SKRIPSI
PEMANFAATAN TEPUNG LIMBAH TEMPE FERMENTASI
SEBAGAI SUBSTITUSI JAGUNG TERHADAP DAYA
CERNA PROTEIN KASAR DAN BAHAN KERING
AYAM PEDAGING JANTAN
Oleh :
RAHMAWATI RIZKY HAPSARI NIM 060610188
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
PEMANFAATAN TEPUNG LIMBAH TEMPE FERMENTASI SEBAGAI SUBSTITUSI JAGUNG TERHADAP DAYA CERNA
PROTEIN KASAR DAN BAHAN KERING AYAM PEDAGING JANTAN
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan
pada
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
Oleh
RAHMAWATI RIZKY HAPSARI NIM 060610188
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Lilik Maslachah, drh., M.Kes.) Pembimbing Serta (Dr. Hj. Sri Hidanah, Ir., M.S.)
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi berjudul :
Pemanfaatan Tepung Limbah Tempe Fermentasi Sebagai Substitusi Jagung terhadap Daya Cerna Protein Kasar dan Bahan Kering Ayam Pedaging Jantan
Tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Surabaya, 19 Juli 2010
Telah dinilai pada Seminar Hasil Penelitian Tanggal : 9 Juli 2010
KOMISI PENILAI SEMINAR HASIL PENELITIAN
Telah diuji pada Tanggal : 15 Juli 2010
KOMISI PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Dr. Dady S. Nazar, drh., M.Sc. Anggota : Herman Setyono, drh., M.S.
Retno Sri Wahyuni, drh., M.S. Dr. Hj. Sri Hidanah, Ir., M.S. Lilik Maslachah, drh., M.Kes.
Surabaya, 19 Juli 2010 Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga Dekan,
THE USE OF FERMENTATION RECYCLE FLOUR SOYBEAN FERMENTED CAKE (TEMPE) AS CORN SUBSTITUTION
TO CRUDE PROTEIN AND DRY MATTER
DIGESTIBILITY OF BROILER
Rahmawati Rizky Hapsari ABSTRACT
The purpose of this study was to know the use of fermentation recycle flour soybean fermented cake (tempe) as corn substitution to crude protein and dry matter digestibility of broiler. This study used 24 samples of broiler and it was treated by fermentation recycle flour soybean fermented cake (tempe). The samples was classified into four groups and six replications. This research used Completely Randomized Design method. P0 as a control, did not use recycle flour soybean fermented cake (tempe), P1 used 5%, P2 used 10% and P3 used 15%. The time of this experiment was two weeks. The result of this research showed that the use of fermentation recycle flour soybean fermented cake (tempe) as corn substitution to crude protein and dry matter digestibility of broiler was not different significantly with control. The conclution of this research was recycle flour soybean fermented cake (tempe) could use as substitution of corn on maximal percentage mixed broiler feed.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur Kehadirat Allah SWT atas karunia yang telah dilimpahkan
sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan skripsi dengan
judul Pemanfaatan Tepung Limbah Tempe Fermentasi Sebagai Substitusi
Jagung terhadap Daya Cerna Protein Kasar dan Bahan Kering Ayam
Pedaging Jantan.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberi rakhmat dan hidayah-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Prof. Hj. Romziah Sidik, drh., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga atas kesempatan mengikuti pendidikan di Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
3. Dr. Hj Sri Hidanah, Ir., M.S. sebagai pembimbing utama sekaligus project
director penelitian ini yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk ikut serta dalam penelitian dan juga memberi bimbingan, nasehat, motivasi serta masukan selama penyusunan skripsi ini.
4. Lilik Maslachah, drh., M.Kes. sebagai pembimbing serta yang telah bersedia memberikan bimbingan, saran serta nasehat dalam penyusunan skripsi ini.
6. Mochammad Lazuardi, drh., M.Si., selaku dosen wali yang telah memberi dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
7. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga atas
bimbingan dan dorongan semangat serta motivasi selama mengikuti pendidikan
di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
8. Seluruh staf Laboratorium Makanan Ternak Departemen Ilmu Peternakan dan Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Kedokteran Hewan, atas bantuan dalam proses penelitian ini.
9. Kedua orangtua penulis, Ayah Estu Wahjudi dan Ibu Endang Sri Hartati, Kakak
penulis Rahmat Heri Priyasatya dan Novita Indriastuti, serta segenap keluarga
yang selalu memberikan bantuan doa, dukungan dan motivasi selama ini.
10. Teman-teman penelitian Mbak Ustadzah, Lyla, Reny dan Putri. Teman-teman
seperjuangan Agatha, Luluk, Linda, Indira, Dinar, Ria dan teman-teman angkatan 2006 lainnya yang telah banyak memberi dorongan dan semangat kepada penulis.
11.Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak
membantu penulis hingga selesainya penulisan ini.
Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.
Surabaya, 19 Juli 2010
DAFTAR ISI
3.3.2 Persiapan hewan coba ... 25
3.3.3 Perlakuan pada hewan coba ... 25
3.4 Rancangan Penelitian ... 28
3.5 Variabel Penelitian ... 28
3.5.1 Variabel bebas ... 28
3.5.2 Variabel tergantung ... 28
3.5.3 Variabel kendali ... 28
3.6 Parameter Penelitian ... 28
3.7 Analisis Data ... 30
3.8 Bagan Alur Penelitian ... 31
BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Daya Cerna Protein Kasar ... 32
4.2 Daya Cerna Bahan Kering ... 33
BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Daya Cerna Protein Kasar ... 34
5.2 Daya Cerna Bahan Kering ... 35
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 38
6.2 Saran ... 38
RINGKASAN ... 39
DAFTAR PUSTAKA ... 41
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Persyaratan mutu standar ransum ayam pedaging fase finisher
sesuai SNI ………... 10 2.2. Komposisi kimiawi limbah tempe …...…...…... 12
2.3. Komposisi kimiawi jagung ... 16 3.1.Komposisi pakan perlakuan ayam pedaging fase finisher.…... 26 3.2. Kandungan gizi masing-masing ransum perlakuan .……... 26 4.1. Rata-rata dan simpangan baku daya cerna bahan kering beserta
data transformasi √y... 32 4.2. Rata-rata dan simpangan baku daya cerna protein kasar beserta
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Proses fermentasi tepung limbah tempe ... 48 2. Komposisi KBR 2 Produksi PT. Wonokoyo Jaya Corporindo ... 49 3. Prinsip, bahan, alat dan cara kerja analisis proksimat bahan kering.. 50 4. Prinsip, bahan, alat dan cara kerja analisis proksimat protein kasar.. 51 5. Komposisi multivitamin Vita Stress produksi PT. Medion... 53 6. Komposisi pakan perlakuan fase finisher dengan kandungan tepung
limbah tempe fermentasi yang berbeda ... 54 7. Kandungan nutrisi bahan pakan perlakuan... 55 8. Data rata-rata konsumsi pakan dua minggu terakhir penelitian
per ekor per hari (gram)... 56 9. Data rata-rata berat ekskreta pada minggu terakhir penelitian
per ekor per hari (gram) ... 57 10. Hasil analisis proksimat protein kasar dan bahan kering ekskreta
per ekor per hari (%)... ... 58 11. Data daya cerna protein kasar (%) dan data transformasi √y daya
cerna protein kasar ... 59 12. Penghitungan statistik persentase daya cerna protein kasar ayam
pedaging dengan Anova... 60 13. Data daya cerna protein kasar (%) dan data transformasi √y daya
cerna bahan kering... 62
14. Penghitungan statistik persentase daya cerna bahan kering ayam
SINGKATAN DAN ARTI LAMBANG
ANOVA : Analysis of Variant
RAL : Rancangan Acak Lengkap SD : Standart Deviation
SPSS : Statistical Program and Service Solution º C : Derajat Celsius
% : persentase BK : Bahan Kering kg : Kilogram
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pertambahan populasi penduduk, urbanisasi serta peningkatan pendapatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia dalam dua dasa warsa ke depan akan sangat pesat. Hal ini berdampak terhadap peningkatan kebutuhan pangan termasuk produk peternakan (FAO, 2002). Peningkatan kebutuhan pangan bukan hanya disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan, namun juga disebabkan oleh perubahan pola konsumsi masyarakat termasuk diantaranya perubahan konsumsi protein nabati ke protein hewani (Kariyasa, 2003). Oleh sebab itu Pemerintah bersama industri pangan harus saling bekerjasama dalam membuat kebijakan serta rencana investasi jangka panjang yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pangan, perbaikan nutrisi, dan pendapatan masyarakat serta menjaga kesehatan masyarakat luas (Purwanto, 2002).
