Selo Soemardjan Sang Penerjemah:
Subjektivitas dalam Asal-usul Cara Berpikir Sosiologis di
Indonesia
1GEGER RIYANTO
Abstrak
Paper ini disusun dilatarbelakangi ketertarikan untuk menelusuri pembentukan cara berpikir sosiologi yang bertendensi melegitimasi kekuasaan di Indonesia. Dalam penyusunan saya menemukan problem dalam perspektif yang lazim dipakai penelitian terhadap proses pembentukan pengetahuan; pengetahuan dianggap sebagai bentukan kekuasaan. Pendekatan semacam ini bermasalah karena ia menampik subjektivitas— yang memuat aktivitas kognitif serta pengalaman-pengalaman yang hanya milik keberadaan terkait—yang mutlak dalam proses produksi maupun reproduksi pengetahuan. Namun kritik ini tidak mudah untuk dielaborasi karena lantas pertanyaannya, bagaimana kita mendudukkan subjektivitas ketika asal-usul cara berpikir sosiologis yang kita bicarakan merupakan upaya meneruskan secara tidak refektif sosiologi AS pada era Perang Dingin yang bangunan pemikirannya menaturalisasi tatanan sosial yang ada beserta ideologinya?
Akhirnya, saya menempatkan Selo Soemardjan—sosok yang menjadi pusat dari analisis karena peranannya yang tak tergantikan dalam melembagakan cara berpikir sosiologi (AS) di Indonesia—sebagai penerjemah. Mengutip pandangan Bruno Latour (1987), hanya dengan mengetengahkan proses penyebaran pengetahuan sebagai aktivitas penerjemahan kita dapat menemukan energi yang selama ini tak kasat mata dalam berbagai analisis pengetahuan. Bagi saya, konsep ini membantu mengungkap subjektivitas yang terkubur oleh pandangan-pandangan yang menempatkan aktor sebagai medium pasif pembentukan atau penyebaran pengetahuan yang lebih benar atau yang lebih berfaedah melestarikan struktur. Dalam menerjemahkan seseorang dituntut konsisten dengan teks awal yang dialihbahasakannya, apalagi dengan kondisi di mana gagasan tersebut telah menjadi bangunan pemikiran yang kadar kefaktaannya begitu kokoh lantaran perjalinannya dengan rimbunan teks lainnya yang telah melembaga serta kondisi materiil yang rampung. Akan tetapi bagaimana bisa dan untuk kepentingan apa insan terkait berhadapan dengan pengetahuan tersebut adalah sesuatu yang ditentukan oleh kebereksistensiannya pribadi.
Dalam keterbenamannya di bawah cara berpikir sosiologi AS, Soemardjan tetaplah satu wujud subjektivitas yang tanpa peranannya sosiologi mungkin tak akan pernah terlembaga di Indonesia. Atau, bila satu peristiwa menimpa Soemardjan secara berbeda, bisa saja pengetahuan kita tentang sosiologi tak akan sama dengan sekarang. Dengan demikian, diperkuat juga dengan alasan mendasar sebuah analisis tak boleh menyederhanakan kompleksitas di bawah model teoretis, penerjemahan menjadi proses yang genting untuk diungkap secara terperinci dari fenomena proses sosial pengetahuan.
Kata kunci: Selo Soemardjan, pengetahuan, kekuasaan, penerjemahan, subjektivitas, cara berpikir sosiologis
Semua dimulai ketika saya menemani seorang kawan mengajar les persiapan UN sosiologi untuk anak SMA, tahun 2008 silam. Di kelas, kawan saya
membagikan soal-soal prediksi ujian untuk dikerjakan oleh para siswa, dan tak lama ia membahasnya di depan. Kawan saya dan murid-muridnya mengulas pertanyaan demi pertanyaan, hingga tibalah mereka pada sebuah pertanyaan pilihan ganda, “apakah ciri-ciri manusia modern?” Mendengar pertanyaan ini, saya tercenung. “Apa jawabannya?” tanya kawan saya. Seisi kelas menanggapi, “berpikiran terbuka, rasional, dan tidak percaya takhayul.” Untuk apa, gumam saya, mereka diajarkan ciri manusia modern? Untuk apa mereka mesti mengingat karakteristik ini dengan baik-baik jaga-jaga kalau pertanyaan semacam muncul dalam UN? Perlahan-lahan, konsep-konsep sosiologi serupa yang diajarkan semasa saya SMA (2002-03) datang kembali ke pikiran saya; integrasi, modernisasi, pemilahan masyarakat tradisional/modern, perubahan sosial, dan lain-lain. Untuk apa konsep-konsep ini dijejalkan ke dalam kepala anak-anak SMA di Indonesia?
Penanaman paksa sebuah gagasan bukanlah sesuatu yang terdengar asing dalam dunia pendidikan Indonesia. Pada masa Orde Baru, ideologi negara ditanamkan dengan masif lewat berbagai saluran yang dapat dijangkau pemerintah—dari tuntutan menghafal butir-butir P4, pelajaran menggambar, di mana anak-anak biasanya diminta untuk menggambar desa yang permai, hingga buku-buku dongeng yang memadankan berbagai kisah tradisional dengan nilai Pancasila. Akibatnya, tak terhindarkan, sebuah pikiran langsung tercetus di benak saya, inilah sosiologi warisan Orde Baru; sosiologi yang dikooptasi oleh kekuasaan untuk memberikan pembenaran terhadap tatanan masyarakat yang ada dan bekerja sepantasnya sebuah ideologi negara.
Inilah, saya mengatakan kepada diri saya sendiri, bagaimana kekuasaan bekerja secara halus melalui sosiologi. Anak-anak SMA dicangkokkan dengan pemahaman bahwa masyarakat tradisional percaya takhayul dan terbelakang. Lewat modernisasi, masyarakat tertinggal ini akan terangkat. Pola pikir mereka akan diubah menjadi rasional, maju, dan berorientasi ke depan. Pengajaran sosiologi seperti ini, saya membayangkan, adalah upaya negara untuk membentuk suatu generasi yang menerima mentah-mentah konsep pembangunan negara yang tersentral, otoriter, mendiskriminasikan antara pusat dengan pinggiran lantaran asosiasi yang satu modern dan rasional, yang lainnya tradisional serta tak tahu apa-apa.
Di dalam buku Dhakidae kita akan melihat paparan bagaimana melalui birokratisasi ilmu pengetahuan Orde Baru memancangkan kekuasaannya atas aktor, institusi, dan produk pengetahuan di Indonesia. Dengan kejelian negara menjaga serta mendisiplinkan dunia penelitian dan akses-akses lembaga keilmuan, menurut Dhakidae, substansi pengetahuan ilmu sosial di Indonesia “takluk” di bawah kekuasaan (hal 330-60). Setelah mengutip Foucault yang memandang bahwa kekuasaan memproduksi pengetahuan (hal 65), Dhakidae tanpa ragu menganggap langkah pendisiplinan Orde Baru itulah yang secara langsung membentuk wacana keilmuan sosial di negeri ini. Selain tulisan Dhakidae, penelitian Samuel (1999) dan Heryanto (2006) terhadap ilmu sosial Indonesia juga kurang-lebih memperlakukan pengetahuan dengan pendekatan yang serupa, hanya saja keduanya tidak mengemukakan keyakinan teoretisnya optimisme yang kita temukan pada buku pertama yang kita rujuk. Akan tetapi, pendirian skeptis semacam ini bukannya tanpa masalah. Meski kontribusi studi serupa dalam mengajak kita melakukan refeksi kritis atas keadaan ilmu sosial di Indonesia tak bisa dinafkan, perspektif seperti yang dibawakan Dhakidae memiliki sebuah kelemahan fatal; menyamakan dan memukul rata setiap variabel di dalamnya. Setiap aktor, lembaga, relasi yang terlibat ranah ilmu sosial semua disamaratakan melayani fungsi tunggal memproduksi pengetahuan yang melegitimasi rezim. Bagaimana kita bisa mengatakan negara memproduksi pengetahuan, padahal ia pertama-tama adalah sebuah lembaga yang mau dikatakan bagaimanapun jelas-jelas tidak akan pernah punya kapasitas melakukan aktivitas kognitif sebagaimana halnya manusia? Bisa saja pertanyaan ini dijawab dengan mengatakan, maksudnya negara sebagai lembaga raksasa memproduksi pengetahuan dengan perantaraan para aktor yang diikatnya lewat mekanisme insentif dan disinsentif yang didirikannya; namun ini pun tak menyelesaikan persoalan.
