BAB VII
Pancasila Sebagai Sistem Sistematika
Perjalanan Ketatanegaran Indonesia mengalami pasang surut seiring dengan perjalanan waktu.setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945,sehari kemudian dimulailah lembaran baru ketatanegaraan Indonesia yaitu dengan disyahkannya UUD 1945 oleh Panitia Persiapan Krmerdekaan Indonesia (PPKI). Sebagai bentuk hukum dasar tertulis Undang-Undang Dasar 1945 merupakan sumber hukum, artinya segala peraturan yang ada dalam ketatanegaraan haruslah bersumber pada UUD maka peraturan tersebut dihapuskan.Tetapi sejarah mencatat, bahwa ketatanegaraan Indonesia mengalami dinamisasi seiring dengan perubahan rumusan dasar Negara yang menjadi landasan pijak keberlangsungan berbangsa dan bernegara itu sendir
1. RUMUSAN DAN SISTEMATIKA PANCASILA DALAM SEJARAH PERKEMBANGAN KETATANEGARAAN PERIODE 17 AGUSTUS 1945 SAMPAI 27 DESMBER 1949
Sebagaimana diketauhi pada periode pertama terbentuknya Negara RI, konstitusi yang berlaku adalah UUD 1945 yang di tetapkan dan di sahkan oleh PPKI pada tanggal 18 agustus 1945, yang dalam Pembukaan UUD 1945 Rumusan dasar Pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 inilah yangsah dan benar karena disamping mempunyai kedudukan konstitusional, juga disahkan oleh suatu badan yang mewakili seluruhbangsa Indonesia (PPKI) yang berarti rumusan Dasar Negara Indonesia yang terkenal dengan “Pancasila”, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Menurut UUD 1945, yang berdaulat itu adala rakyat dan di lakukan oleh MPR. Sebagaimana yang ditentukan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 karena MPR melakukan kedaulatan rakyat oleh UUD 1945 ditetapkan pula beberapa tugas dan wewenangnya, diantara menetapkan UUD dan GBHN memilih dan mengangkat presiden dan mengubah UUD MPR sebagai pemegang kedaulatan yang tertinggi dalam sistem ketatanegaraan, denag jumlah anggota yang begitu banyak tidak dapat bersidang setiap hari karenanya untuk melaksanakan tugas sehari-hari diserahkan kepada Presiden sebagai Mendataris MPR. presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan dibantu oleh Wakil presiden dan mentri-mentri nya. Mentri-mentri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dan tudak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden dalam melaksanakan kekuasaanya (fungsi) tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat( DPR) walaupun demikian presiden harus dapat berkerja sama
Dengan DPR, sebab DPR merupakan anggota MPR dan sebaliknya Presiden tidak dapat membubarkan DPR.
Perubahan Praktek Ketatanegaraan
PPKI menyadari bahwa untuk menyelenggarakan pemerintahan menurut UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sekaligus dalam waktu sesingkat mungkin. Untun itu masih diperlukan masa-masa peralihan.
Realisasi dari Pasal tersebut maka atas usul Otto Iskandardinata dipilih secara aklamasi Soekarno dan Moh.Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden sedangkan dalam menjalankan kekuasaan nya Presiden di bantu oleh Komite Nasional.
Sebagai wujud sistem Presidensial maka kabinet bertanggung jawab kepada presiden tetapi tidak lebih dari satu setengah bulan terjadi perubahan ketatanegaraan dengan keluarnya maklumat Wakil Presiden No.X tanggal 16 oktober 1945 isi dari maklumat menyebutkan komite nasional Indonesia.
Pusat (KNIP) sebelum terbentuk MPR dan DPR sebelum terbentukMPR dan DPR di serahi tugas legistlatif dan menetapkan GBHN serta menyetujui pekerjaan Komite Nasional Pusat sehari hari berhubung dengan gentingnya keadaan, di jalan kan oleh sebuah badan pekerja yang dipilih diantara mereka dan bertanggung jawab kepada Komite Nasional Pusat.
