• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Keluarga Tingkat Pendidikan Orangtua

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Keluarga Tingkat Pendidikan Orangtua"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA  

Karakteristik Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dan merupakan tempat paling utama bagi pembentukan kepribadian anak. Dalam teori brofenbrener seorang pakar ekologi keluarga menyebutkan bahwa keluarga merupakan lingkungan meso bagi anak atau lingkungan paling terdekat bagi anak yang mempengaruhi tumbuh kembangnya. (Berns 1997). Selain itu menurut teori struktural fungsional keluarga merupakan sebuah sistem yang terkait anggota dalam keluarganya. Dalam hal ini setiap anggota keluarga memiliki peran dan tugas yang harus dijalankan oleh anggota keluarga (Megawangi 1999). Fungsi dan peran tersebut dimiliki oleh setiap angota keluarga. Tanpa pembagian peran dan tugas yang jelas maka fungsi keluarga akan terganggu dan akan mempengaruhi sistem yang lebih besar.

Dalam teori struktural fungsional terdapat dua aspek yang saling berkaitan yaitu aspek struktural dan aspek fungsional. Megawangi (1999) menjelaskan bahwa aspek struktural melihat keseimbangan yang diciptakan oleh sistem sosial yang tertib. Ketertiban tersebut dapat tercipta bila keluarga memiliki struktur sehingga mengetahui posisi dan patuh pada sistem yang berlaku dalam keluarga. Terdapat tiga elekmen dalam struktur keluarga yaitu status sosial, fungsi sosial, dan norma sosial (Megawangi 1999). Aspek yang kedua adalah aspek fungsional, aspek fungsional dapat diartikan sebagai bagaimana subsistem dalam keluarga dapat berhubungan dan dan dapat menjadi sebuah kesatuan (Megawangi 1999).

Salah satu subsistem yang menjadi sebuah kesatuan adalah karakteristik keluarga yang mendukung untuk perkembangan anak dikeluarga tersebut. Karakteristik keluarga tersebut diantaranya adalah tingkat pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, jenis pekerjaan orangtua, dan besar keluarga.

Tingkat Pendidikan Orangtua

Dari segi jenis dan kualitas, setiap orang memiliki tinkap pendidikan yang berbeda-beda. Tingkat pendidikan orangtua baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi komunikasi antara orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga (Gunarsa dan Gunarsa 2004). Hasil penelitian menunjukan

(2)

bahwa orang yang memiliki pendidikan formal yang rendah dan tidak bekerja memiliki partisipasi yang sedikit pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas sekolah anaknya dibandingkan dengan orangtua yang berpendidikan tinggi, hal ini terjadi karena orantua berperan sebagai pengetahuan, pengembangan karir, dan memberikan fasilitas belajar.

Pendapatan Keluarga

Keadaan sosial ekonomi merupakan salah satu faktor penting pada kehidupan keluarga. Ekonomi keluarga akan digunakan sebagai salah satu pemelihara anak dalam keluarga. Gunarsa dan Gunarsa (2004) menyatakan kondisi keluarga yang memiliki tingkat pendapatan rendah menyebabkan orangtua memperlakukan anak dengan kurang perhatian, penghargaan, pujian untuk berbuat baik dan mengikuti peraturan, kurangnya latihan dari penanaman nilai moral.

Jenis Pekerjaan Orangtua

Salah satu yang mempengaruhi pengasuhan terhadap anak adalah peran orangtua. Untuk membimbing anak sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh seorang ibu saja tetapi ayah sebaiknya juga mengambil peranan. Ibu masa kini banyak yang tidak hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja namun mereka bekerja di sektor publik ataupun di organisasi tertentu untuk menambah pendapatan keluarga.

Besar Keluarga

Interaksi interpersonal yang semakin kompleks disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah anggota keluarga (Hastuti 2008). Adanya kepadatan dalam keluarga akan mempengaruhi pola hubungan antar anggota keluarga sehingga komunikasi antara anggota keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Remaja

Masa remaja merupakan suatu masa transisi antara masa kanak-kanak dengan msa dewasa (Santrock 2003). Rentan usia masa remasa adalah dari usia 12 tahun sampai 19 tahun. Santrock (2003) membagi masa remaja kedalam dua fase

(3)

yaitu remaja awal (usia 11 tahun sampai 15 tahun) dan remaja akhir (usia 16 tahun sampai 19 tahun). Masa remaja adalah masa yang penting dalam kehidupan karena pada masa ini merupakan peralihan, masa perubahan dan dimana saat individu mencari identitas diri. Remaja disebut juga sebagai suatu masa perkembangan yang rawan karena tugas utama remaja adalah membentuk suatu identitas untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari dalam diri. Mencari identitas diri mencakup hal memutuskan apa yang penting dan patut dikerjakan serta memformulasikan standar tindakan dalam mengevaluasi perilaku dalam dirinya.

