PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL BERDASARKAN SEKTOR DAN
KOMODITAS UNGGULAN TIAP DESA DI PULAU POTERAN, JAWA TIMUR
Fitri Ulvianti
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111 Email: [email protected]
Abstrak
Pulau Poteran merupakan sebuah pulau yang berada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Keseluruhan wilayahnya merupakan pedesaan sehingga dalam pengembangannya menerapkan konsep pengembangan ekonomi lokal. Berdasarkan RZWP Kabupaten Sumenep, terdapat tiga sektor utama yang menjadi potensi unggulan Pulau Poteran yaitu sektor perikanan, pertanian, dan peternakan. Untuk mengurangi disparitas ekonomi antar desa, maka pengembangan ekonomi lokal dilakukan di tiap desa dengan melihat sektor dan komoditas unggulan masing-masing desa. Desa Padike unggul di sektor peternakan dengan komoditas unggulan yaitu kambing dan ayam. Desa Cabbiya unggul di sektor perternakan dengan komoditas unggulan sapi dan kambing. Desa Essang unggul di sektor perikanan dengan komoditas ikan teri nasi. Desa Kombang unggul di dua sektor, yakni sektor perikanan dengan komoditas perikanan tangkap serta sektor pertanian dengan komoditas jagung, singkong, tembakau, dan lain-lain. Desa Poteran unggul di sektor peternakan dengan komoditas kambing. Desa Palasa unggul di sektor pertanian dengan komoditas jagung, singkong, tembakau dan lainnya serta sektor peternakan dengan komoditas ayam. Desa Gapurana unggul di sektor peternakan dengan komoditas sapi. Desa Talango unggul di sektor perikanan dengan komoditas berbeagai perikanan tangkap dan rumput laut. Untuk mengembangkan ketiga sektor tersebut, setidaknya harus mencakup tiga hal yakni pengembangan daya saing komoditas di tiap sektor, melakukan kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan swasta serta peningkatan peran kelembagaan di Pulau Poteran dan Kabupaten Sumenep.
Kata Kunci: pengembangan ekonomi lokal, sektor perikanan, sektor pertanian, sektor peternakan
I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Pengembangan serta pembangunan wilayah diperlukan demi tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat serta mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah. Menurut Direktorat Pengembangan Khusus dan Tertinggal Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2004), pengembangan wilayah merupakan upaya untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup di wilayah tertentu, memperkecil kesenjangan pertumbuhan dan ketimpangan kesejahteraan antarwilayah. Evariani B.R. Sembiring (2012) menyebutkan bahwa pengembangan wilayah merupakan strategi memanfaatkan dan mengkombinasikan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan tantangan untuk meningkatkan produksi wilayah akan barang dan jasa. Faktor internal berupa sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya teknologi, sedangkan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yang muncul seiring interaksi yang terjadi.
PEL adalah sumber daya fisik, sumber daya manusia, ekonomi, dan kemitraan (Prasetyo, 2014).
Pendekatan pada pengembangan wilayah, termasuk pada konsep PEL, selalu mempertimbangkan aspek keruangan karena tiap wilayah memiliki karakteristik keruangan yang berbeda dan spesifik. Perbedaan karakteristik tersebut membuat kebutuhan pengembangan wilayah yang berbeda-beda pula.
Pulau Poteran merupakan sebuah pulau yang berada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Keseluruhan wilayahnya merupakan pedesaan sehingga dalam pengembangannya menerapkan konsep pengembangan ekonomi lokal. Berdasarkan RZWP Kabupaten Sumenep, terdapat tiga sektor utama yang menjadi potensi unggulan Pulau Poteran yaitu sektor perikanan, pertanian, dan peternakan. Untuk mengurangi disparitas ekonomi antar desa, maka perlu diketahui sektor dan komoditas apa saja yang menjadi potensi lokal tiap desa untuk dikembangkan. Dalam pengembangannya, tentu terdapat faktor pendukung serta tantangan. Hal ini perlu diidentifikasi sebagai masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan ekonomi lokal di Pulau Poteran.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai barikut. 1. Mengetahui potensi ekonomi lokal yang dimiliki tiap desa di Pulau Poteran berdasarkan
sektor dan komoditas unggulan.
