• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PIALA DUNIA 2010 SEBAGAI MOMENTUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN PIALA DUNIA 2010 SEBAGAI MOMENTUM"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Globalisasi secara sederhana merupakan proses meningkatnya saling

keterkaitan antar masyarakat dimana hal tersebut di sebagian dunia semakin

memiliki efek pada masyarakat dan manusianya meski ia berada jauh.1

Perkembangan dunia dengan adanya globalisasi ini turut membuka berbagai celah

bagi negara untuk melaksanakan diplomasinya. Dalam dunia terglobalisasi yang

didorong oleh teknologi, negara-negara mau tak mau terdorong untuk

meningkatkan bentuk diplomasi non-tradisional mereka untuk meningkatkan

status internasional mereka. Hal ini terutama terlihat pada negara berkembang

yang tak memiliki sumber daya kekuatan struktural maupun diplomatik yang

ekstensif dan karenanya menggunakan alat lain untuk berkompetisi secara global,

seperti menonjolkan daya tarik dan penampilan.2 Korean Wave, industri film Bollywood dan keflamboyanan permainan olahraga Brazil adalah contoh umum

dari daya tarik tersebut.

Dari berbagai modal yang dijadikan soft power oleh negara-negara, olahraga kini menjadi salah satu instrumen yang menonjol untuk digunakan.

Selain fakta bahwa olahraga adalah industri miliaran dollar, ia juga terglobalisasi

1 John Baylis dan Steve Smith, The Globalization of World Politics, (Oxford: Oxford

University Press, 2001)

hal. 7 diakses melalui http://www.scribd.com/doc/203107411/John-Baylis-Steve-Smith-the-Globalization-of-World-Politics#scribd diakses pada 10 Desember 2015

2 “In Conversation with Justin van der Merwe” HSRC Review - Volume 5 - No. 2 - June

2007, diakses melalui

(2)

secara unik dilihat dari persilangan antara media dan sektor pariwisata, dan

kompetisi yang hadir baik untuk mempertahankan bintang olahraga, sponsorship

perusahaan dan hak untuk menjadi tuan rumah acara olahraga besar, yang akan

diasumsikan akan diikuti oleh prestisi global, kekuatan simbolis dan economic spin-off potensial.3

Seiring dengan olahraga yang makin mengglobal, mereka semakin terkait

dalam politik, menjadi pajangan dari otoritas politik dan bahkan menjadi bentuk

masalah politik yang patut dicatat. Dalam berbagai acara olahraga dunia, ada saja

peristiwa yang mampu memicu persoalan politik. Salah satu contoh terkenal

diplomasi dengan acara olahraga adalah pingpong diplomacy dengan AS-Cina pada 1972. Diplomasi pingpong yang mengarah pada rekonsiliasi dan restorasi

hubungan normal antara dua negara tesebut membuktikan bagaimana olahraga

dapat memainkan peran krusial dalam diplomasi.

Acara olahraga internasional berskala besar sendiri memiliki kapasitas luar

biasa untuk menjadikan adanya suatu pengalaman emosional bersama, yang dapat

menunjukan daya tarik dan impresi olahraga sebagai kekuatan politik.4 Contoh

terkenal bagaimana pengadaaan acara olahraga besar dapat bersinggungan dengan

3 David R. Black and Janis van der Westhuizen, “ The Allure of Global Games for

'Semi-Peripheral' Polities

and Spaces: A Research Agenda”, Third World Quarterly, 25:7, Going Global: The Promises and Pitfalls of

Hosting Global Games (2004b) diakses melalui

http://www.regionalstudies.org/uploads/Airton_Saboya_Valente_Junior.pdf pada 10 Desember 2015

4 David A. DeVoss, “Ping-Pong Diplomacy ;Blending statecraft and sport, table tennis

matches between

American and Chinese athletes set the stage for Nixon's breakthrough with the People's Republik” diakses

(3)

politik diperlihatkan pada Olimpiade 1936 di Berlin yang digunakan Hitler dalam

mempropagandakan Jerman yang unggul dan terbuka. Bahkan Indonesia pun

menggunakan acara olahraga untuk menunjukkan dirinya pada dunia,

memperlihatkan kemajuan bangsa dan mempertegas sikap politiknya, pada saat

penyelenggaraan Asian Games ke-4 tahun 1962 dan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada tahun 1963.5 Keuntungan dari merayakan acara olahraga dirasakan oleh Korea Selatan setelah menyelenggarakan Olimpiade Seoul 1988

dimana setelahnya ia mendapat kesempatan untuk menormalisasikan

hubungannya dengan China dan Vietnam dan juga Uni Soviet dan negara-negara

Eropa Timur.6 Di era televisi ini, kapasitas acara olahraga besar untuk membentuk

dan memproyeksikan citra dari sang tuan rumah, baik domestik maupun global,

membuat penyelenggaraannya menjadi instrumen yang sangat menarik bagi elit

politik dan ekonomi. Penyelenggaraan dan sponsorship dari acara ini menjadi

strategi populer dari pemerintah maupun perusahaan yang berpendapat bahwa

akan terdapat keuntungan pembangunan, politik, dan sosiokultural sebesar apapun

biaya yang harus dikeluarkan.