Santrock (2003) meyebutkan tugas perkembangan anak sesuai periode kehidupan manusia. Tugas perkembangan masa remaja antara lain : 1) mencapai hubungan pertemanan atau hubungan dengan lawan jenis yang lebih stabil, 2) mencapai peran sosial maskulin dan feminim, 3) menerima kondisi fisik diri sendiri dan menggunakan atau memanfaatkannya secara efektif, 4) menginginkan, menerima, dan mencapai perilaku bertanggung jawab, 5) mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya, 6) mempersiapkan karir ekonomi, 7) mempersiapkan perkawinan dan kehidupan keluarga, 8) menggunakan sistem nilai dan etika sebagai panduan perilaku, dan mengembangkannya sebagai ideologi.

Self-esteem

Salah satu faktor yang penting dalam perkembangan kepribadian remaja adalah self-esteem. Self-esteem adalah penilaian seseorang secara umum terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilaian positif yang akhirnya menghasilkan perasaan keberhargaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan (Coopesmith 1967).

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang dapat mengalami krisis identitas (Santrock 2002). Terjadinya krisis identitas tersebut maka remaja melakukan pencarian identitas diri, dalam hal ini remaja berusaha mencari orientasi hidup yang memenuhi atribut diri yang sesuai dengan harapan sosial. Remaja berusaha menemukan suatu peran yang dapat memenuhi tuntutan biologis, psikologi dan sosial hidupnya serta menemukan apa saja yang mereka percayai, sikap-sikap yang ada pada mereka dan sikap-sikap yang ideal bagi diri

(4)

mereka. Kemudian remaja menyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan masyarakat sesuai peran yang dimainkannya tersebut, jika remaja berhasil mencapai identitas ini, maka self-esteem juga akan tercapai. Self-esteem yang dicapai ini akan mempengaruhi kehidupan selanjutnya (Heseelbein 1997).

Pentinganya perkembangan diri pada remaja dapat dilihat dari pengaruh esteem tersebut pada remaja. Remaja yang identitas dirinya lemah atau self-esteem maka akan sulit untuk menyesuaikan diri dan cendrung menarik diri dalam pergaulan serta mudah dipengaruhi oleh orang lain (Robinson 1991). Individu yang memiliki self-esteem yang tinggi pada masa kanak-kanak cenderung akan menjadi remaja yang memiliki self-esteem yang tinggi. Beberapa studi menunjukan bahwa sejak masa remaja pertengahan dan masa remaja akhir, dan menuju dewasa muda, self-esteem akan cendrung stabil atau mungkin meningkat.

Menurut Heider (1958) faktor yang memperngaruhi self-esteem pada diri seseorang adalah jenis kelamin, atribusi, dan pengasuhan orang tua. Jenis kelamin perempuan lebih mudah dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan tinggi dalam pelajaran bahasa (Harter 1983), sedangkan self-esteem pada laki-laki biasanya dipengaruhi oleh teman sebaya dan lebih tinggi pada bidang olah raga dan matematika (Harter 1983).

Faktor yang mempengaruhi keadua adalah atribusi. Menurut Heider (1958) atribusi merupakan penyimpulan terhadap kejadian-kejadian yang lalu. Konsep atribusi ini sangat penting kaitannya dengan cara anak dalam mencari penyebab dari kegagalan dan keberhasilan yang mereka alami. Atribusi ini pun dapat mempengaruhi motivasi seseorang dalam melakukan tingkah laku tertentu.

Faktor yang ketiga adalah pola asuh dan sikap orangtua. Pada usia yang rendah proses pembentukan self concept serta self-esteem terjadi. (Baron dan Bryne 1994). Pola asuh dan sikap orangtua serta apa yang dialami anak sangat berpengaruh terhadap pembentukan tersebut. Menurut Baron & Bryne (2000) anak-anak cenderung untuk mengevaluasi dirinya berdasarkan pada evaluasi orangtua terhadap diri mereka. Self-esteem yang dimiliki anak adalah fungsi dari refleksi penghargaan orangtua terhadap keberadaan diri mereka.

