• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelidikan Geolistrik Tambu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penyelidikan Geolistrik Tambu"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI PANAS BUMI BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK DAN HEAD-ON DI DAERAH PANAS BUMI TAMBU, KABUPATEN DONGGALA,

PROVINSI SULAWESI TENGAH

Oleh :

B a k r u n, Mochamad Kholid Kelompok Program Penelitian Panas Bumi

SARI

Daerah panas bumi Tambu termasuk wilayah kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, manifestasinya terletak di desa Mapane Tambu, berupa kolam air panas dengan

temperatur 57.4 oC.

Air panas Tambu muncul di dataran aluvium pada elevasi 3 meter dari permukaan laut yang dikontrol oleh sesar Tambu berarah utara–selatan. Area prospek berada di daerah depresi dan di batasi oleh tahanan jenis rendah (< 25 Ohm-m) memanjang mengikuti struktur di sekitar airpanas, dengan luas daerah prospek 6 Km².

Reservoir diperkirakan berkaitan dengan batuan metamorf (skis) dengan tahanan jenis 70 – 150

Ωm, lapisan ini diduga berada pada kedalaman > 600 meter, diikuti oleh lapisan batolit granit

yang mendominasi lapisan batuan di daerah ini dengan tahanan jenis 800-900 Ωm.

Struktur geologi yang mengontrol airpanas Tambu adalah sesar Tambu berarah utara-selatan yang kemungkinan teraktifkan kembali, dan diketahui bahwa struktur yang berarah barat timur hanya terdapat pada kedalaman dangkal.

Berdasarkan luas daerah prospek 6 km², dan temperatur bawah permukaan sebesar 140 °C (geotermometer Na, K, Mg), dengan asumsi tebal reservoir 1000 m, maka potensi cadangan terduga di daerah panas bumi Tambu adalah sebesar 14 Mwe.

PENDAHULUAN

Potensi panas bumi bisa diketahui berdasarkan penghitungan yang luas daerah prospeknya diambil dari hasil survei geolistrik tahanan jenis. Survei geolistrik dimaksudkan untuk mengetahui penyebaran tahanan jenis secara lateral dan vertikal dengan menggunakan bentangan simetris (Schlumberger), sehingga nantinya akan diperoleh potensi panas bumi berdasarkan luas dari daerah prospek berdasarkan luas anomali tahanan jenis rendah.

Daerah panas bumi Tambu sebagian besar termasuk wilayah Kecamatan Balaesang,

Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah.

Terletak pada koordinat antara 119º 50’ 46,06” – 119º 57’ 19,02” BT dan 0º 2’ 15,57” LU - 0º 6’ 57,29” LS atau 816.833 – 828.995 mT dan 9.987.172 – 10.004.168 mS (Gambar 1).

METODE

Metode geolistrik terdiri dari dua metode

yaitu pemetaan tahanan jenis (Mapping),

dan pendugaan tahanan jenis (Sounding)

dengan menggunakan konfigurasi

Schlumberger (bentangan simetris).

(2)

yang telah ditentukan. Hasil pengukuran

mapping akan berupa peta-peta tahanan

jenis semu untuk berbagai bentangan elektroda arus, sedangkan pengukuran

sounding akan berupa profil-profil nilai

tahanan jenis sebenarnya. Metode penyelidikan ini menggunakan arus bolak-balik yang dialirkan melalui dua buah elektroda arus A dan B yang menghasilkan beda potensial diantara kedua titik tersebut dan selanjutnya diukur besar beda potensial MN yang terletak di antara A dan B. Pengukuran didaerah penyelidikan ini dilakukan dalam konfigurasi bentangan AB/2 = 250, 500, 800 dan 1000 meter untuk

mapping, sedangkan untuk pengukuran

sounding dimulai pada bentangan AB/2 =

1,6 meter sampai AB/2 = 2000 meter dengan jarak elektroda potensial MN < 1/5 AB. Semakin besar AB/2 semakin dalam penetrasi arus ke dalam bumi, yang berarti semakin dalam informasi yang didapat.

Untuk Head-On ditambah satu elektroda

yaitu C pada jarak 4 km tegak lurus lintasan, dimana terletak elektroda A dan B.

