MAKALAH BIOLOGI TANAH
PERAN MIKROORGANISME DALAM PROSES
DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK
Disusun Oleh :
Wafiq Asfari (1510211026)
Novianti Arif (1510211029)
Dibimbing oleh :
Ir. Oktanis Emalinda, MP.
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam ekosistem terdapat dua komponen yang utama yaitu komponen biotik dan abiotik yang saling mempengaruhi satu sama lain. Diantara dua komponen tersebut terjadi pertukaran zat dan energi yang terus-menerus, sehingga interaksi yang terjadi di dalam ekosistem berjalan dengan baik. Kesuburan tanah banyak dipengaruhi oleh komponen biotik seperti fauna, flora, dan abiotik seperti iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), air, tanah dan udara. Organisme tanah dapat dijadikan sebagai indikator kualitas tanah karena organisme ini bersifat sensitif terhadap perubahan dan ditemukan melimpah di dalam tanah. Salah satu organisme tanah yaitu fauna tanah, baik mikro, meso maupun makrofauna.
Fauna tanah merupakan salah satu komponen biotik yang berperan tehadap kesuburan tanah. Keberadaan fauna tanah memiliki arti dalam memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Peranan fauna tanah terhadap sifat fisik tanah yaitu membantu dalam pembentukan agregat, memperbaiki struktur tanah, aerasi dan drainase; terhadap sifat kimia tanah yaitu memperbaiki ketersediaan unsur hara dan meningkatkan kandungan C-organik, dan terhadap sifat biologi tanah yaitu fauna tanah berasosiasi dengan mikroorganisme yang terlibat dalam dekomposisi bahan organik dan mikroorganisme lebih aktif dalam saluran pencernaan fauna tanah.
1.2Rumusan Masalah
Bagaimana proses atau siklus dekomposisi unsur hara dan bahan organik oleh mikroorganisme?
1.3Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peranan Fauna Tanah
Menurut Purwowidodo (1992) fauna tanah berperan penting dalam menghancurkan dan menguraikan bahan organik sehingga fauna tanah memiliki arti dalam memperbaiki sifat-sifat tanah, yaitu :
2.1.1 Sifat Fisik
Salah satu kegiatan makrofauna tanah ialah terbentuknya krotovina dalam profil tanah. Krotovina ialah kantong atau terowongan yang dibuat oleh hewan penggali di dalam profil tanah yang berisi bahan tanah atau bahan lain yang diangkut dari tempat lain (Notohadiprawiro, 1998). Fauna tanah memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi tanah. Misalnya makrofauna seperti cacing tanah, rayap dan semut memiliki pengaruh penting terhadap struktur tanah, aerasi, drainase dan pori-pori tanah yaitu melalui pergerakan tubuhnya pada saat mencari makanan, mengangkut bahan organik ke bagian tanah yang lebih dalam dengan menggali lubang serta membuat terowongan dalam tanah (Pankhurst, 1999b).
2.1.2 Sifat Kimia
2.1.3 Sifat Biologi
Mikroflora terlibat secara erat dalam pelapukan bahan organik yang berasosiasi dengan fauna. Sebagai tambahan mikroflora itu aktif dalam saluran pencernaan dari berbagai binatang (Soepardi, 1983). Kotoran cacing berpengaruh terhadap keragaman populasi mikroorganisme. Umumnya tanah yang dihuni cacing tanah, populasi bakteri lebih besar jumlahnya daripada fungi. Bakteribakteri tersebut umumnya berdomisili di sekitar liang-liang yang dibuat oleh cacing tersebut (Ma’shum et al., 2003).
Pengaruh fauna tanah terhadap sifat tanah dalam ekosistem dapat dilihat pada Tabel 2.
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Fauna Tanah
dan kumbang sangat dipengaruhi oleh pengolahan tanah baik berupa pengapuran, pemupukan maupun penggunaan pestisida (Siswati, 2001).
