• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis Air Bersih di Malaysia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Krisis Air Bersih di Malaysia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Regionalisme Asia Tenggara

Krisis Air Bersih di Malaysia

Rizal Ramadhan Herman, 211000165

(2)

Regionalisme merupakan suatu kebijakan dan state project dimana negara dan aktor non-negara bekerjasama dan mengkoordinasikan strategi demi mencapai kepentingan dalam suatukawasan tertentu. Tujuan dari regionalisme adalah untuk mengupayakan dan mempromosikan tujuan-tujuan bersama dalam satu isu atau lebih. Meskipun dalam perkembangannya regionalisme selalu disertai anomali dinamika spesifik dalam tatanan geografis, politik, ekonomi, strategis, dan budaya di suatu kawasan, namun regionalisme juga berkembang dengan disertai norma-norma, tren, dan nilai nilai tertentu yang berlaku pada konstelasi kawasan(1).

Dengan difasilitasi oleh norma-norma bersama, institusi domestik dan interdependensi tingkat tinggi, negara di dalam sebuah komunitas regional mempunyai kecenderungan untuk bergabung dalam komunitas tersebut (terutama komunitas keamanan) dan mengharapkan perubahan secara damai. negara melihat diri mereka sebagai fundamental terkait dengan negara-negara lain, terikat oleh norma-norma umum, pengalaman politik, dan lokasi regional yang saling berdekatan(2).

Ide mengenai komunitas keamanan berhubungan dengan perspektif yang berupaya untuk melihat proses pembelajaran dalam lingkungan sosial dan pembentukan identitas dalam hubungan internasional yang didorong oleh adanya interaksi dan sosialisasi. Pengembangan teori komunitas keamanan pada masa pasca perang dunia II ditujukan untuk meningkatkan kerjasama tanpa adanya kekerasan dalam hubungan internasional. Proses itu memungkinkan sebuah proses damai dan melaui persepsi dan identifikasi para aktor. Dengan demikian dapat dijelaskan mengapa negara meningkatkan rasa saling ketergantungan dan responsivitas, mengembangkan rasa saling memiliki, dan menghindari penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik(3).

Proses regionalisasi merupakan sebuah tahapan pengintegrasian yang tidak dapat diipisahkan dengan interksi dari Negara-negara yang ada dalam sebuah kawasan. Hal ini tentunya didasarkan pada kepentingan dan terbangunnya kesadaran serta identitas bersama. Asia

1 Louise Fawcett, “Regionalism from Historical Perspective”, dalam Mary Farrel, et.al. (2005) Global Politics of Regionalism. London: Pluto Press, hal. 24.

2 G. John Ikenberry, Jitsuo Tsuciyama, (2002), “Between Balance Of Power And Community: The Future of Multilateral Security Cooperation In The Asia Pacific”, International Relations of The Asia Pacific 2(1): 88.

(3)

merupakan sebuah benua yang di dalamnya terdapat beberapa sub region dalam proses regionalisasi tersendiri. Asia tenggara merupakan sebuah kawasan yang mencirikan

regionalization style dan pola interaksi antar Negara di kawasan Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara sendiri, kita mengenal ASEAN (Association of South East Asia Nations) (4) yang merupakan organisasi regional di kawasan. ASEAN memiliki prosedur dan

decisions-making rules yang merepresentasikan kepentigan dari Negara anggotanya. Eksistensi ASEAN diianggap mampu menciptakan kohesivitas alami yang didasarkan pada intensitas interaksi. Dalam hal ini ASEAN tentunya menjadi wadah yang menjembatani hubungan antar Negara-negara anggota ASEAN.

Regionalisme di Asia Tenggara tidak lepas dari prinsip-prinsip regionalism yang terbangun dari intensitas interaksi yang ada. Dalam hal ini, terdapat beberapa perspektif dalam hubungan internasional yang menjelaskan regionalisme di Asia Tenggara seperti neorealisme berasumsi bahwa regionalisme di Asia Tenggara akan mendorong terjadinya distribuusi power dari entitas-entitas ASEAN yang kemudian akan berimplikasi pada terciptanya staabilitas kawasan. Neorealisme memandang bahwa Negara-negara ASEAN akan mengupayakan perimbangan kekuatan. Di lain hal, sebagai salah satu perspektif dalam hubungan internasional, Neoliberal berasumsi bahwa akumulasi dari hasil kolaborasi kebijakan luar negeri setiap Negara anggota ASEAN akan menghaskan manfaat terhadap Negara-negara di kawasan, seperti manfaat dibidang politik dan ekonomi. Kedua perspektif tersebut memandang bahwa konsep regionalisme akan memberikan kemajuan bagi ASEAN dengan mendorong pola integrasi.

