POTENSI PANAS BUMI BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK DAN HEAD-ON DI DAERAH PANAS BUMI TAMBU, KABUPATEN DONGGALA,
PROVINSI SULAWESI TENGAH
Oleh :
B a k r u n, Mochamad Kholid Kelompok Program Penelitian Panas Bumi
SARI
Daerah panas bumi Tambu termasuk wilayah kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, manifestasinya terletak di desa Mapane Tambu, berupa kolam air panas dengan
temperatur 57.4 oC.
Air panas Tambu muncul di dataran aluvium pada elevasi 3 meter dari permukaan laut yang dikontrol oleh sesar Tambu berarah utara–selatan. Area prospek berada di daerah depresi dan di batasi oleh tahanan jenis rendah (< 25 Ohm-m) memanjang mengikuti struktur di sekitar airpanas, dengan luas daerah prospek 6 Km².
Reservoir diperkirakan berkaitan dengan batuan metamorf (skis) dengan tahanan jenis 70 – 150
Ωm, lapisan ini diduga berada pada kedalaman > 600 meter, diikuti oleh lapisan batolit granit
yang mendominasi lapisan batuan di daerah ini dengan tahanan jenis 800-900 Ωm.
Struktur geologi yang mengontrol airpanas Tambu adalah sesar Tambu berarah utara-selatan yang kemungkinan teraktifkan kembali, dan diketahui bahwa struktur yang berarah barat timur hanya terdapat pada kedalaman dangkal.
Berdasarkan luas daerah prospek 6 km², dan temperatur bawah permukaan sebesar 140 °C (geotermometer Na, K, Mg), dengan asumsi tebal reservoir 1000 m, maka potensi cadangan terduga di daerah panas bumi Tambu adalah sebesar 14 Mwe.
PENDAHULUAN
Potensi panas bumi bisa diketahui berdasarkan penghitungan yang luas daerah prospeknya diambil dari hasil survei geolistrik tahanan jenis. Survei geolistrik dimaksudkan untuk mengetahui penyebaran tahanan jenis secara lateral dan vertikal dengan menggunakan bentangan simetris (Schlumberger), sehingga nantinya akan diperoleh potensi panas bumi berdasarkan luas dari daerah prospek berdasarkan luas anomali tahanan jenis rendah.
Daerah panas bumi Tambu sebagian besar termasuk wilayah Kecamatan Balaesang,
Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah.
Terletak pada koordinat antara 119º 50’ 46,06” – 119º 57’ 19,02” BT dan 0º 2’ 15,57” LU - 0º 6’ 57,29” LS atau 816.833 – 828.995 mT dan 9.987.172 – 10.004.168 mS (Gambar 1).
METODE
Metode geolistrik terdiri dari dua metode
yaitu pemetaan tahanan jenis (Mapping),
dan pendugaan tahanan jenis (Sounding)
dengan menggunakan konfigurasi
Schlumberger (bentangan simetris).
yang telah ditentukan. Hasil pengukuran
mapping akan berupa peta-peta tahanan
jenis semu untuk berbagai bentangan elektroda arus, sedangkan pengukuran
sounding akan berupa profil-profil nilai
tahanan jenis sebenarnya. Metode penyelidikan ini menggunakan arus bolak-balik yang dialirkan melalui dua buah elektroda arus A dan B yang menghasilkan beda potensial diantara kedua titik tersebut dan selanjutnya diukur besar beda potensial MN yang terletak di antara A dan B. Pengukuran didaerah penyelidikan ini dilakukan dalam konfigurasi bentangan AB/2 = 250, 500, 800 dan 1000 meter untuk
mapping, sedangkan untuk pengukuran
sounding dimulai pada bentangan AB/2 =
1,6 meter sampai AB/2 = 2000 meter dengan jarak elektroda potensial MN < 1/5 AB. Semakin besar AB/2 semakin dalam penetrasi arus ke dalam bumi, yang berarti semakin dalam informasi yang didapat.
Untuk Head-On ditambah satu elektroda
yaitu C pada jarak 4 km tegak lurus lintasan, dimana terletak elektroda A dan B.
