UNIVERSITAS INDONESIA MAKALAH
Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah: Efektivitas Dana Otonomi
Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat
Tugas Makalah
Mata Kuliah Keuangan Negara
Oleh:
Anggita Shaskia Permata Putri 1206213012
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI
BAB I ketimpangan fiskal secara vertikal dan horizontal agar proses desentralisasi dapat berjalan mulus dan baik. Hubungan tersebut juga akan menjaga tercapainya standar pelayanan minimum disetiap daerah dan stabilisasi serta persoalan yang timbul dari penyelenggaraan pelayanan pubik. Hubungan keuangan pusat dan daerah juga berusaha mewujudkan tatanan penyelenggaraan yang lebih baik menuju clean government dan good governance. Hal ini menjadikan hubungan keuangan pemerintah pusat dan daerah menjadi sangat krusial karena apabila hubungan yang terjalin kurang baik dapat berpotensi menjadi pemicu perpecahan bangsa diakibatkan daerah kurang puas dan merasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuangan oleh pemerintahan pusat. Munculnya berbagai gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia sedikit banyak disebakan karena daerah yang merasa memiliki sumber daya alam yang melimpah menginginkan jatah yang lebih besar sesau dengan proporsi yang disumbangkan daerahnya. Berkembanglah isu bahwa pemerintahan pusat hanya mementingkan dirinya sendiri ataulebih berpihak kepada daerah tertentu (Yani, 2008).
pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua untuk sebesar besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua (Yani, 2008:333).
Konsekuensi dari pemberian otonomi khusus bagi Provinsi Papua dan Papua Barat ialah dialokasikannya dana untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus yang diberikan oleh pemerintah pusat (Ranu, 2011). Hal ini dikarenakan skema otonomi pada dasarnya bukan sekedar mengenai pengaturan kembali kekuasaan melainkan perlu menyetuh dimensi pembiayaan yang dalam konteks ini adalah dana otonomi khusus (Yani, 2008). Pemberian dana otonomi khusus bagi Provinsi Papua, ditujukan untuk menunjang percepatan pelaksanaan otonomi khusus bagi Provinsi Papua, dalam rangka mewujudkan keadilan, penegakan supremasi hukum, penghormatan terhadap HAM, percepatan pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain di Indonesia. Dalam bidang keuangan daerah, kekhususan yang diberikan kepada Provinsi Papua terkait dengan pelaksanaan otonomi khusus adalah berupa adanya (1) Pos Penerimaan Khusus Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% (dua persen) dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional selama 25 tahun, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan serta (2) Pos Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus yang besarnya ditetapkan antara Pemerintah dengan DPR berdasarkan usulan Provinsi pada setiap tahun anggaran, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur (bpkad.papua.go.id).
Rizal Djalil dana otsus tidak menurunkan angka kemiskinan di Papua dan tidak meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua (jdih.bpk.go.id, 2014). 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mekanisme aturan sumber dana desentralisasi Provinsi Papua dan Papua Barat?
2. Bagaimana efektivitas dana otonomi khusus di Provinsi Papua dan Papua Barat dan apa penyebabnya?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan sumber dana desentralisasi Provinsi Papua dan Papua Barat dan menggambarkan efektivitas dana otonomi khusus di Provinsi Papua dan Papua Barat dalam rangka desentralisasi fiskal yang dilakukan pemerintah dalam Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah.
1.4 Sistematika Penulisan
Untuk memudahan dalam pemahaman masalah yang akan dibahas, penulis membuat makalah ini dengan sistematika sebagai berikut:
Bab 1 Pendahuluan. Dalam bab ini menjelaskan secara singkat tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab 2 Kerangka Teori. Bab ini menjelaskan landasan teori mengenai Desentralisasi , Desentralisasi Fiskal serta Otonomi Daerah.
