BAB III
RANCANGAN UMUM
3.1Umum
Plambing adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pemasangan pipa dengan peralatannya di dalam gedung ataupun gedung yang berdekatan bersangkutan dengan air hujan, air buangan dan air minum yang dihubungkan dengan sistem kota maupun sistem lainnya. Sistem plambing terdiri dari sistem penyediaan air minum, sistem penyaluran air buangan dan drainase, termasuk semua sambungan, alat-alat, beserta perlengkapannya yang terpasang di dalam persil dan gedung. Fungsi dari peralatan plambing adalah pertama, untuk menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang membutuhkan dengan jumlah aliran serta tekanan yang sesuai, dan kedua membuang air kotoran dari tempat-tempat tertentu dan tetap menjaga kebersihan tempat-tempat yang dilaluinya (SNI 03-6481-2000).
Plambing dapat berfungsi sebagai sistem penyediaan air minum yang menyediakan air minum ke tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup serta dapat pula sebagai penyediaan air limbah. Sistem plambing bertujuan untuk sanitasi, menciptakan kesehatan masyarakat, kenyamanan pemakai, dan menciptakan rasa aman. Pada masa dahulu, tujuan utama sistem penyediaan air adalah untuk menyediakan air yang cukup berlebihan. Tetapi pada masa kini ada pembatasan dalam jumlah air yang dapat diperoleh karena pertimbangan penghematan energi dan adanya keterbatasan sumber air. Terlebih lagi, akhir-akhir ini tidak dikehendaki membuang air limbah dan air kotor langsung ke dalam saluran pemlimbah. Tahun-tahun akhir ini, bahan dalam air limbah makin beraneka ragam jenisnya dan rumit kualitasnya, sebagai akibat perubahan menu makanan manusia, kemajuan teknologi dan industri. Walaupun demikian, kebutuhan akan penyediaan air minum yang murni dan sistem pemlimbah air yang lengkap tidak berubah (Arsyad, 2016).
3.2Perhitungan Jumlah Alat Plambing
Perhitungan jumlah alat plambing yang akan digunakan dihitung berdasarkan jumlah penghuni bangunan dan jenis gedung. Penaksiran jumlah penghuni dihitung berdasarkan luas efektif ruangan dan kepadatan ruangan (beban penghuni). Rasio efektif merupakan perbandingan luas lantai efektif dengan luas lantai total. Luas efektif didapatkan dari hasil perkalian rasio efektif dengan luas ruangan. Rasio efektif untuk jenis bangunan apartemen adalah 45-50 (Noerbambang dan Morimura, 2005).
Kepadatan ruangan (beban penghuni) masing-masing ruangan diperoleh dari KEPMEN PU
No.10/KPTS/2000, untuk memperoleh kepadatan ruangannya dilakukan pendekatan sesuai jenis dan kegiatan dalam ruangan tersebut. Jumlah pengguna didapatkan dari membagi luas efektif ruangan dengan beban penghuninya (KEPMEN PU No.10/KPTS/2000).
3.3Rancangan Garis Besar Sistem Plambing
Sistem plambing merupakan jaringan perpipaan meliputi penyediaan air minum, penanganan air limbah, bangunan penunjang, perpipaan distribusi dan drainase, termasuk semua sambungan, alat-alat dan perlengkapannya yang0terpasang di dalam persil pada bangunan gedung, dan pemanas air serta ventilasi untuk tujuan yang sama. Sistem plambing juga mengatur perencanaan sistem pencegahan kebakaran untuk mengantisipasi jika sewaktu- waktu terjadi kebakaran. Sistem plambing yang akan dirancang pada hotel ini meliputi sistem penyediaan air bersih, sistem penyediaan air panas, sistem penyediaan air limbah dan sistem pencegahan kebakaran (Affiandi, 2016).
