• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan Konseptualisasi Tanggung Jawab pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tantangan Konseptualisasi Tanggung Jawab pada"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Tantangan Konseptualisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam

Kerangka Hukum Lokal di Indonesia

Oleh: Hanna Marthatya Hakim (14/376385/PSP/05318)

Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu, era globalisasi telah menempatkan perusahaan

multinasional di posisi lembaga yang paling kuat di planet ini, dan secara bersamaan,

perusahaan juga menghadapi kritik tentang peran dan dampak kehadiran mereka. Lebih

khususnya lagi, dampak kehadiran perusahaan multinasional pada era globalisasi ini selalu

dikaitkan dengan isu-isu kerusakan lingkungan yang lintas batas negara, seperti isu

pemanasan global yang menjadikan bisnis modern menjadi tersangka utama atas terjadinya

peningkatan konsentrasi gas efek rumah kaca, naiknya suhu rata-rata permukaan bumi,

perubahan iklim yang tidak menentu, dan naiknya permukaan air laut (“Batan”, 2002).

Salah satu respons terhadap hal tersebut adalah munculnya berbagai forum dan

diskusi yang membahas isu global tersebut, salah satunya adalah forum kerja sama

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), antara World Meteorological

Oranization (WMO) dengan United Nations Environmental Program (UNEP). Forum

tersebut membuat berbagai laporan yang membahas mengenai perubahan iklim, salah satu

laporannya menyimpulkan bahwa 64% dari gas efek rumah kaca merupakan karbon dioksida

(CO2), 80% dari CO2 dihasilkan dari konsumsi bahan bakar fosil, dan masih dalam laporan

yang sama, dijelaskan bahwa efek rumah kaca meningkat secara artifisial pasca revolusi

industri (IPCC, 1995).

Dari fakta adanya ancaman serius terhadap lingkungan yang diakibatkan sektor

industri di atas, sudah menjadi hal yang mendesak bagi perusahaan untuk ikut serta

bertanggung jawab terhadap hal tersebut demi kepentingan umat manusia secara keseluruhan.

Sejalan dengan hal tersebut, Tully (2005) berpendapat bahwa perusahaan ikut terlibat dalam

isu globalisasi karena terkait dengan beberapa hal berikut, yaitu: (1) pentingnya perusahaan

menjadi aktor sosial; (2) perkembangan dan pembangunan teknologi modern yang

menyebabkan akses pada informasi menjadi mudah, dan (3) meningkatnya kesadaran

(2)

dan masyarakat global untuk memaksa perusahaan melakukan tanggung jawab sosial dan

lingkungan. Adanya berbagai macam tuntutan ini juga didukung oleh adanya peran negara

dan organisasi internasional yang juga mengangkat dan menekankan isu dan pentingnya

tanggung jawab sosial perusahaan (Tully, 2005).

Negara-negara di Eropa dan Amerika menjadi contoh bagaimana tanggung jawab

perusahaan masuk menjadi elemen penting, misalnya dalam pasar modal. Contohnya, New

York Stock Exchange memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI) bagi saham-saham

perusahaan yang dikategorikan memiliki nilai corporate sustainability dengan salah satu

kriterianya adalah praktik CSR. Begitu pula London Stock Exchange yang memiliki Socially

Responsible Investment (SRI) Index dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang

memiliki FTSE4 Good sejak 2001 (Daniri, 2009). Contoh lainnya adalah pemerintah Swedia.

Pada tahun 2007, berdasarkan laporan organisasi non-profit AccountAbility, Swedia

mendapatkan peringkat pertama dalam indeks daya saing yang bertanggung jawab

(Responsible Competitiveness Index). Indeks ini menunjukkan bahwa Swedia memimpin

daya saing bisnis melalui praktek-praktek bisnis yang bertanggung jawab (AccountAbility,

2007).

Pendekatan dari berbagai negara untuk CSR bervariasi dan masih ada perdebatan

tentang bagaimana masalah ini harus ditangani. Pemerintah Inggris juga merupakan salah

satu contoh pemerintah yang memiliki visi ambisius untuk menerapkan tanggung jawab

sosial perusahaan: mencari organisasi sektor swasta yang secara sukarela mempertimbangkan

dampaknya bagi masyarakat Inggris, baik dampak ekonomi, sosial dan lingkungan, serta

mengambil tindakan lanjutan untuk mengatasi tantangan utama berdasarkan pada bisnis inti

mereka- secara lokal, regional, nasional, dan internasional (Castka, Bamber, & Sharp, 2005).