2. Mengetahui faktor pendukung dan tantangan dalam pengembangan potensi ekonomi lokal tersebut.
3. Mengetahui arahan pengembangan ekonomi lokal di Pulau Poteran.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Penelitian ini dibatasi pada pengembangan potensi ekonomi lokal di tiap desa di Pulau Poteran. Penelitian ini menganalisa faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pengembangan ekonomi lokal yang selanjutnya diteruskan sebagai arahan pengembangannya
II. Analisis Pengembangan Ekonomi Lokal 2.1 Gambaran Umum
Pulau Poteran merupakan salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Letak geografis Pulau Poteran terletak antara 113,920-114,080 LS dan 7,020-7,120 BT. Pulau ini merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di sebelah tenggara Pulau Madura. Pulau ini terletak pada Kecamatan Talango di Kabupaten Sumenep. Letak Pulau Poteran merupakan pulau yang paling dekat dengan Kabupaten Sumenep. Batas wilayah Pulau Poteran adalah sebagai berikut.
Utara : Selat Talango Selatan : Selat Madura Timur : Selat Sapudi Barat : Selat Talango
Luas wilayah Pulau Poteran ini mencapai 50.27 km2 dan terdiri dari 8 desa, 62 dusun, 105 RW, dan 307 RT. Adapun desa-desa yang terdapat di Pulau Poteran adalah Desa Padike, Desa Cabbiya, Desa Essang, Desa Kombang, Desa Poteran, Desa Palasa, Desa Gapurana, dan Desa Talango.
Pulau Poteran tergolong dalam kategori dataran rendah. Jenis tanah yang mendominasi Pulau Poteran adalah tanah Litosol dan Mediteran Merah. Tanah jenis ini cocok untuk ditanami jagung, palawija, jati, tembakau, jambu mete, karet, kelapa, dan sebagainya. Sumber daya yang ada di Pulau Poteran dapat dibedakan menjadi tiga, yakni sumber daya perikanan, sumber daya daratan dan sumber daya peternakan. Sumber daya perikanan terdiri dari ikan teri nasi, rajungan, ikan tongkol, ikan kakap, rumput laut dan lain sebagainya. Sumberdaya daratan berupa pertanian terdiri dari komoditas jagung, singkong, tembakau dan lainnya. Sedangkan sumber daya peternakan terdiri dari komoditas sapi, kambing dan ayam.
Gambar 1. Peta Orientasi Pulau Poteran
Sumber: Hasil Analisis, 2014
2.2 Analisis
2.2.1 Analisis Sektor dan Komoditas Unggulan
Analisis sektor unggulan dilakukakan dengan menggunakan metode Static Location Quotient (SLQ), yaitu untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sector suatu kegiatan ekonomi di Pulau Poteran. Dalam perhitungan SLQ ini membandingkan antara nilai produksi sektor-sektor perekonomian pada tiap desa dengan nilai produksi sektor-sektor perekonomian Pulau Poteran. Hasil akhir yang diharapkan berupa penentuan apa saja sektor yang memiliki laju pertumbuhan tinggi sehingga dapat menjadi sektor unggulan tiap desa dan berpotensi untuk dikembangkan.
Analisis Sektor Unggulan
Dibutuhkan data nilai produksi tiap sektor, yaitu dengan mengalikan jumlah produksi sektor-sektor perikanan, pertanian dan peternakan dengan harga jual komoditas tersebut.
Tabel 1. Data Nilai Produksi Sektor-sektor Perekonomian Tiap Desa di Pulau Poteran
Sumber: Kecamatan Talango Dalam Angka 2012 dan hasil survey primer, diolah, 2014
No Desa Nilai Produksi (Rupiah) Total Nilai Produksi
Per Desa (Rp)
Perikanan Pertanian Peternakan
1 Padike 2.250.000.000 45.000.000 9.877.550.000 18.220.742.900
2 Cabbiya 2.370.000.000 72.000.000 10.586.300.000 196.708.100.540
3 Essang 8.667.000.000 7.000.000 13.697.250.000 124.904.987.873
4 Kombang 18.363.400.000 281.412.500 8.905.250.000 36.960.990.793
5 Poteran 89.600.000 91.500.000 16.883.350.000 97.825.490.880
6 Palasa 308.400.000 257.500.000 18.047.000.000 126.449.566.739
7 Gapurana 6.120.000.000 45.000.000 20.926.100.000 31.013.622.770
8 Talango 5.040.000.000 45.000.000 7.800.800.000 148.438.259.690
Total Nilai Produksi
Pulau Poteran (Rp) 43.208.400.000 844.412.500 106.723.600.000 780.521.762.185
Berikut Tabel 2 adalah hasil perhitungan SLQ sektor-sektor perekonomian per desa di Pulau Poteran berdasarkan data nilai produksi tiap sektor.