Menurut Pius (1999) semenjak munculnya krisis ekonomi moneter bulan Juli 1997, kondisi peternakan unggas yang merupakan salah satu penyedia kebutuhan pangan masyarakat mengalami penurunan drastis. Salah satu penyebab keruntuhan industri unggas tersebut adalah meningkatnya harga pakan ternak yang mempunyai kontribusi 70 - 80 % dari biaya produksi.
pertumbuhan ayam dan kontrol terhadap pemberian ransum di kandang. Selain itu peternak juga bisa menekan harga pakan dengan membuat ransum unggas sendiri (Arif, 2005).
Ransum merupakan komponen penting dalam produksi ayam pedaging
karena tingkat kualitas dan kuantitasnya menentukan produk akhir (Asmara dkk., 2009). Jagung merupakan bahan baku utama pembuatan pakan ayam
ras dengan kontribusi mencapai 51,4 % total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja dkk., 2002). Namun mengingat laju produksi jagung di Indonesia ini lambat, maka impor menjadi hal yang tidak bisa dihindari dan munculah dampak bahwa jagung impor bersaing dengan jagung produksi domestik ( Kariyasa, 2003).
Perlu dilakukan suatu tindakan mencari bahan-bahan alternatif lain yang berpotensi menjadi bahan pakan penyusun ransum ayam pedaging. Syarat pemilihan bahan pakan yang dapat digunakan sebagai ransum ayam pedaging adalah mudah didapat, harga terjangkau, tidak bersaing dengan manusia, tidak beracun dan
mengandung zat makanan yang dibutuhkan oleh ternak itu sendiri (Sunarso dan Christiyanto, 2009). Salah satu alternatif tersebut adalah dengan
dan kadar kolesterol produk dapat ditekan, dapat meningkatkan densitas volume epitel dan vilus di daerah jejunum, ileum, dan usus halus (Lundin dkk., 1993). Penggunaan 15 % tepung limbah tempe fermentasi dapat digunakan sebagai penyusun ransum unggas (Sukada dkk ., 2006 ).
Komposisi kimia tepung limbah tempe terdiri dari bahan kering 75 - 91 %,
protein kasar 12.0 %, lemak kasar 1.9 %, abu 4.6 %, dan serat kasar 40 % (Murni dkk., 2008). Kandungan serat kasar yang tinggi merupakan salah satu faktor pembatas penggunaan tepung limbah tempe sebagai penyusun ransum unggas karena koefisiensi kecernaan serat kasar tidak lebih dari 4% (Siswantoro, 1999; Sukada dkk., 2006).
Alternatif untuk menurunkan kadar serat kasar adalah dengan cara fermentasi, sehingga bahan makanan akan mengalami perubahan-perubahan fisik yang menguntungkan antara lain rasa, tekstur, kecernaan dan daya tahan terhadap penyimpanan (Rahayu dkk ., 2001).
Proses fermentasi pada tepung limbah tempe dengan menggunakan Aspergillus niger dan Lactobacillus sp (106 - 108/cc) masing - masing sebanyak 0,5% dan 3% terbukti dapat meningkatkan protein kasar yang semula hanya 12% menjadi 15% dan menurunkan kadar serat kasar dari 44% menjadi 40% (Hidanah dkk, 2009).
namun tetap memberi pengaruh yang baik terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan yang pada akhirnya dapat menekan biaya produksi dalam usaha peternakan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang dapat disajikan adalah :
1. Apakah pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung sebanyak 5 % , 10 %, dan 15 % pada ransum unggas berpengaruh terhadap daya cerna protein kasar pada ayam pedaging jantan ?
2. Apakah pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung sebanyak 5 % , 10 %, dan 15 % pada ransum unggas berpengaruh terhadap daya cerna bahan kering pada ayam pedaging jantan ?
1.3 Landasan Teori
Pakan ternak yang mengandung serat kasar tinggi dan protein kasar rendah dapat menurunkan produktivitas ternak sehingga perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut (Rachmawan, 2001).
Upaya untuk menurunkan kadar serat kasar dapat dilakukan dengan cara pengukusan dan fermentasi. Pengukusan dapat menurunkan serat kasar karena adanya perombakan ikatan lignoselulosa menjadi lignin dan selulosa (Basyir, 1999).
Beberapa jenis kapang yang sering dipergunakan untuk fermentasi antara lain Aspergillus niger, Rhizopus oligosphorus (kapang tempe), dan Neurospora crassa (kapang oncom merah). Pada proses fermentasi, kapang merubah senyawa - senyawa yang terkandung dalam substrat untuk pertumbuhan dan pembentukan protein, sehingga produk fermentasi merupakan bahan pakan dengan kandungan protein yang lebih tinggi. Selain itu terjadi juga perombakan bahan - bahan yang kompleks menjadi lebih sederhana sehingga mudah dicerna dan diserap oleh ternak (Rokhmani, 2009).
Proses fermentasi pada tepung limbah tempe menggunakan Aspergillus niger 0,5 % dan Lactobacillus sp 3% dapat meningkatkan protein kasar yang semula 12 % menjadi 15 % , menurunkan kadar serat kasar yang semula 44 % menjadi 40 % ( Hidanah dkk., 2009 ).
turut 2,2 %, 8,9 %, 86,0 % dan 1,7 % (Setyono dkk, 2007). Kelemahan tepung limbah tempe fermentasi adalah kandungan serat kasarnya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung sehingga ada kemungkinan lebih sulit dicerna oleh ayam, tetapi tepung limbah tempe fermentasi mempunyai kelebihan pada kandungan protein dan bahan kering yang lebih tinggi dari jagung sehingga diharapkan tepung limbah tempe fermentasi layak dijadikan sebagai substitusi jagung (Sukada dkk.,2006).
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengaruh pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi
sebesar 5%, 10% dan 15% sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna protein kasar ayam pedaging jantan.
2. Mengetahui pengaruh pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebesar 5%, 10% dan 15% sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna bahan kering ayam pedaging jantan.
1.5 Manfaat Penelitian
1.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka hipotesis penelitian yang dapat diajukan adalah:
1. Pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebesar 5%, 10% dan 15%
sebagai substitusi jagung berpengaruh dalam meningkatkan daya cerna protein kasar ayam pedaging jantan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Ayam Pedaging
Ayam pedaging yang disebut juga broiler merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari beberapa bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging ayam. Ayam pedaging mempunyai beberapa sifat antara lain kualitas daging baik, laju pertumbuhan dan pertambahan berat badan cepat, warna kulit kekuningan, warna bulu putih, konversi pakan rendah, kaki tidak mudah cacat, cenderung tenang, daya hidup tinggi (95%), dan kemampuan membentuk karkas tinggi. Salah satu kelebihan ayam pedaging yang telah diketahui masyarakat saat ini adalah masa pemeliharaannya singkat yaitu lima sampai enam minggu dengan berat 1,8 – 2 kg per ekor (Jaelani, 2006).
