MELALUI BUDIDAYA VERTIKULTUR TANAMAN HORTIKULTURA ORGANIK
Oleh: Siti Mariyam, Tutiek Rahayu, dan Budiwati FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Abstract
The purpose of this activity were: (1) Providing instructional media with eco-education minded at the urban school with limited land area; (2) Providing knowledge about the benefits of a healthy environment and orga-nic foods; (3) Providing verticultural farming of orgaorga-nic horticultural plant skills to students.
This service activities conducted with visiting the location, namely in SMP Muhammadiyah 5 Patehan Lor Road Yogyakarta. The target acti-vity were 5 teachers and 25 students, the activities initiated by the pretest and ending with posttest. The activities included: (1) presenting the material of a healthy environment and healthy food, nutritious and environmentally friendly; (2) demonstrating and practicing of verticultural farming of orga-nic horticultural plants; (3) evaluating the effectiveness of action after one month activities.
The evaluation was carried out by reviewing the one month activities to see success of practiced verticultural cultivation. Then, given a question-naire sheet about the activities benefits, and knowing the activities advan-tages and disadvanadvan-tages. This service activities could be said to be success-ful because all participants were practicing the verticultural farming of orga-nic horticultural plants in a groups.
Keywords: eco-education, verticultural cultivation, and organic
horticultu-ral plants
A. PENDAHULUAN 1. Analisis Situasi
Berbagaimacamaktivitas ma-nusia dapat menimbulkan permasa-lahan lingkungan, jika dalam mela-kukan aktivitas tersebut tidak mem-perhatikan pengelolaan sumberdaya
yang potensial menjadi pencemar jika melebihi nilai ambang batas. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, kita akan terkena efek bu-ruknya, apalagi jika hasil pertanian juga terkena polutan. Begitu pula di perkotaan, persoalan lingkungan se-makin kompleks karena sese-makin be-ragam pula aktivitas warganya. Se-bagaikonsumenhasil pertanian, war-ga kota seyogyanyawaspada terha-dap bahaya-bahaya yang bersumber dari produk-produk yang mungkin tercemar bahan-bahan berbahaya.
Dewasa ini, permasalahan lingkungan telah menjadi isu global (mendunia), setelah hampir semua elemen masyarakat menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari ke-rusakan lingkungan. Kini, masyara-kat menjadi semakin arif dalam me-milih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi ke-cenderunganbarudisegalaaspek ke-hidupan,termasukdalambidang per-tanian. Dengan meninggalkan peng-gunaan pupuk dan pestisida berba-han kimia sintetis dan hormon per-tumbuhan dalam industri pertanian merupakan satu upaya untuk meng-hasilkan produk yang ramah ling-kungan dan aman bagi kesehatan. Bahan makanan yang sehat dan ber-gizi dapat diperoleh dari pertanian organik. Pertanian organik adalah cara menanam tanaman secara alami dengan penekanan terhadap perlin-dungan lingkungan dan pelestarian tanah serta sumber air yang
berke-lanjutan. Pertanian organik meng-gunakan pupuk dan pestisida biologi tanpa bahan kimia sehingga melin-dungi tanah, udara, tanaman dan he-wan. Dengan demikian, jika kita mengkonsumsi makanan yang ber-asal dari tanaman organik, kita dapat hidup lebih sehat karena terhindar dari racun yang berbahaya.
Pada umumnya di perkotaan untuk menanam tanaman yang kita inginkan kadang-kadang terkendala oleh luas lahan yang tersedia. Untuk mengatasi lahan yang sempit, kita bisa menanam tanaman secara verti-kultur. Sistem vertikultur adalah sis-tem budidaya pertanian yang dilaku-kan secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini cocok diterapkan di la-han-lahan sempit atau di pemukim-an ypemukim-ang padat penduduk.
