• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERBEDAAN ADAT ISTIADAT DAN KAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PERBEDAAN ADAT ISTIADAT DAN KAR"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ANALISIS PERBEDAAN ADAT ISTIADAT DAN KARAKTERISTIK

NOVEL”SENGSARA MEMBAWA NIKMAT”KARYA TULIS SUTAN SATI

DENGAN KEHIDUPAN MASA KINI

OLEH : KELOMPOK LIMA

1.Qurrata A’yun Idham

2.Ike Nurmlisari Ramdhani

3.Salsabila Firatunnisa

4.Muhammad Husein

5.M. Jihad Al-Azis

MTsN BIMA 1 KOTA BIMA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL : Analisis Perbedaan Adat Istiadat dan Karakteristik Novel “sengsara Membawa Nikmat” Karya Tulis Sutan Sati dengan kehidupan masa kini.

OLEH : Kelompok Lima

KELAS : 8 Akselerasi

Penelitian ini telah diterima dengan sah pada tanggal Maret 2014

Oleh :

Pembina

Mata pelajaran Bahasa Indonesia

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil ‘Alamiiin.

Kata pengantar memang ditempatkan pada halaman depan makalah ini, namun pengerjaannya dilakukan terakhir oleh kami, setelah kami menyelesaikan semua unsur-unsur yang harus ada pada makalah ini dengan tata bahasa yang baik dan rasional dan tekhnik peulisan yang tidak boleh cacat dan sesuai dengan EYD, serta analisis yang mendalam dengan ilmu yang sudah kami peroleh sejak tahun 2012.

Pertama, kami haturkan terimakasih kepada guru pembimbing yang telah banyak mengarahkan dan membantu penyelesaian makalah ini sejak hari pemberian tugas hingga kami dapat menyelesaikannya. Ibu Ferawati,S.Pd telah banyak berkontribusi dengan mengarahkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kami kedepanya dan tentunya bermanfaat pula bagi pembaca yang lainnya. Beliau telah menjadi tempat kami mengadu bahkan untuk hal-hal kecil seperti tekhnik penulisan atau istilah-istilah yang boleh atau tidak boleh kami gunakan dalam penulisan makalah ini. Sekali lagi terima kasih atas ilmu, nasehat, kebaikan, serta pengalaman yang telah dibagi selama dua tahun hingga kini.

Terakhir, untuk Allah SWT. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan segala rahmat, petunjuk, dan karuniaNya, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan tepat pada waktunya. Berapa kalipun kami mengucapkan terima kasih, tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kebaikan-Nya selama ini. Sengaja kami cantumkan nama-kebaikan-Nya terakhir, karena kami tahu kenikmatan ini semua datang dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang luput kami lakukan. Selamat membaca, dan semoga bermanfaat bagi kita kedepannya.

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………....

HALAMAN PENGESAHAN ……….………... 1

KATA PENGANTAR ……….……… ……….. 2

DAFTAR ISI ………... 3

PENDAHULUAN……….……….. 4

a. Rumusan masalah ………..………. 4

b. Tujuan ………..………... 4

c. Manfaat ………..………. 4

BAB I

PEMBAHASAN ……….………… 5

a. Sinopsis Novel ………... 5

b. Latar belakang dan isi…………...………..……… 9

BAB II

PENUTUP ………..………. 16

a. Kesimpulan ……….……….. 16

b. Saran ……….………. ... 17

(6)

PENDAHULUAN

a. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah adat itu ?

2. Hal apa sajakah yang termasuk dalam contoh adat ? 3. Apakah yang dimaksud dengan karakteristik ? 4. Bagaimanakah contoh karakteristik itu ? 5. Apakah novel itu ?

6. Bagaimanakah perbedaan adat istiadat antara novel angkatan 20-an dan kehidupan zaman sekarang

ini ?

