• Tidak ada hasil yang ditemukan

FLYPAPER EFFECT PADA DANA ALOKASI UMUM DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP BELANJA DAERAH BONDOWOSO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FLYPAPER EFFECT PADA DANA ALOKASI UMUM DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH TERHADAP BELANJA DAERAH BONDOWOSO"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

FLYPAPER EFFECT PADA DANA ALOKASI UMUM DAN PENDAPATAN ASLI

DAERAH TERHADAP BELANJA DAERAH BONDOWOSO

Alifani Indah Prahesti [email protected]

Nur Handayani

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

ABSTRACT

The purpose of this research is to find out the existence of flypaper effect on the local own-source revenue and general allocation fund to the Bondowoso regency local expenditure based on the analysis of the realization of local government budget report of the local government of Bondowoso regency which is conducted by using financial ratio. Based on the result of analysis and the discussion which has been performed in order to find out the flypaper effect on the local own-source revenue and local allocation fund to the Bondowoso regency local expenditure by using financial ratios analysis which consist of: (1) local revenue analysis which include (a) the decentralization degree ratio shows low result ≤ 50% with the tendency of increasing, (b) the dependency ratio of local financial to the general allocation fund shows high result ≥ 50% with the tendency of increasing, (c) the independency ratio of local revenue shows low result ≤ 50% with the tendency of increasing, (d) the growth ratio of local own-source revenue shows positive growth with the tendency of increasing, (e) the growth ratio of general allocation fund shows growth which tend to increase; (2) the growth ratio of local expenditure shows growth with the tendency to increase; (3) the analysis of revenue performance which includes (a) effectiveness ratio of local own-source revenue has a very effective level of effectiveness which always fulfills the target (100% - ≥ 100%), (b) the efficiency ratio of general allocation fund has inefficient result (100% - ≥100%).

Keywords: Flypaper Effect, Local Own-Source Revenue, General Allocation Fund, and Local Expenditure

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya flypaper effect pada pendapatan asli daerah (PAD) dan dana alokasi umum (DAU) terhadap belanja daerah (BD) Kabupaten Bondowoso berdasarkan analisis laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso dengan menggunakan rasio keuangan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan untuk mengetahui adanya flypaper effect pada pendapatan asli daerah (PAD) dan dana alokasi umum (DAU) terhadap belanja daerah (BD) Kabupaten Bondowoso dengan menggunakan analisis rasio keuangan yang terdiri dari : (1) analisis pendapatan daerah yang meliputi (a) rasio derajat desentralisasi menunjukkan hasil yang rendah ≤ 50% dengan kecenderungan meningkat, (b) rasio ketergantungan keuangan daerah terhadap DAU menunjukkan hasil yang tinggi ≥ 50% dengan kecenderungan meningkat, (c) rasio kemandirian keuangan daerah memiliki hasil yang rendah ≤ 50% dengan kecenderungan meningkat, (d) rasio pertumbuhan PAD menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan kecenderungan meningkat, (e) rasio pertumbuhan DAU menunjukkan pertumbuhan yang cenderung meningkat; (2) rasio pertumbuhan belanja daerah menunjukkan pertumbuhan dengan kecenderungan meningkat; (3) analisis kinerja pendapatan yang meliputi (a) rasio efektivitas PAD memiliki tingkat efektivitas yang sangat efektif selalu memenuhi target (100% - ≥ 100%), (b) rasio efisiensi DAU memiliki hasil yang kurang efisien (100% - ≥100%) Kata kunci: Flypaper Effect, Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Belanja

(2)

PENDAHULUAN

Selama pemerintahan orde baru sentralisasi kekuasaan sangat terasa dalam setiap aktivitas pemerintahan daerah, bahkan rancangan pembangunan disetiap daerah lebih sering mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sentralisasi telah membuat birokrasi daerah seperti orang bodoh, karena selalu menunggu petunjuk dari pusat. Sentralisasi juga membuat birokrasi daerah menjadi mandul, tidak ada keberanian untuk membuat keputusan strategis serta menimbulkan disparitas pendapatan yang sangat lebar antar daerah, contohnya seperti alokasi dalam penggunaan anggaran dan kelambanan dalam menuntaskan masalah.

Pelayanan publik oleh pemerintah daerah sering juga tidak sejalan dengan harapan masyarakatnya. Pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah daerah tidak berorientasi kepada kepentingan masyarakat, tetapi lebih kepada kepentingan pemerintah pusat (terutama menjaga stabilitas politik dan ekonomi). Akuntabilitas pemerintah daerah kepada masyarakatnya jauh lebih kecil daripada akuntabilitas ke pemerintah pusat. Ini semua membuat alokasi sumber daya daerah (lokal) menjadi tidak efisien.

Namun sekarang pasca jatuhnya pemerintahan orde baru perkembangan daerah di Indonesia semakin pesat, seiring dengan adanya era baru dalam pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi. Adanya pelaksanaan otonomi daerah ditandai dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah, yang sekarang telah diperbaharui menjadi Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-undang diatas mencakup semua aspek utama dalam desentralisasi fiskal dan administrasi. Berdasarkan kedua undang-undang ini, sebagian besar fungsi-fungsi pemerintahan dialihkan dari pusat ke daerah sejak awal tahun 2001. Berdasarkan undang-undang ini semua fungsi pelayanan publik (kecuali pertahanan, urusan luar negeri, kebijakan moneter dan fiskal, urusan perdagangan, dan hukum) telah dialihkan ke daerah otonom. Kota dan kabupaten memikul tanggung jawab di hampir semua bidang pelayanan publik, seperti kesehatan, pendidikan, dan prasarana, dengan provinsi bertindak sebagai koordinatornya.

Dengan diberlakukannya undang-undang tersebut, telah memberikan harapan baru terhadap tumbuhnya kesadaran untuk membangun daerah secara lebih optimal dan tidak lagi terkonsentrasi dipusat, karena tujuan utama dari penyelenggaraan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan pelayanan publik (public service) dan memajukan perekonomian daerah.

Kebijakan otonomi daerah merupakan langkah strategis dalam dua hal. Pertama, otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia, seperti ancaman disintegrasi bangsa, kemiskinan, ketidakmerataan pembangunan, rendahnya kualitas hidup masyarakat, dan masalah pembangunan sumber daya manusia. Kedua, otonomi daerah dan desentralisasi merupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perekonomian daerah (Mardiasmo, 2002).

