• Tidak ada hasil yang ditemukan

CRITICAL REVIEW EKONOMI KOTA ANALISIS FA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CRITICAL REVIEW EKONOMI KOTA ANALISIS FA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

1

1.1 Latar Belakang

Tanah adalah salah satu faktor produksi yang tidak bisa diproduksi oleh manusia.

Tanah merupakan sumberdaya yang menyediakan ruangan (space) yang dapat

mendukung semua kebutuhan makhluk hidup. Pada dasarnya ruangan yang disediakan

sangat terbatas, sementara itu kebutuhan akan tanah mempunyai kecenderungan untuk

terus meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk kebutuhan perumahan, pertanian,

industri dan lain sebagainya. Kebutuhan akan tanah yang meningkat dari tahun ke

tahun tersebut akan menyebabkan nilai tanah menjadi tinggi. Nilai tanah merupakan

perwujudan dari kemampuan tanah sehubungan dengan pemanfaatan dan penggunaan

tanah, dimana penentuan nilai tanahnya tidak terlepas dari nilai keseluruhan tanah

dimana tanah itu berlokasi (Sujarto, 1986). Sebidang tanah akan memiliki nilai atau

harga yang tinggi bila terletak pada lokasi yang strategis (aktifitas ekonomi yang tinggi,

lokasi mudah dijangkau dan tersedia infrastruktur yang lengkap. Harga tanah bergerak

turun seiring jarak dari pusat kota (produktif) ke arah pedesaan (konsumtif). Pada

daerah sub-sub pusat kota, harga tanah tersebut naik kemudian turun mengikuti jarak

dan tingkat aktifitas diatasnya (Cholis 1995, dalam Luky 1997).

Nilai tanah merupakan salah satu faktor dalam penetuan besarnya nilai Pajak

Bumi dan Bangunan di suatu kota. Lokasi tanah yang dekat dengan pusat kota dan

kawasan industri atau CBD menyebabkan pajak bumi dan/ atau bangunan di lokasi

tersebut menjadi tinggi. Pajak merupakan iuran kepada negara yang dapat dipaksakan

yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan

tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan gunanya untuk

ungmembiayai pengeluaran-pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas

negara untuk menyelenggarakan pemerintahan (Adriani, 1982). Pengenaan pajak tanah

dapat digunakan untuk mendorong utilisasi faktor-faktor produksi secara lebih intensif.

Besarnya nilai pajak akan tanah tergantung dimana lokasi tanah tersebut. Tanah

dengan lokasi yang strategis dengan sarana dan prasarana yang lengkap menjadi salah

satu penyebab tanah tersebut memiliki nilai tanah yang tinggi sehingga pajak akan

tanah tersebut juga tinggi.

Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi nilai tanah menjadi tinggi di Kota Semarang. Dengan mengetahui

nilai-nilai tanah yang terdapat di Kota Semarang, hal tersebut akan menjadi informasi dalam

penilaian Nilai Jual Obyek pajak (NJOP) Pajak Bumi dan Bangunan bagi pihak yang

(3)

2

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor

yang mempengaruhi nilai tanah sebagai dasar penilaian Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP)

PBB di Kota Semarang. Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan informasi dalam

penilaian Pajak Bumi dan bangunan bagi pihak yang berkepentingan. Variabel yang

pengaruhnya signifikan terhadap penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dapat

digunakan sebagai dasar untuk melihat perubahan variabel-variabel sehingga

keputusan yang berkenaan dengan Pajak Bumi dan Bangunan seperti penentuan nilai

obyek pajak, dan sistem pemungutan pajak tetap searah.

1.3 Tinjauan Literatur

1.3.1 Pengertian Nilai Tanah

Nilai tanah mempunyai definisi atau pengertian bermacam-macam tergantung

pada konteks dan tujuannya serta sudut pandangnya. Nilai tanah secara definisi

diartikan sebagai kekuatan nilai dari tanah untuk dipertukarkan dengan barang lain.