Di Indonesia sendiri, tanggung jawab sosial perusahaan masuk ke dalam

Undang-undang No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan UU No. 25/2007 tentang

Penanaman Modal (UU PM). Pada pasal 74 UU PT yang menyebutkan bahwa setiap

perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber

daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jika tidak dilakukan,

maka perseroan tersebut bakal dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Dalam UU PM pasal 15 huruf b disebutkan, setiap penanam modal berkewajiban

melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika tidak, maka dapat dikenai sanksi mulai

(3)

fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman

modal (Pasal 34 ayat (1) UU PM.

Masuknya tanggung jawab sosial perusahaan dalam perundang-undangan dijelaskan

oleh Partomuan Pohan (2007), konseptor UU PT, bahwa tanggung jawab sosial harus

dimaknai sebagai instrumen untuk mengurangi praktek bisnis yang tidak etis dan sebagai

sarana untuk meminimalisir dampak negatif dari proses produksi bisnis terhadap publik,

khususnya dengan para stakeholdernya (“Hukumonline, 2007). Dengan landasan tersebut, CSR diberlakukan sebagai kewajiban yang sifatnya mandatory dan harus dijalankan oleh

pihak perseroan selama masih beroperasi.

Dampak dengan masuknya tanggung jawab sosial dalam Undang-Undang tentunya

menimbulkan permasalahan tersendiri terkait dengan pengertian konsep tanggung jawab

sosial itu sendiri. Sebagaimana pendapat Waagstein (2010) mengenai pendefinisian tanggung

jawab sosial di Indonesia masih kurang dan inkonsisten, Undang-Undang tersebut membuka

peluang munculnya Peraturan Daerah – Peraturan Daerah multi interpretasi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap konsep tanggung jawab sosial itu sendiri.

Fokus Bahasan

Dari latar belakang dan problematika yang muncul di atas, maka fokus pembahasan

yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep tanggung jawab sosial

perusahaan diterjemahkan dalam aturan hukum formal di tingkat daerah di Indonesia?

Tujuan dari tesis ini adalah untuk menyelidiki apakah konsep tanggung jawab sosial

perusahaan dalam Peraturan Daerah sesuai dengan konsep teoritis mengenai tanggung jawab

sosial perusahaan.

Pembahasan

Dalam konteks tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia, tulisan ini akan

berfokus pada aspek kerangka hukum dari tanggung jawab sosial perusahaan di tingkat

daerah. Secara khusus, bahasan akan mengambil contoh dua peraturan daerah, yaitu

Peraturan Daerah No 10/ 2012 Kota Cilegon dan Peraturan Daerah No.3/ 2013 Provinsi

Kalimantan Timur. Konteks ini diambil berdasarkan realita bahwa hanya di Indonesia,

konsep tanggung jawab sosial perusahaan masuk dalam kerangka hukum formal berupa

(4)

Konsep pergeseran dari bentuk tanggung jawab sosial yang bersifat sukarela menjadi

suatu kewajiban merupakan pergeseran fundamental dari tanggung jawab sosial itu sendiri.

Archie Carrol (2012) membuat konsep tanggung jawab sosial perusahaan dengan sebutan

The Corporate Social Responsibility Pyramid, yaitu terdiri dari 4 dimensi: (1) tanggung

jawab ekonomi, yaitu menghasilkan keuntungan; (2) tanggung jawab formal, mematuhi

peraturan yang ada; (3) Tanggung jawab etis, berlaku sesuai etis; (4) tanggung jawab

filantropi, menjadi warga perusahaan yang baik. Dari 4 dimensi tersebut, perdebatan yang

muncul seiring dengan adanya hukum legal formal mengenai tanggung jawab sosial

perusahaan berkembang. Seperti menurut Waagenstein (2010), adanya peraturan

perundang-undangan ini memunculkan dua perhatian: dari sisi masyarakat yang memerhatikan

implementasi dari peraturan; dan sisi komunitas bisnis yang memerhatikan bertambahnya

biaya perusahaan dan ketidakuntungan dalam berkompetisi bisnis.

Dari dua perhatian tersebut, dapat pula dipahami perspektif lain dari sisi pemerintah.

Sebagai negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, tentu perlu adanya

kebijakan yang mencegah terjadinya kerusakan lingkungan parah yang diakibatkan oleh

pengambilan SDA ini secara berlebihan. Melihat kesadaran perusahaan multinasional sampai

perusahaan lokal yang rendah untuk memerhatikan masyarakat dan lingkungan sekitarnya,

-seperti beberapa kasus yang terjadi akibat hal ini: kasus Lumpur Lapindo, Tragedi Lapangan

Minyak Tiaka, dan konflik masyarakat papua dengan PT Freeport- cukup rasional untuk

melihat tanggung jawab sosial perusahaan bukan lagi sebagai kegiatan tanggung jawab yang

bersifat sukarela, tetapi perlu dilaksanakan sebagai perintah wajib yang disertai dengan sanksi

(Sukarmi, 2010).

