ANALISIS FAKTOR PENGGERAK KINERJA RANTAI PASOK DALAM MENCAPAI
STRATEGIC FIT (STUDI KASUS PT INTEGRA CITRA SOLUSI)
Muhamad Diaz Aprianda1, Tri Buono Asto Nugroho2, Rr. Rieka F. Hutami, SMb, MM3 1,3Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Telkom, Bandung
2Kementerian Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia
1
diazapr @gmail.com ,2 tribuonoasto@gmail .com ,3 [email protected]
Abstrak
Dewasa ini persaingan akan bisnis pada penyedia layanan internet (Internet Service Provider) sangatlah ketat. Salah satu penyedian layan ISP yang bersaing pada industri ini adalah PT.Integra Citra Solusi. Untuk memenangkan persaingan didalam pasar dibutuhkan pencapaian strategic fit. Selain tercapainya strateic fit
perusahaan diharuskan untuk menganalisis supply chain driver yang dijalankan dan mungkin yang akan terjadi.
Driver yang harus dianalisis oleh perusahaan meliputi facilities, inventory, treansportation, information, pricing, dan sourcing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahaui strategi apa yang digunakan oleh perusahaan dalam tercapainya strategic fit melalui pendektaan dari supply chain driver and obstacles. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tak terstruktur dan dokumentasi. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa PT.Integra Citra Solusi menggunakan strategi responsivness dalam memenuhi permintaan pasar melalui pendekatan ke-enam driver
sebagai acuan pengumpulan data.
Kata kunci: Supply Chain Management, Strategic Fit, Supply Chain Driver(Facilities, Inventory, Information, Transportation, Sourcing, Pricing), PT Integra Citra Solusi
Abstract
Keywords: Supply Chain Management, Strategic Fit, SME, Driver and Obstacles (Facilities, Inventory, Information, Transportation, Sourcing, Pricing), PT Integra Citra Solusi
1. Pendahuluan
Saat ini internet menjadi sumber informasi yang paling banyak digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan, tak terkecuali digunakan oleh mahasiswa. Penggunaan internet untuk memenuhi kebutuhan sebagai sumber informasi dikarenakan mudah, cepat, dan akurat. Melalui internet mahasiswa dapat mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan sesuai dengan kebutuhan yang relevan sesuai dengan kepentingan akademik mereka. Kebutuhan informasi mencerminkan adanya persyaratan yang harus dipenuhi dalam melaksanakan tugas tertentu. Hal inilah yang menyebabkan mengapa perilaku informasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan informasi, karena pada dasarnya kebutuhan informasi ini digunakan untuk proses penyelesaian tugas.
Dalam dunia bisnis saat ini persaingan antara perusahaan semakin ketat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, terutama pada bisnis Internet Service Provider (ISP) dimana hampir semua memiliki kesamaan dalam jasanya. Pada perusahaan yang bergerak dalam industi ISP seperti PT. Integra Citra Solusi atau Nethost, pencapaian strategic fit merupakan hal penting untuk dalam bersaing denagan para kompetitornya. Nethost merupakan ISP yang menjangkau daerah sekitaran Universitas Telkom dimana pelanggan utamanya adalah mahasiswa. Nethost memiliki berbagai macam pilihan paket internet yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Ketatnya persaingan didalam indusstri memaksa perusahaan untuk memberikan pembeda secara signifikan agar dapat menarik pelanggan. Salah satu yang menjadikan perbedaan antar perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan adalah Suplly Chain Management (SCM) yang menerapkan strategic fit.