Sebagai contoh tanah yang mempunyai produktivitas rendah seperti tanah pada rumput

relatif rendah nilainya karena keterbatasan dalam penggunaanya. Sedangkan nilai

pasar tanah didefinisikan sebagai harga (yang diukur dalam satuan uang) yang

dikehendaki oleh penjual dan pembeli (Shenkel, 1988). Nilai tanah dalam konteks pasar

properti adalah nilai pasar wajar yaitu nilai yang ditentukan atau ditetapkan oleh pembeli

yang ingin membeli sesuatu dan penjual yang ingin menjual sesuatu berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan kedua belah pihak dalam kondisi wajar tanpa ada

tekanan dari pihak luar pada proses transaksi jual beli sehingga terjadi kemufakatan.

Pembeli dan penjual mempunyai tenggang waktu yang cukup atas properti yang

diperjualbelikan dan bertindak untuk kepentingan sendiri. Nilai pasar pada dasarnya

mencerminkan harga yang terbaik atas suatu properti pada suatu waktu, tempat dan

keadaan atau kondisi pasar tertentu. Hal ini sejalan dengan pengertian nilai menurut

Eckert yang menyebutkan bahwa nilai merupakan suatu waktu yang menggambarkan

harga atau nilai uang dari properti, barang atau jasa bagi pembeli dan penjual. Dari

beberapa pengertian dapat disimpulkan bahwa nilai tanah adalah ukuran kemampuan

tanah untuk menghasilkan atau memproduksi sesuatu secara langsung memberikan

keuntungan ekonomis. Dalam konteks pasar properti nilai tanah sama dengan harga

pasar tanah tersebut misalnya harga pasar tanah tinggi maka nilai tanahnya juga tinggi

(4)

3

1.3.2 Pengertian Pajak

Menurut Rocmat Soemitro, pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa

imbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk

membayar pengeluaran umum. Menurut Musgrave bahwa pajak dan

pungutan-pungutan dikenakan pada sektor swasta tanpa adanya tanggung jawab dari pemerintah

kepada pihak yang membayar.

Prinsip Adam Smith

Prinsip pokok pungutan pajak yang dikemukakan oleh Adam Smith dalam buku “An

Inquiri into the Nature and Causes of the Wealth of Nations” yang dinamakan Smith’s

Canons adalah sebagai berikut (Suparmoko 1987: 94-97)

1. Prinsip Kesamaan (equity)

Artinya bahwa beban pajak harus sesuai dengan kemampuan relatif dari setiap

wajib pajak. Perbedaan dalam tingkat penghasilan harus digunakan sebagai dasar

dalam distribusi beban pajak tersebut, sehingga bukan beban pajak dalam arti uang

yang penting, tetapi beban riil dalam arti kepuasan yang hilang.

2. Prinsip Kepastian (certainty)

Bahwa pajak hendaknya tegas, jelas dan pasti bagi setiap wajib pajak, sehingga

mudah dimengerti oleh mereka dan akan memudahkan administrasi pemerintah

sendiri.

3. Prinsip Kecocokan/Kelayakan (convenience)

Pajak jangan sampai terlalu menekan si wajib pajak, sehingga wajib pajak akan

suka dan senang hati melakukan pembayaran pajak kepada

4. Prinsip Ekonomi (economy) Pajak hendaknya menimbulkan kerugian yang minimal,

artinya jangan sampai biaya pemungutannya lebih besar daripada jumlah

penerimaan pajaknya

pemerintah.

1.4 Metode

Penelitian ini meneliti obyek PBB di Kota Semarang dengan menggunakan data

primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara dan kuesioner, sedangkan

untuk data sekundernya diperoleh dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan,

Kantor Pertanahan Nasional Kota Semarang dan data pendukung penelitian yang

diambil dan diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.

(5)

4

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode

purposive sampling, yaitu populasi yang dijadikan sampel penelitian adalah populasi

yang memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai tujuan penelitian dan apa yang harus

diwakili tergantung pada penilaian atau pertimbangan dari peneliti.

