• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perda Jasa Usaha Kepriwisataan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perda Jasa Usaha Kepriwisataan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG

RETRIBUSI IZIN USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALI KOTA PRABUMULIH,

Menimbang : a. bahwa dengan telah diserahkanya sebagaian urusan pemerintahan di bidang kepariwisataan kepada Pemerintah Kota Prabumulih dipandang perlu untuk menggali, meningkatkan, membina dan mengembangkan usaha – usaha dibidang kepariwisataan.

b. bahwa pembinaan sebagaimana dimaksud huruf a diatas adalah pelayanan pemberian izin atas usaha – usaha kepariwisataan.

c. bahwa untuk memenuhi maksud tersebut perlu diatur dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Prabumulih.

Mengingat : 1. Undang–Undang Nomor 09 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427);

2. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

3. Undang–Undang Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Prabumulih (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4113);

4. Undang–Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);

5. Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437 ) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);

6. Undang–Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

(2)

8. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139);

9. Peraturan Daerah Kota Prabumulih 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Prabumulih (Lembaran Daerah Kota Prabumulih Tahun 2003 Nomor 42);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PRABUMULIH dan

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Daerah Kota Prabumulih.

2. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Prabumulih. 3. Walikota adalah Walikota Prabumulih

4. Wakil Walikota adalah Wakil Walikota Prabumulih

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Prabumulih

6. Dinas Pendidikan Nasional adalah Dinas Pendidikan Nasional Kota Prabumulih

7. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Perseroaan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau organisasi yang sejenis, Lembaga dana Pensiun, bentuk usaha tetap serta badan usaha lainnya

8. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelengaraan pariwisata

9. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusaha objek wisata dan daya tarik wisata.

10. Objek wisata adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan atau tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik wisata untuk dikunjungi wisatawan.

11. Usaha Kawasan Pariwisata adalah setiap usaha komersil yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan prasarana dan sarana untuk pengembangan pariwisata.

12. Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap / istirahat, memperoleh pelayanan, dan / atau pasilitas lainya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainya yng menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.

13. Restoran dan Rumah Makan adalah setiap usaha komersil yang ruang lingkup kegiatanya menyediakan hidangan makanan dan ditempat pengolahan.

14. Jasa Boga adalah setiap usaha yang menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman untuk umum yang diatas dasar pesanan dan hidangan di tempat pengelolahan. 15. Bar adalah setiap usaha yang ruang lingkup kegiatannya minuman keras dan minuman

lainnya untuk diminum ditempat usahanya.

(3)

17. Karaoke adalah setiap usaha berupa ruangan yang menyediakan sarana hiburan yang dilengkapi dengan fasilitas menyanyi.

18. Diskotik / Night Club adalah usaha jasa malam yang menampilkan musik hidup atau penyanyi.

19. Cafe adalah usaha pangan sebagian atau seluruh bangunan yang permanen atau tidak permanen / mobile / perpindahan yang dilengkapi untuk proses pembuatan, penyajian, dan penjualan makanan dan minuman ringan serta hanya dilengkapi dengan hiburan musik bagi umum ditempat usahanya.

20. Panti Pijat adalah usaha pemijatan tradisional / refleksi yang bersifat memberikan kesehatan tubuh kepada konsumen.

21. Panti Mandi uap adalah usaha jasa relaksasi tubuh.

22. Play Station dan Video Game adalah usaha komersil yang menyediakan sarana permainan anak – anak.

23. Salon Kecantikan adalah tempat yang menyediakan jasa kecantikan seperti perawatan muka, rambut, perawatan tubuh bagi konsumen.

24. Barber Shop adalah usaha jasa perawatan rambut khusus ditujukan kepada konsumen pria.

25. Pusat Kesehatan dan kebugaran adalah setiap usaha yang menyediakan sarana olah raga seperti senam, fitnes, dan aerobik.

26. Padang Golf adalah suatu tempat yang menggunakan lahan yang luas sebagai tempat rekreasi atau permainan golf.

27. Balai Pertemuan adalah suatu tempat yang representatif digunakan orang untuk musyawarah / resepsi.

28. Tempat Pameran adalah tempat diselenggarakannya suatu even / kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan produk / jasa kepada konsumen.