Dampak pelaksanaan otonomi daerah adalah tuntutan terhadap pemerintah dalam menciptakan good governance sebagai prasyarat dengan mengedepankan akuntabilitas dan transparansi. Lingkup anggaran menjadi relevan dan penting dilingkungan pemerintah daerah, karena terkait dengan dampak anggaran terhadap kinerja pemerintah sehubungan dengan fungsi pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pesatnya pembangunan daerah yang menyangkut perkembangan kegiatan fiskal sangat membutuhkan alokasi dana dari pemerintah pusat. Ini mengakibatkan pembiayaan pada

(3)

pos belanja yang terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan membutuhkan ketersedianya dana yang besar pula untuk membiayai kegiatan tersebut. Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah, pemerintah pusat akan mentransfer Dana Perimbangan, yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang diambil dari pajak dan sumber daya alam. Tujuan dari transfer Dana Perimbangan kepada pemerintah daerah adalah untuk mengurangi kesenjangan fiskal antar pemerintah dan menjamin tercapainya standar pelayanan publik. Adanya transfer dana ini bagi pemerintah daerah merupakan sumber pendanaan dalam melaksanakan kewenangannya, sedangkan kekurangan pendanaan diharapkan dapat digali melalui sumber pendanaannya sendiri, yaitu PAD (Pendapatan Asli Daerah). Namun kenyataannya, transfer daerah dari pemerintah pusat merupakan sumber dana utama pemerintah daerah untuk membiayai operasi utamanya sehari-hari atau belanja daerah, yang oleh pemerintah daerah dilaporkan dan diperhitungkan dalam APBD. Dalam hal ini pemerintah pusat berharap agar dana transfer tersebut dapat digunakan secara efektif dan efisien oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam mengelola keuangannya, pemerintah daerah harus dapat menerapkan asas kemandirian daerah dengan mengoptimalkan penerimaan dari sektor PAD. Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, PAD merupakan sumber penerimaan daerah yang asli digali di daerah yang digunakan untuk modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Menurut Mardiasmo (2002) saat ini masih banyak masalah yang dihadapi pemerintah daerah terkait dengan upaya meningkatkan penerimaan daerah. Halim (2003) menyatakan bahwa sumber pendapatan daerah berupa PAD dan Dana Perimbangan berpengaruh terhadap belanja daerah secara keseluruhan. Meskipun proporsi PAD maksimal hanya sebesar 10% dari total pendapatan daerah, kontribusi terhadap pengalokasian anggaran cukup besar, terutama bila dikaitkan dengan kepentingan politis. Daerah yang memiliki kemajuan dibidang industri dan memiliki kekayaan alam yang melimpah cenderung memiliki PAD jauh lebih besar dibanding daerah lainnya, begitu juga sebaliknya. Karena itu terjadi ketimpangan PAD. Disatu sisi ada daerah yang sangat kaya karena memiliki PAD yang tinggi dan disisi lain ada daerah yang tertinggal karena memiliki PAD yang rendah.

Menurut Halim (2002a) permasalahan yang dihadapi daerah pada umumnya berkaitan dengan penggalian sumber-sumber pajak dan retribusi daerah yang merupakan salah satu komponen dari PAD masih belum memberikan konstribusi signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang masih lemah dapat mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. Sebagian besar wilayah provinsi dapat membiayai kebutuhan pengeluaran kurang dari 10%. Distribusi pajak antar daerah sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi ini terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk, keadaan geografis (berdampak pada biaya relatif mahal), dan kemampuan masyarakat, sehingga dapat mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi.

Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pembagian dana untuk daerah melalui bagi hasil berdasarkan daerah penghasil cenderung menimbulkan ketimpangan antar daerah. Daerah yang

(4)

mempunyai potensi pajak dan Sumber Daya Alam (SDA) yang besar hanya terbatas pada sejumlah daerah tertentu saja. Peranan Dana Alokasi Umum terletak pada kemampuannya untuk menciptakan pemerataan berdasarkan pertimbangan atas potensi fiskal dan kebutuhan nyata dari masing-masing daerah.

Penelitian sebelumnya telah banyak yang mengangkat permasalahan transfer ini, di Amerika Serikat, khususnya daerah Winconsin sebesar 47% pendapatan pemerintah daerah berasal dari transfer pemerintah pusat (Deller et al., 2002). Di negara-negara lain, persentase transfer atas pengeluaran pemerintah daerah adalah 85% di Afrika Selatan, 67-95% di Nigeria, dan 70-90% di Meksiko. Di Indonesia, pada masa sekarang ini, sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, transfer yang dalam hal ini disamakan istilahnya dengan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN.

Dalam penelitian ini terdapat suatu fenomena yang disebut flypaper effect. Flypaper Effect disini merupakan fenomena dimana pemerintah daerah merespon (belanja) lebih banyak menggunakan dana transfer (grants) yang diproksikan dengan DAU, daripada menggunakan kemampuannya sendiri yang diproksikan dengan PAD (Maimunah, 2006). Deller dan Maher (2005) meneliti kategori pengeluaran daerah dengan fokus pada terjadinya flypaper effect. Mereka menemukan pengaruh transfer tak bersyarat (unconditional

grants) pada kategori pengeluaran adalah lebih kuat pada kebutuhan non-esensial atau

kebutuhan luxury, seperti taman dan rekreasi, kebudayaan dan pelayanan pendidikan, daripada kebutuhan esensial atau normal, seperti keamanan, dan proteksi terhadap kebakaran.

TINJAUAN TEORETIS Otonomi Daerah

Pembangunan ekonomi nasional selama pemerintahan orde baru yang terfokus pada pertumbuhan ternyata tidak membuat banyak daerah-daerah di Indonesia berkembang dengan baik. Pada tingkat nasional memang laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun cukup tinggi dan tingkat pendapatan per kapita naik terus (hingga krisis terjadi).

Masalah ketimpangan ekonomi regional di Indonesia terjadi karena selama pemerintahan orde baru, pemerintah pusat menguasai dan mengontrol hampir semua sumber-sumber pendapatan daerah yang ditetapkan sebagai penerimaan negara, termasuk pendapatan dan hasil SDA sektor-sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan/kelautan. Akibatnya, selama itu daerah-daerah yang kaya SDA tidak dapat menikmati hasilnya secara layak.

Diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 memberikan kewenangan dan keleluasaan bagi Pemerintah Kabupaten/kota sebagai pelaksana dan promotor pembangunan di daerah untuk mengatur dan menentukan sendiri kegiatan pembangunan wilayah yang sesuai dengan prioritas kebutuhan masyarakat setempat. Tujuan utama penyelenggaraan Otonomi Daerah adalah untuk meningkatkan pelayanan publik (publik

service) dan memajukan perekonomian daerah. Dengan adanya otonomi daerah ini berarti

pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri, tak terkecuali juga mandiri dalam masalah

financial. Desentralisasi

Krisis ekonomi dan kepercayaan yang dialami bangsa Indonesia telah membuka jalan

bagi munculnya reformasi total di seluruh aspek kehidupan masyarakat. Disamping itu reformasi telah memunculkan sikap keterbukaan dan fleksibilitas sistem politik dan

(5)

kelembagaan sosial, sehingga mempermudah proses pembangunan dan moderenisasi lingkungan legal dan regulasi untuk pembaharuan paradigma di berbagai bidang kehidupan.

Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Anggaran Daerah

Untuk melaksanakan hak dan kewajibannya serta melaksanakan tugas yang dibebankan oleh rakyat, pemerintah harus mempunyai suatu rencana yang matang untuk mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan. Rencana-rencana yang disusun secara matang tersebut nantinya akan dipakai sebagai pedoman dalam setiap langkah pelaksanaan tugas Negara. Oleh karena itu rencana-rencana pemerintah untuk melaksanakan keuangan negara perlu dibuat dan rencana tersebut dituangkan dalam bentuk anggaran (Ghozali, 1997).

Berbagai definisi atau pengertian anggaran menurut Safitri (2008) antara lain:

1. APBD menggambarkan segala bentuk kegiatan pemerintah daerah dalam mencari sumber-sumber penerimaan dan kemudian bagaimana dana-dana tersebut digunakan untuk mencapai tujuan pemerintah.

2. APBD menggambarkan perkiraan dan pengeluaran daerah yang diharapkan terjadi dalam satu tahun kedepan yang didasarkan atas realisasi masa yang lalu.

3. APBD merupakan rencana kerja operasional pemerintah daerah yang akan dilaksanakan satu tahun kedepan dalam satuan angka rupiah. APBD ini merupakan terjemahan secara moneteris dari dokumen perencanaan daerah yang ada dan disepakati, yang akan dilakasanakan selama setahun.

Menurut Warsito et al. (2008) yang perlu menjadi acuan dalam penyusunan APBD adalah sebagai berikut:

1. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran;

Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa. Transparansi anggaran merupakan hal yang penting, APBD merupakan salah satu sarana evaluasi kinerja pemerintah yang memberikan informasi mengenai tujuan, sasaran, hasil, dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek.

2. Disiplin Anggaran;

Anggaran yang disusun perlu diklarifikasikan dengan jelas agar tidak terjadi timpang tindih yang dapat menimbulkan pemborosan dan kebocoran dana. Oleh karena itu penyusunan anggaran harus bersifat efisien, tepat guna, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan.

3. Keadilan Anggaran;

Pembiayaan pemerintah daerah dilakukan melalui mekanisme pajak dan retribusi yang dikenakan kepada masyarakat. Oleh karena itu, penggunaannya harus dialokasikan secara adil dan proposional agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat. 4. Efisiensi dan Efektifitas Anggaran;

Dana yang dihimpun dan digunakan untuk pembangunan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, perencanaan perlu ditetapkan secara jelas tujuan, sasaran, hasil, dan manfaat yang diperoleh masyarakat dengan melakukan efisiensi dan efektifitas.

5. Disusun dengan pendekatan kinerja;

APBD disusun dengan pendekatan kinerja, yaitu mengutamakan upaya pencapaian hasil kinerja dari perencanaan alokasi biaya atau input yang telah ditetapkan. Hasil kerjanya

(6)

harus sepadan atau lebih besar dari biaya atau input yang telah ditetapkan. Selain itu harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja setiap organisasi kerja yang terkait. Anggaran merupakan alat penting di dalam penyelenggaran pemerintahan. Adanya keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah menjadi alasan mengapa penganggaran menjadi mekanisme terpenting untuk pengalokasian sumber daya (Arif, 2002).

Safitri (2008) menyatakan bahwa anggaran tidak hanya sebagai rencana keuangan yang menetapkan biaya dan pendapatan pusat pertanggungjawaban dalam suatu perusahaan, tetapi juga merupakan alat bagi manajer tingkat atas untuk mengendalikan, mengkoordinasikan, mengomunikasikan, mengevalusi kinerja, dan memotivasi bawahannya. Anggaran daerah merupakan salah satu alat yang memegang peranan penting dalam rangka meningkatkan pelayanan publik dan didalamnya tercermin kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan potensi dan sumber-sumber kekayaan daerah.

Konsep Anggaran Pemerintah Daerah

Realitas menunjukkan tidak semua daerah mampu untuk lepas dari pemerintah pusat, dikarenakan tingkat kebutuhan tiap daerah berbeda, yang pada akhirnya pemerintah melakukan transfer dana. Transfer dana ini berupa Dana Perimbangan. Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Dana perimbangan adalah pengeluaran alokatif anggaran pemerintah pusat untuk daerah yang ditujukan untuk keperluan pemerintah daerah. Dana Perimbangan ini terdapat berbagai macam, yaitu DAU (Dana Alokasi Umum), DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DBH (Dana Bagi Hasil).

Menurut Mardiasmo (2002) Dana Perimbangan itu ditujukan untuk:

1. Menjamin terciptanya perimbangan secara vertikal di bidang keuangan antar tingkat pemerintahan;

2. Menjamin terciptanya perimbangan secara horizontal di bidang keuangan antar pemerintah di tingkat yang sama; dan

3. Menjamin terselenggaranya kegiatan-kegiatan tertentu di daerah yang sejalan dengan kepentingan nasional. Dana yang biasanya ditransfer dari pemerintah pusat adalah DAU.

Hubungan Keuangan Pusat-Daerah

Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, tujuan suatu kerangka hubungan keuangan pusat-daerah adalah untuk menjelaskan tiga hal pokok, yaitu:

1. Pembagian kekuasaan pemerintahan dalam memungut dan membelanjakan sumber dana pemerintahan, yakni pembagian yang sesuai dengan pola umum desentralisasi;

2. Pembagian yang memadai dari sumber-sumber dana secara keseluruhan untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi, penyediaan pelayanan dan pelaksanaan pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah; dan

3. Distribusi pengeluaran pemerintah secara merata di antara daerah satu dan daerah lainnya.

Pola pembiayaan terhadap wewenang yang dilimpahkan oleh pusat kepada daerah sebagian besar diperoleh dari PAD. Namun kenyataannya dominasi pusat masih terlalu kuat bagi daerah di dalam pembiayaan pembangunan daerah. Salah satu bentuknya adalah dengan pemberian sumber dana yang berkaitan dengan wewenang yang diberikan.

Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan fungsi pelayanan publik di daerah, pemerintah membutuhkan anggaran sebanding dengan kegiatan yang harus dijalankan. Kebutuhan keuangan daerah dapat diperoleh dari PAD dan bantuan atau subsidi dari pemerintah pusat.

(7)

Prospek Keuangan Daerah

Menurut Mardiasmo (2002) prospek keuangan daerah dapat dilihat dari faktor-faktor berikut ini:

1. Sumber-sumber yang belum tergali, yang meliputi sumber daya alam dan sumber-sumber lainnya; dan

2. Sumber-sumber keuangan yang telah digali tetapi belum dioptimalkan secara efektif, juga meliputi sumber daya alam dan sumber-sumber lain.

Realisasi penilaian prospek keuangan daerah ini tidak begitu saja mudah dilakukan. Dari fakta yang telah sering ditemukan terdapat sejumlah kendala yang menghambat pelaksanaan di lapangan. Adapun faktor yang berpengaruh bagi pelaksanan antara lain perangkat daerah, obyek pelaksanaan, dan subyek pelaksanaan.