Pengukuran Head-On dilakukan pada
bentangan AB/2 = 200, 400, 500, 600 dan 800 meter dengan bentangan MN = 100 meter
Konfigurasi untuk pengukuran Head-On
yang digunakan masih tetap Schlumberger tetapi perbedaannya terletak pada penempatan elektroda arus, dimana pada
pengukuran Head-On elektroda arus
ditambah satu elektroda C pada jarak yang relatif jauh di luar lintasan yang berarah tegak lurus terhadap lintasan sehingga
OC⊥AB dan OC >> AB.
GEOLOGI DAN GEOKIMIA
Morfologi yang terbentuk di daerah panas bumi Tambu dipengaruhi oleh kegiatan tektonik, pelapukan, dan erosi yang membentuk pedataran dan perbukitan memanjang dengan ketinggian antara 100-650 m di atas permukaan laut.
Morfologi daerah survei terbagi menjadi tiga satuan morfologi yaitu: morfologi perbukitan curam, perbukitan bergelombang sedang, dan morfologi pedataran.
Satuan batuan di daerah survei dapat dikelompokkan menjadi lima satuan, dengan urutan dari tua ke muda adalah Satuan Granit (Tmg), Diorit (Tpd), Batupasir (Qpb), Endapan Pantai (Qs), dan Satuan Aluvium (Qa).
Sesar normal Balaesang dan sesar normal Tambu diperkirakan sesar yang membentuk zona depresi (menangga) di sisi bagian barat yang saat ini sudah terisi oleh endapan batupasir dan aluvium. Sama halnya dengan kedua sesar tersebut, blok bagian barat dari sesar normal Batukanjai merupakan bagian yang bergerak relatif turun dan saat ini terisi oleh sedimen batupasir dan aluvium. Dalam perkembangannya semua sesar tersebut diperkirakan teraktifkan kembali bersamaan dengan terbentuknya beberapa sesar normal mengiri yang memotong barat - timur. Pada beberapa tempat sesar Balaesang maupun sesar Tambu terpotong dan bergerak ke arah timur sebagai akibat pergeseran dari sesar normal mengiri lebih muda yang memotongnya. Pergeseran jalur sesar Balaesang tersebut menghasilkan beberapa pola kelurusan kontur di bagian timurnya. Sesar Tambu diperkirakan sebagai struktur geologi yang mengontrol pemunculan manifestasi kolam air panas Tambu.
Mata air panas di daerah Tambu hanya terdapat di satu lokasi dan masih berada di dalam peta kerja Tambu, yaitu air panas Tambu, selebihnya berada di luar lokasi peta, yaitu air panas Roras, dan air panas Ponggerang terletak pada posisi klorida, sedangkan air panas Budi mukti, dan air panas Ranang, terletak pada posisi bikarbonat.
Berdasarkan diagram segi tiga Na-K-Mg ,
mata air panas, terletak pada partial
equilibrium, sebagai indikasi manifestasi
yang muncul ke permukaan mungkin ada pengaruh interaksi antara fluida dengan batuan dalam keadaan panas sebelum
bercampur dengan air permukaan (meteoric
water), kecuali air panas budi mukti pada
immature water. Berdasarkan diagram segi
yang terbentuk, terkontaminasi air laut di daerah penyelidikan, yang diindikasikan oleh rasa air panas agak asin, daya hantar listrik relatif tinggi (2000-9600 µm/cm), Na relatif tinggi (337-1226 mg/l) dan Cl (594-3339 mg/l) dan Silika rendah (34-61 mg/l).
MANIFESTASI PANAS BUMI
Manifestasi berupa kolam air panas dengan
temperatur 57.4 oC pada temperatur udara di
lokasi 27.1oC, air panas mengalir dengan
debit air 0.5 l/detik, pH netral (pH = 7.10), pemunculannya dikontrol oleh sesar normal Tambu yang berarah utara baratlaut – selatan tenggara. Sesar Tambu ini merupakan sesar tua yang diperkirakan teraktifkan kembali, sehingga memfasilitasi fluida panas yang ada dalam reservoir untuk mengalir menuju permukaan. Hal ini diperkirakan karena manifestasi Tambu berada di atas suatu tubuh batuan beku dalam (poket magma) yang diduga sebagai
sumber panas (heat source) dari sistem
panasbumi Tambu.
