• Tidak ada hasil yang ditemukan

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MELALUI BUDIDAYA VERTIKULTUR TANAMAN HORTIKULTURA ORGANIK

Oleh: Siti Mariyam, Tutiek Rahayu, dan Budiwati FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

[email protected]

Abstract

The purpose of this activity were: (1) Providing instructional media with eco-education minded at the urban school with limited land area; (2) Providing knowledge about the benefits of a healthy environment and orga-nic foods; (3) Providing verticultural farming of orgaorga-nic horticultural plant skills to students.

This service activities conducted with visiting the location, namely in SMP Muhammadiyah 5 Patehan Lor Road Yogyakarta. The target acti-vity were 5 teachers and 25 students, the activities initiated by the pretest and ending with posttest. The activities included: (1) presenting the material of a healthy environment and healthy food, nutritious and environmentally friendly; (2) demonstrating and practicing of verticultural farming of orga-nic horticultural plants; (3) evaluating the effectiveness of action after one month activities.

The evaluation was carried out by reviewing the one month activities to see success of practiced verticultural cultivation. Then, given a question-naire sheet about the activities benefits, and knowing the activities advan-tages and disadvanadvan-tages. This service activities could be said to be success-ful because all participants were practicing the verticultural farming of orga-nic horticultural plants in a groups.

Keywords: eco-education, verticultural cultivation, and organic

horticultu-ral plants

A. PENDAHULUAN 1. Analisis Situasi

Berbagaimacamaktivitas ma-nusia dapat menimbulkan permasa-lahan lingkungan, jika dalam mela-kukan aktivitas tersebut tidak mem-perhatikan pengelolaan sumberdaya

(2)

yang potensial menjadi pencemar jika melebihi nilai ambang batas. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, kita akan terkena efek bu-ruknya, apalagi jika hasil pertanian juga terkena polutan. Begitu pula di perkotaan, persoalan lingkungan se-makin kompleks karena sese-makin be-ragam pula aktivitas warganya. Se-bagaikonsumenhasil pertanian, war-ga kota seyogyanyawaspada terha-dap bahaya-bahaya yang bersumber dari produk-produk yang mungkin tercemar bahan-bahan berbahaya.

Dewasa ini, permasalahan lingkungan telah menjadi isu global (mendunia), setelah hampir semua elemen masyarakat menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari ke-rusakan lingkungan. Kini, masyara-kat menjadi semakin arif dalam me-milih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi ke-cenderunganbarudisegalaaspek ke-hidupan,termasukdalambidang per-tanian. Dengan meninggalkan peng-gunaan pupuk dan pestisida berba-han kimia sintetis dan hormon per-tumbuhan dalam industri pertanian merupakan satu upaya untuk meng-hasilkan produk yang ramah ling-kungan dan aman bagi kesehatan. Bahan makanan yang sehat dan ber-gizi dapat diperoleh dari pertanian organik. Pertanian organik adalah cara menanam tanaman secara alami dengan penekanan terhadap perlin-dungan lingkungan dan pelestarian tanah serta sumber air yang

berke-lanjutan. Pertanian organik meng-gunakan pupuk dan pestisida biologi tanpa bahan kimia sehingga melin-dungi tanah, udara, tanaman dan he-wan. Dengan demikian, jika kita mengkonsumsi makanan yang ber-asal dari tanaman organik, kita dapat hidup lebih sehat karena terhindar dari racun yang berbahaya.

Pada umumnya di perkotaan untuk menanam tanaman yang kita inginkan kadang-kadang terkendala oleh luas lahan yang tersedia. Untuk mengatasi lahan yang sempit, kita bisa menanam tanaman secara verti-kultur. Sistem vertikultur adalah sis-tem budidaya pertanian yang dilaku-kan secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini cocok diterapkan di la-han-lahan sempit atau di pemukim-an ypemukim-ang padat penduduk.

