• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN MASALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN MASALAH"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN MASALAH

2.1Tinjauan Pustaka

Pembangunan di Indonesia sangatlah penting untuk mensejahterakan masyarakat. Dalam pembangunan, tidak akan tercapai apabila tidak ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, hal ini ditujukan agar pembangunan tersebut berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat dan bangsa Indonesia. Disamping itu ada hal yang sangat berpengaruh terhadap pembangunan yaitu dana atau biaya untuk pembangunan itu sendiri. Salah satu sumber dana yang paling besar adalah dari pajak.

2.1.1 Pengertian Pajak

Menurut Rimsky K. Judisseno (2005:7), Pajak adalah suatu kewajiban kenegaraan dan pengabdian serta peran aktif warga negara dan anggota masyarakat lainnya untuk membiayai berbagai keperluan negara berupa Pembangunan Nasional yang pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang dan peraturanperaturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara. Menurut Undang-Undang No.16 Tahun 2009, tentang perubahan keempat atas Undang-Undang dan tata cara perpajakan pada pasal 1 ayat 1 berbunyi, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan

(2)

imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan menurut Erly Suandy (2013:2), Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan “surplus”-nya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investmen. Kemudian menurut Mardiasmo (2011:1), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasar undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra-prestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk mencapai kesejahteraan umum.1

2.1.2 Pengertian Tax amnesty

Tax amnesty adalah program pengampunan yang diberikan oleh Pemerintah kepada Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak yang seharusnya terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi pidana di bidang perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang belum dilaporkan

(3)

dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.2

 Tujuan Tax amnesty

1. Repatriasi atau menarik dana warga negara Indonesia yang ada di luar negeri.

2. Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek. 3. Menambah jumlah wajib pajak.

4. Mengintegrasikan sektor informal ke dalam sistem perekonomian. 5. Memanfaatkan dana yang tidak terpakai.

6. Langkah awal kebijakan rezim baru untuk menerapkan sanksi yang lebih besar.

7. Meningkatkan pertumbuhan nasional.

8. Meningkatkan basis perpajakan nasional, yaitu aset yang disampaikan dalam permohonan pengampunan pajak dapat dimanfaatkan untuk pemajakan yang akan datang.

 Subjek Tax amnesty

Subjek Tax amnesty adalah warga negara Indonesia baik yang ber NPWP maupun tidak yang memiliki harta lain selain yang telah dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak (warga negara yang pembayaran pajaknya selama ini masih belum sesuai dengan kondisi nyata).

(4)

 Objek Tax amnesty

Objek Tax amnesty adalah Harta yang dimiliki oleh Subjek Tax amnesty , artinya yang menjadi sasaran dari pembayaran uang tebusan adalah atas Harta baik itu yang berada di dalam negeri maupun diluar negeri.

Agar kepercayaan kepada masyarakat (Wajib Pajak) yang telah diberikan secara luas oleh pemerintah tersebut dapat berjalan dengan baik, maka disamping perlu diberikan adanya pembinaan dan pelayanan yang sebaik-baiknya juga perlu dilakukan pengawasan yang memadai agar kepercayaan tersebut tidak disalahgunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan yang berlaku. Pengawasan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah merupakan bagian penegakan agar proses dan pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakan tetap berada pada aturannya baik menurut undang-undang maupun peraturan pelaksanaannya. Karena keberhasilan sistem Self Assessment sangat bergantung pada kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak.

Sebagaimana lazimnya perundang-undangan, dalam Undang-Undang perpajakan pun diatur ketentuan pengenaan sanksi. Ketentuan pengenaan sanksi bermaksud adanya pencegahan terhadap wajib pajak yang lalai, tidak sadar dan tidak konsisten terhadap kewajiban perpajakan. Pengenaan sanksi paling tidak akan membuat sadar bagi Wajib Pajak yang telah melakukan kelalaian atau kesengajaan dan juga