Terkait dengan permasalahan lingkungan, maka pendidikan ling-kungan (eco-education) perlu diberi-kan kepada semua lapisan masyara-kat,termasukpara peserta didik. De-nganbudidaya vertikultur yang meli-batkan para peserta didik di sekolah selain berdampak langsung bagi penghijauan di sekolah, juga dapat menjadi sarana pembelajaran. Im-plementasi eco-education pada ke-giatan pengabdian ini akan dilaksa-nakan di salah satu sekolah di per-kotaan, yaitu di SMP Muhammadi-yah 5 Yogyakarta. Alasan dipilihnya sekolah ini adalah sebagai berikut. a. Berdasarkansurvei,lokasisekolah
berada di kawasan padat penghu-ni dan mempunyai lahan yang sempit. Kebanyakan peserta didik juga tinggal di pemukiman padat penduduk.Keterbatasanlahan ber-akibat anak-anak tumbuh dengan kondisiterkungkung tembok-tem-bok dinding rumah yang berhim-pitan dan jauh dari tumbuhan dan hewan. Padahal, sumber daya ha-yati di lingkungan alam sekitar memiliki potensi yang besar se-bagai laboratorium alami untuk belajar sains, terutama biologi. Di halaman anak-anak dapat belajar dengan menggunakan obyek nya-ta sehingga mendapat “first hand
expierience”. Oleh karena itu,
se-kolahini memerlukan bantuan pe-mecahan persoalan dalam menye-diakan media pembelajaran yang berwawasan pendidikan ling-kungan (eco-education).
b. Kebanyakan peserta didik berasal dari keluarga dengan tingkat eko-nomi menengah ke bawah. Diha-rapkan dengan kegiatan ini para peserta didik dapat menerapkan di lingkungan tempat tinggalnya. Di samping untuk menjaga kese-hatan lingkungan, menambah ke-indahan lingkungan, juga mem-bantu untuk mengurangi penge-luaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan ramah lingkungan dengan mena-nam tamena-naman hortikultura secara vertikal (vertikultur).
c. Anak seusia SMP, terutama yang tinggaldi daerah perkotaan sangat rentan terhadap pengaruh buruk pergaulan sehingga perlu diberi-kan kegiatan positif yang menye-nangkan danbermanfaatbagi diri-nyasendirimaupunbagi lingkung-annya.
2. Landasan Teori
Untuk mendukung kehidup-an, manusia harus menggunakan un-sur-unsur dalam lingkungan hidup-nya; udara untuk bernafas; air untuk minum, keperluan rumah tangga, pengairan dan industri; tumbuhan untuk makan dan obat-obatan; dan lain sebagainya. Jadi, lingkungan hi-dup bukan hanya tempat hihi-dup kita, melainkan juga sumberdaya kita. Berarti, kalau lingkungan hidup kita bermasalah, maka sumberdaya kita juga akan terganggu, berarti juga ke-hidupan kita juga akan terganggu karena kebutuhan hidup kita telah terganggu. Terganggunya kualitas lingkungan kita dapat terjadi karena kehadiran limbah, baik limbah cair, gas maupun padat (Soerjani, dkk., 1987).
Eco-educationmengacupada pendapat Holbrook (1998), yaitu be-lajar sains berorientasi konteks dan menanamkan proses pembelajaran ke masalah autentik yang berkem-bang bersama masyarakat dengan mengembangkan beberapa hal seper-ti berikut.
a. Keingintahuan individu subjek belajar.
b. Kemampuan untuk bertanya. c. Menjawab pertanyaan serta
mem-buat keputusan.
Menurut Martodireso dan Suryanto (2001), konsep pertanian berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian yang memiliki efisiensi in-put teknologi produksi, ramah ling-kungan, dan mampu meningkatkan daya dukung lahan. Teknologi yang efisien dan ramah lingkungan adalah
teknologi yang menggunakan bahan organikdanbiofertilizer sebagai
pen-dukung utama dalam input sarana produksi pertanian.
