• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. Tinjauan Pustaka. (Nuzula dan Wusko,2013). Begitu pula (Schiffman dan Kanuk, 2010)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II. Tinjauan Pustaka. (Nuzula dan Wusko,2013). Begitu pula (Schiffman dan Kanuk, 2010)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

9 2.1.1 Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah perilaku yang ditujukan oleh konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan mengonsumsi produk, jasa atau ide yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (Nuzula dan Wusko,2013). Begitu pula (Schiffman dan Kanuk, 2010) mengemukakan bahwa studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha, dan energi), pendapat ini juga sesuai yang dikemukakan oleh (Hasan, 2008) perilaku konsumen merupakan respon psikologi yang kompleks, yang muncul dalam bentuk perilaku atau tindakan yang khas secara perseorangan yang langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan produk, serta menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian produk, termasuk dalam melakukan pembelian ulang.

Berdasarkan beberapa definisi tentang perilaku konsumen yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah perilaku sesorang yang berkaitan dengan proses pencarian, pemilihan, pembelian serta penggunaan produk demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.

(2)

2.1.2 Faktor-faktor Perilaku Konsumen

faktor-faktor utama yang melandasi perilaku konsumen (Setiadi,2008) yaitu:

1. Faktor Budaya

Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang mendasar yang terdiri dari kumpulan nilai preferensi dan perilaku. Faktor budaya meliputi :

a. Kebudayaan

Kebudayaan adalah faktor penentu paling pokok dari keinginan dan perilaku seseorang. Perilaku seseorang terbentuk ketika masih anak-anak yang memperoleh serangkaian tata nilai, persepsi,preferensi dan perilaku melalui keluarganya dan lembaga-lembaga lainnya. Sehingga perilaku antara seorang yang tinggal didaerah tertentu dapat berbeda dengan orang lain yang berada dilingkungan lain pula. Sehingga Pemasar sangat berkepentingan untuk menyediakan produk yang diinginkan konsumen.

b. Sub Budaya

Setiap budaya terdiri dari sub-sub budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi anggotanya yang lebih spesifik. Sub budaya meliputi kewarganegaraan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub budaya membentuk segmen pasar yang penting, dan para pemasar sering merancang produk dan program pemasaran sesuai kebutuhan mereka.

c. Kelas Sosial

Kelas sosial adalah susunan masyarakat yang relatif permanen dan teratur yang anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidak

(3)

ditentukan oleh faktor tunggal seperti pendapatan tetapi diukur sebagai kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan variabel lainnya.

2. Faktor Sosial

faktor yang dipengaruhi oleh orang-orang disekitar , meliputi : a. Kelompok

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kelompok kecil. Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu maupun bersama. Kelompok dapat mempengaruhi pilihan produk dan merek yang akan dipilih oleh seseorang.

b. Keluarga

Anggota keluarga merupakan kelompok primer yang paling berpengaruh terhadap perilaku pembelian. Orientasi keluarga adalah keluarga yang terdiri dari orang tua yang memberikan arah dalam hal tuntunan agama dan politik, ekonomi,dan harga diri. Sehingga dengan memahami dinamika pengambilan keputusan dalam suatu keluarga, pemasaran dapat dibantu dalam menetapkan strategi pemasaran yang terbaik bagi anggota keluarga yang tepat.

c. Peran dan Status

Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat ditentukan dari segi peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.

3. Faktor Pribadi

Faktor pribadi menjadi dasar seseorang dalam bertingkah laku dalam masyarakat ataupun lingkungan sekitar. Faktor pribadi meliputi:

(4)

a. Usia

Usia sangat mempengaruhi perilaku konsumen. Antara anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa memiliki perilaku yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tingkat usianya.

b. Pekerjaan

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Dengan demikian pemasar dapat mengidentifikasi kebutuhan kelompok sesuai dengan pekerjaan tertentu.

c. Situasi Ekonomi

Situasi ekonomi sangat mempengaruhi pilihan produk. Pemasar harus peka mengamati tren pendapatan, tabungan pribadi, dan tingkat bunga. Ketika indikator-indikator ekonomi tersebut menunjukkan adanya resesi, pemasar dapat mencari jalan untuk menetapkan posisi produknya.

d. Gaya Hidup

Orang yang berasal dari sub kultur, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan orang yang bersangkutan yang tercermin dalam kegiatan, minat, dan pendapatannya.

e. Kepribadian dan Konsep Diri

Setiap orang mempunyai kepribadian yang khas dan ini akan mempengaruhi perilaku pembeliannya. Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologis yang unik yang menimbulkan tanggapan yang relatif konstan terhadap lingkungannya sendiri.

