• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KARYAWAN PADA PT. MERANGIN KARYA SEJATI MUARA BUNGO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KARYAWAN PADA PT. MERANGIN KARYA SEJATI MUARA BUNGO"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA (K3) KARYAWAN

PADA PT. MERANGIN KARYA SEJATI MUARA BUNGO

Darmawanto

STIA Setih Setio Muara Bungo

Jalan Setih Setio Muara Bungo No. 05, Pasir Putih, Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi

ABSTRAK

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memegang peranan yang sangat penting dan utama dalam kegiatan operasional perusahaan. Apalagi persaingan industrialiasi yang semakin ketat menimbulkan intensitas kerja yang menyebabkan pula meningkatnya resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Masalah yang sering muncul adalah kurangnya perhatian perusahaan terhadap aspek manusiawi yaitu pemberian jaminan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan. Penelitian ini mengggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan alasan penelitian kualitatif memandang lebih luas. Penelitian kualitatif berusaha untuk mencari dan memperoleh informasi mendalam dan luas dari banyaknya informasi, yaitu bermaksud untuk mengetahui serta mendapatkan gambaran tentang permasalahan yang terjadi pada tempat dan waktu tertentu, kemudian berusaha menganalisa dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi untuk pemecahan masalah mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari populasi.Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo telah melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawannya hal ini dapat dilihat dari keikutsertaan karyawannya pada BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu juga diterbitkan surat keputusan direktur tentang pedoman penyelenggaraan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja. Perusahaan memberikan alat pelindung diri dan memasang spanduk dilingkungan kerja sebagai himbauan agar pekerja selalu mengutamakab keselamatan dan kesehatan kerja. Hambatan dalam pelakasanaan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo antara lain masih terbatasnya peralatan keselamatan dan kesehatan kerja, belum adanya pelatihan dan keterampilan keselamatan dan kesehatan kerja serta keletihan fisik, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan, bertindak lalai ceroboh, factor usia dan pengalaman kerja, kondisi lingkungan kerja yang tidak aman. Upaya yang dilakukan guna mengatasi hambatan tersebut adalah melakukan ketentuan pengadaan peralatan kerja, melakukan kerjasama dengan pihak luar untuk melakukan pelatihan dan keterampilan keselamatan dan kesehatan kerja, melakukan pengawasan dan tanggungjawab disetiap unit kerja, melakukan identifikasi bahaya lingkungan kerja dan melakukan tindakan pertolongan pertama.

Kata Kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja PENDAHULUAN

Memasuki perkembangan era industrialisasi yang bersifat global serta perkembangan teknologi yang semakin canggih, maka akan menimbulkan

persaingan industri untuk

memperebutkan pasar baik pasar tingkat regional, nasional maupun internasional yang dilakukan oleh setiap perusahaan secara kompetitif. Dalam menghadapi

permasalahan tersebut, maka perusahaan harus lebih mengoptimalkan segala potensi yang di milikinya sehingga tetap bisa eksis dalam dunia industrialisasi itu sendiri.

Industrialisasi tidak terlepas dari sumber daya manusia, dimana setiap manusia diharapkan dapat menjadi sumber daya siap pakai dan mampu

(2)

perusahaan dalam bidang yang dibutuhkan. Dengan demikian, perusahaan mesti menggali potensi sumber daya manusia yang dimilikinya guna menunjang aktivitas produksi yang menjadi kegiatan utama perusahaan.

Pada dasarnya kekuatan yang ada dalam suatu perusahaan terletak pada orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut. Apabila tenaga kerja di perlakukan secara tepat dan sesuai dengan harkat dan martabatnya serta tercukupi segala kebutuhan baik yang bersifat fisik maupun psikis, perusahaan akan mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang di inginkan. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor sumber daya manusia memegang peranan yang paling penting dan utama dalam proses produksi, karena faktor-faktor produksi non manusia tidak akan berjalan tanpa dukungan dan keberadaan sumber daya manusia.