7. Apa sajakah perbedaan karakteristik antara novel angkatan 20-an denga kehidupan masa kini ? b. TUJUAN

6. menemukan perbedaan adat istiadat antara novel angkatan 20-an dan kehidupan zaman sekarang 7. menemukan perbedaan karakteristik antara novel angkatan 20-an dengan kehidupan masa kini c. MANFAAT

6. mengetahui perbedaan adat istiadat antara novel angkatan 20-an dan kehidupan zaman sekarang 7. mengetahui perbedaan karakteristik antara novel angkatan 20-an dengan kehidupan masa kini

BAB I

PEMBAHASAN

1. SINOPSIS NOVEL

(7)

Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari kawan. Pada

Suatu saat, istri Kacak yang bernama Katijah terjatuh ke dalam sungai. Dia hampir lenyap karena terbawa arus sungai. Untung saja pada waktu itu Midun sedang berada dekat dari tempat kejadian tersebut. Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Akhirnya, Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Namun, Kacak malah balik menuduh Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Sungguh,Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah cara Kacak berterima kasih pada Midun. Kacakpun menantang Midun untuk bertarung, pada saat itu Midun menanggapi tantangan tersebut. Dalam perkelahian itu Midun berhasil mengalahkan Kacak., hingga Kacak pergi melarikan diri karena tidak tahan malu. Karena Ia telah kalah dalam pertarungan tersebut, Kacak menjadi semakin marah dan dendam pada Midun. Kacak kemudian melaporkan semuanya pada mamaknya (pamannya) Tuanku Laras. Rupanya pada sat melaporkan kejadian tersebut Kacak telah memfitnah Midun, dan Tuanku Laras percaya saja dengan tuduhan Kacak tersebut. Atas laporan palsu tersebut, Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa menerima upah. Dan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi Midun selama menjalani hukuman tersebut adalah Kacak. Setelah mendapatkan tugas tersebut, Kacak demikian bahagia. Kacak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyiksa Midun.

Hampir setiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir setiap saat menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasraaan hati dan jiwa. Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Tuanku Laras, namun Kacak rupanya belum puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampong tersebut. Dia tidak rela dan ikhlas jikalau Midun masih berada di kampong tersebut. Jika Midun masih berada di kampungnya, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampungnya untuk selama-lamanya. Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran guna melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka rencanakan akan dilaksanakan ketika diadakan suatu perlombaan kuda di Bukittinggi kelak. Setelah direncanakan dengan sempurna, rencana pembunuhan itupun mulai di lakukan. Perlombaan Pacuan Kuda itupun diadakan, pada saat itu Midun dengan ditemani sehabatnya Maun berangkat ke Bukittinggi.

Sewaktu Midun dan Maun membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda tersebut, orang-orang sewaan Kacak itu menyerang Midun dari belakang dengan menggunakan pisau. Perkelahianpun terjadi, semua orang yang berada pada acara Pacuan Kuda tersebut menyaksikan pertarungan itu dengan panic, akan tetapi untungnya Midun berhasil mengelakkan serangan dari Lenggang,pembunuh bayaran Kacak tersebut, karena ia terlebih dahulu diingatkan oleh Maun. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari lagi. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian tersebut membuat Lenggang jatuh tersungkur dan berlumuran darah karena tersabet pisaunya sendiri, namun Perkelahian tersebut berhenti ketika polisi datang menghampiri mereka.

Pada saat itu, Midun ditangkap karena bajunya berlumuran darah, sedangkan Maun ditangkap karena Ia berdiri di dekat orang yang terhentar di tanah yaitu Lenggang, merekapun digiring ke kantor Polisi yang terdapat di Bukittinggi untuk diperiksa, sedangkan Lenggang akan dirawat terlebih dahulu karena lukanya sangatlah parah. Setelah pemeriksaan dilakukan, Maun terbukti tidak bersalah karena Ia tidak memiliki sangkut pau dengan kejadian tersebut, sehingga Ia dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan akan diringkus ke Padang untuk mendekam di penjara Padang.

(8)

naib tersebut akan segera dirasakan sendiri oleh Midun. Ia akan tinggal di sana selama Empat bulan lamanya.. Lain halnya dengan Lenggang, Ia juga terbukti bersalah dan harus dibuang ke pulayu terpencil. Mendengar kabar tersebut, betapa senangnya hati Kacak, Ia tidak peduli terhadap apa yang akan terjadi dengan Lenggang , dengan Midun masuk penjara, maka dia pasti dapat dengan bebas melakukan apapun di kampungnya itu tanpa ada orang yang berani menjadi penghalangnya.