Meski beberapa kali menampilkan Foucault sebagai sandaran pemikirannya, telusur pengetahuan Dhakidae ini tak terasa asing bila sebelumnya kita membaca analisis struktural-fungsional Talcott Parsons. Menurut Parsons, tindakan aktor terintegrasi ke dalam struktur, yang diasumsikannya sebagai bentukan interaksi sosial yang kompleks, salah satunya lantaran terdapat atau terbentuk keselarasan di antara tujuan hidup ego dengan kebutuhan fungsional struktur untuk mempertahankan dan mengembangkan kesatuannya (1951: 23-29). Tetapi ambisi Parsons untuk mengintegrasikan antara paradigma ilmu sosial yang berpikir dengan kerangka struktur dengan yang menitikberatkan pada tindakan bisa dikatakan mengakibatkan kualitas otonom dan produktif dari tindakan dan interaksi aktor digeser dengan kualitas responsif atau reproduktif demi keutuhan cara berpikir serba sistemnya; di mana segala anasir dalam masyarakat dapat terjelaskan sebagai bagian dari gerak keseluruhan yang tak pernah berhenti bersirkulasi untuk menjaga tatanan yang ada.
aktor untuk bergerak ke arah tertentu yang tampak membawa keuntungan bagi lembaga termaksud. Akhirnya, menggoda memang untuk memahami pergerakan ini dengan visualisasi sebuah sistem yang serba menyerap dan menundukkan anasir-anasir di dalamnya untuk mereproduksi serta memperkokoh dirinya. Akan tetapi, kendati cara pandang yang mengandalkan abstraksi adanya gumpalan kekuatan adikuasa di atas manusia ini pada taraf tertentu terasa logis, bahkan seperti merangkum perilaku manusia dengan dinamika lingkungan sosialnya dalam satu bingkai analisis yang terintegrasi, ia justru luput melihat bagaimana sebenarnya pengetahuan yang menjadi bingkai paradigmatik dari tindakan ataupun menjadi informasi yang mendasari respons spontan terbentuk. Seketika aktivitas keberpengetahuan disematkan dengan ftur fungsional tertentu, proses mental subjektif yang kompleks akan disederhanakan sebagai sistem informatika sederhana—bagaimana abstraksi gagasan dilihat tak lebih dari perilaku rasional dalam keterhubungan sang insan dengan tatanan yang ada.
Analisis Dhakidae, yang kelewat terpaku pada momen bagaimana keberadaan negara Orde Baru yang sangat masif menyerap lembaga dan aktivitas keberpengetahuan, tak akan menyediakan jawaban empiris bagaimana asal-usul cara berpikir sistematik tertentu yang menjadi wajah dominan ilmu sosial di Indonesia. Perumusan pengetahuan hanya dimungkinkan lewat kerja kognisi mengolah pengalaman atau informasi yang didapat insan dari perjalanan hidup yang dialami satu-satunya olehnya, dan betapa akan terkesan sangat memaksakan untuk mengatakan pengetahuan termaksud rampung lantaran proses sang individu mengejar keselarasan dengan sistem sosial (atau, beberapa orang akan mengatakannya, proses terkooptasi kekuasaan). Proses di mana dimensi subjektivitas menempati kedudukan yang tak tergantikan ini sangatlah penting, toh, tanpanya pengetahuan yang menjadi paradigma arus utama sosiologi itu sendiri tak akan pernah muncul.
Menggali Subjektivitas yang Terkubur lewat Konsep Penerjemahan
menghambat, atau yang lainnya—namun ia tidak akan pernah menciptakannya atau menggantikan proses akal-budi pada diri insan.
Akhirnya, kita tak bisa lagi membayangkan suatu pengetahuan punya tujuan keberadaan—seakan ia dibentuk struktur masyarakat untuk menjalankan fungsi tertentu dan menjauhkan kita dari urgensi untuk mengeksplorasinya lebih dalam serta terperinci. Tidak bisa tidak, untuk meneliti pengetahuan kita harus memasuki proses subjektif—satu-satunya yang memungkinkan pembentukannya. Nah, pada saat yang sama mesti dicamkan bahwa mengatakan ini sebagai proses subjektif tak berarti mengatakan proses ini terisolasi dari ruang sosial. Sebaliknya, sesaat pun ia tak akan pernah lepas dari persentuhan eksternal, dari kondisi ekonomi-politik, dari situasi besar yang melingkupinya. Hanya saja kita tak bisa melihat korespondensi dengan keberadaan dari luar ini sebagai perjalinan fungsional dengan struktur masyarakat yang objektif, melainkan sebagai dinamika jejaring antarlembaga atau antaraktor yang bersifat intersubjektif atau tak mungkin dipisahkan dari kebereksistensian masing-masing insan.
Tantangan utama dari penelitian ini adalah kita akan membicarakan gagasan dengan wilayah rambahan yang amat masif, bentuk pengetahuan yang bila tak diikuti oleh analisis yang memadai rentan menimbulkan abstraksi inilah ideologi bentukan tatanan ekonomi-politik yang ada. Di mana lantas letak subjektivitas, variabel yang mutlak keberadaannya dalam pengolahan pengetahuan, apabila kita berbicara tentang gagasan yang seakan menggandakan dan mereproduksi diri dengan sendirinya dalam kecepatan yang tinggi dan mencakup teritori yang luas? Bagaimana kita dapat membicarakan proses distribusi gagasan ini tanpa terjatuh pada kerangka konseptual yang fondasinya pada realitas sulit dipertanggungjawabkan? Untuk menjelaskannya tanpa mengorbankan reliabilitas teoretis, kita mesti menemukan konsep yang cukup meyakinkan untuk menghubungkan fenomena diseminasi pemikiran dengan subjektivitas sebagai kenyataan pada lapisan lainnya. Konsep penerjemahan bisa menjadi mata rantai itu. Sebagaimana yang dijelaskan Bruno Latour, hanya dengan menggunakan konsep penerjemahan kita bisa membangun sebuah kerangka teori di mana pengetahuan atau teks tidak bergerak dan menyebar dengan sendirinya tanpa terjelaskan. Dengan melihat penyebaran gagasan diperantarai oleh lelaku penerjemahan berarti ada energi, aktor, jaringan, dan proses yang terlibat di dalamnya (1987).
intersubjektivitas di tengah-tengah samudra gagasan yang dari kejauhan tampak bisa menenggelamkan siapa pun tanpa jejak ke dalamnya. Helene Buzelin merangkum dengan sangat efektif gagasan Latour yang kontributif ini; bahwa dalam lelaku penerjemahan
Tidak hanya penerjemah tak memiliki monopoli atas terjemahannya, ataupun mereka sendirian ketika menerjemahkan, namun peran mereka juga tidak terbatas pada pengalihan bahasa. Hasilnya, produk akhirnya tidak bisa dijelaskan sebatas dalam dimensi yang subjektif (sang penerjemah) atau yang objektif dan abstrak (konteks sejarah, polisistem, ideologi). Sebaliknya, ia perlu dilihat dalam proses fabrikasinya itu sendiri, di mana pada proses tersebut aspek manusia, teknologi, fnansial, dan lain-lain dimobilisasi dan terjalin rapat. (Buzelin dalam St. Pierre dan C. Kar, 2007: 53)
Memilih Selo Soemardjan
Nah, sekarang, bagaimana merumuskan asal-muasal pembentukan cara berpikir sistematik sosiologi di Indonesia? Kita akan melakukannya dengan menelusuri dua buku teks yang berani saya katakan paling penting;
Setangkai Bunga Sosiologi suntingan Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, pertama kali terbit 1964, dan Sosiologi Suatu Pengantar karangan Soerjono Soekanto, pertama kali terbit 1969. Menentukan dua buku ini sebagai bahan analisis utama sama sekali bukan proses yang sulit. Awalnya saya mencari buku-buku sosiologi SMA lantaran satu atau beberapa gelintir buku teks yang menjadi preferensi utama bisa memiliki wilayah diseminasi yang luas di Indonesia dengan dipergunakan secara massal dari sekolah ke sekolah. Saya lantas menemukan bahwa hampir setiap buku sosiologi SMA dari tahun 90-an hingga 2000-an muatannya nyaris serupa, dan setelah ditelusuri lebih lanjut, semua bersumber ke buku Sosiologi Suatu Pengantar. Dan memang, kurikulum nasional sosiologi nyaris menyerupai sistematika buku ini—menjadikannya buku induk dari pelajaran sosiologi di SMA-SMA seluruh Indonesia.
Kemudian saya mengetahui bahwa buku ini sebenarnya merupakan koleksi catatan kuliah pengantar sosiologi Selo Soemardjan yang disebut-sebut bapak sosiologi Indonesia. Soerdjono Soekanto, yang namanya ditempatkan sebagai pengarang buku ini, adalah asisten Selo yang mencatat dan menyusunkan materi kuliah yang diberikannya.2 Menyadari ini, saya tak
ragu untuk memilih Setangkai Bunga Sosiologi sebagai buku kedua.
