• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRIORITAS REHABILITA SI JARINGAN DRAINASE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PRIORITAS REHABILITA SI JARINGAN DRAINASE"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com

Volume 8, No. 3, Juni 2014

PRIORITAS REHABILITASI JARINGAN DRAINASE DI KOTA DENPASAR

Oleh:

Ni Putu Ety Lismaya Dewi

Dosen dpk Universitas Nusa Tenggara Barat

Abstrak: Sistem drainase adalah rekayasa infrastruktur di suatu kawasan untuk menanggulangi adanya genangan banjir.Sistem drainase yang ada di Kota Denpasar masih belum tertata dengan baik sehingga saat musim penghujan sering terjadi banjir. Berdasarkan kondisi eksisting, sistem jaringan drainase di Kota Denpasar dibagi menjadi lima sistem utama yaitu sistem I (sistem Tukad Badung), sistem II (sistem Tukad Ayung), sistem III (sistem Tukad Mati), sistem IV (sistem Niti Mandala-Suwung) dan sistem V (sistem Pemogan). Karena keterbatasan sumber daya dan anggaran yang dialokasikan pemerintah maka diperlukan adanya skala prioritas dalam rehabilitasi sistem jaringan drainase di Kota Denpasar.Penelitian ini memiliki tujuan untuk melakukan penentuan skala prioritas rehabilitasi jaringan drainase dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penentuan skala prioritas dengan metode AHP menunjukkan bahwa nilai tertinggi decision score adalah 44,5% pada sistem III artinya prioritas pertama rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar dilakukan di sistem III, prioritas kedua di sistem IV dengan skor 25,7%, prioritas ketiga di sistem V dengan skor 15,2%, prioritas keempat di sistem I dengan skor 9,3%, dan prioritas kelima di sistem II dengan skor 4,4%.

Kata Kunci: banjir, rehabilitasi jaringan drainase, metode Analytical Hierarchy Process

PENDAHULUAN

Sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan serta pariwisata, tanah di Kota Denpasar sangat potensial beralih fungsi dari lahan sawah menjadi lahan kering (perumahan, industri, jalan dan lain-lain).Luas wilayah Kota Denpasar sebesar 12.778 Ha atau 2,18% dari luas wilayah Propinsi Bali. Sedangkan bila dilihat dari penggunaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada sekitar 2.632 Ha merupakan tanah sawah, 10.136 Ha merupakan tanah kering dan sisanya seluas 10 Ha merupakan tanah lainnya seperti tambak, kolam, tebat dan empang. Selama kurang lebih lima tahun terakhir ini luas lahan sawah berkurang sekitar 283 Ha atau menyusut rata-rata tiap tahun sekitar 2,8%. Perubahan tata guna lahan yang sangat cepat ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan air yang berkontribusi atas meningkatnya debit banjir. Pada daerah pemukiman dimana telah padat dengan bangunan sehingga tingkat resapan air ke dalam tanah berkurang, jika terjadi hujan dengan

curah hujan yang tinggi maka sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem drainase sehingga kapasitasnya terlampaui dan menyebabkan banjir.

Berdasarkan kondisi eksisting, sistem jaringan drainase yang ada di wilayah Kota Denpasar dapat dibagi menjadi 5 (lima) sistem utama (PT. Suwanda Karya Mandiri, 2012) yaitu:

1. Sistem I : Sistem Tukad Badung 2. Sistem II : Sistem Tukad Ayung 3. Sistem III : Sistem Tukad Mati

4. Sistem IV : Sistem Niti Mandala-Suwung dan sekitarnya

5. Sistem V : Sistem Pemogan

(2)

_____________________________________________

Volume 8, No. 3, Juni 2014 http://www.lpsdimataram.com

a. Pada sistem I, daerah genangan air terdapat di Jl. Gatsu VI dan sekitarnya, Jl. Gatot Subroto, Jl. Sari Gading, Jl. Ratna, Jl. Suli, Jl. Kamboja di Desa Dangin Puri Kangin, Desa Sumertha Kauh.

b. Pada sistem II, daerah genangan air terdapat di Jl. Gatsu Timur Desa Kesiman Petilan, Jl. Gumitir Desa Kesiman Kertalangu.

c. Pada sistem III, daerah genangan air terdapat di Jl. Cargo dan sekitarnya, Jl. Buluh Indah dan sekitarnya, Jl. Gunung Agung, Jl. Gunung Batur dan sekitarnya, lingkungan Desa Tegal Kerta dan Desa Tegal Harum (Perumnas), lingkungan Jl. Demak, Jl. Kertapura Desa Pemecutan Kelod, lingkungan Br. Abian Timbul Desa Pemecutan Kelod.