Kesadaran bahwa potensi konflik serta kerusakan yang lebih parah, baik resiko bagi

perusahaan maupun masyarakat secara umum menyadarkan bahwa perusahaan bukan lagi

sebagai entitas yang mementingkan diri sendiri, alienasi dan atau eksklusifitas dari

lingkungan masyarakat, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi

kultural dengan lingkungan sosial (Sukarmi, 2010).

Meskipun perundang-undangan dan peraturan daerah masih merupakan bentuk upaya

reaktif pemerintah terhadap dampak negatif dari praktek bisnis. Seperti pada contoh dua

daerah yang sudah mengeluarkan peraturan daerah mengenai tanggung jawab sosial

perusahaan, dua peraturan daerah ini perlu untuk ditinjau lebih jauh mengingat besarnya

(5)

perusahaan yang beroperasi di kota Cilegon dan Provinsi Kalimantan Timur. Berikut akan

dijabarkan lebih jauh mengenai dua peraturan daerah tersebut.

Definisi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

John Elkington (1997) menegaskan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai suatu

konsep yang secara khusus memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan kepentingan

konsumen, pekerja, shareholder, komunitas, dan lingkungan. The World Business Council for

Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan tanggung jawab sosial perusahaan

sebagai:“continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic

development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as

of the local community and society at large (komitmen berkelanjutan oleh bisnis untuk

berperilaku etis dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki

kualitas hidup para pekerja dan keluarga mereka serta komunitas lokal dan masyarakat luas

(“The World Business Council for Sustainable Development”, n.d).

Dari kedua definisi umum diatas, dapat dilihat bahwa tanggung jawab sosial

perusahaan merupakan konsep yang sangat luas. Sejalan dengan definisi tanggung jawab

sosial di atas, UU PT Pasal 1 angka 3 UU PT juga menggambarkan hal yang serupa,

“Tangung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan

lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun

masyarakat pada umumnya”. Sedangkan pada peraturan daerah, berikut definisi yang tercantum dalam Bab 1 Ketentuan Umum pada masing-masing Perda:

Kalimantan Timur Cilegon

Tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perusahaan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya, selain/diluar kewajiban membayar pajak dan retribusi.

Komitmen perseroan untuk berperan serta

dalam pembangunan ekonomi

berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

(6)

Dari pengertian yang terdapat dalam Perda tersebut, terlihat adanya kesamaan definisi

tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini berarti, konsep tanggung jawab perusahaan sesuai

dengan triple bottom line, yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta ketentuan

tanggung jawab sosial sampai pada tahap pendefinisian, dari definisi internasional hingga

daerah tidak terjadi bias.

Perbandingan Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Peraturan Daerah Perda no.3/2013 (Kaltim) Perda No.10/2012 (Cilegon) Karakteristik

Perda

Terdiri dari 13 Bab dengan 30 Pasal.

Perda ini disahkan pada 22 April 2013.

Terdiri dari 14 Bab dengan 27 Pasal.

Perda disahkan pada 30 April 2012

Istilah

Tanggung

Jawab Sosial

Perusahaan

Tanggung Jawab Sosial Lingkungan

Perusahaan (TJSLP) dan Program

Kemitraan dan Bina Lingkungan

(PKBL)

kegiatan usahanya di bidang dan/atau

berkaitan dengan sumber daya alam

wajib melaksanakan TJSLP dan

PKBL.

Perseroan yang menjalankan kegiatan

usahanya di Kota Cilegon pada bidang

dan/atau berkaitan dengan Sumber

Daya Alam.

Kelembagaan •Untuk melaksanakan program: Tim

Pelaksana (TP), yang terdiri dari

unsur masyarakat, perusahaan,

pemerintah daerah, dan akademisi;

•Untuk menyelaraskan program

tingkat lokal: Forum Pelaksana,

terdiri dari tim-tim pelaksana;

•Tim Koordinasi Pelaksana (TKP): Untuk sinkronisasi pelaksanaan

program tingkat provinsi.

•Dewan Pengawas. Terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat dan akademisi.

Cilegon Corporate Social

Responsibility (CCSR), terdiri dari

unsur tokoh masyarakat, unsur

akademisi, unsur LSM, dan unsur

perwakilan perusahaan.

