• Tidak ada hasil yang ditemukan

perencanaan pariwisata berbasi dalam docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "perencanaan pariwisata berbasi dalam docx"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang sifatnya komplek, mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu pembangunan pariwisata harus ditinjau dari aspek kehidupan. Pembangunan sector pariwisata diarahkan menjadi sector andalan yang mampu menjadi peluang kerja, pendapatan asli daerah dan penerimaan devisa negara.

Indonesia merupakah salah satu negara yang memliki kenekaragaman hayati begitu besar terutama sumber daya alam. Dari kenekaragaman yang begitu banyak tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam sector kepariwisataan, terutama dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Potensi obyek wisata dan daya tarik yang dimiliki oleh Indonesia antara lain berupa kenekaragaman hayati, keunikan, keaslian budaya tradisional, keindahan bentang alam, gejala alam, serta peninggalan sejarah. yang mana semua itu mampu menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat maupun daerah, sekaligus menjadi sarana pendidikan dan pelestarian lingkungan.

Setelah diberlakukannya undang- undang otonomi daerah tentunya pemerintah daerah akan berlomba- lomba untuk meningkatkan pendapatan asli daerah mereka masing- masing. Oleh sebab itu yang menjadi sumbangan terbesar adalah sektor pariwisata, dengan mengelola dan memanfaatkan potensi wisata yang ada di daerahnya dengan baik.

Kota Batu yang merupakan kota administratif dari Kabupaten Malang, berdasarkan Undang- undang nomor 11 tahun 2001 tentang pembentukan Kota Batu. Kota Batu terdiri dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Junrejo. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batu nomor 7 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu tahun 2010-2030 Kota Batu ditetapkan berdasarkan fungsi wilayahnya yang terbagi menjadi 3 Bagian Wilayah Kota (BWK).

(2)

dilengkapi dengan pusat pelayanan kesehatan skala kota dan regional, kawasan pendidikan tinggi dan kawasan pendukung perkantoran pemerintahan dan swasta dengan pusat pelayanan di Desa Junrejo dan BWK III sebagai wilayah utama pengembangan kawasan agropolitan, pengembangan kawasan wisata alam dan lingkungan serta kegiatan agrowisata dengan cakupan wilayah meliputi Kecamatan Bumiaji dengan pusat pelayanan di Desa Punten.

Karena Kota Batu sebagai hulu DAS Brantas lebih khususnya Kecamatan Bumuaji dengan luasan hutan sebesar 8.751,60 Ha atau 63,38% dari luasan yang memiliki peranan penting sebagai daerah penyangga dan sumber resapan mata air yang ada di Kota Batu. Maka pembangunan di Kota Batu harus menitikberatkan pada asas keberlanjutan dengan mengintegrasikan tiga elemen pokok pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari ekonomi, social dan lingkungan.

Kota Batu merupakan kota pariwisata dengan basis pertanian, yang mana sebagian besar penduduk Kota Batu bermata pencaharian sebagai petani. Kecamatan Bumiaji yang ditetapkan sebagai pengembangan kawasan agropolitan dengan luas wilayah sebesar 12.789,42 Ha atau 64% dari total luas Kota Batu yaitu 19.908,72 Ha. Yang mana di Kecamatan Bumiaji ini terdapat lahan pengembangan berbagai sector yang meliputi sector perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan dan lain sebagainya. Berdasarkan analisis Location Qoutient,wilayah Desa Gunungsari menjadi pengembangan tanaman hias dan peternakan sapi perah. Desa Punten, Bumiaji, Bulukerto dan DEsa Tulungrejo dikenal sebagai penghasil apel, jambu biji, alpukat dan jeruk. Desa Giripurno dan Sumberbrantas dengan komoditas sayuran eksotis, DEsa Pandanrejo untuk tanaman pangan dan perikanan serta DEsa Sumbergondo untuk peternakan kelinci dan alpukat. Dari masing- masing wilayah tersebut yang akan menjadi cirri khas untuk pengembangan kawasan agropolitan (Bappeda, 2010).

(3)

pedesaan, industry manufaktur, makanan, pelayanan kebutuhan restoran hotel sampai outlet agribisnis pusat oleh- oleh dan cinderamata.

Dengan demikian hal tersebut menjadi dilemma dan pertimbangan bagi pemerintah dimana sector perdagangan dan jasa mampu memberikan sumbangan PDRB secara signifikan dibandingkan dengan komoditas pertanian, sehingga diperlukannya studi keberlanjutan dalam pengembangan agropolitan di kawasan Kecamatan Bumiaji. Kawasan tersebut dijadikan sebagai pengembangan wisata alam dan lingkungan serta kegiatan agrowisata, sehingga kegiatan pariwisata akan memberikan dampak cukup besar dan menunjang produk pertanian di Kota Batu.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pembangunan pariwisata keberlanjutan yang ada di Kota Batu dilihat dari dimensi pembangunan berkelanjutan?