29. Pertunjukan Panggung Terbuka adalah usaha jasa hiburan yang dipentaskan terbuka untuk umum.

30. Pertunjukan Panggung Tertutup adalah usaha jasa hiburan yang dipentaskan didalam dengan ruang tertutup.

31. Kolam renang adalah suatu tempat komersil yang menyediakan jasa olah raga renang yang berupa kolam.

32. Kolam Pemancingan adalah usaha komersil yang menyediakan tempat berupa kolam ikan yang digunakan sebagai sarana dan prasarana memancing.

33. Pentas Pertunjukan Sirkus adalah suatu kegiatan komersil yang menampilkan atraksi baik orang maupun hewan pada tempat tersebut.

34. Biro Perjalanan Wisata adalah tempat usaha yang menyediakan dan merencanakan perjalanan wisata atau jasa pelayanan wisata.

35. Usaha Jasa Impresariat adalah jasa pengurusan penyelenggaraan hiburan, baik berupa mendatangkan, mengirim maupun mengembalikan serta membutuhkan tempat, waktu dan jenis hiburan.

36. Promosi Pariwisata adalah upaya untuk kegiatan secara sistematik guna menarik masyarakat untuk menggunakan waktu luangnya melakukan perjalanan wisata.

37. Usaha Jasa Konvensi, Perjalanan Intensif dan Pameran adalah usaha dengan kegiatan pokok memberikan jasa pelayanan bagi pertemuan suatu kelompok orang (Negarawan, Usahawan, Cendikiawan dan sebagainya) untuk membahas masalah–masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.

38. Mandala Wisata adalah tempat yang disediakan untuk penerangan wisata atau peragaan kesenian dan kebudayaan.

(4)

BAB II PERIZINAN

Pasal 2

Setiap orang atau badan yang menyelenggarakan jasa usaha Kepariwisataan dalam Daerah harus mendapat izin Walikota

Pasal 3

(1) Untuk mendapat izin jasa usaha Kepariwisataan sebagaimana dimaksud Pasal 2 pemohon terlebih dahulu harus mengajukan permohonan tertulis kepada Walikota.

(2) Syarat–syarat pengajuan permohonan izin jasa usaha Kepariwisataan sebagaimana dimaksud ayat (1), ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

Pasal 4

(1) Izin jasa usaha Kepariwisataan diberikan atas nama penyelenggara.

(2) Jangka waktu berlakunya izin jasa usaha Kepariwisataan ditetapkan selama usaha tersebut masih berjalan.

(3) Untuk pengendalian dan pengawasan izin jasa usaha Kepariwisataan sebagaimana dimaksud ayat (1), penyelenggaraan jasa Kepariwisataan wajib melakukan daftar ulang setiap 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal izin usaha Kepariwisataan ditetapkan.

(4) Dalam izin jasa usaha Kepariwisataan dimuat ketentuan–ketentuan yang harus dipatuhi oleh penyelenggaraan usaha Kepariwisataan.

(5) Syarat–syarat pengajuan permohonan daftar ulang sebagaimana dimaksud ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Walikota.

Pasal 5

Izin usaha Kepariwisataan sebagaimana dimaksud Pasal 2 dapat dicabut dan tidak berlaku, apabila penyelenggara :

a. Tidak melakukan kegiatan pokok sesuai izin yang diberikan.

b. Tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam izin usaha Kepariwisataan. c. Melakukan perluasan tempat usaha tanpa izin dari Walikota

d. Memindahtangankan izin usaha Kepariwisataan kepada pihak lain. e. Tidak melakukan daftar ulang.

BAB III RETRIBUSI Bagian Pertama Objek, dan Subjek Retribusi

Pasal 6

Dengan nama retribusi izin usaha Kepariwisataan dipungut biaya atas pelayanan pemberian izin jasa usaha Kepariwisataan.

Pasal 7

(5)

1. Usaha jasa pariwisata dan kebudayaan; a. Biro perjalanan wisata;

b. Agen Perjalanan Wisata; c. Pramuwisata;

d. Jasa angkutan wisata;

e. Jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran; f. Jasa impresariat;

g. Jasa konsultan pariwisata dan kebudayaan; h. Jasa informasi pariwisata dan kebudayaan;

2. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata (ODTW): a. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam; b. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata budaya; c. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata minat khusus; d. Pengusahaan tempat persinggahan (rest area);

e. Pengusahaan bumi perkemahan;

3. Usaha sarana wisata dan kebudayaan: a. Penyediaan sarana akomodasi:

1) Hotel, wisma, losmen dan pondok wisata; 2) Pondok remaja;

b. Penyediaan makanan dan minuman: 1) Restoran / Rumah Mkan / Café ; 2) Bar / Pub;

3) Katering / jasa boga;

c. Penyediaan sarana hiburan umum:

1) Bioskop;

2) Diskotik;

3) Tempat Karaoke;

4) Gelanggang permainan mekanik / elektronik (video games/ play station); d. Penyediaan sarana olahraga:

1) Gelanggang renang; 2) Kolam pemancingan.