Bab 3 Pembahasan. Bab ini menjelaskan tentang bagaimana efektifitas dari tinngginya dana otonomi khusus yang diberikan pemerintah kepada Provinsi Papua dan Papua Barat.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Desentralisasi
Menurut Bryan & White (dalam Dewi, 2011) daerah akan mempunyai kemampuan yang kecil saja jika semata-mata ditugaskan untuk mengikuti kebijakan pusat. Jika diserahi tanggung jawab dan sumber daya, kemampuan badan-badan lokal akan meningkat. Disamping itu, asas demokrasi dapat terwujud di daerah dengan adanya kesempatan rakyat untuk ikut serta dalam pemerintahan dan pembangunan serta pemerintah daerah wajib bertanggungjawab kepada rakyat setempat dan kepada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Sedangkan pegertian desentralisasi lainnya datang dari Sadu Wasistiono (2002:15) yang mengutip pandangan Litvack yaitu desentralisasi adalah transfer kewenangan dan tanggung jawab fungsi-fungsi publik. Transfer ini dilakukan dari pemerintah pusat kepada pihak lain, baik kepada daerah bawahan, organisasi pemerintahan yang semi bebas ataupun kepada sektor swasta. Lebih lanjut ia juga mengemukakan bahwa desentralisasi terbagi menjadi empat tipe yaitu :
1. Desentralisasi politik
2. Desentralisasi administratif, yaitu memiliki tiga bentuk utama yaitu : a) Dekonsentrasi;
b) Delegasi; c) Devolusi
3. Desentralisasi fiskal;
4. Desentralisasi ekonomi atau pasar
2.2 Desentralisasi Fiskal
memenuhi aspirasi daerah menyangkut penguasaan atas sumber-sumber keuangan negara; 2) mendorong akuntabilitas dan transparansi pemerintahan daerah; 3) meningkatkan partispasi masyarakat dalam pembangunan daerah; 4) mengurangi ketimpangan antar daerah; 5) menjamin terselenggaranya pelayanan publik minimum di setiap daerah; 6) meningkatkan kesejahteraan masyrakat secara umum. Desentralisasi fiskal meningkatkan pendapatan dan meningkatkan efisiensi dalam sektor publik dan memotong defisit anggaran, serta menaikkan pertumbuhan ekonomi. Desentralisasi fiskal dalam hal ini dapat dikatakan berhasil jika daerah tersebut dapat mengelola keuangan daerahnya secara efektif dan efisien. Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
2.3 Otonomi Daerah
Desentralisasi yang dilakukan pemerintah Indonesia akan menimbulkan otonomi bagi rakyat di daerah tersebut. Menurut encyclopedia of Social Science, dalam pengertiannya yang orisinil, otonomi adalah "the legal self suffiency of social body and its actual independence". Sementara itu, Black's Law Dictionary mendefiinisikan autonomy sebagai "The political independence of a nation; the right (and condition) of power of self government. The negotion of a state of political influence from without or from foreign powers"(upi.edu.com).
Dengan adanya otonomi daerah maka daerah otonom dapat mengembangkan potensi daerahnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakatnya.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Sumber dana desentralisasi Provinsi Papua dan Papua Barat
Sumber dana desentralisasi Provinsi Papua dan Papua Barat diatur di dalam UU No. 21 Tahun 2001. Pertama, dalam hal dana perimbangan, sesuai mandat UU Otsus, Provinsi Papua dan Papua Barat mendapat perlakuan istimewa dalam hal bagi hasil sumber daya alam minyak dan gas,yaitu 70%. Sementara untuk sumber daya alam lain, keduanya menerima persentase sama seperti provinsi lain. Untuk Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), keduanya menerima 90%, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 80%, dan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi sebesar 20%.4. Kedua, ada penerimaan khusus dalam rangka pelaksanaan Otsus yang besarnya dinilai 2% dari Dana Alokasi Umum Nasional, inilah yang disebut sebagai dana Otsus. Ketiga, ada dana tambahan pembangunan infrastruktur. Penerimaan kedua dan ketiga ini berlaku selama 20 tahun, dan setelahnya nihil. Khusus untuk ketentuan istimewa bagi hasil minyak dan gas akan berubah menjadi 50% setelah 25 tahun. Sepanjang 2002 sampai 2012, Provinsi Papua menerima Rp 28,445 triliun dana Otsus dan Rp 5,271 triliun dana infrastruktur. Adapun Provinsi Papua Barat yang terbentuk sejak 2008, sudah menerima Rp 5,409 triliun dana Otsus dan Rp 2,962 triliun dana infrastruktur. Keempat, Dana Alokasi Umum sebagai block grant dari pemerintah pusat untuk menutup celah kemampuan fiskal antar wilayah.
bantuan asing setelah memberitahukan terlebih dahulu kepada pemerintah dan harus mendapat persetujuan dari DPRD. Total kumulatif pinjaman besarnya tidak melebihi prresentase tertentu dari jumlah APBD sesuai dengan peratuan perundag-undangan.
