• Tidak ada hasil yang ditemukan

Website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK RI UU No.39 TH 2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK RI UU No.39 TH 2007"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Negara Kesat uan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bert uj uan unt uk mewuj udkan t at a kehidupan bangsa yang aman, t ert ib, sej aht era, dan berkeadilan;

b. bahwa cukai sebagai pungut an negara yang dikenakan t erhadap barang-barang t ert ent u yang mempunyai sif at at au karakt erist ik sesuai dengan undang-undang merupakan penerimaan negara guna mewuj udkan kesej aht eraan bangsa;

c. bahwa dal am upaya unt uk lebih memberikan kepast ian hukum dan keadilan sert a menggali pot ensi penerimaan cukai, perlu dilakukan perubahan t erhadap beberapa ket ent uan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai;

d. bahwa berdasarkan pert imbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membent uk Undang-Undang t ent ang Perubahan at as Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23A, dan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613);

Dengan Perset uj uan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menet apkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG

NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI.

Pasal I

Beberapa ket ent uan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613) diubah sebagai berikut :

(2)

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Cukai adalah pungut an negara yang dikenakan t erhadap barang-barang t ert ent u yang mempunyai sif at at au karakt erist ik yang dit et apkan dalam undang-undang ini.

2. Pabrik adalah t empat t ert ent u t ermasuk bangunan, halaman, dan lapangan yang merupakan bagian daripadanya, yang dipergunakan unt uk menghasilkan barang kena cukai dan/ at au unt uk mengemas barang kena cukai dalam kemasan unt uk penj ualan eceran.

3. Orang adal ah orang pribadi at au badan hukum.

4. Pengusaha pabrik adal ah orang yang mengusahakan pabrik. 5. Tempat penyimpanan adalah t empat , bangunan, dan/ at au

lapangan yang bukan merupakan bagian dari pabrik, yang dipergunakan unt uk menyimpan barang kena cukai berupa et il alkohol yang masih t erut ang cukai dengan t uj uan unt uk disalurkan, dij ual , at au diekspor.

6. Pengusaha t empat penyimpanan adalah orang yang mengusahakan t empat penyimpanan.

7. Tempat penj ualan eceran adalah t empat unt uk menj ual secara eceran barang kena cukai kepada konsumen akhir. 8. Pengusaha t empat penj ual an eceran adalah orang yang

mengusahakan t empat penj ualan eceran.

9. Penyalur adalah orang yang menyalurkan at au menj ual barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya yang semat a-mat a dit uj ukan bukan kepada konsumen akhir.

10. Dokumen cukai adalah dokumen yang digunakan dalam rangka pelaksanaan undang-undang ini dalam bent uk f ormulir at au melalui media elekt ronik.

11. Kant or adalah Kant or Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai. 12. Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai adalah unsur pelaksana

t ugas pokok dan f ungsi Depart emen Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai.

13. Ment eri adalah Ment eri Keuangan Republik Indonesia. 14. Direkt ur Jenderal adal ah Direkt ur Jenderal Bea dan Cukai. 15. Pej abat bea dan cukai adalah pegawai Direkt orat Jenderal

Bea dan Cukai yang dit unj uk dalam j abat an t ert ent u unt uk melaksanakan t ugas t ert ent u berdasarkan undang-undang ini. 16. Tempat penimbunan sement ara adalah bangunan dan/ at au

lapangan at au t empat lain yang disamakan dengan it u di kawasan pabean unt uk menimbun barang sement ara menunggu pemuat an at au pengeluarannya.

17. Tempat penimbunan berikat adalah bangunan, t empat , at au kawasan yang memenuhi persyarat an t ert ent u yang digunakan unt uk menimbun barang dengan t uj uan t ert ent u dengan mendapat kan penangguhan bea masuk.

(3)

19. Audit cukai adalah serangkaian kegiat an pemeriksaan laporan keuangan, buku, cat at an dan dokumen yang menj adi bukt i dasar pembukuan, dan dokumen lain yang berkait an dengan kegiat an usaha, t ermasuk dat a elekt ronik, sert a surat yang berkait an dengan kegiat an di bidang cukai dan/ at au sediaan barang dalam rangka pelaksanaan ket ent uan perundang-undangan di bidang cukai.

20. Surat t agihan adalah surat berupa ket et apan yang digunakan unt uk mel akukan t agihan ut ang cukai, kekurangan cukai, sanksi administ rasi berupa denda, dan/ at au bunga.

2. Ket ent uan Pasal 2 ayat (1) diubah sehingga Pasal 2 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 2

(1) Barang-barang t ert ent u yang mempunyai sif at at au

karakt erist ik:

a. konsumsinya perlu dikendalikan; b. peredarannya perlu diawasi;

c. pemakaiannya dapat menimbul kan dampak negat if bagi

masyarakat at au lingkungan hidup; at au

d. pemakaiannya perlu pembebanan pungut an negara demi

keadilan dan keseimbangan,

dikenai cukai berdasarkan undang-undang ini.

(2) Barang-barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dinyat akan sebagai barang kena cukai.

3. Di ant ara Pasal 3 dan Pasal 4 disisipkan 2 (dua) pasal, yakni Pasal 3A dan Pasal 3B sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 3A

(1) Dokumen cukai dan/ at au dokumen pelengkap cukai

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) disampaikan dalam bent uk t ulisan di at as f ormulir at au dalam bent uk dat a elekt ronik.

(2) Dokumen cukai dan/ at au dokumen pelengkap cukai

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan al at bukt i yang sah menurut undang-undang ini.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai dokumen cukai dan/ at au dokumen pelengkap cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

Pasal 3B

Terhadap barang kena cukai berl aku seluruh ket ent uan sebagaimana diat ur dalam undang-undang ini.

4. Pasal 4 t et ap dengan perubahan penj elasan Pasal 4 ayat (2) sehingga penj elasan Pasal 4 menj adi sebagaimana dit et apkan dalam penj elasan pasal demi pasal undang-undang ini.

(4)

Pasal 5

(1) Barang kena cukai berupa hasil t embakau dikenai cukai

berdasarkan t arif paling t inggi: a. unt uk yang dibuat di Indonesia:

1. 275% (dua rat us t uj uh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga j ual pabrik; at au

2. 57% (lima puluh t uj uh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adal ah harga j ual eceran. b. unt uk yang diimpor:

1. 275% (dua rat us t uj uh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean dit ambah bea masuk; at au

2. 57% (lima puluh t uj uh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adal ah harga j ual eceran. (2) Barang kena cukai l ainnya dikenai cukai berdasarkan t arif

paling t inggi:

a. unt uk yang dibuat di Indonesia:

1. 1. 150% (seribu serat us lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga j ual pabrik; at au

2. 80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila

harga dasar yang digunakan adal ah harga j ual eceran. b. unt uk yang diimpor:

1. 1. 150% (seribu serat us lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean dit ambah bea masuk; at au

2. 80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila

harga dasar yang digunakan adal ah harga j ual eceran. (3) Tarif cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

dapat diubah dari persent ase harga dasar menj adi j umlah dalam rupiah unt uk set iap sat uan barang kena cukai at au sebaliknya at au penggabungan dari keduanya.

(4) Penent uan besaran t arget penerimaan negara dari cukai pada Rancangan Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara (RAPBN) dan alt ernat if kebij akan Ment eri dalam mengopt imalkan upaya mencapai t arget penerimaan, dengan memperhat ikan kondisi indust ri dan aspirasi pelaku usaha indust ri, disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Repubik Indonesia (DPR RI) unt uk mendapat perset uj uan.

(5) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai besaran t arif cukai

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), sert a perubahan t arif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diat ur dengan perat uran ment eri.

6. Ket ent uan Pasal 6 ayat (3) diubah sehingga Pasal 6 berbunyi

sebagai berikut :

Pasal 6

(5)

(2) Harga dasar yang digunakan unt uk perhit ungan cukai at as barang kena cukai yang diimpor adalah nilai pabean dit ambah bea masuk at au harga j ual eceran.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai penet apan harga dasar diat ur dengan perat uran ment eri.