Teknik Analisis

Pendekatan yang digunakan dalam mengestimasi nilai tanah dalam penelitian ini

adalah Pendekatan Harga Kenikmatan (hedomic price). Dalam mengestimasi hedonic

price diperlukan beberapa variabel lingkungan, aksesibilitas, dan variabel properti.

Teknik analisis yang digunakan dengan menggunakan salah satu metode kuadrat

terkecil biasa untuk mencari nilai tanah (rupiah) dan diuji dengan persamaan regresi

berganda. Kemudian penelitian ini juga dilakukan dengan uji asumsi klasik untuk

melihat kemungkinan-kemungkinan asumsi-asumsi klasik. Pelanggaran asumsi klasik

tersebut meliputi ada tidaknya auto-korelasi, heteroskedastisitas dan multikolinearitas.

1.5 Review

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting

artinya bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional. Penerimaan dari

pajak yang memberikan kontribusi cukup besar bagi penerimaan daerah adalah Pajak

Bumi Bangunan (PBB). Obyek PBB yang berupa bumi dan/ atau bangunan merupakan

obyek pajak yang relatif stabil baik dari jumlahnya maupun nilainya. Obyek PBB tidak

dapat disembunyikan karena jumlah atau luas bumi dan bangunan tidak pernah

berkurang, bahkan jumlah bangunan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan

ekonomi. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 dan diperbaharui

dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan,

Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan terus berupaya melakukan

penyempurnaan-penyempurnaan khususnya dalam bidang teknis penentuan Nilai Jual Obyek Pajak

(NJOP). Penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pajak atas harga tanah. Dalam

jangka panjang, permintaan akan tanah senantia bertambah karena berbagai faktor,

misalnya pertambahan jumlah penduduk, kenaikan penghasilan masyarakat, dan

perubahan selera. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah sebagai dasar

penilaian Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) PBB di Kota Semarang. Nilai tanah

merupakan kekuatan nilai dari tanah untuk dipertukarkan dengan barang lain.

Sedangkan nilai pasar tanah didefinisikan sebagai harga (yang diukur dalam satuan

uang) yang dikehendaki oleh penjual dan pembeli. Nilai atas sebidang tanah

(6)

5

tanah tersebut. Keuntungan-keuntungan tersebut berkaitan dengan pengaruh

lingkungan yang dapat dibedakan sebagai faktor manusia dan non manusia. Faktor

manusia berkenaan dengan perbuatan manusia untuk mempertinggi nilai tanah seperti

mendirikan bangunan. Faktor non-manusia berkenaan dengan eksternalitas yang

diterima oleh tanah tersebut. Jika eksternalitas bersifat positif, seperti dekat dengan

pusat perekonomian, bebas banjir, kepadatan penduduk, dan adanya sarana jalan,

maka tanah akan bernilai tinggi jika dibandingkan dengan tanah yang tidak menerima

eksternalitas, meskipun luas dan bentuk tanah itu sama. Jika tanah menerima

eksternalitas yang bersifat negatif, seperti dekat dengan sampah, jauh dari pusat

kota/perekonomian, tidak bebas banjir, maka tanah akan bernilai rendah. Nilai pasar

pada dasarnya mencerminkan harga terbaik atas suatu properti pada suatu waktu,

tempat dan keadaan atau kondisi pasar tertentu. Nilai tanah sendiri merupakan ukuran

kemampuan tanah untuk menghasilkan atau memproduksi sesuatu secara langsung

memberikan keuntungan ekonomis. Dalam konteks pasar properti nilai tanah sama

dengan harga pasar tanah tersebut misalnya harga pasar tanah tinggi maka nilai

tanahnya juga tinggi demikian pula sebaliknya.