(5)

4. Faktor Psikologis

Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan perilaku yang dibutuhkan dalam belajar, meliputi :

a. Motivasi

Motivasi adalah suatu kebutuhan yang secara cukup dirangsang untuk membuat seseorang mencari kepuasan atas kebutuhannya.

b. Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi suatu gambaran yang berarti mengenai dunia.

c. Pembelajaran

Pembelajaran merupakan perubahan pada perilaku individu yang muncul dari pengalaman. Proses belajar berlangsung melalui dorongan, rangsangan, petunjuk, tanggapan, dan penguatan yang saling menguatkan.

d. Keyakinan dan Sikap

Keyakinan adalah pemikiran deskriptif seseorang mengenai sesuatu. Sikap menggambarkan evaluasi, perasaan, dan kecenderungan seseorang terhadap suatu objek atau gagasan. Pada saat konsumen melakukan pembelian, terdapat tawaran menarik dari produsen, sehingga konsumen terdorong untuk membeli sebuah produk yang ditawarkan oleh produsen.Kondisi saat ini akan menyebabkan perilaku konsumen tidak terkontrol terkait dengan keputusan pembelian (buying decision).

(6)

2.2 Keputusan Pembelian (Buying Decision) 2.2.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian dapat dijelaskan sebagai keputusan konsumen mengenai preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan (Kotler dan Keler, 2009). Definisi lain keputusan pembelian adalah keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli (Kotler dan Amstrong,2008). Konsumen dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai. Namun, ada dua faktor yang dapat berada di antara niat pembelian dan keputusan pembelian, yaitu sikap dan faktor situasi yang tidak terantisipasi (Kotler,2005). Keputusan pembelian merupakan salah satu dari perilaku konsumen. Menurut (Engel, et al,2008) pemahaman terhadap perilaku konsumen mencakup pemahaman terhadap tindakan yang langsung dilakukan konsumen dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut. Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal, yaitu : (1) intensitas sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen, (2) motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Semakin gencar sikap negatif orang lain dan semakin dekat orang lain tersebut dengan konsumen, konsumen akan semakin mengubah niat pembeliannya. Keadaan sebaliknya juga berlaku preferensi pembeli terhadap merek tertentu akan meningkat jiak orang yang disukai juga sangat menyukai merek yang sama. Pengaruh orang lain menjadi rumit jika beberapa orang yang dekat dengan pembeli memiliki pendapat

(7)

yang saling berlawanan dan pembeli tersebut ingin menyenangkan mereka (Kotler,2005).

Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda atau menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang terpikirkan. Besarnya resiko yang dipikirkan berbeda-beda menurut besarnya uang yang dipertaruhkan, besarnya ketidakpastian atribut, dan besarnya kepercayaan diri konsumen. Para konsumen mengembangkan rutinitas tertentu untuk mengurangi resiko, seperti penghindaran keputusan, pengambilan informasi dari teman-teman, dan preferensi atas nama merek dalam negeri serta garansi. Para pemasar harus memahami faktor-faktor yang menimbulkan perasaan dalam diri konsumen akan adanya resiko dan memberikan informasi serta dukungan untuk mengurangi resiko yang dipikirkan (Kotler, 2005). Menurut (Kotler, 1999) adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi keputusan membeli konsumen tersebut antara lain

1. Faktor Kebudayaan

Faktor kebudayaan merupakan hal yang kompleks, yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, kebiasaan, dan norma-norma yang paling berlaku pada masyarakat. Faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling meluas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kita akan melihat peranan yang dimainkan oleh kebudayaan, sub kebudayaan dan kelas sosial pembeli. 2. Faktor Sosial

Faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial terdiri dari semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap pendirian atau perilaku seseorang di tempat orang tersebut

(8)

berinteraksi. Posisi orang dalam setiap kelompok dapat didefenisikan dalam istilah peran atau status dalam banyak kelompok seperti keluarga, klub, dan organisasi. 3. Faktor Pribadi

Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu usia pembeli dan tahap siklus hidup pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep pribadi pembeli.