d. Pada sistem IV, daerah genangan air terdapat di Jl.Waturenggong dan sekitarnya, Jl. Tukad Yeh Penet, Lingkungan Br. Peken, Lingkungan Br. Pande Kelurahan Renon, Jl. Bedugul, Jl. Dewata dan sekitarnya Desa Sidakarya, lingkungan pemukiman Bumi Ayu Sanur, Jl. By Pass Ngurah Rai Sanur dan sekitarnya.

e. Pada sistem V, daerah genangan air terdapat di Jl. Pulau Seram, Jl. P. Tarakan, Jl. P. Buton dan sekitarnya, Jl. Satelit, Jl. P. Serangan, lingkungan Kantor BPTP Br. Sanggaran, lingkungan Gria Anyar Br. Rangkan Sari, lingkungan Jl. Sunia Negara, Jl. Raya Pemogan, JL. By Pass Ngurah Rai dan pertokoan mebel, lingkungan Perumahan Mekar II Pemogan.

Prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase memerlukan data akurat sebagai dasar setiap keputusan penanganan daerah rawan banjir.Dengan berkembangnya berbagai metoda, maka analisis keputusan dapat dibantu dengan metoda sistem pendukung kebijakan (SPK).Penggunaan SPK atau yang lebih dikenal dengan Decision Support System (DSS) diharapkan sangat membantu memberikan informasi dan bantuan dalam menentukan prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase. SPK hanyalah merupakan alat bantu dan bukan penganti para pengambil keputusan, sehingga keberadaan SPK hanyalah sebagai dasar penentuan berbagai kebijakan dan bukan penentu kebijakan.

Dalam penelitian ini metoda SPK yang digunakan untuk menyusun prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase adalah metode Analytical Hierarchy Proces (AHP).Menurut Bourgeois dalam Susila dan Ernawati (2007), metode AHP digunakan dengan tujuan untuk menyusun prioritas dari berbagai alternatif/pilihan yang ada dan pilihan-pilihan tersebut bersifat kompleks atau multi kriteria. Secara umum, dengan menggunakan AHP, prioritas yang dihasilkan akan bersifat konsisten dengan teori, logis, transparan, dan partisipatif. Dengan tuntutan yang semakin tinggi berkaitan dengan transparansi dan partisipasi, AHP akan sangat cocok digunakan untuk penyusunan prioritas kebijakan publik yang menuntut transparansi dan partisipasi.

Selanjutnya Mutaqqin (2006), memberikan ilustrasi penyusunan prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase di Perumahan Josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanganyar dengan metode AHP yang menghasilkan bahwa prioritas utama dalam rehabilitasi sistem jaringan drainase dilakukan di Sub Sistem 04 Perumahan Josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanganyar.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode AHP dapat digunakan untuk menyusun prioritas rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar dari berbagai alternatif/pilihan yang ada dan pilihan-pilihan tersebut bersifat kompleks.

Dengan memperhatikan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu “Bagaimana rumusan prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase dengan menyusun Sistem Pendukung Kebijakan (SPK) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)?”

METODE PENELITIAN a. Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer yang dilakukan pada penelitian ini dengan cara survei langsung di lapangan, wawancara ataupun penyebaran kuesioner terhadap para expertis yang menjadi sasaran penelitian. Adapun data primer yang diperlukan adalah data untuk pembobotan prioritas rehabilitasi jaringan drainase.

(3)

_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com

Volume 8, No. 3, Juni 2014

dengan metode purposive sampling dimana peneliti yang didasari atas kemampuan dan pengetahuan serta pertimbangan tertentu dapat menentukan pilihan dalam memilih responden yang diyakini mampu memberikan jawaban pada kuisioner sesuai dengan topik penelitian (Sugiyono, 2011). Berdasarkan hal tersebut, maka sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 10 responden terdiri dari para expertis seperti pada berikut:

No KeteranganResponden

1 KepalaDinas PU Kota Denpasar (expertis drainase dan irigasi)

2 Kasubdin Pengairan Dinas PU Kota Denpasar (expertis drainase dan irigasi)

3 Kasi O & P Pengairan Dinas PU Kota Denpasar (expertis drainase dan irigasi)

4 Kepala Dinas PU Propinsi Bali (expertis drainase dan irigasi)

5 Kabid SumberDaya Air PU Propinsi Bali (expertis drainase dan irigasi)

6 Akademisi Fakultas Teknik Universitas Udayana (expertis drainase dan irigasi)

7 Akademisi Fakultas Teknik Universitas Udayana (expertis drainase dan irigasi)

8 Akademisi Fakultas Teknik Undiknas (expertis drainase dan irigasi)

9 Konsultan Arthacon (expertis drainase)

10 Konsultan Ayu Design (expertis drainase)

b. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang ada pada instansi terkait, studi pustaka dan data-data hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini.Adapun data sekunder yang diperlukan terkait dengan wilayah studi adalah kondisi umum wilayah studi, kondisi existing jaringan drainase, kependudukan, luas area layanan dan tata guna lahan.

c. Perumusan sistem pendukung kebijakan rehabilitasi

Pada penelitian ini langkah penentuan skala prioritas dibagi dalam 5 (lima) sistem jaringan drainase, masing-masing sistem ditentukan berdasarkan 4 (empat) kriteria yaitu partisipasi masyarakat, tingkat kerusakan badan saluran, luas

daerah layanan dan rencana anggaran biaya rehabilitasi. Kriteria-kriteria ini disusun dalam bentuk hirarki seperti gambar berikut:

d. Analisis Data

Menurut Saaty dalam Marimin (2004), prinsip kerja AHP kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan untuk berbagai persoalan dengan menggunakan skala 1 sampai 9. Selanjutnya perbandingan kriteria diberi pembobotan berdasarkan persepsi dan tingkat kepentingannya dari yang terburuk sampai yang terbaik.

Setelah melakukan pembobotan kriteria dan alternatif, dilakukan analisis dengan metode AHP sehingga didapat hasil daerah mana yang diprioritaskan secara berurutan untuk dilakukan rehabilitasi.Dalam analisis ini digunakan bantuan program komputer Expert Choice versi 11.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk penentuan skala prioritas rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar, dilakukan dengan menyebarkan kuisioner terhadap 10 orang responden yang terdiri dari para expertis.Dari hasil wawancara, selama ini dalam menentukan prioritas, parameter yang digunakan adalah kerusakan jaringan drainase, rencana anggaran biaya rehabilitasi dan luas daerah layanan.Sedangkan parameter yang belum diperhitungkan adalah partisipasi masyarakat. Sehingga dalam penelitian ini akan dihitung pengaruh seluruh parameter tersebut dalam bentuk bobot prioritas.

(4)

_____________________________________________

Volume 8, No. 3, Juni 2014 http://www.lpsdimataram.com

pengaruh paling besar yaitu dengan bobot 43%, kemudian diikuti oleh sistem IV 26%, sistem V 18,2%, sistem I 8,8% dan sistem II 4%. Sehingga berdasarkan kriteria partisipasi masyarakat, sistem III mendapat prioritas pertama untuk dilakukan rehabilitasi.

Penilaian responden pada alternatif terhadap subkriteria kapasitas saluran menunjukkan bahwa kapasitas saluran pada sistem III memiliki pengaruh paling besar yaitu dengan bobot 47,1%. Sehingga berdasarkan subkriteria kapasitas saluran, sistem III mendapat prioritas pertama untuk dilakukan rehabilitasi.Berdasarkan studi literatur dan hasil pengamatan, pada sistem III alur sungai dangkal dan sempit oleh karena akumulasi sedimen pada palung sungai serta sudah ada perkuatan tebing sungai yang sempit untuk kepentingan pondasi pemukiman.Adanya penyempitan alur sungai terutama pada bagian tengah dan hilir sehingga kerap menimbulkan terjadinya banjir. Disamping itu tanaman pengganggu banyak menutupi alur sungai sehingga kapasitas sungai terbatas. Kondisi ini terutama terlihat pada saluran sepanjang jalan Imam Bonjol untuk Tukad Teba, alur Tukad Mati terutama di sebelah hulu bendung Ulun Tanjung dan kawasan di sekitar bendung Ulun Tanjung. Pada bagian hilir Tukad Mati terjadi back water akibat pengaruh pasang surut air laut yang dapat menahan laju aliran drainase menuju muara. Sistem pengembangan permukiman dengan sistem Land Consolidation (LC) dari tanah persawahan telah menimbulkan perubahan arah pemakaian saluran dari saluran irigasi menjadi saluran drainase. Kondisi ini dapat dilihat pada beberapa perumahan seperti Perumnas Monang-Maning dan beberapa perumahan di Padang Sambian, sekitar jalan Pura Demak dll. Adanya perubahan alih fungsi lahan yang cukup signifikan telah memberi andil besar untuk meningkatkan terjadinya limpasan permukaan. Peningkatan limpasan air yang ada tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas drainase yang memadai sehingga akan menimbulkan genangan.