Sepak bola saat ini bukan hanya sekadar olahraga, ia telah menjadi arena

publik yang ditayangkan melalui televisi untuk kontes global antar bangsa.

Kesuksesan sepak bola internasional adalah berdasarkan kemampuannya untuk

mengembangkan rasa keikutsertaan global dalam suatu acara dengan hasil yang

5 Rudi Hartono, “Ganefo, Lembaran Sejarah yang terlupakan” diakses melalui

http://sejarah.kompasiana.com/2010/08/27/ganefo-lembaran-sejarah-yang-terlupakan/ pada 11 Desember 2015

6 Han Sung-joo, “ Sports Diplomacy and the World Cup”, diakses melalui http://www.koreafocus.or.kr/design2/culture/view.asp?

(4)

sulit diperhitungkan. Bagi penggemarnya, sepak bola bukan sekedar olahraga.

Pada kenyataannya pun permainan sebelas lawan sebelas orang ini telah menjadi

icon, pemersatu, ideologi, bahkan “agama‟ bagi banyak orang. Dengan sepak bola merupakan olahraga terpopuler di dunia dengan anggota FIFA bahkan lebih

banyak daripada anggota PBB, Piala Dunia FIFA yang dilaksanakan tiap empat

tahun sekali sejak pertama kali digelar di Uruguay pada 1930 dianggap acara

olehraga terbesar dengan jangkauan mengglobal, terbukti ia merupakan ajang

kompetisi olahraga yang paling banyak ditonton dan banyaknya negara-negara

dunia yang menyiarkan pertandingan-pertandingannya. Bahwa masyarakat lebih

tertarik pada hasil pertandingan sepak bola dikompetisi ini daripada

perkembangan politik dunia tampaknya bukanlah sesuatu yang aneh. Berbagai

negara di dunia pun berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan

turnamen ini, tidak terkecuali Indonesia yang sempat mengajukan diri untuk Piala

Dunia tahun 2022.7 Pada tahun 2010 sendiri, tepatnya tanggal 11 Juni-11 Juli

2010, Afrika Selatan menjadi tuan rumah dari Piala Dunia FIFA yang untuk

pertama kalinya diselenggarakan di Afrika.

Afrika Selatan sendiri memiliki reputasi buruk sebagai negara dengan

tingkat kejahatan tinggi yang bukan berada dalam kondisi perang, korupsi dalam

pemerintahan, dan belum lagi sebagai negara berkembang ia pun memiliki

masalah ketimpangan ekonomi dan ketidaksetaraan kesempatan edukasi dan

tingginya angka HIV/AIDS di negara tersebut. Afrika Selatan pun masih

7 Kristianto Purnomo, “Indonesia Nyalon Tuan Rumah Piala Dunia 2022” Kompas Bola,

29 Januari 2009, diakses melalui

(5)

diidentikkan dengan apartheid, dan ia masih bertumpu pada Nelson Mandela

sebagi ikon negara tersebut yang dikenal dunia. Pergelaran turnamen ini di Afrika

Selatan sendiri bukannya tanpa kontroversi, di mana persepsi mengenai

keterbelakangan kontinen Afrika dibanding kontinen lainnnya menjadi alasan kuat

untuk meragukan suatu acara kelas dunia dapat diselenggarakan dengan baik di

sini. Di antara negara-negara Afrika lainnya sendiri, terutama di Sub-Sahara

Afrika, Afrika Selatan sendiri bisa dianggap lebih maju. Meskipun sebagai negara

berkembang kinerja ekonominya masih di bawah negara-negara seperti Indonesia

atau Argentina, posisinya yang dianggap menonjol di kontinen Afrika

memberikannya potensi dalam mengembangkan pasar Afrika dan memberikannya

peluang dalam menjadi anggota BRICS dan juga G-20.8

Penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2010 ini pun dapat dianggap sebagai

cara bagi Afrika Selatan untuk memperlihatkan kapabilitasnya dalam

membuktikan diri dan mengundang masyarakat internasional. Meski jumlah turis

lebih rendah dari yang diperkirakan namun terhitung sekitar 3 juta fans menonton

acara tersebut, menjadikannya yang ketiga tertinggi dalam sejarah FIFA.9 Dari

segi pemasukan, Piala Dunia 2010 dianggap sukses dengan FIFA mengkonfirmasi

bahwa mereka dapat menghasilkan 3,655 milyar dolar dari acara tersebut.10

8 Eve Fairbanks, “South Africa’s Awkward Teenage Years” Foreign Policy, Jan/Feb 2012,

diakses melalui

http://www.foreignpolicy.com/articles/2012/01/03/

south_africa_s_awkward_teenage_years?page=full pada 12 Desember 2015

9 Lauren Ploch, “South Africa: Current Issues and U.S. Relations,” CRS Report for

Congress, 4 January 2011,

hal.17 diakses melalui http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL31697.pdf pada 12 Desember 2015