3) Lapangan Bulutangkis (badminton);

4) Padang golf;

5) Lapangan sepak bola; 6) Lapangan atletik; 7) Lapangan tennis;

8) Sanggar senam kebugaran (aerobic); 9) Bola gelinding (Bowling);

10) Bola Sodok (billiard); e. Penyediaan sarana kesenian dan kebudayaan: f. Penyediaan sarana lain-lain;

(1) Gedung pertemuan;

(2) Mandi uap / mandi sauna (spa); (3) Panti pijat (massage);

(4) Salon kecantikan;

(5) Sanggar rias /dekorasi pengantin;

4. Usaha jasa pariwisata dan kebudayaan lainnya:

a. Pemberian lisensi / rekomendasi organisasai seni dan identitas seniman ( kartu tanda pengenal seniman);

b. Atraksi wisata, olah raga dan seni budaya;

(6)

Pasal 8

Subjek Retribusi adalah orang pribadi dan atau badan usaha yang memperoleh izin usaha Kepariwisataan.

Bagian Kedua Golongan Retribusi

Pasal 9

Retribusi izin Jasa Usaha Kepariwisataan termasuk golongan Retribusi Perizinan tertentu.

Bagian Ketiga Tingkat Pengguna Jasa

Pasal 10

Cara mengukur tingkat penggunaan jasa retribusi adalah dengan melihat jumlah izin yang dikeluarkan.

Bagian Keempat

Prinsip yang Dianut dalam Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi

Pasal 11

Prinsip yang dianut dalam penetapan tarif retribusi perizinan tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutupi sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan dan pengawasan, pengendalian, pembinaan serta pendapatan daerah.

Bagian Kelima

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 12

Struktur dan besarnya tarif retribusi izin jasa usaha Kepariwisataan adalah sebagai berikut :

No Jenis Usaha Retribusi Izin (Baru)

(7)

1 b. Hotel melati 3 c. Hotel melati 2 d. Hotel melati 1 Restoran /Rumah Makan b. 501 s/d keatas h. Bar

i. Klub Malam j. Diskotik k. Karaoke

a. Ruang tertutup/buka siang b. Ruang tertutup/buka

malam

c. Ruang terbuka/buka siang d. Ruang terbuka/buka

malam

l. Play Station dan Vidio Game

(8)

Bagian Keenam Wilayah Pemungutan

Pasal 13

Retribusi dipungut dalam Wilayah Daerah

Bagian Ketujuh Tata Cara Pemungutan

Pasal 14

Pemungutan Retribusi dilakukan oleh Dinas / Instansi teknis yang ditetapkan Walikota.

Pasal 15 (1) Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau Dokumen lain yang dipersamakan.

(3) Hasil pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disetor ke Kas Daerah melalui bendahara khusus penerima Dinas Pendapatan Daerah.

Bagian Kedelapan

Sanksi Administrasi Pasal 16

Dalam hal wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2 % ( dua persen) setiap bulan dari besarnya retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan mengunakan STRD.

Bagian Kesembilan Tata Cara Penagihan

(9)

(1) Pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan setelah 7 ( tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran dengan mengeluarkan surat bayar / penyetoran atau surat lainnya yang sejenis, sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran / peringatan / surat lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi retribusi terutang.

(3) Surat teguran / penyetoran / surat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.

Bagian Kesepuluh Kadaluwarsa

Pasal 18

(1) Penagihan retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi emalkukan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila: a. Diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa.

b. Ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

Bagian Kesebelas

Keringanan, Pengurangan, dan Pembebasan Retribusi

Pasal 19

(1) Walikota dapat memberikan keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi.

(2) Pemberian keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi.