Pujawan (2005) mengajukan ukuran kinerja berupa pemilihan strategi supply chain yaitu responsif atau efisien. Strategi tersebut haruslah tercermin pada kebijakan atau keputusan taktis rantai pasok. Yaitu kebijakan mengenai lokasi fasilitas akan didirikan, bagaimana cara mengelola sistem produksi, bagaimana kebijakan tentang persediaan dan transportasi, supplier yang seperti apa yang akan dipilih, dan kebijakan mengenai pengembangan produk. Sistem tersebut juga dikembangkan oleh Chopra dan Meindl (2013:53) dengan menguraikan secara lebih rinci terhadap enam penggerak (drivers) kinerja rantai pasok. Menurut Chopra dan Meindl (2013:53) penggerak kinerja rantai pasok terdiri dari fasilitas, persediaan, transportasi, sourcing,
informasi, dan harga yang keenamnya ditentukan berdasarkan strategi dalam menjaga keseimbangan antara responsivitas dan efisiensi rantai pasok. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa strategic fit adalah pertemuan antara
competitive advantage dengan supply chain stratgegy. Competitive adventage adalah mendefinisikan target
kebutuhan pelanggan dan pasar sedangkan supply chain strategy adalah menentukan cara pemenuhan pengadaan bahan dalam membuat produk, kebutuhan transportasi, dan mementukan distribusi produk sehinggan pentingnya strategic fit didalam perusahaan adalah bagaimana perusahaan menyesuaikan kebutuhan bahan produksi yang dibutuhkan atas memenuhi keinginan pelanggan dilihat dari strategi pengadaan dari sumber daya yang ada. Beberapa faktor yang mendukung pencapaian strategic fit didalam perusahan adalah facilities, inventory, dan transportation. Dari ketiga factor tersebut, perusahaan dapat menerapkan strategic fit yang tepat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan baik secara efficient atau responsiveness (Chopra dan Meindl, 2013).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengidentifikasi faktor-faktor penggerak atau yang disebut dengan driver kinerja rantai pasok dari Nethost ditinjau dari aspek strategic fit yang dijalankan. Untuk itu penulis melakukan penelitian dengan judul: “ANALISIS FAKTOR PENGGERAK KINERJA RANTAI PASOK DALAM MENCAPAI STRATEGIC FIT (STUDI KASUS PT INTEGRA CITRA SOLUSI)”.
2. Landasan Teori /Material dan Metodologi/Perancangan
2.1. Supply Chain Management
Supply chaindapat diartikan sekumpulan dari tiga atau lebih entitas organisasi maupun individu yang langsung berhubungan pada Upstream dan Downstream dari proses produksi, jasa, keuangan, daj juga informasi yang didapat dari pelanggan (Mentzer et al, 2001) sedangkan menurut tokoh lain supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan secara bersama dalam menciptakan dan menghantarkan produk ke tangan pemakai terakhir. Perusahaan yang terkait diantaranya supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, dan perusahaan-perusahaan pendukung seperti jasa logistik. Fungsi oprasi yang ada di dalam perusahaan dipersatukan bersama dan biasa dari organisasi perusahaan yang berbeda (I Nyoman Pujawan, 2010).
Supply Chain Management(SCM) merupakan sebuah koordinasi strategis yang berhubungan dari fungsi bisnis tradisional dan taktik yang digunakan diberbagai fungsi bisnis dalam perusahaan tertentu dan supply chain di bisnis yang bertujuan untuk meningkatkan performa jangka panjang baik didalam perusahaan itu sendiri mapun keseluruhan (Mentzer et al, 2001) sedangkan menurut pendapat ahli lain supply chain management adalah integrasi aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan (Heizer dan Render, 2008). Supply Chain Management bertujuan untuk menyeragamkan fungsi-fungsi didalam perusahaan dan seluruh supplier dalam rantai pasok untuk ketepatan aliran material jasa dan informasi yang dibutuhkan oleh pelanggan. SCM mempunyai maksud strategis karena sistem pemasok dapat digunakan dalam meningkatkan kemampuan kompetitif (Krajewski dan Ritsman, 1999).
2.2. Strategic Fit
Strategic fit adalah adanya kesamaan tujuan antara competitive advantage dan supply chain
strategies, hal ini menunjukan adanya konsistensi antara prioritas untuk memuaskan pelanggan dengan
kapabilitas supply chain yang sesuai dengan target supply chain strategies yang di bangun (Choppra, 2007).
Untuk mencapai strategic fit menurut chopra ada tiga langkah dasar yaitu: 1.) Understanding the Customer and Supply chain Uncertainity
Perusahaan harus mengerti kebutuhan pelanggan yang menjadi target segmentasinya dan ketidakpastian supply chain untuk memuaskan kebutuhan pelanggan. Hal ini membutuhkan perusahaan membuat cost yang disanggupi dan kebutuhan pelayanan yang diberikanketidak pastian supply chain membantu perusahaan dalam mengidentifikasi ketidak pastian permintaaan, gangguan dan juga waktu delay yang dibutuhkan supply chain untuk persiapkan. 2.) Understanding the Supply Chain Capabilities
Setelah memahami ketidakpastian yang perusahaan alami menciptakan strategic fit merupakan membangun strategi supply chain yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan permintaan yang perusahaan targetkan.
