45

DAFTAR PUSTAKA

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

Partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan kehidupan social telah menempatkan beban yang sangat berat di pundak mereka dalam upayanya menyesuaikan perannya di dalam keluarga dan di luar keluarga. Pemberdayaan perempuan telah menjadi isu penting di dalam proeses pembangunan suatu negara. Oleh karena itu, berbagai inisatif, mekanisme dan program pemberdayaan telah diluncurkan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan perempuan.

A. Latar Belakang

Populasi perempuan menempati hampir setengah dari total penduduk di negara kita. Di dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, perempuan memiliki prioritas dalam upaya-upaya pembangunan. Kualitas hdup perempuan sangatditentukan oleh factor-faktor social dan ekonomi. Namun, karena kesenjangan jender yang terjadi, perempuan tidak dapat menikmati hasi pembangunan jika dibandingkan dengan laki-laki pada

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(8)

umumnya. Lebih jauh lagi, kemiskinan menyebabkan kondisi perempuan semakin memburuk. Beban ekonomi telah menjadi tanggung jawab perempuan demi kelangsungan hidup keluarganya. Singkatnya, perempuan telah menjadi pengatur dalam pengelolaan rumah tangga dan keluarga. Maka, selain melakukan kegiatan kerumahtanggaan, perempuan juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi.

Profil Perempuan Indonesia 2012 hasil kerja sama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik (2012) menunjukan bahwa persentase penduduk perempuan di seluruh Indonesia berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah adalah 8,05%, sedangkan laki-laki 3,38%. Hal ini berpengaruah pada trend ketenagakerjaan dan sosial di Indonesia yang (ILO, 2013) dimana perbedaan gender dalam partisipasi angkatan kerja masih terus bertahan, dengan tingkat partisipasi angkatan kerja untuk laki-laki berkisar antara 84-85%, dan tingkat angkatan kerja bagi perempuan berkisar antara 52-53% selama tahun 2012 dan 2013. Dalam hal pekerjaan, pada tahun 2013 sekitar 62% laki-laki bekerja, sementara perempuan bekerja hanya sekitar 38%.

Pemberdayaan perempuan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas perempuan dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan masyarakat, sehingga mampu meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(9)

Peningkatan produktivitas perempuan dapat ditinjau dari indikator perubahan sikap yang lebih positif dan maju, meningkatnya kemampuan kecakapan hidup dan hasil karya, baik berupa barang atau jasa untuk keperluan diri sendiri dan masyarakat. Memberdayakan perempuan juga berarti memberdayakan dan menularkan semangat yang positif kepada generasi penerus, yang pada umumnya dalam keseharian sangat lekat dengan sosok ibu.

Untuk merealisasikan pemberdayaan perempuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) memberikan layanan program pendidikan kecakapan hidup perempuan. Pada tahun 2014, tercatat peserta program 7.000 orang yang tersebar di 33 provinsi. Dimana sasaran utama dari program ini adalah perempuan usia produktif yang berpendidikan rendah, berasal dari kalangan marjinal secara ekonomi sosial dan tidak memiliki pekerjaan, sehingga mereka perlu dibekali keterampilan agar memiliki kemampuan untuk hidup lebih sejahtera.

Namun demikian, selama ini pendidikan kecakapan hidup perempuan lebih banyak dipahami hanya sebagai pelatihan vokasional untuk memproduksi barang dalam rangka memperoleh kemampuan mencari nafkah. Padahal sesungguhnya masih ada kecakapan lain yang yang dapat dijadikan lahan untuk mendapatkan

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(10)

penghasilan, diantaranya kecakapan yang bersumber dari bidang seni budaya lokal.

Senyatanya, seni budaya tradisionil merupakan kekuatan lokal dan modal sosial (social capital) dalam pembangunan. Namun demikian, seni budaya yang merupakan aset dan kekayaan daerah ini sering tidak disadari potensinya, bahkan keberadaannya pun kadang tidak dikenal/diketahui oleh warga masyarakat. Beberapa permasalahan lainya di sektor seni budaya dan pariwisata di Jawa Barat juga diungkapkan oleh Darsiharjo (2009) dalam kajiannya, antara lain :

a. Belum adanya sinergi yang baik antara pelaku seni

dan pelaku pariwisata;

b. Belum berkembangnya resources development

sebagai perilaku stakeholders dalam proses rekayasa produk seni dan pariwisata;

c. Rendahnya kompetensi pengelola seni dan

pariwisata daerah dibandingkan dengan pelayanan standar nasional atau internasional; dan

d. Pengembangan produk seni dan budaya masih

mengandalkan sektor primer, artinya seni budaya dikembangkan berdasarkan fungsi utamanya sebagai alat ritual agama atau adat istiadat.

Tahun 2014, telah dikembangkan model yang difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup melalui seni budaya local. Sebagai bentuk tindak lanjut pengembangan, maka disusun model penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya local yang diharapakan dapat menjadi acuan

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(11)

dan bahan masukan bagi penyelenggaran serta menjadi bahan masukan bagi Direktorat terkait dalam menyusun norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) terkait penyelenggaraan PKH perempuan melalui seni budaya local.

B. Tujuan

Model ini dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan panduan penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal yang dapat dijadikan acuan bagi penyelenggaran serta menjadi bahan masukan bagi Direktorat terkait dalam menyusun norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) terkait penyelenggaraan PKH perempuan melalui seni budaya local.

Secara khusus, model ini dikembangkan untuk memberikan acuan penyelenggaraan pkh perempuan melalui seni budaya local yang meliputi aspek:

a. Langkah-Langkah identifikasi program

b. Langkah-langkah orientasi petugas pelaksana program

c. Langkah-langkah penyiapan sarana prasarana dan perangkat pembelajaran.

d. Pelaksanaan pembelajaran.

e. Langkah-langkah pemantauan dan pembinaan program

f. Langkah-langkah evaluasi dan pelaporan program.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(12)

g. Langkah-langkah penyusunan rencana anggaran biaya program.

C. Pengertian

1. Pendidikan kecakapan hidup perempuan adalah pendidikan kecakapan-kecakapan yang secara praktis dapat membekali peserta didik perempuan dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan.

2. Pemberdayaan perempuan adalah upaya memampukan perempuan untuk memperoleh akses terhadap sumber daya di dalam lingkungan; turut berpartisipasi dalam mengelola sumberdaya; memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kontrol atas pemanfaatan sumber daya; serta memiliki kesetaraan dalam menikmati manfaat dari pengelolaan sumber daya tersebut.