Unggas mengambil makanannya dengan paruh, makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama empedal adalah untuk memperkecil ukuran partikel makanan, kemudian makanan bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti halnya pada spesies lainnya. Pankreas menghasilkan getah yang mengandung enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik yang memiliki fungsi masing-masing untuk menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton (Anggorodi, 1985).
Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah tersebut mengandung erepsin yang berfungsi menyempurnakan pencernaan protein dan menghasilkan asam amino. Penyerapan terjadi melalui villi usus halus (Anggorodi, 1985).
2.2 Tinjauan Ransum Ayam Pedaging
Ransum adalah campuran dua bahan pakan atau lebih yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Dalam suatu ransum harus mengandung bahan-bahan pakan yang dapat dicerna dan diserap serta bermanfaat bagi tubuh unggas. Bahan-bahan pakan tersebut berfungsi menyediakan energi untuk berlangsungnya berbagai proses yang terjadi didalam tubuh unggas, menyediakan bahan-bahan untuk membangun dan memperbaharui jaringan serta mengatur kelangsungan proses-proses di dalamnya (Sunarso dan Christiyanto, 2009). Pedoman kebutuhan gizi pakan ayam pedaging fase finisher dapat dilihat dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 ; Persyaratan Mutu Standar Ransum Ayam Pedaging Fase Finisher sesuai SNI.
No Parameter Satuan Persyaratan
Selain protein, ayam juga membutuhkan energi yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Karbohidrat selain berfungsi sebagai sumber energi, juga bermanfaat memelihara kesehatan serta fungsi normal pencernaan. Lemak berfungsi sebagai sumber air metabolik, insulator atau ikut berperan serta dalam mengatur suhu tubuh, memperbaiki konversi pakan, pelarut vitamin A, D, E dan K serta bahan baku pembentukan hormon steroid (Sunarso dan Christiyanto, 2009).
Kecepatan pertumbuhan ayam pedaging mempunyai variasi cukup besar dan keadaan ini tergantung pada tipe ayam, strain, jenis kelamin, pakan, tata laksana dan temperatur lingkungan. Pertumbuhan ayam pedaging relatif lebih cepat terjadi pada umur satu hingga empat minggu, kemudian pada umur lima minggu kecepatan pertumbuhan berkurang sampai suatu saat berhenti (Siregar , 2002).
2.3 Tinjauan Limbah Tempe
Tempe merupakan salah satu produk hasil olahan kedelai (Glycine max). Tempe adalah makanan khas Indonesia yang merupakan sumber protein nabati dan mempunyai nilai gizi tinggi sebagaimana bahan dasarnya (Anggrahini, 1983). Tempe dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat rata - rata empat sampai 20 gram /hari/orang (Lindajati dkk, 1991).
Limbah tempe adalah limbah yang diperoleh dari proses pembuatan tempe, limbah ini berupa kulit biji kedelai yang terbuang pada saat proses pelepasan kulit setelah direndam air panas. Komposisi kimiawinya dapat dilihat dalam tabel 2.2.
Tabel 2.2 ; Komposisi Kimiawi Limbah Tempe
Bahan kering (%) 94,93%
Protein kasar (%) 12,69%
Serat kasar (%) 44,61%
Sumber: Hidanah dkk., 2009
Setelah limbah tempe dibentuk menjadi tepung, sebaiknya difermentasi menggunakan beberapa bakteri non patogen sebelum diberikan pada ternak (Rifqiyah, 2005). Mikroba yang digunakan dalam proses fermentasi dapat berupa bakteri, kapang maupun khamir. Fermentasi dengan menggunakan kapang memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi lebih mudah dicerna sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai nutrisinya (Supriyati dkk, 1998).
sebelumnya. Hidanah dkk. (2009) menyebutkan bahwa limbah tempe yang difermentasi oleh Aspergilllus niger (106 - 108/cc) sebesar 0,5%dan Lactobacillus sp (106 - 108/cc) sebesar 3% dapat meningkatkan kadar protein kasar yang semula hanya 12,69% menjadi 15,2% dan dapat menurunkan kadar serat kasar dari 44,61% menjadi 40,1%, bahan kering dari 95% menjadi 94% sedangkan kadar abu tetap pada kisaran 3%.
2.4 Tinjauan Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses yang melibatkan kegiatan mikrobia dalam suatu bahan untuk menghasilkan produk tertentu yang dikehendaki dan mempunyai nilai tambah (Judoamidjoyo dkk., 1990). Menurut Muhammad and Oloyede (2009), fermentasi merupakan suatu cara untuk mengolah suatu bahan pakan yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah protein kasar dan mineral anorganik serta menurunkan serat kasar dan zat anti-nutrient yang terkandung didalamnya.
Kualitas fermentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor , diantaranya adalah air, suhu, pH, fermentator, susunan bahan dasarnya dan zat yang bersifat pendukung (Rahayu dan Sudarmadji, 1990).
2.4.1 Aspergillus niger
Aspergillus niger adalah sejenis jamur yang berasal dari Phylum Ascomycota, Sub Phylum Pezizomycotina, Class Eurotiomycetes, Ordo
niger tumbuh cepat pada berbagai media buatan dan membentuk koloni-koloni yang terdiri dari bentukan putih seperti kapas, pada bagian dasarnya berwarna kuning dan tertutupi oleh lapisan tebal berwarna cokelat gelap sampai hitam pada bagian kepala konidianya. Hifa mycelia terdiri dari septa dan hialin. Spesies ini mempunyai konidiosfor yang panjangnya 900-1600 µm, berdinding halus dan berakhir pada bentukan bulat (vesikel) berwarna cokelat muda dengan diameter 40-60 µm (Kirk dkk., 2001).
Aspergillus niger berperan dalam menghasilkan enzim selulase, dimana enzim ini berfungsi untuk mengubah selulosa menjadi glukosa sehingga dapat meningkatkan daya cerna dari suatu bahan pakan (Klich, 2002; Tzean dkk., 1990).
Hidanah dkk. (2009) menyebutkan bahwa hasil ikutan tempe yang difermentasi oleh Aspergilllus niger 0,5% dan Lactobacillus sp 3% dapat meningkatkan kadar protein kasar yang semula hanya 12,69% menjadi 15,2% dan dapat menurunkan kadar serat kasar dari 44,61% menjadi 40,1% sehingga memperbaiki daya cernanya.
2.4.2 Lactobacillus sp
karena dapat mengubah laktosa dan gula-gula lainnya menjadi asam laktat. Produksi asam laktat menyebabkan lingkungan menjadi asam, sehingga dapat mencegah pertumbuhan bakteri patogen.
Bakteri asam laktat memiliki kemampuan menghasilkan enzim
proteolitik di sekitar dinding sel, membran sitoplasma, atau di dalam sel.
Lactobacillus acidophilus selama proses fermentasi selain memanfaatkan
peptida untuk pertumbuhannya, bakteri tersebut juga mampu menghidrolisis
kasein dengan menggunakan protease yang diekskresikan di sekitar permukaan
dinding selnya (Trisnajaya dan Subroto, 1996).
Lactobacillus sp memiliki kemampuan tahan terhadap garam empedu, kondisi asam sehingga mampu menghambat bakteri patogen, antibiotik serta dapat mengikat kolesterol. Selain itu, Lactobacillus sp juga dapat bertindak sebagai probiotik (Hood dan Zottola, 1998).
2.5 Tinjauan Jagung
Jagung merupakan salah satu bahan penyusun ransum ayam pedaging. Jagung adalah sumber karbohidrat yang mempunyai proporsi cukup besar dalam penyusunan ransum. Karbohidrat mempunyai manfaat penting bagi tubuh ayam pedaging seperti menyediakan energi untuk proses metabolisme (Anggorodi, 1990).