3.2 Efektivitas dana otonomi khusus di Provinsi Papua dan Papua Barat Dampak dana otsus terhadap kesejahteraan masyarakat Papua dan Papua Barat dari sisi implementasi yaitu adanya peningkatan pada angka partisipasi sekolah, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah, penambahan infrastruktur kesehatan dan tenaga medis, serta penurunan persentase penduduk miskin. Pada 2011, persentase penduduk miskin di Papua 31,98 persen, sedangkan di Papua Barat 28,2 persen. Namun meski ada penurunan persentase penduduk miskin, Papua Barat masih menempati urutan kedua provinsi termiskin. Jumlah pengangguran terbuka juga masih berkisar 5,5 persen, walaupun telah menurun dibandingkan tahun 2009 sebesar 7,73 persen. Jika melihat tren penduduk miskin sebenarnya dana otsus tidak berdampak signifikan karena dengan dana yang pemerintah berikan, Papua tetap menempati urutan teratas dalam kemiskinan. Terdapat dua level kelemahan implementasi otsus yang perlu segera dibenahi, pertama pada level kebijakan yang terlihat dari belum adanya petunjuk teknis sebagai penjabaran dari UU otsus, belum ditetapkannya Perdasus tentang pembagian, pengelolaan serta penerimaan keuangan sebagai bagian dari implementasi otsus, dan pola hubungan kerja yang belum terbangun secara sinergis antara eksekutif, legislatif dan Majelis Rakyat Papua (MRP) di daerah.
tersebut. Sarana dan prasarana transportasi di Papua sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat Papua. Sebelumnya Gubernur dan masyarakat merasa optimis dengan pemberlakuan UU No 21 Tahun 2001 tentang otsus Papua dapat mengangkat ketertinggalan dan kemiskinan masyarakat di Tanah Papua. Sayangnya alokasi tidak mampu menjadi alat pengungkit yang signifikan, hal ini terlihat dari jumlah penduduk miskin masih tinggi, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih jauh di bawah rata-rata nasional, yaitu 72 sedangkan IPM provinsi Papua dan Papua Barat hanya sekitar 60. Dari uraian sebelumnya sebenarnya dapat terlihat bahwa yang terjadi bukanlah efektivitas dana melainkan inefektivitas bagi Provinsi Papua dan Papua Barat. Inefetivitas terjadi karena:
Ruang partisipasi masyarakat dalam pengawasan masih terbatas
Salah satu indikasinya ialah akses masyarakat sipil terhadap dokumen publik terkait perencanaan dan penganggaran di Papua dan Papua Barat. Di satu sisi otsus memberi peluang bagi Majelis Rakyat Papua (MRP). Namun, lembaga ini harus lebih banyak diberi peran dalam memfasilitasi masyarakat sipil dalam mendapatkan hak atas informasi publik. Prinsip transparansi dalam tata pemerintahan yang baik akan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk dapat terlibat dalam memantau pelayanan publik agar lebih berkualitas. Partisipasi ini akan memungkinkan terjadinya verifikasi kualitas pelayanan publik, sekaligus meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap hasil-hasil pembangunan. Tidak tersedianya data yang dapat diakses oleh masyarakat sipil dan bahkan pemerintah pusat semakin menimbulkan pertanyaan lanjutan bagaimana dana otsus dikelola oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat. Dengan indikasi penyelewengan dana Otsus sebesar Rp 4,12 triliun. sebagaimana temuan BPK maka aspek transparansi ini patut menjadi prioritas untuk diselesaikan.