(3)

Terkait dengan permasalahan lingkungan, maka pendidikan ling-kungan (eco-education) perlu diberi-kan kepada semua lapisan masyara-kat,termasukpara peserta didik. De-nganbudidaya vertikultur yang meli-batkan para peserta didik di sekolah selain berdampak langsung bagi penghijauan di sekolah, juga dapat menjadi sarana pembelajaran. Im-plementasi eco-education pada ke-giatan pengabdian ini akan dilaksa-nakan di salah satu sekolah di per-kotaan, yaitu di SMP Muhammadi-yah 5 Yogyakarta. Alasan dipilihnya sekolah ini adalah sebagai berikut. a. Berdasarkansurvei,lokasisekolah

berada di kawasan padat penghu-ni dan mempunyai lahan yang sempit. Kebanyakan peserta didik juga tinggal di pemukiman padat penduduk.Keterbatasanlahan ber-akibat anak-anak tumbuh dengan kondisiterkungkung tembok-tem-bok dinding rumah yang berhim-pitan dan jauh dari tumbuhan dan hewan. Padahal, sumber daya ha-yati di lingkungan alam sekitar memiliki potensi yang besar se-bagai laboratorium alami untuk belajar sains, terutama biologi. Di halaman anak-anak dapat belajar dengan menggunakan obyek nya-ta sehingga mendapat “first hand

expierience”. Oleh karena itu,

se-kolahini memerlukan bantuan pe-mecahan persoalan dalam menye-diakan media pembelajaran yang berwawasan pendidikan ling-kungan (eco-education).

b. Kebanyakan peserta didik berasal dari keluarga dengan tingkat eko-nomi menengah ke bawah. Diha-rapkan dengan kegiatan ini para peserta didik dapat menerapkan di lingkungan tempat tinggalnya. Di samping untuk menjaga kese-hatan lingkungan, menambah ke-indahan lingkungan, juga mem-bantu untuk mengurangi penge-luaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan ramah lingkungan dengan mena-nam tamena-naman hortikultura secara vertikal (vertikultur).

c. Anak seusia SMP, terutama yang tinggaldi daerah perkotaan sangat rentan terhadap pengaruh buruk pergaulan sehingga perlu diberi-kan kegiatan positif yang menye-nangkan danbermanfaatbagi diri-nyasendirimaupunbagi lingkung-annya.

2. Landasan Teori

(4)

Untuk mendukung kehidup-an, manusia harus menggunakan un-sur-unsur dalam lingkungan hidup-nya; udara untuk bernafas; air untuk minum, keperluan rumah tangga, pengairan dan industri; tumbuhan untuk makan dan obat-obatan; dan lain sebagainya. Jadi, lingkungan hi-dup bukan hanya tempat hihi-dup kita, melainkan juga sumberdaya kita. Berarti, kalau lingkungan hidup kita bermasalah, maka sumberdaya kita juga akan terganggu, berarti juga ke-hidupan kita juga akan terganggu karena kebutuhan hidup kita telah terganggu. Terganggunya kualitas lingkungan kita dapat terjadi karena kehadiran limbah, baik limbah cair, gas maupun padat (Soerjani, dkk., 1987).

Eco-educationmengacupada pendapat Holbrook (1998), yaitu be-lajar sains berorientasi konteks dan menanamkan proses pembelajaran ke masalah autentik yang berkem-bang bersama masyarakat dengan mengembangkan beberapa hal seper-ti berikut.

a. Keingintahuan individu subjek belajar.

b. Kemampuan untuk bertanya. c. Menjawab pertanyaan serta

mem-buat keputusan.

Menurut Martodireso dan Suryanto (2001), konsep pertanian berkelanjutan adalah suatu sistem pertanian yang memiliki efisiensi in-put teknologi produksi, ramah ling-kungan, dan mampu meningkatkan daya dukung lahan. Teknologi yang efisien dan ramah lingkungan adalah

teknologi yang menggunakan bahan organikdanbiofertilizer sebagai

pen-dukung utama dalam input sarana produksi pertanian.

Pertanian organik adalah tek-nik budidaya pertanian yang meng-andalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian or-ganik adalah menyediakan produk-produk pertanian,terutamabahan pa-ngan yang aman bagi kesehatan pro-dusen dan konsumen serta tidak me-rusak lingkungan (Anonim, 2002).