Vitamin A atau karotenoid dan vitamin E terdapat dalam komoditas ini, terutama pada jagung kuning. Selain fungsinya sebagai zat gizi mikro, vitamin tersebut berperan sebagai antioksidan alami yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dan menghambat kerusakan degeneratif sel. Jagung juga mengandung berbagai mineral esensial, seperti K, Na, P, Ca, dan Fe. Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap komposisi kimia dan sifat fungsional (Deptan, 2009). Komposisi kimiawi jagung lebih lengkap dapat dilihat dalam Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Komposisi kimiawi jagung
Bahan pakan Bahan kering (%)
BETN = Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen 2.6 Daya Cerna Bahan Pakan
tertentu sehingga dapat diserap usus. Daya cerna dapat ditentukan dengan mengukur secara teliti bahan pakan yang dikonsumsi dan feses yang dikeluarkan. Dari pengukuran yang didukung dengan analisis kimiawi zat makanan, maka dapat dihitung daya cernanya (Anggorodi, 1990).
Menurut Tillman dkk (1991), faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna makanan adalah : (1) Komposisi makanan , daya cerna makanan berhubungan erat dengan komposisi kimiawi, serat kasar mempunyai pengaruh yang terbesar. Penambahan serat kasar dalam bahan pakan dapat menurunkan daya cerna (2) Keseimbangan protein, jika imbangan protein dalam pakan menurun akan menyebabkan bahan makanan cepat melewati saluran pencernaan, sehingga menyebabkan turunnya daya cerna dari bahan pakan tersebut (3) Perlakuan terhadap pakan, misalnya pemotongan, penggilingan dan pemanasan mempengaruhi daya cerna.. Bahan yang digiling untuk pakan unggas memberikan permukaan yang lebih luas terhadap getah pencernaan, sehingga dapat mempengaruhi daya cerna pakan (4) Jenis hewan, bahan pakan yang rendah serat kasarnya dapat dicerna dengan baik oleh hewan non- ruminansia dan hewan ruminansia. Tetapi bahan pakan yang tinggi serat kasarnya dicerna lebih baik oleh hewan ruminansia dibanding dengan hewan non-ruminannsia (5) Jumlah makanan, penambahan jumlah makanan yang dimakan mempercepat arus makanan dalam usus,sehingga mempengaruhi daya cerna.
pencernaan disebabkan makanan yang berada di tembolok akan mengalami penurunan kecepatan untuk mencapai usus halus (Wahju, 1992).
2.6.1 Daya cerna bahan kering
Pakan adalah semua bahan makanan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak ( Widayati dan Widalestari, 1996). Pakan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral guna mendukung aktivitas metabolisme normal dalam tubuh (Allen, 1996). Ketidakseimbangan nutrisi pakan dapat mengganggu metabolisme tubuh. Semua bahan makanan mengandung air dan bahan kering yang terdiri dari bahan anorganik atau mineral dan bahan organik (Payne, 1993).
Bahan kering adalah bahan yang tersisa setelah bahan pakan dipanaskan 105 °C selama satu malam sehingga kadar airnya menguap. Setelah pemanasan tersebut sampel makanan disebut sampel bahan kering dan pengurangannya dengan sampel makanan tadi disebut persen air atau kadar air (Tillman dkk., 1998).
Bagan berikut merupakan pembagian unsur bahan makanan ( Tillman dkk., 1993).
2.6.2 Daya cerna protein kasar
Protein merupakan bagian bahan makanan yang mengandung persenyawaan nitrogen yang disusun oleh asam-asam amino esensial dan non-esensial.. Protein mengandung atom-atom karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Beberapa macam protein juga mengandung sulfur, fosfor atau besi ( Frandson, 1993).
Komposisi dasar protein antara lain yaitu Karbon 51% - 55%, Hidrogen 6,5 % - 7,3 %, Nitrogen 15,5 % - 18 %, Oksigen 21,5 % - 23,5 %, Sulfur 0,5 % - 2 %, Fosfor 0 – 1,5 % (Anggorodi, 1994).
Protein merupakan materi penyusun dasar semua jaringan tubuh yang dibentuk. Fungsi protein dalam tubuh adalah memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme untuk menghasilkan energi, metabolisme ke dalam fungsi tubuh, pembentukan enzim – enzim yang esensial bagi tubuh dan hormon – hormon tertentu ( Anggorodi, 1994). Kekurangan protein dalam tubuh akan mengakibatkan hewan tidak mampu membuat dan memelihara jaringan tubuhnya sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan (Triakoso, 1996). Maka dari itu pemberian pakan harus dapat menjamin bahwa kandungan proteinnya cukup untuk keperluan pertumbuhan ( Gaman dan Sherington, 1992).
BAB 3 MATERI DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Makanan Ternak Departemen Ilmu Peternakan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya untuk pembuatan bahan substitusi berupa tepung limbah tempe fermentasi. Perlakuan pada hewan coba dilaksanakan di Kandang Ayam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Penelitian ini dilakukan pada awal Agustus sampai awal September 2009.
3.2 Materi Penelitian
3.2.1 Hewan percobaan
Hewan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam pedaging jantan umur dua minggu ( fase starter ) Strain Arbor Acress merk CP 707 sebanyak 24 ekor produksi PT. Charoen Pokphan. Hewan coba yang dipergunakan dalam keadaan sehat.
3.2.2 Bahan penelitian
Ransum ayam pedaging fase finisher yang digunakan terdiri dari jagung, bekatul, dan konsentrat dari PT. Wonokoyo Jaya Corporindo, untuk lebih jelasnya komposisi konsentrat dapat dilihat pada Lampiran 2. Pakan perlakuan yang akan dicobakan adalah komposisi pakan ayam pedaging fase finisher yang disubstitusi tepung limbah tempe fermentasi dalam jumlah yang berbeda-beda untuk substitusi jagung, perbandingan komposisi bahan pakan dapat dilihat dalam Tabel 3.1.
Bahan lain yang digunakan untuk penelitian ini adalah sekam, vitastress atau obat anti stres (komposisi dapat dilihat pada Lampiran 3), air bersih dan bahan untuk fumigasi kandang yaitu formalin 40% dan kalium permanganat (KMnO4) dengan perbandingan 2:1 serta Lysol 3% 100 cc
untuk desinfeksi. 3.2.3 Alat penelitian
Alat-alat yang digunakan untuk fermentasi terdiri dari alat pengukus, kompor, alat pencatat waktu, alas plastik untuk menjemur limbah tempe, mesin penggiling pakan, kantong plastik, wadah steril, gelas ukur, tali raffia, sprayer, spatula, teko, pipet, gloves, timbangan bahan KD-160, timbangan Weston 5 kg dan spidol marker.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan kerangka operasional sesuai dengan bagan alur penelitian. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu Pembuatan tepung limbah tempe fermentasi, persiapan hewan coba dan perlakuan pada hewan coba.
3.3.1 Pembuatan tepung limbah tempe fermentasi
3.3.2 Persiapan hewan coba
Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging jantan yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan yaitu P0, P1, P2 dan P3 dengan enam ulangan. Sebelum diberi perlakuan, ayam diadaptasikan selama satu minggu di dalam kandang indukan dengan tujuan agar ayam dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Kandang indukan berukuran 350 x 120 x 50 cm dan terbuat dari kayu dengan lantai diberi alas sekam padi kering dilapisi kertas koran, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum serta dilengkapi dengan dua buah lampu pijar berkekuatan 100 Watt sebagai pemanas. Satu minggu sebelum anak ayam datang, kandang dan peralatan dibersihkan. Desinfeksi kandang dengan menggunakan larutan Lysol 3%. Dosis standar dengan besar ruangan 1 m2 menggunakan larutan lysol 3% sebanyak 100cc. Selanjutnya fumigasi kandang menggunakan Kalium Permanganat (KMnO4) yang dilarutkan dalam larutan Formalin 40% dengan perbandingan 1:2. Dosis standar dengan besar ruangan 3 m3, KMnO4 20g dan formalin 40% 40cc. Kandang indukan dipersiapkan dan lampu pijar dinyalakan satu hari sebelum anak ayam datang agar mencapai suhu induk yang ± 32-33 ºC.