Pada zaman dahulu, sekarang, sampai di masa yang akan datang,

manusia hidup di dunia ini

membutuhkan beberapa faktor penunjang untuk dapat bertahan hidup. Salah satu faktor agar manusia dapat bertahan hidup adalah membutuhkan pekerjaan untuk mencukupi segala kebutuhan yang dikehendaki. Manusia bekerja tergantung kepada kondisi yang bersifat fisiologis dan psikologis, dan tidak mengorientasikannya hanya untuk mendapatkan uang semata.

Gaji yang tinggi tidak selalu menjadi faktor utama untuk meningkatkan produktivitas kerja,

karena mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan memperoleh perhatian pada segi kemanusiaanya. Kebutuhan tersebut seperti kenyamanan kerja, persepsi

masyarakat dan faktor bersifat kemanusiaan lainnya.

Masalah yang sering timbul adalah kurangnya perhatian perusahaan terhadap aspek manusiawi. Bila ingin memahami perilaku karyawan, seorang manajer atau pimpinan hendaknya dapat menciptakan kondisi-kondisi yang

mendukung kenyamanan dan

kegairahan kerja, sehingga dengan kondisi tersebut karyawan dapat meningkatkan mutu kerja sekaligus dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perusahaan.

Dalam melaksanakan kinerjanya, tidak jarang tenaga kerja di hadapkan dengan berbagai permasalahan baik permasalahan di dalam perusahaan ataupun permasalahan di luar pekerjaan seperti permasalahan keluarga. Tekanan persoalan dapat berupa objek emosional dan fisik, target kerja yang tinggi, iklim organisasi yang kaku, terbatasnya biaya pemeliharaan kesehatan, dan akhirnya berlanjut pada terjadinya penurunan produktivitas kerja karyawan.

Pihak manajemen perusahaan seharusnya mampu mengakomodasi persoalan karyawan sejauh yang terkait dengan kepentingan perusahaan yang mana salah satu isu penting yang meski di pertimbangkan secara serius adalah mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi karyawannya. Kedua unsur tersebut yaitu keselamatan dan kesehatan kerja bagi para karyawan memegang peranan penting dalam peningkatan mutu kerja karyawan. Semakin cukup kuantitas dan kualitas fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja, maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawannya. Dengan demikian perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pencapaian tujuannya.

Berdasarkan diskusi bertajuk “Waspada Bahaya di Tempat Kerja, Saatnya Sadar K3” pada Rabu, 31 Januari 2018, di Hotel Morrissey, Jakarta, dari pukul 14.00-17.00 WIB. Acara ini merupakan bagian dari upaya

(3)

meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya K3 di tempat kerja sebagai respons terhadap terjadinya berbagai insiden K3 nasional. Menurut perkiraan ILO terbaru, lebih dari 1,8 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahunnya di kawasan Asia dan Pasifik. Bahkan dua pertiga kematian akibat kerja di dunia terjadi di Asia. Di tingkat global, lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Selain itu, terdapat sekitar 374 juta cedera dan penyakit akibat kerja yang tidak fatal setiap tahunnya, yang banyak mengakibatkan absensi kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal penting yang mesti dilakukan oleh perusahaan, karena merupakan hak asasi karyawan dan salah salah satu syarat untuk memenangkan persaingan bebas di era globalisasi dan pasar bebas. Selain itu dampak kecelakaan dan tingginya angka absensi karyawan akibat sakit tidak hanya merugikan karyawan, tetapi juga perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagaimana karyawan dapat optimal menjalankan kinerjanya apabila tidak mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja sedangkan resiko pekerjaan dapat terjadi kapan saja dan dalam situasi seperti apa saja.

Beberapa kasus terjadinya kecelakaan di tempat kerja sudah tidak menjadi rahasia umum lagi. Hal demikian bisa muncul karena adanya keterbatasan fasilitas keamanan kerja, juga karena kelemahan pemahaman faktor-faktor prinsip yang perlu

diterapkan perusahaan. Filosofi keselamatan dan kesehatan kerja dalam memandang setiap karyawan memiliki hak atas perlindungan kehidupan kerja yang nyaman belum sepenuhnya dipahami baik oleh pihak manajemen maupun karyawan. Oleh karena itu

perlu ditanamkan jiwa bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan bentuk kebutuhan karyawan.

