• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN. dox

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN. dox"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN

”EVALUASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DI KELURAHAN MABAR HILIR KECAMATAN MEDAN DELI”

Disusun oleh : Kelompok 1

Kelas C

Dita Swafitriani 200110140030 Dwi Ajeng Puspita 200110140053 Hizbi M Zulfan A 200110140190 Rizky Septian 200110140245 Lulu Izdihar S 200110140247 Riki Riswara 200110140250

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. yang telah memberikan kelancaran sehingga makalah ini selesai. Shalawat serta salam tak lupa dicurahkan kepada jungjungan umat Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, tabi’in serta sampai kepada umatnya. Tak lupa juga penulis sampaikan ucapan terimakasih atas bimbingan dari bapak/ibu dosen mata kuliah pengelolaan limbah, serta teman-teman yang sudah membantu dan memberikan semangat juga sehingga makalah ini bisa terselesaikan dengan baik.

Penulis merasa masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini, dan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan oleh penulis agar kedepannya dapat ada perbaikan untuk lebih baik lagi.

(3)

I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Limbah utama dari RPH berasal dari penyembelihan, pemindahan, pembersihan bulu, pengaturan, pemerosesan dan pembersihan (Sanjaya dkk., 1996). Teknik pengolahan air limbah yang ada secara umum dapat dibagi menjadi tiga metode pengolahan,yaitu pengolahan secara fisika, kimia, dan biologi (Suharto, 2010). Limbah RPH yang berupa feses urin, isi rumen atau isi lambung, darah, daging atau lemak, dan air cuciannya dapat bertindak sebagai media pertumbuhan dan perkembangan mikroba sehingga limbah tersebut mudah mengalami proses dekomposi atau pembusukan. Proses pembusukannya di dalam air menimbulkan bau yang tidak sedap yang dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pernapasan manusia yang ditandai dengan reaksi fisiologik tubuh berupa rasa mual dan kehilangan selera makan. Selain menimbulkan gas berbau busuk, penggunaan oksigen terlarut yang berlebihan oleh mikroba dapat mengakibatkan kekurangan oksigen bagi biota air (meningkatkan BOD).

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana dampak yang diakibatkan oleh air limbah rumah potong hewan?

2. Bagaimana cara mengolah air limbah rumah potong hewan?

3. Apa saja parameter yang terkandung pada air limbah rumah potong hewan? 4. Metode pengolahan limbah apa yang digunakan oleh RPH di Kelurahan

(4)

5. Apakah air limbah hasil pengolahan pada RPH di Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Deli sudah memenuhi syarat yang ditetapkan?

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh air limbah rumah potong 2. Untuk mengetahui cara pengolahan air limbah rumah potong.

3. Untuk mengetahui kandungan air limbah rumah potong hewan.

4. Untuk mengetahui metode pengolahan limbah yang digunakan oleh RPH di Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Deli.

(5)

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Limbah Rumah Potong Hewan

Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan biasanya mengandung bahan-bahan/zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup (Kusnoputranto, 1986).

Limbah cair Rumah Pemotongan Hewan (RPH) mengandung bahan organik dengan konsentrasi tinggi, padatan tersuspensi, serta bahan koloid seperti lemak, protein, dan selulosa. Bahan orgnik ini dapat menimbulkan permasalahan lingkungan bila dibuang langsung ke lingkungan (Roihatin, A, 2006).

2.1.1. Karakteristik Air Limbah Rumah Potong Hewan

Kusnoputranto (1985) menjelaskan bahwa berdasarkan karakteristiknya, air limbah dapat digolongkan menjadi tiga bagian:

1. Karakteristik fisik

Terdiri dari 99,9% air serta sejumlah kecil bahan-bahan padat tersuspensi. Air buangan rumah tangga biasanya sedikit berbau sabun atau minyak dan bewarna suram seperti larutan sabun, biasanya terdapat sisa-sisa kertas, sabun serta bagian-bagian dari tinja.

2. Karakteristik kimia

(6)

dari proses produksi. Biasanya bersifat basa pada saat limbah baru dibuang dan cenderung bersifat asam apabila limbah sudah mulai membusuk. Substansi organik dalam air buangan dapat digolongkan menjadi dua gabungan, yaitu:

1) Gabungan yang mengandung nitrogen, yang terdiri dari urea, protein dan asam amino.

