Berbagai Perspektif Tentang Perubahan; Mana yang Kita Imami?
Berbagai teori tentang perubahan sosial telah dikemukakan oleh para ahli. Perubahan di tingkat komunitas pada umumnya merupakan sebuah akibat dari perubahan di tingkat yang lebih besar. Namun demikian perubahan yang terjadi di tingkat makro ini belum tentu
membawa dampak yang sama pada berbagai komunitas. Harper secara garis besar membagi perubahan sosial dari faktor penyebab dan pola perubahannya. Faktor penyebab dapat dibedakan dalam empat perspektif, yaitu materialis, idealis, mekanisme interaksional dan sumber struktural. Sedangkan pola perubahan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu linear, siklus, dialektik dan pusat-periferi. Pengelompokkan teori perubahan sosial juga dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem sosial.
Perspektif Penjelasan Tentang Perubahan
Sumber perubahan; materialis
Perubahan merupakan akibat dari faktor material terutama teknologi. Penemuan teknologi baru
menyebabkan perubahan moda produksi yang berakibat pada perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, norma dan kepercayaan baru.
Sumber perubahan; idealis Perubahan merupakan akibat dari faktor non material. Termasuk dalam faktor non material adalah nilai dan ideologi.
Perspektif Penjelasan Tentang Perubahan
Sumber perubahan; mekanisme interaksional
Perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi.
Perubahan seringkali diawali dengan kompetisi dan konflik. Konflik dapat berupa konflik laten hingga konflik terbuka atau kekerasan.
Sumber perubahan; sumber struktural
membawa dampak pada masyarakat.
Pola perubahan; linear Perubahan sosial merupakan pola pertumbuhan yang bersifat evlusioner. Perubahan bersifat linear, kumulatif dan tidak berulang. Pandangan ini disandarkan pada proses evolusi mahkluk hidup yang berawal dari mahkluk dengan organ sederhana menuju mahkluk dengan organ yang lebih kompleks.
Pola perubahan; siklus Perubahan sosial merupakan proses seperti gelombang yang naik dan turun. Perubahan sosial dengan model siklus memandang perkembangan secara pesimis. Perubahan bersifat siklus yang selalu berulang seperti perkembangan mahkluk hidup, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa hingga kematian.
Pola perubahan; dialektik Perubahan sosial dalam jangka panjang diasumsikan sebagai bentuk perubahan yang kumulatif dan perkembangan yang tidak mulus. Perubahan terjadi melalui proses dialektika antara kelompok dalam masyarakat yang memiliki kepentingan berbeda. Pola perubahan ini disandarkan pada pendapat Marx dan Hegel. Perubahan sosial merupakan hasil dari perjuangan kelas.
Pola perubahan; pusat-periferi
Pola perubahan sosial pusat-periferi menggambarkan penyebaran perubahan sosial dari satu kelompok ke kelompok lain. Asumsi yang dipakai oleh pola ini adalah adanya proses difusi dari sumber perubahan pada kelompok di sekitarnya.
Barrington Moore, teori kemunculan diktator dan demokrasi
Teori ini didasarkan pada pengamatan panjang tentang sejarah pada beberapa negara yang telah mengalami transformasi dari basis ekonomi agraria menuju basis ekonomi industri.
Teori perilaku kolektif Teori dilandasi pemikiran Moore namun lebih
menekankan pada proses perubahan daripada sumber perubahan sosial.
sosial. Pada teori ini, individu dipandang sebagai suatu bentuk ketidakkonsistenan antara status individu dan grop dengan aktivitas atau sikap yang didasarkan pada perubahan.
Analisis organisasi sebagai subsistem sosial
Alasan kemunculan teori ini adalah anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi dan organisasi tingkat lanjut yang kompleks dipandang sebagai hasil transformasi sosial yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain, organisasi meningkatkan hambatan antara sistem sosial dan sistem interaksi.
Untuk membedah perubahan-perubahan sosial di tingkat komunitas, sebuah tuntutan yang harus kita penuhi adalah menggunakan kerangka konsep tentang perubahan sosial yang menjadi pilihan kita. Pada dasarnya proses perubahan sosial di tingkat mikro (komunitas) sangat dipengaruhi oleh proses perubahan yang terjadi di tingkat makro. Pendapat Marx tentang perubahan moda produksi menyebabkan perubahan pola interaksi menjadi acuan yang tepat untuk membedah berbagai kasus perubahan sosial di tingkat komunitas di Indonesia. Perubahan moda produksi dari pertanian subsisten menuju moda produksi industrial kapital dijembatani oleh berbagai penemuan teknologi. Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan bantuan teknologi.
2. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.
3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat.
halnya perubahan linear. Namun tekanan dasar pola perubahan dialektik adalah pada proses perubahan yang tidak dianggap sebagai suatu hal yang berjalan mulus atau lancar.
Perjuangan kelas yang digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas. Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini kan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas.
Membedah Kasus Perubahan Sosial di Tingkat Komunitas
Catatan perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Salah satunya hasil penelitian Frans Hüsken yang dilaksanan pada tahun 1974. Penelitian yang mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan Jawa sebagai akibat kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah. Penelitian ini dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat masuknya teknologi melalui era
imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau.
Gambaran serupa tampak pada tulisan Hefner, Jellinek dan Summers. Kebijakan pemerintah yang mengacu pada model modernisasi selalu menekankan pada pembangunan ekonomi yang merubah moda produksi dari pertanian menuju industri. Pembangunan ekonomi yang
berorientasi pada kalpitalisme membawa dampak pada kehidupan di tingkat komunitas.