Dalam teori pola nilai eknomis lahan kota, nilai eknomis lahan akan semakin

tinggi jika mendekati kawasan pusat kota. Karena pada umumnya semakin mendekati

kawasan pusat kota akan semakin tinggi tingkat kemudahan prasarana dan sarananya,

sehingga semakin strategis dan produktif nilai lahan tersebut. Sebaliknya nilai dan

harga lahan akan semakin rendah tingkatannya jika lokasinya semakin menuju ke

bagian luar kota. Hal ini terjadi karena segala kemudahan relatif semakin berkurang

dengan lokasi semakin mengarah ke bagian pinggiran kota/luar kota, sekalipun dari segi

kemampuan kualitas lahan semakin tinggi. Dengan upaya-upaya peningkatan

kemudahan (aksessibilitas) seperti pembangunan jalan atau prasarana dan sara lainnya,

maka harga lahan tersebut semakin naik.

Penelitian analisis nilai tanah di Kota Semarang ini dilakukan di enam

kecamatan. Dari enam kecamatan tersebut dipilih beberapa kelurahan yang

pemilihannya dibedakan menjadi dua kategori yaitu kelurahan yang terletak jalan

protokol/besar dan kelurahan bukan terletak di jalan protokol (diperkampungan atau

gang) dengan pertimbangan untuk memperoleh keseimbangan dalam penelitian. Teknik

analisis yang digunakan dengan menggunakan pendekan hedonic price dimana dalam

mengestimasi hedonic price diperlukan beberapa variabel variabel lingkungan,

(7)

6

pengembangan dari hedonic price dengan menggunakan menggunakan salah satu

metode kuadrat terkecil biasa, jika diterapkan akan diperoleh sebagai berikut: LnNT = βo + β1 lnKP + β2 lnJR + β3 lnLJ + β4D4 + β5D5 + β6D6 +ei

Dimana: LnNT = Nilai Tanah (rupiah), LnKP = Kepadatan penduduk (orang), LnJR =

Jarak tanah ke pusat kota (km), LnLJ = Lebar jalan (meter), D4 = variabel dummy

kondisi jalan, D5 = Variabel dummy ketersediaan sarana transportasi angkutan umum

bus/angkot, D6 = Variabel dummy lingkungan bebas banjir, dan ei = Nilai variabel

gangguan.

Hasil analisis berupa uji asumsi klasik untuk melihat kemungkinan pelanggaran

asumsi-asumsi klasik yang meliputi ada tidaknya auto-korelasi, heteroskedastisitas dan

multikolinearitas. Untuk uji multikolinearitas dapat disimpulkan bahwa tidak ada

multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi. Uji Heterokedastisitas

menunjukkan bahwa model regresi tidak terdapat heterokedastisitas. Kemudian untuk

uji autokorelasi didapatkan hasil bahwa variabel yang dimasukkan dalam model ini

sesuai dengan hasil regresinya. Hasil dari tabel perhitungan menunjukkan adanya tanda

positif pada variabel kepadatan penduduk di Kota Semarang sebesar 0,209% yang

berarti bahwa kepadatan penduduk menyebabkan terbatasnya ruang atau lokasi tanah

untuk permukiman manusia dan kepentingan lainnya, sehingga kepadatan penduduk

akan menambah persaingan untuk memiliki sebidang tanah. Untuk variabel lebar jalan

yang bernilai positif yaitu sebesar 0,402% yang mempunyai arti bahwa semakin lebar

jalan didepan suatu properti, tanah akan semakin dihargai atau dinilai dengan tinggi. Hal

ini memungkinkan karena lebar jalan didepan suatu properti tanah di Kota Semarang

menjadikan lokasi yang sangat strategis dan memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi

dibandingkan dengan tanah yang berlokasi di jalan kecil dan gang. Kedekatan dengan

pusat kota yang memiliki tanda yang berlawanan memberikan arti bahwa semakin dekat

lokasi tanah dengan pusat kota akan semakin tinggi nilainya. Variabel ketersediaan

sarana transportasi positif yaitu 0,208%, ini dikarenakan berkaitan dengan kemudahan

dalam melakukan aktivitas atau mobilitas, sehingga keberadaan transportasi

menyebabkan nilai tanah menjadi berharga atau bernilai. Terakhir dari uji autokorelasi

adalah variabel lingkungan bebas banjir berpengaruh positif terhadap lokasi tanah yaotu

0,212%, hal ini berarti tanah yang lingkungannya bebas banjir tentu lebih dihargai