3. Seni budaya lokal adalah salah satu karya manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, moral dan perilaku hidup manusia serta adat istiadat yang berkembang di masing-masing daerah yang perlu dikembangkan dan dilestarikan

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(13)

BAB II

KONSEP DASAR

A. PKH Perempuan

Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Perempuan

adalah ikhtiar memberdayakan perempuan marginal

melalui pendidikan. Perempuan marginal merupakan

bagian dari masyarakat kurang beruntung yang

mengalami masalah dan/atau sangat rentan menerima

dampak resiko sosial yang diakibatkan oleh kondisi

mereka yang marginal. Atas dasar pertimbangan

tersebut maka pemberdayaan perempuan marginal

melalui PKH Perempuan diarahkan sebagai tindakan

yang bersifat memihak (affirmative action) yakni untuk

menarik atau mengeluarkan perempuan dari keadaan

marginal yang dialami.

Upaya memberdayakan perempuan marginal

melalui PKH Perempuan dirancang untuk mengenali,

menggali, dan mengembangkan seoptimal mungkin

potensi perempuan pada empat aspek kecakapan

penting yaitu (i) kecakapan personal, (ii) kecakapan

sosial, (iii) kecakapan intelektual, dan (iv) kecakapan

vokasional. Hasil yang diharapkan melalui

pembelajaran Program PKH Perempuan adalah

perubahan perilaku, yaitu meningkatnya pengetahuan,

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(14)

kerampilan, dan sikap diri. Selanjutnya perempuan

marginal mampu menolong dirinya sendiri untuk lebih

berdaya dan keluar dari kondisi kemarginalannya

menuju kualitas kehidupan dan tingkat kesejahteraan

hidup yang lebih tinggi.

Perempuan marginal memiliki sejumlah

keterbatasan yang membelenggu dan menyulitkan

mereka dalam memperoleh, harkat dan martabat hidup

yang wajar sebagimana warga masyarakat lainnya.

Resiko yang lebih besar yakni adanya kegagalan

kelompok ini dalam mempertahankan diri karena

ketidakmampuannya memenuhi kebutuhan bertahan

hidup.

Asmani (2009:37), pendidikan kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu kecakapan

hidup general (general life skills) dan kecakapan hidup

spesifik (specific life skills).

Kecakapan hidup general (general life skills)

merupakan kecakapan hidup yang dibutuhkan semua

orang, baik mereka yang bekerja, belum bekerja, tidak

bekerja maupun mereka yang masih menempuh

pendidikan (Sukidjo, 2003:431). Kecakapan hidup

general dibagi ke dalam kecakapan mengenal diri

(personal skills), kecakapan berpikir rasional (thinking

skills) dan kecakapan sosial (social skills).

1. Kecakapan mengenal diri sendiri

Merupakan kemampuan menghayati diri sebagai

makhluk Tuhan yang Maha Esa, anggota masyarakat

dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(15)

kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus

menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan

dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi diri

sendiri dan lingkungannya (Astuti, 2003)

2. Kecakapan berpikir rasional

Merupakan kemampuan menggunakan

pikiran/rasio secara optimal yang meliputi: a)

kecakapan menggali dan menemukan informasi; b)

kecakapan mengelola informasi dan mengambil

keputusan secara cerdas; c) kecakapan memecahkan

masalah secara arif dan kreatif.

3. Kecakapan social

Merupakan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, yang meliputi: a) kemampuan bekerjasama yang disertai saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu; dan b) kemampuan komunikasi dengan empati (Asmani, 2009).

Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life

skills) diperlukan seseorang untuk menghadapi problem

bidang khusus tertentu. Kecakapan hidup spesifik

biasanya terkait dengan bidang pekerjaan

(occupational), atau bidang kejuruan (vocational) yang

ditekuni atau akan dimasuki. Kecakapan ini dapat

dipilah menjadi kecakapan akademik (academic skills)

dan kecakapan vokasional (vocational skills)

B. Seni Budaya Lokal

Senyatanya, seni budaya tradisionil merupakan

kekuatan lokal dan modal sosial (social capital) dalam

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(16)

pembangunan. Namun demikian, seni budaya yang merupakan aset dan kekayaan daerah ini sering tidak disadari potensinya, bahkan keberadaannya pun kadang tidak dikenal/diketahui oleh warga masyarakat.

Beberapa permasalahan lainya di sektor seni budaya dan pariwisata di Jawa Barat juga diungkapkan oleh Darsiharjo (2009) dalam kajiannya, antara lain : 1. Belum adanya sinergi yang baik antara pelaku seni

dan pelaku pariwisata;

2. Belum berkembangnya resources development sebagai perilaku stakeholders dalam proses rekayasa produk seni dan pariwisata;

3. Rendahnya kompetensi pengelola seni dan pariwisata daerah dibandingkan dengan pelayanan standar nasional atau internasional; dan

4. Pengembangan produk seni dan budaya masih mengandalkan sektor primer, artinya seni budaya dikembangkan berdasarkan fungsi utamanya sebagai alat ritual agama atau adat istiadat.

Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.

Budaya atau kebudayaan, umumnya diasosiasikan dengan kesenian seperti seni musik, seni tari, seni lukis, dll, atau sering diasosiakan pula dengan kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(17)

Kajian mengenai konsep seni dapat dilakukan dengan menggunakan 3 pendekatan; yaitu

1. Berdasarkan asal kata seni, Pengkajian konsep seni berdasarkan asal kata mengindikasikan bahwa perkataan seni berkaitan dengan aktivitas ataupun produk karya. Pada konteks ini kecenderungan seni dipandang sebagai ekspresi keindahan masyarakat yang bersifat kolektif.

2. Berdasarkan pandangan masyarakat, pandangan masyarakat seni dikatakan sebagai kehalusan, kebersihan, dan kerapian. Disamping itu juga ada yang mengatakan seni sebagai keindahan, hiburan, dan komunikasi ide.

3. Berdasarkan pandangan ahli. seni memiliki ruang lingkup yang luas. Seni bukan sekedar karya yang bisa dinikmati melalui indera, tetapi seni merupakan kegiatan manusia untuk mengungkapkan pengalaman batinnya.

Pada awalnya seni diidentikkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan, namun dalam perkembangannya setelah muncul pemahaman seni untuk seni itu sendiri, maka dalam masyarakat modern muncul definisi seni sebagai ekspresi.

Konsep seni sebagai keterampilan menekankan pada keindahan objektif, sedangkan konsep seni sebagai ekspresi menekankan pada keindahan subjekftif. Keindahan objektif diukur berdasarkan kualitas keindahan karya tersebut sesuai aturan konvensional dan bersifat kolektif; sedangkan keindahan subjektif

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(18)

diukur berdasarkan pandangan pengamat bersifat individual. Keindahan tidak semata harus sesuai dengan bentuk alam melainkan bisa karena keunikan, kreatifitas, orisinalitas, ataupun kebaruannya.