2) Gabungan yang tidak mengandung nitrogen, yang terdiri dari lemak, sabun dan karbohidrat jenis sellulosa

3. Karakteristik biologis

Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli juga terdapat dalam air limbah tergantung darimana sumbernya, namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air limbah industri. Untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif tersebut, perlu diperhatikan kondisi sistem pembuangan air limbah yang memenuhi syarat sehingga air limbah tersebut tidak mengkontaminasi sumber air minum; tidak mengakibatkan pencemaran permukaan tanah; tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi, perikanan, air sungai, atau tempat-tempat rekreasi; tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor; baunya tidak mengganggu masyarakat setempat. 2.1.4. Jenis-jenis Pengolahan Air Limbah RPH

Kusnoputranto (1987) menjelaskan bahwa pengolahan air limbah terdiri dari: 1. Pengenceran (dilution)

(7)

penyaringan. Akan tetapi dengan bertambahnya penduduk dan perkembangan industri, volume air limbah yang dibuang menjadi terlalu banyak karena diperlukan derajat pengenceran yang cukup besar, hal ini tidak dapat dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini juga menimbulkan kerugian lain, misalnya bahaya kontaminasi terhadap badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan badan air seperti sungai, danau dan sebagainya.

2. Irigasi luas

Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan dan sebagainya dimana kandungan zat-zat organiknya cukup tinggi yang dibutuhkan oleh tanaman.

3. Kolam oksidasi (Oxidation Ponds/Waste Stabilization Ponds Lagoon)

(8)

kolam harus jauh dari daerah pemukiman minimal berjarak 500 meter ditempatkan di daerah terbuka yang memungkinkan adanya sirkulasi udara.

4. Pengolahan air buangan primer dan sekunder

Merupakan cara pengolahan air buangan yang lebih kompleks dan lengkap yaitu pengolahan secara fisik dan mekanik (primer) dan secara biologis (sekunder) terutama di daerah perkotaan dan umumnya air buangan dari segala jenis, baik yang berasal dari rumah tangga, kota praja maupun industri.

2.1.5. Kewajiban RPH dalam Pengolahan Air Limbah

Setiap penanggung jawab kegiatan rumah potong hewan mempunyai kewajiban (Permenlh RI No.2, 2006) yaitu:

1. Melakukan pengolahan air limbah sehingga mutu air limbah yang dibuang atau dilepas ke lingkungan tidak melampaui baku mutu air limbah rumah potong hewan.

2. Membuat sistem saluran air limbah yang kedap air dan tertutup agar tidak terjadi perembesan air limbah ke lingkungan, dilengkapi dengan alat penyaring untuk memudahkan pembersihan dan perawatan.

3. Memisahkan saluran pembuangan air limbah dengan saluran limpasan hujan

4. Memasang alat ukur debit atau laju alir limbah dan melakukan pencatatan debit air limbah harian

(9)

6. Memeriksa kadar parameter baku mutu air limbah secara periodik sekurang-kurangnya 1 kali dalam sebulan di laboratorium yang terakreditasi

(10)

III

PEMBAHASAN

3.1 Pendahuluan

Berdasarkan karakter fisiknya limbah dapat dikategorikan atas limbah padat, cair, dan gas. Limbah cair adalah air buangan dari kawasan pemukiman, pertanian, bisnis ataupun industri yang berupa campuran air dan padatan terlarut atau tersuspensi (Laksmi, 1993; Suharto, 2010). Tulisan ini meneliti tentang sistem instalasi pengolahan air limbah rumah potong hewan yang berlokasi di Kelurahan Mabar Hilir Kecamatan Medan Deli. Lokasi IPAL RPH Kota Medan ditunjukkan oleh Gambar 1. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi sarana bangunan IPAL di RPH ini dengan tujuan utama adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis penyaluran air limbah dengan memuat perhitungan dan pendimensian tiap unit bangunan IPAL

RPH.

2. Menganalisis dimensi saluran yang tersedia di lokasi studi apakah masih memadai atau perlu perbaikan.

(11)
(12)

Parameter yang perlu diamati di IPAL RPH terutama adalah pH, BOD, COD, TSS, minyak dan lemak, dan NH3-N. Hasilnya dibandingkan dengan baku mutu limbah cair kegiatan RPH yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Permentan Nomor 02 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Rumah Pemotongan Hewan yang dapat dilihat di Tabel 1. Pada tabel ini volume air limbah untuk masing-masing hewan potong ditampilkan sebagai dasar dalam perhitungan evaluasi air limbah dalam studi ini.