Pertanian organik adalah tek-nik budidaya pertanian yang meng-andalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian or-ganik adalah menyediakan produk-produk pertanian,terutamabahan pa-ngan yang aman bagi kesehatan pro-dusen dan konsumen serta tidak me-rusak lingkungan (Anonim, 2002).
Sutarminingsih (2003) me-nyatakan bahwa pada dasarnya ver-tikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempat-kan media tanam dalam wadah-wa-dah yang disusun secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini cocok di-terapkan di lahan-lahan sempit atau di pemukiman yang padat. Budidaya tanaman secara vertikultur di daerah perkotaan dapat menciptakan keasri-an, konservasi sumber daya tanah dan sumber daya air, memperbaiki iklim mikro perkotaan, serta dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizikeluarga,juga meminimalisir pe-ngeluaran keluarga.
re-latif sederhana; dan dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat dan menyayangi tanaman.
Untuk memulai budidaya ta-naman secara vertikultur, sebenar-nya tidak perlu direpotkan dengan peralatandanbahanyangakan meng-habiskanbiayayang besar,yang pen-ting wadah yang dipakai dapat me-nyediakan ruang tumbuh yang baik bagi tanaman. Wadah yang dapat di-gunakan antara lain pralon, karpet talang, karung bekas, kaleng bekas atau bambu (Sutarminingsih, 2003).
3. Tujuan Kegiatan
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tuju-an kegiattuju-an ini seperti berikut. a. Menyediakan media
pembelajar-an ypembelajar-ang berwawaspembelajar-an
eco-educa-tion di sekolah perkotaan
berla-han sempit.
b. Memberikanpengetahuan tentang manfaat lingkungan yang sehat dan manfaat mengkonsumsi ma-kanan organik.
c. Memberikan keterampilan budi-daya vertikulturtanaman hortikul-tura organik kepada peserta didik.
4. Manfaat Kegiatan
Manfaat kegiatan pengabdi-an ini seperti berikut.
a. Memberikan kegiatan yang me-nyenangkan dan bermanfaat bagi peserta didik dan lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya. b. Membantu mengurangi
penge-luaran keluarga dalam mencukupi
kebutuhan pangan yang sehat dan ramah lingkungan jika para pe-serta didik menerapkan pengeta-huan dan ketrampilannya di ling-kungan tempat tinggalnya.
B. METODE PENGABDIAN Sasaran kegiatan pengabdian iniadalah25orang peserta didik ang-gota OSIS SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta, 4 orang guru, dan 1 orangkaryawanyangbertanggung ja-wabmenangani kebun sekolah. Guru yang terlibat meliputi guru IPA, guru Keterampilan dan guru Tekno-logi Informasi dan Komunikasi. Da-sar pertimbangan dalam melibatkan guru karena guru tersebut memiliki peluang untuk menstransfer penge-tahuan dan ketrampilannya melalui matapelajaran yang diampu. Guru merupakan khalayak sasaran antara yang strategis karena memiliki pe-serta didik yang dapat menjadi “per-panjangan tangan” di sekolah mau-pun di masyarakat yang lebih luas. Apalagi dalam kegiatan ini sekali-gus para peserta didik yang terpilih mewakili temannya terlibatlangsung dalam semua rangkaian kegiatan pengabdian. Jadi, diharapkan guru dan peserta didik yang memiliki pe-ngetahuan dan keterampilan dalam budidaya vertikultur dapat menular-kan hal tersebut kepada orang lain. Dengandemikian, tidak sebatas pada pengetahuan saja, tetapi para peserta didik juga dapat berkembang life
skill-nya. Para guru peserta
me-lalui kegiatan pembelajaran yang mengandungmuatanpendidikan ling-kungan. Pelibatan karyawan yang bertanggung jawab dalam pemeliha-raan kebun sekolah sangat strategis karena bertanggung jawab untuk pe-meliharaan rutin tanaman hortikul-tura yang telah ditanam saat pelatih-an. Selain hal tersebut, karyawan pe-nanggung jawab kebun juga dapat membantu dalam penanaman ulang setelah panen agar program budi-daya vertikultur dapat terjaga keber-lanjutannya.