2. Bagaimana pengembangan kawasan agropolitan di Kota Batu di lihat dari konsep pariwisata berkelanjutan?

3. Bagaimana strategi yang akan dilakukan dalam meningkatkan pariwisata keberlanjutan yang ada di Kota Batu?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pembangunan pariwisata keberlanjutan yang ada di Kota Batu melaui dimensi pembangunan berkelanjutan

2. Mengetahui factor apa saja yang mempengaruhi dalam pengembangan pariwisata keberlanjutan di Kota Batu

(4)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan menurut United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan dari generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan dari generasi mendatang untuk memnuhi kebutuhan mereka. Sehingga muncul sebuah konsep yang mempertemukan antara aspek pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan (ekologis). Yang mana konsep tersebut menjadi paying bagi banyak konsep, kebijakan dan program pembangunan yang berkembang secara global. Pembangunan berkelanjutan merupakan paradigma baru yang memiliki interpretasi konsep atau aksi yang beragam, dalam Caring for the Earth pembangunan berkelanjutan sebagai upaya peningkatan mutu kehidupan manusia, namun masih dalam kemampuan daya dukung ekosistem (IUCN, UNEP dan WWF dalam Baiquni, 2002: 34).

Menurut Baiquni (2002:35) pembangunan berkelanjutan berkaitan dengan empat hal, yaitu: 1. upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan dan daya

du-kung ekosistem.

2. upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan memberlanjutkan.

3. upaya meningkatkan sumber daya manusia dan alam yang dibutuhkan pada masa yang akan datang,

4. upaya mempertemukan kebutuhan menusia secara antar generasi.

Dalam upaya untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan diperlukan tiga spek, yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi dan aspek social. Yang mana ketiga konsep tersebut saling berhubungan dan mempunyai timbal balik antara aspek yang satu dengan yang lainnya.

1. Aspek lingkungan, dimana lingkungan yang menjadi dasar adanya keberlanjutan tersebut. Terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, oleh karena itu sangatlah penting untuk melestarikan lingkungan agar sumber daya alam yang ada bisa terus dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang meskipun ketersediaannya terbatas.

(5)

3. Aspek sosial, dimana pembangunan yang berdimensi pada manusia dalam hal interaksi, interrelasi dan interdependesi. Yang erat kaitannya juga dengan aspek budaya. Tidak hanya pada permasalahan ekonomi, pembangunan berkelanjutan untuk menjaga keberlangsungan budaya dari sebuah masyarakat supaya sebuah amsyarakat tetap bisa eksis untuk menlajalani kehidupan serta mempunyai sampai masa mendatang.

2.2 Konsep Pariwisata Berkelanjutan

WTO mendefinisikan pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan wisatawan saat ini, sambil melindungi dan mendorong kesempatan untuk waktu yang akan datang. Mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sambil memelihara integritas kultural, proses ekologi esensial, keanakeragaman hayati dan sistem pendukung kehidupan.

Produk pariwisata berkelanjutan dioperasikan secara harmonis dengan lingkungan lokal, masyarakat dan budaya, sehingga mereka menjadi penerima keuntungan yang permanen dan bukan korban pembangunan pariwisata (Anonim, 2000: XVI). Dalam hal ini kebijakan pembangunan pariwisata berkelanjutan terarah pada penggunaan sumber daya alam dan penggunaan sumber daya manusia untuk jangka waktu panjang. (Sharpley, 2000:10).

Berkaitan dengan upaya menemukan keterkaitan anatara aktifitas pariwisata dan konsep pembangunan berkelanjutan Cronin (dalam Sharpley,2000:1) mengkonsepkan pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai pembanguan yang terfokus pada dua hal, keberlanjutan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi di satu sisi dan lainnya mempertimbangkan pariwisata sebagai elemen kebijakan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Stabler dan Goodall, dalam Sharpley, 2000:1) menyatakan pembangunan pariwisata berkelanjutan harus konsisten dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Aronsson (200:40) mencoba menyampaikan beberapa pokok pikiran tantang intepretasi pembangunan pariwisata berkelanjutan, yaitu :

1. Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus mampu mengatasi permasalahn sampah lingkungan serta memilislppki perspektif ekologis.

(6)

3. Pembangunan pariwisata berkelanjutan menempatkan daerah tujuan wisata sebagai penerima manfaat dari pariwisata, untuk mencapainya tidak harus dengan mengeksploitasi daerah setempat.

4. Pembangunan pariwisata berkelanjutan menekankan pada keberlanjutan budaya, dalam hal ini berkaitan dengan upaya-upaya membangun dan mempertahankan bangunan tradisional dan peninggalan budaya di daerah tujuan wisata.

