• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEUTAMAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH DAN USAHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEUTAMAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH DAN USAHA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KEUTAMAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH DAN USAHA MANUSIA: BELAJAR DARI ARISTOTELES DAN AGUSTINUS DARI HIPPO

Disusun sebagai Makalah untuk Ujian Tengah Semester

Mata Kuliah Etika Keutamaan

Dosen Pengampu: Dr. Dionisius Bismoko Mahamboro, Pr

Oleh:

Oleh:

Alb. Irawan Dwiatmaja NIM: 176312001

PROGRAM STUDI MAGISTER TEOLOGI FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA T.A 2017-2018

(2)

1. PENGANTAR

Beberapa kali saya mendengar obrolan orangtua yang menceritakan anaknya dengan memuji bahwa anaknya baik, rajin beribadah, mengikuti kegiatan di organisasi, berprestasi di sekolah, dikenal banyak orang, menjadi pemuka agama, dan masih banyak lagi. Mendengar obrolan kebanyakan orangtua yang demikian, timbul pertanyaan dalam benak saya, apa maksud para orangtua menceritakan berbagai macam prestasi anaknya? Ada banyak jawaban yang bisa menjawab pertanyaan ini tetapi hal yang menarik bagi saya ialah mereka ingin anak menjadi manusia yang berkeutamaan. Orangtua menginginkan anak-anaknya memiliki keutamaan. Orangtua mengusahakan berbagai macam cara supaya anaknya memiliki keutamaan.

Dari deskripsi singkat di atas, kita melihat bahwa kebanyakan orangtua ingin anaknya memiliki keutamaan. Orangtua mengusahakan berbagai macam cara supaya anaknya memiliki keutamaan. Kita bisa membuat suatu kesimpulan, siapa yang tidak ingin memiliki keutamaan? Semua orang, siapa saja ingin menjadi manusia yang berkeutamaan. Namun, pertanyaan berikutnya yang timbul, bagaimana kita menjadi manusia yang utama?

Aristoteles dan Agustinus memiliki pandangan cara menjadi manusia yang berkeutamaan. Aristoteles dan Agustinus mendeskripsikan bagaimana rahmat Allah bekerja dalam hidup manusia dan bagaimana juga hal yang kodrati ada dalam diri manusia dilatih agar memiliki keutamaan. Dalam paper ini, penulis mencoba menjelaskan keutamaan menurut Aristoteles dan Agustinus. Dari mereka, kita akan melihat bagaimana kedua pemikiran itu saling melengkapi dan memberi petunjuk untuk hidup kita menjadi manusia yang utuh dan pada akhirnya menghantar kita sampai pada tujuan hidup yaitu kebahagiaan.

2. HAKEKAT KEUTAMAAN

Secara etimologis kata ‘keutamaan’ merupakan terjemahan dari kata arête dalam bahasa Yunani dan virtus dalam bahasa Latin dan virtue dalam bahasa Inggris. Kata virtus

berakar dari vir yang berarti laki-laki dewasa dan juga vis yang berarti kekuatan yang dimiliki oleh laki-laki dewasa. Virtus dalam budaya Latin dan arête dalam budaya Yunani dipakai untuk menunjukkan keadaan manusia yang terlatih dan unggul dalam memenuhi tugas dan tujuan hidupnya, misalnya keistimewaan atau keunggulan pisau ada pada ketajamannya, keunggulan seekor kuda pelari terletak pada kecepatannya berlari; pisau menjadi tajam karena diasah dan kuda berlari dengan cepat karena dilatih.1

1 Peter Kreft, Back to Virtue, San Francisco: Ignatius Press, 1992, 9-10, 25.

(3)

Aktivitas manusia mempunyai tujuan dan tujuan yang satu memiliki tujuan lain. Misalnya, tujuan seorang mahasiswa belajar ialah untuk memiliki pengetahuan. Tujuan pengetahuan tersebut guna mudah dalam memperoleh pekerjaan dan dengan memiliki pekerjaan, dia akan memperoleh uang. Kalau deretan tujuan ini diteruskan, akhirnya yang disasar aktivitas manusia ialah kebahagiaan. Manusia utama adalah orang berjiwa luhur, tangguh. Pertimbangannya ialah kematangan dan tanggung jawab yang diembannya dengan setia sehingga dai mencapai kebahagian dengan cara yang bernar.2