Sutarminingsih (2003) me-nyatakan bahwa pada dasarnya ver-tikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempat-kan media tanam dalam wadah-wa-dah yang disusun secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini cocok di-terapkan di lahan-lahan sempit atau di pemukiman yang padat. Budidaya tanaman secara vertikultur di daerah perkotaan dapat menciptakan keasri-an, konservasi sumber daya tanah dan sumber daya air, memperbaiki iklim mikro perkotaan, serta dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizikeluarga,juga meminimalisir pe-ngeluaran keluarga.

(5)

re-latif sederhana; dan dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat dan menyayangi tanaman.

Untuk memulai budidaya ta-naman secara vertikultur, sebenar-nya tidak perlu direpotkan dengan peralatandanbahanyangakan meng-habiskanbiayayang besar,yang pen-ting wadah yang dipakai dapat me-nyediakan ruang tumbuh yang baik bagi tanaman. Wadah yang dapat di-gunakan antara lain pralon, karpet talang, karung bekas, kaleng bekas atau bambu (Sutarminingsih, 2003).

3. Tujuan Kegiatan

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tuju-an kegiattuju-an ini seperti berikut. a. Menyediakan media

pembelajar-an ypembelajar-ang berwawaspembelajar-an

eco-educa-tion di sekolah perkotaan

berla-han sempit.

b. Memberikanpengetahuan tentang manfaat lingkungan yang sehat dan manfaat mengkonsumsi ma-kanan organik.

c. Memberikan keterampilan budi-daya vertikulturtanaman hortikul-tura organik kepada peserta didik.

4. Manfaat Kegiatan

Manfaat kegiatan pengabdi-an ini seperti berikut.

a. Memberikan kegiatan yang me-nyenangkan dan bermanfaat bagi peserta didik dan lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya. b. Membantu mengurangi

penge-luaran keluarga dalam mencukupi

kebutuhan pangan yang sehat dan ramah lingkungan jika para pe-serta didik menerapkan pengeta-huan dan ketrampilannya di ling-kungan tempat tinggalnya.

B. METODE PENGABDIAN Sasaran kegiatan pengabdian iniadalah25orang peserta didik ang-gota OSIS SMP Muhammadiyah 5 Yogyakarta, 4 orang guru, dan 1 orangkaryawanyangbertanggung ja-wabmenangani kebun sekolah. Guru yang terlibat meliputi guru IPA, guru Keterampilan dan guru Tekno-logi Informasi dan Komunikasi. Da-sar pertimbangan dalam melibatkan guru karena guru tersebut memiliki peluang untuk menstransfer penge-tahuan dan ketrampilannya melalui matapelajaran yang diampu. Guru merupakan khalayak sasaran antara yang strategis karena memiliki pe-serta didik yang dapat menjadi “per-panjangan tangan” di sekolah mau-pun di masyarakat yang lebih luas. Apalagi dalam kegiatan ini sekali-gus para peserta didik yang terpilih mewakili temannya terlibatlangsung dalam semua rangkaian kegiatan pengabdian. Jadi, diharapkan guru dan peserta didik yang memiliki pe-ngetahuan dan keterampilan dalam budidaya vertikultur dapat menular-kan hal tersebut kepada orang lain. Dengandemikian, tidak sebatas pada pengetahuan saja, tetapi para peserta didik juga dapat berkembang life

skill-nya. Para guru peserta

(6)

me-lalui kegiatan pembelajaran yang mengandungmuatanpendidikan ling-kungan. Pelibatan karyawan yang bertanggung jawab dalam pemeliha-raan kebun sekolah sangat strategis karena bertanggung jawab untuk pe-meliharaan rutin tanaman hortikul-tura yang telah ditanam saat pelatih-an. Selain hal tersebut, karyawan pe-nanggung jawab kebun juga dapat membantu dalam penanaman ulang setelah panen agar program budi-daya vertikultur dapat terjaga keber-lanjutannya.

Untuk memecahkan perma-salahan akan dilakukan kegiatan ce-ramah interaktif dan pelatihan budi-daya vertikultur tanaman hortikultu-ra organik.Metode kegiatan yang di-lakukan sebagai berikut.

a. Ceramah interaktif tentang ling-kungan yang sehat.

b. Ceramah interaktif tentang pem-belajaran tematik untuk pendidik-an lingkungpendidik-an.

c. Ceramahinteraktiftentang makan-an ymakan-ang sehat, bergizi dmakan-an ramah lingkungan.

d. Demonstrasi dan praktek budida-ya vertikultur tanaman hortikul-tura organic.