PEMETAAN TAHANAN JENIS SEMU
Hasil pemetaan tahanan jenis semu pada bentangan AB/2 = 250 meter (Gambar 2), memperlihatkan anomali tahanan jenis semu
rendah < 25 Ωm, selanjutnya diikuti oleh
anomali tahanan jenis semu 25-100 Ωm
mempunyai pola kontur hampir sama yaitu membuka ke arah barat, memotong hampir semua lintasan. Kontur tahanan jenis semu
100 Ωm memotong lintasan A, B, C, D
lintasan E, F, dan G.
Anomali tahanan jenis semu 100 - 250 Ωm
masih mengikuti kontur sebelumnya dan memotong lintasan A sampai G di tengah daerah penyelidikan dengan kontur tahanan jenis membuka ke arah utara dan selatan. Anomali tahanan jenis ini juga ditemui di ujung lintasan D, E, dan F dengan kontur
tertutup. Anomali tahanan jenis >250 Ωm
menempati bagian timur daerah penyelidikan dengan penyebaran cukup luas ke arah timur, utara dan selatan.
Pada peta tahanan jenis semu bentangan AB/2=500 meter mempunyai pola kontur hampir sama dengan pola kontur anomali pada bentangan AB/2=250m, anomali rendah < 25 masih tetap konsisten berada di bentangan ini, dan diikuti oleh tahanan jenis
semu 25-100 Ωm, dan masih tetap membuka
kearah barat dengan luas yang sedikit menyempit. Anomali tahanan jenis 100-250
Ωm mengikuti pola kontur sebelumnya
dengan penyebaran cukup luas. Kontur
dengan tahanan jenis > 250 Ωm
penyebarannya cukup luas ke arah timur.
Tahanan jenis semu pada AB/2=800 meter
mempunyai pola hampir sama dengan pola anomali tahanan jenis semu sebelumnya.
Anomali rendah < 25 Ωm diikuti oleh
anomali dengan nilai kontur 25-100 Ωm,
anomali tersebut membuka ke arah barat (ke arah laut). Selanjutnya adalah anomali
dengan nilai kontur 100-250 Ωm menempati
bagian tengah yang mempunyai penyebaran cukup luas ke arah utara-selatan. Anomali tahanan jenis tinggi yaitu >250 berada di bagian timur dengan kontur membuka ke arah timur, selatan dan utara dengan
penyebaran yang makin luas.
Pada bentangan AB/2=1000 meter (Gambar
3), harga tahanan jenis rendah <25 Ωm
masih tetap konsisten pada daerah tersebut dengan luas yang makin menyempit, diikuti
oleh nilai tahanan jenis 25-100 Ωm dengan
kontur membuka ke arah barat (ke arah
laut). Tahanan jenis 100-250 Ωm terlihat
dibagian tengah dengan penyebaran ke baratlaut dan tenggara, kemudian diikuti
nilai tahahan jenis > 250 Ωm dengan
penyebaran cukup luas, kontur membuka ke arah baratlaut, selatan dan timur.
PENAMPANG TAHANAN JENIS SEMU
Pada penampang tahanan jenis semu
lintasan D tahanan jenis rendah < 25 Ωm
berada pada titik amat D-1000, D-1500 dan D-2100 dengan kemiringan ke arah barat,
diikuti oleh tahanan jenis 25-100 Ωm
dengan penyebaran tidak begitu luas.
berada di bagian timur laut berada pada titik amat D-3000 sampai D-5000, tahanan jenis ini berada tipis di permukaan dan menujam pada titik amat D-3500. Harga tahanan jenis pada penampang ini umumnya makin ke dalam mempunyai tahanan jenis yang makin membesar, seperti pada titik amat D-5500. Adanya anomali tinggi pada penampang tahanan jenis tersebut mengindikasikan adanya batuan dengan resistivitas besar di bawah permukaan, kemungkinan batuan dengan resistivitas besar di daerah ini adalah granit. Untuk penampang lainnya perlapisannya hampir sama dengan penampang D ini (gambar 4).