Selain terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi self-esteem menurut Harter (1983) ada dua sumber yang digunakan oleh anak untuk mengembangkan

(5)

self-esteem pada dirinya yaitu sumber dari dalam diri individu (inner source) yang merupakan perasaan mampu atau kompetisi diri dan sumber dari luar diri individu (outer source) yang merupakan persepsi diri terhadap penerimaan orang lain atas dirinya.

Menurut Coopersmith (1967) karakteristik individu berdasarkan self-esteem yang dimilikinya berbeda-beda. Karakteristik individu dengan self-self-esteem yang tinggi adalah aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik, berhasil dalam bidang akademik dan dalam mengadakan hubungan sosal, dapat menerima kritik dengan baik, tidak terpaku pada dirinya sendiri atau tidak hanya memikirkan kesulitannya sendiri, yakin pada diri sendiri karena memang memiliki kemampuan, kecakapan sosial dan kualitas diri yang baik, tidak terpengaruh pada penilaian orang lain tentang sifat atau kepribadiannya yang positif ataupun negatif, mudah menyesuaikan diri, lebih banyak menghasilkan suasana yang berhubungan dengan kesukaan sehingga tercipta tercipta tingkat kecemasan yang rendah serta memiliki daya pertahanan yang seimbang.

Individu yang memiliki self-esteem yang rendah memiliki karakteristik memiliki perasaan yang inferior, takut dan mengalami kegagalan dalam hubungan sosial, terlihat seperti orang yang putus asa dan depresi, merasa dirinya diasingkan dan tidak diperhatikan, kurang dapat mengekspresikan diri, tidak konsisten, sangat tergantung pada lingkunganm secara pasif akan mengikuti apa yang berada dilingkungannya atau tidak memiliki pendirian, rentan terhadap kritik dan penolakan, serta sulit berkomunikasi dengan orang lain.

Self-Efficacy

Selain Self-esteem, salah satu yang menjadi faktor penting dalam kepribadian remaja adalah self-efficacy. Menurut Bandura dalam Santrock (2002) self-efficacy adalah belief atau keyakinan seseorang bahwa ia dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil yang positif, sedangkan menurut Pajares 2006 self-efficacy adalah suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan. Siswa dengan self-efficacy yang rendah mungkin menghindari pelajaran yang banyak tugasnya, khususnya untuk tugas-tugas yang menantang, sedangkan siswa dengan

(6)

self-efficacy yang tinggi mempunyai keinginan yang besar untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Menurut Bandura dalam Santrok (2002) self-efficacy memiliki empat macam fungsi yaitu menentukan pilihan tingkah laku, kedua adalah menentukan berapa besar level komitmen, usaha yang dilakukan, dan ketekunan usaha, ketiga adalah mempengaruhi pola pikir dan reaksi emosional, dan yang terakhir adalah menentukan standar yang akan dilakukan selanjutnya.

Menentukan pilihan tingkah laku. Setiap individu cenderung memilih tugas yang mampu diselesaikan dengan baik, serta menghindari tugas yang sulit untuk dikerjakan. Perbedaan yang besar antara penilaian seseorang akan kemampuannya dengan kemampuannya yang sebenarnya akan menimbulkan berbagai konsekuensi. Orang yang memiliki overestimate terhadap kemampuannya makan akan melakukan aktivitas-aktivitas yang jauh di atas kemampuannya, akibatnya ia akan menemui berbagai kesulitan, hambatan, dan kegagalan. Sebaliknya, orang yang memiliki underestimate terhadap kemampuannya akan membatasi diri mereka terhadap aktivitas-aktivitas yang ia lakukan. Anak-anak selalu meragukan kemampuannya dan selalu memikirkan hambatan-hambatan yang sebenarnya belum tentu ada (Bandura 1986). Disebutkan pula bahwa orang yang memiliki self-efficacy yang rendah berusaha untuk menghindari tugas-tugas yang sulit sedangkan untuk orang yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan sangat termotivasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit.