3.3.1 Penyediaan Air Bersih
Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, diatas, ataupun dibawah permukaan tanah. Dalam sistem penyediaan air bersih terdapat hal penting yang harus diperhatikan. Komponen utama dari sistem distribusi air bersih adalah sistem jaringan pipa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan penyediaan air bersih yaitu sumber air yang akan digunakan, sistem penyediaan, sistem pengaliran, perpipaan serta kelengkapannya dan unit-unit pendukungnya (Suhardiyanto, 2016):
1. Sumber air
Sumber air minum yang digunakan pada gedung ini berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Air yang berasal dari PDAM digunakan sebagai sumber utama. Kualitas air harus memenuhi persyaratan baku mutu untuk air baku sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 492 tahun 2010.
2. Sistem penyediaan air bersih
Sistem penyediaan air minum dirancang menggunakan sistem tangki atap, dimana air dari PDAM ditampung terlebih dahulu di tangki bawah kemudian dipompakan ke tangki atas, kemudian baru didistribusikan ke alat plambing yang ada. Sistem tangki atap dipilih karena tekanan air dari PDAM tidak dapat memenuhi kebutuhan gedung. Tekanan air dari PDAM hanya mampu untuk melayani gedung 10 mka, sedangkan tinggi bangunan apartemen yang didesain adalah 22,5 m. Untuk itu, diperlukan suatu sistem penyediaan air yang dapat memenuhi kebutuhan air minum gedung.
3. Tangki penyediaan air bersih
Tangki bawah berfungsi menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan air selama sehari dan tangki atas berfungsi untuk menampung kebutuhan puncak. Untuk menaikkan air dari tangki bawah ke tangki atas digunakan sistem pompa yang bekerja secara otomatis. Tangki atas ini diletakkan pada lantai teratas gedung hotel ini.
4. Pompa
Jenis pompa air minum yang direncanakan untuk menaikkan air dari tangki bawah ke tangki atas adalah pompa sentrifugal. Pompa ini dipilih karena konstruksinya sederhana, mudah dalam pengoperasian, perawatan dan perbaikan bila terjadi kerusakan, dan harganya lebih murah. Pompa transmisi air minum yang digunakan berjumlah 2 unit dimana 1 pompa beroperasi dan 1 pompa cadangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar supply air minum dari tangki bawah ke tangki atas dapat terus kontinu tanpa mengalami gangguan teknis. Pompa dilengkapi detektor yang bekerja secara otomatis apabila air dalam tangki mencapai ketinggian minimum. Pompa booster berfungsi sebagai penyedot air yang ditampung di dalam water toren, sehingga kondisi suplay air senantiasa bisa tercukupi, Dengan pertimbangan agar air di kran lain tidak kesedot saat water heater beroperasi, maka pompa boosternya akan diletakkan dekat toren. Jadi saat keluar toren dibuat cabang dua, satu ke instalasi lain yang satu khusus water heater.
3.3.2 Sistem Penyediaan Air Panas
Sistem penyediaan air panas merupakan instalasi yang menyediakan air panas dengan menggunakan sumber air bersih, dipanaskan dengan berbagai cara, baik langsung dari alat pemanas ataupun melalui sistem perpipaan yang harus memenuhi syarat sanitasi. Pada garis besarnya ada dua macam instalasi, yaitu instalasi lokal dan instalasi sentral. Kedua instalasi ini dipilih berdasarkan pada jenis penggunaan gedung, cara pemakaian air panas dan harga peralatannya. Terdapat dua cara pemanasan dalam sistem penyedaan air panas di suatu gedung (Noerbambang dan Morimura, 2005):
a. Pemanasan Langsung
Salah satu cara pemanasan langsung adalah dengan menggunakan ketel pemanas. Air akan dipanaskan oleh dinding ruang bakar ketel dan kemudian didistribusikan.