Tabel 2. Hasil Perhitungan SLQ Sektor-sektor Perekonomian Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa SLQ Sektor Perekonomian
Perikanan Pertanian Peternakan
Dari hasil perhitungan SLQ sektor-sektor perekonomian pada Tabel 4.31 memperlihatkan bahwa tiap desa di Pulau Poteran memiliki sektor dengan nilai SLQ>1. Hal ini menandakan bahwa masing-masing desa di Pulau Poteran memiliki sektor dengan laju pertumbuhan tinggi yang berbeda antar satu sama lain. Sektor dengan nilai SLQ>1 merupakan sektor unggulan dan berpotensi untuk dikembangkan.
Analisis Komoditas Unggulan A. Sektor Perikanan
Komoditas perikanan yang dapat ditemukan di Pulau Poteran antara lain ikan teri nasi, rajungan, ikan lain-lain (kakap, tongkol, cakalang, dll) dan rumput laut.
Tabel 3. Data Nilai Produksi Komoditas Perikanan Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa Perikanan (Rupiah) Total Nilai Produksi
Per Desa
Teri Nasi Rajungan Ikan Lain-lain Rumput laut
1 Padike 1.501.448.670 66.240.420 0 173.624.985.000 1.567.689.090
2 Cabbiya 0 0 1.656.009.450 173.624.985.000 175.280.994.450
3 Essang 6.292.835.910 33.120.198 0 104.174.988.000 110.500.944.108
4 Kombang 50.342.780 33.120.198 13.432.076.500 0 13.515.539.478
5 Poteran 29.145.820 0 0 72.343.740.000 72.372.885.820
6 Palasa 23.846.580 150.144.884 0 104.174.988.000 104.348.979.464
7 Gapurana 3.179.538.180 132.480.780 0 0 3.312.018.960
8 Talango 0 0 3.643.220.880 130.218.735.000 133.861.955.880
Nilai Produksi
Pulau Poteran 11.077.157.940 415.106.480 18.731.306.830 584.537.436.000 614.761.007.250
Sumber: Kecamatan Talango Dalam Angka 2012 dan hasil survey primer, diolah, 2014
Berikut hasil perhitungan SLQ sektor perikanan berdasarkan data nilai produksi per komoditas perikanan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Perhitungan SLQ Komoditas Perikanan Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa
LQ Komoditas Perikanan
Dari hasil perhitungan SLQ sektor perikanan pada Tabel 4 memperlihatkan bahwa Desa Padike, Desa Cabbiya, Desa Essang, Desa Kombang, Desa Poteran, Desa Palasa, Desa Gapurana, dan Desa Talango memiliki komoditas perikanan dengan nilai SLQ>1. Hal ini menandakan bahwa tiap desa di Pulau Poteran memiliki komoditas perikanan dengan laju pertumbuhan tinggi. yang mampu menjadi komoditas unggulan serta memiliki potensi untuk dikembangkan.
B. Sektor Pertanian
Keterbatasan data mengenai jumlah produksi pertanian di tiap jenis komoditas menyebabkan perhitungan pertanian dibatasi pada komoditas jagung, sedangkan komoditas selain jagung (singkong, tembakau, dll) dimasukkan dalam komoditas non jagung.