Pembangunan pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism Development menurut Yaman dan Mohd (2004: 584) ditandai dengan 4 kondisi, yaitu :

1. Anggota masyarakat harus berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pembangunana pariwisata.

2. Pendidikan bagi tuan rumah, pelaku industri dan pengunjung/wisatawan.

3. Kualitas habitat kehidupan liar, penggunaan energi dan iklim mikro harus dimengerti dan didukung.

4. Investasi pada bentuk-bentuk transportasi alternative.

World Tourism and Travel Council (WTTC) bersama-sama dengan World Tourism Organization dan Earth Council menerjemahkan ke dalam program tindak bagi industri perjalanan dan pariwisata yang disebut Agenda 21 untuk Industri Perjalanan dan Pariwisata. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah: “Pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan dan wilayah yang didatangi wisatawan (destinasi wisata) pada saat ini, sekaligus melindungi dan meningkatkan kesempatan di masa depan. Pengertian tersebut mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sekaligus memelihara integritas kultural, berbagai proses ekologi yang esensial, keanekaragaman hayati dan berbagai sistem pendukung kehidupan.”

Produk- produk dari pariwisata berkelanjutan adalah produk yang dioperasikan secara harmonis dengan lingkungan, masyarakat dan budaya setempat sehingga mereka terus menerus menjadi penerima manfaat bukannya korban pembangunan pariwisata. Dalam dokumen tersebut pariwisata berkelanjutan memerlukan perubahan orientasi cara kerja yang fundamental dari dua pihak, yaitu:

(7)

Agenda 21 Sektor Pariwisata Indonesia tidak hanya menganggap pariwisata berkelanjutan sebagai tanggung jawab dua pelaku utama dalam pariwisata: pemerintah dan usaha pariwisata. Tetapi melihat seluruh pihak -pemerintah, usaha pariwisata, LSM dan masyarakat, wisatawan-yang terlibat dalam kepariwisataan mempunyai tanggung jawab dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan sehingga program tindak disusun untuk seluruh pelaku.

Sedangkan indikator yang dikembangkan pemerintah RI tentang pembangunan pariwisata berkelanjutan (Agenda 21 sektoral, 2000) adalah :

1. Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, bahwa strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan harus menempatkan pariwisata sebagai green industry(industri yang ramah lingkungan), yang menjadi tanggungjawab pemerintah, industri pariwisata, masyarakat dan wisatawan.

2. Peningkatan peran pemerintah daerah dalam pembangunan pariwisata.

3. Kemantaban/keberdayaan industri pariwisata yaitu mampu menciptakan produk pariwisata yang bisa bersaing secara internasional, dan mensejahterakan masyarakat di tempat tujuan wisata.

4. Kemitraan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata yang bertujuan menghapus/meminimalisir perbedaan tingkat kesejahteraan wisatawan dan masyarakat di daerah tujuan wisata untuk menghindari konflik dan dominasi satu sama lain. Hal ini juga didukung dengan memberi perhatian/pengembangan usaha skala kecil oleh masyarakat lokal. (Editor : Rafans Manado).

2.3 Hakekat Pariwisata Berkelanjutan

Swarbroke (1998) mengatakan bahwa pada hakekatnya pariwisata berkelanjutan harus terintegrasi pada tiga dimensi, yaitu:

 Dimensi lingkungan,  Dimensi ekonomi,dan  Dimensi social.

(8)

pariwisata merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antar unsure hayati yang dapat dibudidayakan dan nonhayati yang dapat dikelola untuk kegiatan pariwisata tanpa harus menyimpang dari tata alam yang ada (pencagaran).

Dalam konteks ekologi pariwisata menurut Darsoprayitno (2001) bahwa alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata dengan menerapkan asas pencagaran sebagai berikut:

1. Benefisasi, kegiatan kerja dalam meningkatkan manfaat tata lingkungan dengan teknologi tepat guna, sehingga yang semula tidak bernilai menguntungkan menjadi meningkat nilainya secara social, ekonomi dan budaya.

2. Optimalisasi, usaha mencapai manfaat seoptimal mungkin dengan mencegah kemungkinan terbuangnya salah satu unsure sumber daya alam dan sekaligus meningkatkan mutunya.

3. Alokasi, suatu usaha yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan dalam menetukan peringkat untuk mengusahakan suatu tata lingkungan sesuai dengan fungsinya tanpa menganggu atau merusak tata alamnya.

4. Reklamasi, memanfaatkan kembali sisa suatu kegiatan kerja yang sudah ditinggalkan untuk dimanfaatkan kembali bagi kesejahteraan hidup manusia.