Tabel 1. Baku mutu air limbah kegiatan rumah pemotongan hewan berdasarkan Permenlh Nomor 02 Tahun 2006 tentang Baku MutuAir Limbah Rumah Potong Hewan

Parameter Satuan Kadar Maksimum

BOD mg/l 100

COD mg/l 200

TSS mg/l 100

Minyak dan Lemak mg/l 15

NH3-N mg/l 25

pH - 6 - 9

(13)

3.2 Konsep Dasar

Berikut dijabarkan tentang terminologi dan prinsip-prinsip dasar pengolahan air limbah RPH serta persamaan dasar hidrolika yang digunakan di dalam studi ini. 3.2.1 Parameter Air Limbah Rumah Potong Hewan

Paramater air limbah yang ditetapkan di Permenlh Nomor 02 Tahun 2006 meliputi:

1. BOD (Biological Oxygen Demand)

BOD (Biological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan hewan air untuk dapat bertahan hidup di dalam air. Semakin banyak polutan organik di dalam air maka akan semakin banyak oksigen yang dibutuhkan oleh organisme hidup akuatik (Cech, 2005). Kadar BOD maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 100 mg/l.

2. COD (Chemical Oxygen Demand)

COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Angka COD merupakan ukuran pencemaran oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Alaerts, 1984). Kadar COD maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 200 mg/l.

(14)

TSS (Total Suspended Solid) adalah padatan yang tidak larut dan tidak dapat mengendap langsung yang menyebabkan kekeruhan air (turbiditi). Padatan tersuspensi biasanya terdiri dari partikel-partikel halus ataupun floks (lempung dan lanau) yang ukuran maupun berat partikelnya lebih rendah dari sedimen pasir.Bahan-bahan kimia toksik dapat melekat pada padatan tersuspensi ini. Kadar TSS maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 100 mg/l.

4. Minyak dan Lemak

Minyak dan lemak yang mencemari air sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan yang mengapung di atas permukaan air. Pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat mereduksi penetrasi sinar matahari, menghambat pengambilan oksigen dari atmosfir, dan mengganggu kehidupan tanaman dan satwa air. Komponenkomponen hidrokarbon jenuh yang menyusun minyak yang mempunyai titik didih rendah diketahui dapat menyebabkan anestesi dan narkosis pada berbagai hewan tingkat rendah dan jika terdapat pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kematian. Kadar minyak dan lemak maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 15 mg/l.

5. NH3 (Ammonia)

NH3 biasanya mucul sebagai akibat dari pembusukan jaringan tanaman dan

(15)

maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 25 mg/l.

6. pH (derajat keasaman)

pH adalah ukuran kualitas air yang menggambarkan tingkat keasaman dan kebasaan air. Air yang netral, atom hydrogen positif dan ion hydroxyl negatif dalam keadaan seimbang, memiliki pH 7 (Cech, 2005). Rentang kadar pH yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 6 sampai dengan 9. 3.2.2 Dampak Negatif Air Limbah Rumah Potong Hewan

Pengelolaan air limbah yang tidak baik akan dapat berakibat buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Beberapa akibat buruk yang ditimbulkan pengelolaan air limbah yang buruk (Kusnoputranto, 1983) adalah:

1. Akibat terhadap lingkungan

Air limbah memiliki sifat fisik, kimiawi dan biologi yang menjadi sumber pengotoran, sehingga bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran terhadap air permukaan, tanah atau habitat. Disamping itu air limbah sering menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak elok.

2. Akibat terhadap kesehatan masyarakat

(16)

3. Akibat terhadap sosial-ekonomi

Keadaan lingkungan yang tercemar oleh air limbah menyebabkan perasaan yang tidak aman dan nyaman. Sebagai akibatnya, kesehatan manusia terganggu dan menjadi kurang produktif. Sedangkan perkembangan sosial ekonomi masyarakat tergantung dari tenaga kerja yang sehat dan produktif.

3.2.3 Cara Pengolahan Air Limbah

Kusnoputranto (1983) menjelaskan bahwa pengolahan air limbah, termasuk air limbah RPH, dapat menggunakan cara:

1. Pengenceran (dilution)

Pengenceran (dilution) air buangan dilakukan dengan menggunakan air jernih untuk mengencerkan sehingga konsentrasi polutan pada air limbah menjadi cukup rendah untuk bisa dibuang ke badan-badan air. Pada keadaankeadaan tertentu pengenceran didahului dengan proses pengendapan dan penyaringan. Kekurangan yang perlu diperhatikan dalam cara ini adalah penggunaaan jumlah air yang banyak, kontaminasi pada badan-badan air, dan pendangkalan saluran air akibat adanya pengendapan.