PENDUGAAN TAHANAN JENIS
Hasil sounding pada umumnya diperoleh 4 buah lapisan; terdiri dari lapisan pertama yaitu lapisan permukaan dengan tahanan
jenis 12-40 Ωm, kemudian lapisan kedua
dengan tahanan jenis 250-600 Ωm,
selanjutnya adalah lapisan ke 3 dengan
tahanan jenis 70-200 Ωm dan lapisan
terakhir adalah lapisan dengan tahanan jenis
700-1100 Ωm . Lapisan pertama dengan
tahanan jenis 12-40 Ωm diduga merupakan
lapisan permukaan yang didominasi oleh alluvium dengan ketebalan sekitar 25 sampai 100 meter, diikuti oleh batuan dengan tahanan jenis lebih besar yaitu antara
250-600 Ωm diperkirakan batuan granit
yang sudah dekat permukaan dan diperkirakan sedikit mengalami pelapukan dengan ketebalan 300-400 meter. Pada lapisan ke tiga terdapat tahanan jenis yang
sedikit lebih kecil yaitu 70-200 Ωm, lapisan
ini diduga batuan metamorf yaitu skis yang merupakan batuan dasar di daerah ini yang terintrusi oleh batuan granit dengan tahanan
jenis 700-1100 Ωm.
Pada penampang CD penampang ini terdiri dari 6 lapisan yaitu lapisan pertama merupakan lapisan permukaan dengan nilai
tahanan jenis 6 sampai 60 Ωm yang terbagi
menjadi dua lapisan yaitu lapisan pertama dan ketiga, lapisan ini merupakan lapisan permukaan yang terdiri dari aluvium dan
batupasir. Selanjutnya adalah nilai tahanan
jenis antara 125-200 Ωm pada lapisan ke
dua dan tahanan jenis 300-500 Ωm pada
lapisan ke empat merupakan batu granit yang sudah mengalami pelapukan. Di bagian timurlaut lapisan ke dua tersebut tersingkap di permukaan, batuan granit tersebut dipermukaan kemungkinan sudah mengalami pelapukan sehingga harga tahanan jenisnya agak rendah. Lapisan ke lima ditempati oleh tahanan jenis 70-150
Ωm, lapisan ini diperkirakan ada kaitannya
dengan batuan metamorf yaitu skis dan lapisan yang ke enam dengan tahanan jenis
800-900 Ωm merupakan batolit granit yang
mendominasi lapisan batuan di daerah ini (gambar 5).
PENDUGAAN HEAD-ON
Hasil pengukuran head-on pada lintasan X (Gambar 6) dan Y (Gambar 7), tidak memperlihatkan struktur dalam, melainkan hanya ditemukan struktur dangkal pada bentangan AB/2=200 m, sesar tersebut tidak menerus ke arah yang lebih dalam. Hasil pengamatan head-on bahwa struktur yang didapat hanya pada kedalaman dangkal, hal ini diduga pengontrol airpanas tambu bukan struktur tersebut, melainkan sesar tua Tambu yang berarah utara-selatan yang teraktifkan kembali.
DISKUSI
Tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m terdapat secara konsisten berada di ujung lintasan B, C, D yaitu disekitar airpanas Tambu dan diharapkan merupakan indikasi adanya aktifitas panas di bawah permukaan bukan dari batuan sedimen/aluvium atau intrusi airlaut yang mendominasi daerah disekitar airpanas.
reservoir berada disekitar struktur, diduga berupa poket sehingga kedalamannya tidak bisa diketahui pasti.