Pengukuran Head-On dilakukan pada

bentangan AB/2 = 200, 400, 500, 600 dan 800 meter dengan bentangan MN = 100 meter

Konfigurasi untuk pengukuran Head-On

yang digunakan masih tetap Schlumberger tetapi perbedaannya terletak pada penempatan elektroda arus, dimana pada

pengukuran Head-On elektroda arus

ditambah satu elektroda C pada jarak yang relatif jauh di luar lintasan yang berarah tegak lurus terhadap lintasan sehingga

OC⊥AB dan OC >> AB.

GEOLOGI DAN GEOKIMIA

Morfologi yang terbentuk di daerah panas bumi Tambu dipengaruhi oleh kegiatan tektonik, pelapukan, dan erosi yang membentuk pedataran dan perbukitan memanjang dengan ketinggian antara 100-650 m di atas permukaan laut.

Morfologi daerah survei terbagi menjadi tiga satuan morfologi yaitu: morfologi perbukitan curam, perbukitan bergelombang sedang, dan morfologi pedataran.

Satuan batuan di daerah survei dapat dikelompokkan menjadi lima satuan, dengan urutan dari tua ke muda adalah Satuan Granit (Tmg), Diorit (Tpd), Batupasir (Qpb), Endapan Pantai (Qs), dan Satuan Aluvium (Qa).

Sesar normal Balaesang dan sesar normal Tambu diperkirakan sesar yang membentuk zona depresi (menangga) di sisi bagian barat yang saat ini sudah terisi oleh endapan batupasir dan aluvium. Sama halnya dengan kedua sesar tersebut, blok bagian barat dari sesar normal Batukanjai merupakan bagian yang bergerak relatif turun dan saat ini terisi oleh sedimen batupasir dan aluvium. Dalam perkembangannya semua sesar tersebut diperkirakan teraktifkan kembali bersamaan dengan terbentuknya beberapa sesar normal mengiri yang memotong barat - timur. Pada beberapa tempat sesar Balaesang maupun sesar Tambu terpotong dan bergerak ke arah timur sebagai akibat pergeseran dari sesar normal mengiri lebih muda yang memotongnya. Pergeseran jalur sesar Balaesang tersebut menghasilkan beberapa pola kelurusan kontur di bagian timurnya. Sesar Tambu diperkirakan sebagai struktur geologi yang mengontrol pemunculan manifestasi kolam air panas Tambu.

Mata air panas di daerah Tambu hanya terdapat di satu lokasi dan masih berada di dalam peta kerja Tambu, yaitu air panas Tambu, selebihnya berada di luar lokasi peta, yaitu air panas Roras, dan air panas Ponggerang terletak pada posisi klorida, sedangkan air panas Budi mukti, dan air panas Ranang, terletak pada posisi bikarbonat.

Berdasarkan diagram segi tiga Na-K-Mg ,

mata air panas, terletak pada partial

equilibrium, sebagai indikasi manifestasi

yang muncul ke permukaan mungkin ada pengaruh interaksi antara fluida dengan batuan dalam keadaan panas sebelum

bercampur dengan air permukaan (meteoric

water), kecuali air panas budi mukti pada

immature water. Berdasarkan diagram segi

(3)

yang terbentuk, terkontaminasi air laut di daerah penyelidikan, yang diindikasikan oleh rasa air panas agak asin, daya hantar listrik relatif tinggi (2000-9600 µm/cm), Na relatif tinggi (337-1226 mg/l) dan Cl (594-3339 mg/l) dan Silika rendah (34-61 mg/l).

MANIFESTASI PANAS BUMI

Manifestasi berupa kolam air panas dengan

temperatur 57.4 oC pada temperatur udara di

lokasi 27.1oC, air panas mengalir dengan

debit air 0.5 l/detik, pH netral (pH = 7.10), pemunculannya dikontrol oleh sesar normal Tambu yang berarah utara baratlaut – selatan tenggara. Sesar Tambu ini merupakan sesar tua yang diperkirakan teraktifkan kembali, sehingga memfasilitasi fluida panas yang ada dalam reservoir untuk mengalir menuju permukaan. Hal ini diperkirakan karena manifestasi Tambu berada di atas suatu tubuh batuan beku dalam (poket magma) yang diduga sebagai

sumber panas (heat source) dari sistem

panasbumi Tambu.

