• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX TEMUAN BARU. 9.1 Kekerabatan Bahasa Or lebih dekat dengan Ft daripada Mk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IX TEMUAN BARU. 9.1 Kekerabatan Bahasa Or lebih dekat dengan Ft daripada Mk"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Berdasarkan penyajian dan analisis data yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, berikut ini disajikan kristalisasi hasil penelitian sekaligus merupakan temuan baru disertasi ini.

9.1 Kekerabatan Bahasa Or lebih dekat dengan Ft daripada Mk

Bahasa Or, Ft, dan Mk secara diakronis terbukti memiliki hubungan genetis yang erat sebagai kelompok bahasa OFM. Berdasarkan bukti kuantitatif dan bukti kualitatif yang ditemukan, kelompok bahasa OFM tersebut dapat disilsilahkan dalam bentuk pola kekerabatan dwipilah. Kelompok bahasa OFM merupakan induk ketiga bahasa tersebut di masa yang lalu, kemudian berbelah dua menjadi subkelompok bahasa OF dan bahasa Mk sebagai bahasa mandiri. Pada tahap perkembangan berikutnya subkelompok bahasa OF sebagai mesobahasa berbelah dua juga menjadi bahasa Or dan bahasa Ft. Berdasarkan fakta bahasa diakronis yang telah ditemukan, kekerabatan bahasa Or, Ft, dan Mk tersebut disilsilahkan sebagai berikut.

Bagan 28: Silsilah Kekerabatan kelompok bahasa OFM

379

Kelompok OFM

Subkelompok OF

(2)

Silsilah kekerabatan bahasan Or, Ft, dan Mk di atas membuktikan bahwa kekerabatan bahasa Or lebih erat dengan bahasa Ft dibandingkan dengan bahasa Mk. Temuan ini sekaligus menolak pendapat yang menyatakan bahasa Or lebih dekat dengan bahasa Bn dan Mk yang ada di Timor Leste (Greenberg, 1971) dan menolak pula pendapat yang menyatakan bahwa bahasa Or lebih dekat dengan bahasa Mk dan Ft serta Lov yang juga ada di Timor Leste (Capell, 1975). Kedua pendapat di atas pada dasarnya menyatakan bahasa Or lebih dekat dengan bahasa Bn dan bahasa Mk dibandingkan dengan bahasa lainnya.

Dalam penelitian ini terungkap bahwa berdasarkan metode leksikostatistik kesamaan kosakata dasar bahasa Bn dengan bahasa Or adalah 0%, dengan bahasa Ft dan Mk hanya mencapai 1%. Artinya, kekerabatan bahasa Bn dengan bahasa Or, Ft, dan Mk sangat rendah termasuk tingkat hubungan makrofilum (Swadesh, 1952). Bahasa Lov sebagaimana telah diungkapkan Capell (1975) memiliki hubungan dengan bahasa Or, Mk, dan Ft tidak ditemukan di Timor Leste baik pada penelitian awal maupun pada penelitian lanjutan. Hal itu berarti bahwa hasil penelitian yang menyatakan bahasa Or lebih dekat dengan bahasa Ft dibandingkan bahasa Mk jelas bertentangan dengan kedua pendapat sebelumnya.

9.2 Kekerabatan Bahasa Or, Ft, dan Mk termasuk tingkat rumpun (stock) Greenberg (1971) mengklasifikasikan bahasa-bahasa NAN di kawasan TAP, HU, KB dan sekitarnya sebagai Filum Papua Barat. Istilah filum yang dikemukakan tersebut merepresentasikan sebagai hubungan kekerabatan pada tingkat sangat rendah dengan angka persentase kosakata kerabat 12% ke bawah

(3)

(Swadesh, 1952 dan Fernandez, 2010). Bahasa-bahasa Or, Ft, dan Mk sebagai bahasa NAN di kawasan TAP menurut Greenberg (1971) juga termasuk filum Papua Barat.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa hubungan kekerabatan bahasa Or, Ft, dan Mk tersebut termasuk tingkat rumpun (stock) dengan rerata kesamaan Cognat 33%. Bahkan, hubungan bahasa Or dengan bahasa Ft termasuk tingkat family dengan persentase angka kekerabatan mencapai 47%. Artinya, bahwa di antara bahasa-bahasa NAN yang ada di kawasan TAP, HU, KB, dan di sekitarnya yang telah dinyatakan sebagai Filum Papua Barat ternyata terdapat pula bahasa-bahasa NAN yang memiliki hubungan kekerabatan yang tinggi termasuk pada tingkat rumpun (stock) bahkan mencapai tingkat family sebagaimana telah dibuktikan pada hasil penelitian ini. Oleh karena itu, hasil penelitian sebagaimana telah diuraikan sekaligus merupakan temuan baru dalam disertasi ini.