(5)

bagi Wajib Pajak yang lain merupakan peringatan dini. Diharapkan dengan diterapkannya sanksi administrasi dalam perpajakan ini Wajib Pajak menjadi lebih termotivasi untuk memenuhi kewajiban perpajakannya Meskipun dalam Self Assessment System Wajib Pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung, melaporkan dan membayarkan jumlah yang terhutang, ia tetap harus jujur dan selalu berpegang teguh kepada ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.3 Ini berarti apabila ada Wajib Pajak yang menyimpang dari ketentuan kewajiban perpajakannya, kepadanya dapat dikenai sanksi yang bersifat administratif sampai dengan sanksi pidana. Sanksi administratif tindak pidana perpajakan berupa denda, bunga dan kenaikan. Sedangkan sanksi pidananya berupa: denda pidana, kurungan dan penjara. Penerapan sanksi disini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak terutama Wajib Pajak orang pribadi. Namun ternyata penerapan sanksi administrasi masih kurang mampu untuk membuat Wajib Pajak melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik. Oleh karena pajak merupakan sumber pendapatan negara yang utama, maka pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak mengeluarkan kebijakan yang mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi agar penerimaan negara dapat dimaksimalkan. Kebijakan tersebut adalah kebijakan Tax amnesty atau yang dikenal sebagai Tax amnesty .

(6)

 Yang dapat memanfaatkan kebijakan Tax amnesty: 1. Wajib Pajak Orang Pribadi

2. Wajib Pajak Badan

3. Wajib Pajak yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM)

4. Orang Pribadi atau Badan yang belum menjadi Wajib Pajak

 Penanda tangan di surat pernyataan : 1. Wajib Pajak orang pribadi;

2. Pemimpin tertinggi berdasarkan akta pendirian badan atau dokumen lain yang dipersamakan, bagi Wajib Pajak badan; atau 3. Penerima kuasa, dalam hal pemimpin tertinggi sebagaimana

dimaksud pada huruf b berhalangan.

 Persyaratan Wajib Pajak yang dapat memanfaatkan Tax amnesty :

1. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak; 2. Membayar Uang Tebusan;

3. Melunasi seluruh Tunggakan Pajak;

4. Melunasi pajak yang tidak atau kurang dibayar atau melunasi pajak yang seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan;

(7)

5. Menyampaikan SPT PPh Terakhir bagi Wajib Pajak yang telah memiliki kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan; dan

6. Mencabut permohonan:

o pengembalian kelebihan pembayaran pajak;

o pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dalam Surat Ketetapan Pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak yang di dalamnya terdapat pokok pajak yang terutang;

o pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar;

o keberatan;

o pembetulan atas surat ketetapan pajak dan surat keputusan;

o banding;

o gugatan; dan/atau

o peninjauan kembali, dalam hal Wajib Pajak sedang mengajukan permohonan dan belum diterbitkan surat keputusan atau putusan.

2.1.3 Periode Tax amnesty

Tax amnesty berlaku sejak disahkan hingga 31 Maret 2017, dan terbagi kedalam 3 (tiga) periode, yaitu:

(8)

2. Periode II : Dari tanggal 1 Oktober 2016 s.d 31 Desember 2016

3. Periode III : Dari tanggal 1 Januari 2017 s.d 31 Maret 2017 2.1.4 Kebijakan Tax amnesty

Kebijakan Tax amnesty adalah terobosan kebijakan yang didorong oleh semakin kecilnya kemungkinan untuk menyembunyikan kekayaan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena semakin transparannya sektor keuangan global dan meningkatnya intensitas pertukaran informasi antar negara. Kebijakan Tax amnesty juga tidak akan diberikan secara berkala. Setidaknya, hingga beberapa puluh tahun ke depan, kebijakan Tax amnesty tidak akan diberikan lagi.

Kebijakan Tax amnesty, dalam penjelasan umum Undang-Undang Pengampunan Pajak, hendak diikuti dengan kebijakan lain seperti penegakan hukum yang lebih tegas dan penyempurnaan Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan, Undang-Undang-Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta kebijakan strategis lain di bidang perpajakan dan perbankan sehingga membuat ketidakpatuhan Wajib Pajak akan tergerus di kemudian hari melalui basis data kuat yang dihasilkan oleh pelaksanaan Undang-Undang ini.