Berdasarkan maklumat tersebu Joniarto menyimpulkan:
pertama KNIP ikut menetapkan GBHN bersama sama dengan Presiden .Kedua KNIP bersama-sama Presiden menetapkan undang-undang yang boleh mengenai segala urusan pemerintahan ; ketiga kaerna gentingnya keadaan, maka dalam melaksanakan tugas kewajiban sehari hari dari Komite Nasional pusat tersebut akan di jalankan oleh badan pekerja yang bertanggung jawab kepada Komite Nasional Pusat.
Menurut Inu Kencana syafii: Sejak sistem Presiden sial beralih kepada sistem parlementer, walaupun tidak dikenal dalam UUD 1945, sistem itu berjalan hingga tanggal 27 Desember 1949 dan UUD 1945 sendiri tidak mengalami perubahan secara tekstual. Oleh karenaitu perubahan sitem pemerintahan dan administrasi Negara tersebut merupakan tindakan yang menyalahi UUD
2. RUMUSAN DAN SISTEMATIKA PANCASILA DALAM SEJARAH PERKEMBANGAN KETATANEGARAAN PERIODE 27 DESEMBER 1949 SAMPAI 17 AGUSTUS 1950
Perjalanan Negara baru republic Indonesia, tidak luput dari rongrongan pihak Belanda yang menginginkan untuk kembali berkuasa di Indonesia. Belanda mencoba untuk mendirikan Negara-negara seperti Negara sumatera Timur(24 Maret 1948), Negara Indonesia Timur (1946), Negara Pasundan (termasuk Distrik Feseral Jakarta), Negara Jawa Timur (16 Nopember 1948), Negara Madura (23 Januari 1948), dan sebagai nya. Usaha tersebut sebagai taktik untuk meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Untuk merealisasikan tujuan tersebut belanda mengadakan dua cara
Pertama;melakukan kontak senjata (agresi) yaitu agresi 1 tahun 1947 dan agresi kedua 1948. Terbukti pada tanggal 27 juli 1947 belanda melakukan penyerbuan ke berbagai wilayah Indonesia, sehingga sebagian wilayah Indonesia kembali dalam kekuasan nya. Pada tanggal 19 desember 1948 Yogyakarta yang dijadikan Ibukota Negar Republik Indonesia berhasil di kuasai, Presiden dan Wakil Presiden ditawan. Atas ultimatum wakil Presiden memberi mandat kepada Mr.Syarifudin Prawinegara untuk mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di sumatera Utara jika tidak mungkin dapat di bentuk PDRI di india.
Demi merebut kembali wilayah Negara kesatuan republic Indonesia (NKRI) yang dikuasai Belanda Panglima Besar Jendral Sudirman bersama masyarakat melakukan perang gerilia yang puncaknya pada tanggal 1 Maret 1949 Letkol Soeharto memimpin penyerbuan ke Yogyakarta dan berhasil mendudukinya selama 6 jam. Dan di dalam KMB dihasilkan 3 buah persetujuan pokok antara lain:
2. Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Didirikan Uni antara Republik Indonesia Serikat dengan Kerajaan Belanda
Persetujuan penyerahan kedaulatan sendiri meliputi: 1. Piagam penyerahan kedaulatan
2. Status Uni
3. Persetujuan perpindahan
Rumusan dan sistemmatika Pancasila yang terdapat pada mukadimah Konstitusi RIS, yaitu:
1.Ketuhanan yang maha Esa 2.Peri Kemanusiaan
3.Kebangsaan 4.Kerakyatan 5.Keadilan sosial
Mukadimah Konstitusi RIS tersebut, telah menghapuskan sama sekali jiwa, semangat, atau isipembukaan UUD 1945.
Sistem Pemerintahan Menurut Konstitusi RIS
Menurut Pasal 1 ayat (1), “ Republik Indonesia serikat yang merdeka dan bardaulat ialah suatu Negara hukum yang demokrasidan berbentuk demokrasi”.
Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat(2) disebutkan bahwa kekuasaan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dilakukan oleh pemeri,tah bersama-sama dengan DPR dan senat” Hal ini berarti bahwa ketiga lembaga Negara tersebut yaitu Pemerintah ,DPR dan senat adala pemegang kedaulatan untuk membentuk undang-undang secara bersama sama apabila:
1. Menyangkut hal khusus
Secara khusus sistem pemerintahan Indonesia disebutkan dalam pasal 118 ayat (2) yang menyatakan : “Tanggung jawab kebijaksanaan Pemerintah berada di tangan Mentri tetapi apabila kebijaksanaan Mentri, atau para mentri ternyata tidak dapat di benarkan oleh DPR, maka Menteri itu harus mengundurkan diri atau DPR dapat membubarkan Menteri-menteri (cabinet) tersebut dengan alasan tidak percaya.
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat di simpulkan bahwa: Pertama,
yang dimaksud Pemerintah adalah Presiden dengan seseorang atau beberapa Menteri, Presiden didalam menyelenggarakan Pemerintahan Negara tidak dapat diganggu gugat. Yang bertanggung jawab untuk kebijaksanaan pemerintah di tangan Mentri-mentri baik secara bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri. Kedua, dari segi pertaggungjawaban Mentri-mentri maka sistem pemerintahan berdasarkan Konstitusi RIS menganut sistem pemerintahan parlemen, yaitu mentri-mentri baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertanggung jawab kepada Parlemen (DPR).
Selain presiden dan DPR dalam Konstitusi RIS terdapat senat yang merupakan wakil Negara bagian/daerah bagian yang jumlahya 2 Orang untuk masing-masing Negara/daerah bagian. Jadi senat adalah suatu badan perwakilan Negara bagian yang anggota-anggotanya di tunjuk oleh masing masing pemerintah negarbagian masing-masing.
3. RUMUSAN DAN SISTEMATIKA PANCASILA DALAM SEJARAH PERKEMBANGAN KETATANEGARAAN PERIODE 17 AGUSTUS 1950 SAMPAI 5 JULI 1959
Menurut Dasril Radjab:
Rakyat dan bukan pula merupakan keputusan politik dari rakyat Indonesia, akan tetapi merupakan rekayasa dari luar baik dari pihak Belanda maupun PBB.
Persetujuan mendirikan Negara kesatuan Republik Indonesia kembali tertuang dalam perjanjian 19 mei 1990. Untuk mewujudkan kemauan itu di bentuklah suatu Panitia yang bertugas membuat UUD yang baru pada tanggal 12 Agustus 1990. Rancangan UUDtersebut oleh badan pekerja Komite Nasional Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat serta Senat RIS pada tanggal 14 Agustus 1950 disyahkan ,dan di nyatakan mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950.
Pembukan UUD 1950 ini dengan menggunakan pasal 190,pasal 127a dan pasal 191 ayat (2) UUD RIS maka dengan UUD No.7 tahun 1950 Lembaran RIS 1950 No.56,yang berisi dua ketentuan ,yaitu:
1. Indonesia kembali menjadi Negara kesatuan dengan menggunakan UUD,S1950 yang merupakan hasil perubahan konstitusi RIS
2. Perubahan bentuk susunan Negara dengan UUD,S 1950 secara resmi dinyatakan berlaku mulai 17 Agustus 1950.
Dalam pembukaan Undang-undang Dasar Sementara republik Indonesia [UUD 1950], tersebut terdapat rumusan dan sistematika dsar Negara Pancasila yangsama dengan yang tercantum dalam Konstitusi RIS, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Peri Kemanusiaan
Bentuk Negara Menurut UUDS 1950
Mengenai bentuk Negara diatur dalam Alinea IV UUD 1950 yang menentukan: maka ini kami menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu piagam Negara yang berbentuk republic kesatuan ….Demikian pula yang ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1950 yang menentukan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ialah Negara hukum yang deokratis dan berbentuk kesatuan
Sistem Pemerintahan Negara
Menurut pasal 45 ayat (1) dan UUD 1950 menentukan ;Presiden adalah Kepala Negaradalam melakukan ktwajibannya di bantu oleh seorang Wakil presiden. Presiden dan Wakil presiden tidak dapat di gangu gugat pemerintahan adala di tangan dewanMentri yang di ketuai oleh seorang Perdana Menteri. Menteri-menteri bertanggung jawab atas semua kebijakanPemerintahan baik bersama-sama seluruhny, maupun masing-masing untukbagianya sendiri-sendiri kepada DPR.
Dasar Hukum Dekrit 5 Juli 1959
Seperti halnya UUD 1949, UUD 1950 juga bersifat sementara sementara sebagaimana di sebut dalam pasal 134 tentang perubahan yang mengharuskan Konstituante bersama-sama dengan pemerintah untuk menyusun UUD RI yang akan menggantikan UUD 1950 Untuk memilih anggota Konstituante tersebut ,pada Desember 1950 di adakan pemilu pemilu ini berdasarkan UU.No 7 Tahun
agar Konstituante menetapkan saja UUD 1945 sebagai UUD yang tetap bagi Negara RI. Setelah di berikan tenggang waktu konstituante belum juga mampu menyusun UUD.
4. RUMUSAN DAN SISTEMATIKA PANCASILA DALAM SEJARAH PERKEMBAGAN KETATANEGARAAN PERIODE 5 JULI 1959 SAMPAI SEKARANG
Dengan dekrit presiden 5 Juli 1959,maka berlaku kembali UUD Dengan demikiaan rumusan dan sistematika pancasila tetap seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 .
Untuk mewujudkan pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila di bentuklah alat-alat perlengkapan Negara .
a. Presiden dan menteri-menteri
Dengan berlakunya kembalinya UUD 1945, presiden yang sebelumnya hanya berlaku sebagai kepala Negara maka selanjutnya juga sebagai kepala pemeritah. Pada tangal 10 juli 1959 Preiden Soekarno di ambil sumpahnya sebagai presiden Menurut UUD 1945 dari bersamaan dengan itu Presiden mengumumkan susunan dan nama-nama mentri dan cabinet baru. Menteri-menteri tersebut sebagai pembantu presiden, di angkat dan di hentikan oleh Presiden di angkat dan di hentikan oleh Presiden dan tidak bertanggung jawab kepada DPR melainkan kepada Presiden.
b. Dewan Perwakilan rakyat Gotong Royong (DPRGR)
DPR tidak memenuhi harapan Presiden. Sehingaga di keluarkan Pempres No. 3 Th1960 tentang pembaharuan susunan DPR, yang berisi 1. Penghentian pelaksanaan tugas pekerjaan anggota DPR
2. Pembaharuuan susunan DPR berdasarkan uud 1945 pada waktu sesingkat-singkatnya
c. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS)
Selain pembentukan DPRGR untuk merealisasikan dekrit di keluarkan juga penpres No.2 tahun 1959 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan peraturan presiden No.12 tahun 1960 tentang susunan Majelis Permusyawaratan Sementara (MPRS).
