New Economy Policy Malaysia dan Dampakny

12  21  Download (0)

Teks penuh

(1)

NEW ECONOMIC POLICY MALAYSIA DAN

DAMPAKNYA BAGI ASEAN

ADE SATRIYA (HUBUNGAN INTERNASIONAL)

LANDASAN TEORI: PERSPEKTIF MAKRO-EKONOMI LIBERAL

Tujuan perekonomian nasional adalah mencapai tingkat pertumbuhan [growth] yang tinggi. Secara murni teori, mekanisme ideal untuk pencapaian nya adalah melalui "mekanisme pasar" [free market & free trade]. Konstruksi yang dibangun dalam mekanisme pasar murni adalah dengan mengedepankan metoda "free entry & free exit”, sehingga para pelaku ekonomi akan tersaring secara "alamiah" melalui "free competition" [fair/un-fair competition] dengan landasan kekuatan "comparative advantage dan competitive advantage". Dalam konstruksi ini, pemerintah mengambil posisi pasif, sama sekali tidak melakukan "campur-tangan"/intervensi terhadap pasar, hanya mengawasi dan memfasilitasi [posisi:

fasilitator] sesusai kebutuhan pasar [outer ring-road area].1

PENDAHULUAN

Terhitung sejak tahun 1970-an, Negeri Jiran Malaysia mulai menerapkan sistem perekonomian yang dilakukan oleh Empat Macan Asia Singapura, Taiwan, Hongkong dan Korea Selatan yakni dengan merubah komitmen ekonomi dari yang tadinya berbasis pada pertambangan dan pertanian beralih menjadi perekonomian yang mengandalkan sektor manufaktur.2 Ketika Jepang mulai menanamkan

1http://malaysia.panduanwisata.com/2012/02/15/kondisi-ekonomi-malaysia/ (Diunduh 12 Mei 2014

jam 10.00 WIB)

2

(2)

investasinya, maka industri-industri berat mulai dicoba yang karenanya menjadi ekspor Malaysia menjadi mesin pertumbuhan utamanya.3

Malaysiapun kemudian menerima lebih dari 70% pertumbuhan PDB dengan tingkat inflasi yang rendah.4 Secara fundamental, pertumbuhan Malaysia tersebut sangat

bergantung pada ekspor bahan elektronik semacam chip komputer dan lainnya. Keadaan demikian, kemudian membuat Malaysia merasa berat ketika krisis

ekonomi tahun 1998 melanda. Disamping itu, kemerosotan dalam sektor teknologi informasi terjadi pada tahun 2001. Pemerintahan Malaysia pernah mengupayakan untuk mengurangi angka kemiskinan dengan kebijakan yang cukup kontroversial yang disebutnya Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia (NEP). Goal utamanya yang ingin dicapai ialah menghilangkan keterkaitan ras dengan fungsi ekonomi, dan lima tahun pertama mulai mengimplementasikan NEP sebagai Rencana Malaysia Kedua. Pro dan kontra tentang NEP ini terus bermunculan sekalipun program tersebut kemudian dihapuskan pada tahun 1990-an.5

Malaysia memiliki keunggulan ekonomi yakni sejumlah elemen makroekonominya stabil—tingkat inflasi dan pengangguran tetap bertahan dibawah angka 3%, utang luar negeri yang rendah, serta simpanan pertukaran asing yang sehat. Keadaan seperti itu tentu memungkinkan Malaysia mampu terhindar dari krisis yang sama pada tahun 1998 silam. Sejak berabad silam, Semenanjung Malaya menjadi pusat perdagangan di dunia—khususnya kawasan Asia. Berbagai komoditas seperti keramik dan rempah aktif diperdagangkan bahkan jauh sebelum Kesultanan Melaka dan Singapura mengemuka. Dan, sebagai salah satu dari tiga negara (bersama Indonesia dan Singapura) menguasai Selat Malaka, perdagangan internasional Malaysia ikut berperan penting dalam perekonomian negaranya.