Soemardjan bersama Soemardi menyusun dan memilah tulisan pokok para sosiolog Barat, yang akhirnya menjadi buku bunga rampai ini, dengan tujuan menyediakan buku teks sosiologi yang memadai yang belum ada sebelumnya (Yusra, 1995: 246). Hemat kata, inilah buku teks pertama yang disusun oleh akademisi Indonesia untuk memperkenalkan pendekatan sosiologi AS ke negerinya. Kerangka pikir sosiologi buku yang disusun Soekanto juga terlihat
jelas pada buku ini, meski dalam bentuk yang berceceran karena berupa potongan-potongan tulisan yang berbeda-beda.
Mengutip riset Sunarto, pada tahun 1975 sudah ada tiga perguruan tinggi yang membuka program sosiologi, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Hasanuddin; ketiganya menggunakan
Setangkai Bunga Sosiologi untuk pegangan mata kuliah sosiologi. Sosiologi Suatu Pengantar pada tahun yang sama dipergunakan oleh Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin. Pada 1985/86, buku Soekanto tidak dipergunakan lagi di Universitas Indonesia, namun lima dari delapan perguruan tinggi yang mengajarkan pengantar sosiologi menggunakannya, antara lain Universitas Airlangga, Universitas Negeri Semarang, Universitas Nusa Cendana, Universitas Riau, dan Universitas Sam Ratulangi. Sementara pada periode ini buku Soemardjan-Soemardi digunakan di Universitas Nusa Cendana, Riau, dan Sam Ratulangi (Sunarto, 1989). Dari segi jangkauan diseminasinya, boleh dikatakan dua buku ini punya pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan wacana sosiologi di Indonesia bahkan hingga sejauh meletakkan fondasi-fondasinya.
Soemardjan, karenanya, pantas untuk ditunjuk sebagai peletak wacana sosiologi di Indonesia.3 Ditambah lagi, menurut pengakuannya dalam
biografnya, ia adalah doktor dan pengajar pertama ilmu sosiologi di Universitas Indonesia (Yusra, 1995). Kemudian pada tahun 1965, ia mendirikan jurusan sosiologi di universitas ini. Memang, prosedur berpikir serupa sosiologi sudah ada sejak masa kolonial (indologi), namun sosiologi yang berkembang pada saat ini sama sekali lain dan terhitung mulai melembaga sejak dirintis oleh Soemardjan pada tahun 60-an. Dan meski Soemardjan sendiri juga sudah terlibat dalam dunia ilmu pengetahuan sebelum memasuki Cornell University, di mana pada zaman revolusi ia ikut mendirikan dan mengajar di Akademi Ilmu Politik, pendekatan sosiologi yang dibawanya dari AS-lah yang mempengaruhi cara berpikir sistematiknya selanjutnya.
Dari pengakuannya dalam biografnya lagi, peminatannya yang tak lazim untuk mengambil studi sosiologi—dan menjadikannya pengajar sosiologi pertama di UI, di mana saat itu belum ada wadah untuk mengajar bidang ini di luar Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi—tak lepas dari pengalamannya sebagai pamong desa (Yusra, 1995: 206). Begini tutur Soemardjan
Saya tak begitu tahu Sosiologi itu apa. Tapi rasanya mengenai masyarakat. Dan ingin belajar sosiologi agar bisa memahami masyarakat saya yang selalu mengalami kekacauan. Sejak saya jadi camat, saya sudah mengalami kekacauan masyarakat. Pertama yang ditimbulkan oleh datangnya Jepang. Kemudian oleh revolusi kemerdekaan. Ledakan-ledakan sosial banyak sekali tapi saya tak mengerti kenapa; karena itulah saya ingin mempelajari Sosiologi. (Yusra, 1995: 206)
3 Soemardi, yang menyusun buku Setangkai Bunga Sosiologi bersamanya, memperoleh
Disusun dari serangkaian wawancara terhadap Soemardjan pada tahun 90-an, beberapa dekade setelah ia mengambil studinya, bukan tidak mungkin biograf ini tak benar-benar tepat menggambarkan peristiwa atau keputusan di masa itu. Sayang, sejauh ini, inilah sumber yang bisa membawa kita ke titik terdekat untuk melihat motif pribadi Soemardjan. Namun tak diragukan, apa yang memungkinkan Soemardjan melangsungkan studinya di AS—dan bukan tidak mungkin mendorong atau bahkan membentuk minatnya —adalah curahan dana Ford Foundation. Yayasan ini mencurahkan pendanaan yang besar untuk mengirimkan elite-elite Indonesia mempelajari ilmu sosial di AS pada tahun 1950-60-an.4 Nama-nama yang dikenal sebagai
perintis ilmu sosial di Indonesia (dan kemudian menjadi teknokrat yang penting), sebut saja Widjojo Nitisastro, Koentjaraningrat, Harsja Bachtiar, memperoleh kuliahnya pada periode ini dan dengan skema beasiswa serupa. Dan tentu saja relasi Soemardjan dengan George McTurnan Kahin tak boleh dikesampingkan. Menjadi pendamping riset disertasi Kahin di Indonesia, yang belakangan terbit menjadi buku Nationalism and Revolution in Indonesia, bisa jadi mendorong Soemardjan mempelajari ilmu sosial, tetapi yang tak bisa dinafkan adalah fakta bahwa setelah Kahin menjadi guru besar yang bereputasi di Cornell University relasi ini memungkinkan Soemardjan diterima di universitas tersebut dan memperoleh beasiswa Ford.
Bertepatan dengan periode kuliah Soemardjan, ilmu sosial baru-barunya mendapatkan kedudukan yang mapan di AS. Tak lama sebelum Soemardjan memperoleh beasiswa, sosiologi masih dianggap tidak pantas untuk bergabung dengan National Science Foundation (NSF), lembaga penelitian di bawah negara, dan memperoleh pendanaan federal lantaran diragukan kadar keilmiahannya. Alasan yang sama juga yang menyebabkan sosiologi dicabut keanggotaannya dari National Academy of Sciences selepas Perang Dunia I (Haney, 2006: 31). Nah, beberapa saat sesudah Perang Dunia Kedua, lembaga-lembaga riset sosial bermunculan di AS, yang dengan sendirinya memperlihatkan adanya peningkatan pendanaan negara maupun swasta kepada ilmu sosial. Penelitian-penelitian sosiologi yang didanai jumlahnya melonjak tajam.5 Namun di tengah-tengah perubahan besar
tersebut, yang memainkan peranan penting dalam pembentukan wajah sosiologi Amerika, meminjam konsep David Haney, adalah lelaku kewirausahaan akademik (academic entrepreneur); bagaimana para ilmuwan sosial, memobilisasi pusat riset dan kemampuan mengorganisasi jaringan untuk menggalang sumber daya yang diperlukan dalam mengembangkan disiplinnya.
Pada saat Soemardjan menjalani studinya, teori yang dominan dalam disiplin sosiologi adalah pendekatan sistem sosial Talcott Parsons. Menurut
4 Ford Foundation, khususnya antara 1955-1980, menyumbangkan sekitar lima juta dolar kepada perguruan tinggi dan pusat penelitian di Indonesia (Antlöv dalam Hadis dan Dhakidae, 2006: xv).
5 Dari data yang dikumpulkan oleh Jennifer Platt, terungkap bahwa artikel penelitian
Nils Gilman, teori yang diampu oleh Parsons ini menyediakan kerangka besar yang dibutuhkan oleh AS, negara yang baru saja menggantikan Eropa sebagai pusat geopolitik dunia, untuk membingkai masyarakat pascakolonial yang demikian beragam (2007: 72-3). Meski tentu saja ada kebutuhan seperti ini di antara elite-elite pemerintahan AS, tetapi bagaimana teori Parsons memperoleh reputasinya tentu tidak sesederhana bahwa pemikirannya dapat menjawab kebutuhan kolektif “bangsa”—ini sama sekali tak menjawab mengapa para pemikir selain Parsons, yang juga bisa melakukannya, tak memperoleh pengaruh yang sama. Di tahun 1946, Parsons dan kolega-koleganya mendirikan Harvard Department of Social Relations yang menyatukan departemen antropologi, psikologi, dan sosiologi di Harvard University. Berdirinya lembaga yang menggabungkan tiga departemen universitas yang prestisius ini di tengah-tengah arus pendanaan riset yang menanjak, ditambah dengan bantuan reputasi dan jaringan Parsons, yang menjabat Presiden American Sociological Associations pada 1949, dan para rekannya, bisa dipastikan memungkinkan teori sistem sosial memperoleh kedudukan yang terpandang.