PEMETAAN TAHANAN JENIS SEMU

Hasil pemetaan tahanan jenis semu pada bentangan AB/2 = 250 meter (Gambar 2), memperlihatkan anomali tahanan jenis semu

rendah < 25 Ωm, selanjutnya diikuti oleh

anomali tahanan jenis semu 25-100 Ωm

mempunyai pola kontur hampir sama yaitu membuka ke arah barat, memotong hampir semua lintasan. Kontur tahanan jenis semu

100 Ωm memotong lintasan A, B, C, D

lintasan E, F, dan G.

Anomali tahanan jenis semu 100 - 250 Ωm

masih mengikuti kontur sebelumnya dan memotong lintasan A sampai G di tengah daerah penyelidikan dengan kontur tahanan jenis membuka ke arah utara dan selatan. Anomali tahanan jenis ini juga ditemui di ujung lintasan D, E, dan F dengan kontur

tertutup. Anomali tahanan jenis >250 Ωm

menempati bagian timur daerah penyelidikan dengan penyebaran cukup luas ke arah timur, utara dan selatan.

Pada peta tahanan jenis semu bentangan AB/2=500 meter mempunyai pola kontur hampir sama dengan pola kontur anomali pada bentangan AB/2=250m, anomali rendah < 25 masih tetap konsisten berada di bentangan ini, dan diikuti oleh tahanan jenis

semu 25-100 Ωm, dan masih tetap membuka

kearah barat dengan luas yang sedikit menyempit. Anomali tahanan jenis 100-250

Ωm mengikuti pola kontur sebelumnya

dengan penyebaran cukup luas. Kontur

dengan tahanan jenis > 250 Ωm

penyebarannya cukup luas ke arah timur.

Tahanan jenis semu pada AB/2=800 meter

mempunyai pola hampir sama dengan pola anomali tahanan jenis semu sebelumnya.

Anomali rendah < 25 Ωm diikuti oleh

anomali dengan nilai kontur 25-100 Ωm,

anomali tersebut membuka ke arah barat (ke arah laut). Selanjutnya adalah anomali

dengan nilai kontur 100-250 Ωm menempati

bagian tengah yang mempunyai penyebaran cukup luas ke arah utara-selatan. Anomali tahanan jenis tinggi yaitu >250 berada di bagian timur dengan kontur membuka ke arah timur, selatan dan utara dengan

penyebaran yang makin luas.

Pada bentangan AB/2=1000 meter (Gambar

3), harga tahanan jenis rendah <25 Ωm

masih tetap konsisten pada daerah tersebut dengan luas yang makin menyempit, diikuti

oleh nilai tahanan jenis 25-100 Ωm dengan

kontur membuka ke arah barat (ke arah

laut). Tahanan jenis 100-250 Ωm terlihat

dibagian tengah dengan penyebaran ke baratlaut dan tenggara, kemudian diikuti

nilai tahahan jenis > 250 Ωm dengan

penyebaran cukup luas, kontur membuka ke arah baratlaut, selatan dan timur.

PENAMPANG TAHANAN JENIS SEMU

Pada penampang tahanan jenis semu

lintasan D tahanan jenis rendah < 25 Ωm

berada pada titik amat D-1000, D-1500 dan D-2100 dengan kemiringan ke arah barat,

diikuti oleh tahanan jenis 25-100 Ωm

dengan penyebaran tidak begitu luas.

(4)

berada di bagian timur laut berada pada titik amat D-3000 sampai D-5000, tahanan jenis ini berada tipis di permukaan dan menujam pada titik amat D-3500. Harga tahanan jenis pada penampang ini umumnya makin ke dalam mempunyai tahanan jenis yang makin membesar, seperti pada titik amat D-5500. Adanya anomali tinggi pada penampang tahanan jenis tersebut mengindikasikan adanya batuan dengan resistivitas besar di bawah permukaan, kemungkinan batuan dengan resistivitas besar di daerah ini adalah granit. Untuk penampang lainnya perlapisannya hampir sama dengan penampang D ini (gambar 4).