Guna menyelenggarakan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab diperlukan keuangan dengan menggali sumber-sumber keuangan sendiri yang didukung pula oleh pembagian keuangan antara pusat dan daerah. Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka APBD.

Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab, maka kepada daerah-daerah diberikan hak, wewenang dan kewajiban umtuk dapat mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri agar dapat meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam penyelenggaraan pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dan melaksanakan pembangunan.

Untuk dapat memiliki keuangan yang memadai dengan sendirinya, daerah membutuhkan sumber keuangan yang cukup pula. Dalam hal ini menurut Mardiasmo (2002) daerah dapat memperolehnya melalui beberapa cara, yakni:

1. Pemerintah daerah dapat mengumpulkan dana, dan pajak daerah yang sudah disetujui oleh pemerintah pusat;

2. Ikut ambil bagian dalam pendapatan pajak sentral yang dipungut daerah, misalnya sekian persen dari pendapatan sentral tersebut.

Belanja Daerah

Menurut UU No. 33 Tahun 2004, Belanja Daerah (BD) adalah semua kewajiban daerah

yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pengeluaran belanja berbeda dengan pengeluaran pembiayaan. Perbedaan tersebut terletak pada ada atau tidaknya pengembalian dana yang telah dikeluarkan. Pemerintah daerah tidak akan mendapatkan pembayaran kembali atas pengeluaran belanja yang terjadi, baik pada tahun anggaran berjalan maupun pada tahun anggaran berikutnya. Sedangkan pengeluaran pembiayaan merupakan pengeluaran yang akan diterima kembali pembayarannya pada tahun anggaran berjalan atau pada tahun anggaran berikutnya.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 yang sekarang telah diperbaharui menjadi Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, struktur Belanja Daerah yang digunakan dalam APBD diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi, yaitu:

a. Belanja Operasi;

Adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah daerah yang memberikan manfaat jangka pendek. Belanja Operasi terdiri dari:

(8)

1. Belanja Pegawai;

Adalah belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;

2. Belanja Bunga;

Adalah belanja untuk pembayaran bunga hutang yang dihitung atas kewajiban pokok hutang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang;

3. Belanja Subsidi;

Adalah belanja untuk bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak;

4. Belanja Hibah;

Adalah belanja untuk pemberian hibah dalam bentuk uang, barang, dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukkannya;

5. Belanja Bantuan Sosial;

Adalah belanja untuk pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. b. Belanja Modal;

Adalah pengeluaran yang dianggarkan untuk pembelian atau pengadaan aset tetap dan aset lainnya untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan yang memiliki kriteria masa manfaat lebih dari 12 bulan (1 tahun) , merupakan objek pemeliharaan, jumlah nilai rupiahnya material sesuai dengan kebijakan akuntansi. Belanja modal terdiri dari :

1. Belanja Publik;

Adalah belanja yang manfaatnya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat umum. Belanja publik merupakan belanja modal yang berupa investasi fisik yang mempunyai nilai ekonomis lebih dari satu tahun dan mengakibatkan terjadinya penambahan aset daerah;

2. Belanja Aparatur;

Adalah belanja yang manfaatnya tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakat, tetapi dirasakan langsung oleh aparatur. Belanja aparatur diperkirakan akan memberikan manfaat pada periode berjalan dan periode yang akan datang.

c. Belanja Tak Disangka;

Adalah pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan-kegiatan tak terduga dan kejadian-kejadian luar biasa, contohnya :

1. Kejadian-kejadian luar biasa, seperti bencana alam atau kejadian yang dapat membahayakan daerah;

2. Tagihan tahun sebelumnya yang belum diselesaikan dan/atau yang tidak tersedia anggarannya pada tahun sebelumnya yang bersangkutan;

3. Pengembalian penerimaan yang bukan haknya atau penerimaan yang dibebaskan atau dibatalkan dan/atau kelebihan penerimaan.

Latar Belakang Pemberian Transfer

Menurut Sidik et al. (2002) tujuan pemberian transfer, yaitu: 1. Pemerataan Vertikal (vertical equalization);

Pemerintah Pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama negara. Sedangkan, pemerintah daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak lokal. Kondisi

(9)

ini menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, karena pemerintah pusat begitu mendominasi penerimaan pajak dan sumber daya alam daerah. Akibatnya, daerah dengan sumber daya alam yang melimpah tidak dapat sepenuhnya merasakan hasil kekayaan daerah mereka sendiri. Kondisi inilah yang akan diatasi dengan menggunakan Dana Perimbangan, khususnya Dana Bagi Hasil. Dengan dana perimbangan, daerah penghasil penerimaan akan mendapat porsi yang lebih besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing).

2. Pemerataan Horizontal (Horizontal equlization);

Kemampuan Daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi tergantung kondisi daerah bersangkutan. Hal ini berimplikasi pada kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah yang bersangkutan. Di samping itu, tiap daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang berbeda-beda tergantung pada jumlah penduduk, proporsi penduduk dan keadaan geografis daerah. Hal ini berimplikasi pada bervariasinya kebutuhan fiskal (fiscal need) di daerah-daerah bersangkutan. Selisih antara kebutuhan fiskal dan kemampuan fiskal daerah disebut dengan celah fiskal (fiscal gap). Celah fiskal inilah yang akan ditutup dengan transfer dari pemerintah pusat dalam bentuk DAU.

3. Menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah;

Setiap daerah memiliki kemampuan yang bervariasi dalam menyediakan pelayanan umum untuk masyarakatnya, karena perbedaan sumber daya yang dimiliki oleh tiap daerah. Sementara itu, standar pelayanan minimum untuk tiap pemerintah daerah di Indonesia sama dan harus tetap dijaga. Oleh karena itu pemerintah pusat harus menjamin standar pelayanan umum di tiap daerah dengan memberikan subsidi.

4. Mengatasi persoalan yang timbul dari menyebar atau melimpahnya efek pelayanan publik;

Setiap jenis pelayanan publik yang diberikan pemerintah daerah tertentu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di daerah yang bersangkutan saja. Misalnya, pendidikan tinggi, pemadam kebakaran, jalan raya antar daerah, dan rumah sakit daerah, tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat daerah tertentu saja. Namun tanpa adanya imbalan (dalam bentuk pendapatan), pemerintah daerah biasanya enggan berinvestasi dalam hal tersebut. Oleh karena itu, pemerintah pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayanan-pelayanan publik dapat dipenuhi oleh daerah.

5. Stabilisasi;

Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan transfer sebagai stabilizer pada saat aktivitas ekonomi daerah lesu ataupun pada saat aktivitas ekonomi meningkat. Pada saat aktivitas perekonomian daerah sedang lesu, pemberian transfer dapat ditingkatkan, dan sebaliknya pada saat perekonomian meningkat pemberian transfer dapat dikurangi. Namun, dalam melakukan hal ini diperlukan kecermatan dalam mengkalkulasi penurunan dan peningkatan transfer, dan menentukan saat yang tepat dalam melakukan penurunan dan peningkatan transfer tersebut agar tidak berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi.