Tabel 5. Data Nilai Produksi Komoditas Pertanian Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa Pertanian (Rupiah) Total Nilai Produksi Per Desa Jagung Non Jagung
1 Padike 6.775.503.810 0 6.775.503.810
2 Cabbiya 108.408.060.90 0 10.840.806.090
3 Essang 677.550.390 29.243.375 706.793.765
4 Kombang 12.195.906.840 2.344.294.475 14.540.201.315
5 Poteran 8.130.604.560 438.650.500 8.569.255.060
6 Palasa 1.129.250.625 2.924.336.650 4.053.587.275
7 Gapurana 6.775.503.810 0 6.775.503.810
8 Talango 6.775.503.810 0 6.775.503.810
Total Nilai Produksi
Pulau Poteran 53.300.629.935 5.736.525.000 59.037.154.935
Sumber: Kecamatan Talango Dalam Angka 2012 dan hasil survey primer, diolah, 2014
Berikut hasil perhitungan SLQ sektor pertanian berdasarkan data nilai produksi per komoditas pertanian pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil Perhitungan SLQ Komoditas Perikanan Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa LQ Komoditas Pertanian Jagung Non Jagung
Dari hasil perhitungan SLQ sektor pertanian pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa Desa Padike, Desa Cabbiya, Desa Essang, Desa Kombang, Desa Poteran, Desa Palasa, Desa Gapurana, dan Desa Talango memiliki komoditas pertanian dengan nilai SLQ>1. Hal ini menandakan bahwa tiap desa memiliki komoditas pertanian yang mampu menjadi komoditas unggulan serta memiliki potensi untuk dikembangkan. Mayoritas komoditas pertanian yang diunggulkan adalah jagung.
C. Sektor Peternakan
Tabel 7. Data Nilai Produksi Komoditas Peternakan Tiap Desa di Pulau Poteran
1 Padike 6.000.000.000 3.492.500.000 385.050.000 9.877.550.000
2 Cabbiya 7.854.000.000 2.485.000.000 247.300.000 10.586.300.000
3 Essang 11.388.000.000 2.077.500.000 231.750.000 13.697.250.000
4 Kombang 6462.000.000 2.237.500.000 205.750.000 8.905.250.000
5 Poteran 12.180.000.000 4.270.000.000 433.350.000 16.883.350.000
6 Palasa 13.326.000.000 4.180.000.000 541.000.000 18.047.000.000
7 Gapurana 17.340.000.000 3.072.500.000 513.600.000 20.926.100.000
8 Talango 4.458.000.000 3.130.000.000 212.800.000 7.800.800.000
Total Nilai Produksi Pulau Poteran
79.008.000.000 24.945.000.000 2.770.600.000 106.723.600.000
Sumber: Kecamatan Talango Dalam Angka 2012 dan hasil survey primer, diolah, 2014
Berikut hasil perhitungan SLQ sektor pertanian berdasarkan data nilai produksi per komoditas pertanian pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Perhitungan SLQ Komoditas Perikanan Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa LQ Komoditas Peternakan
Sapi Kambing Ayam
Dari hasil perhitungan SLQ sektor peternakan pada Tabel 8 memperlihatkan bahwa Desa Padike, Desa Cabbiya, Desa Essang, Desa Kombang, Desa Poteran, Desa Palasa, Desa Gapurana, dan Desa Talango memiliki komoditas perikanan dengan nilai SLQ>1. Hal ini menandakan bahwa seluruh desa di Pulau Poteran memiliki komoditas peternakan yang mampu menjadi komoditas unggulan serta memiliki potensi untuk dikembangkan.
2.2.2 Analisis Faktor Pendukung dan Tantangan Pembangunan Ekonomi Lokal
A. Sektor Perikanan
Faktor Pendukung
1.
Sumber daya perikanan yang melimpah.
Pulau Poteran sebagai wilayah pesisir memiliki sumber daya perikanan yang sangat
melimpah. Sektor perikanan yang berkembang berupa perikanan tangkap yaitu
dengan cara menangkap ikan dari perairan laut, antara lain ikan teri nasi, rajungan,
ikan kakap, ikan tongkol dan lainnya. Selain itu, sebagian nelayan juga
membudidayakan rumput laut di pesisir pulau.
2.
Kerjasama dengan perusahaan swasta.
3.
Keberadaaan industri pengolahan hasil perikanan.
Pulau Poteran memiliki satu industri pengolahan ikan teri nasi dan rajungan dalam
skala besar. Pengolahan yang dilakukan berupa perebusan dan pengeringan. Ikan
teri nasi dan rajungan yang telah melalui proses pengolahan ini memiliki harga jual
yang jauh lebih dibandingkan jika dijual mentah. Selain industri besar, beberapa
penduduk memiliki industri rumah tangga berupa pengolahan ikan menjadi
kerupuk ikan yang menjadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Sumenep,
khususnya Pulau Poteran.