Tahap terakhir dalam mencapai strategic fot adalah dengan memastikan supply chain responsiveness konsisten dengan ketidak pastian yang ada seperti permintaan dan supply chain. Tujuannya adalah untuk dengan memberikan responsiveness yang tinggi untuk supply chain yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi, dan efficiency untuk tingkat ketidakpastian yang rendah.
Selain itu menurut Widayanto (2013:59) terdapat dua konsep utama model kinerja rantai pasok dalam mencapai strategic fit yaitu efisiensi dan responsivitas. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh perusahaan.
1. Efisiensi Rantai Pasok
Menurut Ravindran dan Warsing dalam Widayanto (2013:60), kerangka konsep rantai pasok yang efisien lebih fokus pada minimalisasi biaya, yaitu rantai pasok yang membutuhkan biaya input lebih kecil untuk menghasilkan jumlah output yang lebih efisien. Oleh karena itu, langkah-langkah efisiensi berfokus pada biaya yang meliputi: biaya bahan baku, biaya proses manufaktur, biaya distribusi, biaya persediaan, biaya operasional fasilitas, biaya
pengangkutan, dan biaya penggudangan. 2. Responsivitas Rantai Pasok
Responsivitas menurut Ravindran dan Warsing dalam Widayanto (2013:60) mengacu pada sejauh mana kebutuhan dan harapan pelanggan terpenuhi, dan sejauh mana fleksibilitas rantai pasok dapat mengakomodasi perubahan kebutuhan dan harapan. Ukuran umum responsivitas adalah antara lain: keandalan dan ketepatan pemenuhan pesanan pelanggan, waktu
pengiriman, variasi produk, waktu untuk memproses permintaan pelanggan yang khusus atau unik.
Menurut Chopra dan Meindl (2013:41) tindakan suatu perusahaan untuk memilih responsif atau efisien merupakan suatu bentuk strategi. Perbandingan keputusan atau strategi untuk menjadi responsif atau efisien memiliki kondisi yang bertolak belakang seperti yang dijelaskan pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Rantai Pasok Efisien dan Responsif
Atribut Rantai Pasok Efisien Rantai Pasok Responsif
Tujuan Utama Biaya terendah dari supply
demand Merespon permintaan secaracepat
Strategi Desain Produk Maksimisasi kinerja pada biaya produk minimum
Rancang secara modular untuk memungkinkan penundaan produk
Strategi Penetapan Harga Lower price and margins Higher price and margins
Strategi Manufaktur Biaya rendah, utilisasi tinggi Mempertahankan fleksibilitas kapasitas untuk penyangga permintaan atau ketidakpastian pasokan
Strategi Persediaan Minimisasi persediaan untuk
biaya lebih rendah Mempertahankan persediaanuntuk menangani ketidakpastian permintaan/penawaran
Strategi Lead Time Mengurangi, tapi tidak dengan
mengorbankan biaya Mengurangi secara agresifbahkan jika biaya signifikan Strategi Supplier Pilih berdasarkan biaya dan
kualitas
Pilih berdasarkan kecepatan, fleksibilitas, keandalan, dan kualitas
Sumber: Chopra dan Meindl (2013:42)
2.3. Supply Chain Drivers
Gambar 1. Kerangka Desain Rantai Pasok
(Sumber:http://digilib.bppt.go.id/sampul/DISERTASI_YUDI_WIDAYANTO_F361080021.pdf)
2.3.1.Facilities
Fasilitas adalah lokasi fisik dalam jaringan rantai pasok dimana produk disimpan, dirakit, atau dibuat. Ada dua jenis fasilitas yang utama, yaitu lokasi produksi dan lokasi penyimpanan. Keputusan mengenai pentingnya pengelolaan fasilitas, lokasi, kapasitas, dan fleksibilitas dari fasilitas memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja rantai pasok. Komponen dari keputusan mengenai fasilitas menurut Chopra dan Meindl (2013:57) adalah sebagai berikut:
a) Lokasi
Penentuan keputusan dimana suatu perusahaan menentukan lokasi fasilitasnya merupakan bagian yang sangat penting dalam langkah mendesain rantai pasok. Penentuan lokasi secara desentralisasi akan lebih responsif terhadap permintaan konsumen.