Pelaksana

TJSP

Perusahaan yang berstatus badan

hukum; baik berstatus pusat, cabang,

atau unit pelaksana yang

berkedudukan di Kalimantan Timur;

Individu atau masyarakat yang

mendapatkan dana CSR perusahaan di

(7)

tidak dibedakan perusahaan swasta

pengendalian, dan evaluasi terhadap

kegiatan TJSLP & PKBL agar selaras

dengan program pemerintah daerah

dan kearifan lokal masyarakat

setempat.

Pengelolaan meliputi serangkaian

kegiatan pendataan perusahaan,

penyusunan program, penghimpunan

dan pendistribusian dana tanggung

jawab sosial dan lingkungan.

Pendanaan Dana didapat dari keuntungan bersih

setelah dikurangi pajak atau

dialokasikan dari mata anggaran lain

yang ditentukan perusahaan.

Persentase pendanaan program

minimal 3% dari keuntungan bersih

per tahun.

Dana Tanggung Jawab Sosial dan

Lingkungan merupakan dana yang

didapat dari keuntungan bersih

perusahaan yang berdomisili di Kota

Cilegon sebagai bentuk tanggung jawab

sosial perusahaan. Penentuan besaran

dana Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan selain BUMN harus

memperhatikan aspek keadilan dan

kemampuan perusahaan.

•Program bantuan langsung pada masyarakat

•Program pembangunan sarana dan prasarana fasilitas umum, sosial, dan

peribadatan

• Pembangunan sarana prasarana fasilitas umum dan sosial di

lingkungan Kota Cilegon;

• Pemberdayaan ekonomi masyarakat;

• Kegiatan keagamaan, pendidikan dan kebudayaan;

• Tanggap darurat sosial dan bencana alam.

Alur

Pelaksanaan

TJSP

• Pemda menyampaikan program skala prioritas pembangunan

daerah kepada TKP dan TP,

• TP mengkaji program TJSLP & PKBL yang disusun perusahaan,

• Program TJSLP & PKBL

Tata cara mengenai pendataan

perusahaan, penyusunan program,

penghimpunan dan pendistribusian dana

dari perusahaan yang memiliki

kewajiban dan/atau dapat melaksanakan

(8)

dilaksanakan perusahaan. kepada masyarakat, dirumuskan oleh

CCSR.

Sanksi •Teguran tertulis

•Pembatasan kegiatan usaha

•Pembekuan kegiatan usaha

•Pencabutan izin usaha

•Sanksi lain berdasarkan UU

•Dikenai sanksi berdasarkan UU

•Peringatan tertulis

•Pembatasan kegiatan usaha

•Bagi anggota CCSR, diberhentikan oleh Walikota

Dari ringkasan pokok dua peraturan daerah tersebut, dapat dilihat perbandingan

konsep tanggung jawab sosial perusahaan yang berbeda dari dua wilayah berbeda.

Perusahaan yang berada di dua daerah tersebut selain harus mengikuti peraturan daerah

tersebut, konsep tanggung jawab sosial juga dapat dirujuk misalnya prinsip Corporate Social

Responsibility dan ISO 26000 yang dirumuskan oleh International Organization for

Standardization (ISO) yang diberi nama Guidance Standard on Social Responsibility. Dari

penurunan definisi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan dari standar Internasional

ISO 26000 sampai Peraturan Daerah, telah terjadi bias yang berbeda-beda berdasarkan

kondisi bisnis di daerah operasi perusahaan. Seperti di kota Cilegon, pelaksanaan tanggung

jawab sosial perusahaan berarti membayar dana tanggung jawab sosial pada daerah, dan

kemudian pelaksanaan sepenuhnya dilakukan oleh pihak yang ditunjuk dan diberikan dana,

sedangkan anggota CCSR bertugas untuk mendistribusikan dana tersebut. Berbeda dengan

provinsi Kalimantan Timur, program tanggung jawab sosial sebaliknya dilaksanakan oleh

perusahaan sepenuhnya.

Merujuk pada definisi tanggung jawab sosial perusahaan pada bagian atas dan

dibandingkan dengan isi peraturan daerah, konsep tripple bottom line belum sepenuhnya

masuk menjadi perhatian para pembuat kebijakan. Contohnya, unsur lingkungan belum

sepenuhnya masuk menjadi bagian program TJSP di kedua daerah tersebut. Program sebatas

unsur sosial berupa pemberdayaan masyarakat dan masih ada program-program yang

berunsur filantropi. Selain dari konsep tersebut, kelemahan juga terlihat dari lemahnya peran

pemerintah untuk melindungi masyarakatnya dari The Santa Claus Syndrom (Petkoski &

Twose, 2003).