7. Judul BAB III diubah sehingga BAB III berbunyi sebagai berikut : BAB III

PELUNASAN, PENUNDAAN, DAN FASILITAS

8. Ket ent uan Bagian Pert ama diubah sehingga Bagian Pert ama

berbunyi sebagai berikut :

Bagian Pert ama Pelunasan

9. Ket ent uan Pasal 7 ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (8) diubah, di ant ara ayat (3) dan ayat (4) disisipkan 2 (dua) ayat , yakni ayat (3a) dan ayat (3b), sert a ayat (6) dan ayat (7) dihapus sehingga Pasal 7 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 7

(1) Cukai at as barang kena cukai yang dibuat di Indonesia,

dilunasi pada saat pengeluaran barang kena cukai dari pabrik at au t empat penyimpanan.

(2) Cukai at as barang kena cukai yang diimpor dilunasi pada saat barang kena cukai diimpor unt uk dipakai.

(3) Cara pelunasan cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dan ayat (2) dilaksanakan dengan: a. pembayaran;

b. pelekat an pit a cukai; at au

c. pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya.

(3a) Pencet akan pit a cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dan pengadaan t anda pel unasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilaksanakan oleh badan usaha milik negara dan/ at au badan at au l embaga yang dit unj uk oleh Ment eri dengan syarat -syarat yang dit et apkan.

(3b) Syarat -syarat yang dit et apkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3a) paling sedikit memenuhi asas keamanan, kont inuit as, ef ekt ivit as, ef isiensi, dan memberi kesempat an yang sama.

(4) Pit a cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dan t anda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c disediakan oleh Ment eri.

(5) Dalam hal pelunasan cukai dengan cara pelekat an pit a cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b at au pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c, dalam pelaksanaannya t idak sesuai dengan perat uran perundang-undangan di bidang cukai, cukai dianggap t idak dilunasi.

(6)

(8) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pelunasan cukai diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

10. Di ant ara Bagian Pert ama dan Bagian Kedua disisipkan 1 (sat u) bagian, yakni Bagian Pert ama A sehingga berbunyi sebagai berikut :

Bagian Pert ama A Penundaan

Pasal 7A

(1) Pelunasan cukai sebagaimana di maksud dalam Pasal 7 ayat

(3) huruf a pembayarannya dapat diberikan secara berkala kepada pengusaha pabrik dalam j angka wakt u paling lama 45 (empat puluh lima) hari sej ak t anggal pengeluaran barang kena cukai t anpa dikenai bunga.

(2) Penundaan pembayaran cukai dapat diberikan kepada

pengusaha pabrik dalam j angka wakt u:

a. paling lama 90 (sembilan puluh) hari sej ak t anggal

pemesanan pit a cukai bagi yang melaksanakan pelunasan dengan cara pelekat an pit a cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf b;

b. paling lama 45 (empat puluh lima) hari sej ak t anggal

pengeluaran barang kena cukai bagi yang melaksanakan pelunasan dengan cara pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf c.

(3) Penundaan pembayaran cukai dapat diberikan kepada

import ir barang kena cukai dalam j angka wakt u paling lama 60 (enam puluh) hari sej ak t anggal pemesanan pit a cukai bagi yang melaksanakan pelunasan dengan cara pelekat an pit a cukai sebagaimana dimaksud dal am Pasal 7 ayat (3) huruf b.

(4) Unt uk pembayaran secara berkala sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) pengusaha pabrik waj ib menyerahkan j aminan. (5) Unt uk mendapat penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) dan ayat (3), pengusaha pabrik at au import ir barang kena cukai waj ib menyerahkan j aminan.

(6) Jenis dan besaran j aminan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

(7) Pengusaha pabrik yang pel unasan cukainya dengan cara

pembayaran berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang t idak membayar cukai sampai dengan j angka wakt u pembayaran secara berkala berakhir, waj ib membayar cukai yang t erut ang dan dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar 10% (sepul uh persen) dari nilai cukai yang t erut ang.

(8) Pengusaha pabrik at au import ir barang kena cukai yang

mendapat penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) yang t idak membayar cukai sampai dengan j at uh t empo penundaan, waj ib membayar cukai yang t erut ang dan dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai cukai yang t erut ang.

(7)

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

11. Ket ent uan Pasal 8 ayat (3) dan ayat (4) diubah, dan di ant ara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (sat u) ayat , yakni ayat (2a) sehingga Pasal 8 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 8

(1) Cukai t idak dipungut at as barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) t erhadap:

a. t embakau iris yang dibuat dari t embakau hasil t anaman di Indonesia yang t idak dikemas unt uk penj ual an eceran at au dikemas unt uk penj ualan eceran dengan bahan pengemas t radisional yang lazim dipergunakan, apabila dalam pembuat annya t idak dicampur at au dit ambah dengan t embakau yang berasal dari luar negeri at au bahan l ain yang lazim dipergunakan dalam pembuat an hasil t embakau dan/ at au pada kemasannya at aupun t embakau irisnya t idak dibubuhi merek dagang, et iket , at au yang sej enis it u;

b. minuman yang mengandung et il alkohol hasil peragian

at au penyulingan yang dibuat oleh rakyat di Indonesia secara sederhana, semat a-mat a unt uk mat a pencaharian dan t idak dikemas unt uk penj ual an eceran.

(2) Cukai j uga t idak dipungut at as barang kena cukai apabila: a. diangkut t erus at au diangkut lanj ut dengan t uj uan luar

daerah pabean; b. diekspor;

c. dimasukkan ke dalam pabrik at au t empat penyimpanan; d. digunakan sebagai bahan baku at au bahan penolong dalam

pembuat an barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai;

e. t elah musnah at au rusak sebelum dikeluarkan dari pabrik, t empat penyimpanan at au sebel um diberikan perset uj uan impor unt uk dipakai.

(2a) Perubahan barang kena cukai yang t idak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan perubahan t uj uan barang kena cukai yang t idak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dit et apkan oleh Ment eri.

(3) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, at au set iap orang yang melanggar ket ent uan t ent ang t idak dipungut nya cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit 2 (dua) kal i nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nil ai cukai yang seharusnya dibayar.

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

(8)

Pasal 9

(1) Pembebasan cukai dapat diberikan at as barang kena cukai: a. yang digunakan sebagai bahan baku at au bahan penol ong

dalam pembuat an barang hasil akhir yang bukan merupakan barang kena cukai;

b. unt uk keperluan penelit ian dan pengembangan ilmu

penget ahuan;

c. unt uk keperluan perwakilan negara asing besert a para

pej abat nya yang bert ugas di Indonesia berdasarkan asas t imbal balik;

d. unt uk keperluan t enaga ahli bangsa asing yang bert ugas pada badan at au organisasi int ernasional di Indonesia;

e. yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut ,

pelint as bat as at au kiriman dari luar negeri dalam j umlah yang dit ent ukan;

f . yang dipergunakan unt uk t uj uan sosial;

g. yang dimasukkan ke dalam t empat penimbunan berikat .

(1a) Perubahan t uj uan barang kena cukai yang diberikan

pembebasan cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.

(2) Pembebasan cukai dapat j uga diberikan at as barang kena

cukai t ert ent u yait u:

a. et il alkohol yang dirusak sehingga t idak baik unt uk

diminum;

b. minuman yang mengandung et il alkohol dan hasil

t embakau, yang dikonsumsi ol eh penumpang dan awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar daerah pabean.

(3) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, at au set iap orang yang melanggar ket ent uan t ent ang pembebasan cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) at au ayat (2), dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit 2 (dua) kali nil ai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. (4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara pembebasan cukai

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

13. Ket ent uan Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diubah, dan di ant ara ayat (2) dan ayat (3) disi sipkan 3 (t iga) ayat , yakni ayat (2a), ayat (2b), dan ayat (2c) sehingga Pasal 10 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 10 (1) Penagihan dilakukan at as:

a. ut ang cukai yang t idak dibayar pada wakt unya; b. kekurangan cukai; dan/ at au

c. sanksi administ rasi berupa denda.