3

http://macroeconomicdashboard.com/index.php/id/asean/152-ekonomi-asean-pertumbuhan-melambat,-perbaikan-tidak-secepat-harapan (Diunduh 12 Mei 2014 jam 12.30 WIB)

4 Ibid.

5http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-aec-2015/

(3)

PEREKONOMIAN MALAYSIA

Pada abad ke-17, di Semenanjung didirikan beberapa negara bagian. Sejak Britania Raya mengambil-alih sebagai administrator Malaya, pohon karet dan kelapa sawit diperkenalkan. Dalam waktu lama, Malaya jadi penghasil timah, karet, dan minyak

sawit terbesar di dunia. Tiga komoditas ini, dan bahan mentah lainnya, mengatur tempo perekonomian Malaysia lebih baik sampai abad ke-20.6 Britania mendatangkan kaum Tionghoa dan India memenuhi tenaga ahli bekerja di pertambangan dan perkebunan sebagai ganti ketergantungan sumber tenaga kerja pada suku Melayu. Walau banyak yang kembali ke negara asal sehabis kontrak,

7sebagian menetap di Malaysia yang dikemudian hari, setelah negara itu merdeka,

menjadi warga negara Malaya/Malaysia.

Setelah merdeka pemerintah Malaya memulai perencanaan ekonomi lima tahunan yang dimulai Rencana Lima Tahun Malaya Satu 1955. Pasca Malaysia (1963), perencanaan 5 tahunan dimulai Rencana Malaysia Pertama 1965. Sejak 1970-an Malaysia meniru perekonomian Empat Macan Asia (Taiwan, Korea Selatan, Hongkong, dan Singapura), dan berkomitmen pada transformasi ekonomi bergantung pertambangan/pertanian ke ekonomi berbasis manufaktur. Investasi Jepang, industri-industri berat dibuka, dan dalam beberapa tahun ekspor Malaysia menjadi mesin pertumbuhan primer negara ini.

Setelah mengalami krisis ekonomi 1998 dan juga kemunduran politik di dalam negeri di bawah kepemimpinan PM Abdullah Ahmad Badawi, Mohammad Najib Tun (Abdul) Razak saat dilantik menjadi PM keenam, 3 April 2009, mencanangkan Satu Malaysia: Rakyat Didahulukan, Pencapaian Diutamakan sebagai strategi dan pendekatan dalam mengakselerasi Visi Malaysia 2020. Sekarang, dengan semangat

6 Andrinof A. Chaniago, “Negara, Ekonomi Pasar, dan Pembangunan Kawasan”. (Diunduh 12 Mei

2014 jam 11.07 WIB).

7 Andrinof A. Chaniago, “Negara, Ekonomi Pasar, dan Pembangunan Kawasan”. (Diunduh 12 Mei

(4)

tinggi/tekad baja, Malaysia kelihatan on the right track mencapai cita-cita/visi Malaysia 2020.8

Adalah Malaysia menikmati pertumbuhan product domestic bruto (PDB) di atas 7 persen dan inflasi rendah (1980-an, 1990-an). Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi Malaysia bergantung pada ekspor bahan elektronik chip komputer dan sebagainya. Akibatnya, Malaysia dipukul tekanan hebat masa krisis ekonomi 1998, dan sektor

teknologi informasi merosot (2001). PDB 2001 meningkat 0,3 persen akibat ekspor turun 11 persen.9 Dan, paket perangsang fiskal yang besar telah mampu mengatasi.

KEBIJAKAN EKONOMI BARU PRO-MELAYU

Pemerintah berupaya mengurangi angka kemiskinan dengan Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia (NEP) yang kontroversial, setelah peristiwa 13 Mei (kerusuhan antar-etnis 1969). Tujuan utamanya, menghilangkan keterkaitan ras dengan fungsi ekonomi, dan rencana lima tahun pertama mulai menerapkan NEP sebagai Rencana Malaysia II. Kejayaan atau kegagalan NEP menjadi bahan perdebatan, kendati secara resmi berakhir tahun 1990 dan diganti Kebijakan Pembangunan Nasional (NDP).10

Banyak debat muncul tentang hasil/relevansi NEP. Sebagian pihak berdalih bahwa NEP jelas-jelas berjaya menciptakan pengusaha dan tenaga profesional Melayu menengah atas. Beberapa perbaikan di dalam kekuatan ekonomi Melayu secara umum tampak nyata, lalu pemerintah Malaysia memelihara kebijakan diskriminasi yang menguntungkan suku Melayu di atas suku lain—termasuk pengutamaan penerimaan kerja, pendidikan, beasiswa, perdagangan, akses mendapatkan rumah murah dan tabungan yang dibantu.

