TAHRIJ AL-HADIS
(Dalam Kitab Sunan Abi Dawud)
MAKALAH
Dibuat dalam rangka memenuhi Tugas Ujian Ahir Semester Mata Kuliah Ulumul Hadis Semester III Tahun Akademik 2014-2015
Jurusan Hukum Bisnis Syariah Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Dosen Robit Fuadi, M. Thi
Oleh
Ali nahrowi : 13220214
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya lah Penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Tahrij Al-Hadist dalam Kitab Sunan Abu Dawud.
Makalah ini diajukan guna memenuhi Tugas Ujian Ahir Semester Mata Kuliah Ulumul Hadis, dengan dosen pembimbing Bapak Muhammad Robit Fuadi, M. Th.i. Dan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembanngan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Malang, 05 Desember 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan...3
BAB II PEMBAHASAN...4
A. Penelitian Sanad...4
1. Takhrij al-Hadits berdasarkan penggalan lafadz hadits...4
2. Letak Hadits pada kitab Hadits (al-Kutub al-Tis’ah)...4
3. Biografi Para Perowi...6
4. Nilai kedhabitan dan keadilan perawi...25
5. Ranji Sanad Hadits (Silsilatu Rawat al-Hadits)...27
5. Natijah (kesimpulan) tentang nilai Sanad Hadits...27
B. Penelitian Matan...28
1. Korelasi hadis dengan ayat Al-Quran ...28
2. Korelasi hadis yang diteliti dengan hadis yang sahih atau lebih sahih. 29 3. Korelasinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasio.. 30
4. natijah tentang nilai matan hadis (sahih atau dha’if)...30
C. Pemahaman Hadits...31
BAB III KESIMPULAN...32
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Hadits menempati posisi yang sangat penting dalam setiap proses pengambilan hukum (istinbath) umat Islam, karena merupakan dasar tasyri’ ke-2 setelah Al-Qur’an. Kajian hadits hampir meliputi seluruh ruang lingkup kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu kewajiban untuk mengikuti hadits adalah seperti kewajiban untuk mengikuti Al-Qur’an.
Mengingat begitu pentingnya kedudukan Hadits, maka kajian hadits semakin meningkat dari waktu ke waktu dimulai dari masa sahabat. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga keotentikan hadits itu sendiri. Karena ternyata pasca khilafah khulafaur rasyidin tepatnya pada masa khilafah dinasti Umayyah (setelah terbunuhnya khalifah Usman bin Affan), umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan yaitu Syi’ah, Khawarij dan Jumhur. Dimana masing-masing golongan ingin menduduki jabatan khalifah karena menganggap kelompok mereka adalah yang paling benar dan kelompok lain sesat. Untuk memperkuat pendapat masing-masing, maka mereka membuat hadits-hadits palsu. Orang yang mula-mula membuat hadits palsu adalah dari golongan syi’ah kemudian khawarij dan jumhur.
Pemalsuan hadits ini semakin meluas pada abad kedua yaitu dengan munculnya propaganda-proaganda politik untuk menumbangkan rezim Bani Umayyah. Sebagai imbangan muncul pula dari pihak muawiyyah ahli-ahli hadits palsu untuk membendung arus propaganda yang dilakukan oleh golongan oposisi.1
Berangkat dari carut marutnya pemalsuan hadits pada saat itu, akhirnya muncullah ulama-ulama ahli hadits yang rela menghabiskan waktu untuk mencari hadits dan mengoreksi kesahihannya. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan studi yang panjang walaupun hanya untuk mendapatkan satu hadits.
1 Saeful Hadi, Ulumul Hadits Panduan Ilmu Memahami Hadits secara Komprehensif, (Yogyakarta:
Dalam proses studi hadits, sanad termasuk komponen penting yang tidak bisa dinafikan selain dua komponen lain yaitu matan dan rowi. Hal ini dikarenakan sanad merupakan rantai yang menghubungkan antara pesan hadits sampai kepada Rasusullah. Dapat dibayangkan apabila salah satu mata rantai itu ada yang bermasalah maka keabsahan hadits pun tentunya dipertanyakan.
Dari hadits-hadits yang dikumpulkan tersebut tidak semua bisa diterima begitu saja, karena tidak semua hadits mencapai derajat shahih. Hal ini disebakan karena masa hadist semakin jauh dari Rasulullah sehingga memungkinkan banyaknya orang-orang yang berani berbuat kebohongan dan memalsukan hadits Nabi.
Untuk mengetahui apakah suatu hadits layak dijadikan hujjah atau tidak, maka umat Islam sebaiknya melakukan penelitian terhadap hadits-hadits sehingga tidak salah menggunakan hadits sebagai hujjah.