Menurut Magnis-Suseno, keutamaan merupakan terjemahan yang cocok untuk kata

virtue dalam arti sebagai kekuatan dan kemampuan. Kata ‘utama’ juga menunjuk kepada kemampuan manusia untuk membawa diri sebagai manusia utuh, jadi tidak dipersempit secara moralistik pada kesalehan. Manusia utama adalah manusia yang luhur, kuat, kuasa untuk menjalankan apa yang baik dan tepat, untuk melakukan tanggung jawabnya.3

3. KEUTAMAAN MENURUT ARISTOTELES

Dunia menawarkan banyak hal seperti kenikmatan, kehormatan, harta, kekayaan, dan sebagainya. Di antara semua tawaran-tawaran tersebut, setidaknya timbul pertanyaan retoris dalam diri kita, untuk apa semua yang kita usahakan di dunia ini? Tentunya, kita ingin hidup bahagia. Hidup bahagia merupakan keinginan semua manusia. Segala macam cara diusahakan agar kebahagiaan itu bisa tercapai. Kajian mengenai cara memperoleh kebahagiaan sudah banyak dibahas oleh filsuf-filsuf awal. Dari sekian banyak kajian, pemikiran Aristoteles mengenai tata cara dalam memperoleh kebahagiaan sangat terkenal dan menjadi rujukan hingga saat ini. Pemikiran Aristoteles tentang cara memperoleh kebahagiaan itu tertuang dalam Nikomacheia Ethics (Etika Nikomacheia). Dalam Etika Nikomacheia,

Aristoteles mengajarkan kepada manusia untuk menjadi manusia utuh. Dalam penjelasan di bawah ini, kita akan melihat bagaimana Aristoteles menjelaskan menjadi manusia utuh dalam Etika Nikomacheia.

3.1 Kebahagiaan sebagai Tujuan Hidup Manusia

Dalam Etika Nikomacheia, Aristoteles menuliskan, “Setiap ketrampilan adalah ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan tampaknya mengejar salah satu nilai”. Apabila manusia melakukan sesuatu, ia selalu melakukannya karena suatu tujuan yaitu sebuah nilai. Apabila

2 Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental: Memahami Tindakan Manusiawi dengan Rasio dan

Iman, Medan: Bina Media Perintis, 2015, 146.

3 Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius, 2000, 199.

(4)

manusia mengatur kehidupannya secara nalar, maka pertanyaan kunci baginya adalah apakah tujuan hidup manusia.4

Setiap tindakan yang mengarah ke pencapaian tujuan itu masuk akal, dan setiap tindakan yang tidak menunjang tercapainya tujuan manusia, itu tidak masuk akal. Itulah prinsip etika Aristoteles. Pendekatan moralitas yang diajarkan oleh Aristoteles tidak bertentangan dengan ajaran agama, bahkan kita akan melihat dengan lebih baik tentang ajaran agama apabila memahami pertimbangan Aristoteles. Aristoteles selalu menunjukkan bahwa manusia sebagai mahluk yang dapat berpikir dapat mengetahui bagaimana ia seharusnya hidup. Aristoteles mendekati pertanyaan tentang tujuan manusia secara analitis melalui langkah-langkah logis yang bertolak dari sebuah fakta bahwa apapun yang dilakukan manusia selalu dilakukannya demi sebuah tujuan.

Ada dua macam tujuan manusia yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara merupakan sarana untuk tujuan lebih lanjut sedangkan tujuan terakhir yaitu sesuatu yang jika tercapai maka tidak ada lagi minat untuk menggapainya atau mencarinya. Bagi Aristoteles, tujuan akhir manusia ialah kebahagiaan. Kita semua menginginkan kebahagiaan, sehingga apapun tujuan manusia apabila tidak tercapai, maka akan tidak membahagiakan. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, kita dituntut memiliki moral yang bertujuan mengantar manusia menuju tujuan kebahagiaan. Ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan.5

Pertama, kebahagiaan sebagai tujuan terakhir manusia tidak perlu dipertentangkan dengan tujuan akhir yang disebutkan oleh agama. Agama justru menegaskan bahwa tujuan akhir itu menghasilkan kebahagiaan yaitu surga atau nirwana. Hal ini selaras dengan pandangan Aristoteles bahwa tuijuan akhir manusia adalah kebahagiaan karena menurut agama manapun, penghormatan (pemujaan) terhadap Tuhan merupakan kebahagiaan tertinggi bagi manusia.