Tantangan
1.
Kurangnya sumber daya manusia yang bekerja sebagai nelayan.
Kekayaan laut Pulau Poteran nyatanya tidak didukung pekerjaan mayoritas
penduduknya. Berdasarkan data Kecamatan Talango dalam Angka Tahun 2012,
hanya 3,8% dari jumlah penduduk Pulau Poteran yang bekerja sebagai nelayan.
Hal ini dikarenakan nelayan hanya dianggap sebagai pekerjaan sampingan pada
musim kemarau/kering, bukan sebagai mata pencaharian utama. Selain itu,
bekerja sebagai nelayan membutuhkan modal yang besar (perahu, jaring
penangkap, alat pengolah hasil perikanan, dan sebagainya) sehingga tidak banyak
penduduk yang berminat menjadi nelayan.
2.
Belum ada dukungan pemerintah untuk pengembangan sektor perikanan.
3.
Belum adanya sarana ekonomi sektor perikanan seperti Tempat Pelelangan Ikan
(TPI).
B. Sektor Pertanian
Faktor Pendukung
1.
Dominasi sumber daya manusia sebagai petani.
Mayoritas setiap rumah tangga (kepala keluarga) bekerja pada sektor pertanian. Penduduk Pulau Poteran yang bekerja sebagai petani adalah sebesar 17,8% dari total penduduk keseluruhan. Pertanian juga dianggap lebih menguntungkan karena pemilihan tanaman dapat beragam menyesuaikan dengan kondisi iklim dan cuaca Pulau Poteran. Hal ini membuat kegiatan bercocok tanam dapat dilakukan sepanjang tahun.
2. Dominasi pola penggunaan lahan pertanian sebesar 77% dari luas keseluruhan. Hampir tiap rumah memiliki lahan pertanian sendiri yang berada dekat dengan dengan rumahnya sehingga bertani dianggap lebih mudah dan murah karena lahan tani merupakan milik pribadi.
3. Dukungan Pemerintah
Dukungan pemerintah untuk sektor pertanian yakni dengan pengadaan koperasi dan pembentukan Kelompok Tani pada masing-masing desa. Melalui Kelompok Tani inilah pemerintah menyalurkan bantuan-bantuan berupa pemberian bibit jagung unggul, pupuk dan lain sebagainya. Hasil-hasil sektor pertanian pun akan dikumpulkan kepada Kelompok Tani untuk selanjutnya akan dipasarkan secara merata ke seluruh bagian wilayah Pulau Poteran dan keluar Pulau Poteran.
Tantangan
1.
Jenis tanah di sebagian Pulau Poteran yang berbatu sehingga sulit untuk bercocok
tanam. Pulau Poteran memiliki jenis tanah Litosol sehingga tanah cenderung kering
dan membutuhkan pengelolaan tanah khusus untuk menjadikannya subur.
2.
Industri pengolahan hasil pertanian.
pengolahan dapat memicu daya kreativitas masyarakat untuk lebih mengotimalkan
sumber daya yang ada.
C. Sektor Peternakan
Faktor Pendukung
1.
Biaya pemeliharaan hewan ternak cenderung murah karena tidak membutuhkan
pemeliharaan khusus.
2.
Banyaknya penggunaan hewan, khususnya sapi, untuk keperluan adat Madura
seperti karapan sapi dan arak-arakan pada pesta sunatan.
3.
Sebagian besar penduduk Pulau Poteran menjadikan memelihara hewan ternak
sebagai pekerjaan sampingan selain sebagai nelayan dan petani. Hewan ternak
dijadikan sebagai investasi jika sewaktu-waktu pemilik membutuhkan uang maka
hewan ternak akan segera dijual.
Tantangan
1.
Belum ada dukungan pemerintah untuk pengembangan sektor peternakan.
2.
Tidak ada sarana ekonomi khusus sektor peternakan seperti lokasi penjagalan
hewan. Hal ini membuat pemilik hewan ternak, khususnya para peternak sapi dan
kambing, terkadang harus membawa hewan ternak yang masih hidup ke pusat
Kecamatan Talango diseberang Pulau Poteran hanya untuk menjual hewan ternak.
