• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan chronic atrophic candidiasis pada pasien gigitiruan lepasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penatalaksanaan chronic atrophic candidiasis pada pasien gigitiruan lepasan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Penatalaksanaan

chronic atrophic candidiasis

pada pasien gigitiruan lepasan

Maharani Laillyza Apriasari*, Bagus Soebadi**

*

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis

**

Bagian Ilmu Penyakit Mulut

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya, Indonesia

ABSTRACT

Chronic atrophic candidiasis is the pathologic changes on the oral mucous of the denture wearers, accompanied with erythematous under the denture, usually asymptomatic and relates to the yeast of Candida. The irritation factors of chronic atrophic candidiasis are ill fitting denture, using the denture at night and bad oral hygiene. This is a case report of chronic atrophic candidiasis on patient using removable denture without systemic disease. The trigger factors were using denture at night, mistaken of cleaning the denture and dental calculus surround the artificial teeth of denture. Final diagnosis is based on anamnesis, clinical examination and microbiology examination. Therapy given was a topical antifungal applied continuously for 7 days after the clinical signs dissapear. The patient was suggested to not using the denture at night, maintain the cleanliness of the denture regularly and scaling the teeth. It can be concluded that management of chronic atrophic candidiasis is based on the oral lesion condition, oral hygiene, wearing denture at night, and the systemic condition.

Keywords: management, chronic atrophic candidiasis, removable denture

ABSTRAK

Chronic atrophic candidiasis merupakan perubahan patologik pada mukosa penyangga gigitiruan disertai gambaran kemerahan di bawah gigitiruan, hampir tidak menimbulkan rasa nyeri dan berhubungan dengan yeast candida. Faktor penyebab iritasi kronis pada chronic atrophic candidiasisadalah gigitiruanill fitting, gigitiruan yang tidak dilepas pada waktu malam hari dan kebersihan rongga mulut yang buruk. Dilaporkan kasuschronic atrophic candidiasispada pasien pemakai gigitiruan lepasan tanpa penyakit sistemik. Faktor pencetusnya adalah gigitiruan lepasan jarang dilepas saat tidur malam hari, terjadi kesalahan cara pembersihkan gigitiruan, dan terdapat karang gigi di sekitar geligi tempat gigitiruan menempel. Diagnosis akhir ditentukan berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang mikrobiologi. Pasien tidak memiliki kelainan sistemik, sehingga terapi yang diberikan adalah antijamur topikal yang dilanjutkan selama 7 hari setelah tanda klinis hilang. Pasien diinstruksikan untuk melepas gigitiruan saat tidur malam hari, menjaga kebersihan gigitiruan, dan melakukan skeling. Simpulan dari kasus ini adalah terapi chronic athropic candidiasisdiberi berdasarkan keadaan lesi dalam mulut, kebersihan rongga mulut, pemakaian gigitiruan pada malam hari dan kondisi sistemik pasien. Kata kunci: Penatalaksanaan,chronic atrophic candidiasis, gigitiruan lepasan

(2)

Kandidiasis adalah infeksi jamur yang paling

sering terjadi di dalam rongga mulut.1Manifestasi

klinis dari kandidiasis dalam rongga mulut dibagi

menjadi 4, yaitu acute pseudomembrane candidiasis (thrush), acute atrophic candidiasis, chronic atrophic candidiasis dan chronic hyperplastic candidiasis.2 Kandidiasis terjadi karena didukung adanya faktor predisposisi,

antara lain adanya perubahan flora normal rongga

mulut akibat pemakaian antibiotik spektrum luas,

penggunaan obat kumur berlebihan dan

serostomia, iritasi lokal yang kronis akibat

pemakaian gigitiruan dan piranti ortodontik,

pemakaian kortikosteroid, kebersihan rongga

mulut yang buruk, kehamilan, penurunan

kekebalan tubuh akibat AIDS, diabetes melitus,

leukemia, limfoma, kemoterapi dan radiasi, serta

malapsorbsi dan malnutrisi.3

Chronic atrophic candidiasis atau denture stomatitis merupakan perubahan patologik pada mukosa penyangga gigitiruan disertai gambaran