8 Severino, Rodolfo C.. “Regional Economic Integration and Cultural Change”. International

Culture Dialogue Bertelsmann Stiftung (Diunduh 13 Mei 2014 jam 01.12 WIB)

9 Ibid.

10 Dr. Dionisius A. Narjoko Economic Research Institute for ASEAN and East Asia dan Dr. Teguh

Y. Wicaksono Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Indonesia. “Achieving the

(5)

Seperti negara didera krisis, terjadi penjualan singkat/spekulatif ringgit Malaysia. Investasi asing jatuh ke tingkat berbahaya/modal menguap ke luar negara. Ringgit melemah dari 2,50/dolar AS ke 4,80/dolar AS. Indeks Bursa Malaysia terjun dari 1.300 poin ke 400 poin. Menkeu Anwar Ibrahim dicopot, dan Dewan Aksi Ekonomi Nasional dibentuk mengantisipasi krisis moneter. Bank Negara Malaysia mengendalikan modal dan mematok nilai tukar ringgit pada 3,80/dolar. Malaysia

menolak paket ekonomi Dana Moneter Internasional (International Monotary Fund/IMF) dan Bank Dunia. Tindakan itu mengejutkan analis asing.11

Maret 2005, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menerbitkan rilis tentang langkah pemulihan Malaysia (ditulis Jomo KS dari departemen ekonomi terapan Universitas Malaya KL).12 Rilis itu menyimpulkan, kontrol yang ditentukan pemerintah Malaysia tidak memperparah/tidak pula membantu pemulihan krisis. Faktor terbesar ekspor komponen elektronik naik, karena peningkatan permintaan komponen di AS yang disebabkan kekhawatiran dampak kedatangan tahun 2000 pada komputer/perangkat digital lain yang lebih tua. Tanpa memperhatikan sebab/akibatnya, peremajaan ekonomi Malaysia bergulir dengan defisit anggaran dan belanja pemerintah secara besar-besaran pada tahun-tahun setelah krisis. Malaysia pun menikmati pemulihan ekonomi lebih cepat. Bagaimana pun, di banyak cara negara lain belum mengalami kepulihan di tingkat pra-krisis.13 Lalu, Malaysia kembali melanjutkan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi cepat dengan tetap mengacu pada Wawasan Malaysia 2020 yang dicanangkan 1991.14

11 Ibid.

12 Dr. Dionisius A. Narjoko Economic Research Institute for ASEAN and East Asia dan Dr. Teguh

Y. Wicaksono Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Indonesia. “Achieving the ASEAN Economic Community Agenda: an Indonesian Perspective”. (Diunduh 12 Mei 2014 jam 11.00 WIB).

13 Ibid.

14 http://bisnis.liputan6.com/read/2022835/ekspor-ri-ke-asean-masih-kalah-dari-malaysia (Diunduh

(6)

Perspektif wawasan 2020 adalah visi Malaysia yang diintridusi PM Mahathir Mohamad (1991).15 Bahwa Malaysia akan menjadi negara maju tahun 2020. Yang dimaksudkan sepenuhnya terangkum bukan hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga bidang-bidang politik, sosial, kerohanian, psikologi, dan persatuan nasional dan sosial. Semua ini juga melibatkan persoalan keadilan sosial, kestabilan politik, sistem pemerintahan, kualitas hidup, nilai sosial dan kerohanian dan juga

keyakinan. Semasa pelancaran Majelis Perdagangan Malaysia 28 Februari 1991, Mahathir Mohammad membentangkan kertas kerja bertajuk Malaysia-Melangkah ke Hadapan yang mengandung satu pemikiran dan rangka kerja mengenai matlamat (tujuan) Malaysia menjadi sebuah negara maju pada tahun 2020. Gagasan PM Mahathir Mohammad itu yang kemudian dikenal sebagai Wawasan 2020.16

Menjelang tahun 2020, Malaysia sebagai negara merdeka akan menjadi negara benar-benar maju, bersatu, mampu berdikari, progresif dan makmur. Rakyat direncanakan akan menikmati kehidupan yang sempurna dalam satu masyarakat yang demokratik, bertoleransi, bermoral, adil, mampu bersaing, dinamik dan mempunyai daya ketahanan tinggi. Perwujudan visi tersebut sudah diingatkan PM Mahathir sejak mula bahwa akan menghadapi berbagai cabara (tantangan dan kesulitan). Terbukti pada krisis ekonomi 1998.17