Selama di penjara, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia disiksa dan dicaci maki oleh Para sipir penjara, maupun tukang kunci (opas penjara). Selain itu, Para tahanan yang ada dalam penjara tersebut juga sangat sering bertarung dengannya, sebenarnya bukan keinginan mereka sendiri untuk saling bertarung, akan tetapi para opas dan sipir penjaralah yang mengadu mereka satu sama lain layaknya Binatang. Jika mereka menolak, maka mereka akan mendapatkan ganjarannya berupa siksaan yang tidak seharusnya dilakukan. Pada suatu saat Madun ditantang untuk bertarung dengan Si Ganjil sang jagoan di dalam penjara tersebut. Midun sangat yakin bahwa si Ganjil telah diperintahkan oleh sipir untuk bertarung dengannya. Pada awalnya, Madun tidaklah ingin jikalau pertarungan tersebut terjadi, akan tetapi melihat raut wajah Ganjil yang tidak sabar untuk menghabisinya, Ia terpaksa melayaninya. Ternyata Midun berhasi mengalahkan Si ganjil. Hal ini menyebabkan Para tahanan menjadi tidak berani untuk mengganggu Midun. Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati dan dihargai oleh para tahanan lainnya serta para Opas dan sipir juga ikut menghormatinya. Bahkan Midun tidak lagi disuruh untuk mengerjakan pekerjaan yang berat, Midun kini menjadi sahabat para tahanan yang lain.

Suatu saat. ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun bertemu seorang wanita cantik yang sedang duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai jatuh hati dengan Midun. Midun juga tenyata jatuh hati juga dengan si gadis. Gadis itu bernama Halimah. Setelah pertemuan tersebut, mereka berdua lebih sering bertemu. Mereka juga saling berbagi cerita dan pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dirinya tinggal dengan seorang ibu kandung dan ayah tiri. Pada saat Midun bertemu dengan Halimah, ternyata ibu Halimah sedang sakit keras. Dan beberapa hari kemudian, Ibu itupun meninggal dunia. Betapa sakit hati Halimah. Dia merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya tersebut. Dan Dia hendak pergi dari rumah karena selalu merasa gelisah. Halimah sangat berharap suatu saat dia bisa tinggal dengan ayah kandungnya yang ketika itu tinggal di Bogor.

Pada malam Setelah Keluar dari penjara, Midun membantu Halimah keluar dari rumah ayah tirinya tersebut, karena Halimah pada saat itu akan diperkosa oleh ayah tirinya yang bejat itu. Usaha Midun tersebut berhasil karena dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik sangat baik hati. Setelah beberapa hari menginap di rumah pak Karto, Midun segera mengantarkan Halimah ke Bogor, ke rumah ayah kandung Halimah. Ayah Halimah merupakan orang yang berkepribadian sangat baik. Dia sangat senang jikalau Midun bersedia tinggal bersama mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak selama tinggal dengan keluarga Halimah, karena pada saat itu Ia hanya tinggal makan minum saja, tanpa ada usaha sedikitpun. Midunpun hendak mulai mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan di sana.

Dalam Perjalanannya ke Jakarta tersebut. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Ia bernama Syekh Abdullah Al-Hadramut . saudagar ini sebenarnya merupakan seorang rentenir yang bermuka dua. Setelah keduanya saling kenalan dan sangat akrab, Dengan tanpa pikiran yang buruk, Midun bersedia menerima uang pinjaman Syehk tersebut sebagai modalnya untuk membuka usaha .Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun akan membuka usaha dagang di Jakarta.

(9)

dijalani Midun ini, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut menjadi iri hati terhadap Midun. Syekh tersebut menagih hutang Midun kepadanya dengan jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah pinjaman Midun yang dahulu. Tentu saja Midun tidak bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat seperti itu, karena hal itu sama saja dengan perbuatan Riba. Dan Riba diharamkan dalam ajaran agama Islam, karena hal ini sama saja dengan memakan uang haram. Tingkah laku Syekh Abdullah Al-Hadramut ini menghilangkan kepercayaan Midun terhadapnya. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara yag demikian, rupanya Ia menagih hutang tersebut dengan cara lain. Ia bersedia hutang tersebut tidak perlu dibayar atau dianggap lunas, dengan syarat bahwa Midun harus bersedia menyerahkan Halimah untuk ia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar padanya . Halimah juga sangat marah pada Syekh Abdullah Al-Hadramut tersebut. Karena Ia telah gagal, akhirnya Syekh tersebut mengajukan Midun ke meja hijau. Akhirnya Midun diadili dengan tuntutan berhutang. Dalam persidangan tersebut Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Dan Midunpun terpaksa harus dipenjara untuk yang kedua kalinya.

Tidak lama kemudian, Midunpun dibebaskan dari penjara. Pada hari ketika Midun dibebaskan, Ia memutuskan untuk berjalan-jalan ke Pasar Baru. Sesampainya di pasar tersebut, tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Di mana ada seorang pribumi yang sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang memiliki sifat gemar menolong itu, segera menyelamatkan Si Sinyo Belanda tersebut. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih kepada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya tersebut. Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tuanya.

Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dijuluki Tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan nyawa anaknya tersebut, Midun langsung diberinya pekerjaan. Midun bekerja sebagai seorang juru tulis di kantor Tuan Hoofdcommissaris tersebut.Setelah mendapat pekerjaan itu, Midunpun segera melamar Halimah. Kemudian mereka menikah di Bogor tepatnya di rumah orang tua Halimah. Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya. Melihat prestasi yang telah dicapai oleh anak buahnya tersebut,

Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Tak lama kemudian, Ia langsung ditugaskan untuk menumpas para penyeludup Narkotika di Medan. Selama di Medan itu, tanpa disengaja Midun bertemu dengan adiknya, Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya. Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Karena tanpa sepengetahuan Midun, ternyata Ayahandanya telah meninggal dunia, dan pada waktu yang bersamaan kemenakan (ponakan )dari ayahnya tersebut merebut semua harta benda milik keluarganya. Karena mereka percaya bahwa harta kemenakan (ponakan) akan diwariskan kepada ponakan, bukan kepada anak keturunannya masing-masing.

Selain itu, Manjau juga bercerita bahwa Juriah adiknya sekarang telah menikah dengan Maun yaitu sehabat masa kecil Midun. Mendengar cerita Manjau tersebut, Midun sangat sedih dan prihatin akan keadaan Ibu dan keluarganya serta membuat Ia merasa terpanggil untuk kembali ke kampun halamannya di Minangkabau. Sehingga , ketika Midun kembali ke Jakarta, Ia segera meminta agar ditugaskan di Kampung halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya. Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat resah dan gelisah. Pada saat itu, Kacak telah menjabat sebagai penghulu kampung. Kacak sangat gelisah sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelapkan kas negara itu akan segera terbongkar karena kedatangan Midun. Dan dia yakin Midun akan berhasil rnembongkar perbuatan tersebut. Sebelum, hal itu terjadi Kacak telah terlebih dahulu melarikan diri.

(10)

Dengan tangan dibelenggu, ia pun dibawa polisike Bukittinggi dan dimasukkan ke penjara. Enam bulan kemudian, perkara Kacak diperiksa. Karena secara terang-terangan ia telah terbukti bersalah, maka Kacak dihukum 2 tahun dan dibuang ke Padang..Sedangkan Midun hidup bahagia bersama istri dan seluruh keluarganya di kampung.

(11)

2. LATAR BELAKANG DAN ISI

Sebelum kita membahas lebih dalam mengenai Perbedaan Adat Istiadat dan Krakteristik antara Novel “Sengsara membawa nikmat” karya T.Sutan Satidengan kehidupan masa kini, kami terlebih dahulu akan menguaraikan beberapa hal yang mendorong kami untuk mengangkat topik ini. Diantaranya karena kami memandang akan kemajuan tekhnologi dan maraknya Globalisasi sehingga menyebabkan masyarakat berpola hidup Westernisasi yaitu pola hidup yang kebarat-baratan, dan dapat disimpulkan berkiblat pada dunia Liberalisme barat di mana warganya

diberikan kebebasan yang mutlak oleh pemerintah. Menurut catatan yang bersumber dari internet, telah banyak anak bangsa yang telah tenggelam di dalam pola berpikir dan pola hidup ala barat. Banyaknya masyarakat yang telah terpengaruh oleh dampak Westernisasi ini, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai anak bangsa. Dengan penuh pengharapan semoga tidak ada lagi anak bangsa yang terpenggal pengaruh negative daripada pola hidup tersebut, kami sengaja mengangkat topik ini. Dengan tujuan dapat melahirkan kembali nilai-nilai moral yang telah luput dan banyak ditinggalkan orang masa kini, terutama anak muda. Di mana perilaku dan sikap mereka yang sangat jauh berbeda dengan orang-orang terdahulu, yang memiliki

perilaku,sifat,tabiat, hingga cara bertutur kata yang sangat memperhatikan nilai-nilai moral dan segi agamanya.