Selain pencegahan ketergantungan program yang belum diminimalisir dalam

(9)

penulisan ini, tidak ada data resmi dari pemerintah daerah mengenai berapa jumlah

perusahaan yang melaksanakan TJSP di Kalimantan Timur dan transparansi pendanaan

dalam CCSR yang tidak jelas. Sehingga, sampai pada level pendefinisian, seluruh elemen

dalam kerangka hukum formal masih berangkat pada satu titik pandang yang sama, namun

pada penjabaran aturan teknis dalam peraturan daerah, konsep tanggung jawab sosial

perusahaan mengalami bias yang cukup jauh dari pelaksana, bentuk program, bobot

intervensi masyarakat dan sampai penentuan unsur pembiayaan belum jelas.

Kesimpulan

Dengan demikian, Adanya pendefinisian konsep tanggung jawab sosial perusahaan

dari kesepakatan internasional hingga peraturan daerah mencakup triple bottom line, yaitu

aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Namun, memasukkan konsep ini dalam kerangka

hukum formal menimbulkan pertentangan sendiri karena berseberangan dengan unsur

kesukarelaan dan berubah menjadi kewajiban. Seperti yang tertuang dalam Perda No. 10

tahun 2012 di Kota Cilegon dan Perda No No.3 tahun 2013 di Provinsi Kalimantan Timur

yang bias mengenai penurunan konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Ditambah lagi,

aktivitas bisnis umumnya lebih berkonsentrasi pada legal-minimum requirements. Sehingga,

ketidakjelasan dalam kerangka hukum ini akan berdampak pada pelaksanaan CSR yang juga

tidak memiliki dampak yang benar-benar signifikan untuk masyarakat, terlebih lagi

pencegahan The Santa Claus Syndrom belum nampak pada kerangka hukum tersebut.

Tantangan ke depannya yang dihadapi pemerintah daerah di Indonesia adalah terkait

dengan pendataan dan transparansi kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang hingga

kini masih jauh dari yang sebagaimana azas-azas tanggung jawab sosial perusahaan yang

(10)

Daftar Pustaka UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Perda No.10 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan kota Cilegon

Perda No.3 Tahun 2013 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Provinsi Kalimantan Timur

Carrol, A.B. (2012). A history of corporate social responsibility: concepts and practices. In

Crane, A; McWilliams, A; Datten D; Moon, J; Siegel, D. The oxford handbook od

corporate social responsibility. Oxford: Oxford University Press. Hal 19-48.

Castka, P., Bamber, C., & Sharp, J. M. (2005). Implementing effective corporate social

responsibility and corporate governance: a framework. London: British Standards

Institution and the High Performance Organisation Ltd .

Daniri, A.M,. (2009). Standarisasi tanggung jawab sosial perusahaan.

http://kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-167-3770-15042009.pdf

Elkington, J. (1997). Cannibals with forks the triple bottom line of 21st century business.

Oxford: Capstone Publishing Limited.

Petkoski, D., Twose, N. (2003). Public policy for corporate social responsibility. World

Bank Institute.

Sukarmi. (2010). Tanggung jawab sosial perusahaan dan iklim penanaman modal.

http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/hukum-bisnis/84-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-corporate-social-responsibility-dan-iklim-penanaman-modal.html. 4 januari

2010.

Tully (2005).Tully, Stephen, International documents on corporate responsibility, Edward El

gar Publishing Limited, Cheltenham, 2005.

Waagstein, P. R. (2010). The mandatory corporate social responsibility in indonesia:

problems and implications.

Website:

(11)

http://www.batan.go.id/ensiklopedi/01/01/02/02/01-01-02-02.html

Referensi

Dokumen terkait

Tanggung Jawab sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah komitmen perusahaan untuk turut serta berperan dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan

40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yaitu, tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi

Dibuatnya peraturan perundang- Undangan ini yang mengatur mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan

Corporate Social Responsibility (TJSL) adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas,kehidupan

Pasal 1 angka 3 UUPT , tangung jawab sosial dan lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna

Undang-undang tersebut (pasal 1) mendefinisikan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan atau nama lain yang selanjutnya disingkat TJSLP adalah komitmen Perusahaan untuk berperan serta dalam pembangunan

Kepatutan Dan Kewajaran Dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Menurut Hukum Islam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan didefinisikan sebagai komitmen Perseroan untuk berperan serta