Untuk memecahkan perma-salahan akan dilakukan kegiatan ce-ramah interaktif dan pelatihan budi-daya vertikultur tanaman hortikultu-ra organik.Metode kegiatan yang di-lakukan sebagai berikut.
a. Ceramah interaktif tentang ling-kungan yang sehat.
b. Ceramah interaktif tentang pem-belajaran tematik untuk pendidik-an lingkungpendidik-an.
c. Ceramahinteraktiftentang makan-an ymakan-ang sehat, bergizi dmakan-an ramah lingkungan.
d. Demonstrasi dan praktek budida-ya vertikultur tanaman hortikul-tura organic.
Pemilihan metode ceramah interaktif didasarkan pada pertim-bangan bahwa materi ceramah me-rupakan materi yang mungkin masih baru bagi peserta sehingga tidak memungkinkan menggunakan meto-de yang menuntut partisipasi aktif mereka. Partisipasi peserta dalam kegiatan ceramah berupa penyam-paian pertanyaan kepada penyaji.
Demonstrasi dipergunakan oleh pe-nyajimateribudidayavertikulturagar memudahkan peserta untuk meng-ikuti informasi yang disampaikan penyaji.Keterlibatanaktifpeserta ter-jadi pada saat praktek budidaya ver-tikultur tanaman horver-tikultura orga-nik.
Kegiatan pengabdian ini di-lakukan dengan mendatangi lokasi kegiatan, yaitu di SMP Muhamma-diyah 5 di Jalan Patehan Lor Yogya-karta. Pretes dilaksanakan sebelum acara pembukaan kegiatan pengab-dian untuk mengetahui pengetahuan awal para peserta. Sebelum demons-trasi dan praktek, para guru dan pe-serta didik mendapat ceramah inter-aktif tentang: (1) pengelolaan hala-man sekolah agar tercipta lingkung-an ylingkung-ang sehat; (2) pembelajarlingkung-an te-matik untuk pendidikan lingkungan; (3) makanan sehat, bergizi, dan ra-mah lingkungan; dan (4) cara budi-daya vertikultur tanaman hortikultu-ra organik. Kegiatan cehortikultu-ramah inter-aktif diperlukan agar dapat terjadi
sharing pengetahuan antara tim
pe-laksana dengan peserta pengabdian masyarakat sehingga dapat menam-bah wawasan masing-masing.
pengabdian,yaitumodelgantungdan model tegak.
Jenis benih yang disiapkan tim pengabdi untuk praktek berupa: biji kangkung, biji sawi, semaian se-lada, dan semaian loncang. Wadah penanamanyangdisiapkantim peng-abdi berupa potongan bambu, pra-lon, botol air mineral bekas. Di sam-pingitu, disediakan peralatan penun-jangseperti:bor, tali plastik, dan per-alatan bertanam.
Untuk melihat peningkatan pengetahuan para peserta dilakukan postes setelah selesai praktek budi-daya vertikultur. Dengan memban-dingkan rerata hasil pretes dan pos-tes diharapkan dapat diketahui pe-ningkatan pengetahuan peserta.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
Untukmengetahui peningkat-an wawaspeningkat-an guru dpeningkat-an peserta didik peserta PPM dilakukan pretes sebe-lum ceramahberbagaimateri dan de-monstrasi tentang budidaya vertikul-tur, dan sesudahnya dilakukan pos-tes. Nilai rata-rata pre tes adalah
68,50, sedangkan rata-rata postes adalah 76,50. Berdasarkan hasil pre-tes dan pospre-tes nampak ada pening-katan pengetahuan peserta tentang pengelolaan halaman sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat; makanan yang sehat, bergizi dan ramah lingkung-an; dan budidaya vertikultur tanam-an hortikultura orgtanam-anik. Dengtanam-an de-mikian, dapat dinyatakan bahwa ke-giatan PPM ini mampu meningkat-kan wawasan guru dan peserta didik tentang kesehatan lingkungan, ke-amanan pangan dan budidaya verti-kultur.