Menurut Suin (1997), pengukuran pH tanah sangat penting dalam ekologi fauna tanah karena keberadaan dan kepadatan fauna tanah yang sangat tergantung pada pH tanah. Fauna tanah ada yang dapat hidup pada tanah dengan pH masam dan ada pula yang senang pada tanah yang pH nya basa. Suin (1997) juga menambahkan kadar air tanah sangat menentukan kehidupan fauna tanah. Pada tanah yang kadar air nya rendah, jenis hewan tanah yang hidup padanya sangat berbeda dengan hewan tanah yang hidup pada tanah yang kadar airnya tinggi. Selain itu juga kepadatan fauna tanah juga sangat bergantung pada kadar air tanah. Umumnya tanah yang memiliki kadar air tanah yang rendah, memiliki kepadatan fauna tanah yang rendah.
Menurut Rahmawaty (2004), pada permukaan tanah di lahan hutan, terdapat cukup banyak serasah yang berasal dari vegetasi sekitarnya, mesofauna tanah akan melakukan kegiatan dalam mendekomposisi serasah menjadi lebih sederhana sehingga terjadi penambahan akumulasi bahan organik di dalam tanah. Akumulasi bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah, serangga dan hewanhewan tanah lainnya, membentuk unsur hara yang menjadi nutrisi bagi tanaman yang terdapat di hutan. Keadaan lingkungan, vegetasi bawah dan jenis tanah hutan merupakan suatu kombinasi yang mempengaruhi kelembaban, suhu dan makanan (Burges and Raw, 1967).
2.3 Pengukuran Aktivitas Fauna Tanah
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sumber bahan organik adalah jaringan tumbuhan. Di dalam daun, ranting, cabang, batang dan akar tumbuhan merupakan sumbangan sejumlah bahan organik. Bahan-bahan ini akan mengalami dekomposisi dan terangkut ke lapisan yang lebih dalam dari tanah. Fauna biasanya dianggap sebagai penyumbang bahan organik kedua setelah tumbuhan. Fauna tanah akan menggunakan bahan organik sebagai sumber energi dan bila hewan-hewan ini mati maka tubuhnya merupakan sumber bahan organik yang baru.
Proses dekomposisi bahan organik di dalam tanah memiliki beberapa tahapan proses. Tahapan pertama adalah tahap penghancuran bahan organik segar menjadi partikel yang berukuran kecil-kecil yang dilakukan oleh cacing tanah dan makrofauna yang lain. Tahapan selanjutnya yaitu tahapan transformasi, yang mana pada tahap ini sebagian senyawa organik akan terurai dengan cepat, sebagian terurai dengan kecepatan sedang dan sebagian yang lain terurai secara lambat.
3.2 Saran
DAFTAR ISI
Burges. A and F. Raw. 1967. Soil Biology. Academic Press. New York.
Ma’shum, M ; J. Soedarsono dan L. N. Susilowati. 2003. Biologi Tanah .CPIU Pasca IAEUP Bagpro Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia,
Maftu’ah, E ; M. Alwi dan M. Willis. 2005. Potensi Makrofauna Tanah Sebagai Bioindikator Kualitas Tanah Gambut. http://bioscientiae.tripod.com (Diakses 28 Februari 2018)
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta.
Purwowidodo. 1992. Metode Selidik Tanah. Jurusan Manejemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2005. Panduan Praktikum Ilmu Tanah Hutan ”Mengenal Tanah”. Bogor. Laboratorium Pengaruh Hutan. Jurusan Manejemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Siswati. 2001. Biodiversitas Makrofauna Tanah di Berbagai Tipe Penggunaan Lahan pada Andisol Pasir Sarongge. Skripsi. Jurusan Ilmu tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya
Lahan, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Suin, N. M. 1997. Ekologi Fauna Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.
Suwardi dan H. Wiranegara. 2000. Penuntun Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rahmawaty. 2004. Studi Keanekaragaman Mesofauna Tanah di Kawasan Hutan Wisata Alam Sibolangit. www.usu.co.id (Diakses 28 Februari 2008)