5. Substitusi, suatu usaha mengganti atau mengubah tata lingkungan yang sudah menyusut kualitasnya dan kuantitasnya dengan sesuatu yang baru sebagai tiruannya dengan mengacu pada tata lingkungnnya.

6. Restorasi, mengembalikan fungsi dan kemampuan tata lingkungan alam atau budaya yang sudah rusak atau terbengkalai agar kembali bermanfaat nagi kesejahteraan hidup manusia.

7. Integrasi, pemanfaatan tata lingkungan secara terpadu hingga satu dengan yang lainnya saling menunjang, antara perilaku budaya manusia dengan unsur lingkungan baik bentukan alam maupun hasil binaannya.

8. Preservasi, suatu usaha mempertahankan atau memelihara runtunan alami yang ada sesuai dengan hokum alam yang berlaku hingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Salah satu asas dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional adalah asas manfaat, yang menyatakan bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional hendaknya memberikan manfaat sebesar- besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warganegara serta mengutamakan kelestarian nilai- nilai luhur budaya bangsa dan kelestarian fungsi lingkungan dalam rangka pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

(9)

1. Kelestraian lingkungannya,

2. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dikawasa tersebut, 3. Menjamin kepuasan pengunjung

4. Meningkatkan keterpaduan dan unit pembanunan masyarakat disekitar kawasan dan zone pengembangnnya.

2.4 Dampak Globalisasi Terhadap Pariwisata Berkelanjutan

Dampak Globalisasi terhadap pariwisata berkelanjutan terdiri atas poin poin sebagai berikut :

1. Dapat menciptakan kesempatan berusaha.Dengan datangnya wisatawan, perlu pelayanan untuk menyediakan kebutuhan (need), Keinginan (want), dan harapan (expectation) wisatawan yang terdiri berbagai kebangsaan dan tingkahlakunya.

2. Dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mempercepat pemerataan pendapatan masyarakat, sebagai akibat multiplier effect yang terjadi dari pengeluaran wisatawan yang relative cukup besar.

3. Dapat meningkatkan pendapatan nasional atau Gross Domestic Bruto (GDB).

4. Dapat mendorong peningkatan investasi dari sektor industry pariwisata dan sektor ekonomi lainnya.

5. Adanya dukungan teknologi pada saat sekarang ini yang memudahkan dalam memperkenalkan pariwisata kepada dunia lokal maupun internasional

(10)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pembangunan Pariwisata Keberlanjutan di Lihat dari Dimensi Pembangunan Keberlanjutan

1. Dimensi Lingkungan

Dalam pembangunan kawasan agropolitan di Batu ditinjau dari dimensi ekologi belum memberikan keberlanjutan dari atribut yang menjadi penilaian. Status keberlanjutan dimensi ekologi dipengaruhi oleh beberapa atribut yang menjadi dasar penilaian yaitu kepemilikan lahan, pencetakan lahan pertanian baru, pengelolaan limbah, pengolahan lahan, penggunaan saprodi dan sertifikasi.

 Sertifikasi, dimana masyarakat belum banyak menggunakan benih/ bibit tanaman yang bersertifikasi. Sehingga berdampak pada produktivitas tanaman yang dihasilkan, karena dengan menggunakan bibit yang sudah tersertifikasi akan meningkatkan hasil panen petani. Penggunaan jenis bibit/ benih bersertifikasi memudahkan pelacakan bila terjadi serangan hama maupun penyakit bisa segera dilokalisir dan dicari tahu penyebabnya. Rendahnya penggunaan bibit bersertifikasi dimasyarakat disebabkan karena tanaman yang diusahakan khususnya jenis komoditas buah dilakukan secara turun temurun seperti tanaman apel yang telah diusahakan secara bertahun – tahun.  Pengolahan lahan, dimensi ekologi menunjukkan pengolahan lahan pertanian

(11)

 Penggunaan saprodi, penggunaan saprodi di Kota Batu masih cenderung tergantung pada bahan – bahan kimia sintetik baik berupa pupuk maupun obat – obatan. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan yang telah terpola pada petani. Keinginan untuk mendapatkan hasil yang maksimal membuat petani tergantung menggunakan pupuk kimia sintetik, walaupun pada saat awal musim tanam tetap menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) yang menurut petani tidak cukup. Bila mengandalkan pupuk organik saja hasil yang diinginkan menjadi tidak maksimal. Padahal penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia sintetik secara terus menerus dapat menurunkan kandungan hara tanah. Selain itu penggunaan pestisida dapat mengakibatkan resiko kesehatan, menurunnya kepekaan hama, resurjensi hama, memicu terjadinya ledakan hama, terbunuhnya musuh alami hama, keracunan/ kematian hewan dan tanaman disekitarnya jika salah dalam penggunaannya (Djojosumarto, 2008).

(12)

mencukupi kebutuhan petani berdasarkan luasan lahan pertanian di Kecamatan Bumiaji.