kemerahan dan hampir tidak menimbulkan rasa

nyeri serta berhubungan dengan adanya yeastdari Candida. Denture stomatitis sering terjadi pada kandidiasis rongga mulut pada rahang atas atau

rahang bawah tempat menempelnya gigitiruan

lepasan.4

Faktor penyebab terjadinya chronic atrophic candidiasis adalah gigitiruan yang ill fitting dan menyebabkan iritasi kronis. Gigitiruan lepasan

yang tidak dilepas pada waktu malam hari, serta

pembersihan gigitiruan yang tidak adekuat dapat

menyebabkan multiplikasi jamur Candida.3-6

Insiden chronic atrophic candidiasis sering terjadi pada daerah palatum di bawah gigitiruan

rahang atas dan jarang terjadi pada gigitiruan

rahang bawah. Denture Stomatitis mengenai 65% penderita geriatrik yang memakai gigitiruan

lepasan rahang atas.3,5,7

terjadinya chronic atrophic candidiasis pada pasien wanita berusia 23 tahun yang

menggunakan gigitiruan lepasan yang jarang

dilepas pada malam hari serta didukung kesalahan

pasien dalam membersihkan gigitiruannya. Selain

itu pada gigi-gigi tempat gigitiruan menempel

terdapat faktor lokal karang gigi yang memicu

inflamasi. Diagnosis didapatkan berdasar pada

hasil anamnesis, pemeriksaan klinis dan

pemeriksaan penunjang mikrobiologi kultur

jamur. Terapi yang diberikan disesuaikan dengan

kondisi pasien. Pada kasus ini pasien tidak

memiliki penyakit immunocompromised dan lesinya terlokalisasi, maka terapi yang diberikan

hanya antijamur topikal, peningkatan kebersihan

gigitiruan dan melepasnya pada malam hari, serta

dilakukan scaling untuk meningkatkan kesehatan rongga mulutnya.

KASUS

Pada tanggal 1 Desember 2008, pasien

perempuan berusia 23 tahun datang ke Kamar

Terima dengan keluhan gusi pada langit-langit

kanan di bawah gigi palsunya tidak nyaman,

kemengdan sedikit sakit sejak 2 bulan lalu. Pada anamnesis, pasien tidak memiliki penyakit

sistemik dan telah memakai gigitiruan lepasan

sejak 2 tahun lalu. Selama menggunakan

gigitiruan lepasan pasien merasa tidak ada

masalah, tetapi sejak 2 bulan ini baru terasa

kemeng dan sedikit sakit (dull pain) saat memakainya. Selama ini pasien hanya

membersihkan bagian luar gigitiruan lepasan

(yang tidak menempel pada palatum dan gingiva)

dan jarang melepas gigitiruannya saat tidur malam

hari. Keadaan umum pasien baik dan tidak sedang

menjalani pengobatan. Gambaran intra oral pasien

menggunakan gigitiruan tampak pada gambar 1A

(3)

Tata laksana kasus

Kunjungan I (hari pertama)

Pemeriksaan ekstraoral tidak menunjukkan

kelainan. Pada pemeriksaan intraoral, tampak

mukosa yang berkontak dengan gigitiruan lepasan,

yaitu mukosa bukal dan palatum kanan pada regio

gigi 13,15,16 serta gingiva 14 yang edentulus

tampak makula, halus, merah terang dengan batas

jelas, sedikit nyeri (dull pain) dan kemeng (gambar 2).

Dari hasil pemeriksaan klinis didapatkan

diagnosis sementarachronic atrophic candidiasis. Selanjutnya untuk memastikan diagnosis

sementara tersebut, dilakukan pemeriksaan

mikrobiolgi jamur dengan hapusan dari palatum

dan bagian tissue surface gigitiruan lepasan (Gambar 3).

Sementara menunggu hasil pemeriksaan

mikrobiologi jamur, pasien mendapat terapi obat

kumur klorheksidin glukonat 0,2% dikumur 3x1

selama sehari. Pasien diberikan instruksi untuk

melepas gigitiruan lepasan saat tidur malam hari

dan menjaga kebersihan gigitiruannya dengan

menyikat gigitiruan lepasan dengan sabun cair

antiseptik serta merendamnya dengan klorheksidin

glukonat 0,2% selama 5 menit. Pasien selanjutnya

diminta kontrol 3 hari lagi saat hasil kultur jamur

sudah didapatkan.