(9)

Ikut serta dalam Tax amnesty juga membantu Pemerintah mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi; merupakan bagian dari reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi; dan meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan.4

2.1.5 Tempat Pelaporan Tax amnesty

Dalam rangka lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak untuk mengikuti program Tax amnesty , telah diterbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 689/KMK.03/2016 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 656/KMK.03/2016 tentang Penetapan Tempat Tertentu sebagai Tempat Penyampaian Surat Pernyataan Harta dalam Rangka Pengampunan Pajak, bisa dilaporkan Ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditentukan oleh Menteri dengan membawa Surat Pernyataan.

Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditentukan oleh Menteri juga tempat awal yang harus dituju

(10)

untuk meminta penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan kelengkapan dokumen yang harus dilampirkan dalam Surat Pernyataan.

Dengan berlakunya aturan ini, Surat Pernyataan Harta dalam Rangka Pengampunan Pajak juga dapat disampaikan di lokasi-lokasi berikut:

Tabel 2.1 Tempat-tempat Pelaporan Tax amnesty

No Tempat Tertentu

1 Kantor Pusat Bank Mandiri

Corporate Lounge Lobby Utara, Gedung Plaza Mandiri Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling 36-38, Jakarta

2 Kantor Pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sentra Layanan Prioritas

Jalan Jenderal Sudirman Kavling 44-46, Jakarta

3 Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Jakarta Pusat Jalan Jenderal Sudirman Kavling 1, Jakarta

4 Kantor Bursa Efek Indonesia

Jalan Jenderal Sudirman Kavling 52-53 Jakarta Sumber : http://www.pajak.go.id/

(11)

2.1.6 Tata Cara Pelaporan Tax amnesty

Khusus untuk Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) berlaku ketentuan Standard Operation Procedures (SOP) sebagai berikut:

1. Wajib Pajak mengirimkan email pendaftaran dengan format:

o NAMA<spasi>NOMORmKTP<spasi>NOMORmTEL EPON<spasi>TANGGAL KEDATANGAN

o Lalu dikirimkan ke email: [email protected]

2. Wajib Pajak yang telah mengirimkan email pendaftaran akan menerima konfirmasi jadwal untuk tanggal kedatangan dari tim Komunikasi BEI

3. Wajib Pajak dipersilahkan untuk datang pada tanggal yang telah dikonfirmasi tersedia. Pastikan sebelum datang ke kantor BEI, Surat Pernyataan Harta dan Dokumen Pendukung dalam rangka pengampunan pajak, sudah lengkap.

4. Ketika sudah datang ke kantor BEI pada tanggal yang dijadwalkan, Wajib Pajak melakukan registrasi ulang di Meja Pendaftaran Penyampaian Dokumen Tax amnesty .

5. Petugas dari Direktorat Jenderal Pajak akan mendampingi Wajib Pajak ke Fasilitas TA Viewer, untuk pengecekan softcopy dokumen Tax amnesty .

6. setelah dilakukan pengecekan, dokumen Tax amnesty akan diterima oleh Petugas Penerima.

(12)

7. Petugas Peneliti akan menganalisa dokumen Tax amnesty . Sementara itu, wajib Pajak dipersilahkan menunggu di ruang tunggu Wajib Pajak yang telah disediakan.

8. Apabila ada informasi yang harus dikonfirmasi Petugas Peneliti, Wajib Pajak akan menerim panggilan ke ruang Peneliti.

9. Apabila dokumen Tax amnesty telah dinyatakan selesai oleh Petugas, Wajib Pajak akan menerima Tanda Terima Tax amnesty .