Selain peningkatan wawas-an, tujuan yang lain adalah melatih keterampilan peserta dalam hal bu-didaya vertikultur tanaman hortikul-turaorganik.Ragamtanamannya ada-lah: sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, caisim, seledri, se-lada bokor, sse-lada air, dan bawang daun. Contoh hasil praktek budidaya vertikultur beberapa tanaman horti-kultura disajikan dalam bentuk foto-foto berikut.
Gambar 2. Tanaman Selada Vertikultur Organik, Wadah Tanam Botol Bekas Air Mineral
Gambar 3. Tanaman Sawi Vertikultur Organik, Wadah Tanam Pralon
Gambar 4. Tanaman Sawi Vertikultur Organik, Wadah Tanam Bambu
[image:8.482.79.408.405.598.2]Evaluasi kegiatan dilakukan dengan meninjau ke lokasi kegiatan satu bulan kemudian untuk melaku-kan observasi dan mendokumentasi-kan hasil praktek budidaya vertikul-tur. Indikator keberhasilan kegiatan pengabdian ini adalah jika minimal 60% peserta telah melaksanakan hal-hal yang telah disampaikan da-lam pelatihan. Dada-lam hal praktek, yang semula direncanakan paling tidak 60% peserta melakukan budi-daya vertikultur ternyata semua pe-serta melakukan praktek meskipun dalam kelompok. Setelah selesai se-mua kegiatan, kemudian peserta di-beri lembar kuisioner tentang man-faat yang dirasakan setelah meng-ikuticeramah, demonstrasi dan prak-tek, serta untuk mengetahui kelebih-andankekurangankegiatanyang me-reka ikuti. Lembar kuisioner berisi 10 pernyataan yaitu tentang: (1) ke-sesuaian kegiatan pengabdian de-ngankebutuhanmasyarakat;(2) ker-jasama pengabdi dengan masyara-kat; (3) memunculkan aspek pem-berdayaan masyarakat; (4) mening-katkan motivasi masyarakat untuk berkembang;(5)sikap/perilaku peng-abdi di lokasi pengpeng-abdian; (6) ko-munikasi/koordinasi lpm dengan pe-nanggung jawab lokasi pengabdian; (7) kesesuaian waktu pelaksanaan dengan kegiatan pengabdian masya-rakat; (8) kesesuaian keahlian peng-abdi dengan kegiatan pengpeng-abdian; (9) kemampuan mendorong keman-dirian/swadaya masyarakat; dan (10)
hasil pengabdian dapat dimanfaat-kan masyarakat.
Hasil penjaringan kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiat-anpengabdiandapatdisampaikan se-bagai berikut.Berdasarkan pengisian kuesioner dapat dinyatakan bahwa persepsi guru dan peserta didik ter-hadap kegiatan PPM ini lebih ba-nyak pada kategori baik dan sangat baik. Dengan kata lain, jika kegiatan semacam ini diselenggarakan pada masyarakat (khalayak), maka khala-yak akan merasakan puas. Kepuasan yang tergolong pada kategori sangat
menge-lola lingkungan, khususnya budida-ya vertikultur (50,00%); dan (8) ke-mampuan mendorong kemandirian/ swadaya masyarakat (35,71%).Satu aspek yang dinilai cukup oleh se-bagian responden (50,00%) adalah kesesuaian waktu pelaksanaan de-ngan kegiatan pengabdian masyara-kat.
