• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Sektor perbankan merupakan sektor ekonomi yang memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian nasional. Bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana kepada masyarakat dalam berbagai alternatif investasi merupakan salah satu sumber risiko terbesar bagi perekonomian Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut bank sebagai lembaga intermedasi dituntut untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi usahanya sehingga mampu bersaing secara sehat dalam pasar yang makin kompetitif.

Kondisi kesehatan bank sebagai bagan usaha di bidang jasa yang bertopang sebagai lembaga kepercayaan menjadi penting bagi semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun bank Indonesia selaku pengawas dan pembina bank.

Krisis perbankan pada tahun 1997 telah meluluh lantahkan kondisi perbankan nasional. Memburuknya kondisi perbankan pada awal krisis tersebut ditandai dengan memburuknya kualitas kredit yang tercermin dalam rasio Non Performing Loan (NPL) perbankan tidak berjalan dengan baik sehingga tidak mampu menggerakan pertumbuhan perekonomian nasional. Menurut Soedrajat Djiwandono (2001:53), yang dikutip dalam majalah Info Bank, dampak krisis ekonomi terhadap industri perbankan yaitu pada bulan Agustus 1997 telah ada sejumlah bank yang menghadapi masalah kekurangan modal dan menghadapi mitsmatch likuidasi harian secara kronis. Bank-bank tersebut bermasalah yang timbul karena antara lain besarnya kredit bermasalah.

Disisi kelembagaan jumlah bank umum Indonesia memang tidak sebanyak sebelum krisis, banyak yang sudah meninggalkan gelanggang perbankan baik karena dibekukan kegiatan usahanya, dilikuidasi maupun atas kehendak pemegang saham bank itu sendiri , sebagian lagi melakukan merger menjadi bank

(2)

yang didirikan pasca krisis sehingga boleh dikatakan telah menjadi konsolidasi dalam industri perbankan.

Menurut kajian biro riset info bank, saat ini kinerja keuangan perbankan Indonesia mulai membaik, hal ini tersebut terlihat dari rating terhadap 132 bank yang dilakukan oleh Biro Riset Info Bank tahun 2005 berdasarkan kinerja keuangan bank, bahwa bank-bank yang mendapat predikat bagus berjumlah 96 bank padahal tahun sebelumnya hanya ada 83 bank yang mendapat predikat sangat bagus.

Perkembangan positif perbankan tersebut perlu untuk terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk mencapai perbankan yang sehat, kuat dan efisien sehingga dapat mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Namun dengan adanya perkembangan positif tersebut perbankan masih harus berhati-hati terhadap sejumlah tekanan laten yang akan mengancam perbankan diantaranya adalah adanya tekanan kredit bermasalah (NPL), rendahnya kapasitas kredit dan turunnya suku bunga SBI.

Walaupun saat ini kondisi perbankan lebih baik namun ancaman kredit masih menghantui perbankan Indonesia. Hal ini mengingat bahwa kemampuan para pengusaha belum pulih, selain pemberian kredit tidak lepas dari risiko tidak kembalinya pinjaman tersebut. Jika risiko kredit bermasalah ini tidak cepat ditanggulangi akan memakan modal perbankan sehingga menurunkan tingkat kecukupan modalnya (CAR).

Apabila dikilas balik, salah satu penyebab krisis perbankan adalah pemberian pinjaman kepada pihak yang terkait (group leading) sampai melanggar Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sehingga mengakibatkan memburuknya Non Performing Loan (NPL), yang berdampak pula pada permasalahan likuiditas.

Pada pertengahan Mei 2005, perbankan Indonesia kembali dihantam badai yaitu kasus kredit macet yang menimpa Bank Mandiri yang merupakan bank BUMN terbesar. Bercermin dari hal tersebut, perbankan Indonesia harus tetap waspada terhadap risiko kredit dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential credit) meskipun kinerja perbankan mulai membaik dengan tetap

(3)

menjaga NPL sesuai dengan ketentuan BI yaitu 5% dan melakukan pengelolaan kredit yang baik dengan tidak hanya mengejar laba yang tinggi dan memperbesar LDR agar kualitas kredit tetap baik.