10 “Blatter: 2010 South Africa World Cup huge fnancial success”, CNN, 3 Maret 2011,

diakses melalui

(6)

Meskipun begitu, riset sebelum dan sesudah penyelenggaraan sesungguhnya

menunjukkan bahwa dampak ekonomi yang diberikan Piala Dunia FIFA 2010 ini

pada Afrika Selatan sesungguhnya tidak signifikan dan dilebih-lebihkan untuk

melegitimasi keuntungan yang diperoleh FIFA dan partner komersialnya.11Dapat

dikatakan bahwa Piala Dunia FIFA 2010 ini memang tidak dapat secara langsung

mengangkat pembangunan daerah-daerah tertinggal di Afrika Selatan yang masih

harus berkutat dengan kemiskinan dan pengangguran. Namun, Piala Dunia FIFA

2010 ini ditonjolkan kesuksesannya dengan penyelenggaraan yang relatif aman

dan lancar dan dianggap mampu memperlihatkan Afrika Selatan yang bersatu

dengan rainbow nationnya, dimana berbagai ras yang tadinya terpecah akibat kebijakan apartheid kini membentuk satu masyarakat Afrika Selatan yang solid

serta mendukung di belakang tim nasional dan status mereka sebagai tuan rumah.

Diplomasi melalui penyelenggaraan acara olahraga besar bukanlah

merupakan hal yang baru, namun ia semakin diperhatikan dengan adanya

globalisasi yang dapat meluaskan pengaruh dari diplomasi tersebut, sebagai alat

memasarkan yang mumpuni bagi negara yang berhasil mendapatkan hak tuan

rumah. Negara pun bersedia mengeluarkan dana besar yang diperlukan untuk

menyelenggarakan suatu acara karena mereka melihat adanya nilai lebih besar

dalam menjadi tuan rumah sebagai stimulan pada ekonomi, masyarakat, sektor

11 Eddie Cottle, “A Preliminary Evaluation of the Impact of the 2010 FIFA World CupTM:

South Africa” diakses melalui

(7)

ekonomi kunci (terutama turisme), merek nasional, dan tentunya pada daya saing

global mereka.12

Kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA sendiri, misalnya, tidak

hanya terlihat pada angka-angka namun pada bagaimana ia dapat memberikan

perubahan pada negara tersebut, misalnya sebagai katalis yang mempengaruhi

dinamika politik dan sosial negara penyelenggara dan pesertanya. Piala Dunia

tahun 2002 menandai hubungan kerja sama Korea Selatan dan Jepang ketika

mereka menjadi host bersama. Penyelenggaraan Piala Dunia 2006 di Jerman pun

memberi dampak pada insurgensi kebanggaan identitas nasional Jerman tertinggi

sejak Perang Dunia berakhir. Jika menilik pada gambaran di atas saja, maka

sewajarnya penyelenggaraan acara olahraga ini menjadi sesuatu yang menjanjikan

bagi negara-negara yang berlomba untuk dapat menetapkan posisi diri dalam

ruang kompetisi internasional sekaligus meraih dukungan domestik.

Berlomba untuk menjadi tuan rumah acara olahraga berskala global

merupakan trend yang ada di antara negara-negara berkembang atau bahkan

negara yang secara ekonomi maju namun jarang terdengar dalam percaturan

politik dunia, sehingga keistimewaan untuk menjadi tuan rumah saat ini tidak

hanya eksklusif milik negara-negara maju yang dipandang memang mampu

menyelenggarakan acara demikian. Dengan adanya sistem rotasi, Brazil

merupakan negara berkembang berikutnya yang menjadi tuan rumah Piala Dunia

FIFA. Dalam bidding penyelenggaraan tahun 2022, Qatar terpilih menjadi tuan

12 Anita Mendiratta, “Major Sport Events: Major Drivers for Tourism” CNN Task Group,

April 2010, hal. 5

(8)

rumah mengalahkan kandidat non-Amerika Latin dan Eropa seperti Jepang, Korea

Selatan dan Australia (setelah Amerika Serikat mengundurkan diri) yang lebih

maju dan berpengalaman menyelenggaraan mega sporting events sekaligus menandai Piala Dunia kedua yang diselenggarakan di Asia dan pertama di

kawasan Timur Tengah, dimana diplomasi olahraga pun menanjak pamornya

ditandai dengan jumlah sponsorship pada klub-klub Eropa maupun pembelian

pemain-pemain bola asing untuk meningkatkan pamor olahraga negara-negara

Timur Tengah. Kemenangan bidding Qatar sendiri kemudian diikuti oleh kontroversi, dimana ia dicurigai membeli dukungan untuk menjamin kemenangan

sebagai tuan rumah.13

Pengadaan mega sporting sendiri sebenarnya bukan tanpa risiko yang

malah nanti akan memberikan dampak negatif. Penyelenggaraan Olimpiade tahun

2004 di Athena, Yunani, disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang

menjerumuskan negara tersebut pada hutang sebagai akibat dari biaya tinggi yang

ditutupi oleh kemewahan yang diperlihatkan dalam pelaksanaannya. Negara pun

tidak selalu dapat mengontrol kejadian apa yang akan terjadi dalam pelaksanaan

mega event tersebut dengan kasus paling menonjol yakni penculikan dan

pembunuhan delegasi Israel pada Olimpiade Berlin 1972. Hal ini menunjukkan

perbedaan hasil yang diperoleh dari diplomasi dengan menggunakan acara

olahraga besar. Meskipun memiliki risiko besar, apalagi dengan pesimisme yang

13 Nader Jahanfard, “ To Qatar or Not to Qatar” Huffington Post, 1 Juni 2011, diakses

melalui

(9)

mengiringi, Afrika Selatan tetap maju percaya diri sebagai Tuan Rumah Piala

Dunia FIFA 2010.

Nation Branding sendiri merupakan sesuatu yang tampaknya sudah

dipahami oleh Afrika Selatan, jika dilihat pada bagaimana negara ini menyadari

pentingnya untuk membuat suatu merek dengan adanya pembentukan

International Marketing Council (IMC). IMC didirikan pada Agustus 2001 untuk membantu menciptakan citra positif melalui merek yang melekat untuk Afrika

Selatan. Misinya adalah untuk membangun Brand South Africa, menciptakan

pencitraan terkoordinir antara pemerintah dan swasta untuk memasarkan Afrika

Selatan secara internasional dan membangun dukungan nasional untuk Brand

tersebut dari dalam negeri. Pendirian IMC yang memegang Brand South Africa

ini didasarkan pada kebutuhan akan adanya insitiatif pemasaran terkoordinasi

untuk membuat atraksi pada pariwisata dan investasi untuk menjadi lebih efektif.

Perannya sendiri adalah untuk menciptakan citra positif terpadu dari Afrika

Selatan yang dapat membangun kebanggaan, mempromosikan investasi dan

pariwisata, hingga dapat membantu menciptakan perusahaan dan lapangan kerja

baru. Karenanya, IMC memiliki partner dari berbagai departemen pemerintahan,

mulai dari Departemen Perdagangan dan Industri (Department of Trade and

Industry/DTI), Departemen Kerja Sama dan Hubungan Internasional (Department

of International Relations and Cooperation/ DIRCO) hingga Government

Communication and Information System (GCIS).14

(10)

Bagaimana suatu negara dapat memasarkan dirinya penting dalam

memberi daya jualnya dalam persaingan global. Globalisasi telah mendorong

negara-negara untuk memasarkan identitas mereka sebagai merek internasional

untuk mereka jual. Banyak negara berkembang pun tak memiliki banyak pilihan

selain ikut bersaing dalam memperlihatkan diri sesuai merek yang mereka bawa

baik untuk menunjukkan posisi dalam kebijakan luar negeri maupun dalam hal

seperti menarik investasi yang pada akhirnya keduanya diharapkan dapat

membantu meraih kepentingan nasional mereka. Jika dianggap mampu

menyelenggarakan Piala Dunia saja, apalagi yang berhasil, pemerintah Afrika

Selatan pun memiliki suatu kekuatan yang dapat memperbaiki citra maupun

menambah daya jualnya. Dalam hal ini, penulis melihat bawa Afrika Selatan tidak

hanya sekadar menyelenggarakan Piala Dunia FIFA 2010 sebagai suatu acara

turnamen olahraga belaka namun ia juga dapat memanfaatkan turnamen tersebut

sebagai alat diplomasi yang dapat meningkatkan citra positif Afrika Selatan

sebagai negara tujuan wisata Internasional.

Berdasarkan pada latar belakang tersebut diatas, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian yang berjudul “Peran Piala Dunia 2010 Sebagai Momentum Afrika Selatan Dalam Meningkatkan Kedatangan Wisatawan Asing”.

1.2. Batasan dan Rumusan Masalah

Penulis membatasi masalah dalam penelitian ini berupa segala bentuk

yang termasuk aktivitas dan inisiatif yang dilakukan pemerintah Afrika Selatan

(11)

rumah Afrika Selatan. maka penulis akan membuat batasan dalam penelitian ini

yaitu “strategi Afrika Selatan melalui momentum Piala Dunia 2010 dalam

meningkatkan kedatangan wisatawan asing”, Adapun yang menjadi Rumusan

Masalah dalam tulisan ini adalah :

1) Bagaimanakah Peran Piala Dunia 2010 sebagai momentum

Afrika Selatan dalam meningkatkan kedatangan wisatawan

Asing?

1.3. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimanakah Peran Piala

Dunia 2010 Sebagai momentum Afrika Selatan dalam

meningkatkan kedatangan wisatawan Asing

1.3.2. Kegunaan Penelitian

Adapun penelitian ini diharapkan dapat berguna secara:

1) Akademis, yaitu sebagai sarana dan referensi bagi

peminat-peminat masalah Hubungan Internasional sekaligus sebagai

informasi bagi para penstudi Ilmu Hubungan Internasional

khususnya menyangkut masalah diplomasi publik, mengenai

aktifitas dan inisiatif dalam event FIFA World Cup 2010 .