(8)

7

1.6 Critical Review

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No 1, Juni 2004 Hal: 65-78 yang berjudul

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tanah Sebagai Dasar Penilaian Nilai

Jual Obyek Pajak (NJOP) PBB di Kota Semarang yang ditulis oleh Adrian Sutawija ini

memiliki beberapa hal yang perlu dikritisi. Jurnal tersebut menggunakan metode

pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, yaitu populasi yang dijadikan

sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai tujuan

penelitian dan apa yang harus diwakili tergantung pada penilaian atau pertimbangan

dari peneliti. Dalam metode ini kemudian dijelaskan tahap pengambilan sampelnya yaitu

menetapkan area kelurahan untuk dijadikan lokasi penelitian, kelurahan yang dipilih

yang terletak di jalan protokol dan yang bukan jalan protokol. Dalam jurnal penelitian

yang dilakukan adalah untuk mengetahui nilai tanah pada kawasan-kawasan tersebut

yang telah ditentukan. Namun untuk lokasi mana saja yang akan dijadikan wilayah

penelitian tidak dijelaskan secara detail. Penelitian ini tidak menjelaskan bagaimana

kondisi eksisting lahan di Kota Semarang seperti dimana saja kawasan CBD di kota ini

yang memiliki nilai tanah yang tinggi dan bagaimana keadaan lahan untuk penelitian.

Populasi untuk penelitian ini juga tidak disebutkan. Jika dibandingkan dengan jurnal

Tata Kota dan Daerah Volume 1, Nomor 2, Juli yang jua membahas mengenai nilai

tanah terhadap penetapan nilai NJOP, jurnal ini membahas secara rinci apa populasi

dalam penelitian ini dan jumlah populasinya yang ditulis dalam bentuk jumlah kapling

lahan dengan rincian populasi kapling tiap kecamatan. Di dalam jurnal ini hanya

menjelaskan bahwa untuk mengetahui nilai tanah kegiatan penelitian akan dilakukan di

enam kecamatan di Kota Semarang. Peneliti tidak menyebutkan nama-nama

kecamatan tersebut dan nama-nama kelurahan yang akan dijadikan sampel dalam

penelitian.

Teknik analisis untuk mengetahui nilai tanah dalam jurnal ini menggunakan

teknik analisis hedonic price yaitu metode penelitian dengan menggunakan pendekatan

data pasar. Pendekatan data pasar ini memiliki kelemahan yaitu kemungkinan terdapat

kesalahan (tidak konsisten) dalam menerapkan presentase (atau jumlah rupiah) pada

saat melakukan penyesuaian. Kesalahan (tidak konsisten) dalam menentukan

penyesuaian data pembanding dalam penerapan metode pendekatan data pasar pada

akhirnya akan mempengaruhi kualitas nilain tanah yang dihasilkan. Untuk mengurangi

adnaya kesalahan serta tidak konsisten dalam data pembanding tersebut, perlu

dilakukan pemodelan pemodelan regresi yang dapat menghitung nilai tanah (variabel

(9)

8

faktor pembentuk nilai tanah (variabel bebas). Jurnal ini sudah menggunakan

pemodelan regresi berganda dengan variabel terikat yaitu LnNT = Nilai Tanah (rupiah)

dan variabel bebas berupa LnKP = Kepadatan penduduk (orang); LnJR = Jarak tanah

ke pusat kota (km); LnLJ = Lebar Jalan (meter); D4 = Variabel dummy kondisi jalan

(Aspal /tidak) 1 jika ada, 0 jika tidak; D5 = Variabel dummy ketersediaan sarana

transportasi angkutan umum bus/angkot (ada/tidak) 1 jika ada, 0 jika tida; D6 = Variabel

dummy lingkungan bebas banjir 1 jika bebas banjir, 0 jika banjir. Pemodelan regresi

tersebut dihitung dengan menggunakan SPSS atau minitab, dalam hal ini peneliti tidak

menjelaskan software apa yang digunakan untuk penelitian ini. Berikut adalah hasil uji

regresi yang terdapat didalam jurnal.