Menurut penetapan Presiden Nomor 2 tahun 1959 tentang majelis permusyawaratan rakyat (MPR)sebagai berikut:
1. Sebelum susunan MPR menurut pasal 2 ayat 1 UUD 1945.maka dibentuk MPRS yang terdiri dari snggota-anggota DPR yang di maksud dalam Penetapan Presiden No.1 tahun 1959 di tamba dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan menurut Aturah
2. Jumlah anggota MPRS ditetapkan Presiden
d. Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)
Melengkapi alat perlengkapan Negara sebagaiamana di maksut Dekrit 5 Juli 1959, bahwa harus di bentuk Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) di keluarkan Penpes Nomor 3 tahun 1959 tentang dewan Pertimbangan AgugSementara (DPAS) menurut penpes No. 3 tahun 1959. a. Anggota DPAS di angkat dan di berhentikan oleh Presiden
b. Jumlah anggota DPAS di tetapkan oleh Presiden
c. Anggota DPAS di anggkat dari golongan-golongan karya orang-orang yang dapat mengemukakan persoalan daerah dan Tokoh-tokoh nasional
e. Pelaksanaan UUD 1945
1. Pelaksanaan demokrasi terpimpin di mana presiden terbentuk MPRS dan DPAS dengan penpres Nomor 2 tahun 1955 yang bertentangan sistem pemerintahan presidensiil sebagaimana dalam UUD 1945
2. Penentuan massa jabatan Presiden seumur hidup.hal ini tentnya bertentangan dengan pasal UUD yang menyebutkan bahwa masa jabatan presiden adalah 5 tahun dan setelah nya dapat di pilih kembali
3. Berdirinya partai Komunikasi Indonesia yang berhaluan qtheisme hal ini bertentangan dengan falsafah bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang pada sila pertama menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa ,artinya bahwa Bangsa Indonesia harus mengakui adanya tuhan
4. Adanya kudeta dari PKI dengan gerakan 30 September (G 30/PKI) yang jelas-jelas akan membentuk Negara Komunis di Indonesia, hal ini merupakan penyimpangan terbesar terhadap pelaksanaan UUD 1945.
f. Surat Perintah 11 maret 1966
Menyikapi kondisi ketatanegaraan yang semraut demikian memunculkan tuntutan rakyat yang di kenal dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu:
1. pelaksanaan kembali secara murni dan konsekuen Pancasila dan UUD 1945
2. pembubaran partai komunis Indonesia (PKI) 3. Penurunan harga barang
g. Dasar hukum surat Perintah 11 Maret 1966
Konsideran Surat perintah 11 Maret 1966 menyatakan
1. Perlu adanya ketenangan dan kesetabilan pemerintah dan jalanya revolusi 2. Perlu adanya jaminan Keutuhan pemimpin Besar revolusi, ABRI, dan
tertinggi / pemimpin besar revolusi / mandaritas MPRS serta ajaran-ajaran nya.
A.PENGERTIAN NILAI, NORMA DAN MORAL
Nilai, norma, dan moral adalah konsep-konsep yang saling berkaitan. Dalam hubungannya dengan Pancasila maka ketiganya akan memberikan pemahaman yang saling melengkapi sebagai sistem etika. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai yang menjadi sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaran lainnya. Di samping itu, terkandung juga pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif. Oleh karena itu, suatu pemikiran filsafat adalah suatu nilai-nilai yang bersifat mendasar yang memberikan landasan bagi manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai tersebut dijabarkan dalam kehidupan yang bersifat praksis atau kehidupan nyata dalam masyarakat, bangsa dan negara maka diwujudkan dalam norma-norma yang kemudian menjadi pedoman
Nilai (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial dan karya.
Pandangan para ahli tentang nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat :
Alportmengidentifikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dalam enam macam, yaitu :
3. Nilai estetika 4. Nilai sosial 5. Nilai politik dan 6. Nilai religi
Max Scheler, mengelompokkan nilai menjadi enam tingkatan, yaitu:
1. Nilai kenikmatan 2. Nilai kehidupan 3. Nilai kejiwaan 4. Nilai kerohanian
Notonagoro, membedakan nilai menjadi tiga, yaitu :
1. Nilai material 2. Nilai vital
3. Nilai kerokhanian
Nilai berperan sebagai pedoman menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai manusia berada dalam hati nurani, kata hati dan pikiran sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang bersumber pada berbagai sistem nilai.