Penyaluran dan dalam bentuk kredit merupakan salah satu kegiatan utama bank dimana kredit yang disalurkan oleh bank merupakan bagian terbesar dari asset yang dimiliki oleh bank yang memiliki risiko sangat besar sehingga dapat mengakibatkan kehancuran bank.

Bisnis bank merupakan bisnis kepercayaan, jika suatu bank tidak berhasil mempertahankan atau meningkatkan kepercayaan yang diberikan oleh nasabahnya, maka bank tersebut tidak akan berkembang dan bertahan dalam dunia masyarakat sehingga peran pengamanan dana masyarakat yang dititipkan ke bank merupakan prioritas utama untuk diamankan.

Pendapatan yang berasal dari penerimaan bunga kredit merupakan sumber pendapatan terbesar bagi bank, apabila pemberian kredit berjalan lancar maka bunga kredit akan meningkat. Namun seandainya kredit kurang dikelola dengan baik maka akan banyak kredit bermasalah (NPL) yang mengakibatkan menurunnya pendapatan bunga bank serta menurunnya pengembalian pokok kredit yang pada gilirannya bank akan menderita kerugian dan bahkan mungkin akan mengalami kebangkrutan. Sedangkan jika kredit dikelola dengan baik, maka penerimaan pendapatan bank yang berasal dari bunga akan meningkat sehingga kredit bermasalah jumlahnya sedikit, akibatnya bank akan tumbuh dengan baik dan secara makro akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam usahanya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan menghadapi persaingan yang semakin kompetitif, pihak bank berusaha melakukan ekspansi kredit, akan tetapi akibat dari pemberian kredit yang terlalu ekspantif, banyak yang mengalami masalah kredit macet semakin besar kredit yang diberikan maka akan semakin besar pula risiko tidak lancarnya pengembalian kredit oleh debitur. Agar risiko yang ditanggung relatif kecil dan diperoleh keuntungan yang optimum maka pemberian kredit perlu direncanakan terlebih dahulu.

(4)

Dalam melakukan ekspansi kredit, perbankan perlu menerapkan prinsif kehati-hatian dalam setiap langkah dan kebijakannya, disamping BI sudah mulai secara terbuka menghendaki perbankan lebih ekspantif melalui berbagai kebijakan khususnya paket Januari 2005, yang diantaranya memberikan beberapa kelonggaran ketentuan Batas Pemberian Maksimum Kredit (BMPK) untuk kredit diprioritaskan pemerintah dan kebijakan suku bunga yang relatif rendah.

Selama ini bank-bank lebih terbiasa menyalurkan kredit ke sektor corporate. Namun kini ketika bank-bank sudah mulai tidak menjadi bagian dari group bisnis, bank-bank mulai menyalurkan kredit konsumsi dan menyalurkan kredit untuk sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Namun meskipun risiko kredit UKM relatif lebih kecil, bank harus tetap waspada terhadap risiko kredit bukan tidak mungkin kredit UKM dan kredit konsumsi masih potensial mendatangkan bencana bagi bank karena kondisi makro, khususnya dunia usaha masih dilanda ketidakpastian dan buruknya lingkungan investasi yang tidak mendukung.

Menurut ketentuan BI, kredit dikategorikan kredit bermasalah (NPL) bila posisi kredit tersebut kurang lancar, diragukan atau macet. Untuk itu agar risiko yang timbul dapat diantisipasi sesegera mungkin dan tidak meluas diperlukan suatu penilaian yang independen melalui pelaksanaan audit operasional dengan pendekatan audit berbasis risiko (Risk Based Audit) dalam bank yang bersangkutan untuk memeriksa dan mengevaluasi kegiatan operasional bank. Dimana fungsi penilaian independen ini dilakukan oleh Satuan Kerja Audit Internal (SKAI). ini menjadikan fungsi untuk mengevaluasi manajemen risiko, pengendalian intern dan corporate governance.

