BENTUK PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL PADA PTPN II (PERSERO) KEBUN TANDEM HILIR.
Peneliti
Mei H. M. Munte, SE., M.Si
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
BAB I PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Keterbatasan dalam mengelola perusahaan yang berkembang, merupakan
masalah yang harus benar–benar ditangani dengan baik agar tidak menimbulkan
kerugian yang besar bagi perusahaan. Keterbatasan yang dimiliki perusahaan
akan semakin sukar diatasi jika semakin besar. Sehubungan dengan hal tersebut
kemajuan perusahaan dapat dicapai melalui kebutuhan informasi untuk tujuan
pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil sangat menentukan
kelangsungan hidup perusahaan sehingga peranan akuntansi semakin di butuhkan.
Salah satu masalah yang penting untuk diawasi adalah berkenaan dengan
masalah keterkaitan suatu perusahaan dengan daerah lingkungan sosialnya yang
menuntut dipenuhinya pertanggungjawaban sosial perusahaan (Coorporate Social
Responsibility–CSR).Perusahaan yang besar dan kompleks tidak hanya memiliki
kewajiban – kewajiban ekonomis dan legal kepada para pemegang saham saja
(shareholder) tetapi juga kewajiban – kewajiban terhadap pihak lain yang lebih
luas lagi termasuk kepada masyarakat (stakeholders). Apalagi jika perusahaan
tersebut mempunyai banyak cabang di daerah – daerah dan lokasi kebun yang
letaknya cukup berjauhan. Pada saat seperti inilah Akuntansi Pertanggungjawaban
Sosial suatu perusahaan diharapkan memiliki komitmen untuk :
a) Berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan.
c) Meningkatkan perhatian terhadap lingkungan kondisi tempat kerja.
d) Hubungan perusahaan antar komunitas lokal dan masyarakat luas.
e) Investasi sosial perusahaan.
f) Citra perusahaan di mata publik menjadi baik.
g) Meningkatkan kinerja keuangan perusahaaan.
Perusahaan beraktifitas melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya,
dimana akibat dari interaksi tersebut menuntut terciptanya hubungan timbal balik
antara perusahaan dengan lingkungan sosialnya. Hal ini akan berimplikasi pada
timbulnya dampak – dampak sosial atas kegiatan operasi perusahaan terhadap
lingkungannya. Sepanjang perusahaan menggunakan sumber daya manusia dan
komunitas yang ada, maka perusahaan memiliki tanggung jawab untuk
menghasilkan profit dan mengembalikan sebagian profit tersebut bagi masyarakat.
Dasar pengungkapan sosial adalah pernyataan standar Akuntansi
Keuangan No. 1 Paragraf 09 yang menghendaki :
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor – faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting.1
Dengan demikian fungsi akuntansi keuangan sangat penting dalam
pengungkapan suatu pertanggungjawaban sosial dalam perusahaan guna
menciptakan kesan dan citra yang baik tentang nilai sosial perusahaan dan
mendukung kesinambungan bisnis perusahaan. Dari penjelasan tersebut maka
tertarik membahas dalam tulisan skripsi yang berjudul : BENTUK
1Ikatan Akuntansi Indonesia.Standar Akuntansi Keuangan :Salemba Empat, Jakarta,
PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL PADA PTPN II (PERSERO) KEBUN TANDEM HILIR.
B. Perumusan Masalah
Setiap perusahaan dalam menjalankan operasinya selalu menghadapi
masalah yang berbeda sesuai dengan jenis kegiatan yang dijalankan oleh
perusahaan itu yang dapat menghambat pencapaian tujuan dan sasaran
perusahaan.
Menurut Sumadi Suryabrata “Masalah atau permasalahan ada kalau ada kesenjangan (gap) antara das Sollen dan das Sein ; ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan, dan yang sejenis dengan itu”2
Berkaitan dengan masalah yang dihadapi perusahaan terhadap lingkungan
sosialnya, maka permasalahan yang dirumuskan adalah : Apakah perusahaan telah
menerapkan akuntansi pertanggungjawaban sosial secara memadai dalam rangka
kelangsungan hidup perusahaan ?
A. Hipotesis
Moh Nazir mengemukakan bahwa hipotesis adalah :
…pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar
2 Sumadi Suryabrata,Metode Penelitian, Edisi Kedua, Cetakan Kedelapanbelas : Raja
kerja serta panduan dalam verifikasi”3 Berdasarkan masalah yang telah
dirumuskan maka hiopotesis dapat dikemukakan yaitu :
1. Perusahaan telah menerapkan akuntansi pertanggungjawaban sosial secara
signifikan, jika tanggung jawab sosial pada masyarakat lingkungan perusahaan
dan tanggung jawab sosial pada tenaga kerja perusahaan (SDM) telah memadai
terhadap kelangsungan hidup perusahaan.
2. Perusahaan tidak menerapkan akuntansi pertanggungjawaban sosial secara
signifikan, jika tanggung jawab sosial pada masyarakat lingkungan perusahaan
dan tanggung jawab sosial pada tenaga kerja perusahaan (SDM) tidak memadai
terhadap kelangsungan hidup perusahaan.
B. Luas dan Tujuan Penelitain
Menyadari keterbatasan waktu dan kemampuan yang dimiliki maka
penelitian yang dilakukan hanya terbatas pada topik : Penerapan Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial pada masyarakat lingkungan perusahaan dan pada
tenaga kerja perusahaan (SDM).
Adapun tujuan diadakannya penelitan ini adalah :
1. Mengetahui apakah Akuntansi Pertanggungjawaban sosial pada PTPN II
(PERSERO) Kebun Tandem Hilir telah diterapkan sebagaimana mestinya.
2. Menyampaikan saran kepada manajemen perusahaan dalam penerapan
akuntansi pertanggungjawaban sosial yang lebih baik pada masa mendatang.
3 Moh Nazir, Metode Penelitian, Cetakan Keempat : Ghalia Indonesia, Jakarta 2005,
C. Metode Penelitan dan Pengumpulan Data
Penyusunan skripsi ini pada hakikatnya merupakan rangkaian kesimpulan
informasi yang diperoleh dari hasil penelitian dengan cara pendekatan untuk
memperoleh data informasi yang diperlukan. Untuk mendapatkan data dan
informasi dalam rangka merampungkan skripsi ini maka pengumpulan data
dilakukan dengan cara :
1. Penelitian Kepustakaan (Library research)
Penelitian ini berdasarkan kepustakaan, sehingga data yang dibutuhkan
diperoleh dengan membaca buku – buku, mempelajari buku – buku teori,
majalah – majalah ilmiah dan tulisan lain yang berkaitan dengan judul tulisan
ini. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder sebagai kerangka kerja
teoritis.
2. Penelitian Lapangan(Field Research)
Penelitian lapangan dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung
terhadap objek yang dipilih atau diteliti, untuk memperoleh data primer. Data
tersebut diperoleh dengan cara mengajukan kuesioner terhadap 4 (empat)
responden dari tiap – tiap bagian berikut: Manajer, Kadis, Asisten Adm dan
karyawan bagian Pembukuan yang dapat memberi informasi yang diperlukan
dalam objek penelitian.
D. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam usaha menguji kebenaran hipotesis
1. Metode Analisis Deskriptif( Descriptive Analysis Method )
Metode ini merupakan metode analisis yang mengumpulkan data,
merumuskan, mengklafikasikan, menginterpretasikan data yang diperoleh,
sehingga dapat memberikan gambaran umum mengenai objek penelitian atau
kebijaksanaan yang dilaksanakan oleh perusahaan.
2. Metode Analisis Deduktif ( Deductive Analysis Method )
Metode ini digunakan untuk menganalisis data dalam usaha membuat
kesimpulan dari fakta yang diamati dengan cara membandingkan antara teori
yang merupakan kebenaran umum terhadap praktek usaha. Dari kesimpulan
dibuat diharapkan dapat dikemukakan saran yang dapat mengatasi masalah
BAB II
URAIAN TEORITIS
A. Pengertian Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Sebelum pada uraian yang lebih luas ada baiknya dijelaskan terlebih
dahulu pengertian Akuntansi. Defenisi Akuntansi oleh Mulyadi adalah :
“Akuntansi dapat dipandang sebagai suatu sistem yang mengolah masukan
berupa data operasi dan data keuangan untuk menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi yang dibutuhkan oleh pemakai”.4
Menurut Henry Simamora dalam bukunya menyatakan: “Akuntansi
adalah proses pengidentifikasian, pencatatan, dan pengkomunikasian kejadian-kejadian ekonomi suatu organisasi (perusahaan ataupun bukan perusahaan) kepada parapemakai informasi yang berkepentingan”.5
Sementara itu defenisi tanggung jawab sosial menurut Jeff Madura adalah:
“Suatu pengakuan dari perusahaan bahwa keputusan bisnis dapat
mempengaruhi masyarakat”.6
Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwa Social Responsibility
Accounting merupakan bagian ilmu akuntansi yang memperhitungkan pertukaran
yang terjadi antara perusahaan dan lingkungan sosialnya.