Di Indonesia, keselamatan dan kesehatan kerja diatur melalui Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan, mengenai

keselamatan dan kesehatan kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 6 Tahun 1996 tentang Sistem

Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja selain itu diatur juga dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dengan adanya kekuatan hukum tersebut di harapkankan aka nada perubahan pengawasan yang selama ini bersifat refresif menjadi bersifat preventif. Dengan demikian jelaslah bahwa masalah keselamatan dan kesehatan kerja merupakan isu yang penting dimana bukan hanya menjadi masalah antara perusahaan dengan karyawan saja, tetapi juga pemerintah.

Permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja rentan terjadi pada perusahaan baik perusahaan level internasional, perusahaan nasional maupun perusahaan lokal. Sisi

humanisme karyawan kerap dikesampingkan demi mengejar target produksi. Kondisi tersebut tentu saja mesti menjadi acuan untuk perbaikan sistem mananjemen keselamatan dan kesehatan kerja oleh perusahaan.

T. Merangin Karya Sejati Muara Bungo merupakan salah satu perusahaan skala daerah di area Provinsi Jambi yang bergerak dalam bidang kontraktor. Kegiatan usaha utama dari perusahaan ini adalah pembangunan dan rehabilitasi jalan raya dan jembatan. Sistem produksi yang dijalankan adalah memberikan pelayanan jasa di mana menjalankan kegiatan proyek berdasarkan kontrak

(4)

kerja baik terhadap pihak swasta terutama pihak pemerintah daerah.

Sebagai perusahaan yang tergolong cukup produktif dan bergerak dalam bidang pembangunan dan rehabilitasi sarana transportasi, PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo tentu sangat memerlukan tenaga kerja yang produktif untuk menunjang kinerja perusahaan dalam menyelesaikan proyek-proyek sesuai dengan limit waktu yang diberikan pengguna jasa mereka. Bekerja dalam mengejar target waktu merupakan tantangan bagi perusahaan dimana perusahaan mesti mengkondisikan tenaga kerja untuk selalu berada dalam kondisi siap kerja.

Ketika menghadapi kondisi seperti di atas, terkadang perusahaan mengesampingkan keselamatan dan kesehatan kerja para karyawannya. Dalam kaitannya dengan paparan di atas, peneliti menemukan beberapa fenomena mengenai pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu:

1. Masih kurangnya kesadaran karyawan menggunakan alat pelindung diri, padahal bidang usaha yang mereka kelola amat rentan akan resiko kerja;

2. Masih kurangnya alat kelengkapan keselamatan dan kesehatan kerja pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo;

3. Masih minimnya pendidikan dan pelatihan terhadap keselematan dan kesehatan kerja PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo;

PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo, bergerak dibidang kontraktor pembangunan jalan raya dan jembatan, berupaya memberikan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bagi para pekerjanya. Faktor keselamatan dan kesehatan kerja

menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya kinerja perusahaan.

Terkait keselamatan dan kesehatan kerja tersebut, ada beberapa faktor penyabab bahaya yang paling sering ditemukan dalam proses kerja di lapangan pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo, antara lain :

1. Bahaya jenis fisika, misalnya lingkungan pengolahan aspal curah panas yang bertempatur panas, bising, dan tekanan udara yang tidak normal;

2. Bahaya jenis kimia, misalnya terhirup atau terjadinya kontak langsung antara kulit dengan cairan aspal curah panas, gas, uap dan asap yang mengandung racun; 3. Bahaya kurangnya pencahayaan dan penerangan, misalnya masih ditemukannya karyawan bekerja sampai malam karena mengejar limit waktu yang telah diberikan pengguna jasa;

4. Bahaya yang ditimbulkan oleh peralatan operasi dan bahaya lalu lintas yang ramai pada saat rehabilitasi jalan raya atau jembatan, misalnya ketrabrak, keserempet daln lain-lain. Berdasarkan seluruh uraian tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan judul : Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan pada PT.