b) Kapasitas
Perusahaan juga harus menentukan seberapa besar kapasitas dari fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
2.3.2.Inventory
Persedian meliputi persediaan bahan baku, persediaan dalam proses, dan barang jadi dalam rantai pasok. Komponen keputusan mengenai persediaan menurut Chopra dan Meindl (2013:60) adalah sebagai berikut:
a) Cycle Inventory
Adalah jumlah rata-rata dari persediaan yang digunakan untuk memenuhi permintaan dalam suatu waktu.
b) Safety Inventory
Adalah persediaan yang dibuat untuk berjaga-jaga terhadap perkiraan akan kelebihan permintaan. Hal ini digunakan untuk mengatasi ketidakpastian akan permintaan yang tinggi.
c) Seasonal Inventory
Adalah persediaan yang dibuat untuk mengatasi keragaman yang dapat diprediksi dalam permintaan.
2.3.3.Transportation
Trasportasi adalah kegiatan memindahkan persediaan dari satu titik ke titik lain dalam rantai pasok. Transportasi terdiri atas banyak kombinasi dari model dan bentuk yang memiliki keunggulan masing-masing. Pemilihan transportasi juga mempunyai dampak yang besar terhadap tingkat responsivitas dan efisiensi rantai pasok (Chopra dan Meindl, 2013:62). Komponen dari keputusan mengenai transportasi menurut Chopra dan Meindl (2013:62) adalah sebagai berikut: a) Moda Transportasi
strategi yang diterapkan oleh perusahaan adalah strategi responsif, maka sebaiknya memilih transportasi yang cepat.
b) Rute dan Pilihan Jaringan
Rute adalah jalur jalan dimana sebuah produk dikirimkan, sedangkan jaringan adalah sebuah kumpulan lokasi dan rute dimana produk dapat dikirimkan.
2.3.4.Information
Informasi terdiri dari data dan analisis berkaitan dengan fasilitas, persediaan, transportasi, dan pelanggan di seluruh rantai pasok. Dengan informasi memungkinkan pihak manajemen berkesempatan untuk membuat rantai pasok menjadi lebih responsif dan efisien (Chopra dan Meindl, 2013:64). Komponen keputusan mengenai informasi adalah sebagai berikut:
a) Push VS Pull
Sistem push yaitu menggunakan peramalan untuk membuat jadwal produksi dan lain-lain sedangkan sistem pull yaitu menggunakan informasi atas permintaan aktual konsumen sehingga perusahaan dapat dengan tepat memenuhi permintaan tersebut.
b) Koordinasi dan Sharing Informasi
Koordinasi dari rantai pasok terjadi ketika semua tingkat-tingkat dari rantai pasok bekerja menuju tujuan yaitu memaksimalkan keuntungan total rantai pasok di bandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri.
c) Enabling Technologies
Untuk mencapai sharing informasi dan integrasi dalam rantai pasok terdapat beberapa teknologi yang dapat digunakan seperti EDI, Relative to EDI, ERP, SCM, dan RFID.
2.3.5.Sourcing
Adalah sekumpulan bisnis proses untuk mendapatkan kebutuhan barang dan jasa. Perusahaan harus menentukan strategi yang akan digunakan dalam mendapatkan barang tersebut baik itu responsif atau efisien. Komponen keputusan mengenai sourcing adalah sebagai berikut (Chopra dan Meindl, 2013:66):
a) In-House or Outsource
Untuk fungsi rantai pasokan, keputusan yang paling penting adalah apakah outsource atau
in-house. Sebuah perusahaan outsource jika perusahaan menyewa perusahaan luar untuk
melaksanakan operasi dalam suatu perusahaan.
b) Supplier Selection
c) Procurement
adalah proses dimana perusahaan memperoleh komponen bahan baku, produk, pelayanan atau sumber daya lainnya dari supplier untuk melaksanankan operasi mereka.