4 Mulyadi, Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi Kedua,
Cetakan Ketiga : Salemba Empat, Jakarta, 2001, hal. 1.
5 Henry Simamora, Akuntansi Basis Pengembalian Keputusan Bisnis, Buku Satu,
Cetakan Pertama : Salemba Empat, Jakarta, 2000, hal. 1.
6 Jeff Madura,Introduction to Business, 2nd Edition,Pengantar Bisnis, Alih Bahasa :
Sejak awal tahun 70-an, istilah Social Accounting banyak digunakan oleh
para penulis. Kemudian setelah itu muncul istilah Social Audit. Kemudian pada
tahun 1979 sampai 1981 banyak kalangan penulis yang menggunakan istilah
Social Reporting dan masih banyak istilah-istilah lain yaitu Social Responsibility
Accounting, Social Accounting, Socioeconomic Accounting, dan Social
Responsibility Disclosure dimana dari seluruh istilah tersebut yang paling banyak
digunakan adalahSocial Accounting.
Menurut Sofyan Syafri ada tiga pandangan atau model yang
menggambarkan tentang keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial yaitu:
1. Model Klasik
Pendapat ini berkembang pada abad ke – 19, bertitik tolak pada konsep persaingan sempurna, dimana perilaku ekonomi terpisah dan berbeda dengan bentuk dan jenis perilaku yang lain. Tujuan perusahaan hanya untuk mencari untung yang sebesar-besarnya. Kriteria keberhasilan perusahaan diukur oleh daya guna dan pertumbuhan. Menurut pendapat ini, usaha yang dilakukan perusahaan semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan pasar dan mencari untung yang akan dipersembahkan kepada pemilik modal. Jelasnya perusahaan, menurut pendapat ini tidak perlu memikirkan usaha untuk memperbaiki penyakit sosial. 2. Model Manajemen
Menurut pendapat ini perusahaan dianggap sebagai lembaga permanen yang hidup dan punya tujuan tersendiri. Dengan demikian manajer sebagai team yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan terpaksa memilih kebijakan yang harus mempertimbangkan tanggung jawab sosial perusahaan mengingat ketergantungannya dengan pihak lain yang juga punya andil dalam pencapaian tujuan perusahaan yang tidak hanya memikirkan setoran buat pemilik modal.
3. Model Lingkungan sosial
Model ini menekankan bahwa perusahaan menyakini bahwa: kekuasaan ekonomi dan politik yang dimilikinya mempunyai hubungan dengan kepentingan (bersumber) dari lingkungan sosial dan bukan hanya semata dari pasar sesuai dengan teori atau model klasik.7
7 Sofyan Syafri Harahap, Teori Akuntansi, Edisi Revisi, Cetakan Keempat : Raja
Sementara itu Ahmed Riahi-Belkaoui dalam bukunya memberikan definisi
Akuntansi Pertanggungjawaban sosial sebagai berikut:
…pemilihan variable-variabel, ukuran, dan prosedur pengukuran dari kinerja sosial tingkat perusahaan; yang secara sistematis mengembangkan informasi yang berguna untuk pengevaluasian kinerja sosial perusahaan, dan mengkomunikasikan informasi seperti itu kepada kelompok-kelompok sosial yang berkepentingan baik di dalam maupun di luar perusahaan.8
Hal ini berarti akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan suatu jalan
keluar bagi perusahaan untuk bertanggung jawab secara umum. Sedangkan
T.Hani Handoko mendefinisikan tanggung jawab sosial berarti bahwa:
“…manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam
pembuatan keputusannya”.9 Tangung jawab sosial perusahaan ini merupakan
salah satu tugas yang harus dilakukan oleh para manajer organisasi perusahaan,
karena aspek ini merupakan syarat utama bagi berhasilnya perusahaan, terutama
untuk jangka panjang.
Dari pembahasan tersebut memberikan suatu kesimpulan umum, bahwa
tujuan akuntansi pertanggungjawaban sosial adalah mengukur dan
mengungkapkan kinerja sosial tingkat perusahaan yang ditimbulkan oleh
kegiatan-kegiatan perusahaan tehadap masyarakat.
8 Ahmed Riahi – Belkaoui, Accounting Theory, 5th Edition,. Teori Akuntansi, Alih
Bahasa : Ali Akbar Yulianto dan Risnawati Dermauli, Buku Satu, Edisi Kelima : Salemba Empat, Jakarta, 2006, hal. 349.
9 T. Hani Handoko, Manajemen, Edisi Kedua, Cetakan Keempatbelas : BPFE –
B. Karakteristik Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Dari beberapa definisi tentang pandangan akuntansi pertangungjawaban
sosial yang diberikan, pada dasarnya memiliki karakteristik yang sama yaitu:
1. Menilai dampak sosial kegiatan perusahaan.
2. Mengukur efektivitas program-program perusahaan yang bersifat sosial.
3. Melaporkan sampai seberapa jauh perusahaan memenuhi tanggung jawab
sosialnya.
4. Peniliaian menyeluruh terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan
dampaknya (baik sosial maupun ekonomi).
C. Tujuan Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Menurut Ahmed Riani-Belkaoui, terdapat tiga asumsi tujuan dari tanggung
jawab sosial perusahaan yaitu:
1. Yang berasumsi bahwa tujuan dari CSR (Coorporate Social Responsibility) adalah untuk meningkatkan citra perusahaan dan mempertahankan, biasanya secara implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik.
2. Yang berasumsi bahwa tujuan dari CSR (Coorporate Social
Responsibility) perusahaan adalah untuk membebaskan
akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi adanya kontrak sosial di antara organisasi atas dasar asumsi adanya kontrak sosial di antara organisasi dan masyarakat. Keberadaan kontrak sosial ini menuntut dibebaskannya akuntabilitas sosial.
3. Yang dampaknya berasumsi bahwa CSR (Coorporate Social
Responsibility) perusahaan secara efektif adalah perpanjangan
dari pelaporan keuangan tradisonal dan tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada investor.10
Pada tujuan pertama, perusahaan dalam kontrak sosialnya dipandang sebagai agen
produksi. Dalam tujuan kedua, perusahaan berperan sebagai agen dalam
pembagian sumber daya dan proses distribusi manfaat oleh masyarakat. Kedua
tujuan ini disebut sebagai tujuan pengukuran, sedangkan tujuan ketiga
berhubungan dengan proses pelaporan.
Dalam peraturan yang terjadi antara perusahaan dan lingkungan sosialnya,
akan timbul social cost dan social benefit. Social cost yaitu apabila kegiatan
perusahaan berakibat pada pengerusakan sumber daya, sedangkan social benefit
yaitu apabila kegiatan perusahaan berakibat meningkatkan sumber daya.
D. Ruang Lingkup Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Tuana Kota mengklasifikasikan ruang lingkup akuntansi
pertanggungjawaban sosial menjadi 4 (empat) bagian utama yaitu:
1. Keterlibatan Masyarakat yaitu meliputi kegitan-kegiatan yang memberikan
manfaat kepada masyarakat secara luas, misalnya pembangunan dan
pembiayaan dan pembelanjaan rumah-rumah, kegiatan-kegiatan
kedermawaan, perencanaan perbaikan kampung-kampung dan lain-lain.
2. Sumber-sumber Daya Manusia yaitu termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan
yang memberikan manfaat kepada pegawai, misalnya program latihan dan
peningkatan keterampilan, perbaikan keadaan dan suasana kerja, dan segala
sesuatu yang berkenaan dengan balas jasa kepada karyawan.
3. Sumber-sumber fisik dan sumbangan-sumbangan lingkungan yaitu dengan
sumber-sumber fisik dan sumbangan-sumbangan lingkungan dimaksudkan
mutu udara dan air serta pengendalian pencemaran suara (kebisingan)
disamping pemeliharaan atau konversi sumber-sumber dan pengendalian
4. Sumbangan barang atau jasa perusahaan yaitu dimaksudkan
pertimbangan-pertimbangan mengenai dampak dari produk perusahaan terhadap masyarakat
yakni dengan memperhatikan mutu, pembungkus, iklan, jaminan purna jual,
keselamatan dan lain-lain.
Sedangkan dalam buku Sofyan Syafri, Bradshaw mengemukakan ada 3
(tiga) bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yaitu:
1. Coorporate Philanthropy
Di sini tanggung jawab perusahaan itu berada sebatas kedermawaan atau voluntir belum sampai pada tanggung jawabnya. Bentuk tanggung jawab ini bisa merupakan kegiatan amal, sumbangan atau kegiatan lain yang mungkin saja tidak langsung berhubungan dengan kegiatan perusahaan.