Krisis Air Bersih

Di Asia Tenggara permasalahan krisis air bersih merupakan salah satu masalah lingkungan sama dengan hal yang terjadi di Malaysia, berdasarkan laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB, lebih tepatnya ke UNDP(5)) pada tahun 2006 negara di kawasan Asia

Tenggara seperti Indonesia, Laos, Myanmar dan Filipina tergolong Negara-negara yang mengalami krisis air bersih. Tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan warga di setiap Negara apalagi semakin bertambahnya populasi penduduk yang semakin padat. Seperti

4 http://www.asean.org/

(4)

yang disampaikan oleh Jacques Diouf6, Direktur Jendderal Organisasi Pangan dan Pertanian

Dunia (FAO), saat ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan seabad silam, namun ketersediaannya justru menurun. Akibatnya terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen penduduk bumi ini. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secar absolut. Kekurangan air telah berdampak negatif terhadap semua sektor, termasuk kesehatan. Tanpa akses air minum yang higienis mengakibatkan 3800 anak meninggal tia hari oleh penyakit. Begitu kompleksnya masalah ini sehingga para ahli berpendapat bahwa pada suatu saat nanti, akan terjadi “pertarungan” untuk memperebutkan sumber energy minyak dan gas bumi.

Menanggapi permasalahan lingkungan di Asia Tenggara, ASEAN sebagai organiasi regional sebenarnya telah memiliki Rencana Aksi Strategis ASEAN tentang Lingkungan Hidup pada 1994-1998(7), yang mendukung rekomendasi khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Agenda

21(8) tentang hak air bersih merupakan hak air bagi seluruh penduduk dunia tanpa terkecuali.

Disini dijelaskan bahwa hak untuk mendapatkan air bersih merupakan hak asasi manusia, sehingga privatisasi terhadap ketersediaan air harus menjadi kajian ulang karena dirasa merugikan masyarakat kelas menegah ke bawah. Menanggapi kekeringan yang terjadi pada sebagian Negara-negara di Asia Tenggara diadakan diskusi ASEAN People’s Forum(9) / ASEAN

Civil Society Conference(10) di Jakarta pada Mei 2011. Forum itu diikuti perwakilan masyarakat

(5)

Penyebab Kekurangan Air Bersih

Faktor utama krisis air adalah perlaku manusia guna mencukupi kebutuhan hidup yaitu perubahan tata guna lahan untuk keperluan mencri nafkah dan tempat tinggal. Sebagian besar masyarakat di Asia Tenggara menyediakan air minum secara mandiri tetapi tidak tersedia cukup informasi yang tepat terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan air, terutama tentang konservasi dan pentingnya menggunakan air secara bijak. Masyarakat masih menganggap air sebagai bedna sosial.

Populasi yang terus meningkat dan bertambah setiap tahunnya dan penyebara penduduk yang tidak merata membuat pemanfaatan sumber daya air bagi kebutuhan umat manusia semakin hari semakin meningkat. Hal ini merupakan akibat melonjaknya populasi penduduk yang tidak terbendung sehingga memeberikam konsekuensi logis terhadap upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya. Disatu sisi kebutuhan akan sumber daya air semakin meningkat pesat dan di sisi lain pula terjadi pencemara terhadap air yang mengakibatkan penurunan jumlah air bersih yang tersedia. Hal disebabkan oleh implikasi industrialisasi (akibat globalisasi) dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol serta penyebarannya yang tidak merata sehingga menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih bagi penduduk saat ini. Dan juga laju ledakan populasi inipun menyebabkan proses sanitasi air yang buruk sehingga berakibat fatal terhadap kualitas air yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.

Kerusakan lingkungan yang makin parah akibat penggudulan hutan merupakan penyebab utama kekeringan dan kelangkaan air bersih. Kawasan hutan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air (catchment area(11)) telah rusak karena penebangan liar. Laju kerusakan di semua

wilayah sumber air semakin cepat, baik karena penggudulan di hulu maupun pencemaran di sepanjang daerah resapan air. Kondisi itu akan mengancam fungsi dan potensi wilayah sumber air sebagai penyedia air bersih.