Pemeriksaan intern yang bertugas melakukan audit operasional harus berpatokan pada norma-norma pemeriksaan yang terdiri dari norma umum pemerikasaan, norma pelaksanaan pemerikasaan, norma pelaporan pemeriksaan dan norma tindak lanjut pemeriksaan. Norma-norma pemeriksaan ini merupakan patokan yang menjadi dasar untuk pengukuran mutu dari audit operasional memenuhi syarat yang cukup tinggi dan hasil audit operasional pantas untuk penyampaian saran dan rekomendasi kepada manajemen.

(5)

Audit operasional bidang kredit yang dilakukan oleh SKAI bertujuan mengevaluasi efektivitas pengelolaan kredit apakah praktek dan prosedur pengelolaan kredit telah berjalan secara efektif dan efisien, dimana kebutuhan ini tidak terpenuhi oleh financial audit. Disamping itu audit operasional dilakukan untuk mengetahui lebih dini risiko kegagalan kredit sehingga risiko tersebut dapat ditekan seminimal mungkin, yang disertai pemberian rekomendasi untuk dilakukan tindak lanjut perbaikan.

Rekomendasi atas temuan pemeriksaan operasional terhadap bidang kredit merupakan masukan yang diberikan kepada manajemen untuk mengambil tindakan korektif atau perbaikan yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam pengelolaan kredit.

Dengan adanya rekomendasi tersebut dapat membantu manajemen dalam meningkatkan kinerjanya terutama dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan kredit melalui tindakan-tindakan perbaikan. Dengan demikian tingkat risiko kredit bermasalah dapat ditekan sekali/mungkin sehingga hal tersebut berdampak pada menerunnya rasio non performing loan dan secara keseluruhan tingkat kesehatan perbankanpun meningkat.

Penelitian ini meneliti dan menganalisa rekomendasi atas temuan audit operasional pada bidang kredit terhadap tingkat non performing loan yang merupakan salah satu indikator kinerja keuangan bank dalam hal kualitas aktiva produktif atas kredit yang diterbitkan oleh Bank.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian :

“ Pengaruh Rekomendasi Temuan Audit Operasional Terhadap Tingkat Non Performing Loan NPL ”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Apakah rekomendasi atas temuan audit operasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat non performing loan Bank X?

(6)

2. Berapa besar pengaruh rekomendasi atas temuan audit operasional terhadap tingkat non performing loan pada Bank X ?

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisa dan menjelaskan pengaruh rekomendasi atas temuan audit operasional terhadap tingkat non performing loan pada Bank X.

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan rekomendasi atas temuan audit operasional terhadap tingkat non performing loan pada Bank X.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh rekomendasi atas temuan audit operasional terhadap tingkan non performing loan pada Bank X

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis diharapkan dapat memberi manfaat dan berguna bagi pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan dengan masalah-masalah yang diteliti. Beberapa pihak yang dapat mengambil manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi perusahaan yang diteliti

Penelitian ini memberikan gambaran kondisi perusahaan khususnya penelitian ini dapat memberikan gambaran dapat digunakan sebagai masukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam mengelola perusahaan khususnya bidang kredit di masa yang akan datang agar hasil yang dicapai lebih baik dari sebelumnya.

2. Bagi pembaca

Dalam adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memberikan tambahan informasi serta bisa menjadi referensi bagi peneliti berikutnya dalam melakukan penelitian lebih lanjut.

(7)

3. Bagi penulis

Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai rekomendasi atas temuan audit operasional dan pengaruhnya terhadap tingkat Non Performing Loan serta dapat melatih pola berfikir secara sistematis sehingga dapat menyusun suatu laporan berdasarkan hasil penelitian.