A

Gambar 1. Tampak keadaan intra oral pasien di daerah yang dikeluhkan saat memakai gigitiruan lepasan.A. Tampak bukal.B. Tampak palatal.

B

Gambar 2. Gambaran mukosa yang berkontak dengan basis gigitiruan. A. Mukosa bukal di bawah gigitiruan tampak makula merah terang berbatas jelas, nyeri sedikit, dan kemeng. B. Mukosa palatal di bawah gigitiruan tampak makula merah terang berbatas jelas, nyeri sedikit, dan kemeng.

(4)

Kunjungan II (hari kesepuluh)

Saat kontrol pertama, pasien menjelaskan

bahwa saat memakai gigitiruan, rasa sakit pada

gusi dan langit-langit berkurang, tetapi masih

terasa kemeng. Obat kumur dikumur 3x1 sehari.

Gigitiruannya sudah dilepas tiap tidur saat malam

hari dan dibersihkan dengan sabun cair antiseptik

tiap kali menyikat gigi serta gigitiruannya

direndam dengan klorheksidin glukonat 0,2%

(Gambar 4).

Pada pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan

adanya kelainan, sedangkan pada pemeriksaan

intraoral menunjukkan pada bukal dan palatum

regio gigi 13, 15, 16, gingiva 14 yang edentulus

terlihat makula, halus, kemerahan, berbatas jelas,

tidak sakit dan masih kemeng (Gambar 5A dan B).

Hasil pemeriksaan Laboratorium

Mikrobiologi (gambar 6) menunjukkan jamur

dengan kultur Sabouraud’s Dextrose Agar dan

pemeriksaan dengan pengecatan Gram didapatkan

hifa dan yeast. Hal ini menunjukkan pasien menderita kandidiasis. Berdasarkan diagnosis

tersebut, pasien mendapatkan terapi topikal

Nistatin oles mulut yang diulaskan 4x1 sehari

pada bagian mukosa yang tertutup oleh basis

gigitiruan lepasan, menghentikan kumur

klorheksidin glukonat 0,2% dan menyikat

gigitiruannya dengan sabun cair antiseptik serta

merendam gigitiruan dengan klorheksidin

glukonat 0,2% selama 5 menit. Selanjutnya pasien

diminta kontrol 7 hari kemudian. Gambar 3. Bagian permukaan dalam

gigitiruan lepasan yang menempel pada mukosa tampak debris

Gambar 4. Bagian tissue surface gigitiruan lepasan. Tampak lebih bersih setelah dibersihkan secara rutin.

Gambar 5. Gambaran mukosa di bawah basis gigitiruan lepasan pada saat kontrol hari kesepuluh. A. mukosa bukal tampak makula, merah, batas difus, dan tidak sakit.B. mukosa palatal tampak makula, merah, batas difus, dan tidak sakit.

(5)

Kunjungan III (hari ketiga puluh lima)

Pada kontrol kedua, pasien tidak dapat datang

tepat waktu karena sedang keluar kota. Nistatin

oles mulut sudah dioleskan 4x1 sehari tetapi hanya

selama 5 hari, karena kemudian pasien pergi

selama 10 hari tanpa membawa Nistatin. Pasien

hanya berkumur dengan klorheksidin glukonat

0,2%. Sejak tidak diolesi Nistatin, langit-langitnya

kembali terasa kemeng seperti saat pertama kali datang. Pasien rutin menjaga kebersihan

gigitiruannya dengan melepas saat tidur malam,

menyikat dengan sabun cair antiseptik,

merendamnya dalam klorheksidin glukonat 0,2%.

Pemeriksaan ektraoral menunjukkan tidak

ada kelainan. Pada pemeriksaan intraoral terdapat

makula, halus, merah terang, berbatas jelas, dan

kemeng pada mukosa bukal dan palatum kanan pada gigi 13,15,16 dan gingiva 14 yang edentulus

(gambar 7).

Terapi yang diberikan adalah menghentikan

kumur klorheksidin glukonat 0,2%, dan

melanjutkan pengobatan dengan Nistatin oles

mulut 4x1 sehari, serta dianjurkan tetap menjaga

kebersihan gigitiruannya. Kemudian pasien

diminta kontrol 7 hari kemudian.