2. Irigasi luas

(17)

3. Kolam oksidasi (Oxidation Ponds/Waste Stabilization Ponds Lagoon)

Empat unsur penting dalam proses pembersihan alamiah di kolam oksidasi adalah sinar matahari, ganggang, bakteri dan oksigen. Ganggang dengan butir chlorophylnya dalam air buangan mampu melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari sehingga tumbuh dengan subur. Pada proses sintesis dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen). Oksigen ini digunakan oleh, bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan. Disamping itu terjadi pula penguraian dan flokulasi zat-zat padat sehingga terjadi pengendapan. Pada gilirannya kadar BOD dan TSS dari air buangan akan berkurang sampai pada tingkat yang relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air.

(18)

Instalasi ini biasanya merupakan fasilitas lengkap pengolahan air limbah yang besar bagi sebuah kawasan pemukiman kota dan industri yang menghasilkan air limbah. Pengolahan primer biasanya mencakup proses mekanis untuk menghilangkan material padatan tersuspensi. Sedangkan proses selanjutnya yaitu pengolahan sekunder biasanya meliputi proses biologiuntuk mengurangi BOD di dalam air.

3.3 Metodologi

Penelitian dalam jurnal yang kami bahas dilakukan di Rumah Potong Hewan Kota Medan, Kecamatan Medan Deli, Kelurahan Mabar Hilir. Waktu penelitian selama kurang lebih 6 bulan. Sumber data dalam penelitian adalah:

a. Data lapangan dengan mengadakan kunjungan langsung ke lokasi penelitian untuk mengamati kondisi eksisting pengolahan air limbah dan memahami sistem penyaluran air buangan yang ada.

b. Data laporan yang bersumber dari literatur yang berkaitan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan studi tersebut.

Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisis agar dapat diketahui kualitas air yang dibuang dari hasil pengolahan limbah dikaitkan dengan kondisi eksisting dari unit pengolahan limbah RPH tersebut. Adapun cara analisis dalam penelitian adalah dengan menghitung variabel-variabel penting berkenaan dengan dimensi unit pengolahan, kecepatan dan debit, serta kualitas air buangannya yaitu: 1) Menghitung volume pada tiap-tiap unit instalasi limbah.

(19)

2) Menghitung kecepatan aliran saluran dengan menggunakan rumus Manning. V = 1/n x R2/3 x S1/2, di mana V = kecepatan aliran (m/s), n = koefisien

Manning, R = jari-jari hidraulik (m), S = kemiringan dasar saluran.

3) Menghitung debit limbah perhari yang disalurkan ke tiap-tiap unit instalasi berdasarkan jumlah hewan yang dipotong dengan mengacu pada Tabel 1. 4) Menentukan waktu tinggal (retention time) di setiap kolam

Tr = Volume kolam/Q x 24 jam, di mana �� = retention time (jam), Q = debit limbah (m3/hari).

Kemudian dievaluasi apakah waktu tinggal ≥ 2 jam; jika iya, berarti kolam belum perlu perbaikan. Perlu dicatat bahwa standar waktu tinggal menurut JWWA (Japan Water Works Association) adalah lebih besar atau sama dengan 2 jam.

5) Menghitung inluent dan effluent dari paramater kualitas air limbah di setiap kolam.

6) Menghitung efisiensi pengolahan dihitung dengan cara sebagai berikut: E = ��−�/� x 100 %, di mana S0 = influent (mg/l) dan S = effluent (mg/l).

Variabel penting yang ditinjau dalam analisa pengolahan air limbah RPH meliputi

a) Volume air limbah (perhari) dan kecepatan air limbah di saluran.

b) Kadar influent dan effluent dari BOD, COD, TSS, minyak dan lemak, dan NH3-N, Sampel dari lokasi studi diambil dan diperiksa di Laboratorium Kimia Fakultas MIPA USU.

(20)

3.4 Pembahasan

Dalam jurnal ini dibahas mengenai air limbah, evaluasi kolam penampungan limbah, dan parit pembuangan.

3.4.1 Hasil pemeriksaan laboratorium air limbah rumah potong hewan Medan

(21)

Gambar 6. Skema jaringan pengolahan air limbah di RPH Kota Medan

Gambar 6 menggambarkan sistem pengolahan air limbah RPH Kota Medan. Pada gambar tersebut terlihat bahwa kolam-kolam yang digunakan dalam proses pengolahan air limbah adalah 2 kolam penampungan limbah padat, 1 kolam pengendapan limbah cair dan 1 kolam oksidasi.