III. Pembahasan
3.1 Hasil Analisis Sektor dan Komoditas Unggulan Tiap Desa
Pengembangan ekonomi lokal (PEL) atau Local Economic Development (LED) merupakan suatu proses partisipatori di mana semua pihak dari semua sektor lokal tersebut bekerja bersama-sama untuk menstimulasi aktivitas komersial, sehingga akan tercipta kondisi ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan (UN-Habitat, 2009). Untuk menciptakan pengembangan ekonomi lokal yang merata di Pulau Poteran, maka perlu diketahui sumber daya lokal apa saja yang berpotensi untuk dikembangkan pada tiap desa.
Berikut hasil analisis sektor dan komoditas pada tiap desa berdasarkan hasil perhitungan SLQ.
Tabel 9. Sektor dan Komoditas Unggulan Tiap Desa di Pulau Poteran
No Desa Sektor
Unggulan Komoditas Unggulan
1 Padike Peternakan Kambing dan Ayam
2 Cabbiya Peternakan Sapi dan Kambing
3 Essang Perikanan Ikan Teri Nasi
4 Kombang Perikanan Berbagai jenis ikan (kakap, tongkol, cakalang, dll)
Pertanian Jagung dan Non Jagung (singkong, tembakau, dll)
5 Poteran Peternakan Kambing
6 Palasa Pertanian Jagung dan Non Jagung (singkong, tembakau, dll)
Peternakan Ayam
7 Gapurana Peternakan Sapi
8 Talango Perikanan Berbagai jenis ikan (kakap, tongkol, cakalang, dll)
dan rumput laut
Sumber: Hasil Analisis, 2014
sehingga nantinya akan tercipta produk-produk yang memiliki daya saing. Inisiatif pengembangan ekonomi lokal ini tentunya tidak akan terlaksana jika hanya dilakukan oleh masyarakat. Harus ada integrasi antara masyarakat, pemerintah dan membangun kemitraan dengan pihak swasta agar produk-produk lokal dapat lebih berkembang.
3.2 Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Pulau Poteran
Pulau Poteran memiliki beberapa sektor unggulan yang dapat menjadi potensi pengembangan perekonomian, yakni sektor perikanan, sektor pertanian dan sektor peternakan. Tiap-tiap desa memiliki sektor unggulan yang berbeda-beda sehingga strategi pengembangannya pun dilakukan secara berbeda-beda.
Menurut Supriyadi (2007), secara umum pengembangan eknonomi lokal dilaksanakan melalui tiga prinsip yaitu prinsip ekonomi, prinsip kemitraan dan prinsip kelembagaan. Prinsip ekonomi difokuskan padan pengembangan produk untuk dijual keluar daerah (economic base). Selain itu, prinsip ekonomi juga menghubungkan produsen dari skala kecil dengan supplier kepada perusahaan pengekspor sehingga akan terjadi mata rantai produksi pasar (supply chain). Prinsip kemitraan dilihat dari kemitraan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Sektor swasta disini memiliki peran aktif, sedangkan pemerintah berfungsi untuk mendengar dan merespon, tidak sekedar memerintah dan mengontrol. Prinsip kemitraan ini juga mengandalkan keberadaan sumber daya lokal yang ada. Prinsip kelembagaan memfasilitasi dialog antara stakeholder untuk menghasilkan ide dan inisiatif. Dengan adanya kelembagaan ini diharapkan dapat memobilisasi sumber daya lokal untuk menunjang inisiatif yang diusulkan dari stakeholder.
Strategi pengembangan ekonomi lokal di Pulau Poteran ini setidaknya mencakup hal sebagai berikut:
1. Peningkatan daya saing produk pada komoditas-komoditas unggulan di tiap desa. peningkatan saya saing ini dapat dilakukan dengan melakukan pengolahan terhadap komoditas unggulan sehingga akan meningkatkan nilai tambah.
2. Melakukan kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan swasta. Pembangunan ekonomi ini dilakukan dengan mendukung peningkatan partisipasi dari masyarakat. Masyarakat sebagai penggerak perekonomian lokal yang didukung oleh peran dari pemerintah dan swasta.