Seni budaya lokal adalah salah satu karya manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, moral dan perilaku hidup manusia serta adat istiadat yang berkembang di masing-masing daerah yang perlu dikembangkan dan dilestarikan.

Ruang lingkup seni budaya lokal dapat dibagi ke dalam:

1. Seni rupa, meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai dalam menghasilkan karya seni berupa gambar, lukisan, patung, kriya dan ilustrasi

2. Seni musik, meliputi kemampuan mengalami dan merasakan olah vokal, mengekspresikan impresi bunyi dan mengapresiasi karya musik yang bersifat tradisional lokal

3. Seni tari, meliputi kemampuan kinestetis berdasarkan olah tubuh dengan atau tanpa rangsang bunyi serta apresiasi gerak tari yang bersifat tradisional lokal

4. Seni teater, meliputi kemampuan olah tubuh, pikir dan suara melalui unsur musik, tari dan peran yang bersifat tradisional lokal

C. Pemberdayaan Perempuan

Sulistiyani (2004:7) menjelaskan bahwa secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya‟ yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(19)

pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau kemampuan, dan atau pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.

Pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern, seperti kerja keras (hard working), kemandirian (self reliance), hemat (efficiency), keterbukaan (open mind), sikap tanggung jawab (responsible), adalah merupakan bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini.

Mengapa perempuan wajib diberdayakan?

1. Karena perempuan mempunyai kepentingan yang sama dalam pembangunan, dan juga merupakan pengguna hasil pembangunan, yang mempunyai hak sama dengan laki-laki.

2. Perempuan juga memiliki kepentingan yang khusus sifatnya bagi perempuan itu sendiri dan anak-anak. Hal-hal yang kurang optimal jika digagas oleh laki-laki karena membutuhkan kepekaan yang sifatnya khusus, terkait dengan keseharian, sosio kultural yang ada, dapat dilakukan oleh perempuan.

3. Memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam pembangunan, secara tidak langsung akan juga memberdayakan dan menularkan semangat yang positif kepada generasi penerus, yang pada umumnya dalam keseharian sangat lekat dengan sosok ibu.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(20)

Dalam konteks pemberdayaan bagi perempuan terdapat empat indikator pemberdayaan, yaitu:

1. Akses, dalam arti kesamaan hak dalam mengakses sumber daya-sumber daya produktif di dalam lingkungan.

2. Partisipasi, yaitu keikutsertaan dalam mendayagunakan aset atau sumber daya yang terbatas tersebut.

3. Kontrol, yaitu bahwa lelaki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kontrol atas pemanfaatan sumber daya-sumber daya tersebut.

4. Manfaat, yaitu bahwa lelaki dan perempuan harus sama-sama menikmati hasil-hasil pemanfaatan sumber daya atau pembangunan secara bersama dan setara.

(N. Katjasungkana dalam Rian Nugroho, 2008) Untuk melakukan pemberdayaan perlu tiga langkah yang berkesinambungan (Gunawan Sumodiningrat dalam Rian Nugroho, 2008):

1. Pemihakan, artinya perempuan sebagai pihak yang diberdayakan harus dipihaki daripada laki-laki. 2. Penyiapan, artinya pemberdayaan menuntut

kemampuan perempuan untuk bisa ikut mengakses, berpartisipasi, mengontrol, dan mengambil manfaat. 3. Perlindungan, artinya memberikan proteksi sampai

dapat dilepas.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(21)

BAB III

PENYELENGGARAAN PKH

PEREMPUAN

MELALUI SENI BUDAYA LOKAL

A. Tujuan Penyelenggaraan Program

Secara umum, tujuan penyelenggaraan program

pkh perempuan adalah untuk meningkatkan kecakapan

hidup perempuan melalui seni budaya local.

Secara khusus, tujuan PKH perempuan melalui seni

budaya local yang ingin adalah untuk:

1. Meningkatkan kualitas kecakapan personal, social, keterampilan vokasional dan intelektual melalui peningkatan kemampuan keberaksaraan perempuan marginal

2. Mereduksi potensi dampak resiko sosial kelompok perempuan marginal melalui diperolehnya

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(22)

keterampilan vokasional sebagai sarana meningkatkan pendapatan berbasis usaha mandiri atau kelompok

3. Memfasilitasi terciptanya situasi yang kodusif bagi perempuan marginal keluar dari kondisi marginal yang dialami menuju kehidupan yang lebih bermartabat

4. Membangun mental mandiri dan wirausaha untuk pemberdayaan, harkat dan martabat perempuan

B. Komponen Penyelenggaraan Program

1. Kompetensi Lulusan

Program Pendidikan kecakapan hidup

perempuan diselenggarakan dengan mengacu

kepada Standar Kompetensi sebagai berikut:

a. Memiliki perilaku dan etika yang mencerminkan

sikap orang beriman, bertanggung jawab dan

berinteraksi dengan lingkungan kerja,

masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

b. Mampu mengenal dan mengembangkan potensi

diri dalam rangkaaktualisasi diri untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

c. Memiliki keterampilan vokasional yang

dibutuhkan dalam meningkatkan ekonomi

keluarga dan masyarakat.

d. Mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat secara umum

dan bagi perempuan secara khusus.

2. Struktur Kurikulum Pembelajaran

Kurikulum pembelajaran dalam program

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(23)

pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal , secara garis besar dibagi ke dalam tiga kelompok kompetensi utama, yaitu: kelompok kompetensi kecakapan personal; kelompok kompetensi kecakapan sosial; dan kelompok kompetensi kecakapan vokasional.

Tabel berikut memberikan gambaran tentang struktur kurikulum pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya local:

No Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

Jam Pelajaran

(JP) Kecakapan Personal

1. Mengenal diri - Membangun percaya diri

- Mengenal potensi diri dalam seni budaya lokal

2 jp

2 jp

2. Menganalisis potensi seni budaya lokal

- Menggali potensi seni budaya lokal - Memanfaatkan

kemampuan seni budaya yang dimiliki untuk memecahkan

masalah dalam kehidupan sehari-hari

2 jp

Kecakapan Sosial 1. Berkomunikasi

mengggunakan Bahasa

Indonesia dan bahasa daerah yang baik dan benar

- Mendengarkan dan menyampaikan gagasan secara lisan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerah - Menyampaikan

gagasan secara tulisan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerah

4 jp

2. Bekerja sama - Bekerja sama dalam 2 jp

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(24)

dalam

mengembangkan potensi seni budaya lokal

mengambil

keputusan untuk mengembangkan seni budaya lokal - Saling pengertian

dalam bekerja sama Kecakapan Vokasional

1. Menguasai salah satu seni budaya lokal

Menjadi pelaku seni budaya lokal secara profesional 42 jp (penguasaan disesuaikan dengan jenis seni budaya lokal yang dipelajari) 2. Mengenali

peluang pasar untuk seni budaya lokal

- Mengidentifikasi peluang pasar seni budaya lokal

- Menentukan pasar seni budaya lokal - Menentukan

strategi promosi yang akan digunakan

6 jp

3. Mengelola keuangan dalam kelompok dan rumah tangga

- Menyusun rancangan anggaran

pendapatan dan pengeluaran

kelompok seni budaya lokal

- Membuat kas pendapatan dan pengeluaran

kelompok seni budaya lokal

- Menyusun rencana keuangan keluarga

6 jp

Jumlah 66 JP

3. Peserta Didik

Yang menjadi peserta didik di dalam program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal adalah perempuan dengan karakteristik sebagai berikut:

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(25)

a. Diutamakan yang berusia antara 18-45 tahun b. Berpendidikan rendah (tingkat keaksaraan

masih rendah/pasca keaksaraan dasar; putus sekolah dasar)

c. Tidak memiliki pekerjaan tetap atau penghasilan yang tidak pasti

d. Berdomisili di daerah pedesaan/perkotaan di sekitar lokasi penyelenggaraan program

e. Tidak mampu secara ekonomi, rentan terhadap permasalahan social

f. Bersedia mengikuti pembelajaran kecakapan personal, kecakapan sosial dan kecakapan vokasional yang terkait dengan seni budaya lokal yang akan dikembangkan

4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

a. Tenaga kependidikan (ketua/penyelenggaran) Yang dimaksud dengan tenaga kependidikan dalam program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal adalah ketua atau penyelenggara program, yaitu pihak yang bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, serta keberhasilan program ini.

b. Pendidik atau narasumber

Adalah pihak yang memiliki kompetensi yang memadai sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya local.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(26)

Pendidik/narasumber ditentukan oleh ketua atau penyelenggaran dengan mempertimbangkan kriteria sebagai berikut: 1) memiliki latar belakang pendidikan atau

pengalaman teknis sesuai dengan bidang kecakapan yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran;

2) memiliki pengalaman sebagai pendidik/tutor/nara sumber sesuai dengan bidang kecakapan yang akan disampaikan; 3) terkait kecakapan vokasional, diutamakan

pendidik atau narasumber yang berasal dari praktisi seni dan/atau wirausaha, memiliki pengalaman atau mengalami langsung kecakapan vokasional yang akan disampaikan.

5. Sarana dan Prasarana

Penyelenggara (lembaga) berkewajiban untuk memfasilitasi ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan pembelajaran program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya local.

Sarana dan prasarana yang disediakan harus memenuhi kelayakan dari segi teknis, kapasitas, kuantitas dan kualitas. Adapun sarana dan prasarana yang diperlukan

a. Sarana dan prasarana pembelajaran

1) Ruang/tempat pembelajaran baik teori maupun praktek beserta dengan

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(27)

kelengkapannya yang memadai

2) Peralatan pendukung pembelajaran (papan tulis, alat tulis, dan sesjenisnya) sesuai dengan metode pembelajaran yang diterapkan 3) Bahan ajar (sumber rujukan) sesuai dengan

kebutuhan pembelajaran

4) bahan dan alat praktek sesuai dengan kebutuha pembelajaran

b. Administrasi pembelajaran

1) Buku/formulir kehadiran peserta didik sesuai jadwal pembelajaran

2) Buku/formulir kehadiran pendidik/nara sumber sesuai kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan

3) Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran

4) Catatan/laporan proses pelaksanaan pembelajaran

5) Catanan lain yang diperlukan (catatan keuangan dan lain-lain)

6. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran terkait dengan penyelenggaraan program secara umum, kelompok belajar, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, serta tindak lanjut pasca pembelajaran

a. Penyelenggaraan secara umum

1) Program PKH perempuan melalui seni budaya lokal dilaksnaakan dalam dua tahap:

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(28)

pembelajaran/pelatihan peserta didik; dan

pendampinagn peserta didik pasca

pembelajarn/pelatihan

2) Cakupan pembelajaran sekurang-kurangnya

meliputi: kecakapan personal; dkecakapan

sosial; dan kecakapan vokasional;

3) Kegiatan pembelajaran dan/atau pelatihan

dilakukan sekurang-kurangnya 66 jam,

dilanjutkan pendampingan

sekurang-kurangnya selama dua bulan sejak

pembelajaran berakhir.

4) Penyelenggaran melakukan pendampingan

secara kelompok dan/atau perorangan

dengan kegiatan pokok praktik

pengembangan usaha ekonomi

produktif/kreatif

b. Kelompok belajar

1) Satu kelompok belajar terdiri dari 10 orang

perempuan sebagai peserta didik

2) Jika mampu dan memadai, penyelenggara

dapat mengelola lebih dari satu kelompok

belajar dengan jenis/bentuk seni yang sama

ataupun berbeda sesuai dengan kebutuhan

c. Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran

1) Penyelenggara bersama pendidik/nara sumber wajib membuat silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang hanya digunakan untuk mengembangkan kecakapan hidup peserta didik yang sudah ditetapkan;

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(29)

2) Silabus dan RPP dikembangkan dari setiap

standar kompetensi lulusan (SKL).

3) RPP dirancang secara komprehensif untuk

dilaksanakan pada satu kali atau lebih

pertemuan pembelajaran PKH Perempuan

sekaligus sesuai jadwal pembelajaran PKH

Perempuan yang ditetapkan.

4) RPP dibuat secara tertulis dengan cakupan dan struktur penulisan:

a) Identitas lembaga penyelenggara;

b) Jumlah peserta didik (kelompok belajar);

c) materi pokok

d) alokasi waktu

e) tujuan pembelajaran,

f) indikator capaian kompetensi peserta

didik

g) materi pembelajaran (turunan dari materi

pokok/subjek)

h) metodepembelajaran

i) media, alat, bahan, dan sumber belajar

j) langkah-langkah kegiatan pembelajaran;

dan

k) penilaian hasil pembelajaran

d. Materi pembelajaran

1) ditetapkan berdasarkan hasil analisis

kebutuhan belajar peserta didik dan

beorientasi untuk mencapai tujuan.