Meskipun novel ini juga menyinggung masalah kekerasan, namun anggap saja hal tersebut layaknya kiasan semata dan mari kita memetik seribu teladan yang telah dicontohkan oleh sanak saudara kita terdahulu melalui novel ini. Sebelum memperbincangkan lebih dalam mengenai novel ini, terlebih dahulu kami perkenalkan apa itu Novel.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Novel merupakan ”karangan prosa yang panjang, yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang

disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku”. Sejalan dengan pengertian tersebut, di dalam buku yang berjudul Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMP/MTs kelas IX, penerbit CV. Ghyyas Putra, 2008:189, disebutkan bahwa “novel merupakan salah satu

genre(bagian) sastra yang paling representative (mewakili) dari masyarakat dan peradabannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Teeuw bahwa kehadiran sastra tidak dalam kondisi kosong, artinya karya sastra hadir selalu menggambakan kondisi zamannya. Selain itu, menurut Dr. Nurhadi, Dr. Dawud, Dra. Yuni Pratiwi,M.Pd, Dra. Abdul Roni,M.Pd, “novel merupakan bentuk karya sastra yang di dalamnya terdapat nilai-nilai sosial budaya, moral, dan pendidikan.

Sedangkan menurut Jakob Sumarjo, novel adalah bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak dicetak dan paling banyak beredar, lantaran daya

komunitasnya yang kuat pada masyarakat. Dan yang terakhir, Drs. Rostamaji,M.Pd dan Drs. Agus Priantoro,S.Pd mengemukakan bahwa novel merupakan karya sastra yang memiliki dua

(12)

berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra. Berdasarkan beberapa pengertian novel tersebut dapat kami simpulkan bahwa novel adalah salah satu jenis sastra tulis yang cukup panjang dan menggambarkan adat istiadat setiap tokoh, disertai dengan perangai,sifat,serta pola hidupnya. Dan memiliki dua unsur, yaitu unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Untuk diketahui bersama, bahwa Novel zaman sekarang ini sangat auh berbeda dengan novel-novel pada angkatan 20-an hingga 30-an. Salah satu perbedaannya adalah “novel-novel pada zaman sekarang ini banyak menggunakan bahasa-bahasa modern yang sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca(masyarakat luas). Lain halnya dengan novel angkatan 20-an hingga 30-an, di mana novel-novel tersebut sangat banyak menggunakan bahasa-bahasa daerah. Khususnya untuk novel ini yang sangat banyak menggunakan istiah bahasa Melayu khususnya bahasa Minangkabau. sehingga sulit untuk dipahami. Menurut, sumber yang kami dapatkan, menggunakan bahasa Melayu yang kentalmerupakn salah satu ciri khas novel tersebut.”

Novel-novel zaman dahulu juga menyampaikan kepada kita mengenai cara-cara berhubungan dan bersosialisasi satu sama lain terutama antara laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan ajaran agama,tata karma, norma, dan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat. Sedangkan novel zaman sekarang tidak mencantumkan hal-hal seperti itu. Bahkan dengan

membaca novel-novel tersebut kita akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, adat istiadat, norma dalam bergaul dengan sesama khususnya dengan teman lawan jenis. Novel-novel ini membuat kita hanyut dalam era globalisasi, dan jikalau kita lalai, maka kita akan terjebak dalam pengaruh negative globalisasi tersebut. Akan tetapi, tidak semua Novel yang seperti hal tersebut.

Sekian latar belakang kami mengangkat topik ini, harap dimaklumi, dan semoga bermanfaat.

a. Pembahasan

1. Adat istiadat yang terkandung pada novel “Sengsara Membawa Nikmat” karya T.S.Sati Kata Adat Istiadat, tersusun atas dua kata,yaitu Adat dan Istiadat. Menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Adat adalah “1. aturan(perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala.2. cara(kelakuan dan sebagainya yang sudah menjadi kebiasaan.3. wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya,norma,hokum, dan aturan yang satu dengan yang lainnya berkaitan menjadi suatu system.4. cukai menurut peraturan yang berlaku. Berdasarkan catatan yang besumber dari internet, adat merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan,norma,kebiasaan,kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.

(13)

merupakan bentuk jamak dariةداع (adah) yang berarti cara atau kebiasaan. Di

Indonesia, kata adat baru digunakan pada sekitar akhir abad ke-19. Sebelumnya kata ini hanya dikenal pada masyarakat Melayu setelah pertemuan budayanya dengan agama Islam pada sekitar abad ke-16.selain beberapa pengertian tersebut, dijelaskan pula bahwa Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai

kebudayaan,norma,kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang

menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap perilaku yang dianggap menyimpang. Setelah memperhatikan pendapat dan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa adat adalah “kebiasaan turun-temurun yang dilakukan oleh

masyarakat daerah setempat, yang meliputi norma dan kebiasaan masyarakat di daerah tersebut. Apabila adat tersebut dilanggar, maka pelakunya akan memperoleh sanksi tak tertulis, sesuai dengan ketetapan bersama.

