Hal. 1 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
KESIMPULAN
SEMINAR NASIONAL HARI ULANG TAHUN
IKATAN HAKIM INDONESIA KE-59
Pada hari ini : Rabu, tanggal 25 April 2012 pada SEMINAR NASIONAL HARI
ULANG TAHUN IKATAN HAKIM INDONESIA (IKAHI) ke-59 di Jakarta, dengan
Hal. 2 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
adalah :
a. ISTILAH, dalam restorative juctice dikenal :
1. Proses restorative adalah setiap proses, dimana korban
dan pelaku dan apabila perlu termasuk setiap individu atau anggota masyarakat yang dirugikan oleh kejahatan, ikut serta bersama-sama secara aktive di dalam memecahkan persoalan-persoalan yang timbul akibat kejahatan dengan bantuan dari seorang fasilitator, proses keadilan mencakup mediasi, konsiliasi,
pertemuan (confrencing) dan pemidanaan ;
2. Program keadilan restorative adalah setiap program yang
mendayagunakan proses restorative dan berusaha untuk
mencapai hasil (restorative juctice) berupa kesepatakan sebagai
hasil dari suatu proses restorative, termasuk tanggapan/reaksi dan program-program seperti reparasi, restitusi, dan pelayanan masyarakat, yang sesuai dengan kebutuhan individual dan kolektive serta tanggung jawab pihak-pihak dan ditujukan untuk mengintegrasikan kembali korban dan pelaku;
3. Pihak-pihak adalah korban, pelaku tindak pidana, dan
individu anggota masyarakat lain yang dirugikan oleh suatu tindak pidana dan mungkin dilibatkan dalam proses keadilan restorative ;
4. Fasilitator atau mdiator adalah setiap orang yang
berperan untuk memfasilitasi proses keadilan restorative, dengan cara yang adil dan tidak memihak ;
b. PENGGUNAAN PROGRAM-PROGRAM KEADILAN
RESTORATIVE
Proses keadilan restorative juctice dapat digunakan dalam setiap tahap system peradilan pidana, apabila terdapat bukti-bukti nyang cukuup untuk menuntut pelaku tindak pidana dan disertai dengan
kebebasan dan kesukarelaan korban dan pelaku untuk
mengundurkan diri dari pesetujuan setiap saat selama proses dan adanya kesepakatan yang harus dicapai secara sukarela dan memuat kewajiban-kewajiban yang wajar serta proporsional yang didasarkan atas fakta-fakta yang berkaitan dengan kasus yang terkait dengan memperhatikan disparitas akibat ketidakseimbangan baik kekuatan maupun perbedaan kultural, keamanan para pihak dan apabila proses restorative tidak tepat atau tidak mungkin dilakukan maka kasus tersebut harus dikembalikan kepada pejabat system peradilan pidana ;
c. PELAKSANAAN PROGRAM- PROGRAM KEADILAN
RESTORATIVE
Pelaksanaan program harus berpedoamn dan memenuhi standar yang dirumuskan harus jelas melalui responsive regulation, yang memuat asas-asas :
1. Kondisi kasus yang berkaitan yang diarahkan masuk
dalam proses keadilan restorative ;
2. Penanganan kasus setelah masuk dalam proses keadilan
Hal. 3 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
3. Kualifikasi, pelatihan dan penilaian terhadap fasilitator ;
4. Administrasi program keadilan restorative ;
5. Standar kompetensi dan rules of conduct yang
mengendalikan pelaksanaan keadilan restorative
Hal. 4 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
payung hukumnya di Indonesia, karena perkara kriminal diambil alih oleh negara yang diwakili jaksa, maka walaupun para pihak berdamai, perkara jalan terus kecuali delik aduan.