2) Ruang lingkup materi pembelajaran

kecakapan personal dan sosial

sekurang-(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(30)

kurangnya memuat:

a) Etika/budi pekerti, dan keteladanan

b) Keterampilan berkomunikasi

c) Keterampilan mengambil keputusan

d) Kesehatan keluarga

e) Kerukuntetanggaan dan perdamaian

f) Kepedulian/pelestarian lingkungan

g) Kecakapan mengatur keuangan

rumah tangga

3) KecakapanVokasional

Jenis atau bidang kecakapan vokasional

dipilih dengan memperhatikan kebutuhan

warga belajar, potensi dikembangan menjadi

usaha ekonomi produktif dan dapat

memberikan nilai tambah secara ekonomi

bagi peserta didik dan/atau kelompok peserta

didik, serta bahan baku produksi berbasis

potensi lokal dan mudah didapatkan.

e. Pasca-pembelajaran penyelenggara melakukan pendampingan kepada peserta didik secara

kelompok sekurang-kurangnya selama dua bulan

atau setara dengan 16 jam. Pendampingan

bertujuan untuk memberikan bantuan dan atau

bimbingan teknis dalam merintis,

mengembangkan, dan melaksanakan usaha

kelompok.

7. Pembiayaan

Biaya penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(31)

lokal dapat diperoleh dari berbagai sumber yang tidak mengikat

C. Kerangka Pikir Penyelenggaraan Program

Model penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal menggunakan

strategi “Pitik Walik Jambul” maksudnya adalah memilih titik titik bersama wali/pengampu jangan sampai bubar sebelum lulus / tercapai tujuan. Strategi ini dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut;

1. Pilih atau seleksi betul Titik Titik yang berpotensi untuk mendukung pelaksanaan model, titik titik yang

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(32)

dimaksud disini adalah perlu kegiatan identifikasi, antara lain; Lokasi/Tempat pengembangan, Calon Peserta Didik yang memiliki minat untuk belajar, Pendidik yang sanggup dan memiliki kompetensi untuk mengajar, Tenaga Kependidikan yang sanggup dan memiliki kemampuan untuk mengelola dan memfasilitasi kegiatan belajar mengajar, Jenis Keterampilan yang sesuai dengan budaya Lokal yang menjadi pilihan peserta didik dan berpeluang untuk menjadikan tambahan mata pencaharian.

2. Bersama Wali/Pengampu. Maksudnya adalah dalam pengembangan model ini diharapkan dengan sungguh sungguh melibatkan pengampu program yang terdiri dari pihak masyarakat maupun dari pihak mitra yang terkait dengan jenis keterampilan yang akan diajarkan, serta para pengembang model yang akhirnya akan diharapkan untuk memformulasikan ide/gagasan, ataupun harapan yang berkembang serta praktek yang terjadi dilapangan selama pengembangan model berlangsung. Hal ini penting untuk merancang dan mempersiapkan: tempat belajar, sarana prasarana belajar, kurikulum, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Jadwal belajar, dan hal lain yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pengembangan, termasuk biaya.

3. Jangan sampai bubar. Maksudnya untuk menjaga jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan maka perlu dijaga betul komitmen untuk memperoleh model yang diharapkan dan menjadikan peserta didik memiliki

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(33)

keterampilan yang diharapkan dapat menjadi tambahan penghasilan, maka pengembangan ini perlu dilakukan pemantaun dan pembinaan secara bertahap dan terencana, dengan melibatkan para pengembang dan pengampu lain yang terlibat dalam pengembangan model ini.

4. Sampai Lulus. Maksudnya adalah kegiatan pengembangan model ini dilakukan evaluasi sesuai dengan perkembangan peserta didik sampai dengan lulus. Peserta didik dinyatakan lulus ditandai adanya surat keterangan, sertifikat yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang dan peserta didik memiliki satu jenis keterampilan berbasis budaya lokal yang dapat menambah penghasilan.

D. Tahapan Penyelenggaraan PKH Perempuan melalui Seni Budaya Lokal

1. Identifikasi Kebutuhan Penyelengaraan Program Identifikasi menurut Kamus Besar bahas Indonesia, adalah tanda kenal diri, bukti diri, penentu atau penetapan identitas seseorang atau sesuatu. Sedangkan proses mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas seseorang atau sesuatu.

Maka, identifikasi program merupakan langkah awal dari pelaksanaan suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dan informasi sebanyak-banyaknya (yang lengkap) berkenaan dengan aspek

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(34)

yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program tersebut dan sumber data yang akan digali.

Dalam PKH perempuan melalui seni budaya lokal, minimal terdapat 3 aspek yang perlu diidentifikasi, yaitu: peserta didik, pendidik, dan jenis seni budaya lokal yang akan dikembangkan

Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah:

a. Identifikasi dan Seleksi calon peserta didik

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi dan menyeleksi calon peserta didik adalah sebagai berikut:

1) Sosialisasi program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Perempuan melalui Seni Budaya Lokal kepada aparat pemerintah, tokoh agama/tokoh masyarakat/tokoh seni, serta masyarakat setempat (dimana lokasi program akan diselenggarakan) untuk menginformasikan tentang program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Sosialisasi ini dapat dilakukan secara langsung (orientasi, ceramah atau tutorial) maupun tidak langsung (media, surat edaran, pamphlet/leaflet atau melalui siaran radio komunitas setempat).

2)

Tentukan criteria peserta didik yang akan direkrut, kemudian seleksi calon peserta didik berdasarkan criteria tersebut

.

b. Identifikasi dan Seleksi calon pendidik

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(35)

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi dan menyeleksi calon peserta didik adalah sebagai berikut :

a. Sosialisasi program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Perempuan melalui Seni Budaya Lokal yang kepada aparat pemerintah, tokoh agama/tokoh masyarakat/tokoh seni, serta masyarakat setempat (dimana lokasi program akan

diselenggarakan) untuk

menginformasikan tentang program dan kegiatan yang akan dilaksanakan

b. Identifikasi daftar nama yang dapat dijadikan calon pendidik sebanyak 2 (dua) orang berdasarkan kriteria sebagai berikut : (Kriteria dapat ditentukan sesuai kebutuhan)

1)Memiliki pengalaman dan keahlian tertentu sesuai bidang atau jenis seni budaya lokal yang akan dibelajarkan/ diajarkan dan dilatihkan.

2)Bersedia dan mampu membelajarkan dan melatih peserta didik sampai dengan selesai.

3)Pendidikan minimal setara SLTA 4)Berusia minimal 18 tahun

5)Memiliki kemampuan untuk membelajarkan dan memberdayakan

masyarakat (memiliki

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(36)

keterampilan/keahlian sesuai dengan yang dibutuhkan)

6)Bersedia memfasilitasi program pembelajaran yang ditandai dengan surat pernyataan kesediaan.

7)Mampu berkomunikasi dengan peserta didik (bahasa Indonesia dan bahasa daerah)

8)Memahami karasteristik dan kebutuhan belajar peserta didik

9)Memiliki keterampilan berusaha yang bisa diajarkan kepada peserta didik 10)Bisa menjadi panutan dalam

kehidupan bermasyarakat atau memiliki sifat sosial tinggi.

c. Identifikasi jenis seni budaya lokal yang akan dipilih.