BAB IV

PENYELENGGARAAN KEPARIWISATAAN Pasal 20

(4) Penyelenggara jasa usaha Kepariwisataan bertanggung jawab atas ketertiban, kesusilaan, kebersihan, keamanan dan kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan usaha Kepariwisataan.

(5) Dalam menjalankan usahanya, penyelenggara dapat berkoordinasi dengan Dinas / Instansi terkait.

(10)

Pengaturan tata ruang jasa usaha Kepariwisataan harus disesuaikan dengan peruntukannya dan memenuhi persyaratan kesehatan serta ketertiban lingkungan.

Pasal 22

(1) Memasang papan nama jasa usaha Kepariwisataan pada tempat yang mudah dibaca. (2) Menginformasikan tata tertib untuk setiap jenis jasa usaha Kepariwisataan.

Pasal 23

(1) Setiap jasa usaha Kepariwisataan harus memiliki buku penerima dan pengeluaran uang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang–undangan yang berlaku.

(2) Setiap pelaksanaan transaksi harus menggunakan faktur / yang dipersamakan sebagai bukti pembayaran.

Pasal 24

Untuk kelengkapan pelayanan, terhadap usaha Kepariwisataan khusus objek Restoran / Rumah Makan harus menyediakan daftar menu makanan.

Pasal 25

Sebagai bahan monitoring dan pengawasan terhadap penyelenggara jasa usaha Kepariwisataan berkewajiban menyampaikan laporan secara berkala, setiap bulan kepada Walikota melalui Dinas Pendidikan Nasional mengenai perkembangan usaha, jumlah tamu atau pengunjung.

BAB V

KETENTUAN PIDANA Pasal 26

(1) Pelanggaran terhadap Pasal 2 dan Pasal 6 Peraturan Daerah ini diancam Pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 ( empat ) kali jumlah retribusi yang terutang

(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran (3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetor ke Kas Daerah.

BAB VI PENYIDIKAN

(11)

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilakukan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan tindakan pidana dibidang Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang–Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. Menerima, mencuri, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan menjadi lebih lengkap dan jelas.

b. Meneliti, mencuri dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi daerah.

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah.

d. Memeriksa buku–buku, catatan–catatan, dan dokumen–dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang dan retribusi daerah.

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen–dokumen lain, serta melakukan penyelidikan terhadap bukti tersebut. f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana

retribusi daerah.

g. Menyuruh berhenti atau melarang seseorang untuk meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawah sebagaimana dimaksud pada huruf e.

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah.

i. Memanggil orang untuk didengar keterangan dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.

j. Memberhentikan penyidikan.

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi menurut hukum yang dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahu dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyelidikan kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang–Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

(12)

Hal–hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaanya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota

Pasal 29

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Prabumulih.

Ditetapkan di Prabumulih,

pada tanggal 2007 WALIKOTA PRABUMULIH

RACHMAN DJALILI

Diundangkan di Prabumulih, pada tanggal 2007 SEKRETARIS DAERAH

KOTA PRABUMULIH

ABDUL LATIEF MENDIWO

Referensi

Dokumen terkait

(2) Setiap orang atau badan usaha yang memiliki fasilitas pelayanan. kesehatan dan akan menyelenggarakan pelayanan dialisis

(5) Setiap orang atau badan yang memperoleh izin usaha perdagangan dan industri sebagaimana dimaksud ayat (3) wajib membayar retribusi..

Pengelola Jasa Penyediaan Akomodasi adalah setiap orang atau badan yang menyelenggarakan usaha penyediaan pelayanan penginapan untuk wisatawan yang dapat dilengkapi

Subjek Retribusi Izin Usaha Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh Izin Usaha Perikanan dari Pemerintah Daerah..

Izin adalah Surat Izin dalam bentuk tertulis yang di keluarkan oleh Kepala Daerah kepada orang atau badan hukum yang menyelenggarakan badan usaha;.. Pemegang Izin adalah orang

Setiap orang atau badan hukum yang melakukan kegiatan-kegiatan usaha perikanan di wilayah Kabupaten Tulungagung tanpa memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)

(1) Setiap orang pribadi atau badan yang akan melakukan usaha perikanan harus mendapatkan izin dari Walikota atau pejabat yang ditunjuk.. SIUP dan SIPI untuk

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 menjelaskan bahwa Badan Usaha Nasional yang menyelenggarakan Usaha Jasa Konstruksi wajib memiliki Izin Usaha yang dikeluarkan oleh