Adapun yang diamaksud dengan kata Istiadat adalah : Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Istiadat merupakan “tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Integrasi merupakan pembaruan sesuatu hingga menjadi satu kesatuan yang utuh atau bulat.” Sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa istiadat merupakan kebiasaan turun menurun yang telah terjadi sejak zaman nenek moyang, dan harus dilestarikan agar tidak terlupakan.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa adat istiadat

merupakan “suatu tradisi dan kebiasaan nenek moyang kita sampai sekarang masih dipertahankan untuk mengenang nenek moyang kita juga sebagai keanekaragaman budaya”. Dalam pengertian lain adat istiadat adalah “aneka kelaziman dalm suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Kelaziman ini pada umumnya menyangkut pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarkat, seperti acara-acara keramaian anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara penghelatan perkawian, pengangkatan penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung. Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah”.

(14)

Adapun contoh adat istiadat pada novel ini adalah kebiasaan kegemaran orang-orang Minangkabau dalam memainkan alat musik yaitu Rebana. Selain itu, memiliki kebiasaan bermain SepakRaga sekali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Jum’at sore. Warga setempat biasa mengadakan permainan tersebut pada waktu Sore di Pasar. Sehingga, setiap hari Jum’at para pedagang hanya berdagang hingga tengah hari. Tidak hanya adat istiadat tersebut yang dimiliki oleh orang-orang Minangkabau, tetapi mereka juga percaya bahwa ketika mereka akan berguru silat, maka harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya beras sesukat, kain putihsekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit (jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya.Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya.

Arti dan wujudnya:Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajarianak muda yang hendak belajar itu; seolah-olah mengatakan:perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebabhendak mencari penghidupan lain.Kain putih sekabung, "alas tobat" namanya; maksudnyadengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerimapengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anakmuda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya kalau ia mati.Besi sekerat (pisau sebuah) itu maksudnya, seperti senjata itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat pengajarannya. Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu, hampir searti juga dengan beras sesukat tadi. Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari; hendaklah guru itu tcrus mengajarnya, dengan

pengajaran yang tajam seperti jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya, berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi, terus saja seperti jarum yang dijahitkan. Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru, waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang biasa di tanah Minangkabau.

(15)

berkelahi dengan Lenggang di Bukittinggi pada saat Pacuan Kuda berlangsung. Tidak hanya itu, ketika terdakwa tersebut terbukti bersalah maka mereka akan diperjarakan di Bukittinggi (penjara Bukittinggi).

Selain itu di Bukittinggi juga diselenggarakan pacuan kuda yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai penjuru Sumatera termasuk dari Minangkabau. Pada saat pacuan kuda itu berlangsung, juga diadakan Pasar Malam yang sangat megah pada masa itu. Pasar malam dan Pacuan Kuda tersebut berlangsung selama Enam sampai Tujuh hari.

Tidak hanya itu, berdasarkan adat yang berlaku di daerah setempat,orang Minangkabau meyakini bahwa harta peninggalan mamak (paman) akan diwariskan kepada kemenakannya (keponakannya) dan bukan kepada anak keturunannya.

2. Karakteristik yang terkandung pada novel “Sengsara Membawa Nikmat” karya T.S.Sati

Sebelum kami membahas lebih lanjut mengenai nilai karakteristik yang terdapat pada novel ini, alangkah lebih baiknya jika kami memperkenalkan terlebih dahulu apa itu karakteristik.

Menurut sumber yang kami dapatkan dari Internet, Karakteristik secara

etimologi Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu. Sedangkan Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa

karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian di antaranya:

Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian.

Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan.

Kepribadian seeorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral. Jadi di antara pengertian-pengertian di atas sebagaimana yang telah

dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek. Misalnya karakteristik novel artinya suatu sifat yang khas yang terdapat dalam literature novel, seperti sistematika penulisan, metode, corak novel tersebut dan lain sebagainya.