Sejak dilantik, PM Najib Tun Abdul Razak bersemangat/bertekad mempercepat pembangunan Malaysia segala bidang (sosial politik, sosial ekonomi, sosial kesejahteraan, kemayarakatan, dan ilmu pengetahuan-teknologi) memperkokoh dasar/kerangka pokok dengan apa yang ia canangan dengan Satu (1 Malaysia: Rakyat Didahulukan, Pencapaian Diutamakan) yang dinyatakan sebagai mengacu pada Wawasan Malaysia 2020 yang dicanang PM Mahathir Mohammad 1991. Kini, negara dengan income perkapita 15.300 (2011—empat kali Indonesia) on the

15 Andrinof A. Chaniago, “Negara, Ekonomi Pasar, dan Pembangunan Kawasan”. (Diunduh 12

Mei 2014 jam 10.32 WIB).

16http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-aec-2015/

(Diunduh 12 Mei 2014 jam 11.00 WIB).

17 Yusoff, Mohammed B., et al. 2000. Globalisation, Economic Policy, and Equity: The Case of

(7)

right track to Malaysia 2020.18 Wawasan 2020, kata PM Najib, bukan slogan dilaung-laungkan, tapi, kerangka dan tindakan framework of action bagi setiap rakyat bagi mengambil langkah tertentu bagi memastikan Malaysia menjadi negara yang benar-benar maju dan makmur.19 Dalam konteks ini, Wawasan 2020 perlu diisi di antaranya, kualitas tenaga kerja yang dihasilkan sistem pendidikan, perubahan sikap dan nilai, menekankan sains-teknologi, perancangan, dan peranan

sektor swasta yang dinamis. Mampukah Malaysia meujudkan Wawasan 2020.20

New Economic Policy (NEP) memang pernah dilakukan pemerintah Malaysia selama sekitar 20 tahun, sebagai reaksi atas terjadinya kerusuhan antaretnis Melayu dengan Tionghoa (Mei 1969).21 Dalam program NEP ini pengusaha-pengusaha keturunan Cina dilarang masuk pada sektor-sektor strategis, yakni sektor perbankan, jasa keuangan, transportasi dan telekomunikasi. Walaupun demikian program ini jauh dari semangat anti-Cina dari pemerintah Malaysia. Tidak seperti di sini. Selain itu pogram NEP ini pun tidak terlalu berhasil. Selain karena terjadi praktek KKN di antara orang-orang bumi putera yang dekat dengan penguasa, juga ternyata kekuatan pengusaha Cina sulit untuk dipatahkan.22 Setelah program NEP dijalankan selama sekitar 20 tahun lebih, peningkatan peran bumi putera di sektor bisnis kurang dari 20 persen.23

Grafik pemilikan perusahaan-perusahaan di Malaysia mencatat pada tahun 1970 (sebelum NEP), golongan bumiputra menguasai 2,4 persen, non-bumiputra 34,3 persen, dan orang asing 63,3 persen. Pada tahun 1995 komposisinya berubah menjadi bumiputra 20,6 persen, non-bumiputra 43,4 persen, orang asing 27,7

18 Ibid.

19 Andrinof A. Chaniago, “Negara, Ekonomi Pasar, dan Pembangunan Kawasan”. (Diunduh 11

Mei 2014 jam 14.00 WIB).

20

http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-aec-2015/(Diunduh 12 Mei 2014 jam 11.00 WIB). 21

http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-aec-2015/(Diunduh 12 Mei 2014 jam 11.00 WIB).