Penilaian responden pada alternatif terhadap subkriteria kondisi badan saluran menunjukkan bahwa kondisi badan saluran pada sistem III memiliki pengaruh paling besar yaitu dengan bobot 50,1%. Sehingga berdasarkan subkriteria kondisi badan saluran, sistem III mendapat

prioritas pertama untuk dilakukan rehabilitasi. Berdasarkan kondisi eksisting, pada sistem III terdapat pasangan tebing sungai yang longsor akibat tergerus banjir seperti pada Tukad Mati selatan jembatan Teuku Umar, sebelah barat Pura Demak, dan senderan di tebing Tukad Mati Utara jebol di Jalan Gunung Agung (PT. Suwanda Karya Mandiri, 2012).

Penilaian responden pada alternatif terhadap subkriteria sedimentasi menunjukkan bahwa sedimentasi pada sistem III memiliki pengaruh paling besar yaitu dengan bobot 52,1%. Sehingga berdasarkan subkriteria sedimentasi, sistem III mendapat prioritas pertama untuk dilakukan rehabilitasi.Berdasarkan studi literatur dan hasil pengamatan, pada sistem III terjadi tingkat sedimentasi yang tinggi dan tumpukan sampah pada badan saluran. Kondisi ini dapat dilihat pada sebagian besar ruas saluran yang ada.

Sedangkan, penilaian responden pada alternatif terhadap kriteria luas daerah layanan menunjukkan bahwa luas daerah layanan pada sistem III mendapat prioritas ketiga setelah sistem IV dan sistem I yaitu dengan bobot 14,3%. Berdasarkan studi literatur, luas daerah layanan sistem I adalah 27,55 km2, sistem II adalah 19,00 km2, sistem III adalah 25,49 km2, sistem IV adalah 38,50 km2, dan sistem V adalah 10,06 km2.

Penilaian responden pada alternatif terhadap kriteria RAB rehabilitasi menunjukkan bahwa RAB rehabilitasi pada sistem III mendapat prioritas pertama yaitu dengan bobot 53,1%, kemudian diikuti oleh sistem IV 20,3%, sistem V 14,7%, sistem I 7,3% dan sistem II 4,6%.

Setelah dilakukan penetuan prioritas global, hasil penentuan skala prioritas dengan metode AHP menunjukkan bahwa nilai tertinggi decision score adalah 44,5% pada sistem III artinya prioritas pertama rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar dilakukan di sistem III.

(5)

_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com

Volume 8, No. 3, Juni 2014

PENUTUP a. Simpulan

1. Hasil penentuan skala prioritas dengan metode AHP menunjukkan bahwa nilai tertinggi decision score adalah 45,5% pada sistem III artinya prioritas pertama rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar dilakukan di sistem III, prioritas kedua di sistem IV dengan skor 25,7%, prioritas ketiga di sistem V dengan skor 15,2%, prioritas keempat di sistem I dengan skor 9,3%, dan prioritas kelima di sistem II dengan skor 4,4%.

2. Dari hasil analisis sensitivitas didapat bahwa pengaruh yang paling besar diberikan oleh kriteria tingkat kerusakan jaringan yaitu sebesar 59,1%, diikuti oleh partisipasi masyarakat sebesar 26,6%, luas daerah layanan sebesar 8,3% dan RAB rehabilitasi sebesar 6%.

b. Saran

Hasil penentuan skala prioritas dengan metode AHP konsisten dengan kondisi eksisting sistem jaringan drainase di Kota Denpasar sehingga prioritas pertama rehabilitasi jaringan drainase harus dilakukan di sistem III.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2009. Profil Kota Denpasar.Denpasar.

Badan Pusat Statistik. 2010. Hasil Sensus

Penduduk 2010 Kota

Denpasar.Denpasar.

Badan Pusat Statistik. 2011. Denpasar dalam Angka.Denpasar.

BAPPEDA Kota Denpasar.2010. Masterplan Drainase dan Irigasi Kota Denpasar.Denpasar.

Brans, J.P, Mareschal, B., Vincke, P. 1986. How to Select and Rank Projects:The PROMETHEE Method. European Journal of Operations Research, Vol.24, 228-238.

Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. 2003. Panduan dan Petunjuk Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan. Jakarta.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana.Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonesia.Direktorat Pengairan dan Irigasi. Jakarta

Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2010. Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Dasar Desa. Jakarta.

Dewi, N.P.E.L. 2013.Partisipasi Masyarakat Dalam Operasional Dan Pengelolaan Sistem Jaringan Drainase Di Kota Denpasar.Media Bina Ilmiah Vol. 7 No 3 Mei 2013.

Imamuddin dan Kadri.2006. Penerapan Algoritma AHP Untuk Prioritas Penanganan Banjir.Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006). Yogyakarta, 17 Juni.

Ismiyati. 2004. Statitistika dan Aplikasinya. Semarang: Magister Teknik Sipil Universitas Diponegoro.

Latifah, S. 2005. Prinsip-prinsip Dasar Analytical Hierarchy Process. e-USU Reposritory. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Marimin. 2004. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Penerbit PT Grasindo.

Murdiono, B. 2008.Peran Serta Masyarakat Pada Penyusunan Rencana Pengelolaan Daya Rusak Sumber Daya Air (tesis). Semarang: Universitas Diponegoro.

(6)

_____________________________________________

Volume 8, No. 3, Juni 2014 http://www.lpsdimataram.com

PT. Arthacons. 2010. Laporan Akhir DED Drainase Denpasar.Denpasar.

PT. Suwanda Karya Mandiri.2012. Laporan PendahuluanStudi Evaluasi Prasarana dan Sarana Drainase Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.Denpasar.

Purbawijaya, I.B.N. 2009.Manajemen Resiko Penanganan Banjir Pada Sistem Jaringan Drainase di Wilayah Kota Denpasar (tesis). Denpasar: Universitas Udayana.

Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks. Jakarta: Penerbit PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Saragi, T.E. 2007.Tinjauan Manajemen Sistem Drainase Kota Pematang Siantar (tesis). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Sobriyah dan Wignyasukarto.2001. Peran Serta Masyarakat dalam Pengendalian Banjir untuk Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah.Makalah pada Kongres VII dan PIT VIII Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI). Malang.

Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Suripin.2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Susila dan Ernawati. 2007. Penggunaan Analytical Hierarchy Process Untuk Penyusunan Prioritas Proposal Penelitian. Informatika Pertanian Volume: 16 No.2.

Sutika, I.K. 2010.Penentuan Skala Prioritas Kegiatan Penanganan Ruas-Ruas Jalan Provinsi di Provinsi Bali Dengan Metode

Analytical Hierarchy Process (AHP) (tesis). Denpasar: Universitas Udayana.

Suyasa, I.D.G. 2008.Penetuan Skala Prioritas Penanganan Jalan Kabupaten Dengan Metode AHP di Kabupaten Badung (tesis). Denpasar: Universitas Udayana.

Syahrial, F. 2007. Evaluasi Pengelolaan Sistem Drainase Kota Padang (Studi Kasus Drainase Air Tawar-Ganting) (tesis). Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Wignyosukarto, Budi. 2001. Pemanfaatan Decision Support System Untuk Perencanaan Sitem Drainase.Makalah pada Kongres VII dan PIT VIII Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI).Malang.

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan untuk menentukan embung prioritas adalah Analysis Cluster, AHP (Analytical Hierarchy Process). Kriteria yang digunakan dalam penentuan prioritas

Dengan metode AHP dalam penentuan strategi peningkatan kinerja karyawan didapatkan prioritas tertinggi yaitu peningkatan fasilitas kerja dengan nilai prioritas sebesar

Metode yang digunakan untuk menentukan waduk prioritas adalah AHP ( Analytical Hierarchy Process ) dan Weighted Average. Parameter yang digunakan dalam penentuan prioritas terdiri

Secara fungsional, Perangkat Lunak Penentuan Prioritas Pembangunan (PLP3) dibuat untuk memudahkan dalam pendataan dan penentuan skala prioritas kegiatan yang

Dengan Analisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat disimpulkan bahwa pemilihan prioritas dalam jaringan jalan nasional untuk kriteria Teknik yang

kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu Utara dengan Metode AHP menghasilkan

Dalam penentuan prioritas risiko menggunakan metode AHP didapatkan variabel risiko yang memiliki prioritas atau bobot tinggi pada pelaksanaan pekerjaan

KESIMPULAN Penentuan prioritas ruang terbuka hijau di Kota Makassar mendapatkan 2 dua kelas prioritas RTH dengan skor tertinggi dimana pada kawasan prioritas pertama didapatkan