10. Surat Keterangan akan diterbitkan maksimal 10 hari setelah tanda terima diserahkan kepada Wajib Pajak.

11. Surat Keterangan akan dikirimkan ke alamat masing-masing Wajib Pajak.

2.1.7 Fasilitas Tax amnesty

Fasilitas Tax amnesty yang akan didapat oleh Wajib Pajak yang mengikuti program Tax amnesty antara lain:

1. Penghapusan pajak yang seharusnya terutang (PPh dan PPN dan/atau PPnBM), sanksi administrasi, dan sanksi pidana, yang belum diterbitkan ketetapan pajaknya;

2. Penghapusan sanksi administrasi atas ketetapan pajak yang telah diterbitkan;

(13)

3. Tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan;

4. Penghentian pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, dalam hal Wajib Pajak sedang dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan; dan

5. Penghapusan PPh Final atas pengalihan Harta berupa tanah dan/atau bangunan serta saham

2.1.8 Konsekuensi Tax amnesty

 Harta yang direpatriasi wajib dinvestasikan ke dalam negeri selama 3 tahun sejak dialihkan dalam bentuk:

1. Surat berharga Negara Republik Indonesia; 2. Obligasi Badan Usaha Milik Negara;

3. Obligasi lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah;

4. Investasi keuangan pada Bank Persepsi;

5. Obligasi perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan;

6. Investasi infrastruktur melalui kerja sama Pemerintah dengan badan usaha;

(14)

7. Investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh Pemerintah; dan/atau

8. Bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 Harta yang diungkapkan oleh Wajib Pajak tidak dapat dialihkan ke luar negeri selama 3 tahun sejak diterbitkan Surat Keterangan.

2.1.9 Sanksi

1. Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban Holding Period maka atas Harta bersih tambahan diperlakukan sebagai penghasilan pada Tahun Pajak 2016 dan dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;

2. Wajib Pajak yang telah mengikuti program Tax amnesty namun ditemukan adanya data mengenai Harta bersih yang kurang diungkapkan maka atas Harta dimaksud diperlakukan sebagai penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak sesuai dengan UU PPh dan ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari PPh yang tidak atau kurang dibayar.

3. Wajib Pajak yang tidak mengikuti program Tax amnesty namun ditemukan adanya data mengenai Harta bersih yang

(15)

tidak dilaporkan maka atas Harta dimaksud diperlakukan sebagai penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak serta sanksi administrasi sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

4. Wajib Pajak yang telah mengikuti program Tax amnesty namun ditemukan adanya data mengenai Harta bersih yang kurang diungkapkan maka atas Harta dimaksud diperlakukan sebagai penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak sesuai dengan UU PPh dan ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari PPh yang tidak atau kurang dibayar.

5. Wajib Pajak yang tidak mengikuti program Tax amnesty namun ditemukan adanya data mengenai Harta bersih yang tidak dilaporkan maka atas Harta dimaksud diperlakukan sebagai penghasilan pada saat ditemukan dan dikenai pajak serta sanksi administrasi sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

2.2Landasan Teori

Kebijakan Tax amnesty adalah terobosan kebijakan yang didorong oleh semakin kecilnya kemungkinan untuk menyembunyikan kekayaan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena semakin transparannya sektor keuangan global dan meningkatnya intensitas pertukaran informasi antar

(16)

negara. Kebijakan Tax amnesty juga tidak akan diberikan secara berkala. Setidaknya, hingga beberapa puluh tahun ke depan, kebijakan Tax amnesty tidak akan diberikan lagi.

Kebijakan Tax amnesty , dalam penjelasan umum Undang-Undang Pengampunan Pajak, hendak diikuti dengan kebijakan lain seperti penegakan hukum yang lebih tegas dan penyempurnaan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan, Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta kebijakan strategis lain di bidang perpajakan dan perbankan sehingga membuat ketidakpatuhan Wajib Pajak akan tergerus di kemudian hari melalui basis data kuat yang dihasilkan oleh pelaksanaan Undang-Undang ini.

Ikut serta dalam Tax amnesty juga membantu Pemerintah mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi; merupakan bagian dari reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi dan meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan.

2.2.1 Kelebihan dan Kekurangan Tax amnesty

(17)

1. Sumber daya yang dimiliki pada instansi aparatur pajak saat ini sudah memadai yang dapat mendukung diberlakukannya penerapan Tax amnesty . Demikian juga infrastruktur pendukung lainnya.