Menentukan berapa besar level komitmen, usaha yang dilakukan, dan ketekunan usaha. Self-efficacy dapat mempunyai efek terhadap komitmen seseorang akan tugas dan goal yang dia inginnkan. Seseorang yang memiliki self-efficacy tinggi pada suatu tugas, maka akan berusaha secara maksimal dalam menyelesaikan tugas itu dengan baik. Apabila ia menemukan hambatan maka ia tidak akan cepat putus asa dan menyerah. Ia malah akan memperbesar dan lebih semangat dalam usaha yang dilakukannya. Pada orang yang memiliki self effiacy yang rendah terhadap suatu tugas maka ia tidak akan berusaha keras dan bila ia menemukan kesulitan maka akan menyerah begitu saja tanpa mau memperjuangkannya (Pervin 1996). Selain itu, Bandura menyebutkan bahwa

(7)

orang yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan menggunakan strategi belajar yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang memiliki self-efficacy yang rendah.

Mempengaruhi pola berpikir dan reaksi emosional. Self-efficacy dapat mempengaruhi reaksi emosional dan pola pikir seseorang. Orang yang memiliki self-efficacy yang rendah akan mengalami level stres dan kecemasan yang lebih banyak selama mengerjakan tugasnya daripada orang yang memiliki self-efficacy yang tinggi (Pervin 1996). Orang yang meliki self-efficacy yang rendah pun akan lebih banyak memikirkan kekurangan dirinya dibandingkan untuk memperbaikinya (Pervin 1996). Ketika dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang kompleks, maka orang dengan self-efficacy yang rendah maka cara berpikirnya menjadi tidak mampu untuk mengambil keputusan.

Menentukan standar yang akan diterapkan selanjutnya. Self-efficacy dapat mempengaruhi reaksi emosional dan kognitif seseorang atas jarak antara stadard yang telah ditetapkan sebelumnya dengan performance. Oleh sebab itu seseorang dapat termotivasi atau tidak dalam menentukan standar selanjutnya. Orang yang menganggap keberhasilannya disebabkan oleh kemampuannya dalam menyelesaikan tugas cendrung menetapkan standard yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengangga keberhasilnannya adalaha faktor keberuntungan. Standard yang tinggi dianggap sebagai tantangan yang menghasilkan motivasi baru untuk meyelesaikan tugas dan tantangan tersebut. Self-efficacy dapat mempengarui reaksi seseorang dalam menapai standard yang telah ia buat. Jika memiliki self-efficacy yang tinggi maka ia akan termotivasi untuk memperbesar usahanya untuk meraih hasil yang optimal. (Pervin 1996).

Bandura merangkum perbedaaan ciri-ciri antara orang yang memiliki self-efficacy yang tinggi dengan orang yang memiliki self-self-efficacy yang rendah dalam tabel berikut :

(8)

Tabel 1 Ciri-ciri orang yang memiliki self-efficacy tinggi dan rendah Self-efficacy Tinggi Self-efficacy Rendah Menetapkan target yang tinggi Menetapkan target yang rendah Menunjukan komitmen yang tinggi Menunjukan komitmen yang rendah Mengerahkan banyak usaha Mengerahkan sedikit usaha

Tidak mudah menyerah ketika menemukan hambatan

Mudah menyerah ketika menemukan hambatan

Membayangkan skenario keberhasilan yang optimis

Membayangkan skenario kegagalan yang pesimis

Menerima tugas-tugas yang sulit Menghindari tugas-tugas yang sulit Bersedia mencoba hal-hal baru Tidak mau mencoba hal-hal baru Selalu mengembangkan diri Selalu membatasi kemampuan diri Melihat kemampuan diri merupakan hal

yang dapat ditingkatkan

Melihat kemampuan diri merupakan hal yang sudah menetap

Mengatribusikan kegagalan sebagai kurangnya keterampilan atau usaha

Melihat kegagalan sebagai ketidakmampuan

Menekankan pada pengembangan diri dan penyelesaian tugas

Menekankan pada perbandingan dengan orang lain

Tahan saat menemui kesulitan Tidak dapat mengatasi ancaman Merasa mampu mengatasi masalah lebih

baik dari orang lain

Merasa tidak mampu mengatasi masalah lebih baik dari orang lain

Memikirkan kelebihan yang dimiliki Mengeluhkan kekurangan yang dimiliki Tidak mudah mengalami gangguan

emosional, stres, depresi, dan cemas

Lebih rentan terhadap stres, kecemasan dan depresi

Sumber : Efficacy Mecahanism on Human Agenc, Albert Bandura

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self-efficacy

Menurut Bandura (1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi self-efficacy yaitu pengalaman keberhasilan, pengalaman orang lain, Persuasi Sosial, dan terakhir adalah keadan fisiologis dan emosional.