Pemilihan metode ceramah interaktif didasarkan pada pertim-bangan bahwa materi ceramah me-rupakan materi yang mungkin masih baru bagi peserta sehingga tidak memungkinkan menggunakan meto-de yang menuntut partisipasi aktif mereka. Partisipasi peserta dalam kegiatan ceramah berupa penyam-paian pertanyaan kepada penyaji.

Demonstrasi dipergunakan oleh pe-nyajimateribudidayavertikulturagar memudahkan peserta untuk meng-ikuti informasi yang disampaikan penyaji.Keterlibatanaktifpeserta ter-jadi pada saat praktek budidaya ver-tikultur tanaman horver-tikultura orga-nik.

Kegiatan pengabdian ini di-lakukan dengan mendatangi lokasi kegiatan, yaitu di SMP Muhamma-diyah 5 di Jalan Patehan Lor Yogya-karta. Pretes dilaksanakan sebelum acara pembukaan kegiatan pengab-dian untuk mengetahui pengetahuan awal para peserta. Sebelum demons-trasi dan praktek, para guru dan pe-serta didik mendapat ceramah inter-aktif tentang: (1) pengelolaan hala-man sekolah agar tercipta lingkung-an ylingkung-ang sehat; (2) pembelajarlingkung-an te-matik untuk pendidikan lingkungan; (3) makanan sehat, bergizi, dan ra-mah lingkungan; dan (4) cara budi-daya vertikultur tanaman hortikultu-ra organik. Kegiatan cehortikultu-ramah inter-aktif diperlukan agar dapat terjadi

sharing pengetahuan antara tim

pe-laksana dengan peserta pengabdian masyarakat sehingga dapat menam-bah wawasan masing-masing.

(7)

pengabdian,yaitumodelgantungdan model tegak.

Jenis benih yang disiapkan tim pengabdi untuk praktek berupa: biji kangkung, biji sawi, semaian se-lada, dan semaian loncang. Wadah penanamanyangdisiapkantim peng-abdi berupa potongan bambu, pra-lon, botol air mineral bekas. Di sam-pingitu, disediakan peralatan penun-jangseperti:bor, tali plastik, dan per-alatan bertanam.

Untuk melihat peningkatan pengetahuan para peserta dilakukan postes setelah selesai praktek budi-daya vertikultur. Dengan memban-dingkan rerata hasil pretes dan pos-tes diharapkan dapat diketahui pe-ningkatan pengetahuan peserta.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil

Untukmengetahui peningkat-an wawaspeningkat-an guru dpeningkat-an peserta didik peserta PPM dilakukan pretes sebe-lum ceramahberbagaimateri dan de-monstrasi tentang budidaya vertikul-tur, dan sesudahnya dilakukan pos-tes. Nilai rata-rata pre tes adalah

68,50, sedangkan rata-rata postes adalah 76,50. Berdasarkan hasil pre-tes dan pospre-tes nampak ada pening-katan pengetahuan peserta tentang pengelolaan halaman sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat; makanan yang sehat, bergizi dan ramah lingkung-an; dan budidaya vertikultur tanam-an hortikultura orgtanam-anik. Dengtanam-an de-mikian, dapat dinyatakan bahwa ke-giatan PPM ini mampu meningkat-kan wawasan guru dan peserta didik tentang kesehatan lingkungan, ke-amanan pangan dan budidaya verti-kultur.

Selain peningkatan wawas-an, tujuan yang lain adalah melatih keterampilan peserta dalam hal bu-didaya vertikultur tanaman hortikul-turaorganik.Ragamtanamannya ada-lah: sawi, kucai, pakcoi, kangkung, bayam, kemangi, caisim, seledri, se-lada bokor, sse-lada air, dan bawang daun. Contoh hasil praktek budidaya vertikultur beberapa tanaman horti-kultura disajikan dalam bentuk foto-foto berikut.