2. Coorporate Responsibility
Di sini kegiatan pertanggungjawaban itu sudah merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan bisa karena ketentuan UU atau bagian dari kemauan atau kesediaan perusahaan.
3. Coorporate Policy
Di sini tanggung jawab sosial perusahaan itu sudah merupakan bagian dari kebijakannya.11
Selain itu terdapat 5 (lima) kemungkinan ruang lingkup dimana tanggung
jawab sosial berada, yaitu:
1. Sumbangan Laba Netto(net profit contribution)
Meningkatnya perhatian terhadap diterimanya tujuan sosial, haruslah tidak
mengurangi pentingnya tujuan memperoleh laba. Disini terjadi timbal balik
yang saling menguntungkan antara laba dan lingkungan sosial.
2. Sumbangan Terhadap Lingkungan(environtmental contribution)
Perusahaan bertanggung jawab untuk mengatasi dampak negatif yang
ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan perusahaan serta aspek lingkungan
produksinya. Misalnya, pemakaian sumber daya, proses produksi dan dampak
kegiatan perusahaan.
3. Sumbangan Kepada Publik(public contribution)
Dimana perusahaan dalam melakukan kegiatannya memperhitungkan dampak
dari kegiatan operasional serta usaha perusahaan dalam memberikan manfaat
kepada masyarakat diluar perusahaan.
4. Sumbangan Kepada Sumber Daya Manusia(human resources contribution)
Perusahaan bertanggung jawab dalam meningkatkan sumber daya manusia
dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang memberi manfaat kepada
pegawai, misalnya, pensiun, jaminan kesehatan.
5. Sumbangan Produk atau Jasa(product or service contribution)
Yaitu pertimbangan mengenai dampak dari produk perusahaan terhadap
masyarakat (meliputi aspek kualitatif produk atau jasa), misalanya meliputi
standar kualitas, pengepakan, dan jaminan produk dan upaya menciptakan
produk yang tidak merusak atau mencemarkan lingkungan.
Menurut Zimmerer dalam buku yang ditulis Dr. Suryana ada beberapa
macam pertanggungjawaban perusahaan, yaitu:
1. Tanggung jawab Terhadap Lingkungan.
Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan, melestarikan dan menjaga lingkungan, misalnya tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan, menjalin komunikasi dengan kelompok masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
2. Tanggung jawab Terhadap Karyawan
Tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan dapat dilakukan dengan cara:
• Dengarkan para karyawan dan hormati pendapat mereka • Berikan umpan balik baik yang positif maupun negatif • Berilah hadiah kepada karyawan yang bekerja dengan baik • Percayakanlah mereka
3. Tanggung jawab Terhadap Pelanggan
Tanggung jawab sosial perusahaan terdapat pelanggan menurut Ronald J.Ebert ada dua kategori, yaitu:
2. Memberikan harga produk dan jasa yang adil dan wajar Tanggung jawab sosial perusahaan juga termasuk melindungi hak-hak pelanggan. Ada 4 (empat) hak pelanggan, yaitu:
• Hak untuk mendapatkan produk yang aman
• Hak untuk mendapatkan informasi segala aspek produk • Hak untuk didengar
• Hak untuk memilih apa-apa yang mereka akan beli 4. Tanggung jawab terhadap investor
Tanggung jawab perusahaan terhadap investor adalah menyediakan pengembalian (return) investasi yang menarik di antaranya dengan memaksimumkan laba. Selain itu, perusahaan juga bertanggung jawab untuk melaporkan kinerja keuangannya kepada investor seakurat dan setepat mungkin.
5. Tanggung jawab Terhadap Masyarakat
Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Misalnya menyediakan pekerjaan dan menciptakan kesehatan dan menyediakan berbagai kontribusi terhadap masyarakat yang berada dilokasi tersebut.12
Kegiatan program yang dilakukan oleh perusahaan dalam konteks
tanggung jawab sosialnya dapat dikategorisasi dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Public relation
Usaha untuk menanamkan persepsi positif kepada komunitas tentang kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Biasanya berbentuk kampanye yang tidak terkait sama sekali dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Bentuk ini lebih ditekankan pada penanaman persepsi tentang perusahaan dengan si perusahaan membuat suatu kegiatan sosial tertentu dan khusus sehingga tertanam dalam image komunitas bahwa perusahaan tersebut banyak melakukan kegiatan sosial sampai anggota komunitas tidak mengetahui produk apa yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan.
2. Strategi defensif
Usaha yang dilakukan oleh perusahaan guna menangkis anggapan negatif komunitas luas yang sudah tertanam terhadap kegiatan perusahaan terhadap karyawannya, dan biasanya untuk melawan ‘serangan’ negatif dari anggapan komunitas atau komunitas yang sudah terlanjur berkembang.
3. Keinginan tulus untuk melakukan kegiatan yang baik yang benar-benar berasal dari visi perusahaan itu
Berusaha untuk menanamkan kesan baik terhadap komunitas atau komunitas berkaitan dengan kegiatan perusahaan, biasanya
berkaitan erat dengan kebudayaan perusahaan yang berlaku. Kegiatan tanggung jawab sosial dari perusahaan yang bersangkutan didorong oleh kebudayaan yang berlaku di perusahaan, sehingga secara otomatis dalam kegiatan pertanggungjawaban sosial perusahaan yang bersangkutan sudah tersirat etika dari perusahaan tersebut.13
Literatur dalam ilmu sosial. Ilmu sosiologi, dan khususnya
kegiatan-kegiatan sosial merupakan saksi dan penyebab yang mendorong timbulnya
akuntansi pertanggungjawaban sosial perusahaan. Dalam hal ini menimbulkan
adanya kecenderungan beralihnya perhatian pada kesejahteraan individu ke arah
kesejahtraan sosial.
Kecenderungan ini dapat dilihat dari beberapa paradigma berikut ini:
a. Kecenderungan Terhadap Kesejahteraan Sosial
Sejarah menunjukkan bahwa kelangsungan hidup manusia, kesejahteraan
masyarakat dan sebenarnya hanya dapat lahir dari sikap kerja sama antar
unit-unit masyarakat itu sendiri. Kenyataan ini semakin disadari dan semakin
dibutuhkan pertanggungjawabannya untuk mengetahui gambaran yang jelas
tentang keterkaitan saling pengaruh mempengaruhi antar perusahaan dan
masyarakat.
b. Kecenderungan Terhadap Kesadaran Lingkungan
Dalam hal ini kesadaran manusia dalam memperhatikan lingkungan belum
begitu besar, dimana justru perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan
binatang peliharaan dan kesayangan dan mengabaikan kesajahteraan makhluk
manusia itu sendiri. Kesadaran akan kebenaran inilah yang merupakan salah
satu pendorong munculnya akuntansi pertanggungjawaban sosial.
c. Perspektif Ekosistem
Orientasi yang terlalu diarahkan kepada pembangunan ekonomi, efesiensi,
menimbulkan krisis ekosistem. Dimana tanpa pembatasan terhadap tingkah
laku manusia tampaknya yang timbul hanya kehancuran dan kekacauan,
sehingga perspektif terhadap ekosistem inilah yang mendorong akuntansi
pertanggungjawaban sosial.
d. Ekonomisasi vs Sosialisasi
Ekonomisasi mengarahkan perhatian hanya kepada kepuasan individual
sebagai unit yang selalu mempertimbangkan cost dan benefit tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat. Sebaliknya sosialisasi
memfokuskan perhatiannya terhadap kepentingan sosial dan selalu
mempertimbangkan efek sosial yang ditimbulkan oleh kegiatannya.
Walaupun sosialisasi ini belum tampak nyata, namun pengaruh pemerintah
dan tekanan sosial cenderung menguntungkan kepentingan sosial. Akhirnya
perlu alat ukur sampai seberapa jauh pengaruh perusahaan terhadap
masyarakat.
Penyakit sosial yang ditimbulkan oleh pengaruh kegiatan Negara dan
bisnis ditanggulangi secara tepat dan terarah, salah satu upaya ke arah itu yaitu:
1. Perlunya Standar atau ukuran tentang kualitas pengaruh kegiatan itu.
2. Sikap baru yang muncul belakangan ini yang cenderung ke arah
memperhatikan kesejahteraan sosial perlu didukung dan dimantapkan, bahkan
perlu diratifikasi.
3. Hubungan perusahaan masyarakat perlu diserasikan dengan cara keterlibatan
Beberapa hal yang diungkapkan dalam konsep pengukuran dan penilaian
yaitu lingkungan:
1. Polusi
2. Pencegahan kerusakan lingkungan, konservasi sumber-sumber alam, dan
lain-lain.