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi dan menyeleksi seni budaya lokal calon peserta didik adalah sebagai berikut :

1) Sosialisasi program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Perempuan melalui Seni Budaya Lokal kepada aparat pemerintah, tokoh agama/tokoh masyarakat/tokoh seni, serta masyarakat setempat (dimana lokasi program akan diselenggarakan) untuk menginformasikan tentang program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan berbagai media,

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(37)

baik secara langsung atau melalui surat edaran, pamflet/leaflet atau melalui siaran radio komunitas setempat.

2) Identifikasi dan menggali potensi seni budaya lokal dengan membuat daftar jenis-jenis seni budaya lokal yang tersedia dan masih terpelihara dan perlu dikembangkan seperti seni music, seni tari, seni rupa, dan sejenisnya.

3) Dari daftar seni budaya lokal sudah diidentifikasi perlu dianalisis lagi jenis seni budaya lokal yang berpeluang dan memiliki prospek untuk meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi yang baik untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata lokal.

2. Orientasi Petugas Pelaksana

Orientasi merupakan wahana pengenalan tentang pekerjaan baru yang akan dilaksanakan. Orientasi dirancang untuk memberikan wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan baik kepada personal maupun lembaga berkaitan dengan informasi kegiatan yang akan dilaksanakan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan efektif.

Pada dasarnya, informasi yang disampaikan pada saat orientasi adalah:

a. Informasi umum tentang kegiatan yang akan dilakukan,

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(38)

b. Tinjauan tentang tujuan program dan mekanisme kerja serta produk yang dihasilkan,

c. Penyajian terperinci mengenai kebijakan dan pola pelaksanaan program.

Tujuan dari kegiatan orientasi teknis adalah memberikan informasi kegiatan dan penyamaan persepsi kepada unsur-unsur yang terlibat langsung dalam pengelolaan kegiatan/program yang akan dilaksanakan.

Langkah yang dilakukan untuk penyiapan dan pembentukan tim pengelola program adalah sebagai berikut:

a. Melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah desa untuk melakukan identifikasi terhadap personal-personal yang dapat direkomendasikan untuk menjadi tim pengelola program, baik dari perangkat pemerintah desa, unsur lembaga pemerintahan desa lainnya, tokoh-tokoh masyarakat maupun tokoh pemuda. Isikan di format 1 pada lampiran.

b. Melakukan pembahasan dan analisa bersama pemerintah desa untuk menentukan 5 (lima) orang calon pengelola program dan menentukan nama calon pengelola menurut tingkatan/urutan dalam struktur organisasi.

c. Menyampaikan permohonan kesedian/kesiapan kepada calon-calon pengelola kegiatan untuk menjadi tim pengelola kegiatan tingkat desa pada program.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(39)

d. Menetapkan struktur tim pengelola kegiatan tingkat desa oleh tim pengembang model dengan difasilitasi oleh lembaga pemerintah desa baik dalam bentuk surat keputusan (SK) atau surat perjanjian kerjasama lainnya.

e. Menyampaikan hak dan kewajiban. Menyampaikan serta menyepakati kewajiban (tugas/tanggungjawab) dan hak pengelola/penyelenggara

3. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) yang saling bertukar informasi.

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Prinsip yang diterapkan dalam program ini adalah:

a. Rekreatif artinya kegiatan pembelajaran memberikan rasa senang atau dapat dijadikan ajang rekreasi/ hiburan bagi peserta didik. Mereka tidak merasa sedang belajar karena

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(40)

melakukannya dengan senang, penuh semangat, dan tidak merasa bosan sehingga menyelesaikan pembelajaran sampai tuntas. Untuk di kegiatan awal pembelajaran, dapat dilakukan dengan memberikan permainan, nyanyian, atau kegiatan lain yang berkaitan dengan kegiatan inti yang akan disampaikan.

b.

Menggugah peserta didik untuk aktif bekerja sama, berdiskusi, membaca, menulis, berhitung, berbicara dan mendengarkan pada kegiatan inti. Ini berlaku untuk kompetensi inti kecakapan personal, kecakapan sosial dan kecakapan vokasional di luar kompetensi dasar menguasai salah satu seni budaya lokal. Materi-materi yang dipelajari dalam kegiatan inti diharapkan dapat membangkitkan rasa percaya diri peserta didik sekaligus kekompakan di antara mereka sebagai sebuah kelompok seni budaya lokal sekaligus memperkuat kecakapan personal, sosial dan vokasional. Pada kompetensi inti kecakapan sosial dengan kompetensi dasar menjadi pelaku seni budaya lokal secara profesional, peserta didik belajar menguasai seni budaya lokal yang berkembang dengan materi dan metode yang ada hubungannya (relevan) dengan seni budaya lokal yang dipelajari, peserta didik dapat memodifikasi seni budaya lokal menjadi sesuatu yang baru, tidak hanya dapat digunakan sebagai seni

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(41)

pertunjukkan tetapi menjadi kreasi baru yang memiliki nilai jual  

c. Memberikan penegasan dan penyimpulan di kegiatan penutup, yang diisi dengan pemberian kesimpulan dari pendidik mengenai materi yang disampaikan sekaligus tanya jawab dan curah pendapat dengan peserta didik mengenai hal-hal yang belum dimengerti.

d. Menggugah kreativitas peserta didik. Di akhir pertemuan, pendidik meminta peserta didik menuliskan pesan dan kesan mereka mengenai materi yang baru saja dipelajari. Hal ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik untuk terbiasa membuat catatan kegiatan yang akan sangat berguna sebagai bekal bila mereka telah menjadi sebuah kelompok seni budaya lokal. Kemudian peserta didik diminta untuk memberikan ide/ gagasannya tentang jenis kreasi lain dari seni budaya lokal yang telah dipelajari yang dapat dijadikan tambahan mata pencaharian mereka.

4. Pemantauan dan Pembinaan Program

Pemantauan atau monitoring dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mengikuti suatu program dan pelaksanaannya secara mantap, teratur dan terus-menerus dengan cara mendengar, melihat dan mengamati, serta mencatat/ merekam keadaan serta perkembangan program tersebut.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(42)

Jadi kegiatan pemantauan penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal yaitu kegiatan untuk mengikuti penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal yang telah dipilih sebelumnya, dengan cara melihat dan mengamati proses penyelenggaraan mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi, serta mencatat perkembangan program tersebut, apakah sudah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau tidak.

Pembinaan secara umum diartikan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu.

Dalam penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal, pengertian pembinaan adalah kegiatan memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penyelenggara, pengelola, dan pendidik yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan tujuan yang telah ditentukan, yaitu meningkatkan kecakapan hidup peserta didik melalui seni budaya lokal serta memelihara keberaksaraan mereka.