3.3.3 Perlakuan pada hewan coba
minggu. Pakan perlakuan dan minum diberikan secara ad libitum. Adapun perlakuan tersebut masing – masing adalah :
1. P0 : Tanpa substitusi tepung limbah tempe fermentasi dalam ransum (kontrol ).
2. P1 : Substitusi 5% tepung limbah tempe fermentasi dalam ransum. 3. P2 : Substitusi 10% tepung limbah tempe fermentasi dalam ransum. 4. P3 : Substitusi 15% tepung limbah tempe fermentasi dalam ransum.
Tabel 3.1 ; Komposisi Pakan Ayam Pedaging Fase Finisher (%)
Sedangkan kandungan gizi masing - masing ransum perlakuan terdapat pada Tabel 3.2
Tabel 3.2 ; Kandungan Gizi Ransum Perlakuan
Sampel BK
Kandang baterai sebagai kandang perlakuan dibuat dari kayu dan dibagi atas 24 petak dengan masing-masing petak berukuran 55 x 45 x 50 cm. Kandang baterai ini dilengkapi dengan tempat pakan dan minum serta tempat penampung kotoran pada bagian bawahnya. Penempatan ayam untuk tiap-tiap perlakuan dalam kandang baterai dilakukan secara acak sesuai dengan rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap
Sisa konsumsi pakan masing - masing unit perlakuan selama satu minggu terakhir penelitian ditimbang untuk dihitung rata - rata sehingga diperoleh data konsumsi rata - rata perhari per ekor ayam dalam satuan gram. Pengambilan ekskreta juga dilakukan pada satu minggu terakhir penelitian setiap 24 jam sekali. Setiap sampel ekskreta ditimbang dan diambil seperlima dari jumlah total ekskreta per ekor ayam kemudian segera pada hari itu juga disimpan dalam freezer (0°C). Setelah satu minggu, diambil rata - rata dari jumlah total ekskreta per ekor ayam untuk dianalisis dengan analisis proksimat untuk mengetahui kadar protein kasar dan bahan kering (Lampiran 10). Daya cerna protein kasar dan bahan kering dapat dihitung dengan data yang diperoleh dari konsumsi pakan, berat ekskreta beserta hasil analisis proksimat bahan kering dan protein kasar dari konsumsi pakan dan ekskreta. Perhitungan daya cerna protein kasar dan bahan kering berdasarkan rumus yang tersaji pada parameter penelitian.
t (n-1) ≥ 15 3.4 Rancangan Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan enam ulangan.
Rumus berikut digunakan untuk menentukan ulangan yang diberikan.
Keterangan :
t = total perlakuan ; n = jumlah ulangan (Kusriningrum, 2008) 3.5 Variabel Penelitian
3.5.1 Variabel bebas
Limbah tempe yang difermentasi menggunakan Aspergilllus niger 0,5% dan Lactobacillus sp 3%.
3.5.2 Variabel tergantung
Kecernaan protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan. 3.5.3 Variabel kendali
Strain ayam pedaging, berat badan, umur dan jenis kelamin ayam pedaging.
3.6 Parameter Penelitian
Pengumpulan data yang dilakukan terhadap konsumsi pakan setiap hari selama satu minggu terakhir atau pada saat ayam berumur lima minggu. 24 jam setelah pemberian pakan, pakan sisa ditimbang, selisihnya adalah pakan yang dikonsumsi.
Data berat feses diambil dengan cara penimbangan feses yang dihasilkan setiap hari. Feses yang terkumpul dimasukkan dalam freezer (dengan tujuan kandungan Nitrogen tidak hilang) dari masing-masing ayam percobaan selama seminggu dicampur hingga homogen dan kemudian diambil sebanyak ± 50 g untuk dianalisis kadar bahan kering dan protein.
Perhitungan daya cerna bahan kering dan protein sebagai berikut : Anggorodi (1990)
Daya cerna bahan kering =
Daya cerna protein =
3.7 Analisis Data
3.8 Alur Penelitian
Hasil limbah tempe dikukus selama 30 menit dan dikeringkan, lalu digiling menjadi bentuk tepung
Fermentasi fakultatif aerob dengan Aspergilllus niger 0,5% dan Lactobacillus sp 3% selama 7 hari
Pemberian pakan pada 24 ekor ayam pedaging jantan umur tiga minggu
Perlakuan selama 2 minggu
Analisis proksimat protein kasar dan bahan kering Dicampur dengan bahan pakan jagung,
BAB 4 HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian pemberian tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan meliputi :
4.1 Daya Cerna Protein Kasar
Pada minggu kelima penelitian diperoleh hasil pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna protein kasar ayam pedaging jantan tercantum dalam Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Rata-rata dan Simpangan Baku Daya Cerna Protein Kasar beserta Data Transformasi √y
Perlakuan Daya Cerna Protein Kasar
Rata-rata ± SD (%) Rata-rata ± SD setelah ditransformasi √y P0 90,34 ± 1,1535 8,6713 ± 0,0604 P1 92,45 ± 1,5774 9,6150 ± 0,0821 P2 91,30 ± 1,4660 9,5548 ± 0,0663 P3 91,48 ± 1,9999 9,5642 ± 0,1045
4.2 Daya Cerna Bahan Kering
Pada minggu kelima penelitian diperoleh hasil pemberian tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna bahan kering ayam pedaging jantan tercantum dalam Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Rata-rata dan Simpangan Baku Daya Cerna Bahan Kering beserta Data Transformasi √y
Perlakuan Daya Cerna Bahan Kering
Rata-rata ± SD (%) Rata-rata ± SD setelah ditransformasi √y P0 77,02 ± 3,0712 8,7749 ± 0,1753 P1 79,47 ± 3,6702 8,9130 ± 0,2067 P2 79,59 ± 2,5872 8,9206 ± 0,3398 P3 77,63 ± 4,5638 8,8075 ± 0,2612
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Daya cerna Protein Kasar
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara perlakuan. Daya cerna protein kasar pada masing-masing perlakuan P0, P1, P2 dan P3 secara berurutan adalah 90,34 %,92,45%,91,30%,91,48% (Tabel 4.1).
Tepung limbah tempe fermentasi pada hasil analisis proksimat menunjukkan kandungan protein kasar sebesar 15,2% (Hidanah dkk., 2009) lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein kasar jagung yaitu sebesar 8,9% (Setyono dkk., 2007). Penambahan tepung limbah tempe fermentasi pada P1, P2 dan P3 masing-masing 5%, 10% dan 15% menunjukkan kandungan protein kasar ada pada kisaran 18% seperti tercantum pada Tabel 3.2. Adapun hasil analisis proksimat protein kasar ransum masing- masing perlakuan yaitu P0 18,04%, P1 18,37%, P2 19,06% dan P3 18,91% (Tabel 3.2). Hal ini kemungkinan sebagai salah satu faktor yang menyebabkan tidak adanya perbedaan daya cerna protein kasar pada perlakuan tepung limbah tempe fermentasi sebagai sustitusi jagung.
terjadinya peningkatan terhadap protein kasarnya. Peningkatan kandungan protein kasar sesuai dengan terjadinya penurunan kandungan serat kasar. Secara umum daya cerna protein kasar dipengaruhi oleh spesies hewan, umur hewan, nilai nutrisi bahan pakan, ukuran dan bentuk pakan, konsumsi pakan serta lingkungan (Ranjhan, 1982). Spesies, umur, bentuk dan ukuran, serta lingkungan hewan pada penelitian ini adalah sama. Nilai nutrisi masing-masing ransum yang tidak jauh berbeda pada penelitian menjadi salah satu penyebab daya cerna protein kasar ayam pedaging tidak berbeda nyata.