Praktek usaha yang fair:
1. Merekrut pegawai dari minoritas dan peningkatan kemampuannya
2. Penggunaan tenaga wanita
3. Pembukaan unit usaha di luar negeri, dan lain-lain
Sumber tenaga manusia:
1. Kesehatan dan keamanan pegawai
2. Training, dan lain-lain
Keterlibatan terhadap masyarakat:
1. Kegiatan masyarakat sekitar
2. Bantuan kesehatan
3. Pendidikan
4. Seni, dan lain-lain
Produksi:
1. Keamanan produksi
2. Mengurangi polusi
3. Keracunan, dan lain-lain
Ahmed Belkaoui dengan cara sistematis mengelompokkan batasan sikap
perusahaan terhadap tanggung jawab sosial ini dalam lima kategori yaitu:
Pertama : Tanggung jawab perusahaan hanya terbatas pada usaha mencari laba
sebesar-besarnya tanpa memperhatikan efek sosialnya, berarti
perusahaan sudah memenuhi panggilan tugasnya sebagai badan usaha.
Menurut kategori ini, apabila perusahaan diwajibkan untuk
memperhatikan lingkungan sosial masyarakat, maka akan merusak
sendi-sendi ekonomi persaingan bebas.
Kedua : Disamping tujuan mencari untung, perusahaan juga harus
memperhatikan pihak-pihak tertentu dengan siapa ia mempunyai
kepentingan. Hal ini dicontohkan dengan perbaikan kesejahtraan
karyawan, menjalin hubungan baik dengan kelompok masyarakat, dan
lain-lain.
Ketiga : Perusahaan melepaskan diri dari tujuan hanya mencari laba dengan
memperluas tanggung jawab manajemen.
Keempat : Tanggung jawab sosial perusahaan mencakupi hal yang bersifat
ekonomi dan non ekonomi.
Dalam kategori ini dikenal tiga pusat lingkaran:
1. Lingkaran dalam, mencakup tanggung jawab dasar dalam melaksanakan
fungsinya dengan efisien.
2. Lingkaran tengah, mencakup tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi
ekonomisnya dengan penuh kesadaran akan perubahan nilai dan prioritas
yang berlaku dalam masyarakat.
3. Lingkaran luar, mencakup tanggung jawab yang baru muncul dan masih
berkembang, dimana perusahaan harus secara luas terlibat secara aktif
Kelima : Tanggung jawab sosial diperluas melewati batas tanggung jawab dan
mencakupi keterlibatan total terhadap tugas-tugas sosial.
Keenam : Kategori ini merupakan variasi semua pengertian yang diliput oleh
literatur tentang bentuk dan batasan tanggung jawab sosial perusahaan
di atas.
Bentuk keterlibatan perusahaan tergantung pada lingkungan sosial, bentuk
masyarakat, sifat, dan keadaan tertentu yang berbeda dari satu masyarakat dengan
masyarakat yang lain. Bentuk kegiatan tersebut sebagai berikut:
1. Lingkungan Hidup, yaitu terdiri dari:
a. Keindahan lingkungan
b. Penggunaan tanah
c. Pengelolaan sampah
d. Pengurangan suara bising
e. Pengawasan terhadap efek polusi
f. Dan lain-lain
2. Energi, terdiri dari:
a. Penghematan energi dalam proses produksi
b. Dan lain-lain
3. Sumber Daya Manusia dan Pendidikan, terdiri dari:
a. Keamanan dan kesehatan karyawan
b. Kebutuhan keluarga dan rekreasi karyawan
c. Menambah dan memperluas hak-hak karyawan
e. Pendirian sekolah
f. Peningkatan karier karyawan
g. Membantu pendidikan tinggi
h. Dan lain-lain
4. Praktek Bisnis yang jujur, terdiri dari:
a. Memperhatikan hak-hak karyawan
b. Selalu mengontrol kualitas produk
c. Adanya jaminan
d. Dan lain-lain
5. Membantu Masyarakat Lingkungan, terdiri dari:
a. Memanfaatkan tenaga ahli perusahaan dalam mengatasi masalah sosial di
lingkungannya
b. Membangun klinik kesehatan
c. Membangun sekolah
d. Membangun rumah ibadah
e. Sumbangan untuk kegiatan sosial masyarakat
f. Perbaikan sarana pengangkutan
g. Dan lain-lain
6. Kegiatan Seni dan Kebudayaan, terdiri dari:
a. Sponsor kegiatan seni dan budaya
b. Membantu lembaga seni dan budaya
c. Penggunaan seni dan budaya dalam iklan
7. Hubungan dengan Pemegang Saham, terdiri dari:
a. Sifat keterbukaan Direksi pada semua Persero
b. Pengungkapan keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial
c. Dan lain-lain
8. Hubungan dengan Pemerintah, terdiri dari:
a. Mentaati peraturan pemerintah
b. Membantu lembaga pemerintah sesuai dengan kemampuan perusahaan
c. Membantu secara umum usaha peningkatan kesejahteraan sosial
masyarakat
d. Dan lain-lain
Pelaksanaan bentuk-bentuk kegiatan tanggung jawab sosial di perusahaan
ini akan semakin cepat apabila terdapat beberapa tekanan atau faktor antara lain:
1. Adanya Peraturan Pemerintah dan UU yang diberlakukan
2. Ditetapkannya standar akuntansi yang mengharuskan pengungkapan
tanggung jawab sosial
3. Adanya kesadaran dari perusahaan
D.1. Tanggung jawab Sosial Pada Masyarakat Lingkungan Perusahaan
Adapun yang menjadi perhatian dalam Tanggung jawab Sosial Pada
Masyarakat Lingkungan Perusahaan adalah :
1. Pemberian subsidi kepada masyarakat dibandingkan dengan laba
perusahaan.
2. Pembangunan infrastruktur kesehatan seperti klinik kesehatan pada
3. Pemberian dukungan pada masyarakat dalam aspek pendidikan
(termasuk pemberian beasiswa, kesempatan magang, dan kesempatan
riset), dan pemberian fasilitas peendidikan (bus buat anak sekolah).
4. Ketertiban perusahaan dalam pendirian lembaga keagamaan (rumah
ibadah) dan kegiatan kerohanian (perayaan hari besar).
5. Keterlibatan perusahaan terhadap perbaikan sarana pengangkutan di
lingkungan masyarakat.
6. Pemberian sumbangan untuk kegiatan sosial masyarakat.
7. Pemberian bantuan pada lingkungan masyarakat atas perbaikan
perumahan dan pasar.
8. Prioritas lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar (termasuk
pemberian fasilitas dan motivasi oleh perusahaan untuk berwirausaha
bagi masyarakat sekitar di sekitar industri/perusahaan tersebut.
9. Dukungan perusahaan terhadap aspek kegiatan seni dan budaya dengan
menjadi sponsor pagelaran seni, pameran dan sebagainya.
D.2. Tanggung Jawab Sosial Pada Tenaga Kerja Perusahaan (SDM)
Adapun yang menjadi perhatian dalam Tanggung Jawab Sosial Pada Tenaga
Kerja Perusahaan (SDM) adalah :
1. Tanggung jawab perusahaan atas keselamatan kerja karyawan serta
fasilitas yang telah diberikan pada karyawan.
2. Pemberian atas fasilitas kesehatan karyawan (fasilitas berupa pendirian
perusahaan)
4. Pendirian koperasi karyawan.
5. Bantuan perusahaan atas pendidikan keluarga anggota karyawan seperti
beasiswa.
6. Pemberian fasilitas peribadatan di lingkungan perusahaan.
7. Pemberian cuti karyawan yang diberikan oleh perusahaan (termasuk
cuti yang diperlukan oleh pekerja wanita).
8. Tanggung jawab perusahaan dalam memperhatikan hak-hak karyawan.
9. Kebijaksanaan perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dan
rekreasi bagi karyawan perusahaan.
E. Konsep Pengukuran Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Masalah pengukuran ini merupakan hal yang sangat rumit dalam
Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial. Ada tiga pendekatan yang dapat menjadi
pedoman untuk ukuran yang dapat dipakai dalam pelaporan Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial yaitu:
1. Pendekatan Biaya Manfaat(Benefit Cost Approach).
Pendekatan biaya manfaat ini merupakan yang paling informatif dan tepat
dimana dalam pendekatan ini mengungkapkan biaya perusahaan dan manfaat
yang berkaitan dengan kegiatan sosial perusahaan. Menurut Estes ada beberapa
teknik pengukuran yang dapat dipakai, antara lain:
a. Penilaian Pengganti(Surrofgate Valuation)
Jika nilai dari sesuatu tidak bisa langsung ditentukan, maka kita bisa
kira-kira mempunyai kegunaan yang sama dengan yang sedang diukur.