 Melimpahnya sumber pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan dan sisa hasil pertanian memunculkan peluang usaha yang cukup menjanjikan. Pemanfaatan kotoran ternak dan sisa tanaman lainnya, bagi beberapa petani digunakan untuk mencukupi kebutuhan lahan pertaniannya sendiri.

 Pencetakan lahan pertanian baru, Tidak ada pencetakan lahan pertanian baru di Kecamatan Bumiaji karena pencetakan lahan pertanian di Kota Batu khususnya di kecamatan Bumiaji hampir tidak mungkin dilakukan. Luasan lahan pertanian yang dimiliki masyarakat adalah yang diusahakan selama ini dalam kegiatan pertanian. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka penambahan luasan areal tanam dilakukan secara intensifikasi, yaitu dengan melakukan penanaman komoditas buah, sayur dan bunga di polybag ataupun di areal pekarangan rumah. Beberapa komoditas yang diusahan petani dalam polybag seperti jenis tanaman stoberi, wortel dan andewi. Untuk melindungi lahan pertanian yang sudah ada diperlukan suatu upaya perlindungan terhadap ancaman terjadinya alih fungsi lahan produktif menjadi kawasan pemukiman.

(13)

salah satu indikator, karena berpengaruh terhadap keputusan masyarakat dalam menggunakan atau mengusahakan lahannya untuk kegiatan pertanian. 2. Dimensi Ekonomi

Pembangunan kawasan agropolitan di bidang ekonomi telah memberikan dampak yang cukup bagus terhadap perkembangan ekonomi di Kota Batu. Atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pengembangan kawasan agropolitan pada dimensi ekonomi yaitu keberadaan lembaga keuangan mikro, industri penunjang, kerjasama, bantuan/subsidi dari pemerintah, pasar, ketersediaan saprodi, kontribusi terhadap PDRB dan tenaga kerja di bidang pertanian.

 Keberadaan lembaga keuangan mikro, Lembaga keuangan mikro di Kecamatan Bumiaji saat ini berupa koperasi yaitu sebanyak 32 koperasi yang tersebar di semua desa, keberadaan koperasi terbanyak di Desa Punten yaitu sebanyak 11 koperasi. Koperasi yang berjalan saat ini merupakan koperasi yang melayani masyarakat secara umum. Untuk permasalahan penyediaan permodalan secara khusus bagi petani/kelompok tani belum terwadahi. Selama ini petani mendapatkan akses modal dengan meminjam kepada bank-bank umum dengan mengagunkan sertifikat tanahnya pada awal musim tanam. Pinjaman yang didapatkan secara nominal jauh lebih besar dibandingkan dengan pinjaman di koperasi. Koperasi memberikan pinjaman dengaan nilai yang relatif lebih kecil, karena koperasi lebih ke pelayanan kredit konsumtif.

(14)

dapat di Kota Batu, yaitu di Desa Tlekung Kecamatan Batu. Dan akses pengrajin terhadap toko maupun kios oleh – oleh yang ada di Kota Batu.  Kerjasama, petani menjalin kerjasama dengan perusahaan atau supermarket

sebagai penyuplai produk, diantaranya dengan PT. Indofood, PT. Siantar Top, untuk komoditas kentang, tomat dan cabe serta dengan Giant untuk komoditas paprika, wortel, andewi dan beberapa komoditas sayuran lainnya. Petani juga menjalin kerjasama dengan pihak asing (Jepang) untuk komoditas bunga (Sandersonia) dan ubi jalar. Untuk komoditas bunga potong, petani di Kota Batu juga menjalin kerjasama dengan para pedagang bunga di kota – kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Bali. Peluang kerjasama dengan pihak – pihak lain terus ditingkatkan, daya tarik Batu sebagai kota wisata juga membawa dampak baik bagi petani. Wisatawan yang datang ke Kota Batu tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alamnya saja, tapi beberapa juga tertarik untuk bekerjasama memasarkan komoditas pertanian. Jalinan kerjasama ini yang tetap dijaga oleh petani dengan tetap konsisten memenuhi kesepakatan – kesepakatan yang telah disusun bersama. Tidak jarang para wisatawan yang datang langsung memesan produk pertanian dalam jumlah yang banyak untuk kembali diperjualbelikan di daerah asal wisatawan sendiri.