Daya cerna protein kasar pada ayam pedaging disebutkan Abun dan Rusmana (2006), adalah rata-rata sebesar 85 %, menurut Anggorodi (1985) adalah sebesar 75 – 91 % dan menurut Zuprisal (2008), adalah rata-rata sebesar 91%. Hal ini menunjukan bahwa hasil perhitungan daya cerna protein kasar pada penelitian ini berada pada kisaran yang sama yakni sebesar P0 90,34%; P1 92,45%; P2 91,30%; dan P3 91,48%.
5.2 Daya Cerna Bahan Kering
Bahan kering adalah berat konstan bahan makanan setelah dihilangkan kandungan airnya dengan pemanasan 105°C selama satu malam sehingga kadar airnya menguap. Bahan kering terdiri atas bahan organik dan anorganik atau mineral, dimana bahan organik terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin.
karena pada produk proses biologis terjadi perubahan kualitas bahan yang disebabkan proses fermentasi yang dilakukan oleh bakteri asam laktat, mengakibatkan perubahan kimia dari satu senyawa yang bersifat kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna sehingga memberikan efek positif terhadap nilai kecernaan bahan kering pada ayam pedaging (Schneider dan Flat, 1975; Stanton dan Yeoh, 1976).
Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna bahan kering ayam pedaging jantan menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata di antara perlakuan. Daya cerna bahan kering pada masing-masing perlakuan P0, P1, P2 dan P3 secara berurutan adalah 77,02%, 79,47% 79,59% dan 77,63% (Tabel 4.1).
Faktor lain yang diduga ikut mempengaruhi nilai daya cerna bahan kering adalah (1) tingkat proporsi bahan pakan dalam ransum, (2) komposisi kimia, (3) tingkat protein ransum, (4) persentase lemak dan (5) mineral (Maynard 1979; Wahju 1997). Pada penelitian ini terdapat hasil analisis proksimat yang menyatakan kadar protein, lemak, serat kasar dan mineral tidak jauh berbeda, sehingga menjadi faktor pendukung tidak adanya perbedaan daya cerna bahan kering pada perlakuan tepung limbah tempe fermentasi sebagai sustitusi jagung.
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi berdasarkan daya cerna protein kasar dapat digunakan sebagai substitusi jagung pada pakan ayam pedaging sampai persentase 15%.
2. Pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi berdasarkan daya cerna bahan kering dapat digunakan sebagai substitusi jagung pada pakan ayam pedaging sampai persentase 15%.
6.2 Saran
Saran yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tepung limbah tempe fermentasi berdasarkan daya cerna protein kasar dan bahan kering dapat digunakan sebagai substitusi jagung pada pakan ayam pedaging sampai persentase 15%.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui pemanfaatan tepung
RINGKASAN
Rahmawati Rizky Hapsari, penelitian dengan judul “Pemanfaatan Tepung
Limbah Tempe Fermentasi sebagai Substitusi Jagung terhadap Daya Cerna Protein Kasar dan Bahan Kering Ayam Pedaging Jantan” dibawah bimbingan Dr. Hj Sri Hidanah, Ir.,M.S. selaku Dosen Pembimbing Utama dan Lilik Maslachah, drh., M.Kes. selaku Dosen Pembimbing Serta.
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji seberapa besar manfaat tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung sebesar 5%, 10% dan 15% terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan. Penelitian tahap persiapan dilakukan di Laboratorium Makanan Ternak Departemen Ilmu Peternakan Fakultas kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya pada awal bulan Agustus 2009, kemudian dilanjutkan tahap pelaksanaan penelitian yang dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.
minggu sampai umur lima minggu. Data dianalisis menggunakan Analisis Varian yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s (Duncan’s Multiple
Range Test) dengan tingkat signifikan 5% untuk mengetahui perlakuan yang terbaik. Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi sebagai substitusi jagung terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan, telah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata di antara perlakuan (P > 0,05). Daya cerna protein kasar pada masing-masing perlakuan P0, P1, P2 dan P3 adalah sebesar 90,34 %, 92,45 %, 91,30 %, dan 91,48 %. Perhitungan daya cerna protein kasar menggunakan Anova menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara perlakuan, sehingga pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi tidak berpengaruh terhadap daya cerna protein kasar ayam pedaging jantan. Daya cerna bahan kering pada masing - masing perlakuan P0, P1, P2 dan P3 adalah sebesar 77,02%, 79,47% 79,59% dan 77,63%. Perhitungan daya cerna bahan kering menggunakan Anova menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara perlakuan, sehingga pemanfaatan tepung limbah tempe fermentasi tidak berpengaruh terhadap daya cerna protein kasar dan bahan kering ayam pedaging jantan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulrahim, M. S. Y., S. M. Haddadin, E. A. R. Hashlamoun and R. K. Robinson. 1996. The Effect of Lactobacillus acidophilus on the Production and Chemical Composition on Hen’s Eggs. Poult. Sci 75 : 491-494.
Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Kemajuan Mutakhir. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Kemajuan Mutakhir. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Anggrahini, R. 1983. Standar Gizi Makanan Olahan. http:// www.searchindonesia.com
Asmara, I. Y., D.Garnida, dan W. Tanwiriah. 2005. Penampilan Broiler yang Diberi Ransum Mengandung Tepung Daun Ubi Jalar (Ipomoea batatas) terhadap Karakteristik Karkas. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.
Basyir, A. K. 1999. Serat Kasar dan Pengaruhnya Pada Broiler. Poultry Indonesia Oktober 99 No. 233, Hal: 43-45.
Deptan.2009.Struktur,komposisidanNutrisi Jagung http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/
jagung/tiganol. pdf.,[31 agustus2009].
FAO. 2002. Protein Source for The Animal Feed Industry. Expert Consultation and Workshop, Bangkok, 29 April-3 May 2002.
Frandson, R.D. 1993. Edisi keempat. Anatomi dan Fisiologi Pada Ternak. Penerjemah : Srigandono.B. dan K. Praseno. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Gaman, P.M dan K.B. Sherington. 1992. Ilmu Pangan Pengantar Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Hidanah, S., H. Setyono, D. S. Nazar, W. P. Lokapirnasari dan Pratisto. 2009. Potensi Limbah Kulit Ari Kedelai yang diproses secara Kimiawi dan Fermentasi untuk Peningkatan Performans Ayam Pedaging. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.
Hood, S. K. and E. A. Zottola. 1998. Effect of Low pH on The Ability of Lactobacillus acidophilus to Survey and Adherence to Human Intestinal Cells. Journal of Food Science 53:1514-1516.
Jaelani, A. 2006. Penataan Kebijakan Pembangunan Perunggasan nasional.Majalah poultry Indonesia Edisi Juni 2006 Vol 1.
Jin, L.Z., Y.W. Ho, N. Abdullah and S. Jalaludin. l997. Probiotics in Poultry : Modes of Action. Worlds Poultry Sci. J. 53 (4) : 351 – 368.
Judoamidjoyo, M. A. A. Darwis dan E. G. Sa’id. 1990. Teknologi Fermentasi.PAU Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.Bogor
Jull, Y.S. 2000. Penggunaan Kultur Campuran terhadap Peningkatan Nilai Gizi Onggok sebagai pakan Broiler. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.Bogor.