22 Ibid.

23 Yusoff, Mohammed B., et al. 2000. Globalisation, Economic Policy, and Equity: The Case of

(8)

persen, dan calon perusahaan 8,3 persen. NEW Economic Model (NEM) yang sudah lama ditunggu di Malaysia telah dikeluarkan PM Najib Razak. Kurang tegasnya model yang hanya merupakan kerangka bagi tindakan yang akan diambil di masa depan ini tidak memuaskan sektor swasta. Tetap saja, NEM ini bicara jujur tentang kelemahan struktural Malaysia terutama berbagai kebijakan distorsi pasar yang menguntungkan kaum mayoritas Melayu-Muslim.24 Bagaimanapun,

kegagalan memetakan bagaimana pemerintah akan mengatasi sejumlah masalah ini untuk menghindari 'jebakan pendapatan menengah' merupakan kesalahan cukup fatal. Terlebih lagi, NEM tidak berhasil menghentikan larinya modal. Sementara Najib menyebut-nyebut beberapa sektor kunci dari minyak dan gas hingga layanan finansial, belum ditemui adanya indikasi bagaimana sejumlah sektor itu akan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan yang lebih tinggi.25

Najib sekaligus juga menghadapi serangkaian kritik. Serangan paling keras justru tidak datang dari pihak oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim. Tapi, mantan pemimpin Malaysia Dr Mahathir Mohamad sekali lagi menentukan kebijakan secara single-minded.26 Dengan dukungannya yang tidak digembar-gemborkan, kelompok tekanan ultra-konservatif di Malaysia bisa menyerang segala jenis usaha liberalisasi. Ini tentu tidak menyenangkan bagi kalangan bisnis. Kombinasi dari lanskap ekonomi yang telah berubah dramatis dan didominasi China, dengan oposisi keras untuk reformasi di dalam negeri telah menggoyahkan kepemimpinan Najib. Ia membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan, dua hal yang sering tidak ditemukan dalam politik Malaysia. Namun, rakyat Malaysia belum kehilangan segalanya.

24

http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-aec-2015/(Diunduh 12 Mei 2014 jam 11.00 WIB).

25

http://finance.detik.com/read/2014/05/13/092643/2580936/1016/pengusaha-mal-bikin-ekonomi-malaysia-singapura-dan-hong-kong-maju. /(Diunduh 12 Mei 2014 jam 17.10 WIB)

26 Yusoff, Mohammed B., et al. 2000. Globalisation, Economic Policy, and Equity: The Case of

(9)

Ada satu kunci rahasia sektor layanan Malaysia yang bisa membawa rakyat pada kesejahteraan di masa depan. Mengkoordinasi perkembangan sektor ini adalah tantangan. Yang lebih penting, Malaysia harus memperhitungkan raksasa Asia China, India, dan belakangan ini, Indonesia. Malaysia harus memanfaatkan lokasi strategisnya sebagai titik temu layanan bagi kalangan kelas menengah Asia. Ini merupakan strategi Singapura di era 1980 dan 1990-an, tapi Kota Singa itu kini

menjadi terlalu mahal untuk golongan kelas menengah yang kian menjamur di Asia. Ini lantas menjadi kesempatan historis bagi sektor layanan kesehatan, pariwisata, retail, pemukiman dan perbankan Malaysia. Contohnya, properti tanah di Iskandar Malaysia, di Johor Selatan dapat dibeli dengan harga murah S$110.000.27

Coba bandingkan dengan kondominium di Singapura yang harga terendahnya S$600.000.28 Pebisnis Singapura paham benar akan banyaknya kesempatan arbitrase seperti ini, seiring melambungnya harga di dalam negeri. Mereka tahu tempat-tempat seperti Iskandar adalah lahan basah, berkat dispensasi regulatoris dari pemerintah. Di samping itu, Indonesia yang sedang berkembang adalah kesempatan emas bagi sektor layanan Malaysia. Kalangan kelas menengah Indonesia semakin bertambah pesat. Menurut AC Nielsen, kini ada sekitar 30-35 juta di kategori ini, dan angka ini akan bertambah dua kali lipat pada 2015. Lebih jauh lagi, pertumbuhan GDP Indonesia sejak 2006 terus-menerus mengalahkan pencapaian Malaysia dan Singapura.29

Sejumlah propinsi seperti Kalimantan Timur (dengan rata-rata GDP per kapita US$10.720) seringkali melebihi angka rata-rata nasional. Semakin banyak orang Indonesia yang menempuh pendidikan dan mencari pengobatan di luar negeri. Walaupun Australia masih menjadi pilihan utama untuk pendidikan, dan Singapura untuk pengobatan, jumlah orang yang beralih ke Malaysia semakin meningkat. Sekarang ada 15.000 pelajar Indonesia di Malaysia, dan 250.000 orang Indonesia

27

Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. LP3ES. Indonesia. (Diunduh 11 Mei 2014 jam 19.23 WIB).