4. Faktor Psikologis

Pilihan membeli seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, kepercayaan dan pendirian.

2.2.2 Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Ketika membeli produk, secara umum konsumen mengikuti proses pengambilan keputusan yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Proses pengambilan keputusan konsumen dapat diuraikan sebagai berikut (Lambet al., 2001).

1. Pengenalan kebutuhan

Pengenalan kebutuhan terjadi ketika konsumen menghadapi ketidakseimbangan antara keadaan sebenarnya dan keinginan.

2. Pencarian informasi

Setelah mengenali kebutuhan atau keinginan, konsumen mencari informasi tentang beragam alternatif yang ada untuk memuaskan kebutuhannya.

(9)

3. Evaluasi alternatif

Konsumen akan menggunakan informasi yang tersimpan di dalam ingatan, ditambah dengan informasi yang diperoleh dari luar untuk membangun suatu kriteria tertentu.

4. Pembelian

Sejalan dengan evaluasi atas sejumlah alternatif-alternatif tadi, maka konsumen dapat memutuskan apakah produk akan dibeli atau diputuskan untuk tidak dibeli sama sekali.

5. Perilaku setelah pembelian

Ketika membeli suatu produk, konsumen mengharapkan bahwa dampak tertentu dari pembelian tersebut. Bagaimana harapan-harapan itu terpenuhi, menentukan apakah konsumen puas atau tidak puas dengan pembelian tersebut.

Para pemasar harus memahami siapa pembeli dari produk mereka,siapa yang terlibat dalam pembuatan keputusan dan bagaimana proses keputusan pembelian. Menurut ( Kotler dalam Tjiptono, 1997 ) ada beberapa peranan yang mungkin dimainkan orang dalam sebuah keputusan membeli antara lain :

1. Pemrakarsa (initiator), adalah orang yang pertama – tama menyarankan atau memikirkan gagasan membeli produk atau jasa tertentu.

2. Pemberi pengaruh (influencer), adalah orang yang pandangan atau nasihatnya diperhitungkan dalam membuat keputusan akhir.

3. Pengambil keputusan (decider), adalah orang yang pada akhirnya menentukan sebagian besar atau keseluruhan keputusan membeli: apakah jadi membeli, apa yang dibeli, bagaimana membeli, atau dimana membeli.

(10)

4. Pembeli (buyer), adalah seseorang yang melakukan pembelian yang sebenarnya. 5. Pemakai (user) adalah seseorang atau beberapa orang yang menikmati atau memakai produk atau jasa.

2.3 Berkaitan dengan Life Style

2.3.1 Pengertian Life Style (Gaya Hidup)

Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu (Minor dan Mowen, 2002)Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opinion). Menurut ( Mowen dan Minor, 2002) menyatakan bahwa penting bagi pemasar untuk melakukan segmentasi pasar dengan mengidentifikasi gaya hidup melalui pola perilaku pembelian produk yang konsisten, penggunaan waktu konsumen, dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas.

Gaya hidup menurut (Kotler, 2002) dapat dijelaskan pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opinion. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Assael dalam Kotler (2002) gaya hidup adalah “A mode of living that is identified by how people spend their time (activities), what they consider important in their environment (interest), and what they think of themselves and the world around them (opinions)”.Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan

(11)

waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opinion)

Gaya hidup secara luas sebagai cara hidup yang diidentifikasi oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan) apa dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan dunia sekitarnya (Setiadi, 2010). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat lainnya, bahkan dari masa ke masa gaya hidup suatu individu dan kelompok masyarakat. Sedangkan Sunarto (2003), mendefinisikan gaya hidup atau life style adalah pola kehidupan seseorang untuk memahami kekuatan-kekuatan ini kita harus mengukur dimensi AIO utama konsumen aktivitas (pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, kegiatan sosial), minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi), pendapat (mengenai diri mereka sendiri, masalah-masalah sosial, bisnis, produk).