Pengalaman Keberhasilan. Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self-efficacy yang dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self-efficacynya. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang seseorang lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self-efficacy. Akan tetapi, jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self-efficacynya.

Pengalaman Orang Lain. Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama.

(9)

Self-efficacy tersebut didapat melalui social models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk melakukan modeling. Namun self-efficacy yang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model. Orang yang melihat keberhasilan orang memiliki karakteristik sama seperti model akan meningkatkan harapan individu tersebut untuk melaksanakan aktivitas yang serupa.

Persuasi Sosial. Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan suatu tugas.

Keadaan fisiologis dan emosional. Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan somatic lainnya. Self-efficacy biasanya ditandai oleh rendahnya tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self-efficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula.

Strategi untuk Meningkatkan Self-efficacy

Bandura 1995 menyebutkan untuk meningkatkan self-efficacy siswa, ada beberapa strategi yang dapat kita lakukan yaitu Mengajarkan siswa suatu strategi khusus sehingga dapat meningkatkan kemampuannya untuk fokus pada tugas-tugasnya, memandu siswa dalam menetapkan tujuan, khususnya dalam membuat tujuan jangka pendek setelah mereka mebuat tujuan jangka panjang, memberikan reward untuk performa siswa, mengkombinasikan strategi training dengan menekankan pada tujuan dan memberi timbal balik pada siswa tentang hasil pembelajarannya, memberikan support atau dukungan pada siswa, meyakinkan bahwa siswa tidak terlalu aroused dan cemas karena hal itu justru akan menurunkan self-efficacy siswa, dan menyediakan siswa model yang bersifat positif. Modelling efektif untuk meningkatkan self-efficacy khususnya ketika siswa mengobservasi keberhasilan teman sebayanya yang sebenarnya mempunyai kemampuan yang sama dengan anak-anak.

(10)

Motivasi Belajar

Self-esteem dan self-efficacy merupakan faktor penting dalam perkembangan remaja, namun ada lagi yang tidak kalh penting yaitu motivasi. Motivasi adalah keadaan internal yang menyebabkan kita bertindak, mendorong kita pada arah tertentu, dan menjaga kita tetap bekerja pada aktivitas tertentu(Santrock 2008). Pentingnya peranan motivasi dalam proses belajar perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan.

Ada beberapa perspektif dari motivasi, diantaranya adalah perspektif behavioral. Perspektif ini menekankan tentang pentingnya motivasi ekstrinsik dalam achievement. Menurut perspektif ini, rewards dan punishment eksternal merupakan kunci yang menentukan motivasi siswa. Hal itu disebabkan karena insentif merupakan suatu stimulus baik positif maupun negatif yang dapat memotivasi tingkah laku siswa.

Motivasi dapat juga berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Dengan adanya motivasi belajar yang kuat maka akan menunjukan hasil yang baik pula. Dengan usaha yang tekun dan rajin dan didasari oleh motivasi yang kuat, maka akan memangun siswa untuk mencapai hasil prestasi yang baik. Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh pribadi siswa, pribadi guru, struktur jaringan hubungan sosial di sekolah, sekolah sebagai institusi pendidikan situasi dan kondisi sekolah. (Winkel 1989).

Motivasi yang ada pada setiap orang dalam melakukan suatu kegiatan atau dalam mengejar suatu prestasi berbeda-beda setiap orang. Menurut Santrock 2008 motivasi dibedakan menjadi motif intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motif interinsik, yaitu motif yang dapat berfungsi tanpa harus dirangsang dari luar dan dapat mendorong mendorong seseorang melakukan suatu kegiatan tertentu. Dalam diri individu sendiri memang telah ada dorongan itu. Seseorang melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya. Misalnya, orang yang gemar membanca tanpa ada yang mendorong, ia akan mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya.

(11)

Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena ada perangsangan dari luar. Motivasi ini mendorong seseorang melakukan kegiatan tertentu, tetapi motivasi itu terlepas atau tidak berhubungan langsung dengan kegiatan yang ditekuninya.

Strategi untuk Meningkatkan Motivasi

Ada beberapa strategi untuk mengkatkan motivasi siswa. Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa, yaitu menyediakan model yang kompeten yang dapat memotivasi mereka untuk belajar, menciptakan atmosfer yang menantang dan tingkat harapan yang tinggi, mengkomunukasikan pada siswa bahwa mereka akan menerima dukungan akademik dan emosional, mendorong motivasi intrinsik siswa untuk belajar, bekerja sama dengan siswa untuk membantu mereka menetapkan tujuan dan rencana serta memonitor perkembangannya, menyeleksi tugas-tugas pembelajaran yang merangsang ketertarikan dan keingintahuan siswa, dan menggunakan teknologi secara efektif.