Summers menggambarkan bahwa pembangunan ekonomi ala kapitalisme pada masyarakat pedesaan membawa dampak pada perubahan struktur sosial komunitas tersebut. Salah satu variabel yang diamati oleh Summers adalah tanga kerja dan upah. Pembukaan industri di daerah pedesaan membuka peluang lapangan kerja namun tidak menjami kesejahteraan tenaga kerjanya. Walaupun lapangan kerja tersedia, kesejahteraan pekerja tidak dapat dengan mudah terpenuhi. Sebagian besar tenaga kerja bukan berasal dari kelompok masyarakat miskin, melainkan dari kelompok yang telah bekerja dan memiliki pengalaman. Komunitas miskin tetap tidak dapat mengisi sekor pekerjaan yang mebutuhkan keterampilan dan keahlian khusus, praktis hanya mengisi tenaga kerja tidak terampil (tenaga kerja kasar) dengan upah yang rendah. Tantangan besar dalam mewujudkan industri di daerah pedesaan adalah rendahnya sumber daya manusia yang ada. Teori lingkaran kemiskinan yang
disampaikan oleh Merger sangar tepat untuk menggambarkan kondisi ini.
Perubahan komposisi penduduk juga turut menjadi salah satu variabel yang diamati oleh Summers. Perkembangan industri di suatu daerah menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk daerah tersebut. Fenomena migrasi jelas menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan komposisi penduduk tersebut.
Studi tentang komunitas Tengger oleh Hefner juga memberikan gambaran yang sama, yaitu pengaruh kebijakan revolusi hijau dengan menggunakan pendekatan teknologi. Perubahan struktur sosial pada komunitas Tengger merupakan hasil dari introduksi teknologi pertanian tersebut. Perubahan yang diamati adalah perubahan pola konsumsi masyarakat serta
hubungan kerja yang ada. Jellinek juga menggambarkan hal yang sama walaupun dengan mengambil kasus pada komunitas miskin kota.
Apabila memilih Marx sebagai imam, maka kasus-kasus yang telah diulas tersebut
membuktikan bahwa perubahan pada moda produksi telah merubah tatanan masyarakat pada suatu komunitas. Perubahan moda produksi menuju arah masyarakat industri kapitalis membawa perubahan yang sanagt besar pada komunitas utamanya komunitas di pedesaan. Teknologi telah merubah segala-galanya.
pada kasus-kasus tersebut adalah perubahan pada aspek teknologi dan ekonomi yang begitu pesat tidak diimbangi dengan perubahan pada aspek politik dan ideologi. Pendapat ini juga telah disampaikan oleh Ogburn dengan cultural lag-nya.
Penulis Komunitas kajian Variabel yang diamati Perubahan sosial yang terjadi
Husken Komunitas pedesaan Jawa berbasis sawah. pada masyarakat merupakan akibat dari kebijakan
pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah baik pada masa kolonial belanda, penjajahan jepang hingga orde baru.
Jellinek Komunitas miskin kota. Relasi sosial, tingkat pendapatan, stratifikasi sosial
Perubahan pola interaksi sosial terjadi seiring peningkatan taraf ekonomi masyarakat.
Komunitas miskin kota merupakan komunitas yang rentan akan perubahan sebagai akibat kebijakan pembangunan pemerintah.
Hefner Komunitas pedesaan dataran tinggi Tengger.
Stratifikasi sosial, hubungan kerja, sistem kepercayaan, pola konsumsi.
Kebijakan pembangunan pertanian membawa mengakibatkan terjadinya perubahan sosial pada berbagai aspek di tingkatan komunitas.
mapan.
Summers dan Branch
Komunitas pedesaan di negara maju.
Bentuk hubungan kerja, tingkat pendapatan, kependudukan, pertanian, bisnis lokal dan sektor publik.
Pembangunan ekonomi pada masyarakat industri
menyebabkan adanya perpindahan modal antar sektor, antar komunitas dan antar negara.
Pembengunan yang dilaksanakan di daerah pedesaan membawa dampak pada perubahan struktur sosial yang ada. Perilaku coping komunitas dalam menghadapi perubahan menjadi bahan telaah tulisan ini.
Perubahan sosial di tingkat lokal merupakan bagian integral dari proses eksternal yaitu pembangunan ekonomi.
Dari ulasan di depan dapat kita ambil sebuah kerangka teori yang mampu
menjelaskan tentang perubahan sosial di tingkat komunitas. Komunitas dipandang sebagai suatu yang tak seragam. Perbedaan kepentingan akan selalu muncul di dalam komunitas. Pada perkembangannya komunitas selalu akan mendapat tekanan dari tingkat yang lebih luas, terutama pemerintah melalui program pembangunannya.
Pendekatan modernisasi yang selama ini dilakukan oleh negara-negara berkembang membwa dampak pada berubahnya moda produksi seiring dengan introduksi teknologi baru. Perubahan moda produksi menghasilkan perubahan pola interkasi dan pada akhirnya
merubah struktur sosial komunitas.
Daftar Bacaan
Harper, C. L. 1989. Exploring Social Change. Prentice Hall. New Jersey.
Hefner, R.W. 1999. Geger Tengger; Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. LKiS. Jogjakarta.
Hüsken, F. 1998. Masyarakat Desa dalam perubahan Zaman; Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830 - 1980. Grasindo. Jakarta.
Strasser, H. and S.C. Randall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge & Kegan Paul.