2.3.6.Pricing
Menurut Chopra dan Meindl (2013:68) Pricing adalah suatu proses perusahaan dalam menentukan harga suatu produk yang telah dibuatnya.
3. Metodologi
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci dan bermaksud untuk menemukan sebuah pola (Sugiyono, 2010). Penelitian ini menggunakan data primer yaitu wawancara tak terstruktur. Penelitian ini berfokus pada analisis faktor penggerak kinerja rantai pasok pada PT Integra Citra Solusi atau Nethost. Waktu penelitian berlangsung pada September 2015. Informan pada penelitian ini diambil dari narasumber CEO perusahaan, manajer marketing, dan manajer opersional. 3.2 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010:392), purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, karena informan pada penelitian ini yaitu CEO perusahaan, manajer marketing, dan manajer opersional yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan sehingga memudahkan peneliti menjelajahi objek sosial yang diteliti.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian ini adalah adalah mendapatkan data. Bila dilihat dari sumber datanya, penelitian ini menggunakan sumber data primer, yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Bila dilihat dari segi caranya, maka penelitian ini dilakukan dengan wawancara tak terstruktur, dan dokumentasi baik itu catatan, file, hingga foto.
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model Miles dan Huberman. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah analisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan kembali sampai tahap tertentu (Sugiyono, 2010:430). Aktivitas dalam analisis data ini dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Reduksi Data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2010:431).
2. Penyajian Data, dalam penelitian kualitatif , penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya (Sugiyono, 2010:434).
3. Menarik Kesimpulan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Achieving Strategic Fit
Strategic Fit merupakan kesamaan tujuan yang diterapkan competitive and supply chain strategies
dalam sebuah perusahaan, dimana hal ini ditujukan untuk memprioritaskan pelanggan yang diharapkan dapat memuaskan segmen pelanggan yang perusahaan itu kejar. (Chopra, Meindl, 2013:33).
Diagram 1. Value Chain Nethost
Dalam hal ini Nethost memiliki segmen pasar mahasiswa yang membutuhkan internet beserta konten-konten didalamnya. Sehingga Nethost perlu menyesuaikan competitive and supply chain strategies.
1. Understanding the Customer And Supply Chain Uncertainity:
Nethost memiliki mayoritas pelanggan adalah mahasiswa, dan mahasiswa memerlukan internet yang murah, cepat dan juga lancar. Untuk menyesuaikan kantong mahasiswa, Nethost memiliki beberapa pilihan paket yang dapat disesuaikan oleh pelanggan sesuai kebutuhannya mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 300.000. Mayoritas pelanggan adalah mahasiswa, yang tergolong membutuhkan internet setiap saat, maka Nethost melakukan respon yang cepat terhadap permintaan maupun komplain mengenai masalah yang terjadi dengan standar waktu minimal penanganan selama 1x24 jam. Untuk meminimalisir komplain, Nethost melakukan monitoring dan maintance secara rutin.
2. Understanding the Supply Chain Capabilities
Nethost mempersiapkan jaringan, konfigurasi sistem, dan sistem billing yang dapat memungkinkan terjadinya penyelenggaraan jasa. Persiapan itu dilakukan dengan cara mengadakan perangkat yang dibutuhkan, memesan bandwidth yang akan digunakan, dan mengkonfigurasi server untuk sistem billing. Pada proses ini Nethost memiliki hubungan yang intens dengan pihak hulu atau supplier. Kemudian setelah hal tersebut dipersiapkan Nethost menjual produknya yang berupa pulsa kuota internet. Proses persiapan itu memungkinkan Nethost untu menerapkan sistem Made to Sell dalam menjual jasanya.
3. Acheving Strategic Fit
Terdapat 2 strategi yang dapat digunakan dalam suatu rantai pasok yaitu efficient supply chain dan
responsive supply chain. Nethost menggunakan strategic responsive supply chain.. Berikut adalah dimensi strategi responsive supply chain:
- Tujuan Utama
Tujuan dari strategi ini adalah respon cepat yang dilakukan Nethost dalam menanggapi semua
melalui telepon/sms. Tolak ukur tercapainya responsif tinggi adalah penanganan masalah maksimal 1x24 jam. Letak gerai/kantor utama Nethost juga mendukung tercapainya tujuan responsiveness ini yakni yang dekat dengan pelanggan.