Prestasi Akademik

Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari yang namanya belajar baik secara formal ataupun non formal. Belajar adalah proses aktif untuk menentukan atau memperoleh kemajuan dalam perkembangan intelektual, baik pada bayi maupun pada pada anak dan hal ini dilakukan karena adanya dorongan yang timbul dari dirinya sendiri (Gunarsa & Gunarsa 2004).

Semenjak manusia melakukan usaha untuk mendidik anak-anaknya, usaha untuk menilai hasil usaha mereka dilakukan penilaian yang bermacam-macam. Maksud dari penilaian tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari anak. Dalam hal belajar penilaian yang dilakukan dengan melihat prestasi akademik yang didapatnya. Penilaian prestasi akademik yang dilakukan disekolah dengan melihat hasil rapor. Rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan guru mengenai kemajuan atau hasil akademik murid-muridnya selama masa tertentu (Suryabrata 2005).

Ahmadi dan Supriyono (2004) mengatakan prestasi akademik yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang

(12)

mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) yaitu faktor jasmaniah dan psikologis maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu yaitu faktor sosial, budaya dan lingkungan.

Goleman (1999) mengatakan bahwa kecerdasan kognitif dan kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar. Berbagai perubahan terjadi pada diri remaja baik fisik maupun psiskis mempengaruhi keseluruhan pola perilakunya termasuk dalam pencapaian prestasi akademik. Remaja dalam masa perkembangannya memiliki kebutuhan yang berbeda dengan taraf perkembangan lainnya. Slameto (2003) mengemukakan bahwa kebutuhan untuk berprestasi merupakan salah satu kebutuhan yang ada pada masa remaja. Menurunnya motivasi belajar pada remaja erat hubungannya dengan masa perkembangan remaja itu sendiri dalam menghadapi lingkungan sekitarnya yaitu peer group, guru dan orangtua.

Motivasi berprestasi salah satu faktor yang sangat berperan dalam pencapaian prestasi seseorang. Menurut Mc. Clelland (1995), motivasi berprestasi berhubungan dengan kebutuhan untuk berprestasi yang mempengaruhi tigkah laku seseorang dalam bertindak. Untuk mendapatkan prestasi yang baik. Motivasi berprestasi pun merupakan kekuatan yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar keunggulan yang merupakan suatu dorongan yang terdapat di dalam diri seseorang untuk hasil yang baik.

Model Pembelajaran Akselerasi

Pengertian akselerasi adalah suatu proses percepatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki kemampuan luar biasa dalam rangka mencapai target kurikulum Nasional dengan mempertahankan mutu pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal. Dalam program akselerasi ini peserta didik dapat menyesuaikan cara belajarnya lebih cepat dari siswa lainnya yang mengikuti program reguler.

Menurut Munandar (2004) akselerasi berarti belajar dimungkinkan untuk diterapkan sehingga siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dapat menyeleseakan pelajarannya lebih cepat dari masa belajar yang ditentukan. Akselerasi belajar tidak sama dengan loncat kelas sebab dalam akselerasi belajar

(13)

setiap siswa tetap harus mempelajari seluruh bahan yang seharusnya dipelajari. Akselerasi dapat dilakukan dengan bantuan modul atau lembar kerja yang disediakan sekolah. Melalui akselerasi belajar peserta didik yang berkemampuan tinggi dapat mempelajari seluruh bahan pelajaran dengan lebih cepat dibandingkan peserta didik yang lain.

Perbedaan kurikulum akselerasi dengan reguler terletak pada penyusunan kembali struktur program pengajaran dalam alokasi waktu yang lebih singkat. Program akselerasi ini akan menjadikan kurikulum standar yang biasanya ditempuh siswa SMA dalam tiga tahun menjadi hanya dua tahun. Pada tahun pertama, siswa akan mempelajari seluruh materi kelas satu ditambah dengan setengah materi kelas dua. Di tahun kedua, mereka akan mempelajari materi kelas dua yang tersisa dan seluruh materi kelas tiga.