Transfer pemerintah pusat kepada daerah dapat dibedakan menjadi bagi hasil (revenue

sharing) dan bantuan (grants). Grants sendiri dapat dikelompokkan menjadi block grant

(besarnya ditentukan berdasarkan formula) dan special grant (ditentukan berdasarkan pendekatan kebutuhan yang sifatnya insidental dan mempunyai fungsi khusus). Dalam dana perimbangan yang diterapkan di Indonesia, Dana bagi hasil berperan sebagai revenue

sharing, Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai block grant dan Dana Alokasi Khusus (DAK)

(10)

Dana Alokasi Umum (DAU)

DAU merupakan dana hibah murni (grants) yang kewenangan penggunaanya diserahkan penuh kepada pemerintah daerah penerima. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan pengertian bahwa DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah, dan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU merupakan sarana untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah yang dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerahnya. Pemberian DAU lebih diprioritaskan pada daerah yang mempunyai kapasitas fiskal rendah dimana daerah tersebut belum mampu memaksimalkan pendapatan asli daerahnya dikarenakan suatu hal. Untuk daerah yang mempunyai kapasitas fiskal tinggi justru akan mendapat jumlah DAU yang lebih kecil, sehingga diharapkan dapat mengurangi ketidakseimbangan fiskal antardaerah dalam menjalani era otonomi sekarang.

Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 menetapkan jumlah kebutuhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBD. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 menambahkan proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. DAU diprioritaskan penggunaannya untuk mendanai gaji dan tunjangan pegawai, kesejahteraan pegawai, kegiatan operasi dan pemeliharaan serta pembangunan fisik sarana dan prasarana dalam rangka peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan umum yang dibutuhkan masyarakat.

Berdasarkan Undang-Undang No.33 Tahun 2004 Dana Alokasi Umum suatu daerah provinsi dan kabupaten/kota dialokasikan berdasarkan formula yang terdiri dari:

1. Celah Fiskal, merupakan kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal;

2. Alokasi Dasar, dihitung berdasarkan jumlah gaji pegawai negeri sipil daerah secara proporsional.

Sebagaimana telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, DAU berperan dalam pemerataan horizontal (horizontal equalization) yaitu dengan menutup celah fiskal (fiscal gap) yang berada diantara kebutuhan fiskal dan potensi ekonomi yang dimiliki daerah. Sehingga kebutuhan DAU suatu daerah merupakan selisih antara kebutuhan daerah dengan potensi penerimaan daerah.

Kebutuhan fiskal daerah dihitung berdasarkan perkalian antara total belanja daerah rata-rata dengan penjumlahan dari perkalian masing-masing bobot variabel dengan indeks jumlah penduduk, indeks luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, indeks pembangunan manusia, dan indeks produk domestik regional bruto per kapita. Sedangkan Kapasitas fiskal daerah merupakan penjumlahan dari Pendapatan Asli Daerah dan Dana Bagi Hasil.

Dana Alokasi Umum atas dasar Celah Fiskal dihitung berdasarkan perkalian bobot celah fiskal masing-masing daerah provinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah Dana Alokasi Umum seluruh daerah provinsi atau Dana Alokasi Umum seluruh kabupaten/kota.

Dana Alokasi Umum atas dasar Alokasi Dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji pegawai negeri sipil daerah secara proporsional termasuk kenaikan gaji pokok, pemberian gaji bulan ke-13 (ketiga belas), dan gaji bagi calon pegawai negeri sipil daerah.

Dalam konsep anggaran berimbang, pemerintah daerah diharuskan menyerahkan anggarannya kepada legislatif sebelum tahun fiskal berjalan, tetapi tidak mengatur bagaimana pengeluaran harus diprioritaskan atau bagaimana komponen-komponen pengeluaran ditentukan.

(11)

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Halim (2002b) dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Sektor Publik-Akuntansi Keuangan Daerah” beliau menyatakan bahwa PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.

Menurut penjelasan Undang-Undang No.33 Tahun 2004 Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain. Pendapatan asli daerah memiliki tujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai mewujudan asas desentralisasi. Adapun kelompok pendapatan asli daerah dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu:

1. Pajak Daerah;

Adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang atau yang dapat dipaksakan. Jenis pajak daerah dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Pajak Daerah Provinsi, yang terdiri dari: 1. Pajak Kendaraan Bermotor;

2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor; 3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan; dan 5. Pajak Rokok.

b. Pajak Daerah Kabupaten/kota, yang terdiri dari: 1. Pajak Hotel dan Restoran;

2. Pajak Hiburan; 3. Pajak Reklame;

4. Pajak Penerangan Jalan;

5. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C; 6. Pajak Parkir;

7. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan; dan 8. Pajak Sarang Burung Walet.

2. Retribusi Daerah;

Adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan, serta mendapat balas jasa langsung. Retribusi dibagi atas tiga golongan, yaitu:

a. Retribusi Jasa Umum, terdiri dari: 1. Pelayanan Kesehatan;

2. Pelayanan Kebersihan dan Persampahan;

3. Penggantian biaya cetak KTP dan akta catatan sipil; 4. Pelayanan Pemakaman;

5. Pelayanan Parkir ditepi jalan umum; 6. Pelayanan Pasar;

7. Pelayanan Air Bersih;

8. Pengujian kendaraan bermotor; 9. Pengujian terhadap kapal perikanan. b. Retribusi Jasa Usaha, terdiri dari:

1. Pemakaian kekayaan daerah; 2. Pasar Grosir atau Pertokoan; 3. Pelayanan Terminal;

(12)

4. Pelayanan tempat khusus parkir; 5. Penginapan atau villa;

6. Rumah potong hewan;

7. Tempat rekreasi dan olahraga; dan 8. Pengelolaan air limbah.

c. Retribusi perizinan tertentu, terdiri dari: 1. Ijin Penggunaan Tanah;

2. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB);

3. Ijin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol; 4. Ijin Gangguan;

5. Ijin Trayek; dan

6. Ijin Pengambilan Hasil Hutan.

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan; antara lain bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD, bagian penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.

4. Penerimaan Lain-lain yang Sah;

Adalah penerimaan yang diperoleh daerah kabupaten/kota di luar pajak, retribusi, bagian laba BUMD. Berikut beberapa contoh yang termasuk penerimaan lain-lain, seperti: a. Hasil penjualan aset milik pemerintah daerah dan jasa giro rekening pemerintah

daerah kabupaten/kota; b. Penerimaan bunga deposito;

c. Denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;

d. Penerimaan gati rugi atas kehilangan/kerugian kekayaan daerah;

e. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; f. Pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD);

g. Pendapatan dari penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan; h. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan; dan

i. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/jasa oleh daerah.