Kelemahan pada proses ini adalah:
- Saat air panas keluar dari ketel, air dingin akan masuk untuk mengganti massa air yang hilang. Hal ini akan menyebabkan perubahan temperatur yang terus-menerus pada dinding ketel sehingga dapat menyebabkan perubahan tegangan dalam dinding ketel, dan akhirnya memperpendek umur ketel.
- Jika kualitas air pengisi ketel kurang baik akan timbul kerak. Selain langsung didistribusikan air dari ketel dapat pula ditampung dalam tanki penyimpanan.
b. Pemanasan Tidak Langsung
Digunakan penukar panas sebagai media untuk menghasilkan air panas. Efisiensi sistem ini lebih rendah, tetapi kekurangan yang ada pada sistem lain dapat diatasi.
3.3.3 Sistem Penyediaan Air Limbah
Plambing merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pemasangan pipa dengan peralatannya di dalam gedung atau gedung yang berdekatan yang bersangkutan dengan air hujan, air buangan, dan air minum yang dihubungkan dengan sistem kota atau sistem lain yang dibenarkan. Sistem penyediaan air limbah terdiri dari sistem penyediaan air kotor, air bekas, sistem vent dan sistem penyediaan air hujan. Air kotor ialah air yang tidak memenuhi syarat secara secara fisik dan tidak dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kehidupan sehari-hari. Sistem pembuangan air kotor yaitu sistem pembuangan air bekas, sistem pembuangan air limbah, sir limbah khusus dan air hujan. (Arsyad, 2016).
3.3.3.1 Sistem Penyediaan Air Kotor dan Air Bekas
Sistem penyediaan dirancang menggunakan sistem terpisah dimana air kotor dialirkan ke tangki septik sebelum dialirkan ke bidang resapan, sedangkan air bekas dialirkan ke bidang resapan. Sistem terpisah dipilih untuk mencegah terjadinya gangguan pada kinerja alat plambing. Jadi apabila salah satu pipa mengalami penyumbatan, maka gangguan tidak terjadi pada keseluruhan alat plambing. Selain itu, kapasitas tangki septik yang dibutuhkan menjadi lebih kecil karena beban pengolahan lebih kecil bila dibanding dengan sistem tercampur.
Namun sistem ini lebih mahal karena menggunakan lebih banyak pipa dibandingkan dengan sistem tercampur. Sistem pengaliran air bekas dan air kotor dilakukan secara gravitasi (Arsyad, 2016).
Pada gedung ini, sink berpotensi untuk menghasilkan lemak dan minyak pada air limbah karena aktivitas-aktivitas yang menggunakan sink tersebut seperti mencuci piring. Oleh karena itu perlu dilengkapi bak penangkap lemak (grease trap) untuk menyisihkan lemak dan minyak dari air limbahnya sebelum masuk ke bidang resapan. Jenis grease trap yang digunakan adalah grease trap dan diletakkan di bagian bawah sink. Dengan adanya grease trap diharapkan tidak terjadi gangguan pada sistem penyediaan air limbah terutama yang disebabkan oleh lemak dan minyak. Grease trap yang digunakan pada gedung ini direncanakan menggunakan buatan pabrik yang telah tersedia di pasaran (Arsyad, 2016).
3.3.3.2 Sistem Vent
Penggunaan jenis sistem vent tergantung dari perletakan alat plambing dan pipa pembuangan itu sendiri. Jenis sistem vent yang digunakan dalam perancangan yaitu sistem ven tunggal dan sistem vent loop. Jenis vent tunggal dipakai karena dapat mencegah hilangnya sekat air dan efek sifon yang digunakan pada lavatory dan sink. Sedangkan vent loop digunakan karena dapat menghemat penggunaan pipa (Suhardiyanto, 2016).