Kunjungan IV (hari keempat puluh dua) Pada kontrol ketiga, pasien tidak lagi merasa

sakit dan kemeng pada langit-langit yang berkontak dengan gigitiruan (gambar 8). Nistatin

topikal dioleskan 4x1 tiap hari dan kebersihan

gigitiruan lepasannya tetap dijaga.

A B C

Gambar 6. Bukti pemeriksaan di Laboratorium Mikrobiologi. A.Pemeriksaan kultur jamur dengan saboroud agar. B. Pengecatan Gram. C. Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologi menyatakan ada pertumbuhanyeastdanhyphae

Gambar 7. Gambaran mukosa di bawah basis gigitiruan. A. mukosa bukal tampak makula merah terang, batas jelas dan kemeng. B mukosa palatal tampak makula merah terang, batas jelas, dankemeng.

(6)

Hasil pemeriksaan ekstraoral menunjukkan

tidak ada kelainan, sedangkan pada intraoral

tampak makula berwarna kemerahan di sekitar

gigi 13,15,16 (gambar 9). Pada gingiva bagian

bukal, daerah edentulus dan palatum yang

berkontak dengan gigitiruan lepasan berwarna

normal dan tidak sakit atau kemeng. Tampak kalkulus pada gigi 13,15,16, sehingga kemudian

pasien dirujuk ke Klinik Periodonsia Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Airlangga untuk

dilakukan skeling. Terapi tetap diteruskan, yaitu

pemakaian topikal Nistatin 4x1 sehari.

Selanjutnya pasien diminta kontrol 7 hari setelah

skeling dilakukan.

Kunjungan V (hari keenam puluh)

Pasien tidak bisa kontrol tepat waktu karena

adanya kesibukan. Anamnesis menunjukkan

pasien tidak ada keluhan lagi. Gigitiruan selalu

dilepas setiap tidur malam hari dan dibersihkan

dengan sabun cair antiseptik serta direndam

dengan klorheksidin glukonat 0,2% selama 5

menit. Nistatin dioleskan 4x1 tiap hari. Pasien

juga sudah melakukan skeling 2 minggu yang lalu.

Pemeriksaan ekstra oral dan intra oral tidak

menunjukkan adanya kelainan (gambar 10).

Pasien dinyatakan sembuh dan terapi dihentikan.

Pasien tetap dianjurkan agar menjaga kebersihan

gigitiruan dan melepasnya saat tidur malam hari. Gambar 8. Gambaran mukosa di bawah gigitiruan A. Mukosa bukal tampak

berwarna normal dan tidak sakit.B. Mukosa palatal tampak berwarna normal dan tidak sakit

B A

Gambar 9. Karang gigi pada gigi 15 dan 16 dan kemerahan di sekitar gigi tersebut.

(7)

PEMBAHASAN

Chronic atrophic candidiasis atau denture stomatitis pada umumnya sering terjadi di palatum. Diagnosis akhir dipastikan dari hasil

pemeriksaan mikrobiologi jamur melalui hapusan

pada lesi dan gigitiruan. Manifestasi inflamasi

berupa kemerahan pada chronic atrophic candidiasisyang memiliki gambaran hampir sama dengan stomatitis kontak alergika dan lesi

traumatik yang merupakan diagnosis

bandingnya.1,5,7,8

Pemakaian gigitiruan membentuk lingkungan

yang menunjang pertumbuhan Candida. Hal ini disebabkan karena oksigen yang rendah, pH

rendah, kondisi anaerob serta didukung faktor

predisposisi adanya kebersihan rongga mulut yang

buruk dan pemakaian gigitiruan saat tidur malam

hari.1,8

Kasus ini terjadi pada pasien pemakai

gigitiruan lepasan yang mengeluh tidak nyaman,

sedikit nyeri dan kemeng pada daerah di bawah basis gigitiruan lepasannya. Gigitiruan hanya

dibersihkan pada permukaan luarnya saja (yang

tidak menempel pada mukosa) dan jarang dilepas

saat tidur malam hari. Secara klinis tampak bukal

dan palatum kanan pada gigi 13,15,16 serta

gingiva 14 yang edentulus tampak makula merah

terang, batas jelas dan sedikit sakit serta kemeng yang terlokalisir di bawah gigitiruan lepasan. Hal

ini baru terjadi 2 bulan lalu, sedangkan pasien

sudah memakai gigitiruannya selama 2 tahun.