Kedua, kalau kebahagiaan merupakan tujuan akhir manusia, maka menjadi semakin jelas bahwa beberapa hal yang umumnya dianggap menjadi tujuan hidup dianggap tidak memadai lagi. Aristoteles menyebut dua tujuan hidup yang salah yaitu uang dan ketersohoran. Ketiga, perlu diperhatikan bahwa kebahagiaan tidak bisa langsung diusahakan. Kebahagiaan itu bukan semacam sasaran yang bisa langsung kita bidik. Kebahagiaan adalah

4 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, United States: Cambridge University

Press, 2005, 47.

5 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 58-67.

(5)

sesuatu yang lebih bersifat ‘diberikan’ daripada ‘direbut’. Kita akan menerima kebahagiaan apabila kita menjalani hidup yang menunjang kebahagiaan tersebut.

3.2 Membiasakan Perbuatan yang Bermakna

Mencari nikmat jasmani dan menghindari perasaan sakit bukan saja khas manusia karena binatang juga memiliki sifat demikian. Kalau kita fokus pada kecenderungan alami ini maka kita akan mengalami kegagalan dalam usaha menjadi manusia utuh. Aristoteles menjelaskan bahwa hanya orang yang mampu menguasai hawa nafsunya bisa bahagia. Kita harus bisa mengendalikan kelakuan (hawa nafsu) yang bisa menghasilkan kebahagiaan. Salah satu jawaban yang berulangkali diberikan dalam filsafat sederhana dan sepintas sangat masuk diakal yaitu “kalau ingin bahagia, hindari perasaan sakit dan usahakan rasa nikmat”. Aristoteles menolak hedonisme. Etika Nikomacheia menyebutkan 3 (tiga) pola hidup yang membawa kepuasan dalam dirinya sendiri; hidup mengejar nikmat, hidup berpolitik dan berfilsafat. Namun, yang pertama langsung disebutnya sebagai ‘pola hidup ternak’. Binatang melakukan apapun semata-mata demi pencapaian nikamt (misalnya makan dan seksualitas). Menurut Aristoteles, hedonisme merupakan cara penerapan hidup hewani kepada manusia.6

Aristoteles tidak menolak pencarian terhadap nikmat tetapi nikmat yang dimaksud tidak menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Aristoteles menggarisi tiga hal tentang ini.

Pertama, nikmat dan perasaan sakit bukan sesuatu yang diabaikan. Perasaan nikmat dan sakit harus dimanfaatkan agar orang dapat mengembangkan diri. Orang semakin menikmati bertindak menurut keutamaan dan merasa semakin tidak enak dan sakit apabila ia mengikuti dorongan-dorongan naluriah. Kedua, nikmat dan rasa sakit bentuknya bermacam-macam tergantung dari tindakan yang menghasilkannya. Nikmat bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri melainkan sesuatu yang mengikuti dalam arti bahwa nikmat selalu berkaitan dengan suatu perbuatan. Setiap perbuatan yang berhasil dengan sendirinya kita nikmati, sedangkan perbuatan yang gagal atau pengalaman yang bertentangan dengan keterarahan kita membuat kita sakit. Kualitas perbuatan menentukan kualitas nikmat. Perbuatan yang luhur memberikan nikmat yang luhur dan perbuatan yang buruk akan memberikan nikmat yang buruk.7

3.3 Pengembangan Diri

Manusia menjadi bahagia melalui aktivitasnya dengan menggerakkan diri untuk mencapai sesuatu, dengan bertindak. Manusia menjadi bahagia dengan mengembangkan diri, dengan membuat nyata kemampuan dan bakatnya. Misalnya, apabila seseorang berbakat

6 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 119-122. 7 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 123-126.