9.3 Metode Rrekonstruksi Protobahasa yang Akurat

Rekonstruksi protobahasa berpijak pada dua hipotesis, yakni hipotesis keterhubungan dan hipotesis keteraturan (Jeffers dan Lehiste, 1979:17; Hock, 1988:567). Hipotesis keterhubungan mengacu pada kemiripan dan kesamaan wujud, dalam arti kata-kata yang diperbandingkan memiliki kemiripan atau kesamaan bentuk dan makna yang asali (bukan pinjaman). Hipotesis keteraturan berwujud perubahan fonem yang teratur pada bahasa-bahasa turunan. Untuk menerapakan hipotesis keteraturan ini para peneliti umumnya mengandalkan pada prinsip: a) penelusuran terhadap korespondensi yang berlaku pada bahasa-bahasa itu dan b) penelusuran kaidah-kaidah perubahan fonem yang terjadi pada

(4)

kelompok bahasa yang diteliti. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa dengan kedua prinsip di atas para peneliti sering mengalami keraguan dalam merekonstruksi protobahasanya. Untuk mengatasi keraguan tersebut, peneliti sering menggunakan huruf kapital sebagai lambang alternatif untuk merekonstruksi suatu fonem tertentu.

Dalam penelitian ini, selain menggunakan kedua prinsip di atas juga menerapkan prinsip ketiga, yaitu sampai pada penemuan sistem perubahan fonem yang berlaku pada kelompok bahasa itu. Penerapan ketiga prinsip keteraturan tersebut dapat mengatasi keraguan dalam merekonstruksi protobahasa selama ini.

Dengan demikian, metode rekonstruksi protobahasa akan lebih akurat dibandingkan dengan yang berlaku selama ini, yaitu sampai pada penemuan sistem perubahan fonem yang terjadi pada kelompok bahasa yang diteliti. Metode ini telah terbukti sebagai pendekatan yang lebih akurat dalam merekonstruksi protobahasa. Artinya, jika hanya mengandalkan korespondensi dan kaidah-kaidah perubahan fonem yang ada belum cukup akurat untuk merekonstruksi protobahasa. Oleh karena itu harus dilanjutkan sampai pada penemuan sistem perubahan fonem yang terjadi pada kelompok itu. Dengan demikian, penggunaan lambang dengan huruf kapital atau penggunaan alternatif dua fonem dapat dihindari dan keraguan-keraguan selama ini dapat diatasi.

(Perhatikan Bab VII, butir 7.1.3, khususnya pada angka 1).

9.4 Pemadyaan Vokal sebagai Sistem Perubahan Fonem kelompok OFM Dalam penelitian ini ditemukan sistem perubahan fonem vokal dalam bentuk pemadyaan vokal. Kaidah-kaidah perubahan dalam bentuk split dan

(5)

merger serta korespondensi asimilasi dan disimilasi yang terjadi pada kelompok tersebut berujung pada sistem pemadyaan fonem vokal. Implikasinya adalah jika ditemukan korespondensi vokal tinggi dengan vokal madya atau vokal madya dengan vokal rendah dalam beberapa kata, dapat direkonstruksi sebagai vokal tinggi atau vokal rendah.

Dalam kelompok ini ditemukan tiga bentuk split dari protovokal OFM ke mesovokal OF, yaitu OFM */i/ menjadi OF */i/ dan */e/ pada posisi akhir kata, OFM */a/ menjadi OF */a/ dan */e/ pada posisi awal kata dan akhir kata. Sebuah split yang lain adalah OF */i/ menjadi Or /i/ dan /e/ pada posisi akhir kata. Bentuk merger ditemukan pada protovokal OFM */i/, */e/, dan */a/ menjadi OF */e/. Merger lainnya yaitu OF */i/ dan */e/ menjadi Or /e/. Proses akhir dari kaidah split dan merger dengan bentuk-bentuk kaidah korespondensinya tersebut bermuara pada pemadyaan fonem vokal Kaidah-kaidah korespondensi yang terjadi pada kelompok bahasa OFM tersebut sekaligus membentuk sebuah sistem perubahan fonem vokal yang khas dan hanya terjadi pada kelompok OFM. Berikut ditampilkan sistem perubahan fonem vokal OFM dalam bentuk bagan.