Dari hasil anmnesis dan pemeriksaan klinis

didapat diagnosis sementara bahwa pasien

menderitachronic atrophic candidiasis.Diagnosis bandingnya adalah stomatitis kontak alergika atau

denture stomatitis karena gigitiruan yang ill fitting. Berdasarkan hasil anamnesis keluhan baru terjadi 2 bulan ini dan bukan awal pemakaian

gigitiruan. Selain itu tidak ada riwayat anggota

keluarganya memiliki alergi. Hal ini membuktikan

pasien tidak mengalami reaksi kontak alergi.

Selain itu terdapat rasa tidak nyaman, sedikit nyeri

dan kemeng ketika gigitiruan sudah dipakai 2 tahun. Rasa nyeri tidak tajam dan bukan pada saat

awal pemakaian gigitiruan atau saat mengunyah

makanan yang menunjukkan bahwa pasien tidak

mengalami trauma karena gigitiruanill fitting. Hasil pemeriksaan intra oral menunjukkan

adanya lesi makula merah terang, halus, batas

jelas serta sedikit nyeri dan kemeng pada mukosa palatum gigi 13, 15 dan bukal daerah edentulus 14

yang terlokalisasi di bawah gigitiruan lepasan.

Pada kasus ini didukung predisposisi bahwa

gigitiruan jarang dilepas saat tidur malam hari dan

terjadi kesalahan pembersihkan gigitiruan,

sehingga didapatkan diagnosis sementara bahwa

pasien menderitachronic atrophic candidiasis. Diagnosis akhir didapatkan dari hasil

pemeriksaan laboratorium mikrobiologi jamur dari

hapusan mukosa palatum yang menempel pada

basis gigitiruan dan permukaan gigitiruan yang

berkontak pada mukosa menunjukkan hasil positif

kandidiasis, yaitu pada kultur denganSabouraud’s Dextrose Agar dan pemeriksaan dengan pengecatan Gram didapatkan yeast dan hifa. Adanya bentukan hifa menunjukkan terjadi infeksi

dari Candida, sehingga didapat diagnosis akhir chronic atrophic candidiasis.9,10

Pasien diinstruksikan untuk melepas

gigitiruan saat tidur malam hari serta menjaga

kebersihan gigitiruan dengan menyikat dengan

sabun cair antiseptik agar permukaan gigitiruan

tidak porus dan menghilangkan debris dan plak

sebagai sumber bakteri. Pasien juga dianjurkan

untuk merendamnya dengan klorheksidin glukonat

0,2 % selama 5 menit. Perendaman gigitiruan

lepasan tidak boleh terlalu lama, karena dapat

menyebabkan terjadinya perubahan warna.

Perlunya dilakukan penyikatan pada permukaan

(8)

permukaan gigitiruan yang tidak rata dan

cenderung porus, selain itu perlu dilakukan

perendaman dengan desinfektan antijamur karena

Candida tidak akan hilang jika hanya disikat saja. Menurut Scully,4,6,8 perawatan gigitiruan dapat

dilakukan dengan perendaman gigitiruan dengan

larutan hipoklorit atau klorheksidin 0,2%, selain

itu perlu pelepasan gigitiruan pada saat tidur

malam hari karena bermanfaat untuk

meningkatkan suplai darah dan keratinisasi

mukosa.

Pada terapi awal sebelum didapatkan

diagnosis akhir, pasien diberikan klorheksidin

glukonat 0,2% karena mengandung antimikroba

yang juga memiliki efek antijamur sehingga

mampu menekan pertumbuhan kolonisasi jamur.2

Setelah pasien diketahui positif kandidiasis,

maka pasien dianjurkan menghentikan kumur

klorheksidin glukonat 0,2% dan diganti dengan

topikal Nistatin oles mulut 4x1 sehari dioleskan

pada mukosa yang berkontak dengan gigitiruan.