Kelemahan dari cara ini adalah kemungkinan besar mengukur hal yang
salah, atau memilih suatu pengganti yang nilainya tidak sesuai dengan
yang sedang diukur.
b. Teknik Survey
Teknik ini mencakup cara-cara untuk mendapatkan informasi dari mereka
yang dipengaruhi, yaitu kelompok masyarakat yang dirugikan atau yang
menerima manfaat. Pengumpulan informasi yang paling mudah adalah
dengan bertanya langsung kepada anggota kelompok masyarakat yang
ada. Dalam melakukan pengumpulan informasi tersebut, ada beberapa
kriteria yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Responden harus mempunyai suatu pengertian yang jelas mengenai
dampak yang sedang diukur dalam dirinya.
2. Responden harus mampu menghubungkan dampak ini ke unit
moneter, baik secara langsung maupun menggunakan pengganti.
3. Responden harus memberikan jawaban dengan jujur.
c. Biaya Perbaikan dan Pencegahan
Untuk biaya-biaya sosial tertentu dapat dinilai dengan mengestimasi
pengeluaran yang dilakukan untuk memperbaiki dan mencegah
d. Penilaian yang Independen
Penilaian yang independen dapat berguna unutk menilai barang-barang
tersebut. Hal ini analog dengan penilaian pengganti yang dilakukan oleh
ahli dari luar perusahaan.
e. Putusan Pengadilan
Putusan pengadilan, misalnya denda akibat suatu dampak dari kegiatan
perusahaan sering menunjukkan nilai sosial.
f. Biaya Pengeluaran
Besarnya pengeluaran perusahaan untuk menghasilkan suatu manfaat
sosial, sebenarnya kurang layak untuk dijadikan indikator nilai manfaat
sosial.
2. Pendekatan Deskriptif
Pendekatan ini umumnya merugikan mengenai semua kegiatan sosial
perusahaan dan merupakan bentuk pelaporan sosial yang paling sederhana dan
paling informatif. Laporan ini digunakan sebagai penyajian lampiran laporan
tahunan.
3. Pendekatan Biaya Yang Dikeluarkan
Pendekatan ini menggambarkan semua pengeluaran untuk setiap kegiatan
sosial yang dilakukan dan mengkuantitaskan semua uraian kegiatan dalam bentuk
satuan uang. Pendekatan ini menggambarkan suatu daya banding(comparability),
yaitu hasil suatu tahun dapat dibandingkan dengan hasil tahun lainnya.
Sampai saat ini belum ada suatu standar atau pedoman akuntansi untuk
atau pedoman tersebut diperlukan untuk menjamin bahwa laporan yang disajikan
bermanfaat, wajar dan menyediakan informasi yang cukup bagi
kelompok-kelompok masyarakat yang berkepentingan. Standar atau pedoman tersebut juga
dapat digunakan sebagai dasar evaluasi atas prestasi perusahaan dan
meningkatkan daya banding laporan keuangan.
Kendala dalam penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial ini
adalah mengenai standar pengukuran untuk biaya sosial dan manfaat sosial. Selain
itu dibidang akuntansi sendiri belum ada standar atau pedoman yang mengatur
sehubungan dengan dampak lingkungan.
Selain itu untuk menilai dampak sosial dan tingkah laku dari organisasi
dalam hubungannya dengan apa yang dicapainya dilakukan audit sosial.
Menurut Bambang Rudito bahwa: “Audit Sosial merupakan proses
yakni sebuah organisasi dapat menaksir untuk keberadaan sosialnya, laporan pada organisasi tersebut dan meningkatkan keberadaannya”.14
Apabila dalam hasil audit sosial menggambarkan suatu proses yang sesuai dengan
apa yang diharapkan, maka kenyataan ini dapat mendorong menginformasikan
kepada stakeholder lain tentang apa yang telah dilakukan ke depan berkenaan
dengan kelangsungan hidup perusahaan.
14 Bambang Rudito,Audit Sosial, Cetakan Pertama : Rekayasa Sains, Bandung, 2007,
BAB III
GAMBARAN UMUM PADA PTPN II (PERSERO) KEBUN TANDEM HILIR
3.1 Sejarah Singkat dan Struktur organisasi Sejarah Singkat
Pada awalnya kebun Tandem Hilir hanya ada satu komoditi yaitu tanaman
Tembakau Deli. Sejarah pertama kali tanaman tembakau ditanam di Deli pada
tahun 1864 oleh seorang pioner Belanda bernama Jacobus Nienhuys. Hasil
tanaman tembakau tersebut cukup baik, maka pada tahun 1869 berdirilah sebuah
perusahaan yang bergerak dibidang tembakau yaitu Deli Maatschappij dan
tahun-tahun berikutnya berkembanglah perusahaan tembakau lainnya seperti pada tahun-tahun
1875 berdirilah Deli Batavia Maatschappij, tahun 1877 Tabak Maatschappij, dan
pada tahun 1889 Senembah Maatschappij. Pada mulanya areal tanaman tembakau
meluas sampai ke Asahan dan Siak akan tetapi kemudian hanya tinggal di daerah
Deli Serdang dan Langkat, dan ternyata areal yang paling sesuai untuk
menghasilkan daun dengan mutu yang baik terletak di antara sungai Ular dan
Sungai Wampu. Sewaktu ambil alih perkebunan oleh pemerintah yaitu pada tahun
1957 ternyata yang mengelola budidaya tembakau hanya tinggal dua perusahaan
yaitu Verenigde Deli Maatschappij dengan 5 (tahun) kebun, kemudian
berdasarkan PP No. 4 tahun 1968, kedua perusahaan tersebut dilebur menjadi
Dalam usaha pengembangan dan swasembada Gula Nasional, pemerintah
membentuk proyek gula PTPN-II dilatarbelakangi oleh percobaan tanaman tebu di
lahan tembakau oleh PPIG (Proyek Pengembangan Industri Gula/Ditjen
Perkebunan) yang dimulai pada tahun 1975. Penelitian juga melihat kemungkinan
penanaman tebu diantara rotasi tanaman Tembakau Deli sebagai usaha
peningkatan produktivitas tanah, pencegahan penyakit layu Tembakau Deli
(Pseudomonas solenacearum) melalui percobaan tanaman tebu sebelum bercocok
tanam Tembakau Deli, menekan biaya umum, serta pencegahan penyerobotan
lahan oleh masyarakat pada saat tanah dihutankan selama 5 (lima) tahun (Buiten
Werk). Tanaman tebu di kebun Tandem Hilir dimulai pada tahun 1982 yang
digiling pada tahun 1983 di PG Sei Semayang dengan kapasitas terpasang PGSS
4.000 TCD, PG Kwala Madu selesai dibangun akhir 1983 dan mulai giling pada
tahun 1984 dengan kapasitas 4.000 TCD. Kebun Tandem Hilir termasuk dalam
lingkungan PG Kwala Madu sejak tahun 1983 sampai dengan sekarang.
Sesuai perkembangan pada saat ini kebun Tandem Hilir hanya ada satu
komoditi yaitu tanaman tebu, sedangkan Tembakau Deli pada tahun 2005 kebun
Tandem Hilir tidak ditanami lagi tembakau sebab produktivitas tidak mencapai
target serta nilai perolehan penjualan tidak mencapai Harga Polok Produksi (HPP)
yang diharapkan perusahaan. Pengolahan produksi tembakau kebun Tandem Hilir
pada tahu panen 2004/2005 diolah kebun Tandem. Tahun 2005 areal Tembakau
Lingkungan Fisik Deskripsi Wilayah
Kebun Tandem Hilir merupakan salah satu kebun milik PTP. Nusantara II
yang dipimpin oleh seorang Administratur (sekarang Manager), yang bergerak di
bidang usaha sub sektor perkebunan yang mengupayakan komoditi perkebunan
yaitu tanaman tebu yang terdiri dari dua Daerah Pertanaman (DP) yaitu DP I dan
DP II, dimana kebun tersebut termasuk dalam wilayah desa Tandem Hilir I,
Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara,
berada pada ± 40 km dari Kota Medan.
Kebun Tandem Hilir memiliki ketinggian tempat ± 50 meter di atas
permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, memiliki jenis tanah Aluvial, yang
terdiri dari endapan krikil, pasir, dan lempung. Tekstur tanahnya berliat,
strukturnya sedang sampai berat. Curah hujan berkisar antara 1200-2100
mm/tahun. Temperatur rata-rata 22,100C-32,100C.