3. Hambatan lain untuk menerapkan restorative justice harus melalui jalur
memberi maaf dan meminta maaf (forgiveness dan apology). Harus
ditiadakan perasaan dendam,
4. Ada persamaan dengan restorative justice, yaitu ganti kerugian dan
sifatnya damai. Perbedaannya ialah, jika dalam restorative justice para
Hal. 5 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
yang terdampak oleh suatu kesalahan. Keadilan Restoratif sebagai nilai berkaitan dengan kesembuhan (pemulihan) korban ketidakadilan dan menempatkan korban sebelum terjadinya kejahatan termasuk reparasi hubungan antara pelaku dan korban. Keadilan Restoratif baik sebagai proses maupun sebagai proses erat kaitanya dengan rekonsiliasi antara pelaku dan korban.
2. Konsep Keadilan Restoratif berkembang dalam upaya penyelesaian
peristiwa pelanggaran HAM baik daiam keadaan damai maupun dalam keadaan konflik terutama setelah terjadi konlfik dengan mengutamakan
prinsip non-dominasi (non-domination) dan pemberdayaan dan
menghargai pendengaran (empowerment and respectful listening).
3. Keadilan Restoratif tidak sekedar membangun komunikasi antara pelaku
dan korban melainkan juga harus meliputi aspek rehabilitatif dari pemulihan (reparation); langkah tersebut disebutnya sebagai :" atonement model". Model ini mewajibkan pelaku menyampaikan permintaan maaf kepada korban perihal ketidakadilan di masa lampau, akan lebih baik dalam bentuk uang atau bentuk pemulihan lainnya.
4. Konsep keadilan restoratif merupakan varian dari tujuan hukum keempat,
disamping ketertiban, kepastian hukum, dan kemanfaatan , dan kini telah diakui baik dalam doktrin maupun dalam praktik penegakan hukum.
5. Kehendak untuk memasukkan konsep keadilan restoratif telah tampak
pada naskah RUU KUHP (2009) akan tetapi belum diwujudkan seutuhnya berbeda dengan KUHP Belanda (1996) dan KUHP Thailand dan KUHP Jepang dan KUHP Iran.
6. Dalam praktik hukum pidana di Indonesia telah
dihadapkan pada peristiwa pidana yang melibatkan mereka yang berasal dari golongan miskin sehingga telah menarik perhatian masyarakat luas dan kritik tajam terhadap aparatur hukum karena dianggap tidak memiliki pemahaman akan nilai keadilan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Pandangan positivisme hukum tetap menggunakan ketentuan pasal KUHP sebagai rujukan normatif untuk menyelesaikan peristiwa pidana yang dilakukan golongan miskin sedangkan pandangan lain mengklaim bahwa keadilan bagi golongan miskin adalah dengan tidak dilakukan penuntutan terhadap golongan tersebut sekalipun telah melanggar ketentuan KUHP.
KESIMPULAN AKHIR :
Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
Hal. 6 dari 6Hal.Kesimpulan Seminar Nasional
saat ini termasuk di Indonesia. Menempatkan pilihan Keadilan Restoratif dalam kebijakan hukum dan penegakan hukum pada peristiwa pidana tidak boleh dipertentangkan dengan pilihan lama Keadilan Retributif karena dua jenis Keadilan tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu penyelesaian perkara pidana untuk menemukan kebenaran materiel sekalipun dengan cara yang berbeda, kebenaran materiel melalui Keadilan Retributif lebih fokus pada pemidanaan (penghukuman) sedangkan kebenaran materiel Keadilan Restoratif dicapai jika telah terjadi pemulihan keadaan atau hubungan pelaku dan korban.
2. Bahwa meskipun persoalan restotatif justice baru merupakan cita-cita dan belum ada aturan formal dalam peraturan perundangan R.I. akan tetapi sudah ada dan hidup dalam beberapa masyarakat adat di Indonesia bahkan beberapa tahun terakhir Mahkamah Agung R.I. sudah menerapkan konsep restotatif justice dalam beberapa putusan perkara pidana ;
3. Bahwa penerapan restotatif justice tidak boleh diselesaikan diluar pengadilan akan tetapi harus dibingkai dalam suatu putusan hakim agar mempunyai kekuatan eksekutorial ;
Jakarta, 25 April 2012
Ketua Seksi Notulen Seminar
Ttd.