2) Pragmatis, yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi para pembuat

(12)

diharapkan berguna sebagai referensi dan bahan pertimbangan

dalam merespon masalah-masalah lain yang terkait atau

memiliki konteks yang sama.

1.4. Penelitian Terdahulu

Sejauh pengamatan penulis ada beberapa skripsi dan karya kepustakaan

yang menjadikan Piala Dunia sebagai pembahasan utama. Penelitian pertama dari

skripsi Seri Afenita Pinem yang berjudul “Kepentingan Brazil Menjadi Tuan

Rumah Piala Dunia FIFA 2014”, dalam penelitian ini menjelaskan mengapa

Brazil ingin menjadi tuan rumah piala dunia 2014 dan kepentingan negara Brazil

sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2014.

Sebagai Negara berkembang, Brazil lebih dikenal sebagai negeri sepak

bola. Sepak bola bagaikan sebuah agama dinegara Brazil. Sepak bola jauh lebih

berkembang dibandingkan dengan teknologi yang ada hingga saat ini. Bagi

masyarakat Brazil, sepak bola adalah suatu permainan, suatu kebanggaan dan

identitas negara Brazil. Melalui piala dunia 2014, Brazil berhasil menaikkan

perekonomiannya, pemasukan paling tinggi berasal dari keuntungan investasi oleh

negara Brazil yang merupakan sektor utama tujuan Brazil dalam meningkatkan

perekonomiannya melalui piala dunia 2014. Sepanjang 2010 hingga 2014, Brazil

telah menginvestasikan dana hingga R$ 22,46 miliar untuk mempersiapkan

infrastruktur Piala Dunia yang memadai. Dari investasi tersebut, negara ini bisa

meraup kembali pendapatan dari sektor barang dan jasa sebesar R$ 112,79 miliar.

(13)

dijadikan presiden Dilma Rouseff sebagai alat untuk kembali menjadi Presiden

Brazil.

Penelitian kedua dari skripsi Moh Kiki Wahid Purnomo yang berjudul

“Kepentingan Negara Jerman Dalam Piala Dunia 2006”, dalam penelitian ini

menguraikan bagaimana Jerman berhasil menjalin kerjasama Internasional

melalui momentum piala dunia 2006. Bagi Negara-negara di eropa seperti

Polandia, Denmark dan Rep.Ceko, Jerman merupakan negara yang patut untuk

dicurigai. Jerman merupakan negara yang di ungkit-ungkit sebagai penyebab

perang Dunia 2. Jerman yang sudah bersatu, bukan lagi Jerman Barat dan Jerman

Timur dianggap dapat kembali menjadi Jerman dimasa lalu. Sikap dari

negara-negara tetangganya inilah yang ingin dibuktikan Jerman melalui Piala dunia 2006,

bahwa Jerman merupakan negara yang mampu menjalin kerjasama dengan

negara-negara tetangganya. Jerman yang sekarang lebih menjunjung rasa

kebersamaan dan perdamaian. Saat berlangsungnya kejuaraan dunia sepak bola

piala dunia 2006 ketika bendera nasional Jerman hitam-merah-emas dikibarkan

dengan santai bersamaan dengan bendera nasional Italia ketika para pendukung

Italia datang menghadiri semifinal piala dunia 2006. Tidak ada perpecahan yang

terjadi, hanya ada rasa perdamaian dan sifat sportif ketika Jerman harus mengakui

keunggulan Italia 2-0. Sifat sportif dan damai yang ditunjukkan merupakan pesan

bahwa Jerman adalah negara yang cinta damai. Melalui Piala Dunia 2006 ini

Jerman mampu menjalin Kerjasama dengan negara-negara Uni Eropa lainnya.

(14)

salah satu pembayar terpenting dan sebagai mediator antara kepentingan negara

kecil dan besar, di barat dan timur anggota Uni Eropa.

Dan penelitian yang ketiga dari Raisa Muthmaina yang berjudul

“Pengaruh Piala Dunia FIFA 2010 Terhadap Peningkatan Marketing Power

Afrika Selatan”, dalam penelitian ini menjelaskan bagaimana Afrika Selatan

menjadikan Piala Dunia 2010 sebagai momentum untuk menaikkan perekonomian

negaranya.

Momentum piala dunia 2010 dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan

nilai jual ekspor produk Afrika Selatan. Afrika Selatan memiliki keunggulan di

bidang produksi pertambangan, pertanian dan manufaktur. Sebagai sektor

unggulan, pertambangan menjadi komoditi utama dalam perekonomian Afrika

Selatan, dan melalui momentum piala dunia 2010, bukan hanya dari sektor

pertambangan yang ingin ditingkatkan oleh Afrika Selatan, tetapi juga dari sektor

produk dalam negeri. Terbukti, setelah piala dunia nilai ekspor dari sektor

pertambangan dan produk dalam negeri Afrika Selatan meningkat. Peningkatan

pesat terjadi pada produk Wine, dimana Wine Afrika Selatan merupakan produk

yang dijual banyak ketika perhelatan piala dunia 2010. Sehingga produk wine

Afrika Selatan diminati oleh beberapa negara seperti China, Inggris dan Jerman.