3.4.2 Evaluasi kolam penampungan limbah

Kolam penampungan limbah K-1, K-2, K-3, dan K-4 masih terbilang memadai karena waktu tinggal dari limbah lebih dari 2 jam serta kecepatan aliran dari saluran pengalir limbah cukup cepat sehingga pengendapan didalam saluran dapat dicegah.

(22)

Terlihat bahwa E minus terjadi untuk parameter COD dan minyak dan lemak. Hal ini menjadi bukti bahwa kolam K-4 perlu mendapat perhatian serius untuk perbaikan, terutama dalam hal proses oksidasinya. Penambahan eceng gondok dan mikroba pengurai dapat menjadi salah satu cara yang bisa ditempuh untuk perbaikan.

(23)

IV

KESIMPULAN

1. Dampak buruk yang diakibatkan oleh air limbah rumah potong hewan adalah akibat terhadap lingkungan, akibar terhadap kesehatan masyarakat, dan akibat terhadap sosial ekonomi.

2. Cara mengolah air limbah rumah potong hewan dapat menggunakan cara pengenceran (dilution), irigasi luas, kolam oksidasi (oxidation ponds/waste stabilization ponds lagoon), dan instalasi pengolahan primer dan sekunder

(primary and secondary treatment plant).

3. Parameter air limbah rumah potong hewan terdiri dari BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TTS (Total Suspended Solid),

minyak dan lemak, NH3 (ammonia) dan pH (derajat keasaman).

4. RPH ini menggunakan metode kolam oksidasi. Namun, kolam oksidasi yang ada sebelum air limbah disalurkan ke parit pembuangan belum berjalan sesuai dengan rencana, sehingga perlu perbaikan serius supaya dapat meningkatkan proses oksidasinya

5. Berdasarkan parameter, Kualitas BOD, TSS, NH3-N, dan pH dari buangan air

(24)

Sedangkan kualitas COD dan minyak dan lemak masih berada diatas ambang batas yang ditetapkan oleh Permenlh No.2 Tahun 2006.

DAFTAR PUSTAKA

Kusnoputranto, Haryoto, 1986. Kesehatan Lingkungan. Depdikbud, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta

_____________________. 1985. Kesehatan Lingkungan. FKM UI. Jakarta. _____________________. 1987. Kesehatan Lingkungan. FKM UI. Jakarta.

Roihatin, A, 2006. Pengolahan Air Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dengan Cara Elektrokoagulasi Aliran Kontinyu, Fakultas Teknik Universitas

Gambar

Tabel 1. Baku mutu air limbah kegiatan rumah pemotongan hewan berdasarkan
Tabel  3  menunjukkan  bahwa  berdasarkan  Peraturan  Menteri  Negara
Gambar 6 menggambarkan sistem pengolahan air limbah RPH Kota Medan.
Tabel  7  berisi  perbandingan  efesiensi  E  rencana  dengan  aktual  pada  parit

Referensi

Dokumen terkait

Pemasukan oksigen ke dalam limbah cair adalah salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menjaga proses terjadinya pengolahan anaerobdapat dihindari sehingga gas yang

Dengan pembuangan limbah cair rumah tangga tanpa melalui pengelolaan atau karena bangunan pengolahan limbah rumah tangga yang kurang bagus maka kualitas air menjadi turun, kondisi

Dalam pembuatan kolam limbah yang akan digunakan untuk pengolahan limbah cair hingga siap dibuang untuk land application , harus sudah direncanakan terlebih dahulu

Setelah memperoleh kondisi eksisting pengolahan air limbah yang berada di Kecamatan Padang Barat dilakukan pendekatan-pendekatan untuk melakukan analisis aspek teknis yang nantinya

Proses pengolahan limbah cair secara an aerobik pada aktivitas proyek ini adalah sama dengan kondisi sebelum proyek (baseline), sehingga kualitas air yang diolah/ nilai COD

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui kondisi eksisting pengelolaan limbah baterai sekali pakai bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk memilah sampah

Pengolahan Limbah Medis Berdasarkan hasil observasi dengan menggunakan lembar checklist dan wawancara pada tahap pengolahan limbah medis padat dapat diketahui bahwa pengolahan limbah

Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mengetahui kondisi eksisting dan memberikan rekomendasi yang diusulkan untuk kinerja pengolahan limbah cair domestik dengan proses lumpur aktif