• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pondok Bulu merupakan hutan pendidikan dan latihan (hutan diklat) yang dikelola oleh Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Pematangsiantar. Sebagai salah satu unit pelaksana teknis kehutanan di bidang kediklatan, BDLHK Pematangsiantar memiliki fungsi untuk mengelola hutan diklat sebagai laboratorium alam dan prasarana pendukung serta penunjang kegiatan kediklatan dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelaksanaan diklat.

Kawasan hutan diklat Pondok Bulu merupakan sumber daya alam hayati dan sumber penghidupan bagi kehidupan masyarakat yang tinggal berbatasan langsung dengan kawasan. Oleh karena itu, keberadaan kawasan hutan ini harus dikelola secara lestari dalam rangka mendukung penyelenggaraan diklat dan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan maupun masyarakat secara umum. Menurut Fujimori (2001) pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management, SFM) adalah suatu upaya dalam rangka memanfaatkan fungsi hutan untuk memenuhi berbagai kebutuhan saat ini (present generation) melalui pemeliharaan daya dukung dan kesehatan hutan tanpa mengabaikan kemampuan dari hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan generasi yang akan datang (future generation) (Purwanto dan Sisfanto, 2014).

Dalam perkembangannya kawasan ini juga dikelola dan dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam. Kondisi hutan yang alami dan potensi alam pendukungnya merupakan daya tarik tersendiri yang banyak diminati oleh pengunjung untuk datang dan menikmati alamnya. Tingginya minat pengunjung terhadap KHDTK hutan diklat pondok bulu (HDPB) dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahunnya untuk melakukan berbagai kegiatan yang terkait alam seperti berkemah, tracking, piknik, kegiatan kepramukaan, olah raga, jalan santai dan lain-lain. Berdasarkan Rencana Pengelolaan HDPB tahun 2015-2019, BDLHK Pematangsiantar telah merencanakan kegiatan pengembangan ekowisata di kawasan ini, dimana rencana kegiatan ini tertuang dalam salah satu kegiatan

(2)

pokok strategis pengelolaan untuk meningkatkan dan mengembangkan program kegiatan dibidang perlindungan hutan dan konservasi alam.

Kegiatan wisata dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi lingkungan wisata, baik secara ekologis, fisik, ekonomi, sosial dan budaya. Dampak negatif dapat terjadi karena pengelolaan yang tidak mempertimbangkan daya dukungnya. Salah satunya adalah dengan tidak adanya pengaturan terhadap jumlah pengunjung sehingga dapat menimbulkan kegiatan wisata yang tidak terkendali dan menyebabkan terjadinya kerusakan hutan bahkan gangguan terhadap lingkungan wisata. Rusaknya kondisi lingkungan wisata yang dapat terjadi juga dapat menurunkan tingkat kenyamanan dan kepuasan pengunjung dalam berwisata, sehingga akan menyebabkan menurunnya jumlah pengunjung wisata.

Untuk mencegah timbulnya dampak negatif dari kegiatan wisata yang ada, maka pengelolaan wisata di KHDTK HDPB harus dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukungnya, sehingga kelestarian lingkungan wisata dapat tetap terjaga. Daya dukung haruslah menjadi perhatian utama dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan, karena daya dukung merupakan konsep pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang lestari berdasarkan ukuran kemampuannya. Menurut Setyawan dkk. (2014), konsep daya dukung dikembangkan untuk meminimalkan kerusakan atau degradasi sumberdaya alam dan lingkungan sehingga kelestarian, keberadaan, dan fungsinya dapat tetap terwujud dan pada saat yang bersamaan, masyarakat atau pengguna sumberdaya tetap dalam kondisi sejahtera dan tidak dirugikan.

Selain itu adanya pengembangan ekowisata yang direncanakan oleh pengelola di kawasan ini menyebabkan pengetahuan akan daya dukung lingkungan wisata penting untuk diketahui. Penentuan daya dukung atau kemampuan kawasan dalam menampung jumlah wisatawan dalam suatu waktu juga menjadi hal yang sangat penting dalam ekowisata karena menyangkut pada keberlanjutan kelestarian lingkungan kawasan. Fandeli dan Muhammad (2009) menyatakan bahwa masalah daya dukung dalam ekowisata adalah sangat penting karena berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan. Rosalino dan Grilo (2011) menyatakan bahwa meski

(3)

bermanfaat bagi manusia, di sisi lain aktivitas ekowisata dapat berdampak secara ekologi pada ekosistem hutan (Purwanto dan Sisfanto, 2014). Untuk itu sebelum perkembangan ekowisata berdampak negatif terhadap alam dan budaya setempat, maka sejak awal mulai proses perencanaan, penerapan, dan pengelolaannya harus mempertimbangkan daya dukungnya. Sehingga apabila dalam pengembangan suatu objek wisata yang tidak melalui perencanaan dengan baik, maka jumlah pengunjung yang datang ke areal objek wisata dapat melampaui daya dukung lingkungannya.