PENDUGAAN TAHANAN JENIS

Hasil sounding pada umumnya diperoleh 4 buah lapisan; terdiri dari lapisan pertama yaitu lapisan permukaan dengan tahanan

jenis 12-40 Ωm, kemudian lapisan kedua

dengan tahanan jenis 250-600 Ωm,

selanjutnya adalah lapisan ke 3 dengan

tahanan jenis 70-200 Ωm dan lapisan

terakhir adalah lapisan dengan tahanan jenis

700-1100 Ωm . Lapisan pertama dengan

tahanan jenis 12-40 Ωm diduga merupakan

lapisan permukaan yang didominasi oleh alluvium dengan ketebalan sekitar 25 sampai 100 meter, diikuti oleh batuan dengan tahanan jenis lebih besar yaitu antara

250-600 Ωm diperkirakan batuan granit

yang sudah dekat permukaan dan diperkirakan sedikit mengalami pelapukan dengan ketebalan 300-400 meter. Pada lapisan ke tiga terdapat tahanan jenis yang

sedikit lebih kecil yaitu 70-200 Ωm, lapisan

ini diduga batuan metamorf yaitu skis yang merupakan batuan dasar di daerah ini yang terintrusi oleh batuan granit dengan tahanan

jenis 700-1100 Ωm.

Pada penampang CD penampang ini terdiri dari 6 lapisan yaitu lapisan pertama merupakan lapisan permukaan dengan nilai

tahanan jenis 6 sampai 60 Ωm yang terbagi

menjadi dua lapisan yaitu lapisan pertama dan ketiga, lapisan ini merupakan lapisan permukaan yang terdiri dari aluvium dan

batupasir. Selanjutnya adalah nilai tahanan

jenis antara 125-200 Ωm pada lapisan ke

dua dan tahanan jenis 300-500 Ωm pada

lapisan ke empat merupakan batu granit yang sudah mengalami pelapukan. Di bagian timurlaut lapisan ke dua tersebut tersingkap di permukaan, batuan granit tersebut dipermukaan kemungkinan sudah mengalami pelapukan sehingga harga tahanan jenisnya agak rendah. Lapisan ke lima ditempati oleh tahanan jenis 70-150

Ωm, lapisan ini diperkirakan ada kaitannya

dengan batuan metamorf yaitu skis dan lapisan yang ke enam dengan tahanan jenis

800-900 Ωm merupakan batolit granit yang

mendominasi lapisan batuan di daerah ini (gambar 5).

PENDUGAAN HEAD-ON

Hasil pengukuran head-on pada lintasan X (Gambar 6) dan Y (Gambar 7), tidak memperlihatkan struktur dalam, melainkan hanya ditemukan struktur dangkal pada bentangan AB/2=200 m, sesar tersebut tidak menerus ke arah yang lebih dalam. Hasil pengamatan head-on bahwa struktur yang didapat hanya pada kedalaman dangkal, hal ini diduga pengontrol airpanas tambu bukan struktur tersebut, melainkan sesar tua Tambu yang berarah utara-selatan yang teraktifkan kembali.

DISKUSI

Tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m terdapat secara konsisten berada di ujung lintasan B, C, D yaitu disekitar airpanas Tambu dan diharapkan merupakan indikasi adanya aktifitas panas di bawah permukaan bukan dari batuan sedimen/aluvium atau intrusi airlaut yang mendominasi daerah disekitar airpanas.

(5)

reservoir berada disekitar struktur, diduga berupa poket sehingga kedalamannya tidak bisa diketahui pasti.

Hasil pengukuran sounding tidak diperoleh tahanan jenis rendah yang diperkirakan

sebagai clay cap, ini disebabkan oleh tidak

adanya titik pengamatan sounding di area tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m karena ujung lintasan sudah dilaut, sedangkan zona tahanan jenis rendah mengarah ke laut. Walaupun demikian pada pengamatan sounding di lintasan D (D 2100 dan D 2600) yang berada di bagian barat sesar Tambu, reservoir diperkirakan berada pada lapisan ke lima dengan tahanan jenis 70-150

Ohm-m, pada kedalaman > 600 Ohm-m, walaupun clay

cap nya tidak didapatkan.

Potensi terduga daerah panas bumi Tambu adalah 14 MWe, dengan asumsi tebal reservoir 1000 meter, temperatur bawah

adalah 140 °C.

KESIMPULAN

Tahanan jenis rendah di permukaan diduga diakibatkan oleh batuan alluvium dan batupasir.

Daerah prospek diduga berada disekitar tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m yang masih membuka ke arah barat dan disekitar struktur yang mengontrol airpanas Tambu adalah struktur yang berarah hampir utara-selatan.

Potensi terduga daerah panas bumi Tambu adalah 14 MWe, dengan temperatur bawah

permukaan 140 °C (Geothermometer Na, K,

Mg).