Berdasarkan letak wilayah, Kebun Tandem Hilir memiliki batas-batas
wilayah sebagai brikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tandem Hilir II
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kebun Tandem
3. Sebelah timur berbatasan dengan Kebun Bulu Cina
Keadaan Kebun dan Komoditi Tanaman Yang Dihasilkan
Kebun Tandem Hilir memiliki satu komoditi yaitu tanaman tebu. Adapun
luas wilayah kebun Tandem Hilir adalah 1.186.50 Ha dengan komposisi tebu TG
2007/2008 sebagai berikut:
- PC : 316,20 ha
- Ratoon–I : 258,80 ha
- Ratoon–II : 275.00 ha
- Ratoon–III : 255,10 ha
- KBP : 2,50 ha
- KBI : 10,50 ha
- KBD : 68,50 ha
- Jumlah TG : 1.168,50 ha
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 1 dan lampiran 2.
Kondisi Masyarakat dan Budaya Secara Umum
Kebun Tandem Hilir berada di Desa Tandem Hilir I, Kecamatan
Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatra Utara. Desa Tandem
Hilir I terletak di daerah aliran sungai dengan ketinggian ± 50 m di atas
permukaan laut. Daerah ini sering mengalami banjir dan pernah terjadi bercana
angin putting beliung.
Jumlah penduduk di Desa Tandem Hilir I berjumlah 11.509 jiwa dengan
jumlah keluarga 2.634 keluarga. Sebagian besar penduduk bermatapencaharian
sektor industri pengolahan dan jasa. Penghasilan yang diperoleh tiap keluarga
±250.000/ bulan, sehingga secara ekonomi masyarakat di Desa Tandem Hilir I
berekonomi lemah. Komoditi utama penghasilan penduduk adalah tebu, lainnya
kelapa sawit, dan padi.
Penduduk Desa Tandem Hilir I mayoritas beragama Islam, Kristen, dan
Budha. Suku yang paling banyak mendiami desa Tandem Hilir I adalah jawa,
semi permanen (57.5%), permanen (35%), dan tidak permanen (7,5% ). Sebagian
besar masyarakat menggunakan lahan milik negara sebagai sumber mata
pencaharian dengan menggunakan Hak Guna Usaha (HGU) dari pemerintah.
Deskripsi responden
Adapun yang menjadi responden untuk menjawab kuesioner yang saya
buat adalah :
1. Manajer
Alasan kenapa saya memilih manajer sebagai responden adalah :
1. Manajer yang bertanggung jawab terhadap lingkungan perusahaan.
2. Setiap tindakan yang harus di putuskan harus di ketahui terlebih dahulu
oleh manajer.
3. Manajerlah yang melaksanakan perncanaan, pengorganisasian,
pengendalian, dan pengawasan guna menunjang tugas pokok secara efektif
dan efisien.
4. Manajer lah yang mengajukan rencana kerja dan anggaran perusahaan
2. Kadis
Alasan kenapa saya memilih Kadis sebagai responden adalah :
1. Kadis bertanggung jawab atas semua kinerja di lapangan yang akan di
laporakan kepada manajer.
2. Menyusun, mengavaluasi, dan melakukan perbaikan terhadap
penyimpangan kerja di lapangan.
3. Mengkoordinir pelaksanaan penyusunan RKAP dan DP.
4. Memberikan usuk dan saran perbaikan yang diperlukan.
3. Asisten Admi
Alasan kenapa saya memilih Asistan Admi sebagai responden adalah :
1. Asisten Admi yang mengkoordinir seluruh kegiatan administrasi
perkantoran.
2. Melaksanakan satndar biaya dan fisik.
3. Mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan rencana kerja.
4. Krani Pembukuan
Alasan kenapa saya memilih Krani Pembukuan sebagai responden adalah :
1. Krani Pembukuan yang menyusun setiap transaksi perusahaan sebatas yang
di perintahkan oleh asisten Admi.
Dari bagian struktur organisasi tersebut dapat diuraikan fungsi dan uraian
dari masing-masing bagian sebagai berikut :
1. Manajer bertugas dan berwenang untuk :
a. Bertanggung jawab kepada Direksi.
b. Melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan
pengawasan guna menunjang tugas pokok secara efektif dan efisien.
c. Mengajukan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) unit kebun.
d. Mengendalikan kegiatan harian operasional kebun.
e. Memberikan usul dan saran kepada Direksi untuk perbaikan kinerja
perusahaan.
f. Memberi teguran, kondute, dan usul kepada karyawan.
2. Kadis Tanaman bertugas dan berwenang untuk :
a. Bertanggung jawab kepada Manajer.
b. Menyusun, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan terhadap
penyimpangan kerja di lapangan serta pengendalian biaya operasional agar
efektif dan efisien.
c. Melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan
pengawasan di tingkat rayon untuk menunjang pencapaian sasaran yang
telah ditetapkan Manajer.
d. Mengkoordinir pelaksanaan penyusunan RKAP dan DP.
e. Memberikan usul dan saran perbaikan yang diperlukan unit kebun kepada
3. Asisten Admi / umum / `tehnik bertugas dan berwenang untuk :
a. Bertanggung jawab kepada Manajer.
b. Menyusun rencana kerja dan anggaran perusahaan untuk laporan
manajemen.
c. Menyimpan uang kas dan surat-surat berharga milik perusahaan.
d. Mengendalikan sumber dana dan penggunaan dan serta pengamanan
terhadap asset perusahaan.
e. Menyampaikan saran-saran tentang kondisi keuangan dan administrasi
yang berkaitan dengan operasional perusahaan kepada Manajer.
f. Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana kerja.
g. Malaksanakan standar biaya dan fisik.
h. Mengkoordinir seluruh kegiatan administrasi perkantoran.
i. Mengusulkan / menilai kondute karyawan pelaksanaan lingkup kantor.
j. Melaksanakan kebijakan Manajer dalam mengelola dibidang tehnik.
k. Bertugas memelihara dan memperdayakan alat angkut berat, bengkel
tehnik, infrastruktur dan bangunan.
l. Membuat rencana tentang pengadaan, perbaikan dan pengoperasian
transport, bangunan / sipil, bengkel tehnik dan mekanisasi.
m. Menilai kondute karyawan pelaksanaan dalam mengusulkan mutasi dan
demo promosi jabatan.
4. PAPAM (Perwira Pengamanan) bertugas dan berwenang :
b. Bersama dinas / unit lainnya mengkoordinasi latihan bersama untuk
keamanan, keselamatan kerja, dan malakukan inspeksi / patrol.
c. Menyusun rencana kerja tahunan bidang keamanan.
d. Menganalisa dan memperbaiki serta meningkatkan hasil kerja dibidang
keamanan.
e. Mengusulkan kondute, mutasi promosi lingkup bidang keamanan.
B. Kegiatan Perusahaan
Dalam melaksanakan kegiatan perusahaan ada beberapa tahap yang
dilakukan oleh PTPN II (Persero) Kebun Tandem Hilir antara lain :
Kegiatan Proses Produksi
Proses produksi merupakan cara, metode atau tehnik yang digunakan
untuk menciptakan atau menambah manfaat suatu barang atau jasa dengan
memanfaatkan tenaga kerja, mesin, bahan baku dan modal yang ada.
Adapun tahap-tahap kegiatan pelaksanaan proses produksi antara lain :
1. Persiapan lahan
Sebelum penanaman tebu dilakukan terlebih dahulu tanahnya diolah untuk
menjamin perkecambahan yang tinggi. Untuk areal baru terlebih dahulu dilakukan
pembabatan dan rumpuk bakar kurang lebih 1 minggu sebelum penggemburan
tanah. Untuk areal ex tebu : sesudah selesai tebu di tebang (exR3) segera
dilakukan bakar klaras, kemudian dilakukan pengolahan tanah. Pengolahan tanah
tersebut dilakukan dengan pembajakan, penggemburan dan pembuatan juringan.
2. Pembibitan
Bibit tebu merupakan pertumbuhan dari mata tunas yang terdapat disetiap
ruas batang. Umur bibit yang normal : 6-7 bulan.
Ada beberapa macam bibit yaitu :
1. Rayungan, bibit yang mata tunasnya telah tumbuh. Satu stek dapat terdiri
dari 1-2 tunas.
2. Bagal, bibit yang mata tunasnya belum tumbuh, cocok ditanam dilahan
sawah ataupun tegalan. Untuk kebun Tandem Hilir menggunakan bibit
bagal (umur 6-7 bulan), kemudian di letakkan pada juringan tebu dan
dipotong 2-3 stek.
3. Dederan, bibit bagal yang disemaikan terlebih dahulu sampai keluar
tunasnya.
4. Bibit pucuk, bibit yang diambil dari ujung batang dengan 2-3 ruas.
Dalam pembibitan ini ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam
penentuan lokasi kebun pembibitan yaitu :
1. Lokasi dipinggir jalan, tujuannya untuk memudahkan angkut bibit,
saprodi, tebang dan distribusi bibit, serta dekat dengan sumber air untuk
mempermudah pemberian air.