Dan, memang, dominasi teori sistem sosial adalah sesuatu yang tak terbantahkan pada dekade 1950-an. Magnitudnya bisa kita takar dari “perasaan terintimidasi” para pengkritik sezamannya, misal, Alvin W. Gouldner, yang mengatakan di era ini sosiologi yang dominan sudah menjadi sebuah kebudayaan populer, memainkan peranan sebagai penjaga jeli mesin-mesin sosial masyarakat industrial AS, serta di sisi lain mendikte masyarakat-masyarakat berkembang agar melihat problem sosial mereka sebagai sesuatu yang dapat dituntaskan dengan proses modernisasi dan industrialisasi (Gouldner, 1970: 332). Dalam penggambaran barusan, Gouldner seakan-akan baru melihat suatu objek yang daya jangkaunya begitu massal bukan? Atau, kalau mengutip pengamatan Pierre Bourdieu yang lebih dingin, “selepas 1945 ambisi untuk memberikan pengakuan penuh kepada sosiologi dengan menjadikannya sebuah profesi terkristalisasi.” Semua tak lepas dari kecakapan tokoh-tokoh disiplin ini dalam “menanamkan sebuah ortodoksi intelektual” sehingga sosiologi mencapai “konsensus di permukaan yang memungkinkan sosiologi akhirnya memperoleh kedudukan selaku sebuah disiplin yang tidak kontroversial” (Bourdieu dalam Bourdieu dan Coleman, 1991: 378-79). Artinya, teori sistem sosial, yang dirumuskan oleh Parsons dengan ambisi membangun ilmu sosial yang terintegrasi, menjadi wajah sosiologi pasca-Perang Dunia Kedua yang berhasil meraih kredibilitas sebagai sebuah pendekatan keilmuan.
Memerantarai Cara Berpikir Sosiologi (beserta Segenap Bias Ideologisnya)
Cara berpikir sistematik sosiologi AS ini terlihat gamblang sejak awal buku
interaksi sosial menjadi sebuah sistem yang stabil bernama struktur sosial (Parsons, 1951: 23). Setangkai Bunga Sosiologi tidak mengatakan disiplin ini mempelajari tindakan sosial atau pola perilaku manusia, misal, yang merupakan fokus paradigma sosiologi di luar sistem sosial. Lebih jauh, pada buku Sosiologi Suatu Pengantar Soekanto, atau materi kuliah Soemardjan, dijabarkan (1982: 13):
a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Sosiologi bersifat teoretis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori. c. Sosiologi bersifat kumulatif yang berarti bahwa teori-teori
sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
d. Sosiologi bersifat nonetis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.
Butir-butir ciri ilmiah sosiologi yang dikutip dari Harry M. Johnson di atas, dan disampaikan pertama-tama dalam buku Soekanto seperti syarat sebelum membicarakan disiplin ini lebih jauh, mengekspresikan pergumulan para ilmuwan sosial arus utama AS tahun 1950-an. Sebut ini suatu sikap ilmiah, rumusan yang sengaja dibuat untuk menegaskan pendirian sebuah disiplin di hadapan problem-problem keilmuan mendasar, namun pada saat yang sama ia tak lepas dari upaya para pegiat sosiologi untuk menjawab gugatan-gugatan yang ditujukan kepada ilmu ini pada masanya. Salah satunya, perdebatan panjang dan sengit sebelum akhirnya ilmu sosial diterima di NSF. Para anggota kongres AS menyampaikan berbagai kondisi ilmu sosial yang menurut mereka memberatkan mereka untuk mencurahkan pendanaan dari uang para pembayar pajak. Senator Thomas C. Hart menganggap tidak ada kesepakatan tentang apa itu ilmu sosial. Senator Robert A. Taft bahkan menganggap ilmu sosial sebagai politik untuk memperoleh legislasi bagi aktivitas apa pun yang berada di bawah payung keilmuannya yang menurutnya sama sekali tidak ketat. Dan Senator H. Alexander Smith, sejalan dengan itu, mengatakan penelitian sosial sama sekali berbeda dengan penelitian ilmiah yang murni dan tidak tendensius. “Kami hendak menyubsidi ilmu murni, penemuan kebenaran,” tutur Smith (Haney, 2006: 30-32).
fondasi konseptualnya hingga ke nilai-nilai keilmiahannya. Robert K. Merton, sebelum Harry M. Johnson, telah menekankan bahwa sosiologi adalah ilmu independen, tidak berkepentingan, dan utuh yang dibangun dengan merangkai studi-studi para pendahulunya (1949). Parsons sendiri, pertama, dalam pidatonya sebagai presiden ASA di tahun 1949 menyampaikan dibutuhkan “teori umum” yang dapat menjalin berbagai teori sosiologi yang disebutnya sebagai “pulau-pulau” dan menjadikannya gugusan yang terpadu atau ilmu yang akumulatif. Kedua, dalam tulisannya di jurnal Political Science Quarterly, ia menekankan NSF harus membantu ilmu sosial lantaran “permasalahan terbesar dari era kita bukanlah bagaimana mengontrol alam tetapi terkait stabilitas dan kemapanan keteraturan sosial” (1947). Dan di tahun 1951, terbitlah Social System, buku yang pengaruhnya hingga saat ini masih terasa kuat di belahan dunia yang jauh dari AS sekalipun.
Dibangun di atas fondasi teoretis yang telah dicetuskan Parsons sebelumnya dalam The Structure of Social Action—yang tak boleh dinafkan juga keberartiannya dalam konstruksi pendekatan sistem sosial6—The Social
System berangkat dari pertanyaan, “bagaimana keteraturan sosial dimungkinkan?” Kehidupan sosial pada dasarnya tersusun dari tiga sistem yang diakui Parsons saling bersandar namun independen, sistem kepribadian (mewakili keberadaan manusia), sistem kebudayaan, dan sistem sosial. Nah, keteraturan dimungkinkan lantaran ketiganya selalu saling memenuhi kebutuhan dan menjaga keberadaannya masing-masing lewat keterjalinan struktural-fungsional satu sama lain. Individu-individu lewat tindakannya masing-masing, dalam sistematika berpikir Parsons, sebenarnya berpartisipasi dalam menjaga keberlangsungan kesatuan sosial; sebab ia memiliki kebutuhan yang dapat terpenuhi seketika ia melayani kebutuhan tatanan masyarakat agar tetap padu dan berjalan (Parsons, 1951: 23-29). Di kemudian hari bersama Bales dan Shils, Parsons menyusun skema AGIL, empat prasyarat sistem sosial—Adaptation, Goal-Attainment, Integration,
Latency (Pattern Maintenance)—yang harus dipenuhi dan tanpanya suatu masyarakat yang baginya identik dengan keteraturan tak akan terwujud (Parsons, Bales & Shils, 1953). Bisa kita lihat, Parsons merasa skema-skema yang objektif dari masyarakat mungkin untuk dibangun sebagaimana ilmu alam karena adanya gerak yang konsisten dari waktu ke waktu menuju ketertataan. Meski pendekatannya yang melibatkan bagaimana tindakan terkoneksi dengan masyarakat menjadikan pemikiran Parsons lebih jeli terhadap aspek manusia dibandingkan Durkheim, namun lantaran menempatkan keteraturan sosial sebagai awal dan akhir yang mutlak menentukan keseluruhan proses, pemikirannya berputar kembali dalam teleologi masyarakat sebagai suatu kefaktaan di atas sana.
Kembali ke buku-buku teks sosiologi kita, kita akan menemukan betapa Soemardjan memandang sosiologi sistem sosial sebagai sosiologi itu sendiri. Pada bab ketiga Setangkai Bunga Sosiologi, yang mengangkat tema kebudayaan, Soemardjan bersama Soemardi menegaskan batasan disiplin sosiologi dengan membedakannya dengan antropologi; kalau asumsi teoretis
6 Poin pemikiran dari buku ini yang terlihat jelas kesinambungannya dalam The Social
antropologi adalah determinisme kultural, sosiologi berpegang pada determinisme sosial “dengan maksud, bahwa unsur-unsur kemasyarakatanlah yang mendorong para anggauta masyarakat untuk menyesuaikan diri dalam sikap, cara berfkir dan peri kelakuannya pada lingkungan kemasyarakatannya” (1964: 114-5). Meski Soemardjan tampak sebatas berupaya membantu pembacanya membedakan antara sosiologi dengan antropologi, namun tanpa disadari komparasi ini bisa menjerat pembacanya dalam pemikiran bahwa membicarakan sosiologi sama dengan membicarakan bagaimana tatanan sosial membentuk laku seseorang. Pada bab sebelumnya, bab kedua, Soemardjan bahkan lebih jauh lagi mendefnisikan kontrol sosial lembaga kemasyarakatan sebagai sesuatu yang memungkinkan setiap orang “dapat mengatur peri kelakuannya menurut kehendak masyarakat” (1964: 63). “Kehendak masyarakat”—idiom yang sebetulnya daya konseptualnya kalah dengan daya metaforiknya ini meluncur begitu saja tanpa penjelasan selayaknya sebuah asumsi yang sudah diterima. Dan pada bab empat, ketika harus menjelaskan tentang konfik, Soemardjan sepintas mengutip Coser untuk menjelaskan bahwa konfik pun memiliki fungsi bagi masyarakat.