Flypaper Effect

Flypaper Effect atau lebih dikenal dengan efek kertas layang adalah suatu kondisi yang

terjadi saat pemerintah daerah merespon (belanja) lebih banyak dengan menggunakan dana transfer (grants) yang diproksikan dengan DAU dari pada menggunakan kemampuan sendiri, diproksikan dengan PAD (Maimunah, 2006), oleh karena itu flypaper effect dianggap sebagai suatu anomali dalam perilaku rasional jika transfer dianggap sebagai tambahan pendapatan masyarakat (seperti halnya pajak daerah), sehingga harus dibelanjakan dengan cara yang sama pula dengan pendapatan asli daerah.

Fenomena flypaper effect membawa implikasi lebih luas bahwa transfer akan meningkatkan belanja pemerintah daerah lebih besar daripada penerimaan transfer itu sendiri. Anomali yang timbul tersebut menghasilkan dua aliran pemikiran dari para pengamat ekonomi mengenai telaah flypaper effect, yaitu:

1. Model Birokratik (bureaucratic model)

Pemikiran birokratik berpandangan posisi birokrat lebih kuat dalam pengambilan keputusan publik dimana berusaha untuk memaksimalkan anggaran sebagai proksi kekuasaannya. Model birokratik juga menegaskan flypaper effect sebagai akibat dari perilaku birokrat yang leluasa untuk membelanjakan transfer daripada menaikkan pajak (Shinta, 2009).

(13)

2. Model Ilusi Fiskal (fiscal illusion model)

Model ini pertama kali dikemukakan oleh ekonom Italia bernama Amilcare Puviani yang menggambarkan ilusi fiskal terjadi saat pembuat keputusan yang memiliki kewenangan dalam suatu institusi menciptakan ilusi dalam penyusunan keuangan (rekayasa) sehingga mampu mengarahkan pihak lain pada penilaian maupun tindakan tertentu. Maksud dari penjelasan di atas dalam konteks penelitian ini adalah pemerintah daerah melakukan rekayasa terhadap anggaran agar mampu mendorong masyarakat untuk memberikan kontribusi lebih besar dalam hal membayar pajak atau retribusi, dan juga mendorong pemerintah pusat untuk mengalokasikan dana dalam jumlah yang lebih besar. Apabila terdapat respon yang asimetris terkait dengan penerimaan maupun pengeluaran maka dapat diindikasikan terjadi ilusi fiskal (Shinta, 2009).

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah Pemerintahan

Kabupaten Bondowoso. Sedangkan untuk objek penelitiannya adalah PAD, DAU, dan BD pada Laporan Realisasi APBD tahun anggaran 2010, 2011, dan 2012. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sample. Maka data atau informasi yang dikumpulkan harus relevan dengan persoalan yang dihadapi, artinya data itu berkaitan, mengena, dan tepat. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang dikumpulkan dengan metode dokumentasi. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya dan merupakan data yang sudah menjadi referensi serta dipublikasikan. Proses dokumentasi dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan, dan mencatat data-data yang bersumber dari laporan realisasi APBD Pemerintahan Daerah Kabupaten/kota Bondowoso yang diperoleh melalui permintaan tertulis ke pejabat Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

SATUAN KAJIAN

Dana Alokasi Umum (DAU)

Menurut Undang-Undang No.33 Tahun 2004 berasal dari APBN dan dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asil Daerah secara jelas diatur dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Belanja Daerah

Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah disebutkan bahwa Belanja Daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahunan anggaran yang bersangkutan.

Flypaper Effect

Flypaper effect dianggap sebagai suatu anomali dalam perilaku rasional jika transfer

(14)

daerah), sehingga mestinya dihabiskan (dibelanjakan) dengan cara yang sama pula (Hines dan Thaler, 1995).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan suatu target atau sasaran yang akan dicapai oleh pemerintah daerah dalam kurun waktu tertentu, yang di dalamnya terdapat anggaran yang telah ditetapkan mengenai jumlah pendapatan daerah yang harus direalisasikan oleh pemerintah daerah, serta anggaran mengenai belanja daerah yang mencakup program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. APBD tersebut memiliki kecenderungan untuk selalu meningkat pada setiap tahunnya, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena tingkat kebutuhan publik yang terus meningkat pada setiap tahun dan adanya laju inflasi yang tinggi. Hal ini mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan atau melakukan optimalisasi sumber-sumber keuangan daerah agar dapat menutupi kebutuhan pembiayaan daerah serta mengimbangi laju inflasi yang tinggi.

Sumber-sumber keuangan daerah yang harus dioptimalkan dalam hal ini adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan salah satu pendapatan daerah yang mencerminkan tanggung jawab pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah. Dengan melakukan peningkatan pada PAD maka hal tersebut berarti pemerintah daerah telah mampu untuk meningkatkan kemandirian keuangan daerah dan mampu mengurangi ketergantungannya akan sumber-sumber keuangan ekstern. Sedangkan belanja merupakan bagian dari APBD , dimana pemerintah daerah dituntut untuk melakukan penghematan dan efisiensi pada belanja daerah tersebut dan menghindari adanya pemborosan anggaran. Alokasi belanja daerah harus didasarkan pada prioritas daerah, sehingga kebutuhan utama daerah dapat terpenuhi. APBD dalam hal ini diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan kepada publik dan pembangunan untuk meningkatkan perekonomian daerah.

APBD Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1

Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso

Tahun Anggaran 2010-2012

Uraian Tahun 2010 Anggaran Tahun 2011 Anggaran Tahun 2012 Anggaran

PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Rp 787.557.483.000,00 Rp 45.781.983.200,00 Rp 4.750.670.000,00 Rp 31.507.110.100,00 Rp 3.109.360.000,00 Rp 6.414.843.100,00 Rp 945.583.204.323,00 Rp 60.582.172.950,00 Rp6.463.067.000,00 Rp 43.859.512.500,00 Rp 4.564.588,00 Rp 5.695.005.450,00 Rp 1.047.175.047.000,00 Rp 68.082.147.300,00 Rp 7.281.980.000,00 Rp 19.669.189.000,00 Rp 4.962.292.150,00 Rp 36.168.686.150,00 DANA PERIMBANGAN Rp 578.462.856.000,00 Rp 650.347.255.973,00 Rp 780.378.962.100,00

(15)

Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Rp 40.491.762.000,00 Rp 479.819.794.000,00 Rp 58.151.300.000,00 Rp 43.482.413.973,00 Rp593.918.142.000,00 Rp 66.946.700.000,00 Rp 48.103.970.100,00 Rp 666.857.212.000,00 Rp 65.417.780.000,00 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH Pendapatan Hibah Dana Bagi Hasil