Norma-norma yang terdapat dalam masyarakat antara lain :
Norma agama : adalah ketentuan hidup masyarakat yang bersumber pada agama
Norma kesusilaan
: adalah ketentuan hidup yang bersumber pada hati nurani, moral atau filsafat hidup.
Norma hukum : adalah ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku dan bersumber pada UU suatu Negara tertentu Norma sosial : adalah ketentuan hidup yang berlaku dalam
hubungan antara manusia dalam masyarakat
Pengertian moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan, kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia.
Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi maka pribadi itu dianggap tidak bermoral.
Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan dan atau prinsip-prinsip yang benar, baik terpuji dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
B.PANCASILA SEBAGAI NILAI DASAR FUNDAMENTAL
Nilai-nilai pancasila sebagai dasar filsafat Negara Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber dari segala sumber hukum dalam Negara Indonesia. Sebagai sumber dari segala sumber hukum secara objektif merupakan pandangan hidup, kesadaran, cita hukum, serta cita-cita moral yang luhur yang meliputi suasana kejiwaan, serta watak bangsa Indonesia.
dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri. Berkaca kepada kalimat yang mengatakan bahwa pengembangan Pancasila harus memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia memiliki arti bahwa dalam usaha menciptakan keselarasan antara Pancasila dan kondisi masa kini haruslah dilakukan dengan sangat hati-hati, agar pengembangan yang dilakukan tidak melenceng dari nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri.
Nilai-nilai pancasilla terkandung dalam UUD 1945 secara yuridis mamiliki kedudukan sebagai pokok kaidah Negara yang fundamental. Adapun pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat nilai-nilai pancasila mengandung empat pokok pikiran yang bilamana dianalisis makna yang terkandung di dalamnya tidak lain adalah merupakan devirasiatau penjabarn pancasila.
Pokok pikiran pertama menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara persatuan. Pokok pikiran kedua bahwa Negara hendak mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Pokok pikiran ketiga menyatakan bahwa Negara berkedaulatan rakyat. Pokok pikiran keempat menyatakan bahwa, Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Hal itu dapat disimpulkan bahwa keempat pokok pikiran tersebut tidak lain merupakan perwujudan dari sila-sila pancasila. Pokok pikiran ini sebagai dasar fundamental dalam pendirian Negara, yang realisai berikutnya perlu diwujudkan atau dijelmakan lebih lanjut dalam pasal-pasal UUD 1945.
nilai material, nilai spiritual, nilai pragmatis, nilai positif, nilai logis, nilai etis, nilai estetis, nilai sosial dan nilai religius atau keagamaan.
Dalam menghadapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih banyak berupa persoalan-persoalan yang pelik dalam berbagai sendi kehidupan, masyarakat Indonesia harus memahami bahwa untuk menghadapi polemik tersebut sesungguhnya Pancasila telah memberikan orientasi ke depan yang mengharuskan bangsanya untuk selalu menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya, terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dunia dalam segala bidang. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
C. MAKNA NILAI-NILAI SETIAP SILA PANCASILA
1. Nilai Ketuhanan
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
2. Nilai Kemanusiaan
3. Nilai Persatuan
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia..
4. Nilai Kerakyatan
Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.
5. Nilai Keadilan
Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atauun batiniah.
Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. Karena sifatnya abstrak dannormatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagai nilai dasar, nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Artinya, dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia.
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
2. Tuliskan dan jelaskan Norma-norma yang terdapat dalam masyarakat ! Norma agama : adalah ketentuan hidup masyarakat yang
bersumber pada agama Norma
kesusilaan
: adalah ketentuan hidup yang bersumber pada hati nurani, moral atau filsafat hidup. Norma hukum : adalah ketentuan-ketentuan tertulis yang
berlaku dan bersumber pada UU suatu Negara tertentu
Norma sosial : adalah ketentuan hidup yang berlaku dalam hubungan antara manusia dalam masyarakat
3. Jelaskan maksud dari pancasila sebagai nilai dasar fundamental !