2. Lahannya subur dengan solum yang dalam.
3. Dekat dengan areal tebu giling, supaya biaya angkut bibit lebih murah.
4. Lahan bebas hama dan penyakit dan bebas dari ternak hewan.
Penanaman dilakukan pada bulan Februari-juli. Bibit bagal berupa stek 2-3
mata diletakkan didasar juringan dengan overlapping 100% (doble stek) kemudian
ditutup setebal 3-5 cm pada musim hujan dan 6-10 cm pada musim kemarau.
Sebelum peletakan bibit bagal pada dasar juringan dilakukan terlebih dahulu
penaburan pupuk dengan dosis 100 Kg pupuk urea dan 400 Kg pupuk halei/Ha.
4. Pemupukan
Pemupukan tanaman tebu harus memperhatikan jenis, dosis, waktu dan
caranya. Empat hal tersebut perlu diperhatikan, agar tanaman mendapat unsur
hara yang sesuai, penyerapan yang tepat waktu, dan lebih efisien. Pemupukan ini
bertujuan untuk menambah unsur hara untuk tanaman. Pupuk yang digunakan
adalah pupuk : Pupuk Urea dan pupuk Halei, dimana pada pupuk tersebut
terkandung unsur N, P, K dan yang dibutuhkan tanaman tebu.
Pemupukan dilakukan dengan cara menabur pupuk tersebut pada juringan
tebu bersamaan dengan tanaman PC, tetapi unutk tanaman raton, pupuk tersebut
di tabur setelah umur tanaman : 2-3 minggu pada setiap juringan tebu.
5. Pengendalian Gulma dan Hama
Gulma merupakan tanaman pengganggu pada tanaman tersebut perlu
dikendalikan. Adapun cara-cara pengendalian gulma yaitu :
1. Menyiang dan 1x dan 2x (dengan tenaga manual).
2. Herbisida Pree Emerpence untuk tanaman PC dan Herbisida Post untuk
tanaman raton.
Hama berupa binatang pengganggu tanaman. Gangguan dilakukan dengan
dapat dilakukan upaya pencegahan. Upaya itu antara lain dengan menanam
varietas tebu tahan hama, kebersihan kebun terjamin, dan pergiliran pola tanam.
Beberapa hama penting yang sering menyerang tanaman tebu seperti : Hama
penggerek batang raksasa, hama uret, hama kutu bulu putih, hama ulat grayak,
hama belalang, hama tikus dan lain-lain.
6. Klentek
Klentak adalah pembersihan daun kering yang menempal pada batang
tebu, dan hal ini bertujuan untuk kemasakan batang tebu dari sinar matahari,
sehingga rendemen tebu diharapkan dapat mencapai anggaran. Disamping itu,
tujuan klentek agar pada saat tebang, penebang dapat menebang tebu sampai ke
pangkal tebu, sehingga pondasi yang tertinggal di lapangan seminim mungkin.
Klentek dilakukan pada umur tanaman 6-7 bulan.
7. Tebang
Penangan tebu dapat ditentukan dari Varietas tebu, umur tanaman dan
kemasakan tebu. Pada umumnya, untuk tanaman PC, umur tebu yang ditebang
yakni 11-12 bulan, dan untuk tanaman Raton yakni 10-11 buku.
Adapun penebangan tebu pada umumnya dilakukan secara manual, yakni:
1. Setiap penebang, terlebih dahulu membersihkan pangkal tebu dari
sampah-sampah tebu, kemudian dilakukan penebangan pada pangkal tebu, sehingga
dengan demikian diharapkan peningkatan poduksi tebu dan rendemen akan
2. Setiap batang tebu dibersihkan dari daun-daun kering dan pucuk tebu yang
produktif juga ikut di potong, kemudian di masukkan ke dalam ikatan tebu
(± 20 batang/ikat).
3. Tempat penumpukan ikatan tebu, terlebih dahulu dibersihkan, sehingga
pada saat pengangkutan setiap ikatan tebu ke atas truk pengangkut tebu,
sampah-sampah tidak ikut terbawa.
4. Tebu mati tidak ikut di masukkan ke dalam ikatan.
5. Tebu muda (sagalan) yang panjangnya < 1,5 meter, tidak di tebang, karena
akan menurunkan rendemen.
6. Tebu yang sudah dalam bentuk ikatan, diangkat ke truk pengangkutan tebu
untuk di giling di pabrik gula.
7. Tebu yang sudah di tebang, maximal 1x24 jam sudah harus di giling.
Dengan demikian, diharapkan produksi tebu dan produksi gula dapat di
capai sesuai yang di harapkan.
C. Bentuk-Bentuk Pertanggungjawaban Sosial Pada Perusahaan
Sehubungan dengan judul skripsi yaitu “Bentuk Penerapan Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial pada PTPN II (Persero) Kebun Tandem Hilir, maka
dikumpulkan data dari perusahaan mengenai beberapa bentuk kegiatan
perusahaan sebagai bukti keterlibatan sosialnya yang menyangkut dua indikator
yaitu tanggung jawab sosial pada masyarakat lingkungan perusahaan dan
tanggung jawab sosial pada tenaga kerja perusahaan (SDM)
Tanggung jawab sosial ini merupakan perangkat kebijakan yang harus
dilakukan oleh perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya
(Coorporate Social Resposibility). Secara umum tujuannya adalah untuk menilai
sejauh mana perusahaan menerapkan bentuk pertanggungjawaban sosial dalam
mengukur dan menilai kelangsungan hidup perusahaan malalui efisiensi dan
efektivitas. Dimana yang menjadi sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan
kualitas kehidupan dalam arti adanya kemampuan manusia sebagai individu
anggota komunitas untuk dapat menanggapi keadaan sosial yang ada dan dapat
menikmati serta memanfaatkan lingkungan hidup termasuk perubahan-perubahan
yang ada sekaligus memeliharanya.
Sesuai hasil kuesioner pada Tabel 3.1 yang ditunjukkan kepada empat
responden atas 9 (Sembilan) pertanyaan, dengan bobot pernyataan`
Tidak Memadai (TM) = 1, Kurang Memadai (KM) = 2, Cukup Memadai (CM) =
3, Memadai (M) = 4, Sangat Memadai (SM) = 5 dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Dilihat dari pemberian subsidi kepada masyarakat dibandingkan dengan laba
perusahaan, jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu 3,25.
Berarti bahwa pemberian subsidi kepada masyarakat dibandingkan laba
perusahaan masuk dalam kategori antara cukup memadai.
2. Untuk butir pertanyaan mengenai pembangunan infrastruktur kesehatan
seperti klinik kesehatan pada komunitas masyarakat, jumlah rata-rata dari
hasil 4 jawaban responden yaitu 3,5. berarti bahwa pembangunan
3. Pemberian dukungan pada masyarakat dalam aspek pendidikan (termasuk
beasiswa, kesempatan magang dan kesempatan riset) dan pemberian fasilitas
pendidikan (bus buat anak sekolah), dimana jumlah dari hasil 4 jawaban
responden yaitu 2,75. Berarti bahwa pemberian dukungan pada masyarakat
dalam aspek pendidikan masuk dalam kategori cukup memadai.
4. Pertanyaan mengenai keterlibatan perusahaan dalam pendirian lembaga
keagamaan (rumah ibadah) dan kegiatan kerohanian (perayaan hari besar),
dimana jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu mencapai 4,25.
Berarti bahwa bentuk keterlibatan perusahaan pada lembaga pendirian
lembaga keagamaan sudah memadai.
5. Keterlibatan perusahaan terhadap perbaikan sarana pengangkutan di
lingkungan masyarakat, jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu
mencapai 2,75. Berarti bahwa dalam keterlibatan perusahaan atas perbaikan
sarana pengangkutan di lingkungan masyarakat masuk kategori kurang
memadai.
6. Untuk butir pertanyaan dilihat dari pemberian sumbangan dari perusahaan
untuk kegiatan sosial masyarakat, jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban
responden yaitu 3,25. Berarti bahwa pemberian sumbangan untuk kegiatan
sosial masyarakat cukup memadai.
7. Sedangkan untuk butir pertanyaan atas pemberian bantuan perusahaan pada
lingkungan masyarakat atas perbaikan perumahan dan pasar, jumlah rata-rata
dari hasil 4 jawaban responden yaitu 2,75. Berarti bahwa pemberian bantuan
8. Dilihat dari prioritas pekerjaan bagi masyarakat sekitar, dimana jumlah
rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu 3,5. Berarti bahwa prioritas
pekerjaan bagi masyarakat sekitar cukup memadai.