Hasil pengukuran sounding tidak diperoleh tahanan jenis rendah yang diperkirakan
sebagai clay cap, ini disebabkan oleh tidak
adanya titik pengamatan sounding di area tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m karena ujung lintasan sudah dilaut, sedangkan zona tahanan jenis rendah mengarah ke laut. Walaupun demikian pada pengamatan sounding di lintasan D (D 2100 dan D 2600) yang berada di bagian barat sesar Tambu, reservoir diperkirakan berada pada lapisan ke lima dengan tahanan jenis 70-150
Ohm-m, pada kedalaman > 600 Ohm-m, walaupun clay
cap nya tidak didapatkan.
Potensi terduga daerah panas bumi Tambu adalah 14 MWe, dengan asumsi tebal reservoir 1000 meter, temperatur bawah
adalah 140 °C.
KESIMPULAN
Tahanan jenis rendah di permukaan diduga diakibatkan oleh batuan alluvium dan batupasir.
Daerah prospek diduga berada disekitar tahanan jenis rendah < 25 Ohm-m yang masih membuka ke arah barat dan disekitar struktur yang mengontrol airpanas Tambu adalah struktur yang berarah hampir utara-selatan.
Potensi terduga daerah panas bumi Tambu adalah 14 MWe, dengan temperatur bawah
permukaan 140 °C (Geothermometer Na, K,
Mg).
Reservoir diduga berupa poket yang berada disekitar struktur sesar dengan kedalaman diperkirakan lebih besar dari 600 m.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis sampaikan kepada para pejabat Badan Geologi yang telah memberikan fasilitas berupa kegiatan survei terpadu di wilayah Tambu, dan panitia kolokium yang memuat makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada anggota tim penyelidikan panas bumi Tambu, telah bekerja secara serius dan bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Bakrun, 2004, Penyelidikan Terpadu Geologi,Geokimia dan Geofisika di daerah Panas Bumi Marana-Marawa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Bemmelen, van R.W., 1949. The Geology of
Indonesia. Vol. I A. General Geology
Of Indonesia And Adjacent
Archipelagoes. Government Printing
Office. The Hague. Netherlands.
Dede Iim, dkk, 2008, Penyelidikan Geologi di daerah panas bumi Tambu, Kab. Donggala, Sulawesi Selatan.
Dedi K, dkk, 2008, Penyelidikan Geokimia di daerah panas bumi Tambu, Kab. Donggala, Sulawesi Selatan.
Yohana, T., 2003, Resty 2003 : Program Pengolahan Data Geolistrik
Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry and
Geothermal System. Academic Press
Inc. Orlando.
Saefudin,1994, Batuan Granitik daerah Palu dan sekitarnya, Sulawesi Tengah, Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol – IV.
Simanjuntak, dkk., 1973. Peta Geologi Lembar Palu - 2015 & 2115, Sulawesi, Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi. Bandung.
Telford, W.M. et al, 1982. Applied
Geophysics. Cambridge University
Gambar 1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan
Gambar 2 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=250 meter
0 125 kilometers
250 Lokasi Penyelidikan Peta Indeks 0ø N
2ø S
120 ø E 122 ø E Pulau Sulawesi
Palu Donggala
Poso INDEKS
831000 831500 832000 832500 833000 9991000
9991500 9992000 9992500
PETA TAHANAN JENIS SEMU AB/2 =250 m DAERAH PANAS BUMI TAMBU
KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH
818000 820000 822000 824000 826000 828000 9988000
9990000 9992000 9994000 9996000 9998000 10000000 10002000 10004000
Abo Meli
Melui
Tanahruntuh Baru Tambu
Silumbea Eas
Binangga Towiya
15 105
104
103 107
108
120 106 38
109
280
618
541
370 6
283
32 113
10
6 115
15
8 114
37
320 290 48
343 344
524
453
702 591
457 370
435
409
335
453 442
419 460
330
351 45
U
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten Titik Pengukuran Geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000 KETERANGAN
0 2000 4000