(9)

(2a) Pembayaran ut ang cukai, kekurangan cukai, dan/ at au sanksi administ rasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang melebihi j angka wakt u sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) set iap bulan unt uk paling lama 24 (dua puluh empat ) bul an dari nilai ut ang cukai, kekurangan cukai, dan/ at au sanksi administ rasi berupa denda yang t idak dibayar.

(2b) Dalam hal t ert ent u, at as permint aan pengusaha pabrik, Direkt ur Jenderal dapat memberikan kemudahan unt uk mengangsur pembayaran t agihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam j angka wakt u paling lama 12 (dua belas) bulan dan dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) set iap bulan.

(2c) Pembayaran ut ang cukai, kekurangan cukai, dan sanksi

administ rasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (2a) j umlahnya dibulat kan dalam ribuan rupiah.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara penagihan dan pengangsuran diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

14. Ket ent uan Pasal 12 diubah sehingga Pasal 12 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 12

(1) Pengembal ian cukai yang t elah dibayar diberikan dalam hal:

a. t erdapat kelebihan pembayaran karena kesalahan

penghit ungan;

b. barang kena cukai diekspor;

c. barang kena cukai diolah kembali di pabrik at au

dimusnahkan;

d. barang kena cukai mendapat pembebasan cukai

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9;

e. pit a cukai dikembalikan karena rusak at au t idak dipakai; at au

f . t erdapat kelebihan pembayaran sebagai akibat put usan Pengadilan Paj ak.

(2) Pengembal ian cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan paling lama 30 (t iga puluh) hari sej ak dit et apkannya kelebihan pembayaran.

(3) Apabila pengembalian cukai dil akukan set elah j angka wakt u 30 (t iga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemerint ah memberikan bunga 2% (dua persen) perbulan, dihit ung set elah j angka wakt u t ersebut berakhir sampai dengan saat dilakukan pengembalian.

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pengembalian cukai diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

(10)

(3a); di ant ara ayat (5) dan ayat (6) disisipkan 2 (dua) ayat , yakni ayat (5a) dan ayat (5b) sehingga Pasal 14 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 14

(1) Set iap orang yang akan menj alankan kegiat an sebagai: a. pengusaha pabrik;

b. pengusaha t empat penyimpanan; c. import ir barang kena cukai; d. penyalur; at au

e. pengusaha t empat penj ualan eceran,

waj ib memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai dari Ment eri.

(1a) Kewaj iban memiliki izin unt uk menj alankan kegiat an sebagai penyalur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d at au pengusaha t empat penj ualan eceran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berlaku unt uk et il alkohol dan minuman yang mengandung et il alkohol .

(1b) Kewaj iban memiliki izin unt uk menj alankan kegiat an sebagai penyalur at au pengusaha t empat penj ualan eceran selain et il alkohol dan minuman yang mengandung et il alkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (1a) dit et apkan dengan perat uran ment eri.

(1c) Import ir barang kena cukai yang t elah memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat melaksanakan impor barang kena cukai.

(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada: a. orang yang berkedudukan di Indonesia; at au

b. orang yang secara sah mewakili badan hukum at au orang

pribadi yang berkedudukan di l uar Indonesia.

(3) Dalam hal pemegang izin sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) huruf a adalah orang pribadi, apabila yang bersangkut an meninggal dunia, izin dapat dipergunakan selama dua belas bulan sej ak t anggal meninggal yang bersangkut an ol eh ahli waris at au yang dikuasakan dan set el ah l ewat j angka wakt u t ersebut , izin waj ib diperbaharui.

(3a) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibekukan, dalam hal :

a. adanya bukt i permulaan yang cukup bahwa pemegang izin

melakukan pelanggaran pidana di bidang cukai;

b. adanya bukt i yang cukup sehingga persyarat an perizinan t idak lagi dipenuhi; at au

c. pemegang izin berada dalam pengawasan kurat or

sehubungan dengan ut angnya.

(4) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dicabut

dalam hal :

(11)

d. pemegang izin t idak lagi secara sah mewakili badan hukum at au orang pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia;

e. pemegang izin dinyat akan pailit ;

f . t idak dipenuhi ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (3);

g. pemegang izin dipidana berdasarkan keput usan hakim

yang t elah mempunyai kekuat an hukum t et ap karena melanggar ket ent uan undang-undang ini;

h. pemegang izin melanggar ket ent uan Pasal 30; at au

i. Izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai

dipindaht angankan, dikuasakan, dan/ at au dikerj asamakan dengan orang/ pihak l ain t anpa perset uj uan Ment eri.

(5) Dalam hal izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicabut , t erhadap barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya yang masih berada di dalam pabrik at au t empat penyimpanan harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan dari pabrik at au t empat penyimpanan dalam wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak dit erimanya surat keput usan pencabut an izin.

(5a) Dalam hal ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) t idak dipenuhi, barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c dimusnahkan.

(5b) Dalam hal ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) t idak dipenuhi, barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf d diat ur l ebih lanj ut dengan perat uran ment eri.

(6) Ket ent uan mengenai pelunasan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) t idak berlaku bagi import ir barang kena cukai, penyalur, dan pengusaha t empat penj ualan eceran.

(7) Set iap orang yang menj alankan kegiat an sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) t anpa memiliki izin dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp20. 000. 000, 00 (dua puluh j ut a rupiah) dan paling banyak Rp200. 000. 000, 00 (dua rat us j ut a rupiah).

(8) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai perizinan diat ur dengan at au berdasarkan perat uran pemerint ah.

16. Judul BAB VI diubah sehingga BAB VI berbunyi sebagai berikut :

BAB VI

PEMBUKUAN DAN PENCACAHAN

17. Judul Bagian Pert ama diubah sehingga Bagian Pert ama berbunyi sebagai berikut :

Bagian Pert ama Pembukuan

(12)

Pasal 16

(1) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, at au penyalur yang waj ib memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d waj ib menyelenggarakan pembukuan. (2) Dikecualikan dari kewaj iban sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) t et api waj ib melakukan pencat at an adalah pengusaha pabrik skala kecil, penyalur skala kecil yang waj ib memiliki izin, dan pengusaha t empat penj ual an eceran yang waj ib memiliki izin.

(3) Pengusaha pabrik waj ib memberit ahukan secara berkala

kepada Kepala Kant or t ent ang barang kena cukai yang selesai dibuat .

(4) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, at au penyalur yang waj ib memiliki izin, yang t idak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar Rp50. 000. 000, 00 (lima puluh j ut a rupiah).

(5) Pengusaha pabrik skala kecil, penyalur skala kecil yang waj ib memiliki izin, dan pengusaha t empat penj ualan eceran yang waj ib memiliki izin, yang t idak melakukan pencat at an sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar Rp10. 000. 000, 00 (sepuluh j ut a rupiah).

(6) Pengusaha pabrik yang t idak memberit ahukan barang kena

cukai yang selesai dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar 2 (dua) kali nilai cukai dari barang kena cukai yang t idak diberit ahukan. (7) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pencat at an sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dan pemberit ahuan mengenai barang kena cukai yang selesai dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

19. Di ant ara Pasal 16 dan Pasal 17 disisipkan 2 (dua) pasal, yakni Pasal 16A dan Pasal 16B sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 16A

(1) Pembukuan waj ib diselenggarakan dengan baik yang

mencerminkan keadaan at au kegiat an usaha yang sebenarnya dan sekurang-kurangnya t erdiri dari cat at an mengenai hart a, kewaj iban, modal , pendapat an, biaya, dan arus keluar masuknya barang kena cukai.

(2) Pembukuan waj ib diselenggarakan di Indonesia dengan

menggunakan huruf lat in, angka arab, mat a uang rupiah, sert a bahasa Indonesia, at au dengan mat a uang asing dan bahasa lain yang diizinkan ol eh Ment eri.

(13)

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pedoman penyelenggaraan pembukuan diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

Pasal 16B

Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, at au penyalur yang waj ib memiliki izin, yang t idak melaksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16A dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar Rp25. 000. 000, 00 (dua pul uh lima j ut a rupiah).