5. Evaluasi Penyelenggaraan Program

Evaluasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara perencanaan dengan implementasi dan hasil yang dicapai. Dalam

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(43)

rangka peningkatan mutu penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup perempuan (PKH) melalui seni budaya lokal, tuntutan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan merupakan keharusan karena penyelenggaraan program yang bermutu merupakan bagian dari akuntabilitas.

Guna mencapai akuntabilitas terhadap penyelenggaraan program PKH perempuan melalui seni budaya lokal ini, kegiatan evaluasi sebagai wahana kontrol dan pengendalian program mulai dari proses perencanaan, implementasi, output dan outcome yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mewujudkan akuntabilitas penyelenggaraan program dibutuhkan adanya evaluasi dengan menggunakan suatu aturan, ukuran dan kriteria sebagai indikator keberhasilan penyelenggaraan program tersebut.

Evaluasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara perencanaan dengan implementasi dan hasil yang dicapai. Selain itu tujuan evaluasi adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan penyelenggaraan program, mengetahui kekurangan, kelemahan, dan kekuatan dari segi perencanaan dan implementasi kegiatan/program penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal.

Evaluasi penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal dilakukan dalam dua kegiatan yaitu : penilaian

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(44)

pembelajaran (penilian awal, penilaian proses dan penilaian akhir) oleh pendidik dan penilaian akhir (setelah kegiatan/ program berakhir sehingga kegiatan evaluasi dapat dilakukan secara menyeluruh).

Komponen yang dievaluasi:

a. Pendidik. Evaluasi terhadap pendidik bertujuan untuk mengetahui apakah pendidik tersebut dapat memfasilitasi kebutuhan belajar peserta didik dengan tepat, apakah ada kekurangan, kelemahan, atau ketidaksesuaian antara perencanaan dengan implementasi dan hasil kegiatan yang disebabkan oleh faktor ketidakmampuan pendidik.

b. Peserta didik. Evaluasi terhadap peserta didik bertujuan untuk mengetahui perkembangan kemampuan, motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, hambatan atau permasalahan yang dihadapi peserta didik berkenaan dengan materi yang diberikan, baik teori maupun praktek.

c. Sarana dan perangkat pembelajaran. Evaluasi sarana dan perangkat pembelajaran dilakukan untuk mengetahui apakah sarana dan perangkat pembelajaran yang tersedia sudah sesuai dengan kebutuhan pembelajaran pendidikan kecakapan hidup perempuan dan seni budaya lokal, apakah sarana dan perangkat pembelajaran tersebut

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(45)

dapat digunakan oleh peserta didik dalam mendukung program keterampilan mereka

d. Pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan untuk mengetahui:

1) Efektifitas dan kesesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan program 2) Kesesuaian antara jadwal dengan

pelaksanaan pembelajaran

3) Proses pembelajaran yang dilakukan dan hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik 4) Kesulitan atau permasalahan yang dihadapi

dalam proses pembelajaran

5) Efektivitas seni budaya lokal yang telah dipelajari, baik dalam bentuk seni pertunjukan maupun yang telah dirubah ke dalam bentuk kreasi lain, terhadap peningkatan keterampilan dan kualitas hidup mata pencaharian peserta didik

6) Kesesuaian media dan metode pembelajaran yang digunakan dengan kebutuhan program serta dampaknya terhadap peningkatan keterampilan peserta didik

e. Penggunaan anggaran. Evaluasi penggunaan anggaran dilakukan untuk mengetahui kesesuaian anggaran yang disediakan dengan penggunaannya dengan melihat bukti fisik yang ada (nota atau catatan dan barang yang dibeli)

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(46)

BAB IV

PRASYARAT PENERAPAN

DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

MODEL

Model Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Perempuan melalui Seni Budaya Lokal merupakan pola pembelajaran bagi perempuan dengan harapan agar dapat meningkatkan tingkat perekonomian keluarganya dengan cara menggali potensi ekonomi dari vokasi seni atau budaya local yang dimilikinya. Dengan demikian, selain aspek ekonomi, diharapkan juga terjadi pemeliharaan dan pemertahanan budaya setempat.

Pembelajaran pada model ini dirancang untuk menumbuhkan kreatifitas peserta didik dalam memilih titik-titik yang potensial secara ekonomi untuk kemudian bersama-sama menentukan vokasi yang akan dikembangkan serta tetap menjaga komitmen dan motivasi dalam meraih tujuan.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(47)

A. Prasyarat Penerapan Model

Ditinjau dari judul model, Pendidikan Kecakapan HIdup (PKH) Perempuan melalui Seni Budaya Lokal, maka terdapat tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam penerapan model ini, yaitu substansi yang terkait dengan PKH, perempuan dan seni budaya lokal.

Adapun prasyarat yang harus dipenuhi adalah: 1. Peserta didik perempuan

Yang menjadi peserta didik di dalam model ini adalah perempuan; terutama yang memiliki kriteria seperti: berusia antara 18-45 tahun; tingkat pendidikan rendah (tingkat keaksaraan masih rendah/pasca keaksaraan dasar; putus sekolah dasar); tidak memiliki pekerjaan tetap atau penghasilan yang tidak pasti.

2. Tersedia seni budaya lokal

Titik awal dalam model ini adalah seni budaya, yang kenudian digali dan dikembangkan sehingga memunculkan jenis vokasi yang pada akhirnya meningkatkan taraf ekonomi. Oleh karena itu, seni budaya disini hanya sebagai alat atau media dalam mengembangkan jenis vokasi. 3. Berorientasi PKH

Seni budaya yang dipilih harus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi suatu vokasi yang berorientasi PKH. Artinya mampu meningkatkan kompetensi peserta didik baik

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(48)

dari aspek personal, social, vokasional, dan profesional

4. Sumber daya pendukungan

Untuk menerapkan model, maka diperlukan ketersediaan sumber daya pendukungan terutama yang berkenaan dengan saran dan prasarana. Sarpras yang dimaksudkan disini adalah segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran baik yang menyangkut dengan seni budaya (peralatan praktek kesenian) maupun yang terkait vokasi yang dikembangkan (alat dan bahan praktek vokasi)

B. Indikator Keberhasilan Model

Adapun indikator keberhasilan pengembangan model ditandai dengan terwujudnya model panduan yang merupakan rancangan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria dalam penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (PKH) perempuan melalui seni budaya lokal, dan peserta Didik memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta memperoleh peningkatan pendapatan dari seni budaya lokal yang dipelajari.