Kariyasa, K. 2003. Keterkaitan Pasar Jagung, Pakan dan Daging Ayam Ras di Indonesia. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kataren, P. P., A. P. Sinurat, D. Zainuddin, T. Purwadaria dan I. P. Kompiang. 1999. Bungkil Inti Sawit dan Produk Fermentasinya sebagai Pakan Ayam Pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4 (2):107-112.
Kirk et al. 2001. Ainsworth’s and Bisby’s Dictionary of The Fungi. Ed.9.
Klich, M. A. 2002. Identification of common Aspergillus species. Utrecht, The Netherlands, Centraalbureau voor Schimmelcultures.
Koswara, S., dan E. Prangdimurti. 2005. Penentuan Daya Cerna Protein In Vitro dan Pengukuran Daya Cerna Pati Secara In Vitro. Laporan Praktikum Evaluasi Nilai Biologis Komponen Pangan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lindajati, K., I. Wahyu dan R. Pratiwi. 1991. Media Pengembangan Pangan. Vol 17. Th.4.
Linton, R. G and J.T. Abrams.1990. Animal Nutrition and Veterinary Dietetic.3rd Ed.W. Green and Son, Limited. London
Maynard, L.A., J.K. Loosli, H.F. Hintz, and R.G. Warner. 1979. Animal Nutrition. Seventh Edition McGraw-Hill Book Company, Philippine
Muhammad, N. O. and O. O. Bukoye. 2009. Protein fractions and amino acid profile of Aspergillus niger-fermented Terminalia catappa seed meal. African Journal of Microbiology Research Vol. 3(3) pp. 101-104. Fountain University. Nigeria.
Murni. R., Suparjo, Akmal dan B. L. Ginting. 2008. Buku Ajar Pemanfaatan Limbah untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Murtidjo, B. A. 1994. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Cetakan Keenam Kanisius. Yogyakarta.
Piliang, W. G. 1997. Strategi Penyediaan Pakan Ternak Berkelanjutan Melalui Pemanfaatan Energi Alternatif. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Nutrisi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Pius, S.,U. Atmomarsono. 1999. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Purwadaria, T., T. Haryati, A. P. Sinurat, J. Darma, and T. Pasaribu. 1995. In Vitro Nutrient Value of Coconut Meal Fermented with A. Niger NRRL 337 at Different Enzimatic Incubation Temperatures. 2nd Conference on Agricultural Biotechnology Jakarta, 13-15 June 1995.
Purwanto. Y. A. 2002. Budidaya Ayam Pedaging. Teknis Budidaya Agrokomplek. Bogor
Rachmawan, O. 2001. Penanganan Telur dan daging Unggas. Proyek Pengembangan Sistem dan Standart Pengelelolaan SMK. Jakarta.
Rahayu, K. K dan Soedarmaji.2001. Mikrobiologi Pangan. PAU Pangan Dan Gizi.Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Ranjhan, S.K., 1982. Animal Nutrition in Tropics. 2nd ed. Vikas Publishjing House PUT Ltd. New Delhi. 27 – 50.
Rasyaf, M. 2002. Beternak Ayam Pedaging. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rifqiyah, N. 2005. Pengaruh Pemberian Probiotik Pada Jerami Padi Terhadap Kandungan Protein dan Serat Kasar. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.
Rokhmani I. W. Susana. 2009. Peningkatan Nilai Gizi Bahan Pakan dari LimbahPertanian melalui Fermentasi. Balai Penelitian Ternak Bogor.http://www.peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/lokakarya/lklc0 5-10.pdf
Saputri, P. N. 2003 Daya Cerna Bahan Organik Dan Serat Kasar Pada Beberapa Formula Ransum Ayam Pedaging Berdasarkan Asam Amino Kritis. Skripsi.
Fakaultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.
Schneider, B.H. dan W.P. Flatt. 1975. The Evaluation of Feeds Through Digestibility Experiment. The University of Georgia Press, New York.
Setyani, E. 2004. Pengaruh Tepung Daun Pepaya (Carica papaya) dalam Ransum terhadap Persentase Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Pedaging Jantan. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.
Setyono, H., Kusriningrum., Mustikoweni., T. Nurhajati.,Sidik, R., Agustono., M. A. Al-Arief., M. Lamid., A. Monica dan W. Paramitha. 2007. Teknologi Pakan Hewan. Bagian Ilmu Peternakan Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.
Siswantoro, D. 1999. Pengaruh Kulit Biji Cokelat yang Difermentasi sebagai Bahan Substitusi Pakan terhadap Kadar Protein Daging, Berat Hati dan Pankreas Ayam Pedaging Jantan. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.
SNI 01-3931-2003. Ransum Ayam Pedaging Fase Finisher.
http://jajo66.files.wordpress..com/2008/06/ransum-ayam-ras-pedaging.pdf. [01 Januari 2010]
Stanton, W.R. and Q.Y. Yeoh. 1976. Low Salt Fermentation Method for Conserving Trash Fish Waste under Southeast Asean Condition. Tropical Product Institut. In Conference on Handling, Processing and Marketing of Tropical Fish, London.
Sukada, I. K., I. N. G.G. Bidura, dan D. A. Warmadewi. 2006. Pengaruh Penggunaan Pollard, Kulit Kacang Kedelai dan Pod Kakao Terfermentasi dengan Ragi Tape terhadap Karkas dan Kadar Kolesterol Daging Itik Bali Jantan. Fakultas Peternakan. Universitas Udayana. Denpasar. Bali.
Sunarso dan Christiyanto. 2009. Manajemen Pakan. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid, dan A.P. Sinurat. 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit secara Substrat padat dengan Menggunakan A.Niger. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (3) : 165-170.
Tangendjaja, B., Y. Yusdja dan N. Ilham. 2002. Analisis Ekonomi Permintaan Jagung untuk Pakan. Makalah disampaikan pada Diskusi Nasional Jagung tanggal 4 Juni 2002 di Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Tilman, A. D., Hartadi, R. Sudomo, P. Soeharto dan Soekamta. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tillman, A.D. Hartadi, S. Reksodiprojo, S. Prawirokusumo dan Lebdosoekojo, 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Kelima. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Tillman, A.D. Hartadi, S. Reksodiprojo, S. Prawirokusumo dan Lebdosoekojo, 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Keenam. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Trisnajaya, D dan M. A. Subroto. 1996. Analisis Ekonomi untuk Komersialisasi Proses Fermentasi. Warta Biotek. Th 10. No. 3:1-12.
Tzean, D. A., Schuster, E., Dunn-Coleman, N., Frisvad, J.C. and Van Dijck, P.W. 1990. Mycological Monograph No.1, Cult. Coll. Res. Center. Taiwan. Vitriasari, R. 1998. Pengaruh Substitusi Pakan Komersial dengan Kulit Biji Cokelat
Hasil Fermentasi terhadap Berat Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Pedaging Jantan. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.
Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Wahyu, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Wahyu, J. 2002. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Widayati, E. dan Y. Widalestari. 1996. Limbah untuk Pakan Ternak. Trubus
Agrisarana. Jakarta.
Winantea. 1999. Pengaruh Fermentasi Bungkil Kelapa Menggunakan Trichoderma viride terhadap Komposisi Kimia dan Kecernaan Protein pada Ayam Broiler. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung. Wonokoyo. 2009. Pedoman Pemakaian dan kandungan Gizi Pakan Ayam. PT.
Wonokoyo. Pasuruan.