(8)
[image:8.482.236.422.83.356.2] [image:8.482.73.423.84.405.2]

Gambar 2. Tanaman Selada Vertikultur Organik, Wadah Tanam Botol Bekas Air Mineral

Gambar 3. Tanaman Sawi Vertikultur Organik, Wadah Tanam Pralon

Gambar 4. Tanaman Sawi Vertikultur Organik, Wadah Tanam Bambu

[image:8.482.79.408.405.598.2]
(9)

Evaluasi kegiatan dilakukan dengan meninjau ke lokasi kegiatan satu bulan kemudian untuk melaku-kan observasi dan mendokumentasi-kan hasil praktek budidaya vertikul-tur. Indikator keberhasilan kegiatan pengabdian ini adalah jika minimal 60% peserta telah melaksanakan hal-hal yang telah disampaikan da-lam pelatihan. Dada-lam hal praktek, yang semula direncanakan paling tidak 60% peserta melakukan budi-daya vertikultur ternyata semua pe-serta melakukan praktek meskipun dalam kelompok. Setelah selesai se-mua kegiatan, kemudian peserta di-beri lembar kuisioner tentang man-faat yang dirasakan setelah meng-ikuticeramah, demonstrasi dan prak-tek, serta untuk mengetahui kelebih-andankekurangankegiatanyang me-reka ikuti. Lembar kuisioner berisi 10 pernyataan yaitu tentang: (1) ke-sesuaian kegiatan pengabdian de-ngankebutuhanmasyarakat;(2) ker-jasama pengabdi dengan masyara-kat; (3) memunculkan aspek pem-berdayaan masyarakat; (4) mening-katkan motivasi masyarakat untuk berkembang;(5)sikap/perilaku peng-abdi di lokasi pengpeng-abdian; (6) ko-munikasi/koordinasi lpm dengan pe-nanggung jawab lokasi pengabdian; (7) kesesuaian waktu pelaksanaan dengan kegiatan pengabdian masya-rakat; (8) kesesuaian keahlian peng-abdi dengan kegiatan pengpeng-abdian; (9) kemampuan mendorong keman-dirian/swadaya masyarakat; dan (10)

hasil pengabdian dapat dimanfaat-kan masyarakat.

Hasil penjaringan kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiat-anpengabdiandapatdisampaikan se-bagai berikut.Berdasarkan pengisian kuesioner dapat dinyatakan bahwa persepsi guru dan peserta didik ter-hadap kegiatan PPM ini lebih ba-nyak pada kategori baik dan sangat baik. Dengan kata lain, jika kegiatan semacam ini diselenggarakan pada masyarakat (khalayak), maka khala-yak akan merasakan puas. Kepuasan yang tergolong pada kategori sangat

(10)

menge-lola lingkungan, khususnya budida-ya vertikultur (50,00%); dan (8) ke-mampuan mendorong kemandirian/ swadaya masyarakat (35,71%).Satu aspek yang dinilai cukup oleh se-bagian responden (50,00%) adalah kesesuaian waktu pelaksanaan de-ngan kegiatan pengabdian masyara-kat.

2. Pembahasan

Temuan atau hasil dalam ke-giatan ini menunjukkan bahwa ngetahuan para peserta tentang pe-ngelolaan lingkungan sekolah, ke-amanan pangan, dan budidaya ver-tikultur dapat ditingkatkan setelah merekamengikutikegiatanPPM. Pe-ningkatan iniwajar karena dalam ke-giatan ini diawali dengan pemberian materi tentang: (1) pengelolaan ling-kungan sekolah; (2) keamanan pa-ngan; (3) pendidikan berwawasan lingkungan; dan (4) budidaya verti-kultur organik. Kegiatan dilanjutkan demonstrasi dan praktek budidaya vertikultur organik secara berkelom-pok. Dalam hal ini, peserta didik je-las tidak hanya melihat dan mende-ngarkan, tetapi juga melakukan se-hingga sesuai dengan prinsip

learn-ingbydoing.Denganmelakukan sen-diri,maka retensi akan diperkuat, se-pertipendapatHeinich(1999:63) bah-wa belajar dengan melakukan ke-giatan yang memberikan first hand