(6)

Bagan 29: Pemadyaan Fonem Vokal pada Kelompok Bahasa OFM Vokal OFM

inisial medial final Vokal OF

*/i/ inisial medial final Vokal Or */i/ inisial medial Final

/i/ */e/ */e/ */e/ /e/ */a/ */a/ */a/ */a/

Jika proses pemadyaan fonem vokal sebagaimana tampak pada bagan di atas tersebut berlaku konsisten sejak awal bentuknya sebagai protobahasa sampai mesobahasa dan berakhir pada bahasa sekarang, dapat diestimasi bahwa fonem madya pada posisi tertentu pada masa sekarang adalah berasal dari fonem-fonem vokal tinggi atau fonem-fonem-fonem-fonem vokal rendah pada masa silam.

9.5 Konsonan Hambat Letup Bersuara sebagai Bentuk Evolusi Internal Protofonem OFM

Ditemukan pula sistem perubahan fonem konsonan dalam bentuk penyuaraan (voicing) pada konsonan hambat letup yang ditelusuri melalui kaidah

(7)

split dengan korespondensinya. Temuan ini juga sebagai bentuk evolusi internal konsosonan hambat letup bersuara yang terjadi pada kelompok bahasa OFM.

Temuan dalam bentuk fonem konsonan hambat letup bersuara merupakan kristalisasi dari kaidah korespondensi lima fonem konsonan, yaitu tiga fonem protokonsonan */p/, */t/, */k/ terjadi pada bahasa Mk, satu fonem protokonsonan */y/ pada bahasa Ft, dan satu fonem protokonsonan */t/ pada bahasa Or. Proses yang terjadi adalah sebagai berikut. Pertama, Protokonsonan OFM */p/ mengalami split menjadi Mk /p/ dan /b/ pada posisi awal dan tengah kata. Kedua, split OFM */t/ menjadi Mk /t/ dan /d/ terjadi pada posisi awal dan tengah kata. Ketiga, split OFM */k/ menjadi /k/ dan /g/ terjadi pada posisi awal dan tengah kata. Keempat, split OF */y/ menjadi Ft /y/ dan /j/ terjadi pada posisi awal dan tengah kata. Kelima, split OF */t/ menjadi Or /t/ dan /đ/ pada posisi awal dan tengah kata. Kristalisasi dari semua kaidah split tersebut bermuara pada penemuan sebuah sistem perubahan fonem konsonan hambat letup yang khas dan hanya terjadi pada kelompok bahasa OFM. Temuan sistem perubahan fonem konsonan tersebut sekaligus merepresentasikan proses terjadinya evolusi internal fonem konsonan hambat letup bersuara pada kelompok bahasa OFM seperti tampak pada bagan berikut.

(8)

9.6 Bahasa Or telah kehilangan identitas esensialnya

Penelitian ini juga menemukan bahwa bahasa Or telah kehilangan identitasnya yang hakiki. Pertama, bahasa Or pada mulanya struktur katanya umumnya terdiri atas tiga suku kata, dewasa ini telah mengalami perubahan menjadi lebih pendek akibat kebiasaan pemakainya melesapkan segmen tertentu pada posisi awal kata (aphaeresis), menghilangkan vokal pada posisi tengah kata (syncope) dan menghilangkan segmen tertentu pada posisi akhir (apocope). Kedua, bahasa Or pada masa lalu tidak memiliki kluster, bahasa Or sekarang kaya akan hal itu. Ketiga, semula bahasa Or memiliki pola persukuan yang sederhana, pada bahasa Or modern sekarang ini paling kompleks dibandingkan dengan bahasa-bahasa sekerabat lainnya seperti bahasa Ft dan bahasa Mk . Keempat, bahasa Or modern kaya dengan kosakata pinjaman dari bahasa In, Bel, Por, Ks dan Am yang banyak di antaranya diadopsi tanpa melalui proses adaptasi. Kelima, yang lebih penting lagi bahasa Or telah mengalami pergeseran dari bahasa vokalis menuju nonvokalis.

Pergeseran identitas esensial pada bahasa Or modern disebabkan karena beberapa faktor, di antaranya adalah sebagai berikut.

Bahasa Mk Ft Or Hambat TB *p *t *k *t B b d g j đ Semivokal B *y T/ B Bilabial Apiko-alveolar Dorso-velar Medio-palatal Apiko-alveolar

(9)

a) Bahasa Or tergolong sebagai substratum dari bahasa-bahasa di sekitarnya. Bahasa Or lebih banyak menyerap unsur-unsur bahasa lain dengan cara manasuka. Meskipun, unsur-unsur kebahasaan yang diadopsi berusaha diadaptasikan, tampaknya pemakai bahasa Or tidak kuasa membentengi dirinya dari deras arus masuknya unsur asing tersebut. Akibat dari itu, berpengaruh kuat terhadap perubahan struktur fonologis bahasa Or.