1.5 Kerangka Pemikiran

Pengertian Bank menurut UU No.18 tahun 1998 tentang perbankan adalah :

“ Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”

Peranan bank sebagai lembaga keuangan tidak pernah lepas dari masalah kredit. Kredit yang disalurkan oleh bank merupakan bagian terbesar dari assets yang dimiliki oleh bank. Dalam kondisi yang normal kredit dapat mencapai 70% sampai 90% dari assets bank. Oleh karena itu aktivitas perkreditan merupakan tulang punggung atau kegiatan utama bank.

Menurut UU No. 10/1998 (pasal 21 ayat 11), pengertian kredit adalah sebagai berikut :

“ Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”

Saat ini kredit yang disalurkan masih menjadi sumber pendapatan dan keuntungan bank terbesar. Disamping itu kredit juga merupakan jenis kegiatan mananamkan dana yang sering menjadi penyebab utama bank menghadapi masalah besar sehingga stabilitas usaha bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan bank dalam mengelola kredit. Kredit akan menghasilkan keuntungan bagi bank apabila dikelola secara optimal, sebaliknya akan merugikan seandainya kredit yang disalurkan bermasalah. Oleh karena itu pengelolaan kredit harus dilakukan yang sebaik-baiknya, mulai dari perencanaan jumlah kredit, penentuan suku

(8)

bunga, prosedur pemberian kredit, analisis pemberian kredit sampai kepada pengendalian kredit.

Mengingat pentingnya kredit kegiatan perkreditan bagi perbankan, maka pengelolaan kredit hendaknya memperhitungkan risiko yang mungkin timbul yaitu kegagalan pengambilan sebagai kredit yang diberikan dan kredit bermasalah sehingga mempengaruhi pendapatan bunga yang pada akhirnya mengakibatkan bank tersebut tidak sehat.

Menurut Dahlan Siamat (2004:175), kredit bermasalah atau non performing loan dapat diartikan sebagai :

“ Pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan dan atau faktor eksternal di luar kemampuan kendali debitur.”

Secara garis besar kredit digolongkan menjadi dua bagian yaitu kredit lancar dan kredit bermasalah. Kredit lancar akan menghasilkan keuntungan bagi bank, maka kredit bermasalah sebaliknya akan merugikan bank. Sesuai dengan SK Dir. BI No.30/267/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998 perihal kualitas aktiva produktif, kredit bermasalah adalah kredit yang digolongkan dalam kolektibilitas Kurang Lancar(KL), Diragukan(D) dan Macet(M).

Menurut Rachmat Firdaus (2004:35), kredit bermasalah tersebut disebabkan antara lain oleh :

1. Risiko usaha 2. Risiko geografis

3. Risiko keramaian/keamanan

4. Risiko politik/kebijakan pemerintah 5. Risiko ketidakpastian

6. Risiko inflasi dan 7. Risiko persaingan

Untuk mengantisipasi risiko-risiko yang timbul dan mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi lebih dini, manajemen membutuhkan pengawasan dini agar pengelolaan kredit berjalan dengan baik. Salah satunya dengan melakukan monitoring dan review terhadap kredit berjalan. Dan yang tidak kalah pentingnya diperlukan suatu penilaian yang independen dari

(9)

bagian–bagian operasional lainnya dimana bagian-bagian ini secara periodik memeriksa, melaporkan temuan-temuan dengan membuat rekomendasi dan meyakini apakah tindakan korektif telah dilaksanakan. Dimana pemeriksaan atau audit operasional tersebut dilakukan oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).

Audit operasional ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan audit berbasis risiko, dimana pendekatan ini menekankan pada risiko bisnis/usaha dan proses pengendalian risiko sehingga akan menambah nilai bagi opersional bank dengan menekankan pada audit bidang kredit yang memiliki risiko tinggi dimana peran dan fungsi SKAI ini mengacu pada Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. SPFAIB ini dikeluarkan sebagai upaya untuk menciptakan bank sehat.