<25 Ohm meter 25-100 Ohm meter 100-250 Ohm meter > 250 Ohm meter
Lokasi Daerah
Penyelidikan
1o LS 0o
120o BT 121o BT
Peta index U
Gambar 3 Peta Tahanan Jenis Semu AB/2=1000 meter
0 125 kilometers
250 Lokasi Penyelidikan Peta Indeks 0ø N
2ø S
120 ø E 122 ø E Pulau Sulawesi
Palu Donggala
Poso INDEKS
831000 831500 832000 832500 833000 9991000
9991500 9992000 9992500
PETA TAHANAN JENIS SEMU AB/2 =1000 m DAERAH PANAS BUMI TAMBU
KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH
818000 820000 822000 824000 826000 828000 9988000
9990000 9992000 9994000 9996000 9998000 10000000 10002000 10004000
Abo Meli
Melui
Tanahruntuh Baru Tambu
Silumbea Eas
Binangga Towiya
15 105
104
103 107
108
120 106 38
109
280
618
541
370 6
283
32 113
10
6 115
15
8 114
37
320 290 48
343 344
524
453
702 591
457 370
435
409
335
453 442
419 460
330
351 45
U
Sungai dan anak sungai
Jalan provinsi, jalan kabupaten
Titik Pengukuran Geolistrik
Mata air panas
Kontur ketinggian interval 50 meter
A 5000
KETERANGAN
0 2000 4000
Gambar 4 Penampang Tahanan Jenis Semu Lintasan A, B, C dan D
0 500 1000 1500 2000 2500 -400
-200 0 200
A400 A900 A1400 A1900
A2400
0 25 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500
Barat Daya Timur Laut
LINTASAN A
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 -500
0 B500
B1000 B1500 B2000 B2500 B3000 B3500
B4000
Barat Daya Timur Laut
0 25 50 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500
LINTASAN B
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 -1000
-500
0 C1000 C1500 C2100
C2600 C3100 C3600 C4000 C4500 C5000 C5500
4
0 25 50100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500
LINTASAN C
Barat Daya Timur Laut
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 -1000
-500 0
D500 D1000 D1500 D2100 D2600 D3000 D3500 D4000 D4500
D5000
0 25 50 100 150 200 250 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500
Barat Daya Timur Laut
Gambar 5 Penampang CD, Tahanan Jenis Sebenarnya Lintasan D
-1000 -900 -800 -700 -600 -500 -400 -300 -200 -100 0
-1000 -900 -800 -700 -600 -500 -400 -300 -200 -100 0
D2100 D2600 D3000 D3500
4 250
6
250
22 230 55
450
125 45
325
85
900
200 60
500
100
800
C D
5-65 Ohm m 70-150 Ohm m 300-900 Ohm m 55
75
? ?
PENAMPANG TAHANAN JENIS SEBENARNYA CD
48
Gambar 6 Penampang Head-On , Lintasan X
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-5 0 5
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-10 0 10
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-10 0 10
400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 1900 2000
-10 0 10
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-10 0 10
HEAD-ON 200
HEAD-ON 400
HEAD-ON 500
HEAD-ON 600
HEAD-ON 800
-400 -200 0
X500 X600 X700 X800 X900 X1000 X1100 X1200 X1300 X1400 X1500 X1600 X1700 X1800 X1900 X2000
13
7
8 11
9
11
13 9
9
11
13 8
8
10
12
16 5
7
8
7
12 4
7
8
10
13 5
8
11
12
16 4
10
11
15
19 5
11
15
18
25 6
13
18
21
28 6
12
16
19
26 6
10
13
16
21 7
12
16
18 8
15
19
23 9
19
25 12
22
0 5 10 15 20 25
Gambar 7 Penampang Head-On , Lintasan Y
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-20 0 20 40
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-50 0 50
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-10 0 10
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-50 0 50
400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000
-50 0 50 -400 -200 0
Y400 Y500 Y600 Y700 Y800 Y900 Y1000 Y1100 Y1200 Y1300 Y1400 Y1500 Y1600 Y1700 Y1800 Y1900 Y2000
39
48 40
45
45 49
64
75
89 70
112
131
132 98
138
147
142
152 76
100
103
110
114 94
89
98
103
105 79
93
91
94
101 108
145
147
138
148 129
194
200
193
193 120
190
197
206
201 134
176
188
206
190 118
158
167
189
181 122
168
175
173 155
233
234
216 139
209
219 171
222
0 25 50 100 150 200 250