Pemanasan global juga memicu peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan melelehnya es di gunung dan kutub, berkurangnya ketersediaan air, naiiknya permukaan air laut dan dampak buruk lainnya. Seiring dengan semakin panasnya permukaan bumi, tanah tempat di mana air berada juga akan cepat mengalami penguapan untuk meepertahankan siklus hidrologi. Air

(6)

permukaan juga mengalami penguapan semakin cepat sedangkan balok-balok salju yang dibutuhkan untuk pengisian kembali air tawar justru semakin sedikit dan kecil. Saat ini pencemaran air sungai, danau dan air bawah tanah menigkat dengan pesat. Sumber pencemaran ini dari yang jumlahnya yang paling besar berasal dari manusia yang mengahasilkan sampah dengan jumlah 2 milyar ton sampah perhari dan diikuti kemudian dengan sektor perindustrian dan pestisida sert penyuburan pada pertanian (UNESCO, 2003). Sehingga memunculkan prediksi bahwa separuh dari populasi penduduk di dunia akan mengalami pencemaran di berbagai titik sumber perairan dan juga penyakit-penyakit yang berkaitan.

Menanggapi masalah kekurangan air bersih di beberapa Negara di Asia Tenggara, ASEAN sebagai organisasi regional dapat dijadikan wadah atau tempat untuk mengadakan diskusi agar mendapatkan solusi yang dapat disepakati secara mufakat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Oleh karena itu penetapan kebijakan dan pembuatan regulasi merupakan tanggung jawab dari setiap stakeholder di masing-masing Negara di kawasan Asia Tenggara.

Kasus Kekurangan Air Bersih di Malaysia

Pasokan air bersih mengering di beberapa kawasan Malaysia. Kelangkaan air terjadi di tengah-tengah musim kering panjang, sampai-sampai salah satu negara terbasah sedunia itu mesti kehausan. Level air di sungai dan waduk menurun hingga mencapai level kritis di Selangor, provinsi dengan populasi terbesar Malaysia yang berbatasan dengan Kuala Lumpur. Penurunan level air ikut mengurangi pasokan ke pabrik pengolahan air di Kuala Lumpur, memaksa penjatahan air bagi warga. Selain itu, Sungai Langat di Selangor tercemar amonia akibat limbah pabrik manufaktur. Akibatnya, operasi di dua pabrik pengolahan air terhenti. Krisis pasokan air menjadi-jadi.

(7)

Kekeringan juga melanda Singapura. Di Singapura, Badan Lingkungan Hidup Nasional melaporkan 27 hari kekeringan, yakni antara 13 Januari dan 8 Februari. Untuk memenuhi kebutuhan air warga, Singapura telah banyak berinvestasi dalam pembangunan waduk, juga pengadopsian teknologi supaya mandiri dalam kebutuhan air bersih. Saat ini, sebanyak 30% sumber air Singapura dihasilkan dari daur ulang air limbah. Sebanyak 25% lainnya dari desalinasi. Bagaimanapun, minimnya air di Johor berpotensi memperburuk masalah Singapura. Pasalnya, Singapura membeli sejumlah pasokan air dari Malaysia di bawah kesepakatan penjualan air yang ditetapkan berlangsung hingga setidaknya 2061.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan dalam perencanaan sistem distribusa air bersih di desa Nogosari Pacitan adalah berapakah debit air yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan air bersih

Atau air yang diambil untuk sumber air bersih sama dengan besamya hujan sehingga tidak terjadi kekeringan pada sumber air di Tasik Nambus dan terhidnar dari intrusi air laut

Penelitian krisis keuangan Asia: Analisis pasar ekuitas di Asia sebelum dan sesudah krisis, membuktikan bahwa pasar modal Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura,

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ternyata di Asia Tenggara, seperti perusahaan di Malaysia dan Thailand yang mengalami kerugian saat terjadi

Di mana hasil penelitian ini adalah masyarakat yang mengalami krisis air bersih diakibatkan oleh adanya pemadaman listrik bergilir yang menyebabkan rusaknya pompa mesin air milik

Berdasarkan hasil dari wawancara kepada para pelaku industri, menyebutkan bahwa adanya fenomena krisis sumber air yang terjadi kala itu, mempengaruhi kegiatan produksi yang ada,

Hasil dan Pembahasan Proses Collaborative Governance dalam Mengatasi Krisis Air Bersih melalui Program Sarana Air Bersih SAB “Berkah Air Dondang” Proses kolaborasi dalam usaha

Plambing merupakan sistem yang dirancang untuk menyediakan air bersih dan mengolah air kotoran di gedung atau lingkungan