Hal ini disebabkan penggunaan obat kumur

klorheksidin glukonat dan Nistatin tidak dapat

dilakukan bersamaan, karena akan berakibat

hilangnya kedua efektivitas obat.1,4

Pemakaian antijamur topikal cukup efektif

untuk kandidiasis pada rongga mulut dengan lesi

terlokalisasi pada mukosa di bawah gigitiruan dan

tanpa riwayat penyakit sistemik. Pemakaian

antijamur sistemik lebih tepat diberikan pada

pasien dengan intoleransi dan sukar sembuh

dengan terapi topikal atau memiliki penyakit

sistemik yang mempersulit kesembuhan.4Menurut

Regezi6pemakaian Nistatin oles mulut seharusnya

diaplikasikan sampai seminggu setelah gejala

benar-benar hilang, sedangkan menurut Laskaris1

pemakaiannya antara 1-2 minggu. Pasien juga

dirujuk untuk skeling, karena geligi di sekitar gigitiruan menempel terdapat karang gigi.

mempunyai keluhan lagi. Pada pemeriksaan

intraoral tidak ada kelainan dan dinyatakan

sembuh. Skeling sudah dilakukan 2 minggu

sebelumnya. Munculnya kandidiasis pada kasus

ini diduga juga dipicu bakteri yang berasal dari

karang gigi, karena setelah dilakukan skeling

pasien benar-benar sembuh. Pemakai gigitiruan

lepasan sering mendapatkan infeksi dari

bermacam-macam mikroba. Bakteri dapat

meningkatkan virulensi Candida. Beberapa studi banyak membahas adanya interaksi antara

Candida dan bakteri, yaitu bakteri memodulasi perlekatan dan kolonisasi Candida. Pada kasus ini, mukosa di bawah gigitiruan mendapat inflamasi

kronis karena merespon protein berupa

phospholipase dan proteinasesdariCandida,serta didukung bakteri yang berasal dari karang gigi

yang memodulasi Candida makin bertambah virulensinya.10,11

SIMPULAN

Dari perawatan kasus ini dapat disimpulkan

bahwa terapi chronic athropic candidiasis pada pasien pemakai gigitiruan lepasan diberikan

berdasar pada keadaan lesi di dalam mulut serta

keadaan sistemik dari pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Laskaris G. Treatment of oral disease: A concise textbook. Thieme; 2005. p.30-2. 2. Silverman E, Truelove. Essentals of oral

medicine. London: BC Decker Inc, Hamilton; 2001. p.170-7.

3. Lynch B, Greenberg. Burket: ilmu penyakit mulut, diagnosa dan terapi, Edisi Sembilan. Jakarta: Binarupa Aksara; 2003. p.268-86. 4. Wray D, Felix, Scully, Lowe. Textbook of

general oral medicine. London: Churcil Livingstone; 2003. p. 268-9.

(9)

http://www.emedicine.com/derm/topic.642.ht m. Diakses pada Desember 2007.

6. Scully C. Candidiasis: Mucosal 2007.

Available at

http://www.emedicine.com/derm/topic68.htm. Diakses pada Desember 2007.

7. Regezi, Sciubba, Jordan. Oral pathology: clinical pathologic correlations, 4th Ed. Philadelphia: Saunders; 2003. p. 100-4. 8. Kauffman AC. Fungal infections. University

of Michigan Medical School and infectious diseases section. Proc Am Thorac Soc, Vol 3,

Veterans Affairs Ann Arbor Healthcare System, Ann Arbor, Michigan 2006: 35-40. Available at http://www.atsjournals.org. Diakses pada 8 Januari 2009.

9. Field A, Longman L. Tyldesley’s oral medicine, 5thEd. Oxford; 2004. p. 87-8. 10. Cawson RA, Odell EW. Cawson’s essentials

of oral pathology and oral medicine, 7thEd . Churchill Livingstone; 2002. p.35-8.

Gambar

Gambar 1. Tampak keadaan intra oral pasien di daerah yang dikeluhkan saatmemakai gigitiruan lepasan
Gambar 3. Bagian permukaan dalam
Gambar 6. Bukti pemeriksaan di Laboratorium Mikrobiologi. A.Pemeriksaan kultur jamur dengansaboroud agar
Gambar 8. Gambaran mukosa di bawah gigitiruan A. Mukosa bukal tampak

Referensi

Dokumen terkait