BOKS 1
GAMBARAN SINGKAT DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)
DI PROVINSI BENGKULU
Dalam rangka memahami dampak krisis terhadap perkembangan sektor riil di Bengkulu pada Triwulan I Tahun 2009, Bank Indonesia Bengkulu melakukan pengamatan langsung dan wawancara singkat kepada pelaku UMKM. Para pelaku usaha yang dilakukan pengamatan dan wawancara terbagi atas empat kelompok UMKM, yaitu: usaha makanan khas Bengkulu, batik khas Bengkulu (Besurek), jasa travel, dan toko kelontong.
Pertanyaan yang diajukan ke pelaku usaha tersebut mengenai perkembangan produksi, tenaga kerja, volume produksi & penjualan, biaya modal, pemasaran dan keuntungan. Selain itu ditanyakan pula apakah ada rencana investasi dalam jangka pendek (dalam tahun 2009). Adapun ringkasan hasil pengamatan dan wawancara tersebut sebagai berikut :
USAHA MAKANAN KHAS BENGKULU (Kue Tat, Lempok Durian, Emping)
Seluruh pelaku usaha pada industri rumah tangga (IRT) makanan khas Bengkulu menyatakan adanya penurunan volume usaha sejak akhir tahun 2008. IRT makanan khas ini biasanya mengalami lonjakan pada hari-hari besar dan liburan, namun hal ini tidak terjadi di tahun 2008. Bahkan selama triwulan I tahun 2009, IRT Lempok Durian dan Emping mengalami penurunan usaha hampir 50% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sepinya order dari luar daerah (seperti Lampung, Palembang dan Padang) diakui memberikan sumbangan terbesar pada penurunan volume penjualan ini. Untuk penjualan kue tat Bengkulu kondisinya lebih baik, karena volume penjualan hanya turun 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan harga bahan baku, tidak begitu dirasakan oleh pengrajin, karena bahan baku ini banyak tersedia di Bengkulu. Mereka menyatakan kenaikan bahan baku masih dalam kategori wajar yaitu kurang dari 10%. Penggunaan tenaga kerja pada IRT makanan khas ini tanpa menggunakan tenaga kerja tetap. Apabila permintaan/pesanan mulai meningkat, maka tenaga kerja ditambah. Untuk IRT emping melinjo, biasanya pengrajin mengambil bahan baku kemudian mengerjakannya di rumah masing-masing. Oleh karena itu perubahan pada tenaga kerja tidak begitu berarti bagi IRT ini.
Dari segi keuntungan, seluruhnya menyampaikan adanya penurunan dibandingkan periode-periode sebelumnya. Karena peningkatan harga bahan baku dan anjloknya penjualan. Namun demikian, pelaku IRT masih memiliki keinginan untuk melakukan perluasan usaha pada tahun 2009, karena adanya harapan perbaikan perekonomian.
BATIK KHAS BENGKULU (Batik Besurek)
dikhawatirkan pengrajin akan berpindah ke usaha batik besurek yang lain.
Dari sisi jangkauan pemasaran, dirasa tidak ada perubahan, karena masih dalam lingkup pemesanan di provinsi Bengkulu saja. Keuntungan usaha ini juga mengalami penurunan sebesar kurang lebih 30% dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun dilakukan anjuran untuk pemakaian pakaian produk daerah, namun belum mampu meningkatkan volume usaha ini.
JASA TRAVEL (Angkutan Udara & Angkutan Darat
Di bidang jasa travel baik untuk angkutan udara maupun darat mengalami penurunan sejak krisis (dirasakan sejak pertengahan tahun 2008). Untuk jasa travel angkutan udara pada akhir tahun 2008, bahkan mengalami penurunan sampai 50%. Meskipun penurunan ini tidak mencerminkan turunnya jumlah penumpang pesawat, karena justru pada pertengahan tahun 2008 jumlah penerbangan dari dan ke Bengkulu meningkat. Adanya penurunan jasa travel ini diduga karena mulai banyaknya jasa travel yang ada dan adanya kemudahan pemesanan melalui maskapai langsung.
Pada awal tahun 2009 ini, jasa travel mulai merasakan peningkatan dibanding akhir tahun 2008, namun belum setinggi tahun sebelumnya. Untuk jasa angkutan udara, biasanya ramai pada hari-hari libur dan akhir tahun. Dari sisi jumlah tenaga kerja juga tidak terjadi perubahan.
Pada jasa travel angkutan darat (bis–AKAP), jumlah penumpang mengalami penurunan sebesar 10% dibandingkan tahun yang lalu. Penurunan penumpang disebabkan oleh menurunnya kondisi usaha di Bengkulu. Penumpang angkutan darat pada umumnya adalah pengusaha dan pelajar. Biaya angkutan dari tahun 2008 ke 2009 mengalami penurunan 10%. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan harga BBM dan himbauan pemerintah untuk menurunkan ongkos angkutan penumpang. Disamping itu, juga karena adanya persaingan dengan jasa angkutan yang lain.
Meskipun terjadi penurunan jumlah penumpang, jasa angkutan masih merencanakan untuk penambahan trayek baru karena pesaing yang belum banyak serta pangsa pasar yang belum terserap untuk beberapa wilayah tertentu.
Peningkatan biaya terjadi pada naiknya biaya tenaga kerja. Pada tahun 2008, meningkat tiga kali dengan mengikuti peraturan pemerintah dan kebijakan dari pihak perusahaan. Selain itu peningkatan biaya yang cukup signifikan juga terjadi pada biaya spare part. Dampak dari kondisi ini adalah menurunnya keuntungan jasa angkutan darat.
TOKO KELONTONG
Dari kondisi beberapa jenis UMKM tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya UMKM di Bengkulu terkena dampak negatif terkait dengan krisis keuangan global yang terjadi. Kondisi UMKM cenderung dalam kondisi yang kurang baik. Namun jika dilihat perkembangan kredit perbankan ke sektor UMKM di triwulan ini sudah mulai membaik. Pertumbuhan kredit secara bulanan ke UMKM terlihat mulai mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 4% di bulan Maret. Kredit Usaha Kecil (KUK) juga mengalami peningkatan sebesar 5%. Hal ini terlihat pada grafik di bawah.
Perkembangan Kredit, Kredit UMKM dan KUK Perkembangan Kredit UMKM
2,500,000 2,700,000 2,900,000 3,100,000 3,300,000 3,500,000 3,700,000 3,900,000 4,100,000 4,300,000 4,500,000
Jan FebMar Apr Mei Jun Jul AugSep Oct Nov Dec Jan FebMar
2008 2009
600,000 650,000 700,000 750,000 800,000 850,000 900,000 950,000 1,000,000 1,050,000
Kredit
UMKM
KUK
2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 4,500,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar
2008 2009
-3% -2% -1% 0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7%