Mekanisme transfer bersifat tanpa syarat tertentu.
di banyak tempat dan berbagai negara berkembang dan negara maju menunjukkan transfer tanpa syarat cenderung menjadi disinsentif karena membuat pemerintah daerah lebih mengandalkan dana tersebut ketimbang penerimaan daerah. Dampak lanjutannya ialah kondisi ilusi fiskal, di mana dana transfer khusus ini tidak mampu meningkatkan perekonomian daerah, dan hingga masa waktu 25 tahun yang berarti berarti tersisa 13 tahun lagi, berpotensi kedua provinsi tetap bergantung pada anggaran dari pusat.
Koordinasi lintas Kementerian/Lembaga dalam pengawasan perlu ditingkatkan
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1 Kesimpulan
meredam perpecahan bangsa tidak dapat ditepuh dengan memberikan dana otonomi khusus yang besar, namun pemerintah juga harus melakukan pendekatan lain yang dirasa perlu untuk menjaga kesatuan dan persatuan NKRI.
4.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, penulis memberikan beberapa rekomendasi yaitu:
1. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan ruang lebih terbuka bagi partisipasi masyarakat dalam perencanaan, penganggaran, dan pemantauan dana Otsus. Partisipasi ini paralel dengan upaya pemerintah pusat dalam menjamin keterbukaan informasi publik. Partisipasi masyarakat dilakukan untuk menilai 3 hal di masing-masing tahap pelaksanaan kegiatan, yaitu (a) efektivitas, atau sejauh mana manfaat program dengan menggunakan dana Otsus dapat dirasakan masyarakat (b) kepatuhan terhadap prosedur, atau apakah ada sanksi terhadap kecurangan dan penyelewengan dan (c) akses, atau apakah masyarakat mudah mendapatkan informasi penting yang diperlukan. MRP perlu berperan lebih strategis dengan memfasilitasi masyarakat sipil dalam melakukan pengawasan di setiap tahap program.
2. Perbaikan mekanisme transfer. Pemerintah pusat perlu merumuskan perbaikan mekanisme transfer dari tanpa syarat menjadi bersyarat. Prasyarat yang digunakan dibuat secara bertahap sesuai situasi di Papua dan Papua Barat yang memang memerlukan kebijakan afirmatif. Sebagai contoh, pada tahun pertama pemerintah pusat mengenakan persyaratan pelaporan monev SPM pendidikan dan kesehatan minimal 70%, kemudian tahun kedua target dinaikkan mencapai 100%, lalu tahun ketiga dan berikutnya dikaitkan dengan validitas data. Dapat juga ditambahkan pada 3 tahun terakhir masa otsus, syarat pencapaian SPM diberlakukan.
dalam perubahan mekanisme transfer. Setiap temuan bermasalah harus diusut, agar tidak ada dugaaan bahwa dana otonomi khusus tidak boleh diusik karena sebagai sumbangan pemerintah pusat agar Papua tidak memerdekaan tanah mereka sendiri.
DAFTAR PUSTAKA Buku:
Yani, Ahmad. (2008). Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Website:
Agus, P Linggar. (2012). Tinjauan Otonomi Daerah. Diakes dari http://eprints.uny.ac.id/8631/3/BAB%202%20-%2008401241011.pdf, pada 6 Juni 2014 pukul 21.00 wib.
Anonim. 2010. Otonomi Daerah Dan Skenario Indonesia 2010: Dalam Konteks Pembangunan Daerah Dengan Pendekatan Kewilayahan (Regional
Development Approach). Diunduh di
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/DIDITARMIDI/Paper_Otonomi Daerah.pdf, pada 2 Juni 2014 pukul 20.00 wib.
Dewi, R. (2011). Otonomi Daerah. Diakses dari http://education-lili.com/2011/04/makalah-otonomi-daerah.html,pada 7 Juni 2014 pukul 21.00 wib
Jaringan Dokumentasi dan Informasi. (2014). Dana Triliunan Ke Papua, Rakyat Tetap Miskin. Diakses dari http://jdih.bpk.go.id/wp-content/uploads/2014/06/Dana-Triliunan-ke-Papua-Rakyat-tetap-Miskin.pdf, pada 6 Juni 2014 pukul 20.30 wib.