Merangin Karya Sejati Muara

Bungo.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan alasan penelitian kualitatif memandang lebih luas. Penelitian kualitatif berusaha untuk mencari dan memperoleh informasi mendalam dan luas dari

(5)

banyaknya informasi, yaitu bermaksud untuk mengetahui serta mendapatkan gambaran tentang permasalahan yang terjadi pada tempat dan waktu tertentu, kemudian berusaha menganalisa dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi untuk pemecahan masalah mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari populasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Pelaksanaan Program

Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) karyawan pada PT.

Merangin Karya Sejati Muara

Bungo

Pada dasanya program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo sudah berjalan, hal ini dapat d lihat dari pemberian Progam Asuransi BPJS Kesehatan dan BPJS

Ketenagakerjaan. Pada dasarnya progam ini merupakan hak dasar yang diterima oleh tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang dan memang sudah sewajarnya tenaga kerja mendapatkan program tersebut.Selain itu juga diterbitkannya Surat Keputusan Direktur Utama Tentang Pedoman Penyelenggaraan Peralatan dan Kesehatan Kerja (K3.

Keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung kenyamanan, kegairahan kerja, dan bebas dari penyakit kerja, sehingga dengan kondisi tersebut karyawan dapat meningkatkan mutu kerja sekaligus dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perusahaan. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan meliputi menciptakan kondisi kenyaman kerja dan bebas dari penyakit kerja, terkait hal ini PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo memberikan Alat Pelindung Diri yang mengacu pada Standar dari pemerintah.

Selain itu juga mengingatkan kepada karyawan agar bekerja dengan mengutamakan keselamatan kerja, perusahaan menyediakan spanduk sebagai himbauan agar pekerja lapangan selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja.

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo sudah diterapkan. Hal ini dapat dilihat dari sudah terdaftarnya karyawan perusahaan dalam Program BPJS Kesehatan dan BPJS Ketanagkerjaan, selain itu juga diperkuat dengan

diterbitkannya Surat Keputusan Direktur Utama mengenai Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau lebih dikenal dengan nama Program K3. 1.2 Hambatan dalam Pelaksanaan

Program Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3) karyawan pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo

Hambatan dalam pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan, berasal dari perusahaan dan karyawan itu sendiri dan lingkungan yang tidak aman.

1.2.1 Hambatan dari Perusahaan

Terbatasnya Sarana Alat

Kelengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Alat Kelengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Alat pelindung diri) memang masih terbatas. Hal ini merupakan hambatan dalam pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan terbatasnya alat keselamatan dan kesehatan kerja akan mengakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. hal ini disebabkan oleh terbatasnya pemasok alat pelindung diri yang tidak tidak mudah didapatkan di pasaran, kita harus memesan terlebih dahulu pada pemasok dan ini membutuhkan waktu yang lama. Selain itu Belum diberlakukannya

(6)

Pelatihan dan Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Karyawan. Pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan lapangan harus di lakukan perusahaan. Fokus pelatihan pada umumnya pada segi-segi bahaya atau risiko dari pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja, dan perilaku kerja yang aman dan berbahaya

1.2.2 Hambatan dari Karyawan

Hambatan dalam pelaksanaan

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawannya, hambatan tersebut berasal dari karyawan itu sendiri. Penyebab terbesar kecelakaan dan penyakit kerja dari kejadian kecelakaan kerja adalah faktor manusia dalam hal ini karyawan, seperti cenderung malas menggunakan alat pelindung diri yang telah diberikan perusahaan dengan alasan kebiasaan dan membatasi ruang geraka mereka”. bahwa hambatan pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan adalah sebagai berikut :

1) Keletihan fisik, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan sejenisnya; 2) Bertindak lalai dan ceroboh seperti

tidak mentaati prosedur keamanan yang telah ditetapkan, bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda, bekerja dengan kecepatan yang berbahaya, mengganggu orang lain yang sedang bekerja, menggunakan alat yang tidak aman, kebiasaan karyawan yang tidak patuh

terhadap penggunaan alat pelindung diri;

3) Faktor Usia kerja juga mempengaruhi pekerja dalam melakukan pekerjaan mereka, dimana pekerja yang masih muda

usianya belum memiliki

pengalaman yang memadai dalam bekerja. Hal dapat menyebabkan

kecelakaan kerja yang lebih tinggi dibanding dengan pekerja dewasa. 4) Faktor Pengalaman. Pekerja yang

sudah berpengalaman dalam pekerjaannya akan lebih baik dalam bekerja. Hal ini disebabkan pekerja yang berpengalaman telah memahami tugas-tugas yang akan dikerjakan dan resiko yang ada dalam di tangani.