- Strategi Desain Produk
Bentuk produk yang dijual oleh Nethost berupa akun dan pulsa kuota internet akun tersebut. Hal ini yang membuat Nethost responsive karena terkategori pada jenis produksi Made To Sell yakni produk yang dijual selalu tersedia.
- Strategi Penetapan Harga
Karena Nethost menerapkan strategi responsiveness dalam SCM-nya, maka dapat terlihat bahwa harga produk Nethost lebih mahal dibandingkan dengan ISP lain. Contohnya, ketika dibandingkan dengan ISP Firstmedia, Firstmedia dapat menawarkan bandwidth yang sama, kuota yang unlimited, dengan harga yang lebih murah apabila dibandingkan dengan produk Nethost dengan kriteria yang sama.
- Satrataegi Manufaktur
Karena Nethost menggunakan Made to Sell, Nethost mempersiapkan jaringan dan servernya untuk diakses calon konsumen Nethost. Jadi ketika konsumen ingin membeli produk Nethost yang berupa pulsa kuota Internet, Nethost bisa langsung memberikan hak akses kepada pelanggan sesuai jumlah yang dibeli.
- Strategi Supplier
Dimensi supplier tidak menujukkan penerapan strategi responsiveness pada SCM Nethost. Hal ini dikarenakan jumlah supplier Nethost yang sedikit, sedangkan ketika menerapkan strategi
responsiveness seharusnya terdapat banyak supplier untuk mencegah adanya opportunity-loss. Namun, perlu diperhatikan bahwa Nethost merupakan SME yang masih memiliki pasar yang sempit, sehingga jumlah supplier yang ada sekarang dirasa cukup untuk memenuhi demand Nethost.
4.2. Supply Chain Driver
Berikut adalah ke-enam driver yang mempengaruhi performa rantai pasok dari Nethost: 4.2.1 Facilities
Fasilitas pendukung operasional Nethost seperti kantor pusat dan gudang berada dekat dengan pelanggan sesuai dengan strategi kompetitifnya yakni responsif. Nethost memiliki
Network Operation Center sekaligus kantor utama di Jl. Sukabirus No 105. Lokasi tersebut dipilih Nethost karena jarak dengan para pelanggannya tergolong dekat yakni disekitar wilayah kampus Telkom.Dalam mendukung kegiatan operasional yang menunjang kebutuhan pelanggan, Nethost memiliki 3 server yakni terletak di Kantor utama (Jl. Sukabirus No 105), Kost Suroto (Sukapura) dan Kost Mahdar (PGA).
4.2.2 Inventory
Nethost menggunakan metode safety inventory yakni pengaadaan untuk beberapa barang yang umum dipakai dalam maintenance jaringan dan instalasi koneksi pelanggan baru serta produk utamanya, pulsa kuota internet. Namun Nethost juga menggunakan seasonal inventory
yakni pengadaan barang khusus seperti server yang hanya diadakan ketika adanya pengembangan jaringan. Karena Nethost memiliki jumlah minimum barang yang ada di inventory, apabila barang yang bersangkutan telah mencapai jumlah minimal Nethost akan melakukan pengadaan barang tersebut. Berikut perangkat-perangkat yang terdapat didalam inventory Nethost dan jumlah minimalnya :
Tabel 1. List dan Jumlah Minimum Inventory
Perangkat Min.Stok Perangkat Min.Stok
Card Turbo WLL 5 Rokset 2 Lubang 0
Ficobox Head 1 Switch Unmanageable 1 Fixstail Optic 5 Switch Manageable 1
Fixstail RPSMA 5 Sektoral 58 0
Grounding 1 Steaker 5
Jumper Panjang 1 Switch Netgear 0
Kabel Fiber Optic @Km 0 Switch Gigabit 8P 0 Kabel Gold @DZ 2 Switch Gigabit 24P 0 Kabel Listrik Dalam @ROLL 10 Switch Tenda 16P 5 Kabel Listrik Luar @ROLL 5 Switch Tenda 8P 10 Kabel Premium @DZ 2 Switch TP Link 16P 5
Mimo 58 1 Switch TP Link 8P 20
Modem FO Gigabit 4 T Listrik Kecil 5
Modem FO 155M 4 T Listrik Besar 1
ODP 1 Techical Tools 0
Paku Klem @BOX 25 Terminal 2 Lubang 5
PC Gateway 0 Terminal 3 Lubang 5
PC Billing 0 Terminal 6 Lubang 5
PC Monitoring 0 Tower 0
Server SOTOR 0 Unibel @ROLL 5
Plange 5 UPS 0
PoE Box 5 Wi-Fi Outdoor 2
PoE Radio 5 Wi-Fi v.1 2
PoE Tali 5 Wi-Fi v.2 2
4.2.3 Transport
Untuk distribusi produk ke pelanggan Nethost melakukan distribution channel network:
Manufacturer storage with direct shipping yakni memberikan langsung produknya ke pelanggan
yang berupa pulsa kuota internet. Pulsa tersebut akan dikirimkan secara langsung keplanggan melalui jaringan internet.