Tabel 1. Hasil Regresi

Sumber: Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No 1, Juni 2004 Hal: 65-78

Tabel hasil regresi berganda tersebut menjelaskan adanya pengaruh variabel terikat

yaitu nilai tanah (LnNT) terhadap variabel-variabel bebasnya. Adanya pengaruh tersebut

ditunjukkan dengan hasil koefisien regresi. Untuk koefisien regresi bernilai positif, mislanya

diambil contoh variabel D6 yaitu variabel bebas banjir. Koefisien regresi bernilai postif sebesar

0,212% menjelaskan bahwa variabel lingkungan bebas banjir berpengaruh positif terhadap lokasi

tanah yang berarti bahwa tanah yang lingkungannya bebas banjir tentu lebih dihargai dan

memiliki nilai tanah yang tinggi. Kemudian untuk variabel LnJR yaitu jarak tanah tanah ke pusat

kota koefisien regresinya bernilai negatif yaitu -0,163% yang bisa diartikan bahwa nilai tanah

berdasarkan jarak tanah ke psusat kota memiliki pengaruh negatif yang artinya semakin dekat

tanah dekat pusat kota maka nilai tanah tersebut semakin menurun. Hal ini tentu saja tidak

sesuai dengan Pola Nilai Ekonomis Lahan Kota yang dalam teorinya dijelaskan bahwa nilai

ekonomis lahan akan semakin tinggi jika lokasinya semakin mendekati kawasan kota, karena

pada umumnya semakin mendekati kawasan pusat kota akan semakin tinggi tingkat kemudahan

prasarana dan sarananya, sehingga semakin strategis dan produktif nilai lahan tersebut. Dari

penjelasan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk variabel bebas jarak tanah ke pusat

kota terdapat kesalahan (tidak konsisten dalam menentukan nilai tanah). Kesalahan tersebut

dapat terjadi karena kesalahan dalam melakukan penyesuaian jenis data dan penyesuaian

waktu dan objek pembanding, kurangnya data pembanding, banyaknya elemen penyesuaian

(10)

9

penyesuaian tersebut, baik dalam presentase maupun jumlah rupiah, kurangnya pengalaman

penilai, dan kurangnya pemahaman penilai atas karakteristik lokasi daerah penilaian. Kemudian

untuk keterkaitan antara faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah untuk nilai NJOP juga tidak

dijelaskan dalam pembahasannya. Setelah melakukan perhitungan dengan analisis regresi

seharusnya di pembahasan dijelaskan mengenai perbandingan antara harga tanah dan NJOP di

Kota Semarang. Nilai besarnya NJOP tidak di sebutkan sama sekali dan pada akhirnya tidak ada

pembahasannya. Pemodelan harga tanah dan NJOP juga tidak dijelaskan sehingga dalam jurnal

ini tidak diketahui besaran NJOP di Kota Semarang.

1.7 Lesson Learned (Kesimpulan)

Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai tanah sebagai dasar

NJOP PBB di Kota Semarang. Faktor-faktor tersebut adalah kepadatan penduduk, jarak

ke pusat kota, lebar jalan, kondisi jalan, ketersediaan sarana transportasi angkutan

umum/angkot, dan faktor lingkungan yang bebas banjir. Mengetahui metode hedonic

price untuk menentukan hubungan nilai tanah dengan variabel-variabel bebas dalam

penelitian yang dijelaskan dalam tabel regresi. Dengan Hasil perhitingan faktor

kepadatan penduduk akan memberi pengaruh postif sebesar 0,209%. Faktor jarak akan

memberikan pengaruh negatif sebsar -0,613% hal tersebut terjadi karena ada

kesalahan dalam perhitungan penyesuaian jenis data. Kemudian lebar jalan akan

memberikan pengaruh positif terhadap nilai tanah sebesar 0,402% bila jalan tersebut

bertambah 1%. Kondisi jalan akan memberi pengaruh positif terhadap nilai tanah

sebesar 0,391%. Faktor ketersediaan sarana transportasi angkutan umum bus/angkot

memberi pengaruh positif terhadap nilai tanah sebesar 0,208% bila di lokasi obyek