5) Kurangnya kesadaran merawat peralatan keselamatan dan kesehatan kerja. Misalnya Alat sering hilang dan kelalain lainnya. 1.2.3 Faktor Penghambat Lainnya

yaitu Kondisi Lingkungan

Kerja yang tidak aman

Kondisi lingkungan kerja juga menjadi hambatan dalam melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi para karyawan. Hal ini dapat diketahui dari keterangan pekerja mengenai resiko-resiko apa saja yang mungkin terjadi karena mereka terjun langsung ke dalam pekerjaan tersebut. Kondisi lingkungan kerja yang tidak aman dan perlu diwaspadai, salah satunya adalah pada saat mengolah aspal curah yang bertemperatur panas, mencampur batu split dan teer yang mengandung uap dan asap beracun. Selain itu pada saat bekerja malam, angin malam menyebabkan kami masuk angin, pusing dll.

1.3 Upaya yang dilakukan dalam

pelaksanaan Program

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Karyawan Pada PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo

Upaya yang dilakukan oleh PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo dan mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja adalah sebagai berikut: Adanya dukungan penuh dari pihak manajemen dalam pelaksanaan

(7)

program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dengan bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan untuk perlindungan keselamatan dan kesehatan.

Pihak perusahaan telah menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Yaitu dengan menerbitkan Surat Keputusan tentang Pedoman Penyelanggaraan Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Surat Keputusan ini

mengatur mengenai pengadaan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja, setiap unit kerja mengajukan permintaan dan peralatan K3, Kewajiban pekerja menggunakan peralatan selama berada di lingkungan kerja, termasuk sanksi berupa pemotongan uang makan pada hari tidak menggunakan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Selain itu adanya pengawasan dan tanggung jawab melaksanakan

dan mengembangkan manajemen

K3LH di setiap unit kerja.

Pengawasan dilakukan, setiap unit kerja

sesuai dengan tupoksi harus

melaksanakan pengawasan dan menerapkan manajemen K3LH di tempat kerja, selain itu perusahaan memberikan poster, spanduk himbauan utamanakan keselamatan kerja yang kita pasang di lokasi kerja

Adanya sistem penanganan

pertolongan pertama pada

kecelakaan. Tindakan pertolongan

pertama menjadi perhatian perusahaan. Dengan adanya tindakan pertolongan pertama ini memungkinkan untuk memperkecil akibat kecelakaan dan kesehatan kerja dapat diminimalisir. Dengan memberikan pertolongan pertama dengan menyediakan kotak Tindakan Pertolongan Pertama, atau peralatan untuk mencegah seperti

semprot pemadam api hingga penyediaan mobil ambulance.

Pemberian Alat Pelindung Diri yang sesuai Standar Pemerintah Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. Semakin cukup kuantitas dan kualitas fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja, maka semakin nyaman dalam bekerja sehingga tinggi pula mutu kerja karyawan. Perusahaan memberikan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja dengan masa manfaat minimal 1 tahun. Peralatan ini sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan kerja, walaupun masih kurang tetapi alat pelindung diri kita sudah sesuai dengan standar dari pemerintah, untuk kedepannya kita akan bekerja sama dengan rekanan pemerintah dalam hal pengadaan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Selain itu penilaian bahaya

lingkungan kerja, Perusahaan harus memperkirakan kemungkinan terburuk yang terjadi. Dengan mengindentifikasi bahaya. Kita bertanya kepada pekerja mengenai resiko kerja karena mereka lebih mengetahui mengenai resiko-resiko sapa saja yang mungkin terjadi. Dengan idenfitikasi bahaya ini kita akan kita dapat mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