2. Pembahasan
Temuan atau hasil dalam ke-giatan ini menunjukkan bahwa ngetahuan para peserta tentang pe-ngelolaan lingkungan sekolah, ke-amanan pangan, dan budidaya ver-tikultur dapat ditingkatkan setelah merekamengikutikegiatanPPM. Pe-ningkatan iniwajar karena dalam ke-giatan ini diawali dengan pemberian materi tentang: (1) pengelolaan ling-kungan sekolah; (2) keamanan pa-ngan; (3) pendidikan berwawasan lingkungan; dan (4) budidaya verti-kultur organik. Kegiatan dilanjutkan demonstrasi dan praktek budidaya vertikultur organik secara berkelom-pok. Dalam hal ini, peserta didik je-las tidak hanya melihat dan mende-ngarkan, tetapi juga melakukan se-hingga sesuai dengan prinsip
learn-ingbydoing.Denganmelakukan sen-diri,maka retensi akan diperkuat, se-pertipendapatHeinich(1999:63) bah-wa belajar dengan melakukan ke-giatan yang memberikan first hand
experience lebih bermakna daripada
hanyamendengarkan informasi atau-pun melalui second hand
experien-ce. Hanya sebagian jumlah
respon-den yang memiliki persepsi baik
ter-hadap kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan masyarakat untuk menge-lola lingkungan, khususnya budi-dayavertikultur, dan 21,43% respon-den memiliki persepsi sangat baik. Kemungkinan persepsi mereka di-pengaruhioleh pengetahuan yang te-lah mereka miliki sebelumnya, yaitu pengetahuan tentang pengelolaan lingkungan dan ragam kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, me-reka yang memiliki persepsi cukup terhadapkegiatanpengabdian, sejum-lah 21,43% responden diduga ku-rang memiliki pengetahuan yang cu-kup tentang pengelolaan lingkung-an. Bagi mereka yang memiliki per-sepsi cukup, kemungkinan sulit un-tuk diubah perilakunya dalam hal mengelola lingkungan hidup mau-pun dalam hal memilih makan yang aman untuk dikonsumsi. Kemung-kinan tersebut didasari atas pendapat Becker (Notoatmojo, 2007) bahwa perilaku ditentukan oleh pengetahu-an, persepsi, dan sikap seseorang.
karena pelaksanaan pada hari Sabtu menggunakan jam efektif sekolah.
D. PENUTUP 1. Kesimpulan
Berdasarkan proses dan pro-duk kegiatan maka dapat ditarik ke-simpulan sebagai berikut.
a. Tersedia media untuk pembela-jaran yang berwawasan
eco-edu-cation, berupa tanaman
vertikul-tur.
b. Wawasan para peserta dalam hal pengelolaan lingkungan yang se-hat dan manfaat mengkonsumsi makanan sehat dan ramah ling-kungan meningkat.
2. Saran
Bertolak dari faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberhasilan program pengabdian, dapat disampaikan saran sebagai be-rikut.
a. Bagi sekolah, menugaskan para peserta didik baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler untuk tetap merawat, memperba-harui, dan menambah jenis ta-naman vertikultur.
b. Bagi guru, agar menghimbau pe-sertadidik untuk melakukan prak-tek vertikultur di lingkungan tem-pat tinggalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Heinich, R. et al. 1999. Instructional
Media. New York: John Wiley
and Sons.
Holbrook, J. 1998. A Resource Book
for Teachers of Science Sub-jects. Unesco.
Martodireso, S. dan Suryanto, W.A. 2001.TerobosanTeknologi Pe-mupukan dalam Era Pertanian Organik. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Notoatmojo, Soekidjo. 2007.
Pro-mosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit
Ri-neka Cipta.
Soerjani, Moh., Ahmad, Rofiq, dan Munir, Rozy. 1987.
Lingkung-an: Sumberdaya Alam dan Ke-pendudukan dalam Pemba-ngunan. Jakarta: Penerbit UI
Press.
Sumarwoto, Otto. 1991. Relevansi
Pendidikan dalam Lingkungan Hidup. Bandung: Universitas
Padjadjaran.
Sutarminingsih, Ch. L. 2003.
Verti-kultur Pola Bertanam secara Vertikal. Yogyakarta: Penerbit