3. Peningkatan peran kelembagaan. Dalam hal ini untuk meningkatkan iklim industri rumah tangga yang kondusif maka harus ada intervensi dari Dinas UMKM dan Koperasi serta Dinas Perdagangan yang dibantu oleh Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan serta Dinas Peternakan Kabupaten Sumenep.
Adapun strategi yang dapat dilakukan pada tiap sektor unggulan di Pulau Poteran adalah sebagai berikut.
A. Sektor Perikanan
1. Dukungan yang dapat dilakukan untuk pengembangan sektor perikanan ialah dengan meningkatkan peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang ada di Pulau Poteran. Rendahnya minat masyarakat untuk bekerja sebagai nelayan membutuhkan dukungan dari pemerintah, misalnya dengan penyediaan bantuan perahu serta alat tangkap ikan. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan dan keterampilan nelayan.
2. Intervensi terhadap industri kecil menengah dalam pengolahan perikanan juga mutlak diperlukan. Selain menambah lapangan pekerjaan, hal ini juga akan dapat meningkatkan penghasilan yang secara langsung akan meningkatkan minat masyarakat untuk bekerja sebagai nelayan dan mengoptimalkan potensi laut yang ada di Pulau Poteran.
4. Sektor perikanan telah memiliki kemitraan dengan perusahaan swasta. Hal ini perlu diperhatikan pemerintah serta diberlakukan aturan insentif dan disinsentif.
B. Sektor Pertanian
1. Mengoptimalkan fungsi dari Kelompok Tani agar semakin meningkatkan peran partisipatif dari masyarakat.
2. Pemberian wawasan mengenai bidang pertanian serta cara mengolah lahan di Pulau Poteran yang cenderung kering.
3. Pembentukan industri kecil dan menengah dalam pengolahan berbasis pertanian. 4. Kerjasama dengan pihak swasta misalnya dalam hal pemasaran komoditas pertanian.
C. Sektor Peternakan
1. Dukungan permodalan untuk usaha peternakan untuk meningkatkan skala usaha. 2. Kerjasama dengan pemerintah dan swasta untuk pengembangan usaha hewan ternak,
misalnya dengan melakukan usaha hewan ternak potong secara terpusat yang disertai dengan tempat penjualan.
3. Pemberian wawasan mengenai bidang peternakan.
4. Mempermudah sarana penjualan hewan ternak untuk keluar Pulau Poteran.
IV. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, beberapa hal dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Pengembangan perekonomian di Pulau Poteran difokuskan pada tiga sektor pengembangan, yakni sektor perikanan, sektor pertanian dan sektor peternakan.
2. Tiap desa di Pulau Poteran memiliki sektor dan komoditas unggulan masing-masing. Desa Padike unggul di sektor peternakan dengan komoditas unggulan yaitu kambing dan ayam. Desa Cabbiya unggul di sektor perternakan dengan komoditas unggulan sapi dan kambing. Desa Essang unggul di sektor perikanan dengan komoditas ikan teri nasi. Desa Kombang unggul di dua sektor, yakni sektor perikanan dengan komoditas perikanan tangkap serta sektor pertanian dengan komoditas jagung, singkong, tembakau, dan lain-lain. Desa Poteran unggul di sektor peternakan dengan komoditas kambing. Desa Palasa unggul di sektor pertanian dengan komoditas jagung, singkong, tembakau dan lainnya serta sektor peternakan dengan komoditas ayam. Desa Gapurana unggul di sektor peternakan dengan komoditas sapi. Desa Talango unggul di sektor perikanan dengan komoditas berbeagai perikanan tangkap dan rumput laut.
3. Strategi pengembangan ekonomi lokal di Pulau Poteran ini setidaknya mencakup hal pengembangan daya saing komoditas di tiap sektor, melakukan kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan swasta serta peningkatan peran kelembagaan di Pulau Poteran dan Kabupaten Sumenep.
Daftar Pustaka
Kecamatan Talango Dalam Angka 2012.
Prasetyo, Rusyidi Huda. 2014. Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Jagung Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban Dengan Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Surabaya: ITS.
Sembiring, Evariani B.R. 2012. Analisis Dampak Peningkatan Jalan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo terhadap Pengembangan Wilayah. Medan: USU.
UN-HABITAT. 2009. Promoting Local Economic Development through Strategic Planning, The