experience lebih bermakna daripada

hanyamendengarkan informasi atau-pun melalui second hand

experien-ce. Hanya sebagian jumlah

respon-den yang memiliki persepsi baik

ter-hadap kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan masyarakat untuk menge-lola lingkungan, khususnya budi-dayavertikultur, dan 21,43% respon-den memiliki persepsi sangat baik. Kemungkinan persepsi mereka di-pengaruhioleh pengetahuan yang te-lah mereka miliki sebelumnya, yaitu pengetahuan tentang pengelolaan lingkungan dan ragam kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, me-reka yang memiliki persepsi cukup terhadapkegiatanpengabdian, sejum-lah 21,43% responden diduga ku-rang memiliki pengetahuan yang cu-kup tentang pengelolaan lingkung-an. Bagi mereka yang memiliki per-sepsi cukup, kemungkinan sulit un-tuk diubah perilakunya dalam hal mengelola lingkungan hidup mau-pun dalam hal memilih makan yang aman untuk dikonsumsi. Kemung-kinan tersebut didasari atas pendapat Becker (Notoatmojo, 2007) bahwa perilaku ditentukan oleh pengetahu-an, persepsi, dan sikap seseorang.

(11)

karena pelaksanaan pada hari Sabtu menggunakan jam efektif sekolah.

D. PENUTUP 1. Kesimpulan

Berdasarkan proses dan pro-duk kegiatan maka dapat ditarik ke-simpulan sebagai berikut.

a. Tersedia media untuk pembela-jaran yang berwawasan

eco-edu-cation, berupa tanaman

vertikul-tur.

b. Wawasan para peserta dalam hal pengelolaan lingkungan yang se-hat dan manfaat mengkonsumsi makanan sehat dan ramah ling-kungan meningkat.

2. Saran

Bertolak dari faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberhasilan program pengabdian, dapat disampaikan saran sebagai be-rikut.

a. Bagi sekolah, menugaskan para peserta didik baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler untuk tetap merawat, memperba-harui, dan menambah jenis ta-naman vertikultur.

b. Bagi guru, agar menghimbau pe-sertadidik untuk melakukan prak-tek vertikultur di lingkungan tem-pat tinggalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Heinich, R. et al. 1999. Instructional

Media. New York: John Wiley

and Sons.

Holbrook, J. 1998. A Resource Book

for Teachers of Science Sub-jects. Unesco.

Martodireso, S. dan Suryanto, W.A. 2001.TerobosanTeknologi Pe-mupukan dalam Era Pertanian Organik. Yogyakarta: Penerbit

Kanisius.

Notoatmojo, Soekidjo. 2007.

Pro-mosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit

Ri-neka Cipta.

Soerjani, Moh., Ahmad, Rofiq, dan Munir, Rozy. 1987.

Lingkung-an: Sumberdaya Alam dan Ke-pendudukan dalam Pemba-ngunan. Jakarta: Penerbit UI

Press.

Sumarwoto, Otto. 1991. Relevansi

Pendidikan dalam Lingkungan Hidup. Bandung: Universitas

Padjadjaran.

Sutarminingsih, Ch. L. 2003.

Verti-kultur Pola Bertanam secara Vertikal. Yogyakarta: Penerbit

Gambar

Gambar 2. Tanaman Selada  Vertikultur Organik, Wadah

Referensi

Dokumen terkait

Masy spt tubuh man, organ2 saling Masy spt tubuh man, organ2

PENUTUP Dosen memberikan resume / rangkuman tentang materi yang telah diberikan.. 15 menit Ceramah

PENUTUP Dosen memberikan resume / rangkuman tentang materi yang telah diberikan. 20 menit Ceramah

Memberikan tugas kepada mahasiswa untuk berlatih membuat permohonan Modal Kerja

Ceramah, tanya jawab, penugasan, mendatangka n lembaga. Modul

-- sehat sehat dinamis dinamis yaitu yaitu normalnya normalnya fungsi fungsi alat alat--alat alat tubuh tubuh pada

Pembinaan lingkungan sekolah sehat yang merupakan salah satu unsur penting dalam membina ketahanan sekolah harus dilakukan, karena lingkungan kehidupan yang sehat

 adalah suatu ilmu yang membahas kelebihan dan keterbatasan manusia, dan secara sistematis dan memanfaatkan tersebut untuk tujuan perancangan teknik, sehingga dapat tercipta