Strategi marketing power yang digunakan pemerintah dengan mempromosikan produk dalam negeri merupakan cara Afrika Selatan berhasil menaikkan 1,2%

perekonomian negara melalui sektor ekspor produk dalam negeri Afrika Selatan.

Dalam penelitian penulis yang berjudul Peran Piala Dunia 2010 Sebagai

(15)

Penulis melihat tujuan Afrika Selatan sebagai tuan rumah piala dunia 2010, selain

sebagai alat diplomasi melalui sepak bola, tujuan utama yang difokuskan oleh

pemerintah Afrika Selatan adalah pada sektor pariwisata. Dengan nation branding, pemerintah berusaha mempromosikan citra Afrika Selatan yang lebih baik, pemerintah Afrika Selatan ingin menunjukkan bahwa, negara Afrika Selatan

tidak hanya menyelenggaran perhelatan piala dunia, tetapi juga menunjukkan

bahwa Afrika Selatan adalah negara yang mampu mengundang masyarakat

internasional. Melalui piala dunia 2010, Afrika Selatan menunjukkan bahwa

negaranya adalah negara yang memiliki banyak destinasi wisata, sehingga

perhelatan piala Dunia FIFA 2010 merupakan momentum Afrika Selatan dalam

mempromosikan citra positif negaranya dan sebagai tujuan wisata.

Untuk lebih tepatnya dapat dilihat dalam table berikut :

(16)
(17)

Kedatangan Wisatawan

Asing

Oleh : Ahmad Azhmy Pendekatan :

Diplomasi

Kerangka konseptual pada prinsipnya bertujuan untuk membantu penulis

menentukan tujuan dan arah penulisan serta memilih konsep untuk menyusun

hipotesa. Untuk dapat menjawab permasalahan yang ada, akan digunakan konsep

Diplomasi sepakbola dan nation branding sebagai kerangka dasarpemikiran.

1.5.1 Football Diplomacy

Sepak bola merupakan olahraga terpopuler didunia. Meskipun ada yang

tidak tahu tentang peraturan dan cara bermain sepak bola, minimal mengetahui

tentang sepak bola dan tujuannya.

Menurut Franklin Foer dalam bukunya How Soccer Explain The World,

(18)

menemukan permainan yang pernah dimainkan oleh sebuah tim sebelumnya, dan

dalam pertandingan sepak bola juga bisa menemukan permainan yang baru dalam

sebuah tim sepak bola. Sepak bola merupakan representasi kehidupan, kadang kita

menemukan dejavu didalam kehidupan, tapi terkadang kita menemukan hal yang benar-benar baru.15

Di beberapa Negara, sepak bola merupakan sebuah ideologi dan bahkan

bagi masyarakatnya dianggap sebagai suatu agama. Seperti halnya di Italia dan

Brazil, sepak bola merupakan kiblat bagi masyarakatnya. Di Brazil, sepak bola

sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakatnya. Di Italia, sepak bola

bagaikan ajang untuk melihat siapa yang berkuasa. Lebih khusus dilihat pada

sebuah tim di Italia, yaitu Napoli, dimana masyarakat pendukung Napoli memuja

patung Diego Maradonna untuk meminta kemenangan. Selain itu derby Della Madoninna yang di artikan “ibu segala derby” antara Internazionalle Milano vs Ac Milan merupakan derby panas di Italia, dan siapapun pemenangnya di arak

mengelilingi patung bunda Maria yang ada di kota Milan, sebagai simbol yang

diperebutkan.16

Selain itu, sepak bola pun dapat memicu perang. Seperti yang terjadi

antara El-Savador dan Honduras pada tahun 1969 yang lebih dikenal perang sepak

bola atau perang 100 jam.17

15Di kutip dari buku karya Edward S Kennedy, “sepak bola seribu tafsir” hal , diakses melalui http://www.hukumpedia.com/alfero_/beberapa-fenomena-luar-biasa-karena-sepak-bola pada 1 February 2016

16“football, the new religion” diakses melalui

http://www.providence-ebenezer.org.uk/article.php?id=football-the-new-religion pada 1 February 2016

17“majalah historia” hal 5 diakses melalui

(19)