b) Hegemoni bahasa Indonesia terhadap bahasa Or sangat kuat terutama pada ranah agama. Dengan dalih nasionalisasi dan anggapan sulitnya bahasa Or, para pemangku pemerintahan, penyuluh lapangan, dan pemuka masyarakat menomorsatukan pemakaian bahasa Indonesia dalam melaksanakan tugasnya di desa Oirata. Bahasa Indonesia juga masuk melalui ranah agama dengan sangat kuat. Intensitas aktivitas keagamaan di desa itu sangat tinggi. Semua bentuk aktivitas pemerintahan dipadukan dengan kegiatan keagamaan dengan peran pemuka agama. Konsekuensi dari kondisi itu terjadilah proses difusi unsur kebahasaan dalam ranah agama ke seluruh warga masyarakat Oirata. c) Peran pemakai bahasa Or rendah di masyarakat lingkungannya. Dalam

kegiatan sosial kemasyarakatan pada tingkat kecamatan dan kabupaten, pemakai bahasa Oirata kurang berperan dan sangat jarang menduduki jabatan penting. Dengan demikian, peluang penyebarluasan bahasa Or sangat muskil. Artinya, jika ada peluang terjadinya proses peminjaman unsur kebahasaan hanya akan terjadi satu arah.

d) Sistem pembinaan bahasa Or secara internal tidak berjalan. Para pemuka adat masyarakat pemakai bahasa Or telah berupaya mengader generasi mudanya untuk tetap melestarikan bahasa adat. Akan tetapi, upaya itu tidak berjalan

(10)

sebagimana yang diharapkan, karena generasi penerusnya kurang berminat akan hal itu. Begitu pula, pembinaan pihak eksternal terhadap eksistensi bahasa Or sama sekali tidak ada. Konsekuensi logisnya, perkembangan bahasa Or selama ini menjadi tanpa arah yang jelas. Kondisi ini jelas memperburuk konsistensi bahasa Or.

e) Kultur masyarakat pemakai bahasa Or tertutup dengan eksistensi bahasanya. Masyarakat pemakai bahasa Or tidak menghendaki bahasanya dipahami oleh masyarakat lainnya. Alasannya, bahasa Or adalah bahasa adat yang hanya boleh digunakan oleh masyarakat adat Oirata. Jika berkomunikasi dengan masyarakat luar, mereka berusaha menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah lawan bicaranya jika mereka menguasainya. Kondisi ini juga berimplikasi pada proses penyerapan satu arah.

f) Selama ini di kalangan masyarakat sekitarnya berkembang citra bahwa bahasa Or adalah bahasa mati. Masyarakat lain umumnya menganggap bahasa Or adalah abahasa yang sulit. Karena itu, tidak perlu mempelajarinya. Citra negatif ini pula memberi kontribusi besar bagi adanya peluang terjadinya proses peminjaman satu arah.

Semua kondisi di atas yang pasti memberi andil besar bagi ketidakbertahanan bahasa Or dalam arti yang lebih luas. Bahasa Or menjadi berkembang tanpa arah yang pasti. Bahasa Or menjadi kompleks dan sarat dengan unsur-unsur asing di dalamnya. Akhirnya, berujung pada hilangnya identitas esensial bahasa tersebut.

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Pemikiran yang dimaksud adalah tujuan dan kurikulum pendidikan Islam.Adapun mengenai pemikiran Azyumardi Azra terhadap pendidikan Islam yakni perhatiannya terhadap

Tanpa mengurangi arti Paragraf 1 Pasal ini, ketika Pihak memiliki bukti yang cukup bahwa suatu kapal yang akan masuk ke pelabuhan terlibat dalam IUU Fishing

Media yang paling efektif dalam memperpanjang daya simpan benih jengkol adalah media arang sekam yang dapat mempertahankan viabilitas benih jengkol sampai dengan 6

Pembelajaran menggunakan LKPD berilustrasi komik dengan pendekatan RME akan membantu peserta didik untuk lebih termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga lebih mudah

Gambar 3A Preparasi mahkota penyangga pada gigi ka- ninus rahang atas untuk GTSL yang telah ada; B tampilan hasil scan sebelum preparasi mahkota (abu-abu) yang diga- bungkan

Bahwa untuk kelanjutan Program Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan oleh STIBA Makassar, perlu ditetapkan para Calon Mahasiswa Baru yang dinyatakan lulus

Setelah proses autentikasi selesai dan telah terjamin bahwa komunikasi diantara keduanya cocok dan aman, proses selanjutnya adalah DVD player (dengan menggunakan player key) akan

Dari hasil riset pasar yang Anda lakukan dan setelah Anda menemukan niche market, lalu membeli domain dan hosting serta memutuskan untuk membuat blog pada domain tersebut