Audit operasional dengan pendekatan audit berbasis risiko dilaksanakan untuk memberikan keyakinan yang lebih tinggi terhadap efektifitas kegiatan perbankan terutama dalam mengelola risiko. Dimana tujuan utamanya adalah untuk memberikan jasa kepada manajemen yang bersifat protektif dan konstruktif. Audit oprasional dilaksanakan untuk menilai efisiensi dan efektifitas seluruh atau sebagian dari operasi perusahaan yang disetujui dengan pemberian rekomendasi kepada manajemen berdasarkan temuan-temuan auditnya.

Hasil audit ini berupa rekomendasi yang diharapkan akan ada tindakan korektif untuk mengatasi ketidakefektifan dan ketidakefisienan tersebut, karena masalah kredit merupakan masalah yang sensitif sekali terhadap kemungkinan dari penyelewengan kredit sebagai kegiatan pokok perbankan.

Setiap temuan yang menyangkut penyimpangan dan risiko, sebelum dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan harus dikomunikasikan kepada pihak manajemen apakah manajemen menyetujui atau tidak untuk dilakukan tindak lanjut perbaikan.

Suatu proses yang paling penting dalam pemeriksaan operasional adalah pengembangan temuan-temuan untuk dikomunikasikan kepada manajemen dan pemberian rekomendasi pada manajemen untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemukan selama pemeriksaan operasional. Menurut Irsan Yani (1990:125) dalam petunjuk pemeriksaan operasional, dikatakan bahwa :

(10)

“ Temuan atau finding diartikan sebagai himpunan dan sintesis informasi – informasi mengenai kegiatan, organisasi, kondisi atau hal-hal yang telah dianalisa atau dinilai serta diperkirakan akan menarik atau berguna bagi pejabat yang berwenang atau untuk petugas-petugas instansi atau organisasi lainnya.”

Pada umumnya dalam tahap pengembangan temuan diakhiri dengan rekomendasi yang diberikan kepada manajemen untuk melaksanakan tindakan korektif atas penyimpangan atau kelemahan yang ditemukan dalam pemeriksaaan operasional. Menurut Hiro Tugiman (1997:73) rekomendasi dibuat dengan tujuan untuk meminta tindakan guna perbaikan terhadap keadaan yang ada atau meningkatkan operasi.

Dalam rekomendasi dapat disarankan berbagai pendekatan yang diperlukan untuk memperbaiki atau meningkatkan pelaksanaan kegiatan. Saran tersebut digunakan sebagai pedoman bagi manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Rekomendasi auditor merupakan pendapat auditor yang telah dipertimbangkan mengenai situasi tertentu dan harus mencerminkan pengetahuan dan penilaian auditor mengenai pokok permasalahannya dalam arti apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Rekomendasi harus dirancang sedemikian rupa guna memperbaiki kondisi yang memerlukan perbaikan.

Suatu perusahaan dinilai baik apabila rekomendasi yang diberikan oleh auditor operasional dalam hal ini Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) ditindaklanjuti. Semakin banyak rekomendasi yang ditindaklanjuti maka semakin cepat pula perusahaan tersebut kembali kaepada tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Hiro Tugiman (1997:75) pengertian tindak lanjut oleh pemeriksa internal didefinisikan sebagai :

“Suatu proses untuk menentukan kecukupan, keefektifan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan pemeriksaan yang dilaporkan.”

Meskipun audit operasional telah direncanakan dengan baik sesuai standard dan pelaksanaan sesuai prosedur yang telah ditetapkan, audit operasional yang dilakukan tersebut tidak akan memberikan kontribusi bagi peningkatan

(11)

keefektifan audit operasional jika temuan pemeriksaan yang menghasilkan rekomendasi tidak mendapat respon dari manajemen dan tidak ditindak lanjuti oleh pihak manajemen bank. Oleh karena itu maka dalam setiap pemeriksaan yang dilakukan terus menerus meninjau tindak lanjutnya untuk memastikan bahwa rekomendasi atas temuan audit operasional yang telah dilaporkan dalam LHP telah dilakukan tindakan yang tepat.(SPIA;1997:75).