9. Untuk butir pertanyaan terakhir apabila dilihat dari dukungan perusahaan
terhadap aspek kegiatan seni dan budaya dengan menjadi sponsor, atas
pagelaran seni dan pameran, dimana jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban
responden yaitu 3,75. Berarti bentuk pertanggungjawaban terhadap kegiatan
Tabel 3.1
Rekapitulasi Hasil Kuesioner Tanggung Jawab Sosial pada Masyarakat Lingkungan Perusahaan
APS pada masyarakat lingkungan
perusahaan 1 2 3 4
1
Pemberian subsidi pada masyarakat dibandingkan dengan laba perusahaan
3 3 4 3 13 3,25
2
Pembangunan infrastruktur kesehatan pada komunitas masyarakat seperti klinik
kesehatan 4 4 4 2 14 3,5
Keterlibatan perusahaan dalam pendirian
lembaga keagamaan 5 4 5 3 17 4,25
5
Keterlibatan perusahaan terhadap perbaikan sarana pengangkutan di
lingkungan masyarakat 3 3 3 2 11 2,75
6
Pemberian sumbangan dari perusahaan
untuk kegiatan sosial masyarakat 3 3 3 4 13 3,25
7
Pemberian bantuan perusahaan pada lingkungan masyarakat atas perbaikan perumahan dan pasar
3 3 3 2 11 2,75
8
Prioritas pekerjaan bagi masyarakat
sekitar 4 4 4 2 14 3,5
9
Dukungan perusahaan terhadap kegiatan
seni dan budaya 4 4 4 3 15 3,75
Total 32 31 33 23 119 3,3
Dari Tabel 3.1 mengenai jawaban dai 4 (empat) responden dengan jumlah
pertanyaan 9 (Sembilan) atas tanggung jawab sosial pada masyarakat lingkungan
perusahaan, dapat dilihat bahwa total keseluruhan dari jumlah rata-rata yaitu 3,3.
Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial pada masyarakat lingkungan
perusahaan masuk dalam kategori cukup memadai.
b. Tanggung jawab Sosial pada Tenaga Kerja Perusahaan (SDM)
Tanggung jawab perusahaan secara sosial tidak hanya terbatas pada
konsep pemberian donor saja, tapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis
dan pasif, hanya dikelurkan dari perusahaan, akan tetapi hak dan kewajiban yang
dimiliki bersama antar tenaga kerja perusahaan (SDM). Dalam arti bahwa
tanggung jawab sosial ini tidak harus dikondisikan dari faktor luar (eksternal) dan
ternyata suatu faktor dalam (internal), yaitu dari dalam SDM perusahaan itu
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kehidupan tenaga
kerja perusahaan.
Sesuai dengan hasil kuesioner pada Tabel 3.2 atas pertanyaan dilihat dari :
1. Tanggung jawab perusahaan atas keselamatan kerja karyawan serta fasilitas
yang telah diberikan pada karyawan, dimana jumlah rata-rata dari hasil 4
jawaban responden yaitu 4. Berarti bahwa tanggung jawab perusahaan atas
keselamatan kerja karyawan serta fasilitas yang telah diberikan masuk dalam
kategori memadai.
2. Dilihat dari pemberian atas fasilitas kesehatan karyawan (fasilitas berupa
pendirian poliklinik yang ada di perusahaan), dimana jumlah rata-rata dari
karyawan sudah . Berarti pemberian fasilitas kesehatan karyawan sudah
dilaksanakan secara cukup memadai.
3. Sedangkan butir pertanyaan berikutnya yakni program latihan dan bantuan
pendidikan tinggi bagi karyawan, dimana jumlah rata-rata dari hasil 4
jawaban responden yaitu 2,25. Berarti untuk pernyataan ini kurang memadai.
4. Dilihat dari pendirian koperasi karyawan yang ada di perusahaan, dimana
jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu 4,25. Berarti bahwa
pendirian koperasi karyawan yang ada di perusahaan sudah dilaksanakan
mamadai.
5. Untuk butir pertanyaan dilihat dari bantuan perusahaan atas pendidikan
keluarga anggota karyawan seperti beasiswa, dimana jumlah rata-rata dari
hasil 4 responden yaitu 3,5. Berarti bantuan perusahaan atas pendidikan
keluarga anggota karyawan cukup memadai.
6. Pemberian fasilitas peribadatan di lingkungan perusahaan, dimana jumlah
rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu 3,75. Berarti bahwa pemberian
fasilitas peribadatan di lingkungan perusahaan cukup memadai.
7. Dilihat dari pemberian cuti karyawan yang diberikan oleh perusahaan
(termasuk cuti yang diperlukan oleh pekerja wanita), dimana jumlah rata-rata
dari hasil 4 jawaban responden yaitu 4,75. Berarti pelaksanaan atas
pemberian cuti karyawan yang diberikan perusahaan sudah memadai
pelaksanaannya.
8. Untuk butir pertanyaan dilihat dari tanggung jawab perusahaan dalam
jawaban responden yaitu 3,75. Berarti pelaksanaan atas tanggung jawab
perusahaan dalam memperhatikan hak-hak karyawan cukup memadai.
9. Untuk butir pertanyaan terakhir mengenai kebijaksanaan perusahaan dalam
pemenuhan kebutuhan keluarga dan rekreasi bagi karyawan perusahaan,
dimana jumlah rata-rata dari hasil 4 jawaban responden yaitu 3. Berarti
kebijaksanaan perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan karyawan perusahaan
Tabel 3.2
Tabulasi Hasil Kuesioner Untuk Butir Pernyataan Tanggung jawab Sosial pada Tenaga Kerja Perusahaan (SDM)
APS pada masyarakat lingkungan
perusahaan 1 2 3 4
1
Tanggung jawab perusahaan atas keselamata kerja karyawan serta fasilitas yang telah diberikan
4 4 4 4 16 4
2 Pemberian karyawan (berupa poliklinik)fasilitas kesehatan 4 4 3 3 14 3,5
3 Program pendidikan tinggi bagi karyawanlatihan dan bantuan 2 2 2 3 9 2,25
4 Pendirian koperasi karyawan yangada di perusahaan 4 5 5 3 17 3,25
5
Bantuan perusahaan atas pendidikan keluarga anggota karyawan seperti beasiswa
4 3 4 3 14 3,5
6 Pemberian fasilitas peribadatan di
lingkungan perusahaan 4 4 4 3 15 3,75
7 Pemberian cuti karyawan yangdiberikan oleh perusahaan 5 5 5 4 19 4,75
8 Tanggung jawab perusahaan dalammemperhatikan hak-hak karyawan 4 4 4 3 15 3,75
9
Kebijaksanaan perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan keluarga dan rekreasi bagi karyawan perusahaan
3 3 3 3 12 3
Total 34 34 34 29 131 3,6
Sumber : Data Karyawan PTPN II Tandem Hilir Diolah dari Hasil Kuesioner Dari Tabel 3.2 yang terdiri dari 4 (empat) responden dengan jumlah
pertanyaan yaitu 9 atas tanggung jawab sosial pada tenaga kerja perusahaan
(SDM) dapat dilihat bahwa total keseluruhan dari jumlah rata-rata yaitu 3,6. Hal
ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial pada tenaga kerja perusahaan
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI
A. Analisis dan Evaluasi Penerapan Pertanggungjawaban Sosial Pada PTPN II Tandem Hilir
Seperti yang telah diketahui bahwa Akuntansi Pertanggungjawaban
Sosial adalah konsep baru dalam dunia akuntansi sehingga belum ada standar
resmi mengenai pengukuran dan pelaporannya, oleh karena itu perusahaan belum
melakukan pengukuran khusus untuk kegiatan sosialnya. Namun hal ini bukan
berarti pihak perusahaan tidak peduli pada lingkungan sosialnya, akan tetapi
perusahaan dituntut untuk tidak hanya berorientasi pada laba saja tapi juga pada
ekonomi sosialnya.
Evaluasi dilakukan terhadap berbagai tolak ukur dan karakteristik
Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial dalam perusahaan untuk melihat apakah
akuntansi pertanggungjawaban sosial yang diterapkan oleh perusahaan telah
signifikan dengan konsep pertanggungjawaban sosial yang telah dirumuskan
sebelumnya. Evaluasi ini dilakukan dengan menurunkan beberapa pernyataan
yang telah ditetapkan pada masing-masing indikator ke dalam butir-butir
kuesioner yang diberikan kepada 4 (empat) responden. Dari kuesioner tersebut,
diperoleh hasil-hasil sebagaimana dijelaskan berikut yaitu :
1. Butir Pernyataan atas Tanggung Jawab Sosial pada Masyarakat Lingkungan Perusahaan.
Untuk pernyataan dilihat dari pemberian subsidi pada masyarakat