KESIMPULAN

PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo telah mengikutsertakan karyawannya dalam program jaminan keselamatan dan kesehatan kerja dengan bekerja sama dengan PT. BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Adapun yang menjadi hambatan Program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan pada PT. Merangin

(8)

Karya Sejati Muara Bungo berasal dari perusahaan dan karyawan itu sendiri antara lain : Terbatasnya Sarana Alat

Kelengkapan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja, Belum

diberlakukannya Pelatihan dan Pendidikan Keselamatan dan Kesehatan Karyawan, Keletihan fisik, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan sejenisnya, bertindak lalai dan ceroboh seperti tidak mentaati prosedur keamanan yang telah ditetapkan, bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda, bekerja dengan kecepatan yang berbahaya, mengganggu orang lain yang sedang bekerja, menggunakan alat yang tidak aman, kebiasaan karyawan yang tidak patuh terhadap penggunaan alat pelindung diri, Faktor Usia kerja,

Faktor Pengalaman, kurangnya kesadaran merawat peralatan keselamatan dan kesehatan kerja. Misalnya Alat sering hilang dan kelalain lainnya. Faktor penghambat lainnya adalah Kondisi Lingkungan Kerja yang tidak aman. Upaya yang dilakukan oleh PT. Merangin Karya Sejati Muara Bungo dalam mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja

adalah dengan memberikan

perlindungan kepada karyawan secara keseluruhan melalui jaminan program keselamatan dan kesehatan kerja antara lain adalah adanya upaya dari perusahaan untuk mengikutsertakan dalam program Asuransi Jamsostek, menerbitkan Surat Keputusan tentang Pedoman Penyelanggaraan Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Adanya Pengawasan dan tanggung

jawab melaksanakan dan

mengembangkan manajemen K3LH di setiap unit kerja, Adanya sistem penanganan pertolongan pertama pada kecelakaan, Adanya pemberian Alat Pelindung Diri yang sesuai Standar Pemerintah, Adanya Penilaian Bahaya Lingkungan Kerja. DAFTAR PUSTAKA Abdusalam, Hukum Ketenagakerjaan,Restu Agung, Jakarta, 2008

Bennet Silalahi, Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Bina Rupa Aksara, Jakarta,1995

Dewi Hanggraini, Pengelolaan Resiko Usaha, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2010

Lexy J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif,PT. Remaja Rosdakarya, , Bandung, 2007 Mutiara S. Panggabean, Manajemen

Sumber Daya Manusia,Ghalia Indonesia, , Bogor, 2002

Rijal Abdullah, Keselamatan dan Kesehatan Kerja,UNP Press, Padang, 2000

Soedarjadi, Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia,Panduan Bagi Pengusaha, Pekerja dan Calon Pekerja Cetakan I , Pustaka Yustisia, Yogyakarta,2008

Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia,Rineka Cipta, Jakarta, 2009

Sugiyono,Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R &

D,Alfabeta, Bandung,2011

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi,Alfabeta, Bandung, 2010

Tulus Agus, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta, 1989

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Bab IX Pasal 13 tentang Kewajiban Bila Memasuki

(9)

Peratutan Pemerintah Republik Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 05 Tahun 1996 tentang Sistem

tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kesehatan Kerja

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Jadi, model analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan unutk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung

Untuk mengembangkan perkembangan teknologi yang semakin pesat pada saat ini, maka pada penelitian ini akan dipelajari Efek Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis dan

Dalam penyusunan laporan keuangan tahun 2016, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Barat mengacu kepada ketentuan umum tentang penyajian

Jumlah instansi lingkungan hidup kabupaten/kota yang dievaluasi dalam pembinaan dan perizinan di bidang lingkungan hidup serta penerapan sanksi hukum lingkungan; Jumlah pemilik

Demikian pengumuman dari kami harap menjadikan maklum.

This research is about the case study of the teaching learning model based on the cognitive moral on Indonesia Language subject in 4th grade in Pasirtamiang 2 Elementary school in a

[r]