(6)

musik, dia harus melatihnya dengan latihan keras dan tertib maka akan berhasil menjadi pemain musik yang andal.8

Pengembangan diri sampai hari ini merupakan tujuan penting dari pendidikan yang bermutu. Mengembangkan diri berarti dengan menghadapi tantangan yang membuat diri seseorang menjadi nyata, dari sesuatu yang mungkin hanya mungkin kita menjadi nyata. Suatu tantangan merangsang kemampuan kita yang masih tersembunyi, yang perlu kita kembangkan secara aktif. Orang tidak berkembang dengan memandang, merenungkan, dan merefleksikan diri, melainkan dengan melihat keluar, dengan menjawab apa yang dalam situasi tertentu diharapka dari kita. Mengembangkan diri juga berarti menerima diri. Manusia kana mengalami bhawa dia mempunyai keterbatasan. Ia akan berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri tetapi dia juga perlu menerima bahwa ada kemungkinan dia dibatasi baik oleh situasi di luar diri kita maupun oleh keterbatasan kita sendiri.9

3.4 Kebijaksanaan dan Rasionalitas

Aristoteles menegaskan bahwa manusia yang mau menjadi utuh, mantap dalam dirinya dan mengalami kehidupannya sebagai bermakna harus mengembangkan keutamaan intelektual dan etis. Orang yang mempunyai keutamaan menjadi manusia yang berbudi luhur. Aristoteles membedakan keutamaan menjadi dua macam, yaitu keutamaan dalam berfikir dan keutamaan dalam bertindak.

Kebijaksanaan dalam arti phronesis amat penting bagi kita. Kalau ‘bijaksana’, kita menjadi biasa bertindak dengan tepat dalam berbagai macam situasi. Phronesis tahu bagaimana harus membawa diri dan bagaimana menghadapi orang lain. Phronesis tumbuh berkembang melalui pengalaman dan lebih penting dari sekedar episteme (ketajaman pengetahuan ilmiah). Meskipun diperlukan pengetahuan episteme untuk pemecahan masalah-masalah spesifik dan detail profesi, namun phronesis membawa manusia untuk lebih pandai dan benar dalam membawa diri melalui kemampuan bertindak maupun komunikasi yang tepat dan etis.10

3.5 Manusia Utama

8 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 126-127. 9 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 127-129.

10Dorothea Frede, “Aristotles` Virtue Ethics”, dalam Lorraine Besser-Jones and Michael Slote (ed.), The

Routledge Companion to Virtue Ethics, New York: Routledge, 2015, 18-19.

(7)

Kebijaksanaan (phronesis) merupakan wawasan intelektual yang akan berguna apabila didukung oleh keutamaan etis. Hanya orang yang mantap dalam bertindak secara etis akan tetap bijaksana dalam arti yang sesungguhnya. Kebijaksanaan yang tidak tertanam dalam kepribadian etis, lama kelamaan akan merosot menjadi kepintaran dan oportunisme belaka. Kepintaran tidak cukup untuk mendukung terwujudnya kepribadian yang mantap, kuat dan dapat diandalkan. Ketertanaman sikap etis dalam kepribadian seseorang itulah yang dimaksud oleh Aristoteles dengan keutamaan. Manusia utama harus mantap dan gembira karena baginya bertindak secara etis menjadi gampang dan apabila bertindak dengan tidak etis justru susah dan menyengsarakannya.11

Kita bisa mengambil contoh masalah kejujuran. Orang yang betul-betul jujur, bertindak jujur merupakan sesuatu yang ringan dan tidak berat demikian sebaliknya. Contoh kejujuran memperlihatkan mengapa Aristoteles menghubungkan kehidupan bermoral dengan rasa nikmat-gembira dan rasa sedih-sakit. Menjadi orang berkeutamaan berarti belajar merasa gembira apabila ia bertindak sesuai dengan keutamaan etis, dan merasa sedih atau resah apabila bertindak tidak etis. Aristoteles menegaskan bahwa keutamaan bukan suatu nafsu maupun sudah bakat alami, melainkan sesuatu yang harus kita pelajari.