20. Ket ent uan Pasal 17 ayat (2) diubah sehingga Pasal 17 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 17

(1) Pej abat bea dan cukai waj ib menyelenggarakan buku rekening barang kena cukai unt uk set iap pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan mengenai barang kena cukai t ert ent u yang masih t erut ang cukai dan berada di pabrik at au t empat penyimpanan.

(2) Pej abat bea dan cukai mencat at barang kena cukai

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) dan Pasal 25 ayat (1) at au ayat (3) yang masih t erut ang cukai ke dalam buku rekening barang kena cukai.

(3) Pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan

bert anggung j awab at as ut ang cukai dari barang kena cukai yang ada menurut buku rekening barang kena cukai.

21. Ket ent uan Pasal 18 ayat (1) diubah sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 18

(1) Buku rekening barang kena cukai dit ut up pada set iap akhir t ahun kalender.

(2) Buku rekening barang kena cukai j uga dit ut up set elah

dilakukan pencacahan at au at as permint aan pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan.

(3) Ket ent uan t ent ang buku rekening barang kena cukai

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), sert a dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) diat ur lebih l anj ut oleh Ment eri.

22. Ket ent uan Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) diubah, dan di ant ara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (sat u) ayat , yakni ayat (1a) sehingga Pasal 19 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 19

(1) Pej abat bea dan cukai waj ib menyelenggarakan buku

rekening kredit unt uk set iap pengusaha pabrik yang mendapat kan kemudahan pembayaran berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A ayat (1).

(14)

penundaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A ayat (2) dan ayat (3).

(2) Ket ent uan lebih l anj ut mengenai buku rekening kredit

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

23. Pasal 20 t et ap dengan perubahan penj el asan Pasal 20 ayat (2) sehingga penj elasan Pasal 20 menj adi sebagaimana dit et apkan dalam penj elasan pasal demi pasal undang-undang ini.

24. Ket ent uan Pasal 25 ayat (4) dan ayat (5) diubah, dan di ant ara ayat (4) dan ayat (5) disisipkan 1 (sat u) ayat , yakni ayat (4a) sehingga Pasal 25 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 25

(1) Pemasukan at au pengeluaran barang kena cukai ke at au dari pabrik at au t empat penyimpanan, waj ib diberit ahukan kepada Kepala Kant or dan dilindungi dengan dokumen cukai.

(2) Pemasukan at au pengeluaran barang kena cukai sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan di bawah pengawasan pej abat bea dan cukai.

(3) Dalam hal pemasukan at au pengeluaran barang kena cukai di bawah pengawasan pej abat bea dan cukai, yang menj adi dasar unt uk membukukan dalam buku rekening barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 adalah yang didapat i oleh pej abat bea dan cukai yang bersangkut an.

(4) Pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan yang mengeluarkan barang kena cukai dari pabrik at au t empat penyimpanan, yang t idak melaksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar 2 (dua) kali nilai cukai dari barang kena cukai yang dikeluarkan.

(4a) Pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan, yang memasukkan barang kena cukai ke pabrik at au t empat penyimpanan t anpa mengindahkan ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp10. 000. 000, 00 (sepuluh j ut a rupiah) dan paling banyak Rp50. 000. 000, 00 (lima puluh j ut a rupiah).

(5) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pemasukan at au pengeluaran barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

25. Ket ent uan Pasal 26 ayat (3) dan ayat (4) diubah sehingga Pasal 26 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 26

(1) Dalam keadaan darurat , barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dapat dipindahkan ke luar pabrik at au t empat penyimpanan t anpa dilindungi dokumen cukai.

(2) Pemindahan barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada

(15)

(3) Pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan yang t idak melaporkan pemindahan barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya karena keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp1. 000. 000, 00 (sat u j ut a rupiah) dan paling banyak Rp10. 000. 000, 00 (sepuluh j ut a rupiah).

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

26. Ket ent uan Pasal 27 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diubah sehingga Pasal 27 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 27

(1) Pengangkut an barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya harus dilindungi dengan dokumen cukai.

(2) Pengangkut an barang kena cukai t ert ent u, walaupun sudah dilunasi cukainya, harus dilindungi dengan dokumen cukai.

(3) Set iap orang yang t idak memenuhi ket ent uan t ent ang

pengangkut an barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

(4) Set iap orang yang t idak memenuhi ket ent uan t ent ang

pengangkut an barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp5. 000. 000, 00 (lima j ut a rupiah) dan paling banyak Rp50. 000. 000, 00 (lima puluh j ut a rupiah).

(5) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pengangkut an barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

27. Ket ent uan Pasal 29 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diubah, dan di ant ara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (sat u) ayat , yakni ayat (2a) sehingga Pasal 29 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 29

(1) Barang kena cukai yang pelunasan cukainya dengan cara

pelekat an pit a cukai at au pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya hanya boleh dit awarkan, diserahkan, dij ual, at au disediakan unt uk dij ual, set elah dikemas unt uk penj ualan eceran dan dilekat i pit a cukai at au dibubuhi t anda pel unasan cukai lainnya yang diwaj ibkan.

(2) Barang kena cukai yang pelunasan cukainya dengan cara

pelekat an pit a cukai at au pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya yang berada dalam t empat penj ualan eceran at au t empat lain yang kegiat annya adalah unt uk menj ual dianggap disediakan unt uk dij ual.

(16)

dengan pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya yang diwaj ibkan, yang menyebabkan kekurangan pembayaran cukai, waj ib mel unasi cukainya dan dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepul uh) kali nilai cukai dari nilai cukai yang seharusnya dilunasi.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

28. Ket ent uan Pasal 31 ayat (3) diubah sehingga Pasal 31 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 31

(1) Di dalam t empat penyimpanan dilarang:

a. menyimpan barang kena cukai yang t elah dilunasi

cukainya at au yang mendapat kan pembebasan cukai;

b. menyimpan barang selain barang kena cukai yang

dit et apkan dalam surat izin bersangkut an.

(2) Barang kena cukai yang t elah dilunasi cukainya at au yang

mendapat kan pembebasan cukai yang kedapat an berada di dalam t empat penyimpanan dianggap bel um dilunasi cukainya at au t idak mendapat kan pembebasan cukai.

(3) Pengusaha t empat penyimpanan yang melanggar ket ent uan

mengenai larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp5. 000. 000, 00 (lima j ut a rupiah) dan paling banyak Rp50. 000. 000, 00 (lima puluh j ut a rupiah).

29. Ket ent uan Pasal 32 diubah sehingga Pasal 32 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 32

(1) Di dalam pabrik, t empat usaha import ir barang kena cukai, t empat usaha penyal ur, dan t empat penj ualan eceran, yang pelunasan cukainya dengan cara pelekat an pit a cukai at au pembubuhan t anda pelunasan cukai lainnya dilarang:

a. menyimpan at au menyediakan pit a cukai dan/ at au t anda pelunasan cukai lainnya yang t el ah dipakai; dan/ at au

b.menyimpan at au menyediakan pengemas barang kena cukai

yang t elah dipakai dengan pit a cukai dan/ at au t anda pelunasan cukai lainnya yang masih ut uh.

(17)

30. Ket ent uan Pasal 33 diubah sehingga Pasal 33 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 33

(1) Pej abat bea dan cukai berwenang:

a.mengambil t indakan yang diperlukan at as barang kena cukai dan/ at au barang lainnya yang t erkait dengan barang kena cukai berupa penghent ian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan unt uk mel aksanakan undang-undang ini;

b.mengambil t indakan yang diperlukan berupa t idak melayani pemesanan pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya; dan

c.menegah barang kena cukai, barang lainnya yang t erkait dengan barang kena cukai, dan/ at au sarana pengangkut .

(2) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) pej abat bea dan cukai dapat dilengkapi dengan senj at a api yang j enis dan syarat -syarat penggunaannya diat ur dengan perat uran pemerint ah.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara penindakan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b sert a penegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diat ur dengan at au berdasarkan perat uran pemerint ah.