Sepak bola dimasa modern dapat menjadi alat diplomasi bagi suatu

Negara, contohnya seperti yang dilakukan oleh negara Bosnia & Herezgovina

untuk meminta dukungan kepada negara-negara didunia untuk mengakui

kemerdekaan mereka. Yang dilakukan dalam mencapai itu adalah melakukan tour

keliling dunia untuk melakukan pertandingan persahabatan sepak bola sebagai

diplomasi yang dilakukan oleh Bosnia & Herezgovina pada tahun 1992.18

Dengan latar belakang yang berbeda-beda, membuat sepak bola memiliki

tingkat kompleksitas yang begitu tinggi. Dalam buku karya Franklin Foer ”How Soccer Explain The World”, Franklin Foer mengatakan “why Football?, why not the other sports?”, hal ini menunjukkan berkat kesederhanaannya, sepak bola mampu dengan mudah menjadi penjembatanan antara satu entitas dengan entitas

lain, sepak bola ini begitu fleksibel untuk masuk di ruang-ruang sempit kehidupan

masyarakat luas.19

Diplomasi sepak bola berada dalam kawasan diplomasi publik. Menurut

Bill Shankly, yang merupakan mantan pelatih di salah satu klub sepakbola

Inggris, Liverpool, mengatakan bahwa sepak bola bukan cuma sebuah permainan,

tetapi ia adalah kekuatan ekonomi, sebuah model globalisasi, dan, yang lebih

penting, sebuah sarana bagi penyelesaian konflik. Bill Shankly Melihat

penggunaan sepakbola untuk diplomasi dalam bentuk positif, karena sepakbola

dapat menjadi alat pemersatu bangsa, sebagai alat memperkenalkan suatu Negara,

sebagai media menjalin kerjasama, dan sebagai penyelesaian konflik.20 Sifat

18soccerway” diakses melalui

http://us.soccerway.com/teams/bosnia-herzegovina/bosnia-herzegovina/299/ pada 1 February 2016

19Edward S Kennedy, op.cit

20Neil Stormer “Lebih Dari Sekedar Permainan” diakses melalui

(20)

kompetitif dalam sepakbola dengan saling mengunggulkan nasionalismenya tak

menghalangi fungsinya yang jika digunakan sebagai alat diplomasi, menjadi

penghubung antar masyarakat yang memiliki banyak perbedaan.21

Sepakbola memberikan kesempatan bagi nasionalisme dimanapun,

walaupun terkalahkan namun tetap menghargai negara lain yang merupakan

bentuk pengertian dan fair play, suatu kualitas yang diharapkan dari olahraga tersebut dan juga merupakan pengekspresian yang sehat dalam pertunjukan

nasionalisme. Selain negara,sepakbola pun dapat menunjukkan aktor-aktor

non-negara yang memiliki citra kuat sehingga ia menggantikan citra atau stereotip

negatif yang mungkin melekat pada negaranya. Dengan nilai-nilai sepakbola

dipahami universal, ia dapat digunakan sebagai alat untuk menunjukan

kebersamaan dan mendekatkan masyarakatdengan latar belakang berbeda.

Seperti yang dilakukan oleh Afrika Selatan, dimana Afrika Selatan

menggunakan momentum piala dunia FIFA 2010 sebagai diplomasinya dalam

mencapai tujuannya. Dengan diplomasi sepak bola, Afrika Selatan mampu

membangun citra positif negaranya, meningkatkan pada sektor pariwisatanya, dan

mampu menumbuh rasa nasionalisme masyarakat Afrika Selatan.

1.5.2 Nation Branding

Demi mencapai keberhasilan dalam mencapai aktivitas Dipomasi, konsep

Nation Branding diperlukan untuk mencapai tujuan dari aktivitas diplomasi

tersebut. Istilah nation branding sudah ada sejak tahun 1998, sejak seorang

(21)

konsultan Inggris bernama Simon Anholt mengejutkan dunia bisnis dan politik

dengan menyatakan bahwa tempat dan negara dapat dilihat sebagai sebuah

merek.22 Nation branding dapat diinterpretasikan dalam beberapa cara yang

berbeda. Nation branding memiliki tujuan yang jelas yaitu menggunakan the

nation’s image untuk mempromosikan produk dalam negeri dan meningkatkan

ekspor. Bentuk kedua dari nation branding adalah place branding - untuk

mempromosikan negara (atau mungkin sebuah kota di negara) sebagai tujuan

wisata. Namun konsep yang kedua ini adalah komponen dari pemasaran

pariwisata. Nation branding strategis bertujuan untuk mempromosikan citra

bangsa yang positif bagi negara dan rakyat, untuk membangun identitas merek

suatu negara, untuk menarik wisatawan, untuk meningkatkan ekspor produk, serta

meningkatkan investasi asing langsung. Anholt, menyatakan bahwa nation

branding adalah cara untuk membentuk persepsi terhadap suatu target kelompok

masyarakat tertentu melalui 6 aspek yaitu: pariwisata, ekspor, masyarakat,

pemerintahan, kebudayaan dan warisan budaya, serta investasi dan imigrasi.23

Bagi Afrika Selatan, nation branding digunakan dalam mempromosikan

citra positif Afrika Selatan, membangun identitas merek Afrika Selatan dan

menarik wisatawan untung berkunjung ke Afrika Selatan.