Area wisata tertentu mempunyai kemampuan tertentu dalam menampung wisatawan (Douglass, 1978 dalam Hakim, 2004). Menurut Soemarwoto (2004) daya dukung lingkungan objek wisata alam merupakan kemampuan suatu daerah untuk menerima wisatawan yang dinyatakan dalam jumlah wisatawan per satuan luas per satuan waktu. Sedangkan pengertian daya dukung wisata merupakan batas dimana kehadiran wisatawan dan fasilitas pendukungnya tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan fisik atau kehidupan masyarakat (Purnomo, 2013). Namun World Tourism Organisation (WTO) mendefinisikan daya dukung wisata sebagai jumlah maksimum orang (pengunjung) yang boleh mengunjungi suatu kawasan objek wisata pada saat bersamaan tanpa menyebabkan kerusakan fisik, ekonomi, sosial budaya dan penurunan kualitas yang dapat merugikan kepuasan wisatawan (Livina, 2009).

Daya dukung menjadi hal yang sangat penting dalam kepariwisataan, karena kepariwisataan sangat tergantung dari kualitas atraksi wisata. Atraksi wisata alam berupa macam, jenis, keadaan dan proses alam dari suatu ekosistem merupakan objek yang sangat rentan, sehingga kondisi objek dan daya tarik wisata alam ini menentukan kualitas wisata. Kualitas wisata merupakan tingkat yang normal dari suatu areal wisata agar wisatawan dapat merasakan kenyamanan dari aspek psikologis dan kesegaran dari aspek fisik jasmani, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas suatu wisata alam mempengaruhi kepuasan pengunjung (Douglas, 1975 dalam Fandeli dan Muhammad, 2009). Selain itu, jumlah wisatawan juga dapat menentukan tingkat kualitas kepuasan dan kenyamanan pengunjung dalam menikmati aktivitas wisata di area wisata yang dikunjungi, karena daya dukung

(4)

lingkungan wisata berkaitan erat dengan jumlah wisatawan yang datang mengunjungi suatu objek wisata sehingga apabila daya dukung lingkungan obyek wisata terlampaui maka dapat mengurangi tingkat kenyamanan dan kepuasan wisatawan dalam berwisata karena banyaknya jumlah wisatawan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan bahwa kegiatan wisata yang ada di KHDTK HDPB saat ini perlu untuk diketahui nilai daya dukungnya sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan wisata dan dapat mendukung pengelolaan wisata yang lestari. Daya dukung dapat dijadikan sebagai kontrol bagi pengelola, salah satunya adalah dalam hal mengatur batas jumlah pengunjung yang boleh berwisata sehingga kehadiran pengunjung tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan fisik dan sekaligus dapat mencegah dampak negatif aktivitas wisatawan terhadap kehidupan sosial masyarakat di sekitar kawasan.

Daya dukung sosial masyarakat setempat menjadi salah satu komponen penting yang juga harus diketahui dalam merencanakan pengelolaan wisata maupun pengembangan ekowisata, sehingga kelestarian dan tujuan pengelolaan wisata dapat terlaksana. Selain itu, dengan memelihara daya dukung dalam pengelolaan wisata juga dapat meningkatkan kualitas kepuasan dan kenyamanan pengunjung dalam menikmati aktivitas wisata dengan demikian keberlanjutan wisata dapat tetap terjaga.

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah:

1) Berapakah daya dukung ekologis wisata di KHDTK HDPB?

2) Berapakah nilai daya dukung fisik lingkungan wisata di KHDTK HDPB? 3) Bagaimanakah daya dukung sosial-psikologis masyarakat setempat dan

pengunjung wisata di KHDTK HDPB?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

(5)

2) Mengetahui daya dukung fisik lingkungan (PCC/Physical Carrying Capacity, RCC/Real Carrying Capacity dan ECC/Efective Carrying Capacity/ECC) wisata di KHDTK HDPB

3) Mengetahui daya dukung sosial-psikologis masyarakat setempat dan pengunjung wisata di KHDTK HDPB

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dalam hal memahami peranan daya dukung terhadap pengelolaan lingkungan wisata yang lestari, dan juga dapat bermanfaat bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pengelolaan wisata yang lestari di KHDTK HDPB, terutama dalam hal daya dukungnya.