28 Yusoff, Mohammed B., et al. 2000. Globalisation, Economic Policy, and Equity: The Case of

Malaysia. (Diunduh 11 Mei 2014 jam 20.34 WIB).

(10)

mencari pengobatan di Negeri Jiran ini tahun lalu. Angka ini akan semakin besar, berkat dicabutnya beban pajak keluar Rp2,5 juta pada 2011. Malaysia dapat meningkatkan pertumbuhan ini dengan melayani mereka. Meski bagaimanapun, biaya perguruan tinggi dan rumah sakit di Malaysia lebih murah.30

Lebih jauhnya, strategi ini dapat menguntungkan seluruh negara. Membludaknya sumber daya Indonesia akan melahirkan hubungan antara, misalnya Penang dan

Riau. Juga, Kaltim yang kaya dapat membantu sektor properti Sabah yang penuh sesak. Tetapi, hambatan bagi reformasi ekonomi sebagian besar bersifat politis dan administratif. Sejak dulu rakyat Malaysia melihat orang Indonesia hanya sebagai tenaga kerja asing. Sikap seperti ini harus berubah. Birokrasi Malaysia yang stagnan harus mengubah banyak kebiasaan buruknya, khususnya sikap merendahkan terhadap orang asing. Di samping itu, penawaran Malaysia pada pasar komunitas China dan India juga sedikit tidak nyaman di tengah sejumlah kebijakan pro-Bumiputra yang mendiskriminasi kaum minoritas etnis.

Jelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di 2015 memang Singapura masih memiliki nilai perdagangan terbesar di ASEAN dengan nilai ekspor mencapai US$ 130,2 miliar, Malaysia mencapai US$ 50,9 miliar dan Thailand yang mencapai US$ 56,7 miliar. Malaysia dianggap mampu untuk menjadi kepala Negara ASEAN pada tahun 2015 nanti. Walaupun Malaysia menerapkan NEP tetapi pada implementasinya hal itu dapat disesuaikan dengan pola ekonomi yang diharapkan Malaysia. Pertumbuhan ekonomi ASEAN baik perdagangan maupun tingkat inflasi cenderung membaik walaupun pertumbuhannya lambat, tetapi hal itu dapat dimaklumi karena sebagian besar Negara ASEAN adalah Negara berkembang.

30http://bisnis.liputan6.com/read/2022835/ekspor-ri-ke-asean-masih-kalah-dari-malaysia (Diunduh

(11)

Tingkat inflasi yang terjadi di negara-negara anggota ASEAN masih menjadi faktor utama yang menghambat laju ekonomi dan peningkatan nilai kesejahteraan di kawasan untuk mencapai tingkat potensi optimalnya. Secara berturut-turut pada bulan Oktober 2013 ini, tingkat inflasi tertinggi dicapai oleh Indonesia (8,32%), sejajar dengan berbagai negara yang bukan negara utama di kawasan ASEAN seperti Laos (6,87%) dan Vietnam (5,87%). Sedangkan tingkat inflasi di Malaysia naik 3,5 persen pada bulan Maret 2014 dari tahun lalu. Departemen Statistik Malaysia mengatakan, raihan ini sudah sejalan dengan ekspektasi para ekonom.31

KESIMPULAN

NEP atau New Economy Policy merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia yang dianggap sebagian orang merupakan undang-undang yang ras karena sangat pro-melayu dan menomor duakan etnis lain. Kebijakan ini dikeluarkan karena banyaknya etnis non-melayu yang memperoleh hak lebih banyak daripada melayu unutk melakukan bisnis, terlebih kaum Negara lain yang

31

(12)

juga memperoleh keistimewaan khusus untuk berbisnis. Hal itu disesalkan oleh partai konservatif Malaysia dan melalui PM Najib Razak segera mengeluarkan kebijakan Pro-Melayu atau lebih dikenal dengan NEP (New Economy Policy).

Sejak diterapkan kebijakan ini ekonomi Malaysia cukup baik dan meningkat, dimana sector swasta harus bekerja sama dengan kaum-Bumi Putera yang merupakan kaum asli Malaysia. Dampak dari kebijakan ini tentu saja berdampak

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di