2.3.2 Bentuk-bentuk Life Style (Gaya Hidup)

Menurut Chaney dalam Subandy (1997) ada beberapa bentuk gaya hidup antara lain:

a. Industri Gaya Hidup

Dalam abad gaya hidup, penampilan-diri itu justru mengalami estetisisasi, “estetisisasi kehidupan sehari-hari” dan bahkan tubuh/diri body/selfpun justru mengalami estetisisasi tubuh. Tubuh/diri dan kehidupan sehari-hari pun menjadi sebuah proyek, benih penyemaian gaya hidup. “Kamu bergaya maka kamu ada!” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia

(12)

modern akan gaya. Itulah sebabnya industri gaya hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan.

b. Iklan Gaya Hidup

Dalam masyarakat mutakhir, berbagai perusahaan (korporasi), para politisi, individu-individu semuanya terobsesi dengan citra. Di dalam era globalisasi informasi seperti sekarang ini, yang berperan besar dalam membentuk budaya citra (image culture) dan budaya cita rasa (taste culture) adalah gempuran iklan yang menawarkan gaya visual yang kadang-kadang mempesona dan memabukkan. Iklan merepresentasikan gaya hidup dengan menanamkan secara halus (subtle) arti pentingnya citra diri untuk tampil di muka publik. Iklan juga perlahan tapi pasti mempengaruhi pilihan cita rasa yang kita buat.

c Public Relations dan Journalisme Gaya Hidup

Pemikiran mutakhir dalam dunia promosi sampai pada kesimpulan bahwa dalam budaya berbasis-selebriti (celebrity based-culture), para selebriti membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen kontemporer. Dalam budaya konsumen, identitas menjadi suatu sandaran “aksesoris fashion”. Wajah generasi baru yang dikenal sebagai anak-anak E-Generation (Nugrahaeni 2003 ), menjadi seperti sekarang ini dianggap terbentuk melalui identitas yang diilhami selebriti (celebrity-inspired identity) cara mereka berselancar di dunia maya (Internet), cara mereka gonta-ganti busana untuk jalan-jalan. Ini berarti bahwa selebriti dan citra mereka digunakan momen demi momen untuk membantu konsumen dalam parade identitas.

(13)

d. Gaya Hidup Mandiri

Kemandirian adalah mampu hidup tanpa bergantung mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan kelebihan dan kekurangan tersebut untuk mencapai tujuan. Nalar adalah alat untuk menyusun strategi. Bertanggung jawab maksudnya melakukan perubahan secara sadar dan memahami betuk setiap risiko yang akan terjadi serta siap menanggung resiko dan dengan kedisiplinan akan terbentuk gaya hidup yang mandiri. Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi memenjarakan manusia. Manusia akanbebas dan merdeka untuk menentukan pilihannya secara bertanggung jawab, serta menimbulkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut e. Gaya Hidup Hedonis

Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta selalu ingin menjadi pusatperhatian. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk dari suatu gaya hidup dapat berupa gaya hidup dari suatu penampilan, melalui media iklan, modeling dari artis yang di idola kan, gaya hidup yang hanya mengejar kenikmatan semata sampai dengan gaya hidup mandiri yang menuntut penalaran dan tanggung jawab dalam pola perilakunya. 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Life style (Gaya Hidup)

Gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang

(14)

dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Amstrong, 2003). Lebih lanjut (Amstrong, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi (Nugraheni, 2003).Dengan penjelasannya sebagai berikut: a. Sikap

Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.

b. Pengalaman dan pengamatan

Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek.

c. Kepribadian

Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.

(15)

d. Konsep diri

Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku.

e. Motif

Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis. f. Persepsi.

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut: a. Kelompok referensi

Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi

(16)

pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.

b. Keluarga

Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.

c. Kelas sosial

Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan.