Dari paparan satu ke paparan lain, dari diskusi teoretis ke ulasan sepintas isu aktual, pembaca didorong Soemardjan untuk mengimajinasikan dinamika dalam kebersamaan kita dengan yang lain sebagai suatu petunjuk adanya suatu kekuatan yang melayang di atas individu. Inilah masyarakat. Keberadaannya yang mengatasi individu-individu membuat para anggota masyarakat tak bisa berbuat sekehendak mereka, namun harus seturut atau berjalin dengan kehendaknya: keteraturan. Dan dengan kata lain, dalam upayanya memperkenalkan sosiologi kepada para peminat disiplin ini di Indonesia, Soemardjan menjadi jalan masuk habitus berpikir para ilmuwan sosial Harvard 1950-an yang membayangkan kehidupan bersama sebagai suatu entitas yang terpisah dari diri manusia, beroperasi dengan sendirinya menyusun ketertataan, dan bisa ditangkap dengan pendekatan ilmiah kepada rekan akademiknya, kliennya, maupun mahasiswanya di Indonesia.
pemikirannya, pun menempatkan model pembangunan modernisasi dalam kedudukan yang mulia pada diskusi-diskusi teoretisnya. Mengutip Robert Bellah, murid Parsons, modernisasi “merupakan proses yang menciptakan segala hal yang baik: demokrasi, kemakmuran—singkatnya, sebuah masyarakat yang baik. Sebagaimana masyarakat kita [AS]” (Gilman, 2007: 66).
Barisan ilmuwan sosial pendukung modernisasi ini cukup gamblang dalam mensugesti model pembangunan AS lewat resep-resep konseptualnya, yang tak jarang membersitkan perasaan kontradiktif lantaran mereka sendiri telah berkomitmen memegang prinsip bebas-nilai. Parsons sampai berani mengatakan sejauh bahwa masyarakat modern demokratis merupakan sistem sosial paling unggul lantaran kapasitasnya melembagakan kebebasan pada tingkatan yang jauh melampaui masyarakat-masyarakat periode sebelumnya (Parsons, 1971: 114). Dalam The Social System, ia sempat pula memvonis bahwa sistem totaliter Soviet akan hancur seiring kekakuan strukturalnya tak dapat lagi mengakomodasi perkembangan internal dan eksternalnya (1951: 357). Dan di antara konseptualisasi keunggulan modernisasi yang paling tersohor, salah satunya adalah butir-butir siapa manusia modern rumusan Alex Inkeles yang masih terhitung sebagai peneliti dari Department of Social Relations dan, sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas, kita dapat menemukan soal terkait konsep ini dalam simulasi ujian UN di Indonesia juga pada buku Soekanto. Berbeda dengan manusia tradisional, menurut Inkeles, manusia modern, berdasarkan survey terhadap 5.600 pemuda di enam negara berkembang (Inkeles, 1969: 212)
1. Terbuka terhadap pengalaman baru
2. Menegaskan kebebasannya dari sosok otoritas tradisional
3. Percaya terhadap kekuatan ilmu pengetahuan dan pengobatan modern, meninggalkan sikap hidup “pasif”
4. Ambisi pekerjaan dan profesional yang tinggi 5. Memiliki preferensi untuk tepat waktu
6. Ketertarikan yang kuat dan keterlibatan aktif dalam urusan dan politik kewargaan dan komunitas
7. Berusaha untuk mengikuti berita, khususnya berita internasional
pola pembangunan Barat yang demokratis dan terbuka negara-negara muda dapat menghindari terperosok ke pola pembangunan yang cacat—yakni model pembangunan Soviet yang mengungkung kebebasan individu—dan bergerak menuju demokrasi dan pasar bebas. Hanya dengan begitu suatu negara memungkinkan warganya untuk mengekspresikan kediriannya serta menggenggam bahkan mengembangkan kedaulatannya yang tak henti-henti diumbar para modernis AS sebagai hakikat sejati manusia.
Lantaran begitu mantapnya keterpatrian modernisasi dalam konsep-konsep sosiologi di AS, cara berpikir ini pun, meski minus elu-elu tanpa rasa ironis ilmuwan sosialnya, terbawa oleh Soemardjan kepada publik pembacanya. Dan sebagai seseorang yang bersentuhan dekat dengan dunia kepemerintahan di Indonesia (sebelum menerbitkan Setangkai Bunga Sosiologi, Soemardjan telah terlibat di beberapa kantor pemerintahan) dan berada di lingkungan FE UI (ia diangkat sebagai guru besar sosiologi di FE UI), bukan hal yang mengherankan kalau konsep-konsep sosiologi yang baginya membantu untuk merumuskan kebijakan dan pembangunan lebih menonjol di matanya, dan pada wilayah-wilayah tersebut muatan ideologi modernisasi mengendap dengan kental.
Pada bagian stratifkasi masyarakat yang menjadi bab lima buku Soemardjan yang ditulis bersama Soemardi dan bab enam buku yang disusunkan Soekanto, terdapat penekanan pada perbedaan antara sistem masyarakat yang tertutup di mana status seseorang sudah ditentukan sejak lahir dengan sistem masyarakat terbuka di mana anggotanya dapat berusaha dengan kecakapannya pribadi untuk meningkatkan kedudukannya. Seiring konsep ini dijelaskan Soemardjan, timbulnya kesan bahwa masyarakat tertutup bukan pilihan ruang sosial yang nyaman untuk ditinggali tak terhindarkan. Dan tanpa perlu diumbar pun sudah jelas bahwa masyarakat tertutup mencerminkan masyarakat tradisional, sementara masyarakat terbuka yang lebih menyediakan kebebasan, ruang berkreasi, manusiawi merupakan masyarakat modern.
Kemudian pada bab tentang kekuasaan dan wewenang di kedua buku Soemardjan, yang secara substansial masih berkesinambungan dengan paparan tentang stratifkasi masyarakat, penulis memilah antara pelaksanaan kekuasaan pada masyarakat kecil dengan masyarakat kompleks; yang satu terpusat dan tidak dapat dibedakan antara kekuasaan itu sendiri dengan pemegangnya, dan yang lain dilaksanakan dengan didistribusikan pada beberapa golongan. Soemardjan lantas mengutip Max Weber, bahwa pada masyarakat kecil kekuasaan dapat dilaksanakan dengan tradisional, disokong oleh norma dan nilai serta diwariskan secara turun-temurun, sementara pada masyarakat yang sudah semakin berkembang, ini tak dimungkinkan lagi. Otoritas tradisional kemudian berkembang menjadi otoritas karismatik yang, dengan ilustrasi Indonesia pada masa revolusi 1945, memungkinkan golongan-golongan yang berbeda bersatu. Pada tahapan selanjutnya, karisma ini dirutinisasi dan menjadi kekuasaan yang legal. Menyitir Reinhard Bendix, pada saat birokrasi sudah dewasa ia pun dapat mengerjakan fungsinya mengelola masyarakat seperti mesin yang berjalan lancar dan lepas dari pengaruh-pengaruh politik maupun personal.
berpikir sosiologi Parsonian yang diintrusi modernisasi dengan perantara Soemardjan—ditempatkan pada kondisi yang tak bisa memilih selain model masyarakat modern. Dihadapkan dengan dua model yang berbeda tajam, satu dilekatkan dengan segala yang dikemas sebagai sifat buruk dan yang lain dilekatkan dengan segenap kebalikannya, siapa yang bisa memilih? Ini juga problematik dalam hal ini lebih menyerupai upaya menyusun kriteria-kriteria masyarakat idaman dan tidak melibatkan analisis yang mendalam. Segenap kriteria positif tersebut merupakan impresi yang bisa kita tangkap dari permukaan kehidupan sosial di suatu masyarakat dan mandeg sampai sini. Ia tak melihat sampai sejauh bagaimana masyarakat modern ini dicapai lewat proses yang tidak manusiawi dalam kriteria modernitas itu sendiri, mode produksi yang menyangganya yang melibatkan eksploitasi ekonomi, serta tatanan kekuasaannya yang dipertahankan dengan kekerasan-kekerasan pada level yang bahkan mengglobal. Singkatnya, gambaran-gambarannya ahistoris dan tidak memiliki basis materiil. Upaya kurang hati-hati para sosiolog untuk mengobjektivasi masyarakat AS sebagai proyeksi masa mendatang masyarakat-masyarakat berkembang justru berujung pada terkorbankannya koherensi epistemologis mereka, dan teks Soemardjan hingga ke titik ini pun tetap menjadi perantara yang baik dari logika sekaligus ketidaklogisan wacana modernisasi ke Indonesia dalam motifnya untuk mengajarkan cara mempelajari masyarakat yang ilmiah kepada khalayak di negerinya.