31. Ket ent uan Pasal 34 diubah sehingga Pasal 34 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 34

(1) Dalam melaksanakan t ugas berdasarkan undang-undang ini

pej abat bea dan cukai dapat memint a bant uan Kepolisian Republik Indonesia, Tent ara Nasional Indonesia, dan/ at au inst ansi lainnya.

(2) At as permint aan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

Kepolisian Republik Indonesia, Tent ara Nasional Indonesia, dan/ at au inst ansi lainnya waj ib unt uk memenuhinya.

32. Judul Bagian Kedua pada Bab X diubah sehingga Bagian Kedua pada BAB X berbunyi sebagai berikut :

Bagian Kedua Pemeriksaan

33. Ket ent uan Pasal 35 diubah sehingga Pasal 35 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 35

(1) Pej abat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan

t erhadap:

a. pabrik, t empat penyimpanan, at au t empat lain yang

(18)

belum dil unasi cukainya at au memperoleh pembebasan cukai;

b.bangunan at au t empat lain yang secara langsung at au t idak langsung berhubungan dengan bangunan at au t empat sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c.

t empat usaha penyalur, t empat penj ual an eceran, at au

t empat lain yang bukan rumah t inggal , yang di dal amnya t erdapat barang kena cukai; dan

d.barang kena cukai dan/ at au barang lainnya yang t erkait dengan barang kena cukai yang berada di t empat sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c.

(2) Dalam melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1), pej abat bea dan cukai berwenang mengambil cont oh barang kena cukai.

(3) Dalam melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) huruf d, pej abat bea dan cukai berwenang memint a cat at an sediaan barang, dokumen cukai, dan/ at au dokumen pelengkap cukai, yang waj ib diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini.

(4) Set iap orang yang menyebabkan pej abat bea dan cukai t idak dapat mel aksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp10. 000. 000, 00 (sepuluh j ut a rupiah) dan paling banyak Rp100. 000. 000, 00 (serat us j ut a rupiah).

34. Ket ent uan Pasal 36 ayat (1) dan ayat (2) diubah, dan di ant ara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 1 (sat u) ayat , yakni ayat (1a) sehingga Pasal 36 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 36

(1) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyalur, pengusaha t empat penj ualan eceran, pengguna barang kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dal am Pasal 9, yang t erhadapnya dilakukan pemeriksaan, waj ib menyediakan t enaga, peralat an, dan menyerahkan buku, cat at an, dan/ at au dokumen yang waj ib diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini.

(1a) Dalam hal pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyalur, pengusaha t empat penj ual an eceran, pengguna barang kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, yang t erhadapnya dilakukan pemeriksaan, t idak berada di t empat at au berhalangan, kewaj iban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beralih kepada yang mewakilinya.

(19)

9, yang t erhadapnya dilakukan pemeriksaan, yang t idak menyediakan t enaga at au peral at an at au t idak menyerahkan buku, cat at an, dan/ at au dokumen pada wakt u dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp25. 000. 000, 00 (dua puluh lima j ut a rupiah) dan paling banyak Rp250. 000. 000, 00 (dua rat us lima puluh j ut a rupiah).

35. Ket ent uan Pasal 37 ayat (1) dan ayat (4) diubah sehingga Pasal 37 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 37

(1) Pej abat bea dan cukai berwenang unt uk menghent ikan dan

memeriksa sarana pengangkut sert a barang kena cukai dan/ at au barang lainnya yang t erkait dengan barang kena cukai yang berada di sarana pengangkut .

(2) Pengangkut waj ib menunj ukkan dokumen cukai dan/ at au

dokumen pelengkap cukai yang diwaj ibkan menurut undang-undang ini.

(3) Sarana pengangkut yang disegel oleh dinas pos at au penegak hukum lain, dikecualikan dari pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(4) Set iap orang yang menyebabkan pej abat bea dan cukai t idak dapat mel aksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pengangkut yang t idak mengindahkan ket ent uan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administ rasi berupa denda paling sedikit Rp2. 500. 000, 00 (dua j ut a lima rat us ribu rupiah) dan paling banyak Rp25. 000. 000, 00 (dua pul uh lima j ut a rupiah).

36. Ket ent uan Pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) diubah, dan di ant ara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 3 (t iga) ayat , yakni ayat (1a), ayat (1b), dan ayat (1c), sert a dit ambah 1 (sat u) ayat , yakni ayat (3) sehingga Pasal 39 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 39

(1) Pej abat bea dan cukai berwenang melakukan audit cukai

t erhadap pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyalur, dan pengguna barang kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.

(1a) Dalam melaksanakan audit cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pej abat bea dan cukai berwenang:

a. memint a l aporan keuangan, buku, cat at an dan dokumen yang menj adi bukt i dasar pembukuan, dan dokumen lain yang berkait an dengan kegiat an usaha, t ermasuk dat a elekt ronik sert a surat yang berkait an dengan kegiat an di bidang cukai;

b. memint a ket erangan lisan dan/ at au t ert ulis kepada

(20)

kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, dan/ at au pihak lain yang t erkait ;

c. memasuki bangunan at au ruangan t empat unt uk

menyimpan laporan keuangan, buku, cat at an dan dokumen yang menj adi bukt i dasar pembukuan, dan dokumen l ain yang berkait an dengan kegiat an usaha, t ermasuk sarana/ media penyimpan dat a el ekt ronik, pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya, sediaan barang, dan/ at au barang yang dapat memberi pet unj uk t ent ang keadaan kegiat an usaha dan/ at au t empat lain yang dianggap pent ing, sert a melakukan pemeriksaan di t empat t ersebut ; at au

d. melakukan t indakan pengamanan yang dipandang perlu

t erhadap bangunan at au ruangan sebagaimana dimaksud dalam huruf c.

(1b) Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyalur, at au pengguna barang kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, yang t erhadapnya dilakukan audit cukai, waj ib memberikan ket erangan lisan dan/ at au t ert ulis, menyediakan t enaga, peralat an, dan menyerahkan laporan keuangan, buku, cat at an dan dokumen yang menj adi bukt i dasar pembukuan, dan dokumen l ain yang berkait an dengan kegiat an usaha, t ermasuk dat a el ekt ronik sert a surat yang berkait an dengan kegiat an di bidang cukai.

(1c) Dalam hal pengusaha pabrik, pengusaha t empat

penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyal ur, at au pengguna barang kena cukai yang mendapat kan f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, yang t erhadapnya dilakukan audit cukai, t idak berada di t empat at au berhalangan, kewaj iban sebagaimana dimaksud pada ayat (1b) beralih kepada yang mewakil inya.

(2) Set iap orang yang menyebabkan pej abat bea dan cukai t idak dapat menj alankan kewenangan audit cukai dikenai sanksi administ rasi berupa denda sebesar Rp75. 000. 000, 00 (t uj uh puluh lima j ut a rupiah).

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai audit cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

37. Ket ent uan Pasal 40 diubah sehingga Pasal 40 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 40

(21)

38. Set elah Bagian Ket iga pada BAB X dit ambah 1 (sat u) bagian, yakni Bagian Keempat yang berbunyi sebagai berikut :

Bagian Keempat

Kewenangan Khusus Direkt ur Jenderal Pasal 40A

(1) Direkt ur Jenderal karena j abat an at au at as permohonan dari orang yang bersangkut an dapat :

a. membet ulkan surat t agihan at au surat keput usan

keberat an, yang dalam penerbit annya t erdapat kesal ahan t ulis, kesalahan hit ung, dan/ at au kekeliruan dalam penerapan ket ent uan undang-undang ini; at au

b. mengurangi at au menghapus sanksi administ rasi berupa

denda dal am hal sanksi t ersebut dikenakan pada orang yang dikenai sanksi karena kekhilaf an at au bukan karena kesalahannya.

(2) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara pengaj uan permohonan, pembet ulan, pengurangan, at au penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan at au berdasarkan perat uran ment eri.