Reservoir diduga berupa poket yang berada disekitar struktur sesar dengan kedalaman diperkirakan lebih besar dari 600 m.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih penulis sampaikan kepada para pejabat Badan Geologi yang telah memberikan fasilitas berupa kegiatan survei terpadu di wilayah Tambu, dan panitia kolokium yang memuat makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada anggota tim penyelidikan panas bumi Tambu, telah bekerja secara serius dan bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

Bakrun, 2004, Penyelidikan Terpadu Geologi,Geokimia dan Geofisika di daerah Panas Bumi Marana-Marawa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Bemmelen, van R.W., 1949. The Geology of

Indonesia. Vol. I A. General Geology

Of Indonesia And Adjacent

Archipelagoes. Government Printing

Office. The Hague. Netherlands.

Dede Iim, dkk, 2008, Penyelidikan Geologi di daerah panas bumi Tambu, Kab. Donggala, Sulawesi Selatan.

Dedi K, dkk, 2008, Penyelidikan Geokimia di daerah panas bumi Tambu, Kab. Donggala, Sulawesi Selatan.

Yohana, T., 2003, Resty 2003 : Program Pengolahan Data Geolistrik

Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry and

Geothermal System. Academic Press

Inc. Orlando.

Saefudin,1994, Batuan Granitik daerah Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol – IV.

Simanjuntak, dkk., 1973. Peta Geologi Lembar Palu - 2015 & 2115, Sulawesi, Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi. Bandung.

Telford, W.M. et al, 1982. Applied

Geophysics. Cambridge University

(6)

Gambar 1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan

Gambar 2 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=250 meter

0 125 kilometers

250 Lokasi Penyelidikan Peta Indeks 0ø N

2ø S

120 ø E 122 ø E Pulau Sulawesi

Palu Donggala

Poso INDEKS

831000 831500 832000 832500 833000 9991000

9991500 9992000 9992500

PETA TAHANAN JENIS SEMU AB/2 =250 m DAERAH PANAS BUMI TAMBU

KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH

818000 820000 822000 824000 826000 828000 9988000

9990000 9992000 9994000 9996000 9998000 10000000 10002000 10004000

Abo Meli

Melui

Tanahruntuh Baru Tambu

Silumbea Eas

Binangga Towiya

15 105

104

103 107

108

120 106 38

109

280

618

541

370 6

283

32 113

10

6 115

15

8 114

37

320 290 48

343 344

524

453

702 591

457 370

435

409

335

453 442

419 460

330

351 45

U

Sungai dan anak sungai

Jalan provinsi, jalan kabupaten Titik Pengukuran Geolistrik

Mata air panas

Kontur ketinggian interval 50 meter

A 5000 KETERANGAN

0 2000 4000

<25 Ohm meter 25-100 Ohm meter 100-250 Ohm meter > 250 Ohm meter

Lokasi Daerah

Penyelidikan

1o LS 0o

120o BT 121o BT

Peta index U

(7)

Gambar 3 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=1000 meter

0 125 kilometers

250 Lokasi Penyelidikan Peta Indeks 0ø N

2ø S

120 ø E 122 ø E Pulau Sulawesi

Palu Donggala

Poso INDEKS

831000 831500 832000 832500 833000 9991000

9991500 9992000 9992500

PETA TAHANAN JENIS SEMU AB/2 =1000 m DAERAH PANAS BUMI TAMBU

KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH

818000 820000 822000 824000 826000 828000 9988000

9990000 9992000 9994000 9996000 9998000 10000000 10002000 10004000

Abo Meli

Melui

Tanahruntuh Baru Tambu

Silumbea Eas

Binangga Towiya

15 105

104

103 107

108

120 106 38

109

280

618

541

370 6

283

32 113

10

6 115

15

8 114

37

320 290 48

343 344

524

453

702 591

457 370

435

409

335

453 442

419 460

330

351 45

U

Sungai dan anak sungai

Jalan provinsi, jalan kabupaten

Titik Pengukuran Geolistrik

Mata air panas

Kontur ketinggian interval 50 meter

A 5000

KETERANGAN

0 2000 4000

(8)