Kalau kita mengatakan nilai-nilai modernisasi bekerja secara terselubung di balik klasifkasi-klasifkasi sosiologis di atas, dalam bab delapan buku yang disusun Soekanto, “Perubahan Sosial dan Kebudayaan”, wacana tersebut menampakkan dirinya dan beroperasi dengan terbuka. Dalam menjelaskan perubahan sosial, keterangan waktu adalah sesuatu yang mau tak mau dieksplisitkan untuk menggambarkan prosesnya. Nah, penanda waktu itu sendiri sudah kerap dimetaforakan sebagai kekuatan tanpa ampun yang memaksa semua melaju ke depan. Ketika diiringkan dengan modernisasi, ia pun memperkuat kualitas kefaktaan atau objektivitas dari wacana ini; bahwa bila hukumnya semua yang ada di bawah kuasa waktu harus melaju ke depan, maka modernisasi menyediakan perjalanan yang menapak ke atas, mencapai diri dambaan, meninggalkan masa lalu yang arkaik.
Meski Soemardjan, setidaknya dalam teks-teksnya, tak menunjukkan pretensi menjalankan misi moralistis untuk mengangkat derajat masyarakat berkembang, gambaran teori modernisasi pada pengantar-pengantar sosiologi ini sudah cukup untuk merengkuh pembaca ke dalam koridor berpikirnya seketika mereka mengakui bahwa Indonesia memang sedang berusaha menuju kemajuan dan prasyarat kondisi serta problem untuk mencapainya yang dipaparkan Soemardjan memang demikian adanya. Misal, ketika Soemardjan menyampaikan bahwa laju perubahan dalam masyarakat senantiasa berpotensi tidak serasi antara satu aspek dengan aspek lainnya. Bila kebudayaan tertinggal dalam laju perubahan dan menyebabkan perubahan tidak seperti yang direncanakan, ini, mengutip William F. Ogburn, adalah cultural lag. Dicontohkan Soemardjan, praktik pencurian listrik yang menyebabkan para konsumen listrik di Jakarta tahun 1963-1966 merupakan ketidakserasian antara norma-norma kesejahteraan masyarakat dengan kondisi perlistrikan yang terjadi. Konsep semacam cultural lag ini sebenarnya tidak menunjukkan masalah, tetapi mengkonstruksi apa yang awalnya tidak bermasalah sebagai sesuatu yang bermasalah dan menanamkan perasaan tidak nyaman bagi seseorang dari masyarakat luar Barat untuk tetap berada di dalam kulturnya.
Soemardjan lantas menyampaikan sejumlah faktor yang menjadi syarat modernisasi (Soekanto, 1982: 306-307), yakni
1. Cara berpikir yang ilmiah
2. Sistem administrasi negara yang baik
3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur
4. Penciptaan iklim yang favorable dari masyarakat
5. Tingkat organisasi yang tinggi
6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan social planning
bahwa ia dapat belajar memanfaatkan dan menguasai alam alih-alih bersikap pasif (hal 296-98).
Teori-teori modernisasi ini sangatlah problematis. Perbedaan spasial sama sekali tidak diindahkan, seakan satu-satunya perbedaan utama antarmasyarakat hanyalah perbedaan tahapan dalam satu rentangan garis evolusi yang sama: tradisional atau modern. Bagaimana dengan masyarakat pesisir, misalnya, yang sejak abad-abad yang lampau pun punya pergerakan dinamis yang merupakan ciri masyarakat modern? Teori ini memiliki nyaris semua kecacatan sebuah ideologi bila diuji secara argumentatif dan empiris; ketidakjelian, kecenderungan memukul rata semua fenomena, keyakinan yang berlebihan terhadap suatu narasi. Namun, memang, mengatakan bahwa modernisasi yang berjalin-kelindan dengan teori keilmuan ini bersumber dari dunia ilmu sosial AS tidak sepenuhnya tepat. Perpaduan ini telah ada setidaknya sejak periode awal mula sosiologi di Eropa. Masing-masing tokoh yang dikenal sebagai pendiri sosiologi, Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, berupaya menteorikan tahapan-tahapan masyarakat dan upaya merangkum—serta tentunya, memetaforakan—gerak sejarah dalam seutas garis lurus panjang dengan sendirinya mengecilkan segala perbedaan dan kemungkinan lain dalam kehidupan sosial di bawah diskriminasi temporal. Hanya saja tidak semua sosiolog utama Eropa ini menganggap modernisasi berakhir pada suatu masyarakat impian. Marx dan Durkheim menyorot bagaimana kondisi modern yang mereka alami di Eropa menggantikan relasi hangat pada periode masyarakat sebelumnya dengan relasi yang impersonal. Lebih jauh, Weber bahkan menganalogikan masyarakat modern sebagai penjara besi. Perasaan ironis inilah yang sama sekali tidak dimiliki Parsons, Bellah, Rostow,7 dan lain-lainnya sebagai aktor
utama sosiologi AS di masa Perang Dingin, dan teks Soemardjan, meski tidak memperlihatkan gairah yang sama tingginya, tetap menyampaikan sosiologi yang sepenuhnya mempercayai proyek modernisasi.
Sejak Awal Hidup dalam Tatanan Sosial Terjemahan
Nah, setelah mengevaluasi logika pemikiran sosiologi utama AS pasca-Perang Dunia Kedua dan lelaku penerjemahan Soemardjan, kita kembali ke rasa penasaran yang tercetus di awal tulisan ini. Dengan mengantarkan para pembacanya kepada teks-teks yang sugestif, menjerat, serta erat keterjalinannya dengan kepentingan ekonomi-politik AS, bukankah tindakan Soemardjan ini sedang bekerja sebagai medium menyebarnya kekuasaan yang lebih besar? Pernyataan ini semakin terasa benar ketika melihat sosiologi yang dibawakan Soemardjan pada banyak kesempatan memberikan legitimasi keilmuan bagi kebijakan Orde Baru yang memihak pada blok Barat AS, dan asumsi ontologisnya tentang masyarakat seperti berjalan beriringan dengan rezim yang begitu menekankan stabilitas ini. Baik dari penjabaran modernisasi sebagai proses menuju tingkat organisasi dan ketertataan yang tinggi hingga kriteria masyarakat ideal yang kabur batasannya dengan konsepsi subjek berdaulat, apa yang ditawarkan oleh cara berpikir sosiologi
yang diperkenalkan Soemardjan ini seakan mengisi kebutuhan Orde Baru akan pandangan ilmiah yang bisa menjustifkasi keberadaannya.
Orde Baru terbentuk mengikuti periode Demokrasi Terpimpin dan demokrasi liberal yang mana yang pertama citranya lekat dengan krisis ekonomi, dan yang kedua terasosiasi dengan konfik politik serta instabilitas pemerintahan. Tak terhindarkan karenanya, pemulihan ekonomi dan keteraturan menjadi penanda yang punya daya tarik di hadapan masyarakat luas di Indonesia sekaligus dasar-dasar dari retorika Orde Baru yang aparatur-aparaturnya mencoba menampilkan diri sebagai juru selamat yang mengatasi masalah-masalah tersebut. Koentjaraningrat, sebagai pelaku ilmu sosial Indonesia yang mencerap kondisi ini, menyampaikan beberapa orientasi urgen bagi sosiologi dan antropologi setelah 1965: integrasi nasional, pertambahan penduduk, perubahan sosio-budaya, pendidikan, pembangunan komunitas, reorganisasi administrasi (Koentjaraningrat, 1975: 179-80). Karenanya, memang ada kondisi yang mendukung pengembangan wacana yang membangun perasaan dan imajinasi pentingnya keteraturan serta kemajuan ekonomi.
Selain menyuratkan dan menyiratkan bahwa masyarakat pada dasarnya adalah keteraturan, Soemardjan lebih jauh tak ragu menyampaikan pandangan-pandangan bahwa negara merupakan agen yang memungkinkan stabilitas, wujud hakiki masyarakat, terjaga. Dan selanjutnya, Soemardjan menjelaskan bagaimana ini dilangsungkan. Dalam Setangkai Bunga Sosiologi, ia mengungkapkan bahwa kontrol sosial merupakan mekanisme untuk menjaga norma kolektif dari pelanggaran dan mempertahankan keselarasan di antara stabilitas dan perubahan dalam masyarakat, dan ini bisa dijalankan lewat kebijakan preventif, represif, atau koersif (Soemardjan & Soemardi, 1973: 179-83). Kemudian dalam Sosiologi Suatu Pengantar, Soemardjan menegaskan bahwa negara merupakan agen dari kontrol sosial tersebut (Soekanto, 1982: 180) dan menunjukkan bagaimana peran negara memungkinkan perubahan diarahkan ke jalur yang dikehendaki; contohnya, modernisasi dilangsungkan lewat rencana pembangunan lima tahun yang dimulai Orde Baru sejak 1 April 1969 (hal 303). Seiring mengafrmasi kembali modernisasi sebagai langkah tanpa alternatif untuk menggapai kemajuan, negara ditempatkan selaku penjaga langkah-langkah untuk mendirikan masyarakat Indonesia dengan citra Barat yang efsien, rasional dan teratur. Dan dengan mengatakan bahwa pembangunan merepresentasikan penyaluran kehendak masyarakat lewat kebijakan para pemimpinnya dengan pandangan masyarakat melewati proses perubahan sebagai organ yang interdependen (hal 378-82), Soemardjan sudah menampik realitas kebijakan Orde Baru tersebut sebagai sesuatu yang perancangan, pelaksanaan, dan pengawasannya hanya melibatkan segelintir aktor demi keutuhan logika berpikir sistem sosial.
bahwa masyarakat di samping keteraturan juga entitas yang irasional karena pergolakannya dapat membahayakan sumber keberadaannya sendiri maupun langkah-langkahnya menuju kemajuan, dan implikasi dari ini dengan sendirinya adalah negara terposisikan sebagai sang penjaga yang netral dan otoritatif.