Berikut ini merupakan beberapa penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dalam penelitian ini seperti terlihat pada tabel 2.1 berikut ini:

(17)

2.4 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Ringkasan Penelitian Jenis Hubungan Antar Variabel Activity, Interes, dan Opinion

No VARIABEL PENULIS SUBJEK PENELITIAN

Hasil Penelitian Anteseden Keputusan Pembelian

1 Activity Lalitamanik etal. (2014) Penonton film di bioskop E-plaza semarang Activity berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Pratiwiet al.(2015) Butik Busana Muslim Shafira Di Samarinda Activity berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. 2 Interest Lalitamanik etal. (2014) Penonton film di bioskop E-plaza semarang interest berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Pratiwi et al. (2015 ) Butik Busana Muslim Shafira Di Samarinda Interest berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

(18)

3 Opinion Lalitamanik etal. (2014) Penonton film di bioskop E-plaza semarang Opinion berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Pratiwiet al.(2015) Butik Busana Muslim Shafira Di Samarinda opinion berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Sumber : literatur

Persaingan yang ketat antar pelaku bisnis saat ini, membuat pelaku bisnis harus mampu untuk mengambil langkah yang tepat dalam pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan agar penerapan strategi pemasaran tidak salah sasaran, serta mencapai target atau tujuan yang telah ditetapkan. Strategi pemasaran yang tepat tentunya harus mampu menjangkau konsumen yang tepat, yang mampu menghasilkan penjualan dan keuntungan yang kontinyu bagi pelaku bisnis. Sehubungan dengan itu, maka pelaku bisnis harus mempelajari perilaku konsumen. Mengetahui mengapa konsumen melakukan pembelian dan apa yang konsumen lakukan. Salah satu perilaku pembelian konsumen adanyabuying decision yaitu keputusan pembelian.Keputuan pembelian meliputi prioritas pembelian pada produk pertentu, mencari informasi, mengevaluasi terhadap produk, merekomendasikan kepada prang lain setelah melakukan pembelian.

Keputusan pembelian merupakan sesuatu yang menarik bagi pelaku bisnis, karena merupakan pangsa pasar terbesar dalam pasar modern.Keputusan pembelian yakni keputusan konsumen mengenai preferensi atas merek-merek

(19)

yang ada di dalam kumpulan pilihan (Kotler dan Keler, 2009). Definisi lain keputusan pembelian adalah keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli (Kotler dan Amstrong,2008). Dalam pengambilan keputusan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi mengapa sesorang melakukan buyng decision yaitu : motivasi konsumen , perilaku konsumen dan juga gaya hidup yang meliputi activity, interest, dan opinion.

2.5 Hubungan Logis antar Variabel dan Perumusan Hipotesis 2.5.1 Pengaruh Activity terhadap Keputusan Pembelian

Aktivitas adalah identifikasi atas apa yang konsumen lakukan, apa yang mereka beli, dan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka Kasali (1998).

Activity adalah tindakan nyata yang mengungkapkan apa yang dikerjakan kosumen, produk apa yang dibeli konsumen untuk mengisi waktu luang. Ristiyanti (2009)

Menurut Pratiwi (2015) dalam penelitiannya yang berjudul tentang “pengaruh dimensi activity, interest dan opinion terhadap keputusan pembelian pada butik busana muslim shafira di samarinda” dari hasil penelitiannya dapat diketahui bahwa variabel activity berpengaruh positif terhadap keputusan konsumen untuk muslim butik Shafira di Samarinda.

H1 : Activity memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian 2.5.2 Pengaruh Interst terhadap Keputusan Pembelian

Interest (minat) adalah suatu bentuk fokus pada preferensi dan prioritas konsumen. Minat merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan Kasali (1998)

(20)

Interst adalah keingingan terhadap suatu objek, mengemukakan apa minat, kesukaan, kegermaran dan prioritas dalam hidup konsumen. Ristiyanti (2009)

Menurut Lalitamanik (2014) dalam penelitiannya yang berjudul tentang “pengaruh dimensi activity, interest, opinion dan persepsi harga terhadap

keputusan menonton film di bioskop E-plaza semarang” dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel interest berpengaruh positif terhadap keputusan

konsumen untuk menonton film di bioskop E-Plaza Semarang

H2 : Interst memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian. 2.5.3 Pengaruh Opinion terhadap Keputusan Pembelian

Opini merupakan pendapat dari setiap konsumen yang berasal dari pribadi mereka sendiri Kasali (1998).