Berangkat dari pemaparan di atas, maka dalam makalah ini penyusun mengambil sebuah hadits dari kitab Sunan Abi Daud untuk men-takhrij hadits
tersebut. Adapun hadis yang dimaksud adalah :
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
2
B. Rumusan Masalah
1. Selain dalam kitab sunan Abi Daud, terdapat dalam kitab apa saja hadis tersebut?
2. Bagaimana biografi para perowi hadits tersebut? 3. Bagaimana runtutan atau skema sanad hadits tersebut?
C. Tujuan
Tujuan utama dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas ujian akhir semester (UAS) mata kuliah Ulum al-Hadits. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui beberapa hal sebagai berikut:
1. Terdapat dalam kitab apa saja hadis berikut:
: لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن ىِنَثّدَح
-ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع ىَلَع ُءاَسّنلاَو
اَنَيِدْيَأ ِهيِف ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم
.
3
2. Biografi para perowi hadits tersebut. 3. Runtutan atau skema sanad hadits tersebut.
3 Abu dawud no hadis 80.
BAB II PEMBAHASAN A. Penelitian Sanad
1. Takhrij al-Hadits berdasarkan penggalan lafadz hadits
Hadis berikut merupakan hadis yang diambil dari kitab Sunan Abi Daud, yang menjadi bahan dalam peneliian atau kritik hadis yang akan saya bahas selanjutnya yakni hadis nomor 80 dari bab keistimewaan wudhunya wanita sebagai berikut.
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
4
Artinya: " telah berkata kepada kami musaddad telah berkata kepada kami dari Yahya dari ubaidillah berkata : telah berkata kepada kami nafi’ dari Abdillah bin amar beliau berkata, "Adalah kami dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW berwudhu dari satu bejana, dengan cara menjulurkan tangan ke dalamnya. "
Selanjutnya saya temukan hadis terbut Dalam Mu’jam Mufahras li Alfadz al-Hadits al-Nabawy Hadist di atas terdapat pada Kitab Sunan Abu Dawud, (Thaharah, 39)5
2. Letak Hadits pada kitab Hadits (al-Kutub al-Tis’ah)
Hadis di bawah ini adalah hadis yang diambil dari kitab Sunan Abi Daud, yakni dengan nomor hadis 80 :
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
6
Artinya: " telah berkata kepada kami musaddad telah berkata kepada kami dari Yahya dari ubaidillah berkata : telah berkata kepada kami nafi’ dari Abdillah bin amar beliau berkata, "Adalah kami dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW berwudhu dari satu bejana, dengan cara menjulurkan tangan ke dalamnya. "
Setelah dicari dalam kitab al-Mu’jam Mufahras li Alfadz Hadits al-Nabawi dengan menggunakan penggalan lafadz
ُأّضَوَتَن
, pada juz 7 halaman 237 berhasil ditemukan bahwa hadits tersebut juga terdapat pada:Sunan Abu Daud, kitab ةراهههطلا bab
, ِءوُضَو ِلْضَفِب ِءوُضُوْلا باب
ةَأْرَمْلا
hadis nomer 80 dengan redaksi sebagai berikut :ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
7
6 Sulaiman bin AL’ass, sunan Abu dawud ,. Baitul afkar . no hadis 80. 7 Sulaiman bin AL’ass, sunan Abu dawud ,. Baitul afkar . no hadis 80.
3. Biografi Para Perowi8
4. Nilai kedhabitan dan keadilan perawi a. Musaddad
Nama lengkapnya adalah musaddad bin musrohad bin musrabal bin mustaurid. , mempunyai kunyah abul asan , tidak ditemukan data yang berkenaan dengan kelahiranya, beliau wafat di basah tahun 228 H. dan beliau mempunyai 48 orang guru diantaranya adalah Yahya bin Said . Sedangkan murid beliau berjumlah 20 orang. Mengenai periwayatan hadisnya mayoritas ulama menilai Tsiqoh.
b. Yahya
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Said bin furukh , mempunyai kunyah abu Said , beliau lahir pada 120 H, beliau wafat tahun 198 H. dan beliau mempunyai 97 orang guru diantaranya adalah abdullah bin amar . Sedangkan murid beliau berjumlah 68 orang diantaranya adalah musaddad bin masyrohad . Mengenai periwayatan hadisnya mayoritas ulama menilai Tsiqoh.
c. Ubaidillah
هللا ىلص- ِهّللا ِلوُس َر ِدْهَع ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن ُأّضَوَتَن اّنُك
اَنَيِدْيَأ ِهيِف ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم د-ملسو هيلع
mempunyai 40 orang guru diantaranya adalah nafi’ Sedangkan murid beliau berjumlah 82 orang diantaranya adalah Yahya bin Said. Mengenai periwayatan hadisnya mayoritas ulama menilai Tsiqoh.