(16)

difficult or dangerous situations (kualitas pribadi yang tangguh misalnya kemampuan dalam menghadapi situasi yang sulit atau berbahaya);

(4) the interesting or unusual quality that a place or a person has (kualitas menarik dan luar biasa yang dimiliki suatu tempat atau orang); (5) a person, particularly an unpleasant or strange one (orang yang aneh atau tidak

menyenangkan); (6) an interesting or unusual person (orang yang menarik dan luar biasa); (7) the opinion the people have of you, particularly of whether you can be trusted or relied on (pendapat khalayak tentang anda, apakah anda dapat dipercaya). Dari penjelasakan konsep karakter di atas, maka karakter pada nomor (5) dan (6) lebih bersifat informal sedangkan nomor (7) mengandung pengertian yang lebih bersifat formal.

Karakter yang baik menurut Maxwell (2001) lebih dari sekedar perkataan, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, keberanian usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup.

Jadi, dapat kami simpulkan bahwa karakteristik merupakan sifat yang

mengungkapkan kekhasan atau keistimewaan dari suatu objek, baik objeknya berupa manusia, hewan, maupun kondisi lingkungan setempat.

Adapun karakteristik yang terkandung pada novel Sengsara Membawa Nikmat

ini antara lain sebagai berikut. Dari segi bahasa yang digunakan, seperti Lepau Nasi

(Warung nasi),mamak (paman), kemenakan (keponakan), berdua belas (acara adat),

Surau (Masjid), Sepak raga (sepak takraw), uda (abang), pemegang kunci (opas penjara),dan lain sebagainya.

Adapun karakteristik dari segi sifat para tokoh,antara lain : Midun (sopan, taat dalam beragama, dan pandai bersilat serta penyabar); Kacak (angkuh, kasar, pandai bersilat lidah, pemarah, egois, dan suka mencari masalah, serta pendendam); Tuanku Laras(mudah terpengaruh, disegani, serta dihormati di kampungnya); Haji Abbas(baik hati, pandai bersilat, cerdas,perhatian, adil dan bijaksana, serta ikhlas); Pendekar Sutan(pandai bersilat, murah hati,adil dan bijaksana, prihatin, penyayang, baik hati, serta ikhlas dan cerdas); Pak Midun(baik hati, peyayang, memiliki wawasan yang luas, sabar, tunduk dan patuh kepada agama, serta ikhlas); Maun(sabar, setia kawan, baik hati, sopan dan taat beragama); Halimah(taat kepada suami dan agama, baik hati, tabah, sopan, dan setia); Pak Karto(baik hati, suka menolong, serta sabar); Bapak tiri

Halimah(kejam, biadab, pandai menggoda, serta tidak berperasaan); Syekh Abdullah Al-Hadramut(suka menipu,kejam, memiliki hati yang kurang baik,serta tidak

(17)

Yang terakhir adalah dari karakteristik segi kehidupan masyarakat setempat dintaranya adalah: atap rumah gadang yang berbentuk runcing seperti tanduk Kerbau; pada setiap minggunya tepatnya pada hari Jum’at diadakan perlombaan Sepak Raga,

(18)

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

Kesimpulan arti novel adalah salah satu jenis sastra tulis yang cukup panjang dan menggambarkan adat istiadat setiap tokoh, disertai dengan perangai, sifat, serta pola hidupnya. Dan memiliki dua unsur, yaitu unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik yang keduanya saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra.

Perbedaan novel angkatan 20-an hingga 30-an dengan novel zaman sekarang adalah novel-novel pada zaman sekarang ini banyak menggunakan bahasa-bahasa modern yang sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca (masyarakat luas). Lain halnya dengan novel angkatan 20-an hingga 30-an, di mana novel-novel tersebut sangat banyak menggunakan bahasa-bahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah yang kental juga merupakan salah satu ciri khas bagi novel angkatan 20 hingga 30-an.

Novel-novel zaman dahulu juga menyampaikan kepada kita mengenai cara-cara berhubungan dan bersosialisasi satu sama lain terutama antara laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan ajaran agama,tata karma, norma, dan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat. Sedangkan novel zaman sekarang tidak mencantumkan hal-hal seperti itu. Bahkan dengan membaca novel-novel tersebut kita akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, adat istiadat, norma dalam bergaul dengan sesama khususnya dengan teman lawan jenis. Novel-novel ini membuat kita hanyut dalam era globalisasi, dan jikalau kita lalai, maka kita akan terjebak dalam pengaruh negative globalisasi tersebut. Akan tetapi, tidak semua Novel yang seperti hal tersebut.