1.6. Metode Penelitian 1.6.1 Tipe Penelitian

22 Anholt, 2003,dikutip melalui Ostapenko, 2010. Hal 4 Diakses melalui melalui http://www.kemendag.go.id/fles/pdf/2015/03/19/-1426739630.pdf pada 13 Desember 2015

(22)

Tipe penelitian yang penulis gunakan adalah tipe deskriptif analitik yaitu

berusaha menggambarkan tentang strategi Afrika Selatan dalam melakukan

aktivitas dan inisiatif diplomasi publik untuk meningkatkan citra melalui Piala

Dunia 2010.

1.6.2. Batasan Materi dan Waktu

Batasan materi dalam penulisan penelitian ini terfokus pada alasan Afrika

Selatan melakukan Dilomasi sepakbola dan strategi yang dilakukan Afrika Selatan

pada pagelaran piala dunia 2010. Batasan waktu dalam penelitian ini dimulai dari

bidding yang pertama kali dilakukan oleh Afrika Selatan pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2015.

1.6.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah berupa telaah

pustaka (Library Research) yaitu dengan cara mengumpulkan data-data dari literatur-literatur yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang di bahas

berupa buku-buku, dokumen, jurnal, surat kabar atau majalah, dan artikel di

situs-situs internet.

1.6.4. Jenis Data

Jenis data yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data

sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai literatur seperti

buku-buku, jurnal, makalah, surat kabar/majalah dan artikel-artikel dari internet

yang membahas dan mengungkapkan bentuk, aktivitas, dan inisiatif diplomasi

publik pemerintah dan elemen elemen Afrika Selatanmelalui Piala Dunia 2010.

(23)

Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah analiasa kualitatif, yaitu

analisis yang tidak menggunakan telaah statistik dan matematik tetapi

menggambarkan permasalahan berdasarkan pada fakta-fakta yang ada dimana

data yang diperoleh akan disusun dalam suatu tulisan. Angka-angka statistik

hanya digunakan sebagai data penunjang dan pelengkap dati fakta-fakta yang

akan dipaparkan dalam penelitian ini.

1.7. Argumen Pokok

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis menarik asumsi dasar sebagai

pijakan awal dari penelitian ini.

Penyelenggaraan piala dunia 2010 digunakan oleh pemerintah Afrika

Selatan sebagai momentum untuk menjalankan aktivitas diplomasi sepakbola.

Dengan konsep nation branding, pemerintah Afrika Selatan mempunyai tujuan untuk membangun image positif Afrika Selatan dan meningkatkan kedatangan

(24)

1.8. Sistematika Penulisan

Berikut adalah Sistematika Penulisan dimana penulis membagi bab

laporan menjadi 4 bab.

Bab I : Bab Pendahuluan, 1.1 latar belakang, 1.2 batasan dan rumusan

masalah, 1.3 tujuan dan kegunaan penelitian, 1.4 penelitian terdahulu, 1.5 definisi

konseptual,1.6 metode penelitian, 1.7 argumen pokok, 1.8 sistematika penulisan,

1.9 daftar pustaka

Bab II : Bab Pembahasan. Dalam Bab II akan menjelaskan mengenai

Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dengan sub Bab sebagai berikut

: 2.1 Latar Belakang Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. 2.2

Proses Menuju Piala Dunia 2010. 2.3 Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 Afrika

Selatan

Bab III : Bab Pembahasan. Dalam Bab III akan memaparkan mengenai

Strategi Diplomasi Sepakbola Afrika Selatan melalui Momentum Piala Dunia

2010 dengan sub Bab sebagai berikut : 3.1 Diplomasi Sepakbola Afrika Selatan

Melalui piala dunia 2010. Dan 3.2 Dampak penyelenggaraan piala dunia 2010

bagi Afrika Selatan

Bab IV : Bab Penutup. Dalam Bab IV berisikan kesimpulan dari penulisan

Referensi

Dokumen terkait

Masalah lain yang dihadapi negara berkembang adalah melaksanakan pembangunan ekonomi adalah masalah pemerataan pendapatan. Contohnya di Indonesia, perekonomian yang

Pada kondisi leher angsa terpasang (5a) air dari saluran sekunder tidak bisa masuk ke lahan karena terhalang oleh pipa sambungan dengan ketinggian sama dengan

Dengan perkataan lain, dalam mengartikan istilah pembangunan ekonomi, ahli ekonomi bukan saja tertarik kepada masalah perkembangan pendapatan nasional

[r]

Figure 3: Effective training and organizational performance.. The results of Figure 4 confirm the findings of the literature review and the experiences of other organizations.

Dilihat dari keterlibatan kerja dalam kategori yang tinggi, yaitu partisipasi aktif, Pekerjaan sebagai yang utama dan pekerjaan sebagai sesuatu yang

Sehubungan dengan Pelelangan Paket Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi D.I Kuta Cingkam II pada Dinas Pengairan Kabupaten Aceh Tenggara Sumber Dana APBK Aceh Tenggara Tahun

Tetapi pada sudut kemiringan atap (a) yang semakin besar memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding dengan sudut yang lebih keeil, sehingga semakin besar sudut