(15)

produktivitas hasil pertaniannya, karena hal tersebut akan meningkatkan keberlanjutan pengembangan kawasan dimensi social

 Pasar, pasar cukup memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi. Kota Batu dikenal sebagai salah satu sentra komoditas hortikultura di Propinsi Jawa Timur, sehingga sudah mempunyai pasar tersendiri. Pedagang biasanya langsung mendatangi petani untuk membeli hasil produksinya. Pasar yang ada di Kota Batu saat ini dan satu – satunya yaitu Pasar Batu yang berkedudukan di Jalan Dewi Sartika Kecamatan Batu Kota Batu. Petani Kota Batu biasanya menjual hasil panen ke Pasar Batu, tetapi bagi petani – petani yang berada jauh dari pasar menjual hasil panennya ke pedagang langsung di tempat dilokasi pertanian sehingga petani tidak mengeluarkan biaya untuk kegiatan distribusi, semua ditanggung oleh pembeli.

 Ketersediaan saprodi, Ketersediaaan saprodi di Kota Batu sampai saat ini masih bisa tercukupi oleh kios dan toko saprotan yang ada di Kota Batu. Bahkan dalam mekanisme di lapangan, saprodi banyak diusahakan dalam kelompok – kelompok tani/Gapoktan. Petani sesuai dengan kebutuhan yang telah tersusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) telah menuliskan kebutuhan saprodi dalam 1 tahun/ sekali musim tanam sesuai kesepakatan dalam kelompok.

 Kontribusi komoditas pertanian terhadap PDRB sangat berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi. Kota Batu merupakan daerah penghasil komoditas pertanian, namun nilai yang disumbangkan dalam penyusunan angka PDRB lebih kecil dibandingkan sektor perdagangan, hotel dan restoran.

(16)

kependudukan yang dihimpun oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pada tahun 2011, dimana 60, 7% penduduk kecamatan Bumiaji bekerja disektor pertanian. Penduduk yang bekerja sebagai petani, peternak sebesar 48, 04 % dan buruh tani/ternak sebesar 12,66%. Distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian.

3. Dimensi Sosial

Dimensi sosial berdasarkan statusnya berada pada kategori kurang berlanjutan. Hal tersebut dimungkinkan karena beberapa atribut yang diperkirakan sensitif memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pengembangan kawasan agropolitan pada dimensi sosial yaitu keberadaan pusat pelatihan dan konsultasi milik petani, kelembagaan, akses terhadap informasi, konflik, keikutsertaan anggota keluarga dalam usaha, kerjasama dalam kelompok, tingkat pengetahuan mengenai perbaikan lingkungan, dan tingkat pendidikan.

 Pusat pelatihan dan konsultasi, keberadaan pusat pelatihan dan konsultasi milik petani sedikit berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial. Saat ini terdapat dua pusat pelatihan yang dimiliki oleh kelompok tani yaitu P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya) Hortikutura di Desa Tulungrejo yang saat ini mengalami kevakuman, dan P4S Satwa Jaya yang terdapat di Desa Bumiaji khusus mengenai kelinci. Minimnya pusat pelatihan dan konsultasi milik petani yang ada di Kecamatan Bumiaji ini disebabkan karena masyarakat petani merasa sudah tercukupi dengan adanya kegiatan – kegiatan Sekolah Lapang yang diselenggarakan oleh Dinas terkait. Selain itu pada Gapoktan telah dibentuk divisi pendidikan dan pelatihan, tetapi saat ini belum berjalan.

(17)

bahwa berkelompok tidak mempengaruhi hasil pertanian maupun pendapatan mereka, selain itu masyarakat biasanya tidak mau terlalu terbelenggu dalam aturan dan biasanya mereka tidak punya waktu untuk bergabung dan berkumpul karena kesibukan pribadi mereka.

 Akses terhadap informasi, akses terhadap informasi cukup berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan. Akses masyarakat terhadap informasi di Kota Batu dirasa kurang, bagi sebagian masyarakat khususnya petani dengan komoditas hortikultura lebih aktif dalam mendapatkan informasi secara langsung dengan pergi ke sumber – sumber informan yang dirasa berkompeten pada bidang yang dimaksud. Petani komoditas hortikultura lebih berani memodifikasi maupun bereksperimen dengan pupuk/nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Hal ini berbanding terbalik dengan petani yang yang mengusahakan pertanian tanaman pangan yang lebih pasif dalam mengakses informasi dan biasanya mendapatkan informasi dari penyuluh pertanian saja.

 Frekuensi terjadinya konflik, sangat berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial. Konflik hampir tidak pernah terjadi di Kecamatan Bumiaji, warga masyarakat biasanya menyelesaikan perselisihan secara kekeluargaan.

(18)

sehingga kadang para petani apel mendatangkan buruh tani dari desa – desa lain.

 Kerjasama, kerjasama dalam kelompok cukup memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan dimensi social, Kerjasama dalam kelompok berkaitan dengan usaha pertanian masih dilakukan dalam lingkup internal kelompok maupun antar kelompok dalam Gapoktan saja, belum dilakukan secara lintas Gapoktan.