Yuwanta, T. 2001. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta. ISBN 979-21-0-395-3
Lampiran 1. Proses Fermentasi Tepung Limbah Tempe
Limbah tempe dikukus 30 menit dan dikeringkan
Digiling menjadi bentuk tepung
Fermentasi dengan Aspergilllus niger 0,5% dan Lactobacillus sp 3% selama 7 hari
Tepung Limbah Tempe Fermentasi
Dibuka dan diangin-anginkan
Dicampur dengan bahan pakan jagung, bekatul dan
Lampiran 2. Komposisi KBR 2 Produksi PT. Wonokoyo Jaya Corporindo
Bahan pakan penyusun konsentrat terdiri dari :
Jagung Pollard
Bungkil Kedelai
Rapeseed Tepung daging
Tepung tulang
Biji batu CPO
Vitamin
Lampiran 3. Analisis Proksimat Bahan Kering Bebas Air
Prinsip :
Bahan kering adalah bahan yang tersisa setelah kandungan air yang terdapat pada sampel ( bahan pakan) dihilangkan atau diuapkan seluruhnya.
Alat yang digunakan :
Cawan porselen, cruss tang, timbangan analitik, oven, exicator yang berisi silica gel
Cara kerja :
1. Cawan porselen yang bersih dimasukkan ke dalam oven 105 °C selama satu jam.
2. Cawan dikeluarkan dari oven dan secepatnya dimasukkan ke dalam exicator. Tunggu sampai 10 – 15 menit ,lalu ditimbang ( = A gram).
3. Cawan diisi dengan sampel ± lima gram (berat cawan + sampel = B gram). Masukkan cawan yang berisi sampel ke dalam oven 105 °C selama satu malam.
4. Keluarkan dari dalam oven dan secepatnya dimasukkan ke dalam exicator selama 10 – 15 menit. Setelah dingin lalu ditimbang ( = C gram).
5. Kadar bahan kering bebas air dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Lampiran 4. Analisis Proksimat Protein Kasar Sartorius, gelas ukur, labu ukur 250 cc, erlenmeyer 100 cc dan 1000 cc, serta seperangkat alat Marcam Steel.
Cara kerja :
1. Timbang sampel seberat ± 0,5 gram di atas kertas yang telah diketahui beratnya, kemudian masukkan sampel ke dalam labu Kjeldhal. Tambahkan ke dalamnya tablet Kjeldhal (katalisator) sebanyak seperempat bagian kemudian 10 cc H2SO4 pekat.
2. Panaskan labu tersebut di atas pemanas Kjeldhal dalam almari asam. Pemanasan baru dihentikan jika sudah tidak berasap dan warna larutan menjadi hijau atau kuning jernih ( butuh waktu ± 1,5 jam ). Biarkan beberapa saat sampai labu menjadi dingin.
4. Siapkan erlenmeyer 100 cc yang diisi dengan 10 cc larutan Asam Borat dan dua tetes indikator metil merah serta tiga tetes Brom cresol green untuk menampung hasil penguapan.
5. Siapkan alat marcam Steel . Labu destilasi 2000 cc diisi dengan air 1000 cc dan diisi dengan beberapa butir batu didih. Taruh erlenmeyer 100 cc yang sudah disiapkan tadi pada rangkaian alat Marcam Steel.
6. Ambil sebanyak 10 cc larutan ( no. 3) dan masukkan ke dalam corong alat Marcam Steel. Tambahkan NaOH 40 % sebanyak 5 cc.
7. Panaskan labu destilasi dan tampunglah uap yang keluar dari alat Marcam Steel ke dalam erlenmeyer. Pemanasan dilakukan selama ± 5 menit terhitung setelah air mendidih atau sampai volume erlenmeyer telah mencapai 50 cc.
8. Titrasilah larutan yang telah bercampur uap tersebut dengan H2SO4 0,01
N sampai warna biru muda berubah menjadi hijau jernih.
9. Kadar protein kasar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Protein kasar =
Keterangan:
N adalah normolitas H2SO4 = 0,014 P adalah pengenceran 250 : 10 = 25
Kadar protein kasar berdasarkan bahan kering bebas air :
Lampiran 5. Komposisi Multivitamin Vita Stress Produksi PT. Medion
Setiap kilogram mengandung :
Vitamin A...6.000.000 IU Vitamin D3...1.200.000 IU
Vitamin E...2.500 IU Vitamin K...3 g Vitamin B1...2 g
Vitamin B2...3 g
Vitamin B6...1 g
Vitamin B12...2 mg
Lampiran 6. Komposisi Pakan Perlakuan Fase Finisher dengan Kandungan Tepung Limbah Tempe Fermentasi yang Berbeda
Bahan Pakan P0
(%) P1 (%)
P2 (%)
P3 (%)
Jagung 60 55 50 45
Tepung Limbah Tempe Fermentasi 0 5 10 15
Konsentrat 30 30 30 30
Bekatul 10 10 10 10
Lampiran 7. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Perlakuan
Sampel BK (%)
Abu (%)
Protein (%)
Lemak (%)
SK (%)
BETN (%)
BO (%)
Energi (Kkal/kg) P0 90,76 5,68 18,04 6,87 8,65 51,47 85,08 2997,35 P1 90,05 5,96 18,37 6,11 8,21 51,40 84,09 2953,03 P2 90,62 5,12 19,06 5,27 8,26 52,90 85,50 2964,91 P3 90,48 5,30 18,91 5,02 8,88 52,37 85,18 2920,49
Lampiran 8. Data Rata-Rata Konsumsi Pakan pada Dua Minggu Terakhir Penelitian Per Ekor Per Hari (Gram)
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 97,14 105,71 100 105,71
2 95,71 103,57 85,71 108,57
3 86,43 84,29 105 110,71
4 90,71 96,43 85 107,14
5 105,71 109,29 120 90
6 89,29 93,57 113,57 79,29
Jumlah 564,99 592,86 609,29 599,43
Rata-rata 94,17 98,81 101,55 100,24
Lampiran 9. Data Rata-Rata Berat Ekskreta Pada Minggu Terakhir Penelitian Per Ekor Per Hari (Gram)
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 76,5714 74,8571 72,1428 72,4285
2 74,1428 79,1428 73,28 76,5714
3 70,1428 73,1428 70,1428 73,2857
4 73,2857 70,1428 65 73,1428
5 70,8571 71,1428 76,5714 82,4285
Lampiran 10. Hasil Analisis Proksimat Protein Kasar dan Bahan Kering Ekskreta Per Ekor Per Hari (%)
Hasil Analisis Proksimat Protein Kasar Ekskreta
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 8,360 6,470 9,924 5,931
2 7,595 6,536 8,183 6,917
3 7,238 6,957 7,355 7,680
4 7,784 7,219 7,984 7,784
5 7,345 6,310 7,398 7,646
6 7,094 6,835 7,907 7,126
Hasil Analisis Proksimat Bahan kering Ekskreta
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 25,1644 21,1975 23,7916 27,5001
2 27,2746 20,6929 25,3498 22,5369
3 26,3416 25,5624 27,2671 27,9786
4 25,5281 24,7256 27,2654 25,7534
5 24,9659 26,2547 24,2653 26,1658
Lampiran 11. Data Daya Cerna Protein Kasar (%) dan Data Transformasi Daya Cerna Protein Kasar
Data Daya Cerna Protein Kasar
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 89,90 94,13 90,14 93,46
2 90,22 93,75 89,73 93,57
3 90,16 90,67 92,24 91,68
4 90,22 92,15 90,36 92,00
5 92,51 93,48 93,36 89,29
6 89,04 90,55 91,98 88,91
∑ 542,05 554,73 547,81 548,91
x 90,34 92,45 91,30 91,48
Data Transformasi Daya Cerna Protein Kasar
Ulangan P0 P1 P2 P3
1 9,481 9,702 9,494 9,667
2 9,498 9,682 9,472 9,673
3 9,495 9,522 9,604 9,574
4 9,498 9,599 9,505 9,591
5 9,618 9,668 9,662 9,449
6 9,436 9,515 9,590 9,429
∑ 57,027 57,69 57,329 57,385
Lampiran 13. Data Daya Cerna Bahan Kering (%) dan Data Transformasi
Data Transformasi Daya Cerna Bahan Kering