39. Judul BAB XI diubah sehingga BAB XI berbunyi sebagai berikut : BAB XI

KEBERATAN, BANDING, DAN GUGATAN

40. Judul Bagian Pert ama diubah sehingga Bagian Pert ama berbunyi

sebagai berikut :

Bagian Pert ama Keberat an

41. Ket ent uan Pasal 41 ayat (1) dihapus, ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) diubah, dan dit ambah 1 (sat u) ayat , yakni ayat (8) sehingga Pasal 41 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 41 (1) Dihapus.

(2) Orang yang berkeberat an at as penet apan pej abat bea dan cukai dalam penegakan undang-undang ini, yang mengakibat kan kekurangan cukai dan/ at au sanksi administ rasi berupa denda, dapat mengaj ukan keberat an secara t ert ulis kepada Direkt ur Jenderal dalam j angka wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak t anggal dit erimanya surat t agihan dengan menyerahkan j aminan sebesar kekurangan cukai dan/ at au sanksi administ rasi berupa denda yang dit et apkan.

(3) Direkt ur Jenderal memut uskan keberat an sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dalam j angka wakt u 60 (enam puluh) hari sej ak dit erimanya pengaj uan keberat an.

(4) Apabila dal am j angka wakt u 60 (enam puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Direkt ur Jenderal t idak memberikan keput usan, keberat an yang bersangkut an dianggap dikabulkan dan j aminan dikembal ikan.

(22)

(6) Dalam hal j aminan berupa uang t unai, apabila pengembalian j aminan dilakukan set elah j angka wakt u 30 (t iga puluh) hari sej ak keberat an dit erima sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5), Pemerint ah memberikan bunga 2% (dua persen) perbulan unt uk paling lama 24 (dua pul uh empat ) bulan.

(7) Apabila Direkt ur Jenderal memut uskan menolak keberat an

yang diaj ukan, j aminan dicairkan unt uk membayar cukai dan/ at au sanksi administ rasi berupa denda yang dit et apkan. (8) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai keberat an diat ur dengan at au

berdasarkan perat uran ment eri.

42. Pasal 42 dihapus.

43. Pasal 43 dihapus.

44. Di ant ara Bagian Pert ama dan Bagian Kedua disisipkan 1 (sat u) bagian, yakni Bagian Pert ama A sehingga berbunyi sebagai berikut :

Bagian Pert ama A Banding dan Gugat an

Pasal 43A

Orang yang berkeberat an at as keput usan Direkt ur Jenderal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (3) dapat mengaj ukan banding dalam j angka wakt u paling l ama 60 (enam puluh) hari sej ak t anggal penet apan at au keput usan.

Pasal 43B

Orang yang berkeberat an at as pencabut an izin bukan at as permohonan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f , huruf g, huruf h, at au huruf i dapat mengaj ukan gugat an dalam j angka wakt u paling lama 60 (enam puluh) hari sej ak t anggal penet apan at au keput usan.

Pasal 43C

Permohonan banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43A at au gugat an sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43B diaj ukan kepada Pengadilan Paj ak sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengat ur t ent ang pengadil an paj ak.

45. Pasal 44 dihapus.

46. Ket ent uan Bagian Kedua dihapus.

47. Ket ent uan Pasal 50 diubah sehingga Pasal 50 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 50

(23)

paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepul uh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

48. Pasal 51 dihapus.

49. Ket ent uan Pasal 52 diubah sehingga Pasal 52 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 52

Pengusaha pabrik at au pengusaha t empat penyimpanan yang mengeluarkan barang kena cukai dari pabrik at au t empat penyimpanan t anpa mengindahkan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dengan maksud mengelakkan pembayaran cukai dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 5 (lima) t ahun dan pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepul uh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

50. Ket ent uan Pasal 53 diubah sehingga Pasal 53 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 53

Set iap orang yang dengan sengaj a memperlihat kan at au menyerahkan buku, cat at an, dan/ at au dokumen, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) at au laporan keuangan, buku, cat at an dan dokumen yang menj adi bukt i dasar pembukuan, dan dokumen l ain yang berkait an dengan kegiat an usaha, t ermasuk dat a elekt ronik sert a surat yang berkait an dengan kegiat an di bidang cukai sebagaimana dimaksud dal am Pasal 39 ayat (1b) yang pal su at au dipalsukan, dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 6 (enam) t ahun dan pidana denda paling sedikit Rp75. 000. 000, 00 (t uj uh puluh lima j ut a rupiah) dan paling banyak Rp750. 000. 000, 00 (t uj uh rat us lima puluh j ut a rupiah).

51. Ket ent uan Pasal 54 diubah sehingga Pasal 54 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 54

Set iap orang yang menawarkan, menyerahkan, menj ual, at au menyediakan unt uk dij ual barang kena cukai yang t idak dikemas unt uk penj ualan eceran at au t idak dilekat i pit a cukai at au t idak dibubuhi t anda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 5 (lima) t ahun dan/ at au pidana denda paling sedikit 2 (dua) kal i nilai cukai dan pal ing banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

52. Ket ent uan Pasal 55 diubah sehingga Pasal 55 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 55 Set iap orang yang:

a. membuat secara melawan hukum, meniru, at au memalsukan

(24)

b. membeli, menyimpan, mempergunakan, menj ual , menawar-kan, menyerahmenawar-kan, menyediakan unt uk dij ual, at au mengimpor pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya yang palsu at au dipalsukan; at au

c. mempergunakan, menj ual, menawarkan, menyerahkan,

menyediakan unt uk dij ual , at au mengimpor pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya yang sudah dipakai,

dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 8 (delapan) t ahun dan pidana denda pal ing sedikit 10 (sepuluh) kali nilai cukai dan pal ing banyak 20 (dua puluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

53. Ket ent uan Pasal 56 diubah sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 56

Set iap orang yang menimbun, menyimpan, memil iki, menj ual, menukar, memperoleh, at au member ikan barang kena cukai yang diket ahuinya at au pat ut harus diduganya berasal dari t indak pidana berdasarkan undang-undang ini dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling l ama 5 (lima) t ahun dan pidana denda paling sedikit 2 (dua) kal i nilai cukai dan pal ing banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

54. Ket ent uan Pasal 57 diubah sehingga Pasal 57 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 57

Set iap orang yang t anpa izin membuka, melepas, at au merusak kunci, segel, at au t anda pengaman sebagaimana diat ur dal am undang-undang ini dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 2 (dua) t ahun 8 (delapan) bul an dan/ at au pidana denda paling sedikit Rp75. 000. 000, 00 (t uj uh puluh lima j ut a rupiah) dan paling banyak Rp750. 000. 000, 00 (t uj uh rat us lima puluh j ut a rupiah).

55. Ket ent uan Pasal 58 diubah sehingga Pasal 58 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 58

Set iap orang yang menawarkan, menj ual, at au menyerahkan pit a cukai at au t anda pel unasan cukai lainnya kepada yang t idak berhak at au membeli, menerima, at au menggunakan pit a cukai at au t anda pelunasan cukai lainnya yang bukan haknya dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling lama 5 (lima) t ahun dan/ at au pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

(25)

Pasal 58A

(1) Set iap orang yang secara t idak sah mengakses sist em

elekt ronik yang berkait an dengan pelayanan dan/ at au pengawasan di bidang cukai dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 1 (sat u) t ahun dan paling l ama 5 (lima) t ahun dan/ at au pidana denda paling sedikit Rp50. 000. 000, 00 (lima puluh j ut a rupiah) dan paling banyak Rp1. 000. 000. 000, 00 (sat u milyar rupiah).

(2) Perbuat an sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang

mengakibat kan t idak t erpenuhinya pungut an negara berdasarkan undang-undang ini dipidana dengan pidana penj ara paling singkat 2 (dua) t ahun dan paling lama 10 (sepuluh) t ahun dan/ at au pidana denda paling sedikit Rp1. 000. 000. 000, 00 (sat u milyar rupiah) dan paling banyak Rp5. 000. 000. 000, 00 (lima milyar rupiah).