Bagi Aristoteles, keutamaan bisa diperoleh melalui kebiasaan. Orang yang ingin mengembangkan keutamaan harus membiasakan diri untuk bertindak menurut keutamaan itu. Semakin keutamaan dibiasakan maka akan semakin mudah keutamaan diperoleh hingga akhirnya tindakan menurut keutamaan itu akan menjadi kodratnya. Pembiasaan untuk bertindak jujur, adil, menepati janji, tidak berkeras hati dan berbagai jenis keutamaan lain juga didukung oleh pendidikan yang kita terima, baik formal maupun informal. Pendidikan yang dimengerti bukan semacam pengkondisian tetapi pembiasaan dengan belajar melakukan sesuatu secara rutin, gampang dan seakan-akan dengan sendirinya (otomatis) merupakan unsur penting dalam pembangunan karakter. Dalam kaitan itu, Aristoteles menegaskan suatu yang kontroversial yaitu tanggung jawab atas perbuatan kita, tetapi bahkan juga atas perkembangan kita menjadi manusia seutuhnya. Manusia dituntut untuk belajar mengetahui diri kita sendiri untuk lebih sadar akan kekuatan dan kelemahan.12

3.6 Persahabatan

11 Dorothea Frede, “Aristotles` Virtue Ethics”, 19.

12 Franz Magnis Suseno, Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles, Yogyakarta: Kanisius, 2009, 50.

(8)

Manusia mencapai puncak keutamaan dalam persahabatan sejati. Persahabatan sejati bukan kebahagiaan diri sendiri, melainkan kebahagiaan sahabat yang membuat kita bahagia. Persahabatan merupakan hal yang sangat perlu dan penting dalam kehidupan manusia. Persahabatan dalam arti sebenarnya adalah persahabatan antara dua manusia yang saling mencintai. Aristoteles menuliskan bahwa keutamaan diantara para sahabat adalah ‘cinta’. Persahabatan dua insan (pria dan wanita), bukan semata-mata demi kelangsungan keturunan, namun demi persatuan hidup kedua orang tersebut.13

Aristoteles menegaskan bahwa manusia tidak mungkin bahagia sendirian namun perlu sahabat untuk kebersamaan dan berkomunikasi untuk menemukan hakekat “diri sendiri’ melalui cinta. Cinta itu yang nampaknya membuat kita terikat, namun justru membebaskan kita dari keterikatan pada diri sendiri, sehingga dengan demikian kita justru semakin menjadi diri sendiri.14

4. KEUTAMAAN MENURUT AGUSTINUS DARI HIPPO

Setiap masa memiliki ciri khas dalam memahami etika. Aristoteles memahami etika sebagai hal yang kodrati, sudah ada di dalam diri manusia. Manusia memiliki tanggung jawab untuk melatihnya agar keutamaan itu menjadi bagian dari dirinya dalam memperoleh kebahagiaan. Kebahagian yang dicari bukan berarti mencari nikmat sebanyak-banyaknya melainkan melalui latihan-latihan. Agustinus setuju dengan pandangan Aristoteles bahwa tujuan manusia ialah mencari kebahagiaan. Agustinus mengingatkan bahwa kebahagiaan yang dicari bukan pertama-tama kerja keras manusia melainkan rahmat Allah. Dalam bagian ini, kita akan melihat bagaimana penjelasan Agustinus tentang etika keutamaan.

4.1 Keutamaan sebagai Rahmat Allah

Agustinus tidak menegasi pendapat tokoh sebelumnya seperti Aristoteles mengenai arti dan tujuan hidup manusia yaitu mencari kebahagiaan. Agustinus memberi catatan bahwa kebahagiaan yang dituju bukan karena usaha manusia semata melainkan karena rahmat Allah yang bekerja dan berlandaskan kasih. Rahmat Allah dan kasih menjadi tolok ukur dalam memperoleh kebahagiaan karena manusia memiliki kecenderungan jatuh ke dalam dosa. Manusia tidak dapat memperoleh kebahagiaan tanpa bantuan Ilahi.15

4.2 True Imperpect Virtue

13 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 257-258. 14 Michael Pakaluk, Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction, 259-261.