2. Bila kebijakan perpajakan seperti Tax amnesty diterapkan maka akan menciptakan kerelaan masyarakat untuk mendaftarkan diri menjadi Wajib Pajak dan menunaikan kewajiban perpajakannya seperti yang dilakukan pemerintah sebelumnya dengan sunset policy (kebijakan pemberian fasilitas perpajakan) maupun pemebebasan pajak fiskal bagi warga negara Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dengan syarat memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.

3. Kondisi ekonomi nasional saat ini relatif stabil dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Hal ini dapat menjamin pemberlakuan Tax amnesty .

4. Program ini dapat meningkatkan dana-dana masuk ke Indonesia yang cukup banyak di simpan di luar negeri. Di samping itu, dana-dana yang selama ini diparkir di luar negeri dapat kembali masuk ke tanah air bila pemerintah secepatnya menerapkan pengampunan pajak.

(18)

5. Tax amnesty dapat berpengaruh positif bagi pasar uang pada Bursa Efek Indonesia. Bila kebijakan ini diterapkan maka mempunyai potensi terjadi penambahan emiten baru karena perusahaan-perusahaan tidak perlu khawatir atas permasalahan pajak yang telah lewat. Karena masalah perpajakan merupakan salah satu faktor yang dianggap memberatkan bagi calon emiten untuk mengubah status perushaaannya menjadi perusahaan terbuka

6. pemerintah dapat mengkonsentrasikan atau memfokuskan pada upaya pemberantasan korupsi. Demikian juga dengan diimplementasikan Tax amnesty maka asset recovery nya lebih mudah karena tidak perlu melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan proses hukum lainnya untuk mengambil asset koruptor. Asset recovery adalah perbandingan antara jumlah kerugian negara yang didakwakan dengan penyitaan asset atau pengembalian asset korupsi. Selama ini persentase asset recovery masih relatif kecil. Persentase asset recovery dapat dijadikan acuan penentuan tarif Tax amnesty .

(19)

1. Tidak mempunyai payung hukum yang dapat menjadi landasan hukum implementasi Tax amnesty yang dapat memberikan aturan jelas. Hal ini akan menambah keraguan bagi wajib pajak dan calon wajib pajak. Namun apabila implementasi Tax amnesty akan diterapkan maka berartiharus di buat terlebih dahulu peraturan perpajakan (undang-undang) yang mengatur tentang hal itu. Hal in tentu saja akan memakan waktu yang lebih lama karena tentu saja harus mendapat persetujuan dari DPR (Dewan Pertimbangan Rakyat). 2. Dianggap mencederai asas keadilan

Tax amnesty dianggap mencederai keadilan bagi masyarakat yang selama ini patuh membayar pajak. Apalagi pada tahun 1964 dan 1984, Tax amnesty berjalan tidak efektif karena minimnya ketersediaan data perpajakan. Tidak ada lengkapnya basis data perpajakan membuka kemungkinan petugas pajak untuk mendeteksi kekayaan yang tak dilaporkan. Pengemplang pajak pun tak perlu khawatir akan tertangkap. Terlebih, kekayaan yang tidak dilaporkan pada umumnya berada di luar negeri sehingga benar-benar jauh dari jangkauan petugas pajak.

(20)

3. Tax amnesty dikhawatirkan tidak akan berjalan secara konsisten.

Banyak yang menilai jika kekurangan penerimaan pajak tidak hanya bisa diselesaikan dengan kebijakan pengampunan pajak tersebut. Belum adanya kejelasan mengenai kewajiban bagi wajib pajak untuk menempatkan kekayaannya di dalam negeri, besar kemungkinan individu-individu yang meminta pengampunan pajak akan menyembunyikan kembali kekayaan mereka di luar negeri ketika manfaat Tax amnesty tak lagi diberikan.

4. Tax amnesty Hanya Beri "Karpet Merah" bagi Koruptor Tax amnesty dalam RAPBNP 2016 dianggap sebagian orang bukan untuk kepentingan masyarakat. Mereka menilai, Tax amnesty hanya untuk kepentingan pengusaha yang memiliki dana besar di luar negeri. Pengampunan pajak hanya akan menjadi karpet merah untuk koruptor dan konglomerat yang mendapat keuntungan di Indonesia. Menurut mereka, Tax amnesty hanya dijadikan bahasa kampanye oleh politisi untuk memuluskan proyek-proyek swasta.