Pajak dari Prov. dan PemDa Lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari Prov/PemDa Lainnya Dana Penguatan dan Percepatan Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (DP2D2) Dana Bagi Hasil Retribusi dari Prov. dan PemDa Lainnya Rp 163.332.643.800,00 Rp 1.100.000.000,00 Rp 21.687.660.500,00 Rp 44.972.692.800,00 Rp 57.622.016.500,00 Rp 37.950.274.000,00 Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 234.653.775.400,00 Rp 1.657.500.000,00 Rp 28.271.833.600,00 Rp 138.062.389.800,00 Rp 51.396.655.000,00 Rp 15.265.397.000,00 Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 198.713.937.600,00 Rp 3.563.807.150,00 Rp 30.273.004.450,00 Rp 104.556.096.000,00 Rp 60.321.030.000,00 Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 0,00 BELANJA DAERAH BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan kepada Prov/Kab/Kota dan PemDes dan ParPol Belanja Tak Terduga Rp 830.993.200.420,68 Rp 553.545.358.871,51 Rp 479.718.192.721,39 Rp 163.515.000,00 Rp 0,00 Rp 21.678.700.000,00 Rp 9.412.878.445,12 Rp 39.817.963.205,00 Rp 2.754.109.500,00 Rp 1.035.811.127.474,08 Rp 634.173.929.364,08 Rp 550.590.926.915,00 Rp163.515.000,00 Rp 0,00 Rp 18.629.103.000,00 Rp11.625.928.500,00 Rp 51.122.203.200,00 Rp 2.042.252.749,08 Rp 1.122.663.670.246,28 Rp 690.352.064.505,46 Rp 613.659.691.014,46 Rp 7.768.135,00 Rp 600.000.000,00 Rp 18.123.999.000,00 Rp 2.000.000.000,00 Rp 53.657.637.440,00 Rp 2.302.968.916,00 BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai

Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Rp 277.447.841.549,17 Rp 23.002.639.403,17 Rp 102.632.208.235,00 Rp 151.812.993.991,00 Rp 401.637.198.110,00 Rp 27.190.120.653,17 Rp148.377.295.183,00 Rp 226.069.782.273,83 Rp 432.311.605.740,82 Rp 29.798.316.150,00 Rp 169.323.035.818,00 Rp 233.190.253.772,82

(16)

SURPLUS/ (DEFISIT) (Rp 43.415.717.420,68) (Rp 90.227.923.151,08) (Rp 75.488.623.246,28) PEMBIAYAAN DAERAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya Penerimaan kembali Pemberian Pinjaman Rp 44.182.944.220,68 Rp 41.932.944.220,68 Rp 2.250.000.000,00 Rp 95.995.149.951,08 Rp 94.895.449.951,08 Rp 1.099.700.000,00 Rp 105.517.496.646,28 Rp 105.417.496.646,28 Rp 100.000.000,00 PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) PemDa Pembayaran Pokok Utang Rp 767.226.800,00 Rp 0,00 Rp 500.000.000,00 Rp 267.226.800,00 Rp 5.767.226.800,00 Rp 3.000.000.000,00 Rp 2.500.000.000,00 Rp 267.226.800,00 Rp 30.028.873.400 Rp 17.000.000.000,00 Rp 2.845.000.000,00 Rp 10.183.873.400,00 PEMBIAYAAN NETTO Rp 43.415.717.420,68 Rp 90.227.923.151,08 Rp 75.488.623.246,28 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN BERKENAAN Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 0,00

Sumber: APBD Kab. Bondowoso tahun anggaran 2010-2012

Pendapatan Kabupaten Bondowoso

Pendapatan daerah Kabupaten Bondowoso meliputi semua penerimaan uang melalui rekening Kas Umum Daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah daerah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 menyatakan bahwa pendapatan daerah merupakan hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih daerah dalam periode tahun bersangkutan. Pendapatan daerah Kabupaten Bondowoso terdiri atas:

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD);

Adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah, dan berasal dari sumber-sumber ekonomi asli daerah. Sumber-sumber PAD Kabupaten Bondowoso terdiri dari:

a. Pendapatan Pajak Daerah, yang meliputi pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak parker, PBB, BPHTB, dan pajak air tanah. b. Pendapatan Retribusi Daerah, yang meliputi retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha,

(17)

c. Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, yang meliputi bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah atau BUMD.

d. PAD lain-lain yang sah, yang meliputi penerimaan jasa giro, pendapatan dari pengembalian, fasilitas sosial dan fasilitas umum, dan penjualan asset daerah yang dipisahkan.

2. Dana Perimbangan;

Adalah pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari APBN, dana perimbangan tersebut diberikan dalam rangka untuk menciptakan keseimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terkait dengan pelaksanaan desentralisasi keuangan. Tujuan pemberian ini adalah untuk pemerataan keuangan antar daerah dalam mendanai kebutuhan masing-masing daerah tersebut Sumber-sumber dana perimbangan Kabupaten Bondowoso terdiri dari:

a. Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak; terdiri dari bagi hasil pajak seperti PBB, BPHTB, PPh pasal 21, pasal 25 dan pasal 29 ; bagi hasil bukan pajak atau SDA seperti hak pengusahaan hutan, pungutan hasil perikanan, dan bagi hasil dari pertambangan umum.

b. Dana Alokasi Umum; c. Dana Alokasi Khusus.

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bondowoso pada tahun anggaran 2010 sampai dengan 2012 yang pada dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2

Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bondowoso

Tahun Anggaran 2010-2012

Uraian Anggaran 2010 Realisasi Anggaran 2011 Realisasi Anggaran 2012 Realisasi

PAD Rp 49.663.941.019,39 Rp 66.816.392.275,09 Rp 77.846.177.656,73 Pendapatan Pajak Daerah Rp 6.156.076.823,00 Rp 9.092.480.799,00 Rp 10.079.064.406,00 Hasil Retribusi Daerah Rp 34.468.356.419,13 Rp 15.553.447.295,00 Rp 19.908.881.115,00 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Rp 3.109.360.267,70 Rp 4.564.588.193,73 Rp 4.962.292.187,80 Lain-lain Pendapatan

Asli Daerah yang Sah Rp 5.930.147.509,56 Rp 37.605.875.987,36 Rp 42.895.939.947,93 Sumber: LRA Kab. Bondowoso tahun anggaran 2010-2012

Berdasarkan tabel 2 diatas, dapat diketahui bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bondowoso pada tahun anggaran 2010 sampai dengan tahun anggaran 2012 mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, PAD Kabupaten Bondowoso sebesar Rp 49.663.941.019,39 atau 108,48% dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan menjadi Rp 66.816.392.275,09 atau 110,29% serta kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 77.846.177.656,73 atau 114,34% pada tahun 2012. Hal tersebut menunjukkan adanya upaya dari Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan potensi pendapatan asli daerahnya dengan cara mengoptimalkan sumber-sumber keuangan untuk membiayai kebutuhan

(18)

daerah yang semakin meningkat, dan melaksanakan pembangunan daerah, serta pelayanan publik dengan menggunakan PAD.