57. Ket ent uan Pasal 62 ayat (3) diubah sehingga Pasal 62 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 62

(1) Barang kena cukai yang t ersangkut t indak pidana berdasarkan ket ent uan undang-undang ini dirampas negara.

(2) Barang-barang lain yang t ersangkut t indak pidana berdasarkan ket ent uan undang-undang ini dapat dirampas unt uk negara. (3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai penyel esaian at as barang

yang dirampas unt uk negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan perat uran ment eri.

58. Di ant ara BAB XIII dan BAB XIV disisipkan 1 (sat u) bab, yakni BAB XIIIA sehingga berbunyi sebagai berikut :

BAB XIII A PEMBINAAN PEGAWAI

Pasal 64A

(1) Sikap dan perilaku pegawai Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai t erikat pada kode et ik yang menj adi pedoman pelaksanaan t ugas sebagaimana diat ur dalam undang-undang ini.

(2) Pelanggaran t erhadap kode et ik oleh pegawai Direkt orat

Jenderal Bea dan Cukai diselesaikan oleh komisi kode et ik. (3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai kode et ik diat ur dengan

perat uran ment eri.

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pembent ukan, susunan, dan t at a kerj a komisi kode et ik diat ur dengan perat uran ment eri.

Pasal 64B

(26)

Pasal 64C

(1) Dalam hal t erdapat indikasi t indak pidana di bidang cukai yang menyangkut pegawai Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai, Ment eri dapat menugasi unit pemeriksa int ernal di lingkungan Depart emen Keuangan unt uk melakukan pemeriksaan pegawai guna menemukan bukt i permulaan.

(2) Ket ent uan lebih lanj ut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan perat uran ment eri.

Pasal 64D

(1) Orang perseorangan, kelompok orang, dan/ at au unit kerj a yang berj asa dalam menangani pelanggaran di bidang cukai berhak memperoleh premi.

(2) Jumlah premi diberikan paling banyak sebesar 50% (lima puluh persen) dari sanksi administ rasi berupa denda dan/ at au dari hasil lelang barang hasil pelanggaran di bidang cukai.

(3) Dalam hal barang hasil t angkapan merupakan barang yang menurut perat uran perundang-undangan yang berlaku t idak boleh dil elang, besarnya nilai barang sebagai dasar perhit ungan premi dit et apkan ol eh Ment eri.

(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai pemberian premi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan perat uran ment eri.

Pasal 64E

(1) Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai diberikan insent if at as dasar pencapaian kinerj a di bidang cukai.

(2) Pemberian insent if sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dit et apkan melalui Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara. (3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara pemberian dan

pemanf aat an insent if sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan perat uran ment eri.

59. Ket ent uan Pasal 65 diubah sehingga Pasal 65 berbunyi sebagai

berikut :

Pasal 65

Pengusaha pabrik, pengusaha t empat penyimpanan, import ir barang kena cukai, penyalur, pengusaha t empat penj ualan eceran, at au pengguna barang kena cukai yang mendapat f asilit as pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, bert anggung j awab at as perbuat an orang yang dipekerj akan at au yang dit unj uk sebagai wakil at au sebagai kuasa yang berhubungan dengan pekerj aan mereka dal am rangka pelaksanaan undang-undang ini.

(27)

Pasal 66

(1) Barang kena cukai dan barang l ain yang berasal dari pelanggar t idak dikenal dikuasai negara dan berada di bawah pengawasan Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai, dan apabila dal am j angka wakt u empat belas hari sej ak dikuasai negara pel anggarnya t et ap t idak diket ahui, barang kena cukai dan barang lain t ersebut menj adi milik negara.

(2) Barang kena cukai yang pemiliknya t idak diket ahui, dikuasai negara dan berada di bawah pengawasan sert a waj ib diumumkan secara resmi oleh Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai unt uk diselesaikan oleh yang bersangkut an dal am wakt u t iga puluh hari t erhit ung sej ak dikuasai negara, dan apabila dalam j angka wakt u dimaksud yang bersangkut an t idak menyelesaikan kewaj ibannya, barang kena cukai t ersebut menj adi milik negara.

(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai penyel esaian barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diat ur dengan perat uran ment eri.

61. Di ant ara Pasal 66 dan Pasal 67 di sisipkan 4 (empat ) pasal, yakni Pasal 66A, Pasal 66B, Pasal 66C, dan Pasal 66D sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 66A

(1) Penerimaan negara dari cukai hasil t embakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil t embakau sebesar 2% (dua persen) yang digunakan unt uk mendanai peningkat an kualit as bahan baku, pembinaan indust ri, pembinaan l ingkungan sosial, sosialisasi ket ent uan di bidang cukai, dan/ at au pemberant asan barang kena cukai ilegal.

(2) Alokasi dana bagi hasil cukai hasil t embakau sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dit et apkan berdasarkan realisasi penerimaan cukai hasil t embakau pada t ahun berj alan.

(3) Gubernur mengelola dan menggunakan dana bagi hasil cukai

hasil t embakau dan mengat ur pembagian dana bagi hasil cukai hasil t embakau kepada bupat i/ walikot a di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kont ribusi penerimaan cukai hasil t embakaunya.

(28)

Pasal 66B

Penyaluran dana bagi hasil cukai hasil t embakau dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah provinsi dan rekening kas umum daerah kabupat en/ kot a.

Pasal 66C

(1) Ment eri melakukan pemant auan dan evaluasi at as penggunaan anggaran peningkat an kualit as bahan baku, pembinaan indust ri, pembinaan l ingkungan sosial, sosialisasi ket ent uan di bidang cukai, dan/ at au pemberant asan barang kena cukai ilegal yang berasal dari dana bagi hasil cukai hasil t embakau yang dibuat di Indonesia.

(2) Apabila hasil pemant auan dan evaluasi at as penggunaan

anggaran peningkat an kualit as bahan baku, pembinaan indust ri, pembinaan l ingkungan sosial, sosialisasi ket ent uan di bidang cukai, dan/ at au pemberant asan barang kena cukai ilegal yang berasal dari dana bagi hasil cukai hasil t embakau mengindikasikan adanya penyimpangan pelaksanaan akan dit indaklanj ut i sesuai dengan perat uran perundangan yang berlaku.

Pasal 66D

(1) At as penyalahgunaan alokasi dana bagi hasil cukai hasil

t embakau dapat diberikan sanksi berupa penangguhan sampai dengan penghent ian penyaluran dana bagi hasil cukai hasil t embakau yang dibuat di Indonesia.

(2) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai sanksi at as penyalahgunaan alokasi dana bagi hasil cukai hasil t embakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diat ur dengan perat uran ment eri.

Pasal II

1. Pada saat undang-undang ini mulai berlaku:

a. perat uran pelaksanaan yang t el ah ada di bidang cukai t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan dan/ at au bel um diat ur dengan perat uran pelaksanaan yang baru berdasarkan undang-undang ini;

b. t erhadap urusan cukai yang pada saat berlakunya

undang-undang ini belum dapat diselesaikan, penyel esaiaannya dilakukan berdasarkan ket ent uan perundang-undangan di bidang cukai yang meringankan set iap orang.

2. Perat uran perundangan sebagai pelaksanaan

undang ini dit et apkan paling l ama 1 (sat u) t ahun sej ak undang-undang ini diundang-undangkan.

(29)

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakart a

pada t anggal 15 Agust us 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, t t d

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakart a

pada t anggal 15 Agust us 2007

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

t t d

ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 105

Salinan sesuai dengan aslinya DEPUTI MENTERI SEKRETARIS NEGARA

BIDANG PERUNDANG-UNDANGAN,

t t d

(30)

PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

I. UMUM

2. Dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai,

disadari masih t erdapat hal-hal yang belum t ert ampung unt uk memberdayakan peranan cukai sebagai salah sat u sumber penerimaan negara sehingga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 t ent ang Cukai perlu diubah sej alan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebij akan pemerint ah.