Opinion adalah jawaban lisan atau tulisan bekirsaran sekitar pandangan atau perasaan konsumen dalam menanggapi isu-isu global, lokal, moral, ekonomi, dan sosial.

Menurut Lalitamanik (2014) dalam penelitiannya yang berjudul tentang “pengaruh dimensi activity, interest, opinion dan persepsi harga terhadap

keputusan menonton film di bioskop E-plaza semarang” dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel interest berpengaruh positif terhadap keputusan

konsumen untuk menonton film di bioskop E-Plaza Semarang.

H3 : Opinion memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian yang ingin dipecahkan Ferdinand

(21)

(2011). Hipotesis yang diajukan sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1 : Variabel activity memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian pada toko Olah Raga Triyo Sport di Semarang.

H2 : Variabel interest memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian pada toko Olah Raga Triyo Sport di Semarang.

H3 : Variabel opinion memiliki pengaruh positifterhadap keputusan pembelian pada toko Olah Raga Triyo Sport di Semarang.

2.6 Kerangka Pemikiran

Aktivitas adalah identifikasi atas apa yang konsumen lakukan, apa yang mereka beli, dan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka Kasali (1998). Indikator untuk mengukur aktivitas adalah tingkat aktivitas utama, aktivitas di luar aktivitas utama, dan pemanfaatan hari libur di luar rumah.

Interest (minat) adalah suatu bentuk fokus pada preferensi dan prioritas konsumen. Minat merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan Kasali (1998). Interset meliputi bagaimana konsumen memilih sesuatu yang dianggap penting (preferensi dan prioritas) baginya dan hal ini berkaitan dengan motivasi (Hughes et al.,2011).

Opini merupakan pendapat dari setiap konsumen yang berasal daripribadi mereka sendiri Kasali (1998). Adapun indikator untuk mengukur variabelopini adalah manfaat fisik dan psikis yang ditimbulkan, serta menonton film dalam pergaulan di masyarakat.

(22)

Berdasarkan landasan teori tersebut, maka dapat disusun kerangka pemikiran yang mempunyai tiga variabel independen yaitu Activity, Interest dan Opinion sedangkan variabel dependennya adalah Keputusan Pembelian. Seperti di gambar berikut : Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran H1 H2 H3 Sumber : Pratiwi et al 2015 activity (X1) Opinion (X3) Keputusan Pembelian(Y) Interest (X2)

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

pada komponen kualifikasi calon mahasiswa asal daerah 3T belum sesuai dengan standar program, dalam hal ini mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari daerah 3T

Dalam kajian lain, Saljo (1984) mengenalpasti lima konsepsi kualitatif pembelajaran yang berbeza tetapi berkaitan secara hirarki. Konstruk ini dibuat hasil dari kajiannya

Pengukur curah hujan tipe Tipping Bucket atau yang biasa disebut dengan Tipping Bucket Rain Gauge (TBRG) produk keluaran Casella CEL merupakan sensor curah hujan dengan

123 Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Mekanikal : - Instalasi Pemanasan, Ventilasi Udara dan AC Dalam Bangunan - Instalasi Pipa Gas Dalam Bangunan - Insulasi Dalam Bangunan -

yang artinya pengaruh Rekrutmen dan Promosi Jabatan terhadap Kinerja Karyawan pada PT Jambi Wood Industri Desa Rantau Puri sebesar 67,3% sedangkan sisanya 32,7%

proliferasi tunas yang berasal dari media yang diperkaya dengan TDZ 3 mg/l, di dalam media subkultur yang diperkaya dengan BAP dihasilkan jumlah tunas lebih banyak yaitu 5,87

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner yang dibagi menjadi tiga bagian pertanyaan yaitu, bagian pertama