tersedia sarana transportasi dan angkutan umum bus/angkot. Dan faktor yang terakhir

adalah faktor lingkungan bebas banjir akan memberikan pengaruh positif terhadap nilai

tanah sebesar 0,212% jika dilokasi obyek tidak terjadi banjir. Mengetahui bahwa adanya

pengaruh positif dari hasil uji regresi tersebut menjelaskan bahwa faktor-faktor yang

mempunyai koefisien regresi bernilai positif berarti memberikan pengaruh positif yang

berarti bahwa harga tanah dilokasi tersebut bernilai tinggi jika lokasi tanah dipengaruhi

oleh faktir-faktor bernilai positif. Dan sebaliknya, harga tanah bernilai rendah apabila

(11)

10

1.8 Rekomendasi

Rekomendasi ini dibuat untuk menjawab kekurangan-kekurangan yang terdapat pada

jurnal yang telah dikritisi. Rekomendasi untuk jurnal ini antara lain:

 Populasi dan sampel seharusnya lebih diperjelas lagi. Untuk kecamatan dan kelurahan yang digunakan untuk penelitian seharunsya disebutkan nama

kecamatan dan kelurahannya.

 Perlu ketelitian dalam survey pengaruh variabel bebas jarak tanah ke pusat kota sehingga tidak terjadi kesalahan (tidak konsisten dalam menentukan nilai tanah)  Perlu diperjelas lagi mengenai hubungan NJOP PBB dan nilai tanah serta

besaran NJOP jika nilai tanah di suatu kawasan sudah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Review

Sutawijaya, Adrian. 2004. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tanah Sebagai

Dasar Penilaian Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) PBB di Kota Semarang. Jurnal Ekonomi

Pembangunan Vol. 9 No. 1, Juni 2004 Hal: 65-78

Perbandingan Jurnal

Mayasari, Karina., dkk. 2009. Faktor Yang Mempengaruhi Harga Lahan di Kawasan Khusus

Kota Baru Berbasis Industri dan Pusat Kota Samarinda. Jurnal Tata Kota dan Daerah

Volume 1, Nomor 1, Juli 2009

Wijito W, Listiyarko, ____. Model Penilaian Barang Milik Negara dan Harga Limit Lelang

Dalam Penentuan Nilai Tanah dengan Menggunakan Model Hedonik. Artikel Kekayaan

Negara.

Materi Kuliah

Referensi

Dokumen terkait

Dengan pelaksanaan pernikahan dini suatu bukti bahwa mereka yang belum bisa berfikir secara bijaksana dan luas karena mereka yang melakukan pernikahan dini rata-rata berpendidikan

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan lebih banyak lokus dan ternak pada kromosom yang lain untuk mendeteksi adanya lokus yang dapat digunakan

Analisa risiko gempa dengan model sumber 3D dengan program dari USGS untuk batuan dasar kota Jakarta memberikan hasil yang lebih besar, yaitu 0.239 g, dibanding dengan

Setelah itu gandum yang telah digiling, dibawa ke mesin plan sifter untuk diayak sesuai dengan ukuran mikron, gandum yang telah menjadi tepung masuk ke bin tepung,... Gandum

Intinya adalah dengan mengatakan tidak pada hal yang tidak urgent dan tidak penting, Anda bisa mengalokasikan waktu untuk kegiatan lain agar lebih seimbang dan tidak membuang

Hau honela izanda, eta konposatuek azaltzen duten ekintza mekanismoaren arabera, hiru neurotoxina talde bereizi dira: kanal ionikoetan eragina duten neurotoxinak;

Fraktur Smith adalah fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi fragmen distal ke voler. Fraktur Smith dikenal sebagai kebalikan dari fraktur Colles. Jika

Dari hasil uji tarik belah beton umur 28 hari maka diperoleh nilai kuat tarik beton terbesar adalah untuk benda uji dengan penambahan galvanis model crimped yaitu BC1