15 Bonnie Kant, “Agustine`s Ethics”, dalam E. Stump and N. Kretzmann, The Cambridge Companion to

Augustine, Cambrigde: Cambridge University Press, 2001, 205.

(9)

Agustinus memahami keutamaan sebagai rahmat Allah dan berlandaskan atas kasih. Manusia tidak bisa memiliki keutamaan tanpa bantuan Ilahi. Manusia pertama-tama tergantung pada rahmat Allah sehingga tidak ada satu pun keutamaan yang sempurna di dalam dirinya dan bisa dimiliki oleh manusia. Keutamaan yang disebutkan oleh Aristoteles seperti keberanian, pengendalian diri, keadilan, kebijaksanaan bisa dicapai dengan bantuan rahmat Ilahi. Apabila keutamaan kardinal terlepas dari saluran rahmat Allah, keutamaan-keutamaan tersebut dapat menyebabkan kesombongan karena kodrat manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Agustinus setuju dengan para filsuf sebelumnya bahwa tidak ada manusia yang bisa memiliki keutamaan secara sempurna dan untuk memperoleh keutamaan bukan hal yang mudah tetapi memerlukan pembiasaan.16

4.3 Etika Keutamaan dalam Perkawinan: Sebuah Jalan Menuju Persahabatan Sejati

Pada masa Agustinus, hidup selibat dipandang sebagai hidup yang lebih baik daripada hidup perkawinan. Hidup selibat memiliki level lebih tinggi daripada hidup perkawinan. Pandagan bahwa hidup selibat lebih mulia daripada hidup perkawinan dipengaruhi oleh aliran Pelagianisme. Melihat fenomena tersebut, Agustinus mengatakan bahwa hidup perkawinan dan hidup selibat itu sama, sederajat, selevel. Terlebih, hidup perkawinan merupakan seseuatu yang luhur dan mulia sama seperti hidup selibat.17

Agustinus mengakui bahwa setelah kejatuhan pertama, manusia memiliki keretakan yaitu kecenderungan untuk berdosa. Salah satu penyebab kecenderungan untuk berdosa (konkupisensia) ialah hasrat seksual yang tidak bisa diprediksi. Tindakan seks bukan merupakan dosa apabila hanya dilakukan dalam perkawinan. Tindakan seks bukan semata-mata untuk prokreasi atau kepuasan seksual. Perkawinan bukan untuk melegalkan tindakan seksual. Perkawinan dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar yaitu persahabatan. Hal yang ingin diperlihatkan oleh Agustinus bahwa ada persatuan yang lebih nyata di antara laki-laki dan perempuan tanpa hubungan seksual yaitu persahabatan. Agustinus menyimpulkan tiga kebaikan dari perkawinan yaitu keturunan, ketaatan, sakramen. Perkawinan merupakan media untuk saling melayani antara suami dan istri. Agustinus menggunakan ketaatan untuk menunjukkan bahwa hubungan suami-istri sesuatu yg mulia. Sakramen berhubungan erat dengan dimensi eskatologi fides dan perkawinan itu sekali seumur hidup. Namun, apabila seseorang memilih untuk tidak menikah bukan merupakan sesuatu yang tidak baik.18

16 Bonnie Kant, “Agustine`s Ethics”, 226. 17 Bonnie Kant, “Agustine`s Ethics”, 226-227.

(10)

5. REFLEKSI KRITIS: KEUTAMAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH DAN USAHA MANUSIA

Hidup secara moral membuat manusia bahagia. Kebahagiaan diperoleh dengan secara aktif mengembangkan diri dalam dimensi yang hakiki bukan dengan malas-malasan. Manusia yang bahagia adalah manusia yang mantap sebagai sosok etis dan yang dapat diandalkan dalam melaksanakan kewajibannya sebagai manusia. Kewajiban moral bukan sekedar sesuatu yang menekan melainkan membawa rasa bahagia yang semakin mendalam.