Kesimpulan adat dan istiadat adat adalah kebiasaan turun-temurun yang dilakukan oleh

masyarakat daerah setempat, yang meliputi norma dan kebiasaan masyarakat di daerah tersebut. Apabila adat tersebut dilanggar, maka pelakunya akan memperoleh sanksi tak tertulis, sesuai dengan ketetapan bersama. Adapun yang diamaksud dengan kata Istiadat kebiasaan turun menurun yang telah terjadi sejak zaman nenek moyang, dan harus dilestarikan agar tidak terlupakan. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat

disimpulkan bahwa adat istiadat merupakan “suatu tradisi dan kebiasaan nenek moyang kita sampai sekarang masih dipertahankan untuk mengenang nenek moyang kita juga sebagai keanekaragaman budaya”. Dalam pengertian lainadat istiadat adalah “aneka kelaziman dalm suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat.

contoh adat istiadat pada novel ini adalah kebiasaan kegemaran orang-orang Minangkabau dalam memainkan alat musik yaitu Rebana. Selain itu, memiliki kebiasaan bermain SepakRaga sekali dalam

seminggu, tepatnya setiap hari Jum’at sore.Warga setempat biasa mengadakan permainan tersebut pada waktu Sore di Pasar.Sehingga, setiap hari Jum’at para pedagang hanya berdagang hingga tengah hari.

(19)

B. Saran

Saran kami terhadap novel-novel zaman sekarang agar tidak serta merta mengikuti novel- novel angkatan 20 hingga 30-an. Karena novel-novel pada masa identic dengan penggunaan bahasa daerah yang kental, sehingga sulit dipahami oleh para pembaca di kalangan umum. Ataupun jika terpaksa menggunakan bahasa daerah, sebaiknya dicantumkan arti yang terlebih dahulu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Selain itu kami juga mengharapkan kepada penulis novel pada zaman sekarang ini untuk lebih memperhatikan ajaran agama, agar para pembaca lebih mengetahui bagaimana cara bersosialisasi atau berhubungan debgan sesame terutama dengan lawan jenis. Dengan demikian kami berharap agar novel Indonesia dapat lebih dikenal di kalangan dunia…

(20)

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Suprihatini, Amin,dkk.2012. Pendidikan Kewarganegaraan. Klaten: Intan Pariwara Sati, Tulis, Sutan.1929. Sengsara Membawa Nikmat. Jakarta: Balai Pustaka

DOKUMEN

Ulama, Satkar.2013. Peluang Dan Tantangan Industri Mode Italia Di China. Makassar: Universitas Hasanuddin

WEBSITE

http://rafimahmudzain.blogspot.com/2012/01/analisis-novel-sengsara-membawa-nikmat.html

http://www.imuzcorner.com/2012/11/penulisan-daftar-pustaka-yang-benar.html

http://translate.google.com/?hl=id#en/nl/terima%20kasih

http://books.google.co.id/books/about/Sengsara_membawa_nikmat.html?id=X-MqAAAAMAAJ

http://indosastra.com/sinopsis-cuplikan-resensi-ringkasan-analisis-karya-sastra/sinopsis-novel-sengsara-membawa-nikmat-tulis-sutan-sati/

http://sinopsisnovelku.blogspot.com/2013/03/sinopsis-sengsara-membawa-nikmat.html

Referensi

Dokumen terkait

kegiatan bagi peserta didik untuk mengamati, 2) memancing peserta didik untuk bertanya apa, mengapa dan bagaimana, 3) memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi

1 Pendaftaran PPDB dilakukan secara langsung ke sekolah tujuan. 2 Calon peserta didik baru menyerahkan berkas persyaratan PPDB sesuai dengan ketentuan kepada panitia

Oleh karena itu informasi tentang kesehatan gigi merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan yang tidak bisa dipisahkan dan penting dalam menunjang kualitas

Abstrak – Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur dalam tradisi lisan seni pertunjukan randai Minangkabau, kegiatan preservasi pengetahuan yang telah

Langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan sektor perikanan adalah sebagai berikut: (a) Menyediakan fasilitas publik yang

Undang-undang No.28 tahun 2014 Tentang Hak Cipta mengatur mengenai upaya penyelesaian apabila terjadi sengketa antara pemotret dengan orang yang dipotret. Ketentuan

Nama Pelaku/ Jenis Suara Kalimat yang dibaca Pelaku dan Petunjuk untuk Sutradara/Penata Suara kekurangan dalam berpikir disebut lemah mental atau tuna grahita.. Ada lagi

Alternatif strategi promosi bagi Esia yaitu meningkatkan intensitas promosi above the line, baik melalui media cetak maupun elektronik (A), aktif melakukan promosi