3. Cukai sebagai pungut an negara yang dikenakan t erhadap barang-barang

t ert ent u yang mempunyai sif at at au karakt erist ik sesuai dengan undang-undang merupakan penerimaan negara guna mewuj udkan kesej aht eraan, keadilan, dan keseimbangan.

4. Pengenaan cukai perlu dipert egas bat asannya sehingga dapat memberikan

landasan dan kepast ian hukum dalam upaya menambah at au memperluas obyek cukai dengan t et ap memperhat ikan aspirasi dan kemampuan masyarakat .

5. Unt uk dapat mengopt imalkan upaya penerimaan negara dari sekt or cukai, selain upaya penegasan bat asan obyek cukai, j uga perlu penyempurnaan sist em administ rasi pungut an cukai dan peningkat an upaya penegakan hukum

(

l aw enf orcement

) sert a penegasan pembinaan pegawai dalam rangka t at a

pemerint ahan yang baik (

good governance

). Oleh karena it u, mat eri perubahan undang-undang ini ant ara lain j uga meliput i:

a. perluasan cara pelunasan cukai yang lebih akomodat if unt uk menyesuaikan dengan prakt ek bisnis t anpa mengabaikan pengamanan hak-hak negara; b. penyempurnaan sist em penagihan ut ang cukai, kekurangan cukai, dan/ at au

sanksi administ rasi berupa denda dengan menambah skema pembayaran secara angsuran t anpa mengabaikan pengamanan hak-hak negara;

c. menghapus . . .

c. menghapus ket ent uan yang mengat ur lembaga banding unt uk

menyesuaikan dengan ket ent uan yang mengat ur mengenai badan peradil an paj ak sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 t ent ang Pengadilan Paj ak;

d. penyelenggaraan pembukuan yang disel araskan dengan perkembangan

zaman dan ket ent uan audit cukai;

e. penegasan penggunaan dokumen cukai dan dokumen pelengkap cukai dalam

bent uk dat a elekt ronik dan sanksi t erhadap pelanggaran t erhadap pihak yang mengakses sist em elekt ronik yang berkait an dengan pelayanan dan/ at au pengawasan di bidang cukai secara t idak sah;

f . pengat uran t ent ang pembinaan pegawai Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai dengan kode et ik dan penyelesaian pelanggarannya (

punishment

) melalui komisi kode et ik sert a pemberian insent if kepada Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai berdasarkan kinerj a;

(31)

h. pengat uran t ent ang bagi hasil dari cukai hasil t embakau kepada pemerint ah daerah.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal I

Angka 1

Pasal 1

Cukup j elas.

Angka 2 Pasal 2 Ayat (1)

Huruf a

Cukup j elas. Huruf b.

Cukup j elas. Huruf c

Cukup j elas. Huruf d.

Yang dimaksud dengan “ pemakaiannya perlu pembebanan pungut an negara dalam rangka keadilan dan keseimbangan” adalah pungut an cukai dapat dikenakan t erhadap barang yang dikat egorikan sebagai barang mewah dan/ at au bernilai t inggi, namun bukan merupakan kebut uhan pokok, sehingga t et ap t erj aga keseimbangan pembebanan pungut an ant ara konsumen yang berpenghasilan t inggi dengan konsumen yang berpenghasilan rendah.

Ayat (2)

Cukup j elas.

Angka 3 Pasal 3A

Cukup j elas. Pasal 3B

Pelaksanaan penegakannya dilakukan oleh Direkt orat Jenderal Bea dan Cukai.

Angka 4 Pasal 4

Ayat (1) Huruf a

Yang dimaksud dengan "et il alkohol at au et anol" adalah barang cair, j ernih, dan t idak berwarna, merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH, yang diperol eh baik secara peragian dan/ at au penyulingan maupun secara sint esa kimiawi.

Huruf b

(32)

penyulingan, at au cara lainnya, ant ara lain bir, shandy, anggur , gin, whisky, dan yang sej enis.

Yang dimaksud dengan "konsent rat yang mengandung et il alkohol " adalah bahan yang mengandung et il al kohol yang digunakan sebagai bahan baku at au bahan penol ong dalam pembuat an minuman yang mengandung et il alkohol.

Huruf c

Yang dimaksud dengan "sigaret " adalah hasil t embakau yang dibuat dari t embakau raj angan yang dibalut dengan kert as dengan cara dilint ing, unt uk dipakai, t anpa mengindahkan bahan penggant i at au bahan pembant u yang digunakan dalam pembuat annya.

Sigaret t erdiri dari sigaret kret ek, sigaret put ih, dan sigaret kelembak kemenyan.

Sigaret kret ek adalah sigaret yang dalam pembuat annya dicampur dengan cengkih, at au bagiannya, baik asl i maupun t iruan t anpa memperhat ikan j uml ahnya.

Sigaret put ih adalah sigaret yang dalam pembuat annya t anpa dicampuri dengan cengkih, kelembak, at au kemenyan.

Sigaret put ih dan sigaret kret ek t erdiri dari sigaret yang dibuat dengan mesin at au yang dibuat dengan cara lain, daripada mesin. Yang dimaksud dengan sigaret put ih dan sigaret kret ek yang dibuat dengan mesin adalah sigaret put ih dan sigaret kret ek yang dalam pembuat annya mulai dari pelint ingan, pemasangan f ilt er, pengemasannya dalam kemasan unt uk penj ualan eceran, sampai dengan pelekat an pit a cukai, seluruhnya, at au sebagian menggunakan mesin.

Yang dimaksud dengan sigaret put ih dan sigaret kret ek yang dibuat dengan cara lain daripada mesin adalah sigaret put ih dan sigaret kret ek yang dalam proses pembuat annya mulai dari pelint ingan, pemasangan f ilt er, pengemasan dalam kemasan unt uk penj ualan eceran, sampai dengan pelekat an pit a cukai, t anpa menggunakan mesin.

Sigaret kelembak kemenyan adalah sigaret yang dalam pembuat annya dicampur dengan kelembak dan/ at au kemenyan asli maupun t iruan t anpa memperhat ikan j umlahnya.

Yang dimaksud dengan cerut u adalah hasil t embakau yang dibuat dari lembaran-lembaran daun t embakau diiris at au t idak, dengan cara digul ung demikian rupa dengan daun t embakau, unt uk dipakai, t anpa mengindahkan bahan penggant i at au bahan pembant u yang digunakan dalam pembuat annya.

Yang dimaksud dengan rokok daun adalah hasil t embakau yang dibuat dengan daun nipah, daun j agung (kl obot ), at au sej enisnya, dengan cara dilint ing, unt uk dipakai, t anpa mengindahkan bahan penggant i at au bahan pembant u yang digunakan dalam pembuat annya.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kegiatan praktik mengajar, mahasiswa dibimbing oleh guru pembimbing. sesuai dengan jurusan

Blood glucose and NEFA were not affected by bromocryptine in period I but in period II an increase in blood glucose with a simultaneous decrease in NEFA was observed ( P <

Sehubungan dengan Evaluasi Kualifikasi Paket Pekerjaan Pembangunan Pelabuhan Laut Pulau Wakde (lelang ulang) dengan (Kode Lelang : 4191041 ), maka bersama ini Pokja Biro

LULUS EVALUASI PENAWARAN , untuk itu diminta Saudara menghadiri Pembuktian Kualifikasi paket pekerjaan Pembangunan Ruang Praktek Siswa/Ruang Elektronika dan Komputer SMK Negeri 1

Because of the high proportion (40%) of acyclic does among the Small East African goats immediately after cloprostenol induced luteolysis, we conclude that mating should be

Bandar Udara Waghete (Kode Lelang 4236041) yang akan dilaksanakan pada :.. Hari

Apabila pada hari dan tanggal yang telah kami tentukan saudara tidak hadir atau tidak dapat memperlihatkan data - data tersebut diatas, maka perusahaan saudara dinyatakan

Sesuai dengan surat nomor : 027/ 27.13/ POKJA70.BB-PS/ DI SBUN/ 2017/ Adm.PPBJ-C tanggal 26 Mei 2017 hal Berita Acara Hasil Pelelangan Sederhana Paket/ Pekerjaan tersebut di atas