Apabila rekomendasi yang diberikan oleh SKAI sebagai hasil dari audit operasional pada bidang perkreditan tindak lanjut oleh manajemen, maka rekomendasi atas temuan audit yang diberikan tersebut akan memberikan konstribusi positif bagi bank dalam mengantisipasi risiko kegagalan perkreditan bank tersebut yang salah satunya adalah terjadinya kredit bermasalah yang tercermin dalam kinerja keuangan bank yaitu rasio non performing loan-nya.

Dalam melakukan penelitian ini penulis mengambil rujukan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dina Kristina dari Universitas Padjajaran pada tahun 2004 dengan judul “Pengaruh Tindak Lanjut Temuan Audit Internal Bidang Kredit Terhadap Tingkat Non Performing Loan(NPL)”.(Studi kasus pada Bank Niaga Cabang Bandung). Hasil penelitian uji hipotesis sebelumnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat non performing loan.

Berdasarkan uraian tersebut penulis mengemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut :

“ Rekomendasi atas temuan audit operasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap non performing loan.”

1.6 Metodologi Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian studi kasus dengan tahap penelitian deskriptif analitis, yaitu menggambarkan keadaan tertentu pada saat sekarang ini. Untuk megumpulkan data yang berhubungan dengan masalah yang dibahas, maka ditempuh melalui berbagai cara, yaitu:

(12)

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung oleh penulis ketempat objek penelitian yaitu Kantor Cabang Bank X guna memperoleh data-data yang dibutuhkan dengan menggunakan cara :

a. Kuesioner

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan daftar pertanyaan yang bersangkutan dengan masalah kepada responden dengan tujuan untuk memperoleh data-data yang dapat mendukung penelitian ini.

b. Wawancara

Yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan tanya-jawab secara lisan dengan pihak-pihak yang berwenang dan terkait dengan masalah dalam penelitian ini.

c. Observasi

Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan peninjauan langsung pada perusahaan yang dijadikan objek penelitian oleh penulis.

2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Yaitu penelitian dengan cara mempelajari berbagai literatur, majalah, dan laporan serta sumber-sumber lain yang mempunyai hubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini, untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan yang akan dijadikan landasan teori dalam penelitian ini.

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Cabang Bank X Jln. Raya Cimahi No.589. Adapun waktu penelitian dilaksanakan sekitar bulan Juni 2006 s.d selesai.

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara

Sedangkan ahli linguistik Jepang, Matsumura (2001: 221) dalam Kokugo Jiten menyatakan bahwa idiom adalah dua kata atau lebih yang digabungkan dan tidak bisa diartikan

Hipokalemia yang berat (kadar kalium dalam serum < 3 mmol/L) juga dapat Hipokalemia yang berat (kadar kalium dalam serum < 3 mmol/L) juga dapat ditemukan

Melakukan analisa kebutuhan sebelum melaksanakan kunjungan rumah pada  bayi baru lahir resiko tinggi yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan untuk menunjang

Keadaan ini disebabkan oleh spasme pembuluh darah koroner yang sudah aterosklerotik, tetapi juga dapat timbul karena spasme pembuluh darah koroner yang normal.. Angina

Terdapat juga aplikasi “Penerapan Teknologi Augmented Reality bangun ruang dengan menggunakan metode Marker Based berbasis Android” yang dibuat oleh Muhammad Ismail,

Number of Traffic Accidents, Victims, and Material Lost by Resort Police, 2009……… 145 5.3.7 Jumlah Kriminalitas yang dilaporkan ke POLRES/POLRESTA menurut Jenis. Kriminalitas