1.5 Keaslian Penelitian

Untuk melihat keaslian penelitian ini, maka beberapa penelitian sebelumnya akan di uraikan pada tabel berikut:

Tabel 1. Ringkasan penelitian terdahulu No. Nama dan

Tahun Judul Tujuan

1. Siswantoro, 2012

Kajian Daya Dukung Lingkungan Wisata Alam di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu

Kabupaten Karanganyar

1. Mengetahui nilai daya dukung efektif (Effective Carrying

Capacity/ECC) areal wisata TWA Grojogan Sewu;

2. Mengkaji persepsi dan aspirasi dari pengunjung, pedagang kaki lima. 3. Merumuskan strategi kebijakan

pengelolaan TWA Grojogan Sewu. 2. Lucyanti,

2014

Strategi Pengembangan Objek Wisata Alam Buper Palutungan di Taman Nasional Gunung Ciremai dengan

pendekatan daya dukung lingkungan

1. Mengetahui kondisi lingkungan melalui daya dukungnya

2. Strategi pengembangan objek wisata Buper Patulungan di Taman

Nasional Gunung Ciremai

3. Santoso, 2014

Strategi Pengembangan Ekowisata Berdasarkan Daya Dukung lingkungan Di Taman Nasional Bukit Tigapuluh Propinsi Riau

1. Mengetahui nilai daya dukung efektif wisata (Effective Carrying Capacity/ECC) kawasan objek ekowisata di TNBT.

(6)

lanjutan tabel 1.

No. Nama dan

Tahun Judul Tujuan

2. Mengkaji persepsi para pelaku wisata yaitu pengunjung, masyarakat dan pengelola terhadap objek ekowisata TNBT.

3. Merumuskan strategi pengembangan ekowisata yang berkelanjutan di kawasan objek ekowisata TNBT 4. Purwanto,

2014

Kajian Potensi Dan Daya Dukung Taman Wisata Alam Bukit Kelam Untuk Strategi Pengembangan Ekowisata

1. Mengidentifikasi dan menganalisis potensi ODTWA di TWABK. 2. Menganalisis daya dukung TWABK

untuk pengembangan ekowisata. 3. Menganalisis tingkat pengaruh dan

kepentingan stakeholder terhadap pengembangan ekowisata TWABK. 4. Merumuskan strategi pengembangan

ekowisata TWABK

Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya (tabel 1), penelitian ini tidak merumuskan strategi pengelolaan ataupun strategi pengembangan wisata atau ekowisata. Akan tetapi, penghitungan daya dukung tidak terbatas pada lingkungan fisik saja namun juga dilakukan penghitungan terhadap daya dukung ekologis dan daya dukung sosial-psikologis masyarakat dan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi daya dukung lingkungan wisata yang ada di KHDTK HDPB melalui penghitungan daya dukung ekologis, daya dukung fisik lingkungan (PCC, RCC dan ECC) dan daya dukung sosial-psikologis masyarakat setempat dan pengunjung wisata, yang kemudian dibahas dengan kondisi riil yang ada sehingga dapat memberikan gambaran rencana pengelolaan yang seharusnya dilakukan dalam pengelolaan dan pengembangan wisata yang lestari.

(7)

1.6 Kerangka Pemikiran Penelitian

Kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Keterangan : = Fokus penelitian

Kegiatan Wisata dan Rencana Pengembangan Ekowisata Kawasan Hutan Diklat Pondok Buluh Analisis Deskriptif Analisis Daya Dukung

(Fisik, Riil dan Efektif)

Pengelolaan wisata yang Lestari Daya Dukung fisik, riil

dan efektif

Daya Dukung sosial-psikologis masyarakat dan

wisatawan Daya Dukung Ekologis Analisis Daya Dukung Ekologis BDLHK Pematangsiantar

Gambar

Tabel 1. Ringkasan penelitian terdahulu   No.  Nama dan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu ukuran yang digunakan agar pertumbuhan ekonomi yang dicapai dapat secara merata diantara wilayah dalam suatu negara atau Propinsi dapat diukur dengan

(3) kedisiplinan belajar santri berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan menghafal al- Qur’an santri pondok pesantren Al-Aziz Lasem Rembang, hal ini terbukti

Adapun data kosa kata dialek-dialek tersebut diambil dari peneliti-peneliti lain yang sebelumnya telah meneliti bahasa tersebut, diantaranya dialek Luwu dari Wahyu (2014),

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Komposisi tari yang demikian biasanya apabila garapan cengkok kendangnya lemah, maka terinya dirasakan sangat lemah, (coba menarilah gambyong atau ngremo tanpa kendang

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

L : Ya Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib, hanya oleh karena kasihMu kepada orang berdosa ini. P : Ajarilah kami selalu mengingat Tuhan yang mati di kayu