Aparatur pemerintahan sendiri, seirama dengan itu, memang kerap menampilkan diri sebagai representasi dari pembawa ketertiban, stabilitas, dan disiplin bagi bangsa ini. Ali Moertopo, ambillah, menekankan bahwa di bawah kepemimpinan militer, ancaman-ancaman disintegrasi berhasil disingkirkan; lembaga militer mampu bersikap netral dan sanggup mengesampingkan perbedaan ideologis sehingga tepat menjadi pemimpin dari bangsa (Said, 2006: 24). Sebagai rezim dengan pencitraan diri yang rasional, disiplin, dan punya tekad, mereka memandang dirinya lebih unggul dibandingkan kelompok sipil yang dianggap tidak sanggup mengurusi dan mengatur diri sendiri serta mandeg karena selalu berseteru satu sama lain.
Kelekatan antara cara pandang Soemardjan dengan kekuasaan semakin kentara ketika kita meraba sebagai apa ia menempatkan dirinya dalam teks-teksnya—seberapapun penulisnya berusaha menjaga jarak atau mengaburkannya, keberadaan aku dalam sebuah teks tidak dapat benar-benar dihilangkan. Aku dalam teks-teks pengantar Soemardjan mengambil kedudukan sebagai seorang pengamat dengan kemampuan menerawang masyarakat sebagai sebuah objek tunggal yang utuh dari kejauhan. Dalam merunut metode-metode pemecahan masalah sosial, sang pengamat mengatakan ada metode preventif dan represif (Soekanto, 1982: 346). Meski tak dijelaskannya secara rinci, kemudahannya dalam menyampaikan opsi penggunaan metode represif, seakan sesuatu yang lazim, memperlihatkan sang pengamat berpikir dari sudut pandang seseorang yang dekat dengan pemegang wewenang kekerasan yang legal dan rutin menggunakannya untuk meredam pergolakan masyarakat. Ini tak lain adalah negara. Berbagai saran untuk memajukan masyarakat yang telah kita runut di atas pun hanya mungkin dilaksanakan oleh pelaksana kebijakan yang efektif, memperlihatkan penulis ketika menuliskan ini membayangkan dirinya berada di lingkungan kekuasaan. Dan untuk memperjelas semuanya: dalam pandangan Soemardjan, penelitian sosiologi harus membantu agen pembangunan untuk mengambil keputusan yang tepat dan rasional (Soekanto, 1982: 358-63).
ditampilkan sebagai pihak yang mengambil keputusan dengan kepala dingin, santun, diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh PKI, dan membawa stabilitas serta pemulihan sesegera ia naik menguasai keadaan.
Menggoda, memang, pada akhirnya untuk meringkus proses produksi pengetahuan sosiologi yang kita teliti ini sebagai lelaku yang dikooptasi oleh kekuasaan untuk menjadi aparatus ideologisnya. Namun setidaknya ada dua problem sebelum kita boleh menganggap pandangan yang demikian terbukti jitu untuk kasus kita. Ada bukti-bukti empiris dan masalah keterandalan teoretis yang menghadangnya.
Buku Setangkai Bunga Sosiologi pertama kali diterbitkan pada tahun 1964 sebagai inisiatif mengisi kekosongan buku teks sosiologi untuk pengajaran di UI. Saya meragukan kalau-kalau ada motif yang melampaui ini. Kendati Soemardjan diangkat sebagai guru besar di Fakultas Ekonomi UI pada 1963 dan berada dalam lingkungan yang dekat dengan sosok-sosok yang nantinya menjadi teknokrat penentu di era Orde Baru, pada tahun-tahun ini mereka belum memiliki pengaruh politik yang bisa dibandingkan dengan beberapa tahun mendatang. Lagipula, pada saat itu sarana dan fasilitas masih minim untuk menyelenggarakan pengajaran sosiologi. Jurusan sosiologi baru akan didirikan pada tahun 1965.
Pada saat buku ini diterbitkan pada tahun 1964, pada kata pengantar dituliskan buku ini diharapkan dapat berkontribusi bagi revolusi Indonesia, sementara pada terbitan selanjutnya, tahun 1971, disebutkan harapan agar buku ini berguna bagi pembangunan Indonesia. Meski dengan kata pengantar yang berganti, mencerminkan perubahan rezim, substansi bunga rampai ini tetaplah sama dari edisi ke edisi. Bahkan pada cetakan tahun 1973, karangan Marx dan Lenin di dalam buku ini tak mengalami penyensoran. Artinya, kalau kita berbicara tentang kekuasaan sebagai kekuatan untuk memaksa secara langsung, lewat aparatur negara, misalnya, kekuasaan yang seperti itu kemungkinan besar tidak bekerja pada buku ini. Begitu juga dengan buku Sosiologi Suatu Pengantar; dengan sistematika konseptual yang nyaris sama dengan buku Soemardjan sebelumnya, kita bisa meragukan buku yang terbit setelah masuk ke periode Orde Baru ini mengalami intrusi kekuasaan negara. Kendati ada bagian yang menjabarkan tentang pembangunan dan menempatkan Orde Baru selaku aktor dalam ilustrasinya, sebagai sebuah paradigma berpikir ia tak mendapati penambahan atau pengurangan yang berarti dibandingkan buku pertama.
diterjemahkan secara masif di abad ke-20 untuk menamai dan membentuk kehidupan bersama di mana-mana: negara. Jadi kehidupan bersama yang disebut Indonesia ini ditandai sebagai negara, kemudian mengalami perlakuan materiil sebagai negara—mengangkat negara dari wujudnya sebagai konsep abstrak menjadi kenyataan—dan, akhirnya, interaksi saling melegitimasi antara konseptor-konseptor asal pendekatan sosiologi sistem sosial dengan konsep besar state inilah yang dalam praktiknya menyebabkan cara berpikir yang dibawakan Soemardjan terkesan dekat dengan kekuasaan; cara berpikir sistematik terjemahan dari Barat melegitimasi konsep tatanan sosial beserta format pelaksanaan kekuasaannya yang juga terjemahan dari Barat. Atau, untuk mengatakannya secara lebih konkret, di antara cara berpikir sosiologi AS dengan kelompok audiens pembaca terjemahannya di Indonesia sudah terdapat kesamaan konsep dan persepsi tentang tatanan kehidupan bersama beserta metode mengelolanya dan nilai-nilai idealnya yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh berbagai kekuatan serta peristiwa historis. Kita bisa mendapati, sebagai contoh, idealisme diri yang berdaulat digaungkan begitu masif oleh pergerakan-pergerakan nasional prakemerdekaan. Kita juga bisa melihat pada retorika-retorika yang mengedepankan rasionalitas dan ketertataan rezim militer Orde Baru terdapat nilai-nilai bagaimana negara modern sebaiknya dikelola. Kemudian datanglah pemikiran yang dijembatani Soemardjan dengan motif sederhana memperkenalkan disiplin bernama sosiologi ke Indonesia, dan disadari sang perantara atau tidak substansinya sangat meyakini keteraturan sebagai kondisi ontologis kehidupan bersama serta optimistis bahwa modernisasi, yang menjanjikan masyarakat ke depannya akan kian terorganisir serta efektif, akan membawakan masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, di saat yang sama lelaku memerantarai pengetahuan ini meletakkan fondasi bagi cara berpikir sistematik maupun pelembagaan sosiologi di Indonesia, ia membantu menabalkan kualitas kebenaran dari wacana tatanan sosial yang telah terlebih dahulu diterjemahkan ke Indonesia dan sudah memperoleh kedudukan sebagai referen besar.
menjaganya. Dan ini juga menjelaskan mengapa pada waktu-waktu tertentu Soemardjan mengkritik pemerintahan di Indonesia. Pada dasarnya, rezim di Indonesia itu sendiri bukanlah perwujudan ideal dari nilai-nilai yang tertanam pada cara berpikir Soemardjan. Hanya saja, dalam beberapa aspek pemikirannya berpadanan dengan ideologi militer aparatur Orde Baru seperti pada bagian-bagian yang menekankan pentingnya rasionalitas dalam mengelola masyarakat dan stabilitas.