d. Nafi’
Nama lengkapnya adalah nafi’ dan nama masyhur beliau adalah nafi’ mawali bin amar , mempunyai kunyah abu Abdillah , mengenai tahun lahir beliau bidak ada ulama’ yang meriwayatkannya, beliau wafat tahun 116 H. dan beliau mempunyai 28 orang guru diantaranya adalah Abdullah bin Umar Sedangkan murid beliau berjumlah 139 orang diantaranya adalah ubaidillah . Mengenai periwayatan hadisnya mayoritas ulama menilai Tsiqoh.
e. Abdillah bin amar
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Umar bin khatab bin nafi , mempunyai kunyah abu Abu abdi rahman , kunyah beliau adalah Ibnu Umar mengenai tahun lahir beliau bidak ada ulama’ yang meriwayatkannya, beliau wafat tahun 73 H. dan beliau mempunyai 18 orang guru diantaranya adalah Rasulullah SAW.Sedangkan murid beliau berjumlah 230 orang diantaranya adalah nafi’ . Mengenai periwayatan hadisnya mayoritas ulama menilai Tsiqoh.
5. Ranji Sanad Hadits (Silsilatu Rawat al-Hadits)
9
ِنْب ِهّللا ِدْبَع
5. Natijah (kesimpulan) tentang nilai Sanad Hadits.
Kesimpulan kualitas hadist yang diteliti melihat dari segi sanadnya adalah termasuk hadist shahih, karena antar perawi yang satu dengan yang lain terbukti pernah berguru dan belajar hadist dengan perawi sesudahnya yang berarti sanadnya mutasil. Disimpulkan pula, semua perawi tersebut telah dianggap tsiqah oleh para ulama’.
B. Penelitian Matan
1. Korelasi hadis dengan ayat Al-Quran .
Dalam hal hadis yang menerangkan tentang kebolehan memasukkan tangan laki aki dengan perempuan dalam satu wadah dalam berwudhu penulis tidak menemukan dalam ayat al-qura secara tekstual, kara pembahasan itu merupakan hal furu’ yang penjelasannya terdapat pada substansi Uma dari salah satu ayat Al-quran surah Al baqarah ayat 222 yang berbunyi :
يييِف يءياَيسيّنيلا يْياويُليِزيَتيْعياَيف يىيًذَأ َيوُيه يْيلُيق يِيضييِحيَمْيلا ِينَيع يَكيَنوُيل
َأيْسَييَيو
يْنيِم ّينُيهوُيت
ْيأَيف يَنْيريّهيَطيَت ياَيذِيإَيف َينْيرُيهْيطَي يَىّيتَح ّينُيهوُيبَريْقيَت يَليَو يِضييِيحَيمْليا
ي.َينيِيريّهيَطيَتيُميْليا ّيبِيحُييَو َينييِبيايّوّيتليا يّبيِحيُي َيهّيلليا ّينِيإ ُيهّيلليا يُميُكيَريَمَأ يُيثْييَيح
Artinya :
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (al-baqarah ayat 222)9
9 Al-quran al Karim surat al baqarah ayat 222
يِنَثّد َح
نع
انثّدح
ُديِرُي اَم ُهْنِم ْمُكيِدْي
َأَو ْمُكِهوُجُوِب اوُحَسْماَف اًبّيَط اًديِعَص
ْمُك َرّهَطُيِل ُديِرُي ْنِكَلَو ٍج َرَح ْنِم ْمُكْيَلَع َلَعْجَيِل ُهّللا
َنو ُرُك ْشَت ْمُكّلَعَل دْمُكْيَلَع ُهَتَمْعِن ّمِتُيِلَو
.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh kedua) kakimu sampai ke dua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh (menyetubuhi) wanita, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu.Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah: 6).10
Dari substansi ayat diatas mengandung penjelasan tentang anjuran untuk selalu bersuci artiya di sini tidak dipermasalahkan mengenai caranya tapi menjaga dam memelihara kesucian dalam jasmani maupun rohani itulah unsur utama dalam ayat ini.
2. Korelasi hadis yang diteliti dengan hadis yang sahih atau lebih sahih.
Masih dalam kitab sunan abu Daud yakni pada hadis ke 79 juga diterangkan tentang kebolehan berwudu dengan memasukkan tangan ke dalam wadah antara laki-laki dengan perempuan. Karena didukung dengan hadis yang sahih itu maka sudah jelaslah tentang kebolehan berwudhunya laki-laki dengan perempuan memasukkan ke dalam wadah yang sama. Bunyi dari hadis tersebut yakni :
َلاَق َرَمُع
ِهّللا ِلوُسَر ِناَمَز يِف َنوُئّضَوَتَي ُءاَسّنلاَو ُلاَجّرلا َناَك
اًعيِمَج ِدِحاَوْلا ِءاَنِ ْلا ْنِم ٌدّدَسُم َلاَق َمّلَسَو ِهْيَلَع ُهّللا ىّلَص
10 Al-quran al-karim surat al maidah ayat 6.
79. Dari Ibnu Umar RA dia berkata: "Kaum laki-laki dan perempuan pada masa Rasulullah SAW berwudhu bersama dari satu bejana". {Shahih}, Tanpa kalimat..."Minal inaail waahid (dari satu bejana)".
3. Korelasinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasio. Dalam hal ini jika air yang ada dalam wadah lebih dari 2 qolah , maka pastilah air tersebut bisa digunakan wudu dengan cara mencelupkan langsung anggota wudu ke dalam wadah.
4. natijah tentang nilai matan hadis (sahih atau dha’if)
maka dari berbagai sumber yang mendukung dalam penelitian hadis :
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
11
Artinya: " telah berkata kepada kami musaddad telah berkata kepada kami dari Yahya dari ubaidillah berkata : telah berkata kepada kami nafi’ dari Abdillah bin amar beliau berkata, "Adalah kami dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW berwudhu dari satu bejana, dengan cara menjulurkan tangan ke dalamnya. "
Dan dari berbagai pemahaman dan didukung dengan hadis lain yang sahih. Maka dapat disimpulkan bahwa hadis tersebut sahih baik dar segi Sand dan matannya.
C. Pemahaman Hadits
Dari hadis ini yang penulis teliti dari kitab sunan abu Daud yakni hadis on 80 dari bab keistimewaan wudhunya wanita , yang berbunyi :
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
12
Artinya: " telah berkata kepada kami musaddad telah berkata kepada kami dari Yahya dari ubaidillah berkata : telah berkata kepada kami nafi’ dari Abdillah bin amar beliau berkata, "Adalah kami dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW berwudhu dari satu bejana, dengan cara menjulurkan tangan ke dalamnya. "
Sari hadis diatas setelah penulis lihat dalam kitab arah dari kitab sunan abu Daud penulis mendapatkan intisari dari hadis yang dimaksud adalah bahwa hadis ini mengandung pemahaman bahwa diperbolehkannya antara laki-laki dan perempuan berwudhu dalam satu bejana, dengan cara mencelupkan atau mengambil air langsung dengan tangan ke dalam bejana secara bersama-sama13.
Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa air dalam wadah yang dimaksud adalah air yang jumlahnya lebih dari dua qolah, maka jelslah kebolehannya melakukan wdhu dengan cara memasukkan tangan antara laki-laki dengan perempuan sidalamnya.
12Sulaiman bin AL’ass, sunan Abu dawud ,. Baitul afkar . no hadis 80..
13 Syarf ibnu amir, aunul makbud ala sunani abu dawud, baitul afkar ad-dauliyah, hal 230
BAB III KESIMPULAN Dari penelitian terhadap hadis:
ىِنَثّدَح : لاق ِهّللا ِدْيَبُع ْنَع ىَيْحَي اَنَثّدَح :لاق ٌدّدَسُم اَنَثّدَح
ىَلَع ُءاَسّنلاَو ُنْحَن
ُأّضَوَتَن اّنُك َلاَق َرَمُع ِنْب ِهّللا ِدْبَع ْنَع ٌعِفاَن
ىِلْدُن ٍدِحاَو ٍءاَنِإ ْنِم -ملسو هيلع هللا ىلص- ِهّللا ِلوُسَر ِدْهَع
اَنَيِدْيَأ ِهيِف
.
14
Artinya: " telah berkata kepada kami musaddad telah berkata kepada kami dari Yahya dari ubaidillah berkata : telah berkata kepada kami nafi’ dari Abdillah bin amar beliau berkata, "Adalah kami dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW berwudhu dari satu bejana, dengan cara menjulurkan tangan ke dalamnya. "
Baik dari segi Sand dan matannya, maka penulis menyimpulkan bahwa hadis tersebut sohih dari segi Sand dan matannya, serta hadis tersebut menerangkan tentang kebolehan melakukan wudu antara aki-laki dengan perempuan dengan cara memasukkan tangan mereka dalam satu wadah atau bejana yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Al-mizzi, yusuf. 1998. Tahdzibul kamal fil asma’ ar-rijal. Baitul afkar. Al-Quran al-karim.
Ibnu amir, syarf, 1998, aunul makbud ala sunani abu dawud. Baitul afkar ad-dauliyah.
wensing, Aje.mu’jam al-mufahras Il-alfadil hadis na-nabawi juz 7. Fii madinah liiden.
Ibnu ass, sulaiman. 1998. Sunan abi dawud, baitul afkar.