Pada tabel 2 tersebut juga dapat diketahui bahwa PAD Kabupaten Bondowoso yang paling dominan pada tahun 2010 berasal dari hasil retribusi daerah, sedangkan pada tahun 2011 dan 2012 terjadi pergeseran proporsi pendapatan, dimana PAD Kabupaten Bondowoso yang paling dominan adalah lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pergeseran tersebut disebabkan karena adanya perubahan peraturan pemerintah daerah pada tahun 2009 dimana pendapatan retribusi daerah, khususnya yang berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU) dialihkan menjadi lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, sehingga hasil retribusi daerah menjadi kecil dibandingkan tahun 2010. PAD yang memberikan kontribusi paling kecil berasal dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, hal ini karena investasi yang dilakukan pemerintah daerah pada BUMD masih kecil, sehingga penerimaannya tidak terlalu besar. Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten Bondowoso tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut:

SIMPULAN DAN KETERBATASAN Simpulan

Simpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. (2) kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. (3) komisaris independen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.(4) komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. (5) tidak terdapat dampak earning management pada pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan. (6) tidak terdapat dampak earning management pada pengaruh kepemilikan manjerial terhadap nilai perusahaan. (7) terdapat dampak earning

management pada pengaruh komisaris independen terhadap nilai perusahaan. (8) terdapat

dampak earning management pada pengaruh komite audit terhadap nilai perusahaan.

Keterbatasan

Keterbatasan utama yang terdapat dalam penelitian ini adalah bahwa data corporate

governance menggunakan data pada tahun yang sama dengan nilai perusahaan, sehingga

mungkin belum dirasakan efek dari praktek corporate governance pada perusahaan sampel. Untuk penilitian selanjutnya yang serupa dapat mengembangkan variabel penelitian, mengurangi kekurangan yang terjadi, dan dapat menjelaskan lebih menyeluruh tentang penelitiannya Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menambah periode penelitian lebih dari tiga tahun, standarnya menggunakan amatan empat tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Balsam, S., E. Bartov, dan C. Marquardt. 2002. Accrual Management, Investor Sophisticated, and

Equity Valuation: Evidence from 10-Q Fillings. Journal of Accounting Research Vol.40

No.4: 987-1012.

Barnhart, S. dan S. Rosentein. 1998. Board Composition, Managerial Ownership and Firm

Performance: An Empirical Analysis. The Financial Review; November 1998: 33-34.

Boediono, S. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Makalah

(19)

Darmawati, D. 2004. Hubungan Corporate Governance Dan Kinerja perusahaan. Simposium

Nasional Akuntansi VII Denpasar. 2-3 Desember 2004: 391-407.

Dechow, P., R.G. Sloan, and A.P. Sweeney. 1996. Causes and Consequences of Earnings Manipulation: An Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by SEC.

Contemporary Accounting Research Vol. 13 No.1: 1-36.

Effendi, M. 2009. The power of Good Corporate Governance Teori dan Implementasi. Salemba Empat. Jakarta.

Heally, P.M. dan J.M. Wahlen. 1999. A Review of The Earnings Management Literature and its

Implication for Standard Setting, Accounting Horizon (December): 365-383.

Herawaty, V. 2008. Peran Praktek Cotporate Governance sebagai Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Riset Akuntansi

Indonesia Volume 10. 2: 97-108.

Isnanta, R. 2008. Pengaruh Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Skripsi. Universitas Islam Indonesia.Yogyakarta.

Jensen, M.C. dan W.H. Meckling. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behaviuor, Agency Cost and Ownwership Structure. Journal of Financial Economics 3: 305-360.

Jiambavo, J. 1996. Discussion of Causes and Consequenses of Earnings Manipulation.

Contemporary Accounting Research Volume 13: 37-47.

Klapper, L.F. dan I. Love. 2002. Corporate Governance, Investor Protection and Performance in Emerging Market. World Bank Working Paper. http:// ssrn. com.

Ma’ruf, M. 2006. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Manajemen Laba pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Jakarta. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. http://doc-08-94-docsviewer.googleusercontent.com. 24 Agustus 2010.

Midiastuty, P.P. dan M. Machfoed. 2003. Analisa Hubungan Mekanisme Corporate Governanace dan Indikasi Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi VI. IAI, 2003.

Scott, W.R. 2006. Financial Acconting theory. 4th Edition. Canada Inc : Pearson Education.

Shleifer, A. dan R.W. Vishny. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of Finance Volume 52.2: 737-783.

Siallagan. dan Machfoedz. 2006. Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi IX Padang. 23-26 Agustus 2006

Siregar, S.V. dan S. Utama. 2005. Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktik Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management).

Simposium Nasional Akuntansi VIII IAI, 2005.

Sulistyanto, H.S. dan H. Wibisono. 2008. Good Corporate Governance: Berhasilkan Diterapkan di Indonesia.

Sulistyanto, H.S. 2008. Manajemen Laba: Teori dan Model Empiris. Grasindo. Jakarta.

Ujiyantho, M.A. dan B.A. Pramuka. 2007.Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional akuntansi X: 1-24.

Utama, S. 2003. Corporate Governance, Disclosure and its Evidence in Indonesia. Studi

Empiris di BEJ. Usahawan no.04 th XXXII: 28-32.

Wahyudi, U. dan H.P. Pawestri. 2006. Implikasi Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan dengan Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening. Simposium

Nasional Akuntansi IX: 1-25.

Watfield, T.D., J.J. Wild, dan K.L. Wild. 1995. Managerial Ownership, Accounting Choices, and Informativesness of Earning. Journal of Accounting and Economics 20: 61-91.

(20)

Wedari, L.K. 2004. Analisis Pengaruh Dewan Komisaris dan Keberadaan Komite Audit Terhadap Aktivitas Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi VII Denpasar: 963-974.

Wild, J.J. dan T.D. Watfield. 2008. Managerial owner ship, Accounting Choices, and Informativeness of earnings. Journal of Accounting economics 20 (1).

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari lapisan troposfer yaitu adalah menyeimbangkan suhu udara yang ada diluar dengan didalam bumi, ternyata temperature di lapisan ini tidak konstan.. Inilah yang

PROGRAM STUDI D-III AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.. MEDAN

Tuliskan Program 6.1 berikut ini pada editor Dev-C++ (program ini merupakan program untuk mencari nilai terbesar dari 3 buah bilangan yang diinput).. Program 6.1 di

Tidak ada hubungan kadar kolesterol dengan kualitas hidup pasien PGK dengan HD, artinya penderita PGK HD rutin yang kualitas hidupnya rendah banyak yang memiliki kadar kolesterol

Untuk mendukung hal tersebut maka perlu dilakukan studi untuk mengevaluasi pengaruh suhu perebusan dan ketebalan finir pada sifat fisis dan retak kupas sebagai

Pembelajaran merupakan interaksi antara siswa sebagai peserta didik dengan guru sebagai pendidik. Perwujudan keberhasilan proses pembelajaran diperlukan adanya motivasi

Angket (kuesioner) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna (Akdon dan Hadi,

Dengan menerapkan prioritas pada berbagai kelas dari trafik, teknik congestion management akan mengoptimalkan aplikasi bisnis yang kritis atau delay sensitive untuk dapat