4.2.4 Information
Penyebaran/alur informasi Nethost kepada pemasoknya menggunakan telepon, dan kepada pelanggan menggunakan akun resmi Line@ + komunikasi door-to-door. Selain itu Nethost juga menggunakan aplikasi khususnya dalam bagian operasi yaitu menggunakan aplikasi Trello untuk mendukung kinerja produksi jasa seperti agenda kegiatan bagian operasi.
4.2.5 Sourcing
Nethost melakukan pengadaan pada saat perangkat-perangkat pendukung mencapai batas minimum di Inventory. Selain itu Nethost dalam memilih pemasok berprioritaskan kepada kualitas produk kemudian hubungan dan harga.
4.2.6 Pricing
.
Diagram 1. Komponen Pricing Nethost
5. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penentuan strategi rantai pasok berawal dari pemilihan strategi dalam menjaga keseimbangan antara responsivitas dan efisiensi rantai pasok. Untuk mencapai tujuan, suatu perusahaan harus mampu menata atau menstrukturkan kombinasi dari ke-enam supply chain driver. Masing-masing driver
tersebut adalah: facilities, inventory, transportation, information, sourcing, dan pricing. PT. Integra Citra Solusi atau Nethost menganut strategi responsiveness karena mengacu pada respon yang cepat, produk berbasis Made To Sell, dan mengutamakan supplier yang handal, cepat, dan berkualitas sehingga ke-enam drivers harus sejalan dengan strategi responsivness.
2. Ke-enam drivers sangat mendukung strategi responsiveness karena dengan kriteria lokasi kantor pusat dan gudang yang berada dekat dengan pelanggan, inventory yang diaunt adalah safty inventory dan
sensasional inventory dimana terdapat minimum inventory disetiap barangnya, design transportation
yang digunakan adalah distribution channel network: manufacturer storage with direct shipping
dimana ketika pelanggan melakukan pembelian kuota internet server langsung mengirimkanya secara langsung kepada pelanggan melalui jaringa internet, information menggunakan aplikasi trelo sehingga memudahkan rantai pasok dari hulu ke hili menerima informassi dengan cepat, dan pricing yang digunakan berdasrkan pada batas akses konten atau kecepatan jaringan sehingga higher price and margins.
6. Daftar Pustaka
Chopra, S., Meindl, P. (2007). Supply Chain Management 3rd Edition. New Jersey: Pearson Education
Chopra, S., Meindl, P. (2013). Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation. Harlow: Pearson.
Daradjat, Zakiyah. 1990. Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung.
Heizer, Jdan Render, B, (2008), Operations Management, Edisi Ketujuh, Salemba Empat, Jakarta.
JOURNAL OF BUSINESS LOGISTICS, Vol.22, No. 2, 2001
Krajewski, L. J. and Ritzman, L. P. (1999), Operation Management: Strategy and Analysis, Addison-Wesley Publishing Company, Inc., 5th edition.
Pujawan, I Nyoman dan ER, Mahendrawati. 2010. Supply Chain Management. Surabaya: Guna Widya.
Pujawan, I.N. (2005). Supply Chain Management. Surabaya: Penerbit Guna Widya.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.