 Tingkat pengetahuan mengenai perbaikan lingkungan, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai perbaikan lingkungan sedikit berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial. Rendahnya pengetahuan mengenai perbaikan lingkungan disebabkan karena masyarakat menganggap hal tersebut bukan kewajiban mereka secara mutlak sebagai individu tetapi kewajiban bersama.

 Pendidikan, tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Bumiaji berdasakan analisis leverage cukup berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial. Berdasarkan tingkat pendidikannya, lebih dari 75% penduduk Kecamatan Bumiaji belum lulus pendidikan dasar 9 tahun. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Bumiaji dilatarbelakangi di tahun 1980-an pekerja1980-an pet1980-ani apel b1980-anyak ditekuni oleh masyarakat selain bert1980-anam padi atau sebagai petani sawah, sekalipun ada juga yang bertanam sayur-sayuran dan bunga tetapi sifatnya hanya untuk sambilan.

3.2 Pengembangan Agrowisata Dengan Pendekatan Community Based Tourism

Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, pendapatan petani dapat meningkat bersamaan dengan upaya melestarikan sumberdaya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya.

(19)

Agrowisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya.

Strategi pemberdayaan masyarakat dalam konsep Community Based Tourism dalam mencapai tujuan pemberdayaan, berbagai upaya dapat dilakukan melalui berbagai macam strategi. Salah satu strategi yang memungkinkan dalam pemberdayaan masyarakat adalah pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang secara konseptual memiliki ciri-ciri unik serta sejumlah karakter yang oleh Nasikun dalam hand out mata kuliah Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort and Leisure Gumelar S. Sastrayuda (2010, h.3) dikemukakan sebagai berikut:

 pariwisata berbasis masyarakat menemukan rasionalitasnya dalam properti dan ciri-ciri unik dan karakter yang lebih unik di organisasi dalam skala yang kecil, jenis pariwisata ini pada dasarnya merupakan, secara ekologis aman, dan tidak banyak menimbulkan dampak negatif seperti yang dihasilkan oleh jenis pariwisata konvensional;

 pariwisata berbasis komunitas memiliki peluang lebih mampu mengembangkan objek-objek dan atraksi-atraksi wisata berskala kecil dan oleh karena itu dapat dikelola oleh komunitas-komunitas dan pengusaha-pengusaha lokal; dan

 berkaitan sangat erat dan sebagai konsekuensi dari keduanya lebih dari pariwisata konvensional, di mana komunitas lokal melibatkan diri dalam menikmati keuntungan perkembangan pariwisata, dan oleh karena itu lebih memberdayakan masyarakat.

1) Program-Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengembangkan Agrowisata

(20)

Survei Analisis Rencana

dalamnya, sehingga potensi wisata yang dimiliki bisa mensejahterakan masyarakat Kota Batu karena konsep pengembangan pariwisata berbasis masyarakat merupakan langkah efektif untuk menjadikan sektor pariwisata memberikan manfaat optimal kepada masyarakat.

2) Keterlibatan Masyarakat di dalam Proses Perencanaan Pengembangan Agrowisata di Kota Batu

Berdasarkan gambar di atas partisipasi masyarakat Kota Batu dalam perencanaan adalah sebagai berikut ini:

1. Survai, masyarakat diikutsertakan dalam praktek lapangan dengan memberikan pembelajaran terhadap fakta yang terjadi di suatu daerah. Dengan melihat secara langsung problem yang ada, masyarakat telah memiliki gambaran dalam membuat suatu perencanaan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

2. Analisis, di sini masyarakat menganalisis suatu masalah yang terjadi dengan berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada masyarakat melalui pokdarwis. 3. Rencana, berdasarkan analisis yang dilakukan oleh masyarakat, maka kemudian

masyarakat berkoordinasi dengan pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata dalam membuat suatu perencanaan pengembangan agrowisata.

3) Mendorong tumbuhnya partnership (kemitraan)

Demi terciptanya otonomi daerah, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan khususnya Undang-undang No.32 Tahun 2004. Maka Pemerintah Kota Batu berhak melakukan kebijakan sendiri dengan melakukan program-program yang sesuai dengan kondisi dan potensi unggulan daerah, yaitu melalui sektor pariwisata yang berbasis pertanian. Program-program tersebut antara lain adalah dengan melakukan kerjasama/kemitraan dengan institusi swasta yang berkomitmen penuh terhadap kemajuan sektor pariwisata berbasi pertanian, yaitu melakukan partnership dengan Kusuma Agrowisata.