Gambar 4 Penampang Tahanan Jenis Semu Lintasan A, B, C dan D

0 500 1000 1500 2000 2500 -400

-200 0 200

A400 A900 A1400 A1900

A2400

0 25 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500

Barat Daya Timur Laut

LINTASAN A

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 -500

0 B500

B1000 B1500 B2000 B2500 B3000 B3500

B4000

Barat Daya Timur Laut

0 25 50 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500

LINTASAN B

500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 -1000

-500

0 C1000 C1500 C2100

C2600 C3100 C3600 C4000 C4500 C5000 C5500

4

0 25 50100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500

LINTASAN C

Barat Daya Timur Laut

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 -1000

-500 0

D500 D1000 D1500 D2100 D2600 D3000 D3500 D4000 D4500

D5000

0 25 50 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500

Barat Daya Timur Laut

(9)

Gambar 5 Penampang CD, Tahanan Jenis Sebenarnya Lintasan D

-1000 -900 -800 -700 -600 -500 -400 -300 -200 -100 0

-1000 -900 -800 -700 -600 -500 -400 -300 -200 -100 0

D2100 D2600 D3000 D3500

4 250

6

250

22 230 55

450

125 45

325

85

900

200 60

500

100

800

C D

5-65 Ohm m 70-150 Ohm m 300-900 Ohm m 55

75

? ?

PENAMPANG TAHANAN JENIS SEBENARNYA CD

48

(10)

Gambar 6 Penampang Head-On , Lintasan X

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-5 0 5

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-10 0 10

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-10 0 10

400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 1900 2000

-10 0 10

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-10 0 10

HEAD-ON 200

HEAD-ON 400

HEAD-ON 500

HEAD-ON 600

HEAD-ON 800

-400 -200 0

X500 X600 X700 X800 X900 X1000 X1100 X1200 X1300 X1400 X1500 X1600 X1700 X1800 X1900 X2000

13

7

8 11

9

11

13 9

9

11

13 8

8

10

12

16 5

7

8

7

12 4

7

8

10

13 5

8

11

12

16 4

10

11

15

19 5

11

15

18

25 6

13

18

21

28 6

12

16

19

26 6

10

13

16

21 7

12

16

18 8

15

19

23 9

19

25 12

22

0 5 10 15 20 25

(11)

Gambar 7 Penampang Head-On , Lintasan Y

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-20 0 20 40

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-50 0 50

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-10 0 10

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-50 0 50

400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000

-50 0 50 -400 -200 0

Y400 Y500 Y600 Y700 Y800 Y900 Y1000 Y1100 Y1200 Y1300 Y1400 Y1500 Y1600 Y1700 Y1800 Y1900 Y2000

39

48 40

45

45 49

64

75

89 70

112

131

132 98

138

147

142

152 76

100

103

110

114 94

89

98

103

105 79

93

91

94

101 108

145

147

138

148 129

194

200

193

193 120

190

197

206

201 134

176

188

206

190 118

158

167

189

181 122

168

175

173 155

233

234

216 139

209

219 171

222

0 25 50 100 150 200 250

Gambar

Gambar 1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan
Gambar 3 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=1000 meter
Gambar 4 Penampang Tahanan Jenis Semu Lintasan A, B, C dan D
Gambar 5 Penampang CD, Tahanan Jenis Sebenarnya Lintasan D
+3

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Secara umum fungsi fitness diturunkan oleh fungsi obyektif dengan nilai yang positif (+), apabila fungsi obyektif bernilai negatif (-) maka perlu ditambahkan konstanta

Memiliki pengalaman pada Klasifikasi Elektrikal untuk perusahaan kecil paling sedikit 1(satu) pekerjaan dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir kecuali perusahaan yang

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi Persyaratan sesuai yang tercantum dalam Dokumen Lelang, dengan terlebih dahulu melakukan

Pada hari ini Sabtu Tanggal Dua Puluh Delapan Bulan Desember Tahun Dua Ribu Tiga Belas bertempat di Sekretariat Panitia Pengadaan Barang dan Jasa (P2BJ) di

Kepada peserta yang berkeberatan atas Pengumuman Pemenang Seleksi Sederhana diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sejak pengumuman

Pada hari ini , Rabu Tanggal Dua Puluh Sembilan Bulan Oktober Tahun Dua Ribu Empat Belas , dengan ini Pokja Pengadaan Barang / Jasa ULP Dinas Pertanian Tanaman

Diubah menjadi : Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta sebesar Rp 389.505.600,00 (tiga ratus delapan puluh Sembilan juta lima