Watak moral seseorang ditentukan oleh keutamaan yang dimilikinya. Memiliki keutamaan berarti mantap dengan dirinya sendiri karena ia mantap dalam memilih apa yang sungguh bernilai daripada apa yang sekedar naluriah. Dengan tegas bertindak menurut apa yang kita sadari benar, kita menjadi semakin mampu untuk bertindak demikian, kita semakin gampang bertindak etis; dan bertindak etis memberi rasa kuat dan bahagia. Melalui pembiasaan dan tekad, kita dapat mewujudkan sosok moral kita. Kita sama sekali tidak tergantung dari bakat yang kita warisi dan dari lingkungan. Kita dapat mewujudkan diri sendiri. Keutamaan intelektual merupakan kunci phronsesis, kebijaksanaan praktis dapat kita bangun lewat pengalaman dan kesediaan untuk berpikir dan berefleksi setiap kali kita harus mengambil suatu keputusan. Keutamaan etis kita bangun dengan bertindak etis. Aristoteles menjamin bahwa semakin kita berusaha, makin kita akan maju, artinya kita makin gampang bertindak sesuai dengan apa yang benar.19

Untuk menjadi sosok etis, kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada adalam diri kita berasal dari Allah. Allah sebagai sumber kebijaksanaan memberikannya secara cuma-cuma berkat-Nya kepada kita. Rahmat yang berasal dari-Nya memampukan kita dalam menyadari diri bahwa ada kekuatan lain dari luar diri manusia. Kita dapat mewujudkan diri menjadi sosok etis dengan menyadari rahmat Allah yang senantiasa bekerja dalam diri manusia dan manusia harus mengusahakannya dengan membiasakan tindakan-tindakan etis.

DAFTAR BACAAN

Frede, Dorothea. “Aristotles` Virtue Ethics”, dalam Lorraine Besser-Jones and Michael Slote (ed.), The Routledge Companion to Virtue Ethics. New York: Routledge, 2015.

18 Lisa Fullam, “Toward a Virtue Ethics of Marriage: Augustine and Aquinas on Friendship of Marriage”,

Theological Studies, Vol. 73, 2012, 675.

19 Franz Magnis Suseno, Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles, 64-65.

(11)

Fullam, Lisa. “Toward a Virtue Ethics of Marriage: Augustine and Aquinas on Friendship of Marriage”, Theological Studies, Vol. 73, 2012.

Kant, Bonnie. “Agustine`s Ethics”, dalam E. Stump and N. Kretzmann, The Cambridge Companion to Augustine. Cambrigde: Cambridge University Press, 2001.

Kreft, Peter. Back to Virtue. San Francisco: Ignatius Press, 1992.

Magnis Suseno, Franz. Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

---. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius, 2000.

Nadeak, Largus. Topik-topik Teologi Moral Fundamental: Memahami Tindakan Manusiawi dengan Rasio dan Iman. Medan: Bina Media Perintis, 2015.

Pakaluk, Michael. Aristotles`: Nicomachean Ethics an Introduction. United States: Cambridge University Press, 2005.

Referensi

Dokumen terkait

Tingkah laku yang ada pada diri anak merupakan gambaran dari keadaan.. di

Program utama pengembangan agribisnis komoditas unggas sangat terkait dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Guna menjamin penyediaan pasokan d.o.c. ayam ras yang

Tahapan penelitian menjelaskan tentang tahapan yang akan dilakukan dalam pengerjaan penelitian tugas akhir mulai dari tahap persiapan, dan pengumpulan data yang didalamnya

Bagian sel yang hanya terdapat pada sel tumbuhan dan tidak terdapat pada sel hewan ditunjukkan oleh 1 dan 2.. mengendalikan seluruh kegiatan sel

ubudiyahnya kepada Allah subhanahu.. wa ta’ala membebaskannya dari kufur dan syirik. Inilah amal yang utama dan selainnya berada di bawahnya dalam keutamaan di sisi Allah

Oleh sebab itu, marilah kita, sebagai tubuh Kristus, bersedia menyambut undangan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh dan membangun relasi kasih yang berdasarkan pada

Aset keuangan pada awalnya diakui sebesar nilai wajarnya ditambah, dalam hal investasi yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, biaya transaksi yang

Bagi Universitas penelitian ini diharapkan dapat menginspirasi dengan terus berinovasi ketika mengadakan kegiatan kemahasiswaan, khususnya LKMM, yang berguna untuk