(21)

2.2.2 Peluang dan Tantangan Implementasi Tax amnesty di Indonesia Ada beberapa langkah yang ditempuh pemerintah Indonesia khususnya Direktorat Jenderal Pajak guna meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak, antara lain melaksanakan program Sensus Pajak Nasional. Selain itu melakukan penyempurnaan peraturan untuk menangani tindakan penghindaran pajak, tindakan penggelapan pajak melalui transfer pricing, dan pengenaan pajak final. Selain itu salah satu bentuk upaya atau inovasi lain dalam system perpajakan yang berguna meningkatkan penerimaan pajak tanpa menambah beban baik jenis pajak baru maupun persentase pajak yang sudah ada kepada masyarakat, dunia usaha dan para pekerja adalah melalui program Tax amnesty . Salah satu tujuan pengampunan pajak ini diharapkan dapat mengurangi citra negatif pada aparat perpajakan yang selalu dipersepsikan selalu bersikap sewenang-wenang dan harus selalu dihindari, berubah menjadi hubungan yang lebih “friendly.” Pada dasarnya inovasi atau upaya ini dapat diterapkan di Indonesia. Keunggulan yang diharapkan bila kebijakan Tax amnesty diimplementasikan yaitu akan dapat mendorong masuknya dana-danadari luar negeri yang dalam jangka panjang dapat digunakan sebagai pendorong investasi yang pada gilirannya bermanfaat untuk menstimulasi perekonomian nasional.

Di sisi lain kelemahannya bila diterapkan Tax amnesty adalah tidak serta merta menjamin peningkatan kinerja setoran pajak ke kas negara. Hal ini bisa sebaliknya berpotensi terjadinya penyelewengan,manipulasi dan

(22)

tindakan moral hazard lainnya. Para pengusaha yang memperoleh pemutihan pajak akan melakukan penggelapan kewajiban pajaknya. Kecuali bila diberlakukan Tax amnesty bersyarat. Contohnya pengampunan pajak bersyarat, wajib pajak harus transparan terhadap aset-aset dan penghasilan mereka. Hal ini guna menghindari kekeliruan yang sama tahun 1984 tidak terulang kembali yaitu minimnya akses informasi terhadap masyarakat dan minimnya keterbukaan/transparansi serta sosialisasi kebijakan ini.5

Gambar

Tabel 2.1 Tempat-tempat Pelaporan Tax amnesty

Referensi

Dokumen terkait

Se tiene conocimiento que las mujeres shuar eran muy atentas a la huerta y todavía lo son algunas mujeres que mantienen las costumbres propias. Por ejemplo yo he observado

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar passing bolavoli dengan penerapan media audio visual dan alat bantu pembelajaran pada siswa kelas XI IPA 3

o Penari: Pengguna utama bangunan. o Pengajar: Pengguna bangunan sebagai pendamping penari. o Wartawan: Merupakan tamu yang sifatnya sewaktu-waktu terkait dengan

Penelitian ini berawal dari pengamatan peneliti tentang kebiasaan siswa sekolah dasar yang gemar mengkonsumsi makanan jajanan di sekolah. Kebiasaan jajan ini sering

Penelitian ini penting untuk dilakukan karena setiap manusia memiliki respon yang berbeda dari setiap perubahan, Oleh karena itu perlu dilakukan eksplorasi lebih dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat respon berahi dan persentase kebuntingan pada kambing PE setelah di lakukan inseminasi buatan dan diinduksi

Dengan membuat sistem informasi penjualan tas berbasis web pada Gikita Online Shop, kita dapat membantu pengelola agar tidak lagi menggunakan cara manual dalam

Tujuan dari penulisan hukum ini adalah untuk mengetahui tanggung jawab ganti kerugian oleh Pemerintah Kepala Daerah Kota dan Dinas Bina Marga atas kelalaian yang