Selain itu, indikator keberhasilan program mengacu pada indikator pemberdayaan perempuan yang meliputi:

1. Akses, dalam arti kesamaan hak dalam mengakses sumber daya-sumber daya produktif di dalam lingkungan;

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(49)

2. Partisipasi, yaitu keikutsertaan dalam mendayagunakan aset atau sumber daya yang terbatas tersebut;

3. Kontrol, yaitu bahwa lelaki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kontrol atas pemanfaatan sumber daya-sumber daya tersebut;

4. Manfaat, yaitu bahwa lelaki dan perempuan harus sama-sama menikmati hasil-hasil pemanfaatan sumber daya atau pembangunan secara bersama dan setara

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(50)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Model Pendidikan Kecakapan Hidup Perempuan Melalui Seni Budaya Lokal merupakan model yang disusun untuk memberikan panduan kepada pendidik untuk memberikan pembelajaran dan pendampingan kepada peserta didik perempuan usia produktif yang menganggur, tidak memiliki pekerjaan, memiliki tingkat pendidikan dasar / putus sekolah di tingkat pendidikan dasar dan tingkat ekonomi pra sejahtera agar memiliki kecakapan personal, kecakapan sosial dan kecakapan vokasional di bidang seni budaya lokal.

Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan sate pete, yaitu saling bertemu, kooperatif dan terbuka. Aktivitas belajar berupaya menggugah peserta didik untuk aktif bekerja sama, berdiskusi, membaca, menulis, berhitung, berbicara dan mendengarkan. Materi-materi yang dipelajari dalam kegiatan inti diharapkan dapat mengembangkan rasa percaya diri peserta didik

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(51)

sekaligus kekompakan di antara mereka sebagai sebuah kelompok seni budaya lokal.

Sementara pendampingan dilakukan setelah pembelajaran berakhir. Kegiatan ini dilakukan oleh pendidik dan pengelola dalam hal memfasilitasi kelompok belajar program pendidikan kecakapan hidup melalui seni budaya lokal menjadi kelompok / organisasi seni budaya lokal, memfasilitasi kegiatan studi banding ke sanggar seni dan museum, memfasilitasi peserta didik untuk tampil dalam kegiatan-kegiatan seni dan mendampingi setiap pementasan yang dilakukan peserta didik.

Melalui pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal ini, indikator pemberdayaan perempuan dapat tercapai, yang meliputi: 1) akses perempuan untuk mengikuti pendidikan kecakapan hidup melalui seni budaya lokal, 2) partisipasi perempuan dalam kegiatan pembelajaran, 3) kontrol perempuan dalam mengambil keputusan di kelompok seni budaya lokal yang mereka bentuk, dan 4) manfaat yang diperoleh perempuan, yaitu meningkatkan kecakapan hidup dengan keterlibatannya dalam kelompok seni budaya lokal, dengan mampu mencari nafkah dari keahliannya di bidang seni budaya lokal sekaligus memelihara seni budaya lokal.

B. Rekomendasi

Pengembangan pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal membutuhkan

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(52)

komitmen dari berbagai pihak, karena proses yang dilakukan bukan hanya pekerjaan satu-dua orang saja, tetapi melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan. Masing-masing pihak memiliki peran yang sangat dibutuhkan, karena saling terkait dan saling melengkapi.

Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup perempuan melalui seni budaya lokal memerlukan kesiapan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari pengelola maupun pendidiknya. Oleh karena itu mereka perlu selalu mengembangkan diri di bidang seni budaya lokal. Di samping itu, diperlukan pula penyediaan sarana prasarana seni budaya lokal yang memadai sebagai penunjang kegiatan belajar.

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(53)

DAFTAR PUSTAKA

Anwar. 2006.

Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills

Education).

Bandung: Alfabeta

Asmani, Jamal Ma’mur. 2009.

Buku Panduan

Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah

.

Yogyakarta: Diva Press

Dwijowijoto, Riant Nugroho. 2008.

Kebijakan Publik

.

Jakarta: Elex Media Komputindo

Dwiningrum, Siti Irene Astuti. 2003.

Desentralisasi

dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan

.

Jakarta: Pustaka Pelajar

Karwono

&

Mularsih

Heni.2010.

Belajar

dan

pembelajaran serta pemanfaatan garis belajar

.

Jakarta: Cerdas Jaya

Notoatmodjo, Sukidjo. 2003.

Pengembangan Sumber

Daya Manusia

. Bandung: Rineka Cipta

Pardjono.

2003.

Pendidikan

Kejuruan

dengan

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi

Berorientasi

Kecakapan Hidup

. Makalah pada Lokakarya

Pembelajaran

dengan

KBK

Berorientasi

Kecakapan Hidup tanggal 29-30 April 2003 di

Fakultas Teknik UNY

Slamet PH, 2002,

Kepemimpinan Kepala Sekolah,

Makalah dan Lokakarya Nasional

Sadulloh,

Uyoh,

Drs.

2008.

Pengantar

Filsafat

Pendidikan

. Bandung: Alfabeta

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(54)

Salahudin, Drs, M.Pd. 2011.

Filsafat Pendidikan

.

Bandung: CV. Pustaka Setia

Soemanto,

Wasty.

1998.

Psikologi

Pendidikan

(Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan

). Jakarta:

Rineka Cipta

Sulistiyani, Ambar Teguh. 2004.

Memahami Good

Governance

dalam

Perspektif

Sumber

Daya

Manusia.

Yogyakarta: Gava Media

Suparno,

A.

Suhaenah.

2001.

Membangun

Kompetensi

Belajar

.

Jakarta:

Direktorat

Pendidikan Tinggi

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(55)

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(56)

(c

) P

P-

PA

U

D

&

D

IK

M

AS

J

(57)

Model PKH Perempuan melalui Seni Budaya Lokal

Pengarah: Ir. H. Djajeng Baskoro, M, Pd.

Penanggung Jawab: Dadan Supriatna, M.Pd.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya aplikasi tumbuh kembang balita berbasiskan web tersebut diharapkan ketepatan penyuluhan yang diberikan oleh kader posyandu dapat lebih meningkat

Area auditorik sekunder terletak di posterior dari area auditorik primer pada gyrus temporalis superior (area broadmann 22) yang menerima impuls dari area

Seorang pelaku usaha harus memiliki skill (kemampuan) untuk berwirausaha karena tanpa skill (kemampuan) seorang pelaku usaha tidak akan mungkin bisa

ANALISIS KONTRASTIF KATA YANG MENYATAKAN EMOSI MARAH DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA.. Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu

Sehingga diperlukan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan siswa agar hasil belajar siswa meningkat, salah satu model pembelajaran tersebut adalah Aptitude

Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh petugas pada Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Badung, tahun 2010 kondisi

Dengan demikian, Anda akan melihat tampilan folder yang meru- pakan folder lokasi asal file-file hasil pencarian... Tampilan Folder

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, seorang miskin.