(21)

(a) Pendukung

- Letak Geografis :

Kota Batu merupakan salah satu bagian dari wilayah Jawa Timur yang secara geografis Kota Batu terletak pada posisi antara: 7,44deg 55,11” s/d 8,26deg 35,45” Lintang Selatan dan 122,17deg 10,90” s/d 122,57deg 00,00” Bujur Timur. Kota dengan luas 202,800 Km2 atau sama dengan 20,280 Ha. Dilihat dari letak geografisnya Kota Batu merupakan daerah yang mempunyai tanah yang sangat subur. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan dan perbukitan. Melihat potensi yang dimiliki oleh Kota Batu yang berada di daerah pegunungan ini memiliki iklim yang cenderung dingin. Hal ini yang membuat daya tarik wisata di Kota Batu semakin bertambah. Sebagian wisatawan cenderung ingin menikmati udara dingin yang ada di Kota Batu.

- Kondisi Iklim :

Kota Batu yang berada di daerah pegunungan ini memiliki iklim yang cenderung dingin. Hal ini yang membuat daya tarik wisata di Kota Batu semakin bertambah. Sebagian wisatawan cenderung ingin menikmati udara dingin yang ada di Kota Batu. Oleh karena itu, iklim di Kota Batu merupakan faktor pendukung dalam pengembangan agrowisata.

- Transportasi :

Transportasi angkutan umum yang dapat digunakan untuk akses ke Kota Batu sudah menjangkau ke daerah-daerah wisata ada yang berupa mikrolet, bis, taxi, ojek dan andong.

(b) Penghambat

- Rendahnya kemampuan dan keterbatasan wawasan masyarakat dalam hal kepariwisataan :

(22)

2) Faktor Eksternal (a) Pendukung

- Keramahan penduduk :

Menurut Pitana (2009, h.72) sumber daya manusia diakui sebagai salah satu komponen vital dalam pembangunan pariwisata. Hampir setiap tahap dan elemen pariwisata memerlukan sumber daya manusia untuk menggerakkannya. Singkatnya, faktor sumber daya manusia sangat menentukan eksistensi pariwisata. Keramahtamahan penduduk dan keamanan diwujudkan dalam konsep sadar wisata dengan penerapan SAPTA PESONA.

- Keamanan :

Di dalam SAPTA PESONA juga terdapat unsur keamanan. Menciptakan lingkungan yang aman bagi wisatawan dan berlangsungnya kegiatan kepariwisataan, sehingga wisatawan tidak merasa cemas dan dapat menikmati kunjungannya ke Kota Batu. Bentuk aksi yang dilakukan oleh penduduk berkaitan dengan unsur keamanan.

(b) Penghambat

(23)

Para pelaksana harus fleksibel dan mau belajar dari pengalaman serta mencoba beberapa metode dalam pemberdayaan masyarakat.

- Lemahnya kekuatan hukum:

(24)

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang sifatnya komplek, mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu pembangunan pariwisata harus ditinjau dari aspek kehidupan. Pembangunan sektor pariwisata diarahkan menjadi sektor andalan yang mampu menjadi peluang kerja, pendapatan asli daerah dan penerimaan devisa negara.

Pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan aspek pariwisata di daerah batu dimana pihak PemKot memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan sektor pariwisatanya dengan dibantu oleh Dinas Kepariwisataan Kota Batu. Diharapkan dengan adanya konsep ini masyarakat dapat menjadi lebih sejahtera.

Pemerintah Kota Batu juga sudah melakukan pembinaan pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kretifitas masyarakat agar dapat menjadi lebih mandiri dan berkembang. Pembangunan-pembangunan yang dilakukan PemKot Batu juga sudah mulai dilakukan agar mendongkrak popularitas kawasan wisata.

Kerjasama antar dinas – dinas terkait juga harus mulai dibangun agar dapat selaras dengan pembangunan yang akan dilakukan oleh PemKot Batu. Bukan hanya kerjasama antara masyarakat dengan Pemerintah khususnya DPRD namun juga DPRD dengan dinas dinas yang terlibat dalam pembangunan.

4.2 Saran

(25)

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Penentu Sektor

Penyelesaian sengketa konsumen dengan tidak hanya satu konsumen yang dirugikan, dapat ditempuh melalui gugatan perwakilan kelompok (class action) sesuai dengan

Bagi organisasi khususnya Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo, penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan mengenai langkah-langkah apa yang

Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Perubahan nutrisi

Berdasarkan t-hitung hasilnya adalah 5,234 dan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000, karena nilai signifikansi < 0,05 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan

Apabila dalam waktu kurang dari 6 bulan melaporkan diri kepada pimpinan instansinya, maka ia dapat ditugaskan kembali jika ada alasan-alasan yang dapat diterima atau

Dalam temuan penelitian tentang dampak penerapan program EDS bagi pengembangan SMA Negeri 1 Gresik antara lain mempermudah dalam penetapan RKS/RKAS, memudahkan untuk

Pelaksanaan tindakan dan observasi ini merupakan deskripsi dari kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran serta deskripsi observasi kegiatan guru dan