3.3.3.3 Sistem Penyediaan Air Hujan
Dalam sistem pengaliran air hujan yang harus diperhatikan adalah curah hujan lokal, luas tangkapan hujan, arah aliran air dan tempat pembuangannya. Air hujan dialirkan melalui sistem pembuangan yang terpisah dari sistem pembuangan air bekas dan air kotor yaitu melalui saluran air hujan berupa talang atap dimana air hujan dari atap akan jatuh ke talang atap kemudian akan mengalir ke pipa tegak air hujan menuju saluran drainase di sekitar gedung. Apabila sistem air limbah dengan air hujan digabung, kemungkinan air hujan akan mengalir balik dan masuk ke dalam alat plambing terendah dalam sistem tersebut bila saluran tersumbat (Suhardiyanto, 2016).
3.3.4 Sistem Pencegahan Kebakaran
Berdasarkan SNI 03-3989-2000, hotel digolongkan ke hunian bahaya kebakaran ringan.
Sistem pencegahan bahaya kebakaran direncanakan menggunakan sistem kombinasi antara sistem pipa tegak dan slang kebakaran dengan sistem sprinkler dimana pipa tegak untuk memasok air ke slang kebakaran terpisah dengan pipa tegak sprinkler. Sistem ini dipilih untuk mencegah adanya perbedaan tekanan yang besar oleh masing-masing sistem dan apabila salah satu pipa tegak diperbaiki maka sistem pipa tegak lain masih dapat beroperasi. Selain itu juga untuk meningkatkan faktor keamanan pada gedung ini apabila terjadi kebakaran karena tidak tertutup kemungkinan terjadinya kerusakan pada salah satu sistem sehingga tidak dapat bekerja dengan baik pada saat terjadi kebakaran (SNI 03-3989-2000):
1. Sumber air
Sumber air untuk sistem pencegahan bahaya kebakaran sama dengan sumber air yang digunakan untuk air minum.
2. Tangki air
Tangki penyediaan air untuk sistem pencegahan bahaya kebakaran dirancang tergabung dengan tangki penyediaan air minum gedung dengan pertimbangan lebih ekonomis dan mudah perawatannya jika dibandingkan dengan sistem terpisah.
3. Sistem pengaliran
Sistem pengaliran yang direncanakan yaitu sistem pengaliran bertekanan dengan menggunakan pompa karena tangki penyediaan air untuk sistem pencegahan bahaya kebakaran digabung dengan tangki bawah penyediaan air minum.
4. Sistem Pipa Tegak dan Slang Kebakaran
Tipe sistem pipa tegak yang digunakan adalah pipa tegak basah-otomatik. Sistem ini mudah dan cepat dalam mengatasi bahaya kebakaran karena selalu ada pasokan air dalam jaringan pipa dan dioperasikan secara otomatik. Sedangkan kelas sistem pipa tegak yang dipilih yaitu kelas II karena dapat digunakan terutama oleh penghuni bangunan atau oleh petugas pemadam kebakaran selama tindakan awal (SNI 03–3989-2000).
5. Sprinkler
Sprinkler yang digunakan yaitu jenis kepala sprinkler otomatis lengkap dengan glass bulb dengan tingkat kepekaan suhu 68oC, warna cairan dalam gelas: merah pada ruangan lepas.
Untuk dapur digunakan jenis kepala sprinkler dengan tingkat kepekaan suhu 79oC, dan warna cairan dalam gelas: kuning. Sistem yang dipakai adalah sistem pipa basah. Sistem ini dipilih karena terdapat pasokan air dalam jaringan pipa sehingga penanganan terhadap bahaya kebakaran lebih mudah dan cepat (SNI 03–3989-2000).
6. Pompa
Untuk sistem pencegahan kebakaran ini digunakan tiga buah jenis pompa yaitu jockey pump dimana pipa vent berfungsi sebagai limbah dari alat plambing sekitar closet, Electrical pump yang merupakan pompa utama yang bekerja bila head springkler atau hydran digunakan dan diesel pump adalah pompa cadangan, jika pompa elektrik gagal bekerja 10 detik maka secara otomatis pompa ini akan bekerja (SNI 03–3989-2000).