Barangkali segenap penjelasan ini terkesan memperumit persoalan simpel diseminasi pengetahuan, namun upaya untuk menelusuri proses reproduksi gagasan tanpa menggeneralisasi gagasan sebagai atom dari struktur inti yang berkuasa dalam kasus kita memang mau tak mau menuntut kita untuk mengindahkan kompleksitas dinamika sosial pengetahuan yang demikian. Tanpa mengindahkan proses penerjemahan beserta sifat otonom atau objektif dari objek yang hendak diterjemahkan dan hasil terjemahan, kita akan kehilangan jejak subjektivitas dan intersubjektivitas yang menjadi energi riil dalam produksi pengetahuan terkait dan menghadirkannya di Indonesia. Tanpanya, kita rentan terperosok pada problem kedua dari tesis yang mengatakan kekuasaan secara langsung memproduksi pengetahuan: lenyap kemana aktivitas dari para produsen dan distributor dari pengetahuan itu sendiri? Tak mungkin, toh, pengetahuan terkait bergerak dengan sendirinya hingga ke titik di mana ia mendekam dalam benak sekelompok individu tertentu?
Selain problem keterandalan teoretis tersebut, betapapun pasifnya keberadaan Soemardjan di hadapan pengetahuan sosiologi AS, misal bila dibandingkan dengan para pemikir alternatif yang melucuti narasi yang berada di balik teori Barat, subjektivitasnya tetaplah sesuatu yang sama sekali tak bisa kita nafkan ketika sedang berbicara perihal asal-usul cara berpikir sosiologi di Indonesia. Keterpaparannya terhadap wacana sosiologi AS beserta bias-biasnya dimungkinkan dengan pengalaman serta peristiwa yang hanya akan menjadi milik Soemardjan; belum lagi bila kita berbicara tentang mengapa Soemardjan cenderung menyorot konsep-konsep makro seperti perubahan sosial, modernisasi, pembangunan ketimbang yang mikro tentu tak lepas dari pengalaman dan keterlibatannya dengan jejaring pemerintahan serta para ekonom koleganya. Artinya penerimaan pasif atau nonrefektif seseorang terhadap suatu pemikiran tak semestinya menjadi alasan kita untuk menyederhanakan atau bahkan meniadakan keberadaan atau signifkansinya dalam proses sosial pengetahuan; diseminasi pengetahuan bukanlah proses yang berjalan semudah yang benar mengalahkan yang keliru, atau yang lebih dekat dengan kekuasaan dapat menulis sejarah. Dan kita telah melihatnya: di sisi lain dari reproduksi paradigma sistem sosial oleh Soemardjan adalah peletakan dasar dari cara berpikir sosiologi di Indonesia. Tanpa Soemardjan pernah menjalani peristiwa-peristiwa yang nyaris tidak dialaminya, kita bisa meragukan akan ada pelembagaan cara berpikir sosiologi di Indonesia dengan wajahnya yang seperti saat ini.
Antlöv, Hans. 2006. “Kata Pengantar” dalam Ilmu Sosial dan Kekuasaan di
Indonesia. Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae (eds.). Jakarta: Equinox Publishing Indonesia and Ford Foundation, p. xv-xviii.
Turner, Jonathan H. 2007. “Sociological Theory in the 21st Century” dalam
21st Century Sociology: A Reference Handbook. Clifton D. Bryant dan Dennis L. Peck (eds.). London: Sage Publications, p. 45-59.
Bourdieu, Pierre. 1991. “Epilog” dalam Social Theory for a Changing
Society. Pierre Bourdieu dan James S. Coleman (eds.). Boulder, CO: Westview Press, p. 378–79.
Buzelin, Helene. “Translation Studies, Ethnography and the Production of
Knowledge” dalam In Translation – Refectionss Refractionss Transformations. Paul St-Pierre dan Prafulla C. Kar. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company, p. 39-56.
Dhakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde
Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gerhardt, Uta. 2002. Talcott Parsons: An Intellectual Biography.
Cambridge: Cambridge University Press.
Gieryn, Thomas F. 1999. Cultural Boundaries of Science: Credibility on the
Line. Chicago: The University of Chicago Press.
Gilbert, Geof. 2004. Before Modernism Was: Modern History and the
Constituency of Writing. New York: Palgrave Macmillan.
Gilman, Nils. 2000. Paving the World with Good Intentions: The Genesis of
Modernization Theory. Disertasi Doktoral University of California Berkeley.
---. 2003. Mandarins of the Future: Modernization Theory in Cold War
America. Baltimore: The John Hopkins University Press.
Gouldner, Alvin W. 1970. The Coming Crisis of Western Sociology. London:
Heinemann Educational Books Ltd.
Hadiz, Vedi R. dan Daniel Dhakidae. 2006. “Kata Pengantar” dalam Ilmu
Sosial dan Kekuasaan di Indonesia. Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae (eds.). Jakarta: Equinox Publishing Indonesia dan Ford Foundation, p. 1-30.
Haney, David. 2008. The Americanization of Social Science: Intellectuals
and Public Responsibility in the Postwar United States. Philadelphia: Temple University Press.
Heryanto, Ariel. 2006. “The Ideological Baggage and Orientations of the
Social Sciences in Indonesia” dalam Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia. Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae (eds.). Jakarta: Equinox Publishing Indonesia dan Ford Foundation, p. 1-30.
Inkeles, Alex. 1969. “Making Men Modern: On the Causes and
Consequences of Individual Change in Six Developing Countries”.
American Journal of Sociology 75, 2, p. 212.
Kleden, Ignas. 1997. “Ilmu Sosial di Indonesia: Tindakan dan Refeksi
dalam Perspektif Asia Tenggara” dalam Ilmu Sosial di Asia Tenggara. Nico Schulte Nordholt dan Leontine Visser (eds.). Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, p. 10-40.
Kuhn, Thomas S. 1962. The Structure of Scientifc Revolutions. Chicago:
The University of Chicago Press.
Latour, Bruno. 1987. Science in Action: How to Follow Scientists and
Engineers through Society. Cambridge: Harvard University Press.
Latour, Bruno. 1993. We Have Never Been Modern. Cambridge: Harvard
University Press.
McGregor, Katharine E. 2005. “Nugroho Notosusanto: The Legacy of a
Historian in the Service of an Authoritarian Regime” dalam Beginning to Remember: The Past in the Indonesian Present. Mary S. Zurbuchen (ed.). Singapore: Singapore University Press, p. 208-32.
Merton, Robert K. 1949. Social Theory and Social Structure. Glencoe, IL:
Free Press.
Parsons, Talcott. 1937. The Structure of Social Action.
---. 1947. “Science Legislation and the Social Sciences” dalam Political
Sciences Quarterly 62, 2, p. 241-49.
---. 1951. The Social System. London: Routledge.
---. 1971. The System of Modern Societies. Englewood Clifs, NJ:
Prentice-Hall.
Parsons, Talcott, Robert F. Bales, dan Edward Shils. 1953. Working Papers
in the Theory of Action. New York: Free Press.
Platt, Jennifer. 1996. A History of Sociological Research Methods in
America 1920-1960. Cambridge: Cambridge University Press.
Philpott, Simon. 2000. Rethinking Indonesia: Postcolonial Theorys
Authoritarianism and Identity. Hampshire: MacMillan Press Ltd.
Poeponegore, Marwati Djoenoed dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah
Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Said, Edward W. 1978. Orientalism: Western Conceptions of the Orient.
London: Penguin Books.
---. 1994. Culture and Imperialism. London: Vintage.
Said, Salim. 2006. Soeharto’s Armed Forces: Problems of Civil Military
Relations in Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Samuel, Hanneman. 1999. The Development of Sociology in Indonesia: The
Production of Knowledges State Formation and Economic Change. Disertasi Doktoral Swinburne University of Technology.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
RajaGrafndo Persada.
Soemardjan, Selo dan Soelaeman Soemardi. 1973. Setangkai Bunga
Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sunarto, Kamanto. 1989. “Sosiologi” dalam Pengembangan Ilmu-ilmu
Sosial di Indonesia Sampai Dekade 80-an. Manasse Malo (ed.). Jakarta: PAU-IS-UI dan Rajawali Press, p. 301-8.
Turner, Ralph H. 1990. “The Many Faces of American Sociology: A
Discipline in Search of Identity” dalam The American 30, 6, p. 662-684.
Yusra, Abrar. 1995. Komat-kamit Selo Soemardjan. Jakarta: Gramedia