Kurikulum yang digunakan pada program akselerasi adalah kurikulum nasional dan muatan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi yang dikembangkan melalui sistem pembelajaran yang dapat memacu dan mewadahi integrasi pengembangan spiritual, logika, etika, dan estetika serta mengembangkan kemampuan berfikir holistik, kreatif, sistemik, linier, dan konvergen utuk memenuhi tuntutan masa kini dan masa depan. Kurikulum program akselerasi adalah kurikulum yang diberlakukan untuk satuan pendidikan yang bersangkutan, sehingga lulusan program akselerasi memiliki kualitas dan standar kompetensi yang sama dengan lulusan program reguler. Perbedaannya hanya terletak pada waktu keseluruhan yang ditempuh dalam menyelesaikan pendidikannya lebih cepat bila dibanding dengan program reguler.

Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

Pengertian Sekolah Bertaraf SBI menurut Permendiknas No. 78 Tahun 2009 yaitu sekolah yang sudah memenuhi seluruh SNP yang diperkaya dengan keunggulan mutu tertentu yang berasal dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya. OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) adalah organisasi internasional yang bertujuan untuk membantu pemerintahan negara anggotanya menghadapi tantangan globalisasi dalam hal masalah ekonomi.

(14)

Sekolah bertaraf internasional merupakan sekolah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar nasional pendidikan yang meliputi standar input, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian.

Untuk dapat memenuhi karakteristik dari konsep SBI tersebut, maka sekolah dapat melakukan antara lain dengan dua cara, yaitu adaptasi dan adopsi. Adaptasi, yaitu penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah ada dalam SNP dengan mengacu dengan standar pendidikan salah satu negara OECD atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memilki reputasi mutu yang diakui secara SBI, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Cara yang kedua adalah adopsi, yaitu penambahan dari unsur-unsur tertentu yang belum ada diantara delapan unsur SNP dengan tetap mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota OECD dan negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara SBI, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Penyelenggaraan kelas SBI meliputi output, proses, dan input. Output/lulusan kelas SBI memiliki kemampuan-kemampuan bertaraf nasional plus SBI sekaligus, yang ditunjukkan oleh penguasaan SNP Indonesia dan penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global. Proses penyelenggaraan kelas SBI mampu mengakrabkan, menghatatkan dan menerapkan nilai-nilai (religi, ekonomi, seni, solidaritas, dan teknologi). Input adalah segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya roses dan harus memiliki tingkat kesiapan yang memadai meliputi peserta didik baru yang diseleksi secara ketat dan masukan instrumental yaitu kurikulum, pendidik, kepala sekolah, tenaga pendukung, sarana dan prasarana, dana dan lingkungan sekolah. Peserta didik baru diseleksi secara ketat melalui saringan rapor, ujian akhir sekolah, scholactic apptitude test (SAT), kesehatan fisik, dan tes wawancara.

Gambar

Tabel 1 Ciri-ciri orang yang memiliki self-efficacy tinggi dan rendah  Self-efficacy Tinggi  Self-efficacy Rendah  Menetapkan target yang tinggi  Menetapkan target yang rendah  Menunjukan komitmen yang tinggi  Menunjukan komitmen yang rendah  Mengerahkan b

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan respon siswa terhadap pembelajaran aktif tipe question students have, prestasi belajar siswa setelah mengikuti

Melihat dari data dan basil wawancara serta kajian teori tentang kinerja, menyatakan bahwa alat dan saran Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Riau pada tahun anggaran 2017, sebagai

Apabila dana anggaran tahun 2010 berubah atau dananya tidak tersedia, maka penyedia jasa yang telah mengikuti pelelangan ini tidak dapat menuntut atau mengklaim

The study was conducted at random on 528 head of Pesisir cattle in three districts Pesisir Selatan, Padang Pariaman, and Agam. In order to differentiate the three

30 (Revisi 2007), sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan. Selanjutnya,

Perlu dilakukan perhitungan tersebut karena pada saat titrasi kadar Ca 2+ yang terdapat dalam infus daun sirsak juga berikatan dengan EDTA, sehingga pada saat

Dalam tugas akhir yang berjudul “Peran food and baverage dalam meningkatkan pelayanan terhadap tamu di Sahid Raya Hotel Yogyakarta” di tulis oleh Laila Najmi tahun

Alternatif strategi pemasaran yang tepat setalah dilakukan berdasarkan kondisi percetakan M-Printing Universitas Mulawarman Samarinda saat ini adalah meningkatkan